26 February 2012

GILIRAN MENDONGENG

Senin (10/8) kemarin saya kebagian giliran tugas. Bukan, bukan ronda, tapi jadi pembina upacara. Inget deh pas pertama kali jadi pembina, sempat salah loh. Kan MC bilang, "Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara." Dengan pede, saya naik ke atas podium. Padahal pemimpin upacara itu kan siswa yang di tengah lapangan, bukan saya. Ya udah, turun lagi deh saya dari podium, hehehe. Maluuu, tapi biarlah, sudah berlalu ini.



Nah, kali ini sudah lebih santai. Minimal gak sakit perut lagi. Apalagi buku Satu Tiket ke Surga, boleh pinjem dari Mbak Gita, masih fresh di otak. Loh, apa hubungannya?

Begini. Sejak pertama kali dapat giliran, saya sudah janji gak mau ngasih nasehat basi: rajin-rajinlah belajar, dan jangan lupa SPP dibayar. Saya bahkan gak inget apalagi isi amanat upacara selain dua hal itu.

Ada juga pembina yang mengisi amanat dengan 'evaluasi petugas upacara'. Yang bener aja, masa' anak 12 tahunan dikritik di depan seribu anak dan puluhan guru, hanya gara-gara keliru mengucap nomor ketika memimpin janji siswa.

Jadi biasanya amanat saya isi dengan cerita. Biasanya pakai tamsil, atau bahasa sononya: cerita asosiatif. Nah, dibuku yang saya sebut di atas, banyak banget cerita asosiatif yang buagus.



Karena cerita model itu ada tokohnya, ada dialognya, maka hasilnya adalah amanat upacara yang tidak serius. Gimana, ide bagus, gak tuh?


Kalo gaya ini adalah ide brilian, pasti yang lain bakal ikut, dong. Tapi nggak tuh. Rupanya seperti bagaimana cara berjalan ke tengah lapangan telah ada pakemnya, demikian pula dengan amanat. Ya biar sajalah. Kan juga saya gak sering jadi pembina, tiga kali setahun aja udah keitung kebanyakan. Yah, itung-itung variasi, begitu.

Nah, hari Selasa ada rekan guru yang bilang, lewat fb, "Bu, ajarin dong," katanya, "biar bisa menyampaikan sesuatu gak to the point kayak di upacara kemaren."

Lha, sayanya yang jadi bingung. Ajarin gimana? Atau... O, ow... Jangan-jangan dia menyangka bahwa sayalah yang mengarang semua tamsil yang saya ceritakan di upacara.

Saya memang gak bilang ngambil cerita dari mana. Saya bahkan gak tau kalo kita harus menyebutkan sumber sebelum mendongeng. Wah, jadi merasa bersalah nih...

No comments:

Post a Comment