16 December 2011

SEMBURAT SEMANGAT

Pagi ini suami ada di rumah, jadi saya tenang meninggalkan anak-anak untuk rapat evaluasi di sekolah. Saya memilih sepatu 12 senti, agar jalan saya tegak (karena ga bisa pakai high heels dengan badan bungkuk, percayalah ^_^;), siapa tau semangat bisa ikut membumbung.

Ternyata baik juga liburan barang sebentar itu. Waktu ternyata obat yang mujarab untuk banyak masalah (kecuali masalah usia ^_^). Setelah Sabtu tarik urat dengan bapak kepala sekolah negeri anu, dan hari Selasa tarik urat lagi sama rekan kerja sekantor by phone, hari ini semua alhamdulillah membaik. FB juga mulai adem...

Dalam waktu satu jam, manajemen berhasil mengumpulkan lebih dari 20 masalah pokok beserta para anak-cucunya. O ini amat bagus, karena berarti kita bisa melakukan sesuatu mulai sekarang. Satu persatu dibahas, dicarikan solusi atau alternatif, untuk kemudian dicobakan.

Dan di saat memperhatikan rekan-rekan kerja yang tengah berbicara itulah, semangat saya tumbuh. Bukan karena high heels ^_^;.

Mereka masih muda, dan bau idealisme masih menguar. Kadang memang terbentur dinding, terjebak dalam kubangan lumpur, dan harus menyerah pada kondisi. Kami bukan orang-orang yang bersih 100%, tapi tetap berusaha di celah yang tersisa, dan tak pernah mengambil keuntungan di luar apa yang ditetapkan oleh yayasan dan pemerintah. Biarlah Allah menilai sisanya.

Pulang sempat buka Facebook dan menemukan status dari salah seorang siswa saya, Arief, kelas XII SMA (maafkan atas ke-alay-an yang mungkin terjadi ^_~v):



sbnr'a bwt ap si bljar MTK paling yg d'pakai cmn tambah, kali, kurng dan bagi dlm kehidupan sehari"

tapi stlah w dpt tugas d'suruh nyari manfaat tntng manfaat MTK dlm k'hidupan w br'fikir manfaat utama'a yaitu agar manusia belajar dan terus ber'fikir d'dalam proses ber'fikir itu kita akan mendapatkan manfaat" yg sebenarnya sangat penting untuk kehidupan kita. Membuat kita lebih cerdas, lebih tanggap, lebih kreatif dlm menyelesaikan masalah dan juga dgn bljr MTK kita mendapatkan pljrn tntng bgaimna caranya mnyelesaikan mslah dengn mnggunakan logika kita, trus-menerus mncoba/pantang menyerah yang mungkin saja dapat kita alami karena semakin banyak belajar maka semakin banyak ilmu sekaligus pengetahuan yg kita dapat


trnyata selama ini w salah mnilai mnfaat MTK tp berkat tugas dr bu Ikhda Sarkilah w jd mmpunyai pemikiran yg br'beda thanks bu atas tugasnya


Mba Gita Lovusa komentar: "Guru keren ketemu murid keren!" Dan saya setuju, karena bahagia berteman dengan Bu Ikhda dan punya murid seperti Arif.

Sekolah kami ga punya banyak uang. Kalau punya kepingin, biasanya mentok sana sini karena kurang uang kurang orang kurang barang. Tapi dibanding dengan dana yang melimpah, saya lebih memilih rekan-rekan kerja yang sevisi dan mau berjuang.

Yuk, kita mulai jalan lagi.
\ ( ^ o ^ ) /

17 November 2011

SEKOLAH ITU BAIK, KALAU....

Sekolah itu baik, ...

... kalau jadwal kegiatan hariannya tidak kaku (45 menit untuk ini, 45 menit untuk itu, dst), tapi tergantung dengan apa yang siswa lakukan. Jika satu kegiatan membutuhkan waktu 20 menit saja, mengapa harus diperpanjang? Jika kegiatan lain membutuhkan waktu satu jam dan 20 menit, mengapa harus dihentikan sebelum selesai?

Sekolah itu baik, ...

... kalau
siswa tidak hanya boleh menggunakan waktunya untuk pelajaran yang telah ditentukan, seolah-olah mereka menjalani hukuman penjara. Di sebuah sekolah yang buruk, ada kecenderungan siswa 'mengambil' pelajaran, seperti pelajaran Bahasa Inggris 6, pelajaran IPS kelas 8 dan pelajaran Sains kelas 7. Sekolah yang baik lebih peduli dengan pencapaian kompetensi. Jadi, di sekolah yang baik, pertanyaannya bukannya, "Kamu sudah ambil mata pelajaran ....," Tetapi, "Apa kamu sudah belajar tentang ...."

Sekolah itu baik, ...

... kalau
kegiatannya melibatkan banyak siswa dari beragam latar belakang dan kemampuan. Faktanya, tidak ada bukti bahwa anak-anak 'pintar' akan belajar lebih sedikit ketika mereka digabung dengan anak-anak 'lambat', dibandingkan jika mereka digabung dengan anak-anak 'pintar' lainnya. Bahkan, ada bukti yang menyatakan bahwa ketika anak-anak diberi label 'lambat', mereka cenderung tumbuh dengan kepercayaan diri yang buruk, yang kadang tidak bisa disembuhkan.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
sudah meninggalkan hafalan dan mulai menggunakan metode bertanya, pemecahan masalah, dan penelitian.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
sudah meninggalkan prosedur proses layaknya pabrik, dan menggunakan penilaian humanistik lebih individual. Di sekolah-sekolah terbaik, ini berarti sistem penilaiannya relatif tidak menggunakan hukuman dalam jenis apapun, tidak ada pengelompokan bagi siswa yang dianggap 'sama', dan tidak ada pelabelan (murid yang 'baik', siswa yang 'lambat', dll).

Sekolah itu baik, ...

... kala
u prioritas diutamakan dibanding hirarki yang sempit. Sebagai contoh, di banyak sekolah siswa dapat dinilai lambat semata-mata atas dasar kemampuan membaca dan matematika. Padahal siswa tersebut bisa saja seorang musisi, aktor yang baik, atau bahkan pemimpin kelompok, tetapi mereka menerima pengakuan formal yang sangat sedikit untuk keterampilan ini. Hal ini jelas sebuah kekonyolan, dan di sebuah sekolah yang baik, sistem evaluasi telah disesuaikan untuk menangani masalah ini.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
ukuran sekolah itu cukup kecil sehingga pengawasan (dan hal-hal lain juga) bisa dilaksanakan secara personal, secara manusiawi, bukan dari sudut pandang 'logistik' semata. Tidak mungkin hubungan kolaboratif dan bermakna bisa terjadi dalam sebuah gedung berisi 5.000 siswa, atau 3.000 siswa. Tidak ada yang benar-benar tahu apa ukuran sekolah yang dianggap manusiawi, tetapi dalam berbagai penelitian, mungkin angkanya kira-kira sekitar 250 siswa.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
guru melepaskan peran mereka sebagai tokoh otoritas tunggal. Guru mulai melihat diri mereka sebagai pelajar, dan mencoba untuk mengembangkan sebuah komunitas belajar, di mana guru lebih berfungsi sebagai koordinator atau fasilitator kegiatan daripada sebagai diktator.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
siswa-siswanya tidak ditempatkan dalam suasana kompetitif terus-menerus, tetapi justru memiliki hubungan kolaboratif. Idealnya, sekolah yang baik berusaha untuk mencapai perasaan sebagai 'satu keluarga', di mana setiap anggota dibantu untuk tumbuh dengan caranya sendiri, tanpa harus mengorbankan orang lain.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
sekolah itu menjauhi birokrasi dan mulai menuju peningkatan partisipasi masyarakat. Artinya, ada wadah yang dibentuk agar orang tua dapat mengungkapkan keluhan mereka terhadap sekolah dan juga membantu sekolah menjalankan fungsinya.

31 October 2011

KARENA MEREKA MASIH BELIA

"Anak sekarang pada males, susah diatur, sering ambil jalan pintas. Mau nilai bagus tapi nyontek, dipersiapkan untuk masa depan tapi kerjanya bolos melulu.""

Jujur saja, saya sendiri sering memandang siswa dengan gregetan, sambil berpikir semacam di atas. Kalimat yang sama juga sering saya dengar dari pendidik, baik guru maupun ortu. Bukan kalimat yang baik, memang, dan membuktikan bahwa ada cara pandang yang salah di otak kita. Sayangnya, kadang pikiran jelek ini terlontar juga. Ternyata ada saat ketika teori kependidikan dan parenting tak cukup mengekang rasa kesal.

Pagi ini saya berdiri di depan barisan anak-anak yang mengikuti upacara Senin. Seperti kita dulu, mungkin, anak-anak yang berusia belasan tahun ini merasa telah cukup 'gede'. Namun bila diukur dari usia saya, mereka masih belia. masih panjang jalannya.

Dan saya bersykur, "Alhamdulillah ya Allah, mereka masih begitu belia."

Sebab apapun kenakalan, kekonyolan, keusilan, kemalasan, dan segala macam pelanggaran yang mereka lalukan sekarang, hari ini -insya Allah- bukanlah waktu ketika penilaian akhir bagi mereka diberikan. Insya Allah, masih ada besok, dan besok lagi, dan tahun depan, dan sepuluh dua puluh tahun ke depan, untuk mereka tumbuh, berkembang, dan menjadi lebih baik. Amin.

Mungkin mereka ada yang bandel dan malas, tapi itu kan hari ini. Besok, mereka akan selalu BISA jadi LEBIH BAIK.

Sekali lagi, amin ya Rabbal 'alamin .


23 October 2011

BELAJAR ITU 'ENAAAAK'....

Ketika membuka akun Facebook, ada notifikasi bahwa Mba Lea Kesuma nge-tag saya di komentarnya. Ternyata Mba Lea memandu saya ke cerita seorang guru di sebuah forum.



Guru ini bilang dia sudah kehabisan akal mengatur siswanya. Susah diatur, tidak mengormati guru, dan sebagainya. Akhirnya dia menggunakan penggaris kayu untuk menertibkan siswa. Berkonsultasi dengan guru lain, mereka juga menghadapi hal yang sama. Curhat sama kepsek, eh kepseknya malah marah (idiiiih....). Jadi harus gimana?

Saya sendiri merasa bahwa curhat ibu guru di forum itu membuat saya harus banyak bersyukur. Saya tidak mengajar anak-anak kaya dengan otak superior, fasilitas pun sering kali harus cari jalan sendiri. Tapi murid-murid saya masih terhitung sopan dan mau diajak kerja sama.

Kembali lagi ke cerita si ibu guru di atas. Teman-teman guru di sana banyak berkomentar, menyarankan berbagai macam hal. Tentu saja saya sangat sepakat, bahwa diperlukan kesabaran, pendekatan, ketulusan, untuk mendekati siswa-siswanya. Tapi saya sendiri, bila diberi saran seperti itu, sepertinya masih tetap akan bingung.

Yang dibutuhkan si ibu guru tampaknya adalah cara praktis untuk memutus lingkaran permasalahannya ini. Bukan teori, tapi praktek konkritnya.

Saya sendiri masih amat sedikit pengalaman, tapi barangkali apa yang saya tuliskan ini bisa juga jadi 'pembuka jalan'.

Bayangkan kondisi berikut:
Seorang guru masuk, dan memulai pelajaran dengan berkata, "Anak-anak, hari ini kita membahas tentang kerangka karangan."

Ada yang salah?

Ya tidak ada, tapi bila kita merujuk pada metode terbaru, ini bukanlah awal yang baik untuk memulai pelajaran. Kering, kaku, tanpa gairah. Padahal otak kita bekerja ketika panca indera dirangsang dan minat ditumbuhkan.

Sekarang bayangkan yang ini:
Seorang guru masuk, membawa kotak misterius, sambil bertanya, "Kotak apa ini?" Siswa tak menjawab, tapi semua diam karena penasaran. Guru tersebut kemudian membuka kotak, dan aroma martabak terang bulan menguar ke seantero kelas.

Nah, bagaimana? Terasa banget kan bedanya? Efeknya juga berbeda pada otak.



Banyak sekali cara-cara baru dalam pembelajaran, tapi setiap kali saya membawa makanan ke kelas, suasana langsung meriah. Tidak perlu yang mahal-mahal, saya biasa bawa permen loli, kacang atom, atau sesekali makanan khas bila ada kelebihan rezeki.

Kadang ada makanan yang di bawa untuk hadiah kuis atau games, tapi banyak juga yang bisa jadi bagian dalam pembelajaran. Makanan yang berbentuk lingkaran bisa digunakan untuk belajar pecahan, yang butiran bisa untuk belajar himpunan, dsb. Untuk belajar sains, wah lebih banyak lagi, dari mulai kerang rebus, yoghurt, tempe, sampai es krim (yang dibuat manual).

Intinya satu: alat peraganya BISA DIMAKAN! \(^o^)/

Dalam konteks mata pelajaran yang saya ampu, makanan digunakan untuk belajar kosa kata, percakapan, dan budaya. Misalnya, dengan membawa susu UHT 1 liter ke kelas. Untuk apa? untuk belajar penambahan tenten dan ya-yu-yo kecil pada hiragana.

Kami membahas bagaimana menulis hiragana untuk gyuu -sapi- dan nyuu -susu- (menulis-tata bahasa), melafalkannya bersama (membaca), berlatih bagaimana memintanya di sebuah toko (percakapan). Terakhir, susunya dibagikan dalam cup kecil-kecil dan diminum sama-sama. Belajar itu memang 'enak'!

Saya juga membawa kacang atom ke kelas, bersama dengan hashi (sumpit), beli di toko plastik Rp6000/20 pasang. Kebetulan, di buku ada percakapan yang berbunyi, "Hashi, onegaishimasu (tolong ambilkan sumpitnya)."



Kami membaca percakapan (membaca), mempraktekkan dengan hashi beneran (percakapan), belajar memegang sumpit dengan benar (budaya), dan mencoba menggunakan sumpit untuk makan kacang atom. Terakhir, lomba makan kacang atom dengan sumpit! Wah, seru sekali waktu itu.

Pernah seorang rekan guru bertanya, bagaimana agar siswa tidak gampang lupa dengan pelajaran. Waktu itu saya ikut sumbang saran, bahwa kita perlu memberikan 'cantolan memori' pada mata pelajaran, karena otak akan menyimpan sesuatu yang berkesan secara emosi, baik senang maupun sedih. Nah, salah satu cara memberi cantolan memori itu adalah dengan makanan.

Jadi kalau saya ditanya bagaimana cara mengambil hati anak-anak ini? Mungkin salah satu cara yang bisa dicoba adalah lewat makanan. Bukan untuk menyogok mereka agar mau bergerak, tapi sebagai media belajar yang menyenangkan.

Sekali lagi, belajar itu bisa sungguhan ENAK!


Salam,
Irma
*suka makan tapi ga (terlalu) suka masak*

21 October 2011

GURU JUGA WAJIB BELAJAR

Sependek pengalaman saya, ada satu kenyataan yang aneh, bahwa terkadang kita lebih bisa berharap agar fasilitas fisik dilengkapi daripada kualitas personalia ditingkatkan. Sssttt, ini gosipnya: ada sekolah yang bisa menganggarkan 80 juta untuk promosi, tapi NOL untuk pelatihan guru. Ini sekolah swasta bergelar SSN (Sekolah Standar Nasional) loh...

Jika sudah mengajar belasan bahkan puluhan tahun, apakah guru bisa lantas jadi berkualitas? Jika diceramahi, "Bu, Pak, jadi guru itu harus kreatif, ngajar dengan menyenangkan," lalu mereka lantas jadi kreatif dan bisa ngajar dengan menyenangkan?

Guru itu perlu dilatih, dibuat sistem penjamin mutunya, dibuat sistem pengawasannya, atau secara singkat: DIPAKSA untuk jadi baik.

Makanya, jadi guru adalah profesi di mana menuntut ilmu sepanjang hayat menjadi WAJIB dilakukan.

Saya pernah bertemu dengan kepala sekolah, bukan satu tapi DUA orang, untuk mengusulkan pertemuan forum guru. Kita mulai dengan shalat Dhuha, belajar tilawah (ga yakin juga guru-guru lancar semua), lalu kultum. Setelah rehat barang 15 menit, mulailah pelatihannya. Jangan yang bentuknya ceramah-ceramah-ceramah, tapi langsung praktek.

Misalnya, gimana biin RPP yang baik. Suruh gurunya bikin saat itu juga, lalu dikoreksi oleh tutor. Atau gimana menerapkan metode T.A.N.D.U.R di kelas. Atau bagaimana cara mencatat (dan menghapal) dengan Mind Map. Atau teknik-teknik yang memadukan hapalan dengan gaya belajar kinestetik. Semuanya BUKAN CERAMAH, tapi praktek langsung.

Terus dijawab apa?

SULIT DILAKSANAKAN.

Dananya besar, guru-guru harus diberi transport dan makan siang, guru-guru harus meninggalkan jam mengajar di sekolah lain, ga boleh memakai hari efektif sekolah karena anak jadi terbengkalai, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya.

Ah, sudahlah.

Karena mentok, apa lalu jadi putus asa? NO WAY! Kalo yang di atas-atas itu ga mau, biarin aja. Kita ajak aja yang mau. Dan hari Kamis kemarin, sekitar sepuluh orang berkumpul di ruang audio visual perpustakaan. Kami belajar bersama tentang membuat Mind Map.



Mencatat adalah masalah klasik di sekolah kami. Tak ada buku paket, kami hanya meggunakan LKS. Mutu LKS rendah? Ya, benar, tapi kalau anda mengenal siswa-siswa di sekolah kami, beneran ga tegaaaaa menyuruh siswa beli buku paket sampe jutaan setahunnya. Akhirnya LKS jadi pilihan yang diambil.

Lalu masalah lainnya timbul. LKS tidak cukup dijadikan sumber belajar, jadi guru harus memberi catatan. Nah, inilah titik kritisnya. Saya terganggu sekali bila ada siswa yang mengisi status Facebook semacam, "Gila, nyatet sampe 3 lembar bolak-balik."

Inilah dasar kenapa kami berlatih mencatat menggunakan Mind Map yang lebih enteng, kreatif, menyenangkan, dan mudah dihapal.



Guru-guru ini datang padahal ada yang tak ada jam mengajar hari itu, mereka tidak diberi transport dan konsumsi khusus pelatihan, dan tanpa setifikat. Alat yang diperlukan hanya kertas kosong dan spidol warna yang digunakan bersama-sama. Meski menginginkan pembicara sekaliber Hernowo, tapi kami mencukupkan diri dengan pemateri gratisan, yaitu saya, hehehe.... Tinggal menambahkan beberapa piring gorengan sebagai penghangat suasana.

Jadi omong kosong kalau pelatihan guru itu ribet dan mahal!



Sepuluh orang yang hadir, tapi saya melihat semua menikmati sekali. Bu Muiyah (pakai jilbab hitam - batik PGRI) nyeletuk, "Nanti saya mau ajarin ke anak saya ah...." Wah, bagus sekali.

Kebetulan yang sudah selesai selain saya adalah Fahru, guru Geografi. Meskipun materi yang dibuat Mind Map-nya sama sekali asing untuk dia (karena materi mapel Bahasa Jepang ^_^;), saya coba tes isi materinya di depan rekan-rekan guru, ternyata langsung berhasil diingat tanpa menghapal, akibat penggunaan warna, gambar dan kode ketika membuat Mind Map.



Katika jam 11.30 tiba, saya mengingatkan bahwa kita harus menghentikan pelatihan. Tentu saja kami tak bisa meninggalkan jam mengajar seharian penuh, dan ruang peprpustakaan juga akan digunakan oleh siswa yang keluar zuhur. Apa tanggapan para guru?

"Yaaaaa, padahal lagi enak!"

Tuh kan, masih ga percaya kalau belajar juga bisa menyenangkan?

HASEEEEEK....

Hadeeeeh....

Bikin soal mah enak. Diapain nih biar ngerjainnya seru ya.... Di tambah gambar apa ya.... Gimana caranya biar anak-anak tetep mikir meskipun ujiannya boleh open book ya.... Pokoknya asiklah.

Pas ngoreksinya, huwaaaaa.... Mana essay semua. Mana anak-anak nulisnya kadang geje alias ga kebaca. Mana ada 5 kelas dikali sekian anak.

Eh guru di sebelah saya langsung interupsi, "Lha saya 11 kelas!" Ish, merusak suasana ajah =_=', orang lagi enak-enak mengeluh seakan diri ini guru paling menderita sedunia.

Tapi ada aja sih yang menghibur hati di kala meneliti keritingnya hiragana satu per satu. Misalnya, ya ampuuuun, ga tega banget kan ngasih angka 16 di atas kertas ujian (padahal ujiannya open book!). Atau ada juga yang di kelas 'ga keliatan' taunya dapet lebih bagus dari yang banyak omong.

Tiba-tiba.... Waks, apaan nih?



Huhuhuhu.... ada anak kelas X yang menjawab pertanyaan PAKE KANJI (please ya, bukan nama tepung).

Masalah pertama, saya belum ngajarin. Yang kedua, dan ini paling parah, SAYA GA BISA KANJI! Ng... ini bacanya... Kyou wa? Asa wa? Ima wa? Apa ya.... @~@

Apa saya salahin aja, secara ga sesuai dengan materi yang saya beri. Tapi kayaknya ga boleh deh kayak gitu. Itu namanya ga menghargai usaha murid. Lagian, mana boleh saya sok tau di luar my area of experties *tsaaah...*.

Oh ya, kalau sedang iseng, saya suka ngasih pertanyaan tambahan, yang ga masuk penilaian. Jadi cuma buat seru-seruan aja. Kali ini saya masukkan di soal kelas XI, bunyinya: "Hal apa yang paling menyebalkan dari pelajaran Bahasa Jepang?"

Senang sekali mendapati jawaban jujur mereka: Susah menghapal hiragana, ga suka disuruh maju buat ambil nilai percakapan, kadang suka bosen, ribet kalo suruh menyalin teks ke hiragana, dll.



Tapi yang satu ini bikin saya ketawa:

"Biasa-biasa bae. Tapi kalo lama kaga belajar Bahasa Jepang jadi lupa."

Hahahaha, haseeeek....

(bagi yang belum tau, logat tersebut dipakai oleh masyarakat Betawi di Ciledug dan sekitarnya, yang berbeda sekali dengan yang dipakai di kampung saya di Kebayoran Lama, padahal hanya berjarak 30 menit naik angkot)

JANJI UNTUK FERI

Ada beberapa siswa saya yang mungkin mengalami masalah psikologis, meski kami adalah sekolah umum biasa. Setelah beberapa kali mengalami, tampaknya kami mulai terbiasa. Kami tidak memaksa mereka mengikuti standar, dan mencari cara lain agar mereka tetap bisa berpartisipasi dan bisa dievaluasi dengan standar khusus.

Tapi dengan Feri, beda kasusnya.

Sebelumnya, saya tidak menyadari ada masalah dengan Feri (nama disamarkan). Maklum, untuk pertemuan awal, biasanya kami tidak banyak bergerak, paling hanya berkenalan dan mendengarkan saya ngoceh tentang mata pelajaran yang saya ampu.

Begitu kelas menulis dimulai, barulah saya menemukan bahwa Feri berjalan dengan goyah dibantu dengan tongkat. Unit kami ada di lantai dua, dan cara Feri berjalan naik-turun belasan tangga cukup mengkhawatirkan saya. Bila bahunya tersenggol, kemungkinan dia akan jatuh. Teman-teman sekelasnya harus membantu jika ia harus melewati selokan yang hanya selebar 20 senti saja.

"Kamu dapat kecelakaan?" tanya saya.
Dia bilang, "Saya kena demam tinggi karena diare, sampai kejang-kejang. Sekarang sedang dalam masa pemulihan."



Barulah saya mengerti kenapa tempo hari menemukan guratan aneh di salah satu lembar kerja anak. Kalau tulisan latin digaya-gayain, itu wajar. Tapi saya tidak pernah menemukan garis-garis hiragana yang ditulis dengan bergelombang.

Rupanya itu lembar kerja Feri. Dia tidak melakukannya -menulis romaji dan hiragana dengan bergelombang- dengan sengaja.

Kejang yang dialami mempengaruhi seluruh syaraf motorik baik kasar maupun halus. Badannya bergetar bila berjalan, tangannya bergetar bila menulis, bahkan bicaranya jadi tak jelas karena getaran pada otot wajahnya.

Sementara banyak anak sehat yang mangkir datang ke sekolah, Feri tak kendur semangatnya. Selama tiga bulan ini, kesehatannya tampak membaik. Dia bisa berjalan pelan tanpa tongkat, tapi getaran itu masih ada di seluruh tubuhnya.

Tadi pagi ketika upacara bendera Senin, saya melihatnya di barisan paling depan (fotonya kejauhan, tapi Feri ada di tengah-tengah gambar).



Feri hanya terganggu motoriknya, tapi kecerdasannya sama sekali normal. Dia mengerti materi yang diberikan, menjawab pertanyaan dengan lancar, dan menghapal percakapan dengan baik. Kekurangannya hanya di sisi motorik, yaitu menulis dan melafalkan.

Mulanya saya ragu, apakah harus memperlakukannya secara istimewa. Di pelajaran saya, beberapa materi mengharuskan anak bergerak cukup banyak, dan itu tentu akan menyulitkan Feri. Tapi.... ah, tidak. Memperlakukannya secara istimewa -dengan membedakan tugas/evaluasi yang diberikan- sepertinya akan melecehkan semangatnya.

Jadi hingga saat ini, Feri mendapat tugas yang sama dengan semua rekan sekelasnya. Dia akan maju pelan-pelan, dengan badan yang bergetar, tersenyum (dia sering sekali tersenyum), dan membuktikan bahwa ia sama hebat dengan teman-teman sekelasnya.

Dari semua hal yang saya bisa lakukan untuk Feri, barangkali yang terbaik adalah memberinya peluang untuk merasa setara dan mampu bersaing.

17 October 2011



Saya ini tidak belajar ilmu kependidikan secara formal, jadi hanya baca-baca saja buku tentang otak kiri dan otak kanan. Katanya, pembelajaran yang paling tepat adalah ketika kedua otak 'jalan' barengan. Kekurangan pendidikan kita katanya karena terlalu berfokus pada otak kiri. Makanya banyak yang pinter tapi ga kreatif.



Ngomong-ngomong soal kreatif ini, kayaknya SEMUA sekolah nyelipin kata 'kreatif' ini di visi-misi-tujuan-motto what so ever. Tapi kan bukan dipajangnya yang penting, tapi penerapannya.

Motif cat tembok, susunan bangku, pengaturan kelas, bikin anak kreatif ga?
Cara gurunya ngajar bikin anak kreatif ga?
Kegiatan dan eskulnya bikin anak kreatif ga?
Tugas-tugasnya bikin anak kreatif ga?

Kalo bilang kepingin menghasilkan anak yang kreatif, ya harus diusahakan. Bukan cuma dipajang di banner dan brosur.

Waduh, kok jadi sewot ginih ^_^:

Jadi seperti kata si Akang, semua orang punya constraint masing-masing. Constraint saya adalah model sekolah konvensional yang rada 'berbahaya' kalo terlalu dibikin berbeda. 'Berbahaya' maksudnya mengganggu stabilitas lingkungan, secara ada 4 unit berbeda di satu lokasi, kelasnya dipakai pagi siang, and so un and so un (hadeh, maklum ngeblog jam 2 malem).

Jadi, dengan constraint yang ada, kita optimalkan aja apa yang ada, ya toh. Misalnya, materi jikoshoukai, atau perkenalan di bawah ini.

Tata bahasa itu ada di otak kiri, sedang gambar dan warna ada di otak kanan. Untuk nyambungin keduanya, beginilah RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) yang saya siapkan. RPP itu wajib dibikin setiap guru/dosen di seluruh dunia ^_^.




Daaaaan, ini contoh yang saya berikan di papan tulis:



hajimemashite.
watashi wa iruma desu.
douzo yoroshiku.

(tulisan 'iruma' masih pakai hiragana, karena belum belajar katakana ^^;)

Bawahnya ada pas foto diri, hahahaha.... Bawahnya lagi comicstrip bergambar 2 stickman lagi ngobrol, nanyain o kuni wa (asal negara)? o shigoto wa (pekerjaan)?

Dan anak-anak mengerjakan dengan kreatifitas sendiri-sendiri. Modalnya murah kok, hanya kertas kosong dan spidol warna. Ga pake multimedia, ga pake efek suara. Bukan ga mau sih, tapi emang ga ada, hehehehe....



Jadi begitulah, maunya sih belajar dengan mengaktifkan dua bagian otak bersamaan. Mudah-mudahan bisa nyenggol juga dikit-dikit.

26 September 2011

BHAKTI NUGRAHA

Seperti hari Sabtu pagi lainnya di semester ini, saya mengajar di unit SMK Bhakti Nugraha. Ini sekolah istimewa, dan akan saya jelaskan mengapa.



Sambil menunggu anak-anak selesai mengisi tabel latihan hiragana, saya memperhatikan anak-anak kelas X SMK yang biasa dipanggil dengan BN ini. Di tahun pertama, biasanya baju anak-anak akan terlihat bersih cemerlang karena mereka membeli pakaian baru. Badan sudah makin besar, dan yah, ini kan sekolah baru.

Tapi tidak dengan anak-anak BN. Baju mereka tidak baru, mungkin melanjutkan seragam SMP. Terlihat warna coklat membayang di beberapa pakaian. SMK BN berada di bawah yayasan yang sama dengan unit induk saya, yaitu SMA Yapera, tapi ada beberapa perbedaannya.

Yang pertama, 100% siswanya gratis spp, uang makan, asrama, seragam, dan kegiatan pondok.

Seorang rekan guru pernah menulis status di FB, “Andrea Hirata punya laskar pelangi, saya punya BN.” Anak-anak ini berasal dari kabupaten Bogor dan sekitarnya. Bahkan ada yang harus menempuh tambahan sekian jam perjalanan dari kota Bogor, entah di mana kampung mereka berada. Jadi bila tidak ‘diambil ‘oleh BN, mereka tidak bisa sekolah sama sekali.

Anak-anak BN hanya dua minggu belajar administrasi perkantoran di Tangerang. Ke mana mereka dua minggu berikitnya? Ada di desa Tenjolaya, kabupaten Bogor. Mereka mengaji di malam hari, dan mencangkul kebun serta beternak ikan, bebek, dan ayam di pagi hari.

Bayangkan, mempelajari manajemen personalia, stenografi, mail handling, menggunakan komputer dan mesin faksimil selama 2 minggu, lalu memegang cangkul dan membersihkan kandang selama dua minggu berikutnya. Dan jangan lupa kitab kuningnya. Luar biasa bukan?

Saya memandang kembali wajah anak-anak ini. Di bawa oleh yayasan kami dari pelosok, saya mendapat ciri-ciri umum dari mereka pada tahun pertama: ragu-ragu, khawatir, tidak percaya diri, gelagapan, bingung, berhati-hati namun mencoba mengerti dan menyesuaikan diri. Lingkungan, gaya hidup, cara belajar, semua baru. Tentu saja saya bisa mengerti mengapa mereka tampak terlalu cemas.



Saya mengalihkan pandangan ke tembok, dan tiba-iba saya sudah mengangkat ponsel untuk mengambil foto dinding kelas mereka. Ah, anak-anak ini punya bakat, mereka punya kreatifitas, mereka punya potensi. Dan terutama lagi, mereka kuat dan punya keberanian.

Beberapa dari mereka memilih ikut kelas menulis di mana kebetulan saya adalah mentornya. Seorang siswa menulis, “Saya kepingin jadi dokter. Tapi jadi dokter harus dari SMA jurusan IPA, sedang saya tidak bisa belajar di tempat lain selain di SMK BN. Lagipula tidak ada biaya juga untuk kuliah.”

Yang lain mendekati saya di sebuah pagi, “Ibu, anak BN lagi ngirit Bu, jadi ga bisa ke warnet mengerjakan tugas.”

Saya merasa bersalah, tidak menyangka bahwa 3000 rupiah untuk satu jam di warnet bisa jadi masalah untuk mereka. Akhirnya dengan wewenang kepala perpustakaan, anak BN bisa menggunakan komputer milik pustakawan (perpustakaan kami tidak memiliki komputer untuk umum). Mudah-mudahan ini bentuk layanan, bukan penyalahgunaan wewenang.

Ketika raker yayasan kemarin, kepala SMK BN mengakhiri laporannya dengan mengutip surat Al-Maun, yang mengguncang hati:



Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?


Itulah orang yang menghardik anak yatim

Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

18 September 2011

SEKAI NI HITOTSU DAKE NO HANA



Kadang suka bertanya-tanya, saya ini berniat sombong ga sih? Kalo posting tentang aktifitas kelas, atau perkembangan menggembirakan dari homeschoolingnya anak-anak, niatnya untuk mendokumentasikan, atau mau pamer?

Ya sudahlah..... Kita lanjut sajah....



Kemarin saya sampai ke materi bilangan. Ichi ni san shi go, satu-dua-tiga-empat-lima, begitu. Sambungannya adalah satuan bilangan. Misalnya, 'kesatu' adalah ichi-ban, 'dua jam' adalah ni-jikan, 'tiga orang' adalah san-nin. Jadi satuannya ditambahkan di belakang bilangan, persis Bahasa Indonesia.

Kalau yang berbentuk bulat kan 'butir' (jadi bilangan di+ko belakangnya), yang bentuknya tipis kan disebut 'lembar' (+mai), yang berbentuk panjang disebut 'batang' (+hon), dst.

Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan.

Hari itu saya membawa laptop dan sound system ke kelas. Setelah belajar teori bilangan, saatnya mencarikan konteks bagi teori tersebut. Konteksnya saya coba diambil dari lagu lama SMAP, Sekai ni Hitotsu Dake no Hana. Kenapa lagu itu yang dipilih, semata-mata karena ada kata bilangan di sana.

Yang mau denger lagunya, silakan buka di sini: http://www.youtube.com/watch?v=d8uFwfvsf3Q&feature=related

Berikut teksnya:


NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one!

Tidak perlu untuk menjadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya!

Hanaya no misesaki ni naranda
Ironna hana o miteita
Hito sorezore konomi wa aru kedo
Doremo minna kirei da ne

Di depan toko bunga
Seseorang melihat banyak bunga berjajar
Setiap orang memang memiliki bunga favorit
Tetapi semua bunga tetap indah, bukan?

Kono naka de dare ga ichiban da nante
Arasou koto mo shinai de
Baketsu no naka hokorashige ni
Chanto mune o hatteiru

Persaingan untuk melihat mana yang terbaik
Bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan
Menunjukkan diri di dalam keranjang
Bunga-bunga itu berdiri tegak dengan bangga

Sore na noni bokura ningen wa
Doushite kou mo kurabeta garu?
Hitori hitori chigau noni sono naka de
Ichiban ni naritagaru?

Jadi kenapa kemudian kita manusia
Harus membandingkan diri satu sama lain?
Masing-masing orang tentu berbeda,
Mengapa harus selalu jadi yang nomor satu?

Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii

Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik

Komatta youni warai nagara
Zutto mayotteru hito ga iru
Ganbatte saita hana wa dore mo
Kirei dakara shikata nai ne

Ada orang yang selalu resah,
Meski tertawa tetap kelihatan susah.
Padahal bunga manapun yang berjuang untuk mekar
Pasti terlihat indah, bukan?

Yatto mise kara dete kita
Sono hito ga kakaete ita
Iro toridori no hanataba to
Ureshii souna yokogao

Ketika akhirnya orang itu keluar dari toko,
Ia menggenggam di tangannya
Bunga-bunga yang berwarna-warni
Bunga-bunga yang terlihat amat bahagia

Namae mo shira nakatta keredo
Ano hi boku ni egao o kureta
Dare mo kizukanai youna basho de
Saiteta hana no youni

Aku tidak pernah tahu nama orang itu
Tetapi hari itu ia memberiku senyuman
Seolah di suatu tempat yang orang lain tak tahu
Ada setangkai bunga tengah mekar

Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii

Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik

Chiisai hana ya ooki na hana
Hitotsu toshite onaji mono wa nai kara
NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one

Ada bunga yang kecil, ada bunga yang besar
Tidak ada yang sama dengan satu sama lain
Tidak perlu jadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya.

(Mohon maaf pada senseitachi jika ada kesalahan arti. Ini asli saya ambil dari internet, hehehe....)

Yang kami dapatkan hari ini ternyata lebih dari sekedar konteks bagi teori bilangan dan satuan bilangan dalam Bahasa Jepang. Sebelum kami menyanyikan kembali lagu di atas dan menutup pertemuan hari itu, saya bilang pada anak-anak:

"Sekarang kalian memang memakai seragam yang sama, belajar hal yang sama, mengikuti jadwal sekolah yang sama. Sekitar setengah tahun lagi, begitu kalian lulus, berpakaianlah sesuai ciri khas masing-masing, belajarlah apa yang kalian sukai, temukan jalan yang ditunjukkan hati nurani, jadilah diri sendiri untuk mekar jadi indah.
"

Nyanyi yuk, gampang kok!

17 September 2011

UPACARA BIAR CINTA NEGARA?





Siapa suka upacara?

Saya ga suka. Eh, pernah deh saya antusias ikut upacara. Waktu di SMA, upacara Sabtu pagi (sekolahnya Sabtu sampe Kamis ^_^) lumayan ditunggu. Soalnya upacaranya digabung antara siswi lelaki dan perempuan. Selain upacara, semua dilakukan terpisah, mulai dari belajar, kegiatan, apalagi asrama. Jadi pas upacara itu bisa lirik-lirik dikit ke sebelah kanan. Hahaha, kebayang ya noraknya saya waktu itu.

Waktu SMA, ada juga masa-masa di mana upacara jadi hal yang ditunggu. Kapan itu? Pas saya jadi paskibra di sekolah. Kenapa antusias? Pastinya bukan karena mengaggap upacara penting, tapi karena saya mau tampil.

Makanya saya bertanya-tanya, apakah gunanya upacara, apa pula gunanya eskul paskibra. Bener ga sih dua hal itu bertujuan untuk menanamkan nasionalisme?

Saya bertanya-tanya gini karena pekan lalu ada undangan lomba menulis untuk guru dari sebuah LSM. Salah satu temanya tentang peran guru dalam membangun nasionalisme. Lihat hadiahnya, wooooow.... Juara pertama dapet 8 jeti bo! Ngileeeerrr....

Tapi tunggu dulu deh. LSM apakah ini? Nanya-nanya Mbah Google, ah kayaknya kok kurang sreg yah sama visi misinya. Bukannya salah sih, cuma berhati-hati aja. Masih mikir-mikirlah gitu untuk ikutan.

Kembali lagi ke upacara.



Senin kemarin, ada yang istimewa sekolah tempat saya bekerja. Ceritanya Kapolsek datang dan jadi pembina upacara. Ini fotonya, keliatan ga Pak Kapolseknya?

Melihat dia bawa map, kita udah nyangka kalo amanat pembina bakalan lama nih. Sambil bosen, saya update status Facebook. Idih, bandel emang. Tapi isi statusnyanya beneran dari dalam hati:

"Orang bisa ga sih jadi baik kalo diceramahin panjang-panjang tiap hari senin kayak gini?"

Ini pertanyaan ya, bukan sinisme.

03 September 2011

DO MORE, EXPECT LESS



Hmmm...., jadi senyum-senyum sendiri lihat butir evaluasinya:

Nilai tertinggi alias A: lebih dari 90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Wah jelas ga mungkin, kan.

Berikutnya yang B: lebih dari 75% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Ini nggak juga.

Lalu yang C: lebih dari 50% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Yah, nggak juga.

Ah, jadi males lihat pilihan selanjutnya. Kayaknya sih dapet 0 poin deh di butir ini ^_^;

Memang yah, gimana juga, sekolah 'bagus' alias terkreditasi A menurut standar resmi Indonesia bukan hanya harus pinter-pinter orangnya, tapi juga harus ada duitnya. Ya pinter dan tajir sekolahnya, juga gurunya, juga siswanya.

Misalnya salah satu butir evaluasi di atas itu, ya ga mungkinlah sekolah tempat saya bekerja ini bisa memenuhinya. Perguruan tinggi terakreditasi? Yang melanjutkan ke bangku kuliah aja bisa dihitung dengan sebelah jari tiap angkatannya, apalagi perguruan tinggi terakreditasi.



Tapi sudahlah, kita lupakan saja butir evaluasi di atas. Itukan yang buat BAN (Badan Akreditasi Nasional), tahu apa sih mereka tentang anak-anak yang saya temui setiap hari.

Ayo kita buat sendiri saja standarnya.

Nilai tertinggi: 90% lulusan menjadi manusia bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Hmmm...., gimana?

Standarnya susah banget loh ini. Tapi dibanding standar lulusan buatan BAN, yang ini lebih mungkin kami capai. Kalau pakai standar '90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi', hwidiiiih dari mana duit untuk masuknya. Beasiswa, untuk 90% lulusan? Ah, becanda ajah....



Bila manusia bermanfaat yang dituju, saya percaya kami BISA mempersiapkannya. Perubahan paradigma, penggalian minat dan bakat, pembekalan keterampilan hidup, memupuk tumbuhnya motivasi, pembiasaan untuk disiplin. Yah, semua itu tak mudah, tapi bisa dilakukan, dan terutama, biayanya jauh lebih kecil dibanding uang pangkal untuk satu anak di perguruan tinggi top.


Jadi teringat komentar siswa-siswa saya di notes Facebook, beberapa melaporkan dengan bangga bahwa mereka sudah bekerja sekarang. Alhamdulillah, saya sudah cukup bangga bangga dan bersyukur. Standar pertama telah terlewat, menjadi mandiri, artinya bisa bermanfaat untuk diri sendiri, mudah-mudahan juga untuk keluarga.

Apa standar saya terlalu rendah? Masa' sih merasa cukup bahagia lihat anak-anak itu sekedar jadi SPG/SPB di mal?

Hmmmm...., begini sja: DO MORE, EXPECT LESS.

19 August 2011

NAKAL ITU BOLEH

Karena kesel, juga males terus berurusan dengan masalah yang sama, akhirnya saya panggil satpam untuk mengusir mereka. Lagian mikir dong, bulan puasa gini malah ngerokok, siang bolong, dengan seragam, di samping sekolah pula.

Menggerutu panjang pendek, saya bilang pada suami, "Masa sih nahan lapar aja ga bisa? Di rumah juga ibunya ga masak kan (maksud saya ga ada makan siang). Buat apa sih sampe ngebatalin gitu? Demi sebatang rokok?"

Terus si Akang bilang, "Anak muda itu banyak yang merasa malu kalo keliatan terlalu taat aturan."

Ha? Tepok jidat deh, emang jadi muda tuh perlu bandel juga dikit-dikit. Nah, kayaknya saya terlalu baik nih waktu muda (wakakakakak....), makanya saya sering ga ngerti alasan bandelnya siswa-siswa saya.

Kata-kata si Akang dapat konfirmasi lagi dari adik saya, yang memang tiga-tiganya lelaki. "Pemberontakan itu dianggap keren. Jadi ada kebanggaaan tersendiri, soalnya dianggap berani. Padahal kalo lagi sendirian sih tetep puasa."

Hahahah....

Oke, sekarang pertanyaannya adalah: anak muda boleh ga sih nakal?



Toh, banyak orang yang dulunya dianggap termasuk golongan 'madesu' alias 'masa depan suram', eh gedenya kok bisa hidup dengan baik. Ya ga sampe jadi ustadz sih, tapi menjalankan ajaran agama, bertanggung jawab pada keluarga, dan punya penghidupan yang layak.


Maksudnya, bukankah baik bila seseorang punya pengalaman hidup yang lebih kaya?

Pikir-pikir, barangkali juga gapapa ya. Anak muda silakan saja berbuat semaunya. Asal dia pastikan ga mati duluan sebelum tobat.


*foto diambil dari internet (bukan siswa saya, sumpah! ^_^;v).

23 July 2011

GA WORTH IT!



Wah, keren banget, pikir saya ketika membaca komentar seorang siswa di status FB seorang teman guru. Dia bilang, "Pelajaran Bahasa Jepang itu ga worth it banget dipelajari."

Kenapa keren, soalnya saya jarang menemukan ada siswa yang mikir, terus berani menggugat: "Saya ga melihat ini ada gunanya untuk masa depan saya." Kebanyakan sih nelen aja meskipun setengah mati ga suka dan ga ngerti, semua materi itu untuk apa.

Apa bener Bahasa Jepang adalah pelajaran ga guna? Kata saya, iya juga sih, hahahaha....



Gini. Bahasa Jepang, dan empat macam bahasa lain yang bisa dipilih dalam kurikulum Indonesia sebagai bahasa asing kedua (temennya: Arab, Cina, Perancis, Jerman), diajarkan memang mengawang-ngawang. Ngapain coba menghapal huruf dan karakter keriting plus gramatika, bahkan percakapan sekalipun. Lha konteksnya juga ga ada.

Yang saya maksud dengan konteks adalah, ini semua mau dipake di mana, sih? Buat apa? Mana belajarnya seminggu sekali, terus bukunya nyeremin banget (kalimat-kalimat percakapan panjang gitu, padahal baru beberapa lembar yang lalu belajar tabel hiragana). Yah, kayaknya jaraaaaang banget yang bisa pera-pera setelah 3 tahun.

Kalau Bahasa Inggris, beda. Kita dikelilingi Bahasa Inggris sejak tv sampai lagu sampai manual instruction barang elektronik. Kalo Bahasa Jepang (atau Jerman dan Prancis) kan ga begitu.

Gimana kalo gini aja. Pelajaran bahasa asing kedua jadi semacam pemantik semangat para siswa aja. Nah, kalo ini saya setuju. Siswa diberi wawasan bahwa, "Dunia itu luas, Nak. Jangan batasi diri, kemungkinan itu terbuka kalau kamu mau mencari."

Kalau begini alasannya, jangan banyak-banyak belajar bahasanya. Masukkan lebih banyak tradisi dan budaya.

Nah, ini kan jelas tugas gurunya. Ga heran kalo siswa bilang belajar Bahasa Jepang itu ga worth it, karena mungkin gurunya ga ngasih tau, apa manfaat kamu belajar bahasa jepang, apa yang bakal dia dapat setelah belajar Bahasa Jepang.

Tentu sudah pernah dengar tentang T.A.N.D.U.R, bukan?



T.A.N.D.U.R adalah salah satu metode penyampaian materi di kelas a la Quantum Teaching. Huruf T dan A ini adalah waktu kita memberikan konteks.

T adalah ingkatan dari Tumbuhkan minat. Apa manfaatnya bagi siswa, apa asyiknya belajar ini. Setelah itu melangkah ke A, atau Alami. Biarkan siswa menghubungkan pengalamannya dengan materi. Kalau pelajarannya tentang katakana, misalnya, kita tunjukkan beberapa katakana yang terselip di
banner iklan dan bilboard atau label makanan. Ini membuat mereka ngeh, "Oh iya. Katakana itu ada loh dalam kehidupan saya."

Segala definisi dan teori diberikan setelah siswa tumbuh minatnya, dan dapat menghuugkan materi dengan kedhidupan pribadi mereka. Itulah yang disebut konteks belajar, dan harus diberikan di awal segalanya di kelas.

11 July 2011

JADI AKRAB



Hampir jam 11 malam. Saya sudah janji ga mau begadang lagi, tapi begitu selesai menyiapkan bahan raker, sebuah pesan masuk ke inbox FB yang saya buka di window sebelah. Dari mantan murid saya.

Tadi pagi, dia mengirim request pada saya untuk dilisting sebagai mother di profil FBnya. Malam ini, kami bertukar cerita tentang kabar masing-masing, pekerjaan, ditutup dengan permintaan agar jangan sampai lupa mengundangnya bila ada reuni atau buka puasa alumni di sekolah.

Apa anda menduga bahwa sebelumnya saya dekat dengan anak ini?

Tidak sama sekali. kami tak pernah bicara selain dalam kelas, yang mana itu jaraaaang sekali terjadi. Berkali-kali saya kesal karena dia sulit sekali menyerap materi. Dia juga kemungkinan besar kesal pada kecerewetan saya. Kalau tidak, mana mungkin dulu dia jarang masuk dan sering lupa bawa worksheet. Bahkan, ingatan saya menyatakan bahwa dia adalah siswa yang paling sulit diangkat antusiasmenya, meski saya sudah mencoba dengan berbagai cara.

Kalau anda dekat dengan guru dulu, kemungkinannya adalah anda termasuk anak yang pintar, atauaktif di kegiatan, atau anda/gurunya adalah orang yang pandai bergaul. Saya dan anak ini tidak berada dalam salah satu kondisi di atas. Jadi kalau sekarang jadi akrab, saya bertanya-tanya mengapa.

Jangan-jangan, hubungan guru-murid sulit bisa akrab karena banyak tekanan di sekelilingnya. Tekanan nilai, kurikulum, peraturan. Semua tekanan itu membuat saya mudah sekali mutung pada beberapa anak. Ketika itu semua dilepaskan, anak-anak ini jadi anak yang menyenangkan.

Maka saya sedang berpikir, bagaimana kedekatan ini bisa dibangun di tengah berbagai tekanan ini. Terutama, karena saya bukan orang yang 'hangat'.

Ah, tapi bagaimanapun, senang rasanya liat alumni yang melanjutkan hidup mereka dengan baik. Tulisan anak ini masih saja kacau tanda baca, seperti saat saya mengajarnya dulu. Tapi kenyataan bahwa dia sudah bisa mandiri dengan bekerja di perusahaan ponsel terkemuka, sudah cukup membuat saya bahagia.

03 July 2011

RULES



Berikut adalah beberapa peraturan untuk SAYA ketika bergaul dengan siswa di Facebook. Sengaja dicaps kata 'saya'nya karena mungkin orang lain berbeda pandangan ketika menyikapi status/foto di FB. Tapi saya terbuka pada segala masukan demi perbaikan.



1. Hanya menerima siswa yang sedang/pernah saya ajar.

Memperhatikan (diam-diam) siswa sendiri aja udah kebanyakan. Biar sedikit asal berarti, ceileh...


2. Menyeleksi siapa saja yang bisa melihat status/notes/link tertentu yang saya buat

Hohow... masa' gurunya sama aja naifnya dengan siswa. Rada bijak dikit gitulah, hehehe, gaya.


3. Hanya berkomentar di status/foto yang tidak provokatif.

Padahal banyak banget status yang provokatif. Ada yang nyumpahin orang lain sebagai cewe murahan, ada yang bilang tuhan sudah mati, ada yang nulis status: kesel banget denger orang jum'atan, ada yang cinta-cintaan sampe malu saya bacanya, wah macem-macem deh.

Kalo kata-kata semacam anjing, babi, tai, dan sejenisnya mah udah biasa. Ada yang lepas jilbab kalo di rumah (padahal sekolah juga ga ngewajibin). Foto yang 'nyeremin' juga ada, meski ga banyak.



4. Kalau ada status/foto yang bikin saya gatel kepingin komentar, maka itu berarti sebaiknya saya TIDAK berkomentar

Kaya' bahasanya anak jaman sekarang: cukup tau aja. Meskipun statusnya kadang bikin guru/orang tua mengurut dada prihatin.


5. Tidak mengungkit apa yang dilihat di Facebook ketika berada di sekolah

Terutama jangan sampai membawa nama atau kasus secara spesifik. Wewenang saya hanya sampai pagar sekolah.


6. Berkoordinasi dengan wakasek bidang kesiswaan, wali kelas, dan pembina osis untuk melakukan follow-up lewat program kerohanian, kelas seni & keterampilan, kelas pengembangan diri, dan konseling berkelanjutan.

Ga perlu ribut-ribut, ga perlu menyalahkan siswa karena toh mereka hasil didikan kita. Jadi lompati aja hal-hal yang ga ada gunanya, dan langsung mengusahakan solusi pembinaannya. Hop.

31 May 2011

WAJIB KULIAH?



Status itu berbunyi: "Orang tua suruh kuliah hati mau kerja tapi g blh kerja bingumg w."

Membacanya di wall fb, saya jadi teringat terus pada penulisnya. Dia siswa saya, baru saja lulus Ujian Nasional dan sedang menunggu ijasah. Pertanyaan kemudian muncul di benak ini: apa benar seseorang wajib kuliah bila mampu? Jadi nyaingin naik haji kayaknya ^^;

Menangani anak ini beberapa tahun, saya tahu kemampuan akademisnya. In my humble opinion, bangku kuliah bukanlah pilihan yang tepat. Lagi-lagi dia akan kembali menemukan kesulitan, baik secara akademis maupun sosial, lalu frustasi, lalu membenci diri sendiri.

Harusnya anak-anak seperti ini punya lebih banyak pilihan. Masalahnya, apa pilihan yang dia ketahui sekarang? Apa bakatnya, di mana minatnya? Sayang sekali, sekolah tak bisa menunjukkan jawaban kemarin itu karena sibuk mengejar kurikulum dan drilling soal Ujian Nasional. Yah, paling tidak kan kita punya kambing hitam.

Banyak sudah kita dengar tentang seseorang yang sukses tanpa kuliah. Bill Gates yang drop out, Joichi Ito, atau si James Marcus Bach itu. Tapi sepertinya mereka punya kemampuan akademik yang lumayan, dan sudah menemukan panggilan hidup di usia muda.

Sedang beberapa siswa saya, ah entahlah, saya tak bermaksud merendahkan mereka, tapi banyak di antara mereka tidak tergali pada domain kecerdasannya sendiri, juga belum menemukan 'panggilan' itu. Lalu ke mana mereka akan pergi setelah ini?

Di sisi lain, orang tua kepingin anaknya sarjana. Jaman begini bukan sarjana, apa kata dunia? Ambil ekonomi aja, atau komputer aja, kan bisa kepake di mana-mana. Emangnya, kepake di mana? Pas kuliah ga betah, susah-susah lulus ujungnya jadi sales juga kok. Atau yah, mungkin jadi guru.

Yayaya, saya memang agak skeptis jadinya. Oke, tak ada salahnya jadi sales, dan jadi guru tentu saja pekerjaan mulia. Tapi untuk apa kalau semua langkah-langkah itu semakin membuat seseorang tersesat, dan makin jauh dari kenikmatan bekerja di bidang yang dicintai.

ZOMBIE....


Setiap saya menulis tentang penanganan siswa di sekolah, seing kali saya harus meniadakan peran orang tua. Soalnya bila bicara faktor orang tua, bikin putus asa jadinya. Ada banyak orang tua yang bisa diajak kerja sama, tapi orang tua yang anaknya bermasalah biasanya adalah orang tua yang paling tidak peduli.

Kenapa anak disekolahkan, lalu setelah itu lepas tangan? Karena sudah bebas dari kewajiban mendidik anak. Kan sudah disekolahkan. Kenapa anak dikuliahkan padahal tidak berminat? Supaya orang tua tidak kehilangan muka di depan kerabat dan teman-teman. Tenyata enak juga ya jadi orang tua.

Loh kok malah jadi ngomel-ngomel begini ^^;v

Jadi sebelum menyuruh anak kuliah, lebih baik mengenali bakat dan minat anak, membantu mereka menggalinya, lalu berdialog secara terbuka.

Oh iya, kan sekarang ada cara instan yah. Tidak perlu repot memperhatikan, tidak perlu bingung mendampingi, cukup discan ujung tangannya, atau dihipnosis saja, bisa juga diotak-atik otak bagian mananyaaaa gitu, beres urusan. Lagi-lagi, memang enak ya jadi orang tua (jaman sekarang).

KOMPENSASI

Jika telah membaca buku La Tahzan for Teachers yang saya tulis bersama Gita Lovusa, mungkin anda mengira bahwa saya mengajar di sekolah hampir rubuh semacam Laskar Pelangi. Tidak, di sekolah saya ada 3 gedung, masing-masing berlantai 3 dan 4 dengan halaman luas. Tapi coba dengar cerita ini.

Pada rapat kenaikan kelas tahun ini, seorang guru bertanya, "Ada apa dengan Toni?"

Saya terkejut, dan baru sadar kalau Toni, siswa kelas XI, memang berubah. Dia datang ke sekolah dengan lusuh, tidak bisa diam di kelas, dan makin susah diatur saja. Saya memperbolehkan anak-anak mengobrol jika saya sedang diam (sebaliknya mereka harus diam jika saya bicara), tapi celetukan Toni sudah termasuk luar biasa, mengingatkan saya pada Arif. Apa saja dikomentari dengan suara membahana ke seluruh kelas. Meski demikian, dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Saya tidak paham kalau sebenarnya, di bawah sadar, dia mencoba mengkomunikasikan sesuatu.

Dari wali kelas, informasi diperoleh: keluarga tidak harmonis, ayah yang keras, dan kasus-kasus KDRT yang tidak dilaporkan.

Bu Ida bercerita bahwa suatu kali dia menemukan Toni sampai ke sekolah dengan pakaian yang kusut sekali. Ketika ditanya kenapa, dia jawab, "Ini abis dicuci ga disetrika, Bu. Saya nginep di rumah temen. Soalnya bapak saya songong banget orangnya."

Apa arti 85.000 rupiah bagi anda? Satu pan pizza ukuran medium untuk cemilan sore hari? Toni membutuhkan uang sebanyak itu untuk fieldtrip sekolah ke Musium Sains ITB dan Saung Angklung Udjo. Ayahnya tak mungkin diharapkan, jadi ia bekerja menjadi kuli bangunan agar bisa ikut fieldtrip.

Jadi segala celetukan dan banyolan konyol yang kadang garing itu, lalu tawa terbahak-bahaknya yang seringkali sendirian menertawakan hal tak lucu, hanyalah sebuah kompensasi atas kelelahan membawa beban yang berat untuk anak seusia dia.


Ketika masalah berat menerpa siswa di rumah, saya jadi khawatir. Biasanya mereka mulai bermasalah dengan kedisiplinan, sulit berkonsentrasi, dan sering kali bolos. Saya takut sekali mereka terjerumus ke pergaulan yang tidak baik.

Pada anak-anak seperti Toni, siswa-siswa saya yang jadi kuli cuci-setrika dan kuli bangunan, saya kepingin sekali membantu biaya pendidikan mereka. Setidaknya untuk memberi mereka pertanda, bahwa jangan berputus asa. Tapi akhirnya saya harus insyaf, saya tak bisa melakukan itu, karena jumlah siswa dengan kasus yang mirip jumlahnya banyak sekali.

Dengan menakar kondisi pribadi, saya berusaha menggratiskan biaya fotokopi satu dua lembar teks, atau membawa kertas-kertas dan spidol warna sendiri (biaya fotokopi dan peralatan habis pakai memang tidak dicover sekolah). Kadang juga mentraktir mereka gorengan kantin, jika ada rejeki lebih.

Dan itu pula yang menjadikan saya terus bersemangat mengisi materi dengan metode non ceramah. Setelah melewati hari-hari yang berat di rumah, mereka tidak perlu ditambah bebannya dengan pelajaran membosankan dan guru yang galak.

15 May 2011

MAU KE MANA?

"Ibuuuu, aku kepingin sekolah lagi...."

Itu adalah kalimat standar yang banyak sekali diucapkan para alumni ketika bertemu lagi dengan saya. Kebanyakan merasa kepingin kembali ke masa lalu, karena ternyata lebih enak jadi anak sekolahan, meskipun waktu sekolah dulu nampak tertekan banget oleh kewajiban sekolah dan kepingin segera lulus ^^;.

Saya tidak heran mendengarnya. anak-anak ini memang seakan tersesat begitu memasuki dunia nyata. Mereka tidak tahu mau ke mana, mau melakukan apa, sementara itu tuntutan untuk mandiri sudah besar. Akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah bekerja di bidang yang umum saja: SPG/SPB di mal dan supermarket. Itu pun sudah termasuk beruntung.

Di sekolah tempat saya mengajar, jarang sekali siswa yang melanjutkan ke bangku kuliah begitu mereka lulus. Barangkali tak lebih dari 10-20% saja. Yang mampu kuliah mungkin lebih beruntung, mereka masih bisa menunda selama 3-4 tahun untuk menjawab: "Mau ke mana setelah ini?" Tapi bagi yang harus segera bekerja, pertanyaan itu langsung memburu.

Sebelum lulus, apa yang mereka lakukan jelas: duduk di kelas, mendengarkan, mencatat, kerjakan PR, tes. Tujuan mereka pun jelas: lulus sekolah, dapat ijasah. Itu saja. Jaraaaaang sekali yang menemukan minatnya atas bimbingan dari sekolah, hingga begitu lulus bisa berkata: "Ini yang mau gue lakukan, ini mimpi yang akan gue kejar."

Apakah pemikiran seperti itu terlalu muluk untuk anak usia 18 tahun?

Beberapa orang pernah bilang pada saya, jangan terlalu idealis. Anak umur segitu ya biasalah kalau masih mencari jati diri. Perlahan seiring berjalan waktu, mereka akan menemukan juga kok apa yang dimau. Saya sendiri saja baru mulai menemukan titik terang ketika usia 24, sudah punya anak satu. Jadi wajar sajalah, sabar sajalah.

Begini. Beberapa orang mungkin bisa menunda pertanyaan "Sebenernya mau ke mana sih?" karena mereka punya modal untuk mengambil jalan lain ketika jalan yang mereka inginkan itu mulai ditemukan. Bagi sebagian orang yang lain, termasuk diantaranya beberapa siswa-siswa saya, kondisinya tidak selalu semudah itu.

Hal ini mengganggu pikiran saya, karena setelah melihat 5 angkatan lulus dan meninggalkan sekolah, ada rasa tidak ikhlas yang tertinggal. Mereka akan pergi padahal tugas saya sebagai guru belum selesai. Menyelesaikan kurikulum adalah perkara mudah, tapi menyiapkan karakter dan melatih soft skills agar mereka bisa menjalani hidup dengan baik di dunia nyata, itu sulit sekali. Saya selalu merasa, mereka belum siap.

Saya teringat kembali peristiwa beberapa hari yang lalu. Saat itu saya bersama si Tengah baru selesai membayar belanjaan di sebuah minimarket besar. Sebelum keluar, tepat di balik pintu kaca, saya terhenyak dan berhenti melangkah. Di halaman mini market itu seorang tukang parkir sedang memandu kendaraan yang akan keluar. Tukang parkir itu pernah saya ajar, dan saya saksikan kelulusannya dari SMA.

Kenapa jadi tukang parkir? Saya tahu sekali dia bukan anak bodoh. Kenapa ijasah SMA tidak memberi nilai tambah apapun padanya? Bagaimana bisa lulusan SMA tak memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding lulusan SD?

Please, jangan bilang, "Itu kan tergantung orangnya."

Saya gurunya. Adalah kewajiban saya mendidiknya untuk memiliki sikap yang baik terhadap ilmu yang sudah diajarkan. Anehnya, kata-kata 'tergantung orangnya' ini banyak keluar dari mulut guru, seperti orang yang melempar batu sembunyi tangan.

Ketika bertemu dengan kelas XI di kelas pengembangan diri yang lalu, saya mengingatkan mereka, "Kamu hanya tinggal 1 bulan lagi di kelas XI. Setelah itu kamu akan ada di tahun terakhir. Apa kamu sudah tau bakal ngapain pas lulus, jalan mana yang mau dipilih? Pergunakan satu tahun ini, untuk mengerti apa yang kamu suka dan apa yang kamu butuhkan. SUKA dan PERLU, dua itu saja. Dengan dua hal itu, kamu akan bisa memutuskan."

Kebetulan, mata pelajaran yang saya ampu tidak diUNkan. Saya berencana menggunakan waktu-waktu di kelas untuk mengeksplorasi anak-anak ini dengan berbagai macam kemungkinan profesi di masa depan. Di antara segala kebingungan mencari jalan yang baik dan benar untuk berbuat ihsan dalam pekerjaan, mudah-mudahan ini bisa jadi ikhtiar saya.

01 April 2011

SAYA GURU FAVORIT?

Jadi senyum-senyum sendiri kalau ada yang 'menuduh' saya guru favorit siswa-siswa saya. Ayo tebak, bener ga sih?

Sebagai seorang narsis, tentu saja saya sudah mengecek hal ini jauh-jauh hari. Tepatnya empat tahun yang lalu, laporannya ada di sini. Nah, ternyata bukan saya tuh yang jadi favorit mereka. Jadi yah, terima ajaaaa.... T_T.

Mungkin ada beberapa yang tersentuh (jiaaaah, tersentuh ^_^) dengan cara saya mengajar, atau dengan apalah gitu selama pembelajaran (who knows?), tapi sepertinya ga banyak. Belajar dari kenyataan, saya mencoba untuk ga mikirin lagi, apakah saya punya cukup banyak fans atau nggak, gyahahaha.... Lah kan saya kan manusia, mana bisa sempurna?

Saya kasih contohnya.

Di kelas XII, saya menggunakan portofolio untuk evaluasi anak (kenapa cuma kelas XII? f(^_^;)). Karena pakai portofolio, anak-anak jadi bisa tahu apa yang mereka sudah hasilkan. Di sisi lain, karena portofolio juga, saya harus berusaha agar mereka 'menghasilkan', bukan cuma mencatat dan mengerjakan soal (kalo itu mah pake buku biasa ajah).

(Btw, belajar itu katanya untuk dua hal: menghasilkan sesuatu dan/atau memecahkan masalah. Lupa saya baca di mana, pendahuluan kurikulum 2004 kah? Atau 2006 ya? Atau tempat lain?)



Misalnya, kami banyak menggambar; menggambar anggota tubuh, menggambar bagan, bikin comic strip sederhana untuk percakapan, juga melakukan
mind mapping (menggambar juga, kan?).

Kami membuat Nengajou (kartu pos tahun baru) dan 'mengirimkan'nya pada teman sekelas untuk menyegarkan kembali hapalan Hiragana di pertemuan pertama setelah libur tahun baru, sekaligus belajar budaya. Oh ya, saya sampai terkikik melihat alamat yang ditulis anak-anak di atas Nengajou mereka. Misalnya: To: Ade, Di: Japos, naik C04 dari Mencong, atau jalan kaki juga bisa. Atau: Kepada: Dwi, Di: baris ketiga deret pertama dari kanan (ternyata pakai 'alamat' tempat duduk di kelas).

Kami melipat Origami, dan menghapal nama benda yang kami buat Origaminya. Kami menjiplak uang dengan pensil untuk belajar angka dan bilangan (sementara ini pakai rupiah karena belum nemu yen). Kami mengiris penghapus dengan cutter untuk membuat Inkan (stempel nama) untuk menghapal Katakana.



Kami berloncatan menghapal karakter dengan
flashcard, atau berlarian di antara lingkaran nama-nama hari yang ditulis dengan kapur di lapangan basket. Kami naik turun meja untuk belajar lokasi (mae, ushiro, hidari, migi, ue, shita, mannaka).

Kami menggunakan sumpit sungguhan untuk percakapan yang ada kalimat "
Hashi, onegai shimasu." Bagaimana dengan percakapan antara penumpang dan supir taksi? Mobil-mobilan anak saya dibawa ke kelas hari itu.

Kami bernyanyi (meski saya benar-benar ga bisa nyanyi) untuk kompetensi mendengar, dan menonton film agar anak-anak mendapat konteks, bahwa semua yang mereka pelajari itu ada loh di dunia nyata.

Bukankah belajar dengan saya amat menyenangkan?



Ternyata tidak saudara-saudara sekalian. Tidak demikian pendapat anak-anak ini.

Anda harus lihat daftar absen di buku nilai saya. Saya mengajar hari Sabtu, dan selalu bersedih hati melihat daftar absen yang amat jarang penuh. Misalnya siswa yang pernah saya ceritakan ini. Kehadirannya di kelas saya setahun ini bisa dihitung dengan jari.

Malah beberapa anak lain mengaku bahwa hari Selasa lebih penting dari hari-hari lainnya, karena ada guru 'galak' di hari itu.
Selasa loh ya, bukan di hari saya mengajar mereka.

Sampai sekarang pun kadang saya masih tergoda untuk bertanya, tidakkah metode yang saya gunakan bisa memancing anak-anak ini masuk dengan sukarela? Tidak cukup menyenangkankah kelas ini hingga mereka memilih yang lain? Tidak bisakah saya memenangkan pertarungan ini?

Kanapa tidak bisa? Ya tapi kenapa juga merasa harus bisa?

Makanya, saya tak pernah lagi berpikir untuk membuat siapapun terkesan dengan apa yang saya lakukan di kelas, tidak siswa-siswa saya, tidak rekan-rekan sejawat saya, tidak juga anda yang sekarang membaca tulisan ini. Soalnya saya tau, saya akan kecewa kalau berharap pada manusia.

Jadi apa saya guru favorit? Saya tidak tau. Dan sekarang saya insyaf, memang ga perlu mencari tau (seperti dulu itu). Tapi kalau mau mampir ke kelas saya sih, boleh loh....