21 October 2011

GURU JUGA WAJIB BELAJAR

Sependek pengalaman saya, ada satu kenyataan yang aneh, bahwa terkadang kita lebih bisa berharap agar fasilitas fisik dilengkapi daripada kualitas personalia ditingkatkan. Sssttt, ini gosipnya: ada sekolah yang bisa menganggarkan 80 juta untuk promosi, tapi NOL untuk pelatihan guru. Ini sekolah swasta bergelar SSN (Sekolah Standar Nasional) loh...

Jika sudah mengajar belasan bahkan puluhan tahun, apakah guru bisa lantas jadi berkualitas? Jika diceramahi, "Bu, Pak, jadi guru itu harus kreatif, ngajar dengan menyenangkan," lalu mereka lantas jadi kreatif dan bisa ngajar dengan menyenangkan?

Guru itu perlu dilatih, dibuat sistem penjamin mutunya, dibuat sistem pengawasannya, atau secara singkat: DIPAKSA untuk jadi baik.

Makanya, jadi guru adalah profesi di mana menuntut ilmu sepanjang hayat menjadi WAJIB dilakukan.

Saya pernah bertemu dengan kepala sekolah, bukan satu tapi DUA orang, untuk mengusulkan pertemuan forum guru. Kita mulai dengan shalat Dhuha, belajar tilawah (ga yakin juga guru-guru lancar semua), lalu kultum. Setelah rehat barang 15 menit, mulailah pelatihannya. Jangan yang bentuknya ceramah-ceramah-ceramah, tapi langsung praktek.

Misalnya, gimana biin RPP yang baik. Suruh gurunya bikin saat itu juga, lalu dikoreksi oleh tutor. Atau gimana menerapkan metode T.A.N.D.U.R di kelas. Atau bagaimana cara mencatat (dan menghapal) dengan Mind Map. Atau teknik-teknik yang memadukan hapalan dengan gaya belajar kinestetik. Semuanya BUKAN CERAMAH, tapi praktek langsung.

Terus dijawab apa?

SULIT DILAKSANAKAN.

Dananya besar, guru-guru harus diberi transport dan makan siang, guru-guru harus meninggalkan jam mengajar di sekolah lain, ga boleh memakai hari efektif sekolah karena anak jadi terbengkalai, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya.

Ah, sudahlah.

Karena mentok, apa lalu jadi putus asa? NO WAY! Kalo yang di atas-atas itu ga mau, biarin aja. Kita ajak aja yang mau. Dan hari Kamis kemarin, sekitar sepuluh orang berkumpul di ruang audio visual perpustakaan. Kami belajar bersama tentang membuat Mind Map.



Mencatat adalah masalah klasik di sekolah kami. Tak ada buku paket, kami hanya meggunakan LKS. Mutu LKS rendah? Ya, benar, tapi kalau anda mengenal siswa-siswa di sekolah kami, beneran ga tegaaaaa menyuruh siswa beli buku paket sampe jutaan setahunnya. Akhirnya LKS jadi pilihan yang diambil.

Lalu masalah lainnya timbul. LKS tidak cukup dijadikan sumber belajar, jadi guru harus memberi catatan. Nah, inilah titik kritisnya. Saya terganggu sekali bila ada siswa yang mengisi status Facebook semacam, "Gila, nyatet sampe 3 lembar bolak-balik."

Inilah dasar kenapa kami berlatih mencatat menggunakan Mind Map yang lebih enteng, kreatif, menyenangkan, dan mudah dihapal.



Guru-guru ini datang padahal ada yang tak ada jam mengajar hari itu, mereka tidak diberi transport dan konsumsi khusus pelatihan, dan tanpa setifikat. Alat yang diperlukan hanya kertas kosong dan spidol warna yang digunakan bersama-sama. Meski menginginkan pembicara sekaliber Hernowo, tapi kami mencukupkan diri dengan pemateri gratisan, yaitu saya, hehehe.... Tinggal menambahkan beberapa piring gorengan sebagai penghangat suasana.

Jadi omong kosong kalau pelatihan guru itu ribet dan mahal!



Sepuluh orang yang hadir, tapi saya melihat semua menikmati sekali. Bu Muiyah (pakai jilbab hitam - batik PGRI) nyeletuk, "Nanti saya mau ajarin ke anak saya ah...." Wah, bagus sekali.

Kebetulan yang sudah selesai selain saya adalah Fahru, guru Geografi. Meskipun materi yang dibuat Mind Map-nya sama sekali asing untuk dia (karena materi mapel Bahasa Jepang ^_^;), saya coba tes isi materinya di depan rekan-rekan guru, ternyata langsung berhasil diingat tanpa menghapal, akibat penggunaan warna, gambar dan kode ketika membuat Mind Map.



Katika jam 11.30 tiba, saya mengingatkan bahwa kita harus menghentikan pelatihan. Tentu saja kami tak bisa meninggalkan jam mengajar seharian penuh, dan ruang peprpustakaan juga akan digunakan oleh siswa yang keluar zuhur. Apa tanggapan para guru?

"Yaaaaa, padahal lagi enak!"

Tuh kan, masih ga percaya kalau belajar juga bisa menyenangkan?

No comments:

Post a Comment