22 October 2008

Ingin Buru-buru Jadi Guru

Ceritanya, saya baru nonton Laskar Pelangi di bioskop. Rada telat nih, memang. Kesan-kesannya? Wah, kalau review Laskar Pelangi mah, udah di mana-mana, ya. Tapi, memang ada hal-hal dari sana yang terus saja teringat di kepala saya. Begitulah, kadang suatu kisah jadi berkesan, karena terkait dengan kehidupan kita. Karena ada yang mirip entah di bagian mananya. Karena rasanya tidak asing di hati ini.

Di salah satu adegan film itu, Pak Harfan bertanya pada keponakannya, Bu Muslimah, kenapa ia tidak menerima pinangan dari seorang pemuda kaya. Dengan begitu, dia kan bisa jadi istri saudagar nantinya. Bu Muslimah tersenyum dan menjawab, “Pak Cik, saya tidak bermimpi jadi istri saudagar. Saya ingin menjadi guru.”

Hm… Seperti ada yang mengetuk hati. Kata-kata Bu Mus itu terasa tidak asing bagi saya.

Kebetulan saya baru pindah tempat lagi, hehehe… Iyah, yang ketiga kalinya di tahun ini. Tiap pindah rumah, pastilah kita membongkar barang-barang dan merapikan kembali. Nah, kali ini saya menemukan buku harian saat masih gadis. Tertulis bulan pembeliannya di sana, Agustus 2001.

Lagi heboh-hebohnya saya, masih kuliah tingkat tiga. Berangkat jam setengah enam, sampe rumah jam sepuluh malam. Gelantungan di bis kota antara Kebayoran Lama – Depok – Ciputat. Sama sekali gak nyangka kalau dua bulan kemudian ternyata ada yang ngelamar, huihihihi….

Di lembar-lembar pertama diary bersampul hitam polos itu tak ada yang istimewa. Cuma catatan kejadian sehari-hari, beberapa kisah di tempat kerja sambilan, jadual harian, atau daftar belanja. Yah, umumlah.

Lalu saya tiba pada catatan tanggal 6 Juli 2002, yang sepertinya jadi tonggak sebuah mimpi. Walaupun samar, tapi rasanya itu memang sebuah mimpi. Membaca kembali catatan enam tahun yang lalu, kini saya tak dapat mengucapkan apa-apa lagi kecuali syukur. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam…

6 juli 2002

Kenapa kesadaran ini baru datang sekarang? Pertanyaan ini mengundang flashback. Apa gunanya menyesali masa lalu yang tidak kreatif dan berani. Lebih baik mensiasati masa depan, toh?

Jadi guru, ini sarananya. Dengan jadi guru. Please… Aku ingin jadi guru Bahasa Indonesia. Bukan cuma ngajar tentang ejaaan, tapi menulis dengan benar. Bukan ngasih tau macam2 majas, tapi gimana bikin dan makenya. Bukan cuma ngritik karya, tapi juga berkarya.

Mulai dengan laporan harian, lalu bikin sinopsis cerita di TV, lalu masuk ke cerpen, novel, roman. Lomba mengarang cerpen dan puisi, artikel, wawancara dan jurnalisme, pembukuan karya2 siswa dan mengirimkannya ke majalan2 remaja atau Horison. Juga mengaktifkan mading.

Ah, pengen buru-buru jadi guru...

20 October 2008

Kung Fu Panda Mengajari Saya (2)

Ayah dari Po si panda gendut adalah pembuat dan penjual bakmie terkenal. Pelanggan mensesaki warung mereka setiap hari. Meskipun demikian, sang ayah merasa belum saatnya Po mengetahui 'the secret recipe of my secret recipe' bakmie terkenal itu. Sampai suatu hari ketika mereka mengungsi, sang ayah merasa sudah waktunya membuka semuanya: resep rahasia bakmie buatannya.

Po bengong tak mengerti ketika akhirnya si ayah berkata, "No secret!" Ya, resep rahasia bakmie istimewa itu adalah tanpa rahasia. Kenapa begitu? "Because, to make something special, you just have to believe that it is special."

Maka Kungfu Panda kembali bicara pada saya. Saya, yang sebelumnya menganalisa keistimewaan anak dari nilai rapor dan ijasah, dan dari sekolah mana ia berasal; apakah negeri papan atas, negeri baris belakang, swasta kaya, atau swasta kecil miskin murah entah di mana. Kenapa saya, dan mungkin banyak guru lain, menimbang anak dengan cara demikian? Karena mengira bahwa ada special ingredient untuk menciptakan anak spesial: IQ superior, gizi baik, keluarga tanpa masalah, dan fasilitas sudah memadai.

Padahal sungguh Kungfu Panda benar, tak ada resep rahasia tertentu. Cukup anda percaya pada siswa. Itu yang akan membuat mereka jadi istimewa.

"Istimewa gimana? Memangnya percaya aja cukup?"

Bukankah agama pun dilandasi oleh iman, kepercayaan? Iman membuat seseorang bertransformasi: lebih percaya diri, lebih berani, lebih sabar, lebih ikhlas, lebih bahagia. Demikian juga kepercayaan seorang guru pada keistimewaan siswanya.

Bila kita berkesempatan hadir di sebuah acara istimewa, kita akan mempersiapkan diri sejak jauh hari. Memikirkan benar-benar penampilan dari ujung rambut hingga ujung kaki, mengatur ucapan terbaik apa yang bisa dilontarkan, dan menyiapkan bingkisan apa yang sekiranya baik dan terkesan.

Bayangkan energi yang tercipta ketika di pagi hari, sebelum berangkat kerja, seorang guru mengingat bahwa, "Wah, hari ini adalah satu hari istimewa lagi. Saya akan mendidik manusia, bukan sekedar menciptakan robot. Manusia yang oleh Allah dikaruniai kelebihan yang unik. Dan sayalah salah satu orang yang diberi kehormatan untuk menggali potensi mereka yang amat beragam itu. Sebagai bagian dari amal jariyah, sebagai usaha menjadi orang bermanfaat, sebagai cara berbuat ihsan."

Pikiran positif itu akan menyebar, seperti juga pikiran negatif bisa menular.

Karena itu, mari kita awali setiap hari dengan rasa percaya, pada kualitas anak-anak yang kita didik, pada kualitas kegiatan belajar mengajar tahun ini. Dengan demikian, guru bisa memberi anak lebih banyak dari hanya sekedar nilai: harga diri, semangat, rasa hormat, dan kecintaan pada ilmu.

09 October 2008

Tukang Omong

Dengan wajah tertunduk, saya mengakui bahwa saya punya banyak kesalahan dan sering menghadapi kegagalan selama berprofesi sebagai guru. Dan kalau guru salah, ada sekian ratus siswa yang mungkin merasakan akibatnya. Salah satu kesalahan terbanyak yang pernah saya lakukan adalah: kegagalan menahan diri dari menilai siswa lewat kesan pertama, memberi stereotip tertentu dengan melihat sesuatu yang hanya ada di permukaan. Keadaan itu diperparah dengan dua kondisi: sempitnya ilmu dan dangkalnya pemahaman.

Saya tak bisa ingat lagi semua siswa yang telah saya perlakukan tak adil seperti di atas, namun ada satu nama yang masih melekat: Arief Soebarna.

Di tempat saya mengajar, sekolah mengadakan evaluasi keseluruhan setiap tiga bulan, yang membahas semua komponen sekolah, termasuk kedisiplinan siswa. Tahun lalu, nama Arief Soebarna dari kelas sepuluh selalu masuk pembahasan. Hampir semua guru mengeluhkan kelakuannya yang membuat suasana belajar jadi tidak ‘kondusif’ (saya letakkan kondusif dalam petik karena maknanya berbeda bagi tiap orang).

Hobi Arief adalah nyeletuk di tengah-tengan pelajaran, saat guru menerangkan di dalam kelas. Kalau tidak berkomentar yang tidak perlu, ia akan menggunakan kata-kata guru untuk meledek salah satu teman. Yang lain riuh menanggapi, sehingga guru harus berusaha keras membuat anak kembali memperhatikan ucapannya.

Berbagai jurus dikeluarkan menghadapi Arief. Guru sains mempersilakan Arief mempertanggungjawabkan kata-katanya di depan kelas, sementara guru lain membawa air comberan dalam gelas plastik untuk mengancam Arief agar tak buka mulut. Begitulah, saya menerima Arief sebagai si tukang omong di kelas sepuluh sebagai sebuah kebenaran, tanpa mencari pembuktian.

Di tengah semester dua, berhari-hari saya tidak menemui Arief di kelas. Tak ada kabar, sampai wali kelas memberitakan bahwa Arief telah mengundurkan diri dari sekolah karena alasan biaya. Alasan ini lumrah di sekolah kecil seperti kami. "Kelas sepuluh lebih damai," demikian komentar banyak guru, seakan mensyukuri perginya Arief.

Lalu suatu hari, saya menemukan ruang guru yang kosong, menyisakan hanya 1 orang tenaga administrasi. Tak ada guru lain, bahkan guru piket pun tak ada. Takdir menentukan bahwa hari ini hampir semua orang izin bersamaan. Untungnya kelas XII sudah tidak aktif belajar setelah UN. Maka saya menangani sendiri dua kelas untuk belajar materi yang saya kuasai, tentu, Bahasa Indonesia. Yang terpikirkan saat itu adalah berbalas pantun.

Saya pernah mencoba metode berbalas pantun di kelas X sebelumya, saat kami tiba pada materi puisi lama. Hasilnya amat memuaskan. Semua excited, bahkan siswa yang termasuk pendiam pun berani berdiri dan melontarkan pantun untuk memuji diri sendiri atau membalas godaan orang lain. Kelas penuh tawa hingga dua jam pelajaran terasa berlalu sangat cepat. Tak ada tekanan teori, atau ceramah sampai lidah kering dan anak mengantuk.

Nah, saya ingin mencobanya sekarang. Berbalas pantun, siswa kelas X melawan siswa kelas XI, berharap keceriaan yang sama akan tercipta lagi. Tapi kelas X tampaknya merasa agak khawatir berhadapan dengan kakak kelasnya. “Arief udah gak ada sih, Bu.”

Dan mata saya terbuka. Ternyata suksesnya acara berbalas pantun tempo hari sebagian besar adalah campur tangan siswa tukang omong bernama Arief Soebarna. Dia yang menjawab sebagian besar pantun yang dilemparkan pada kelompoknya dengan cepat, tanpa konsep di atas kertas, dan isinya bikin kami sakit perut karena tertawa. Begitu kelompok lain merasa Arief terlalu sering membalas, dia memasok pantun pada teman-temannya, bukan lewat tulisan, tapi lewat bisikan.

“Dia cerdas!” putus saya dengan hati sedih. Sedih karena saya baru melihat bahwa Arief adalah anak dengan kemampuan verbal yang menonjol, justru setelah orangnya sudah tidak ada di sekolah. Tak heran dulu dia begitu banyak bicara, karena itulah yang jadi kelebihannya. Kelebihan yang dianggap sebagai kekurangan oleh kami, para guru, yang mengaku berpendidikan.

Ah, anak ini tentu mengalami banyak sekali tekanan sejak dulu. Tak banyak guru yang mau disela, dan banyak orang dewasa yang tak rela mendengar omongan anak-anak. Semua menyuruhnya, “Diam! Dengarkan! Catat!” Tak ada yang membiarkan dia bicara, bercerita, diskusi, bakan mungkin sekedar bertanya. Seperti kelinci yang dipaksa berenang, tak ada yang membiarkan Arief menjadi diri sendiri.

Saya tidak tahu di mana Arief sekarang. Biar pekan depan, saat sekolah masuk kembali, saya akan tanyakan pada mantan teman-teman sekelasnya. Saya merasa harus mencari Arief. Untuk minta maaf padanya. Untuk menunjukkan bahwa ia akan cocok jadi penyiar radio, tenaga pemasaran, public relation, pendongeng, juru kampanye, pelobi bisnis, atau orator. Untuk meyakinkan, bahwa sungguh, Arief Soebarna juga istimewa.

23 September 2008

Janji Untuk Bagus

“AAAAAAAAAA...!!!”

Terdengar suara ribut-ribut di luar. Bu Ida, guru piket hari Rabu, bergegas mencari sumber suara. Saya dan beberapa orang di kantor sekolah melongok ke luar. Tapi kami sudah tahu ada apa. Itu suara Bagus. Lagi-lagi Bagus.

Bu Ida adalah guru yang tegas, tapi Bagus bukan anak kecil lagi. Dia remaja SMA, laki-laki. Bu Ida tak lagi bisa menyentuhnya. Sayangnya, di hari Rabu tak banyak guru laki-laki hadir. Maka bantuan satpam akan diperlukan setiap kali Bagus mengamuk di hari Rabu.

Saya tak suka bila satpam ikut campur. Mereka cenderung kasar, menarik tangan Bagus dan menyeretnya ke kantor sambil mengancam. Duh, saya bisa hampir merasakan badan Bagus yang sakit saat menggelosor di tanah sementara tangannya ditarik paksa. Bagaimana pula dengan hatinya? Sementara bertarung dengan rasa frustasi, pada saat yang sama ia dipermalukan oleh tatapan anak-anak lain lewat jendela-jendela sepanjang koridor sekolah.

Ada apa dengan Bagus? Saya tidak tahu. Saya tak pernah belajar psikologi atau psikiatri. Sejauh pengamatan saya sebagai guru Bahasa Indonesia, ia cukup cakap berbahasa, karena berbahasa dianggap ukuran kecerdasan tingkat tinggi. Ia bisa menyusun kata dalam kalimat lengkap, baik verbal maupun dalam tulisan yang rapi kecil-kecil. Bagus menguasai tata bahasa yang bahkan lebih baik dari beberapa siswa lain yang ‘normal’. Hapalannya juga bagus. Hanya saja, setiap mengarang dalam tema apapun, hanya dua hal yang ditulisnya: sekolah Bahasa Inggris di Los Angeles dan kemudian bertemu gadis bernama Stephanie, atau perjalanannya sebagai pilot pesawat luar angkasa.

“AAAAAAA!!!... GUBRAKKK!!!”

Itu Bagus di hari Senin. Dia berteriak, tangannya menutup telinga, sambil menggeleng-gelengkan kepala ketika Pak Muchlis menerangkan Geografi, lalu meninju meja dengan keras. Tiba-tiba saja, bahkan Pak Guru pun tak mengerti apa penyebabnya. Kelas berubah riuh, dan itu memperparah kondisi Bagus. Seperti yang sudah-sudah, ia kembali diseret ke luar kelas untuk menenangkan diri di kantor kalau ia mau, atau dibiarkan bicara sendiri dalam Bahasa Inggris di lapangan asal tak mengganggu kelas yang berlangsung.

Yang tadi itu sebenarnya masih lumayan, karena di saat lain, Bagus bisa merusak pintu kelas dan membuat tong sampah terjungkal semua. Lihat saja tangannya yang penuh goresan dan luka sundutan rokok. Semua dilakukannya pada diri sendiri di rumah, saat emosinya yang memang tidak stabil itu terguncang.

“Bagus harus dikeluarkan! Kita sudah cukup direpotkan oleh target kurikulum dan kebandelan anak-anak lain!” Seorang guru berpendapat keras dalam rapat.

“Tapi Bagus lebih baik dibanding siswa lain yang normal tapi malasnya minta ampun. Dia rajin dan bisa sangat perhatian pada pelajaran!” bela guru yang lain.

“Kenapa orang tuanya tidak mengkonsultasikan Bagus ke seorang profesional. Biar hasil observasinya bisa kita gunakan untuk mengatasinya di sekolah,” begitu tanya yang lain.

Lalu wali kelasnya menjawab, “Bahkan orang tuanya tidak mau menerima kalau anaknya butuh sekolah khusus. Mereka berani bayar berapa saja untuk sekolah di sini, sekolah umum.”

Saya selalu menarik nafas berat di saat seperti sekarang. Setiap kali rapat guru, nama Bagus selalu jadi perdebatan. Sebagian bilang, “Keluarkan!” Sebagian lain berpendapat, “Jangan!” Saya sendiri mendukung pendapat kedua. Semata-mata atas dasar kasihan. Bagus bukan penyandang cacat mental berat, dan karenanya ia akan mengerti bila dikeluarkan. Pasti hancur hatinya, akan runtuh dunianya. Entah apa yang akan dia lakukan menghadapi dunia yang menolak keberadaannya.

Maka biasanya rapat mengalami deadlock, hingga kami semua menyerah dan beralih ke masalah lain. Lagi-lagi masalah Bagus dibiarkan menggantung.

Lalu saya membaca The Phenomenon, sebuah buku tentang fenomena Laskar Pelangi. Sampai pada halaman 77 dan seterusnya, posisi duduk saya berubah dari bermalas-malasan menjadi tegak. Kenapa? Karena salah satu bab dalam buku itu seperti menjitak kepala saya dan berkata, “Ingat tokoh Harun dalam Laskar Pelangi?”

Ya, salah satu tokoh dalam Laskar Pelangi bernama Harun. Dia anak cacat mental, namun belajar bersama sembilan anak lain, beberapa di antaranya jenius, dalam kelas yang sama. Inilah kelas yang mempraktekkan apa yang disebut dengan PENDIDIKAN INKLUSIF. Anak-anak cacat seharusnya tidak dipisahkan dari anak normal. Bagi anak cacat, ini memberikan rasa hormat dan kebanggaan pada diri sendiri, dan bagi anak normal, pendidikan inklusif mengajarkan mereka bersyukur dan menerima perbedaan.

Semangat saya untuk Bagus terasa di-charge kembali setelah membaca. Pendidikan inklusif, itulah alasan kenapa Bagus akan tetap bersekolah di sekolah umum. Untuk kehormatan dirinya, untuk rasa kebanggaan sebagai manusia yang dilahirkan ke muka bumi. Tentu akan ada modifikasi dalam metode pembelajaran, tapi itu bukan masalah besar. Seperti ujaran Bu Muslimah, bahwa insya Allah mendidik anak istimewa akan memberi berkah pada gaji guru.

Bu Muslimah, guru Laskar Pelangi, tak pernah membeda-bedakan muridnya. Ia memberikan pertanyaan yang sama pada Harun, yang hampir selalu dijawab ngaco oleh muridnya itu, tapi dengan wajah antusias dan serius. Lalu sang guru akan sepenuh hati memberikan pujian pada Harun, untuk segala usahanya, untuk segala beban yang dia tanggung, untuk segala hikmah yang ia berikan ke sekitar. Hingga lulus, Harun tidak pernah bisa membaca, tapi yang dia butuhkan tampaknya bukan ijasah, tapi dukungan dan penghargaan.

Dan itulah, itulah, yang akan saya berikan untuk Bagus. Saya berjanji.

02 September 2008

Lentera Jiwa

Banyak orang yang bercita-cita jadi guru. Makanya, ada institusi khusus yang dibangun untuk orang-orang yang ingin menjadi guru. Saya mengagumi orang yang menggeluti ilmu kependidikan karena panggilan jiwa seperti itu.

Di sisi lain, banyak juga lulusan universitas non kependidikan yang ternyata memilih guru sebagai profesi (misalnya saya :D). Mereka-mereka ini sampai rela mengambil kuliah ilmu keguruan satu tahun lagi yang sering disebut akta IV (kalau yang ini saya belum ;p). Saya tentu saja menghormati pilihan mereka.


Selain dua jenis orang di atas, ada lagi yang lain, yaitu yang menjadi guru, karena tampaknya peluang pekerjaan di dunia profesional jauh untuk dicapai. Yah, sarjana hukum yang gak bisa jadi pengacara atau notaris, jadilah guru kewarganegaraan. Lumayan... Atau sarjana sastra Inggris yang gagal jadi intrepeter, bolehlah ngajar bahasa Inggris. Apa susahnya. Sekolah bejibun ini. Jadi guru kadang adalah cara gampang untuk menghindarkan diri dari nganggur.

Memang kenapa kalau begitu? Salah?

Hm... gimana ya? Kembali lagi ke masalah lentera jiwa. Saya kira kita bisa bedakan mana guru yang mengajar karena panggilan jiwa dan mana yang bukan. Maka bila anda berprofesi sebagai guru, yuk kita berusaha jujur, apakah mengajar adalah panggilan jiwa anda.

Kenapa? Karena kita, guru, bekerja untuk mendidik manusia, bukan membuat sepatu atau toples di pabrik. Bila mengajar adalah lentera jiwa, anda akan merasakan semangat, gairah, antusiasme. Metode baru, pendekatan berbeda, hubungan dengan siswa, inovasi, hingga akhirnya kepuasan, semua akan lahir dari guru yang cinta mengajar.

"Memang kenapa kalau profesi guru ini bukan panggilan hidup saya?"

Berbahaya! Benar, menurut saya itu membahayakan. Saya juga orang tua, dan saya tidak akan mau menyerahkan anak kepada guru yang tidak memiliki passion dalam mengajar, yang menganggap mengajar bukanlah panggilan jiwanya, tapi sekedar cara menghasilkan uang.

Saya tidak rela anak saya mati rasa pada ilmu dan benci sekolah, karena diajar seadanya olehguru pengecut yang tidak mengakui bahwa dia sebenarnya ingin memilih jalan lain, kalau bisa. Sungguh, anak menyerap lebih banyak dari yang kita duga.

Karena itu, bagi guru yang sekarang merasa 'lives someone's life', mungkin saatnya anda mencari kembali lentera jiwa anda yang mungkin semakin meredup dimakan waktu dan digerus rutinitas. Cari, temukan, raih, lalu berbahagialah...

"Oke, oke... Tapi kalo nggak ngajar, saya ngapain, dong?"

Idih, itu sih bukan urusan saya! (baca: temukan sendiri dong lentera jiwa anda.)

10 August 2008

Our Legacy

Hari Kamis lalu, pintu saya diketuk orang. Agak kaget juga, karena tak biasanya saya kedatangan tamu. Setelah dibuka, muncullah 2 wajah berjilbab, memakai atasan batik biru dan rok lebar putih. Saya tahu, mereka berdua adalah siswi SMP di bawah yayasan yang sama dengan SMA tempat saya mengajar.

"Mau mewawancarai Ibu, untuk tugas Bahasa Indonesia" kata salah satunya malu-malu. Wah, wawancara? Hari Kamis saya memang tidak ada jadual mengajar, jadi seharian dihabiskan membereskan rumah. Aneh sekali diwawancarai dengan pakaian kucel berbau asap dapur.

Pertanyaan dimulai dengan "Siapa nama Ibu?" Saya hampir tertawa mendengarnya, kalau saja saya tidak ingat bahwa yang menanyai saya masih SMP. Pertanyaan itu tentu saya jawab sejujurnya. Lalu pertanyaan tentang tanggal lahir, jumlah anak dan sebagainya yang biasa ada pada biodata. Saya mulai bertanya-tanya kapan pertanyaan intinya akan dimulai.

Ternyata tema wawancaranya adalah pengalaman saya sebagai guru, yang secara formal baru 3 tahun saja. Tapi kemudian, dua siswi ini mengajukan pertanyaan yang membuat saya berpikir dulu sebelum bicara.

"Apa yang Ibu harapkan dari siswa-siswa Ibu?"

Tak mudah, memang tak mudah. Pertanyaan ini sesungguhnya menyentuh inti kenapa sekarang saya memilih jadi guru. Apa yang saya sebenarnya inginkan untuk dicapai oleh siswa-siswa?
Saya bisa saja memilih jawaban mudah tapi basi seperti: "Saya harap anak-anak dapat berguna bagi agama, nusa dan bangsa." Itu memang jawaban yang sama sekali tak salah, hanya saja terlalu samar bagi saya. Jauh, utopis. Saya ingin yang sederhana saja sekarang.

Sederhana, karena tanpa dibebani macam-macam harapan pun, apa yang dirasakan siswa sekarang sudah kompleks. Mereka berhadapan dengan kondisi ekonomi yang menjepit, gizi yang kurang, beban pelajaran yang banyak, ujian nasional yang meresahkan, kesempatan kerja yang sedikit, juga pergaulan yang kian meracuni. Makanya, tak usah jauh-jauh dulu berpikir tentang 'berguna bagi agama, nusa dan bangsa'.

Maka jawaban untuk dua siswi tersebut adalah, saya ingin anak-anak yang saya ajar cinta belajar, suka belajar, dan jangan sampai benci belajar. Kalau sudah cinta belajar, tidak masalah bila tidak bisa meneruskan sekolah karena kehabisan biaya. Tidak masalah kalau belum bisa menebus ijasah di sekolah sebelumnya. Karena suka belajar membuat siswa tak pernah berhenti belajar, dari mana saja, dari apa saja, dan dengan itulah ia akan selalu punya arti bagi orang-orang di sekitarnya.

Masalahnya, apa kita bisa dibuat percaya bahwa mereka bisa cinta belajar? Beberapa guru mungkin akan skeptis, melihat kenyataan yang mereka temui sehari-hari di kelas. Siswa lebih-lebih lagi, tampaknya.

Bagaimanapun, tentu mereka bisa. Caranya? Ya seperti penyebab rasa suka kita pada seseorang, belajar harus juga menarik dan menyenangkan. Belajar juga memiliki makna, yakni terhubung dengan kehidupan. Dan menciptakan kondisi seperti itu banyak caranya, bertumpuk bukunya, asal mau dicari dan diterapkan.

Saya jadi tertohok lagi. Mari menilai diri sendiri. Bagaimana mungkin mengajarkan anak cinta ilmu kalau gurunya saja tidak? Karena rumus diferensial mungkin akan dilupakan, bagaimana menghitung rugi laba perusahaan mungkin akan dilupakan, sistem pemerintahan akan dilupakan, sejarah runtuhnya Demak mungkin akan dilupakan. Lalu apa yang akan saya, dan rekan guru lain tinggalkan?

Cinta belajar.

19 March 2008

Berbalas Pantun

Memang ada baiknya juga mendokumentasikan beberapa pengalaman saya ketika mengajar di kelas. Paling tidak bisa jadi referensi bagi diri sendiri, syukur kalau juga bermanfaat buat orang lain. Soalnya, kadang ide mampet pas mencari cara apa yang asyik buat menyampaikan materi. Enak kan kalau ada metode praktis yang bisa dicontek.

Karena jarang ada buku pintar soal bagaimana menyampaikan materi di kelas, saya memang jadi nyomot dan nyontek sana-sini. Biasanya dari buku-buku Kaifa-nya Mizan, terus buku-buku MLC, beberapa juga dari ingatan tentang sekolah di masa lalu. Kali ini, saya mengambilnya dari buku Dunia Tanpa Sekolah.

Ketika sampai pada materi Puisi Lama, saya hanya sedikit menjelaskan perbedaan antara mantra, syair, pantun dan gurindam. Sisanya kami semua, saya dan murid-murid, membuat pantun. Setiap siswa akan membacakan pantun yang telah dibuatnya. Semua hampir persis seperti cerita si pengarang dari buku di atas.

Seperti reaksi yang saya baca di buku tersebut, suasana di kelas saya juga segera berubah hangat dan penuh tawa. Semua membuat pantun yang berbeda, beberapa di antaranya memang ditujukan pada seseorang di kelas. Yang cukup membaut saya bangga, banyak yang bisa membalas pantun yang ditujukan pada mereka, dalam selang waktu beberapa detik saja. Sungguh, saya menyesal pernah meragukan potensi kebahasaan anak-anak ini.

Saya tahu banyak dari pantun itu yang bukan karya orisinal. Yang lain tidak seragam suku katanya. Sampiran yang dibuat juga banyak yang aneh dan gak nyambung. Beberapa malah membuat gurindam, padahal saya meminta pantun. Tapi siapa peduli? Saya kira kami semua, termasuk saya, menikmati materi ini dan tak ada yang merasa tertekan dengan teori, rumus, aturan, atau definisi. Saya memang tak begitu paham tentang banyak kriteria, yang penting sasaran pelajaran ini adalah keterampilan berbahasa.

Di antara padatnya beban kurikulum, target nilai yang harus dicapai, honor yang kecil, tunggakan SPP siswa berbulan-bulan, dan berbagai kesemrawutan lain, ada semburat keindahan di sana sini yang selalu membuat saya tak bisa meninggalkan pekerjaan ini.