25 February 2012

MEMBERI INSPIRASI



Jantung saya berdebar memandang gerbangnya. Ribuan ingatan mendesak di kepala, berebut ingin lebih dulu diingat, tentang tiga tahun berisi romansa masa muda.


Beberapa langkah dari sana, beberapa siswa berbaju batik sedang berwudhu. Rupanya sekarang wajib shalat berjamaah yah. Saya tersenyum melihat motif batik yang saya kenal, merasa pernah mengenakan seraham itu juga, kira-kira mulai enam belas tahun yang lalu sampai tiga tahun setelah itu.

Waw, sekarang ada pos satpam.... Beberapa bagian fisik sekolah ini telah berubah, tapi banyak hal masih di tempatnya. Agak aneh membayangkan bahwa ribuan orang pernah belajar, lalu lulus, bertambah tua dan menyebar melanglang dunia. Tapi tempat ini tetap di sini, setia.


"Ada memori di tiap ubinnya, juga butir debu-debunya...."

Seorang siswa mengantar saya ke ruang guru. Banyak wajah yang asing, tentu saja. Tapi yang kemudian datang tak salah lagi: Ibu Ida Idris.

"Eh, Norma, ya?"



Saya tertawa, Bu Ida menyebut nama ibu saya, sebelum akhirnya beliau mengingat nama salah satu muridnya ini.

Kami mengobrol panjang, membuka halaman-halaman foto masa sekolah yang saya bawa, dan menggali kenangan-kenangan.


Kepala sekolah sudah berganti, ada guru yang sudah dipanggilNya, beberapa hal berubah, tapi Bang Manih masih di sana ^_^;

Setelah belasan tahun, akhirnya saya datang lagi. Untuk melapor pada Bu Ida:

"Saya sudah jadi guru, Bu. Dan kata-kata Ibu benar, menjadi guru itu luar biasa. Saya bangga dan bahagia jadi guru. Dari hati paling dalam, terima kasih."


Salah satu siswa saya sekarang menjadi guru. Kenyataan bahwa saya mendapat inspirasi dari para guru saya, membuat hal ini jadi terpikirkan: saya juga mungkin bisa menginspirasi seseorang.

Dan profesi ini jadi terasa semakin berarti.

No comments:

Post a Comment