25 February 2013

SAYA SAKSINYA

Tahun 2009, hanya 18 siswa yang mendaftar ke sekolah kami. Ya, hanya segitu. Terus terang, semua kecewa dan sedih, bukan hanya pihak sekolah dan guru, tapi juga para kakak-kakak kelas. Hingga akhirnya diputuskan, jika kondisi ini tak membaik di tahun depan, sekolah mungkin akan ditutup saja.

Lalu tahun ajaran baru datang, dan kami memandang 80 lebih anak baru di hari pertama. Harapan mulai tersemai lagi.

80 anak ini sekarang sudah kelas XII, terbagi ke 3 rombongan belajar. Dan pekan ini, adalah pertemuan saya yang terakhir dengan mereka di kelas.

Kelas XII IPA, mayoritas berisi siswa perempuan. Cerewet, tapi partisipatif, kritis dan pintar. Saya ingat Pak Lutfi keluar dari kelas XII IPA dengan kuping berdenging. "Tu kelas isinya nenek-nenek semua. Rempong!" begitu katanya. Berisik sekali, tapi semua partisipatif tanpa terkecuali.

Saya sampaikan kata-kata di atas pada anak XII IPA, dan mereka terbahak-bahak senang. Nenek Rempong justru merupakan pujian, semacam panggilan sayang untuk mereka.

XII IPA: Photo session in yukata

Kelas XII BN adalah kelas istimewa. Ini kelas mayoritas cowok, tapi saya sama sekali tidak kesultan. Saya belum pernah melihat kelas dengan banyak sekali bakat menonjol, dari band, sampai marawis, sampai hadrah, sampai seni rupa, sampai bela diri, sampai menulis.

Saya tahu, selama bersekolah di sini, mereka banyak mengalami kekecewaan. Bukan salah saya, memang. Tapi entah kenapa saya ingin minta maaf pada mereka. Saya harap saya sedikit membantu meringankan jalan berat mereka sepanjang 3 tahun ini.

XII BN: Look at the angry bird!

Kelas XII IPS punya karakter yang berbeda. Berimbang antara lelaki dan perempuan, tapi inilah kelas yang paling menantang.

Sebagai guru, saya berusaha keras memperbaiki diri. Saya membaca buku tentang metode, mencari model pengayaan, dan merancang pembelajaran yang bisa menyenangkan. Hampir selalu berhasil, di semua kelas.

Kecuali XII IPS.

Dengan kata lain, kalau merancang lesson plan, maka harus dicobakan di kelas XII IPS untuk tahu kelemahannya. Bahkan lesson plan yang sukses besar ketika diimplementasikan di kelas lain, belum tentu bisa menarik sekedar antusiasme kelas istimewa ini.

Terus terang, XII IPS sering sekali membuat saya frustasi, ide mentok, mati gaya. Tapi kebahagiaan yang didapat ketika berhasil menjalankan proses belajar di mana semua anak XII IPS antusias dan berpartisipasi, rasanya dua kali lipat dibanding kelas-kelas lainnya.

Kelas inilah yang paling sulit ditundukkan. Kenyataannya sayalah yang malah ditundukkan. Tepatnya, kesombongan saya yang ditundukkan. XII IPS adalah cara berintrospeksi bahwa sebagai guru, saya masih perlu banyak belajar.

XII IPS: Obentou time!

Ah, tiga kelas yang berbeda, tapi hebat semuanya.

Suatu hari saya sedang ada di belakang kelas memeriksa pekerjaan siswa, katika salah satu siswa berteriak dari depan, "Ibu punya rautan, ga?" Saya bilang ada, itu di tempat pensil. Siswa itu maju ke meja guru, mengorek-ngorek tempat pensil saya.

Tak sopan? Tidak, saya tidak menganggapnya demikian. Kalau anda ada di kelas saya saat itu, anda akan lihat bahwa saya tetap dominan, tak ada yang berbuat kurang ajar atau melanggar. Semua bekerja, seperti yang saya suruh. Cerita tadi menunjukkan bahwa kami akrab, dan saya senang bahwa keakraban kami sampai pada tahap tak sungkan meminjam rautan dari saya.

Saya mengajar Bahasa Jepang, dan terus terang, saya sering dibuat kegeeran oleh kelas XII. Beberapa siswa menambahkan 'nama Jepang' di belakang ID Facebook atau Twitter mereka. Mereka memasang profile pic atau avatar ketika memakai yukata. Mereka menamai lembar tugas pelajaran lain dengan hiragana. Mereka tiba-tiba melakukan dance cover pada lagu AKB48, dan menyanyikan Tegami dari Angela Aki di acara sekolah.

XII IPA-IPS: CLD48? Hwahahaha....

Mungkin segala hal yang berbau Jepang itu bukan berasal dari kelas saya, tapi tetap saja saya kegeeran. Dan itu tidak mengapa, karena kegeeran itu membuat saya bahagia.

Ketika siswa baru lulus, biasanya mereka datang ke sekolah dengan rambut gondrong, mengecat rambut, memakai kontak lensa warna warni, segala hal yang menunjukkan I'm free from school. Tapi setelah beberapa bulan, saya menemukan fakta bahwa mereka akan mulai berpikir serius tentang masa depan.

Saya selalu bahagia ketika melihat para alumni, bahkan yang kemampuannya lemah atau paling susah diatur, mulai menemukan kehidupan mereka sendiri. Beberapa datang dengan rutin di SMA Fair kami, yang lain saya tengok kabarnya  lewat Facebook, berfoto dengan seragam kerja atau bersama teman-teman kuliah, sambil tersenyum.

Karena itu, saya percaya. Saya percaya bahwa mereka akan bisa mandiri, bermanfaat buat orang lain, dan menemukan kebahagiaan. Tentu tidak cepat hasilnya. Lima atau sepuluh tahun mendatang, saya percaya 100% akan melihat buktinya. Datanglah saat itu ke sekolah, Nak, dan laporkan apa saja yang telah kalian lewati dan dapatkan sepanjang jalan kehidupan.

Mungkin di suatu hari nanti ada yang akan mengatakan pada anak-anak ini bahwa mereka useless dan tidak bisa diharapkan. Bila saat itu datang, saya harap mereka tetap percaya bahwa mereka adalah anak-anak yang baik.

Saya yang jadi saksinya.

Surprise birthday cake from XII IPA

14 February 2013

GENOGRAM


Apakah harusnya kelas XII fokus ke UN saja, yah? Apa mereka masih perlu duduk melingkar untuk jam kerohanian di masjid, atau ikut kelas pengembangan diri? Lumayan juga kan, ada 4 jam tambahan untuk belajar. Tapi ga tega deh, rasanya. Kepala mereka udah ngebul kebanyakan latihan soal. Barangkali saja kelas rohis, PD, maupun kelas seni justru bisa menjadi selingan.

Jadi kami duduk lagi di kelas PD. Saya bersama belasan siswa kelas XII, gabungan dari 3 kelas berbeda. Hari itu kami membuat genogram, atau pohon keluarga. Bukan hanya berisi nama, tapi juga pendidikan terakhir dan pekerjaan sekarang.


Apa adanya kita sekarang adalah hasil bentukan nature+nurture, dan keluarga jelas memegang peranan besar mengatur cara pandang kita terhadap sesuatu, termasuk tentang pendidikan dan jenis pekerjaan. Meskipun semua siswa pasti hapal apa pendidikan terakhir dan pekerjaan orang tuanya, tapi kebanyakan belum 'ngeh' sebelum dipetakan seperti ini. Maka saya meminta anak-anak membuat genogram.

Saya teringat salah satu anak di kelas XII, kira-kira 2 tahun yang lalu. Ketika saya bertanya apa rencananya setelah lulus SMA, dia menjawab, "Akan bekerja di pengeboran minyak lepas pantai."

Wow, itu jenis pekerjaan yang tak pernah saya bayangkan akan keluar dari murid saya, seorang siswa SMA di Ciledug, Tangerang. Ketika saya tanya kenapa demikian, dia bilang ingin ikut kakaknya yang sudah lebih dulu bekerja di sana. Oh, ternyata begitu. Ini menjelaskan tentang pengaruh keluarga/lingkungan pada pilihan pendidikan dan karir kita.

Seperti juga pada kenyataan bahwa setiap tahun saya menyodorkan persyaratan beasiswa ke luar negeri pada siswa-siswa kelas XII, tapi ternyata tak seorang pun berani mencoba. Bahkan mencoba saja tidak berani. Kuliah di luar negeri sepertinya jauh sekali dari dunia mereka, dan sulit dibayangkan. Mungkin saja karena tak seorangpun dari orang-orang terdekat mereka yang memiliki pengalaman tersebut, hingga tampaknya impossible.

Kembali ke genogram, saya membaca hasil genogram yang dibuat para siswa dan menemukan beberapa hal menarik. Banyak profesi terbaca di sana, dari guru, supir taksi, ibu rumah tangga, wartawan, sales, pedagang, buruh, petani, sampai pengrajin sepatu.

Saya bertanya pada mereka, adakah yang sudah pernah mengobrol dengan pamannya yang wartawan, atau kakaknya yang menjadi kasir supermarket? Tentang bagaimana asyiknya wartawan, atau bagaimana cara melamar kerja di supermarket. Adakah yang sudah meminta tips bagaimana berdagang atau bagaimana cara memasarkan sepatu? Kalau bapaknya petani, adakah yang menjadikannya inspirasi dalam memilih jurusan saat kuliah? Kalau kebanyakan keluarganya hanya lulusan SD, adakah yang berniat menjejaki pendidikan tinggi?

Lalu kenapa tidak terpikir 'menggunakan' teman sendiri? Ngobrol dengan kakaknya teman yang bekerja di showroom mobil, belajar memelihara ternak dari ayah teman yang petani, atau belajar manajemen warung dari teman yang keluarganya nge-warung.


Inilah serunya menjadi mentor kelas pengembangan diri. Saya bisa melihat jiwa-jiwa muda yang punya kesempatan tak terbatas untuk tumbuh, potensi yang bisa kita, para guru, bangunkan dan dorong keluar. Mudah-mudahan saja materi genogram bisa berguna untuk anak-anak ini dalam membangun masa depan mereka.




08 February 2013

BELAJAR KATAKANA

Ceritanya, saya ga lulus JLPT N4. Bayangkan, guru bahasa Jepang macam apa yang N4 saja ga lulus, xixixi.... Dan sudah saya kabarkan berita ini ke seluruh dunia, lewat jejaring sosial, entah karena apa. Tapi sekarang saya mau bilang:

Syukurlah.... Syukurlah....

Tapi tak ada hubungannya dengan #GaLulusN4. Saya bersyukur karena alhamdulillah, saya mengajar Bahasa Jepang. No UN's pressure here, yeah! I can take my time, much freedom, much fun!  

Sebelum 2009, saya mengajar Bahasa Indonesia. Fyuh, keringetan deh ngejar kurikulum. Belum mantep di bagian ini, udah kudu pindah materi. Kalau ga begitu, nanti numpuk di akhir dan membebani pas ujian. Waktu tambahan? Hadeh, mimpi aja dah.

Tapi untuk Bahasa Jepang, saya lebih lapang. Misalnya kemarin kami belajar katakana. Eh... tunggu! Kok baru belajar di semester genap? Lha iyaaa.... Tadi kan saya sudah bilang, I take my time. I really am. Dan inilah lesson plan yang saya rancang untuk pembelajaran katakana.

Sesi #1: Mengenal dan menulis katakana 

Saya pake worksheet, mencontohkan satu-satu urutan mengguratnya. Harusnya bisa pakai video, karena di Youtube buanyak banget tutorial menulis katakana. Tapi kebetulan in focus cuma ada satu, yaitu di ruang audiovisual perpustakaan. Jadi guru-guru 'rebutan' menggunakan ruang tersebut. Jadi kalo ga penting-penting banget, kita di kelas aja, pake cara tradisional.


Sesi #2: Katakana di sekitar kita

Kalau di Jepang, penggunaan katakana memang lebih sedikit dibanding kanji dan hiragana. Tapi di Indonesia, saya mengamati bahwa justru lebih banyak katakana. Saya pergi ke minimarket dekat rumah dan memfoto merek-merek produk dalam katakana. Dan hasilnya buanyak....


Setiap jalan-jalan, saya juga awas pada katakana, mulai dari plang toko sparepart, bengkel, tempat kursus, sampai restoran.


Sepertinya anak-anak baru ngeh ketika saya menunjukkan hal ini. Maka hari itu kami membaca katakana yang terpampang nyata (#eh) di berbagai kemasan dan plang menggunakan powerpoint.


Sesi #3: Inkan

Ini sebenarnya terinspirasi dari Pak Ferry Hadari. Ketika saya minta tandatangan di buku Sapa Cinta, beliau tidak menandatanginya, tapi mencap dengan inkan. Karena Pak Ferry adalah gaijin, maka huruf yang tertera di inkan tersebut adalah katakana. Ih, lucu....

Maka kami buat inkan nama masing-masing (tentu dalam katakana) menggunakan penghapus murah, dan bertukar stempel dengan semua anggota kelas (termasuk saya) di portofolio masing-masing. Menyenangkan!


Sesi #4: Mengubah kata-kata asing menjadi katakana

Saya menggunakan worksheet latihan dari http://www.guidetojapanese.org/learn/grammar/katakana_ex . 

Sesi #5: Games menebak katakana

Dilakukan dengan membentuk beberapa kelompok dan menunjukkan makanan yang memiliki katakana di kemasannya. Saya akan menyebut nama salah satu anak, bila dia bisa membaca katakananya, maka makanan tersebut menjadi milik kelompok. Kalau tidak bisa, pertanyaan vboleh direbut kelompok lain.


Sesi #6: Membaca cerita anak yang terdapat cukup banyak katakana


Kecepatan belajar setiap rombel pasti berbeda-beda, jadi dalam pertemuan bisa diisi 1-2 sesi. Tapi sesi #5 dan #6 mungkin tidak terlaksana, karena materi lain sudah menunggu. Saya menganggap 4 sesi bertemu katakana sudah bisa mengakrabkan anak dengan huruf-huruf ini.

Jadi, ini enaknya ngajar mapel pilihan seperti Bahasa Jerpang. Terbayang kalau saya dikejar-kejar kurikulum seperti dulu, saya akan terburu-buru. Belum sempat mengenalkan konteks, belum sempat menghubungkan dengan dunia nyata, belum memberi kesempatan anak untuk get connected dengan materi pelajaran, dan terutama belum bersenang-senang, eh sudah harus pindah materi.

Sebagai guru Bahasa Jepang jadi-jadian, saya mengakui kemampuan bahasa saya yang sangat minim. Dan karena itu, sudah 2 tahun ini saya keukeuh ikut JLPT. Sementara itu, saya berusaha memperbaiki metode mengajar saya, agar mudah-mudahan para siswa merasa bahwa bahasa dan budaya Jepang itu tidak asing, dekat dan akrab dengan keseharian, dan menyenangkan.


03 February 2013

APAKAH SAYA SEBEGITU MEMBOSANKAN?

Beberapa waktu yang lalu, saya mengajar di SMK BN. Hari itu hari Sabtu yang mendung, jam tujuh pagi. Setelah beberapa menit, salah seorang siswa terangguk-angguk di baris ketiga. Mengantuk.

Xixixi.... Apakah saya sebegitu membosankan?

Mungkin mood saya sedang bagus, karena alih-alih marah atau kesal, saya malah nyengir-ngengir bernostalgia.

SMK BN adalah sekolah berbasis pesantren. Saya juga dulu murid di sekolah berbasis pesantren. Jadi saya mengerti bahwa anak-anak ini harus bangun jauh sebelum subuh untuk antri mandi. Kalau menunggu setelah subuh, bisa tidak kebagian mandi, dan beresiko kehabisan air juga.

Setelah subuh ada tilawah dan mufradat, piket sarapan, sekolah, dan seterusnya kegiatan berturut-turut, mulai dari yang wajib sampai yang pilihan. Belum lagi mengurus keperluan pribadi seperti cuci setrika dan sebagainya.

Jadi saya mengalami juga tuh, yang seperti itu. Terangguk-angguk ngantuk di kelas. Dan sepertinya itu alasan kenapa saya tidak marah, justru menganggapnya lucu sekaligus jatuh kasihan.

Di hari lainnya, saya masuk ke salah satu kelas. Di sekolah saya, meja kursi guru tidak beda dengan siswa. Begitu duduk, pandangan saya jatuh pada meja tanpa taplak di hadapan. Ya ampyuuuun.... penuh contekan isinya! Saya sontak terbahak, tapi dalam hati saja. Yang muncul di luar cuma mesem-mesem sambil menunjukan apa yang tertulis di atas meja itu pada pada para siswa.

Saya sendiri hampir tidak pernah nyontek. Pernah sih melihat lembar jawaban teman, tapi malah ragu jangan-jangan dia salah. Ga jadi deh nyonteknya (eheheh, mo nyontek aja kok pake cerewet). Tapi melihat meja penuh contekan membawa saya (lagi-lagi) bernostalgia.

Mungkin sebagai guru harusnya saya menasihati para siswa dan menunjukkan keprihatinan saya pada kebiasaan buruk ini. Tapi maklumlah, kadang otak ini lemot jalannya. Bukannya prihatin, kok saya malah merasa hal ini lucu.

Saya bagikan cerita ini pada sahabat-sahabat saya di grup whatsapp, yang membawa kami semua mengingat cerita-cerita masa lalu. Nah, terbukti memang ada orang yang sama anehnya dengan saya, bukannya menasihati malah cekikikan ^o^.

Lalu yang terakhir, ini baru terjadi kemarin. Jadi mulai Januari ini, sekolah saya mengeluarkan kebijakan tidak membawa hp di kelas. Kebijakan ini berlaku baik bagi guru dan siswa. Lalu kemarin ada kasus: karena dilarang bawa hp, eeeeh siswa bawa iPod ke kelas.

Yang dilarang kan hp, jadi apa yang salah?

Hwahahahaha..... We can't beat them, for sure! *nyengir sambil tepok jidad*

Apa yang saya pelajari kemudian?

Yaitu bahwa ketika kita memakai kacamata yang lebih positif pada siswa, segala macam masalah bisa terlewati dengan hati yang lebih lapang. Siswa itu bukan 'lawan' bagi pihak sekolah loh. Bila ada kelakuan yang tidak sesuai harapan sekolah, tidak selalu diartikan sebagai upaya melawan otoritas, makar, usaha menghancurkan tatanan. Kalau kita memandang demikian, itu yang dinamakan 'take it too personal'. Dengan kata lain, kita tersinggung.

Kadang siswa bandel, mungkin hanya karena kurang tidur, atau sekedar clueless, atau malah kreatifitas mereka dalam hal problem solving. Dan saya HARUS terus mengingat hal ini, karena sering sekali lupa.

Tapi tidur di kelas, mencoret-coret meja untuk contekan, dan menyetel iPod saat belajar di kelas itu SALAH!

Memang, kemungkinan besar memang demikian. Tapi kalau semua itu dipandang sebagai kenyataan bahwa mereka belum bisa mengendalikan diri sendiri, dan bukan bentuk perlawanan pada guru/sekolah, kita akan bisa menyelesaikannya dengan lebih santai, tanpa tersinggung, dan -mudah-mudahan- lebih bijaksana.



*gambar ngambil semua di googleimages, mohon keikhlasannya.

27 January 2013

TOMBOL KLIK

Kemarin sekolah kami merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. Tentang tradisi Maulidan di sekolah kami sendiri bisa jadi satu cerita, tentang kenapa kami peringati sampai bagaimana kami memperingatinya. Tapi kali ini bukan itu yang ingin saya rekam.

Tapi tentang seorang siswa, sebut saja namanya Toni.

Penceramah yang diundang bertanya pada hadirin yang terdiri dari siswa dan guru, "Adakah di sini yang hapal silsilah Baginda Rasul sejak ayahnya sampai Nabi Ismail?"

Wah, jauh banget kan... Saya kebetulan bawa salah satu buku sirah, yang di belakangnya ada silsilah. Ternyata di buku itu hanya sampai Quraisy (Fihr).

Penceramahnya mengompori, "Saya kasih 50 ribu, deh!"


Lalu majulah Toni. Dengan lancar di luar kepala dia melafazkan puluhan nama dalam silsilah Rasulullah, dari garis AbduLlah hingga ke atas, dari garis Aminah hingga ke atas, lalu ke bawah hingga ketujuh putra putri beliau. Semua dilagukan dalam bahasa Sunda.

Saya ternganga.

Toni berwajah menarik dan berkelakuan baik. Biasanya guru akan berlaku lebih baik pada siswa seperti ini di awal-awal. Tapi lama kelamaan, akan terlihat juga bila ia lemah dalam bidang akademik. Paling tidak, pada pelajaran saya yang gampang itu, Toni jauh dari peringkat papan atas. Ehm, maksud saya, benar-benar jauh.

Tapi bagaimana dia bisa menghapal sepanjang itu? Saya lama mengira-ngira. Toni adalah pemain marawis ('band' perkusi khas Timur Tengah). Apakah karena menggunakan musik? Saya melihat Toni bisa menghapal ketukan dan nada tanpa salah.

Apakah karena seorang guru tertentu? Karena saya percaya bahwa tiap orang punya gurunya masing-masing. Guru yang menyentuh hatinya, mengubah hidupnya. Dan tentu guru itu bisa siapa saja, juga bisa muncul kapan saja dalam perjalanan kehidupan.

Atau ada faktor lain?

Itulah misteri yang selalu menggelitik saya. Lewat jalan manakah tiap siswa bisa secara efektif menyerap pengetahuan di sekelilingnya. Di manakah letak tombol itu, yang ketika berhasil ditemukan, lalu ditekan, maka 'klik', belajar jadi jauh lebih mudah.

Dan memang, harus diakui bahwa jarang sekali saya bisa menemukan tombol klik itu ^_^;

14 January 2013

"SAYA SUKA NYIRAM, BU!"

Mengabaikan segala hal yang memecah konsentrasi (yang saya tuliskan di sini), saya kembali ke fokus pembicaraan bersama setengah dari kelas yang memperhatikan. Kami membicarakan hal yang membuat mereka enjoy dan terasa easy melakukannya. Ini bisa jadi awal menemukan passion yang ingin dijalani setelah lulus.

Dan seorang siswa menyela, "Saya suka nyiram, Bu!"

Maksudnya adalah menyiram tanaman di sore hari. Selama saya berbicara, siswa memang bebas menyela dan menanggapi atau bertanya, tanpa harus mengangkat tangan dan dipersilakan. Langsung saja bicara, dan langsung juga saya tanggapi. Jadi ada rasa seperti ngobrol beneran.

Saya melihat spontanitas di wajah Rani, siswa yang bicara itu. Teman-temannya juga merasa begitu. Maka semua terdiam beberapa detik, lalu tawa pecah di kelas itu. Saya membiarkannya sejenak.

"Bagus banget, tuh!" komentar saya bersemangat setelah tawa reda. Hobi menyiram adalah sebuah penemuan berharga, itu bisa jadi awal menemukan passion, bukan? Rani bisa jadi tukang bunga, misalnya.

Siswa tertawa lagi, kali ini heran. "Masa' cita2 jadi tukang bunga, Bu?"

"Loh, tukang bunga, atau florist, adalah pekerjaan yang indah. Sehari-hari bergaul dengan bunga dan tanaman, merangkainya jadi indah, dan hasil karyanya digunakan pada acara-acara istimewa." Saya menyarankan Rani ikut kursus merangkai bunga atau budidaya tanaman. Jika ingin kuliah pun, sudah enak pilih jurusannya. Tidak bingung lagi.

Para siswa mengangguk-angguk mengerti, tak ada lagi yang mengejek hobi 'menyiram' Rani, sementara wajah Rani terlihat cerah, seperti ada lampu menyala di kepalanya.

Rani adalah siswi yang lemah di bidang akademik. Meski begitu, beberapa saat setelah saya bicara tentang hal yang membuat enjoy dan terasa easy, dia langsung paham dan mengaitkan dengan dirinya, lalu menemukan aktifitas itu. Sementara itu teman-temannya, bahkan yang dibilang pintar-pintar, masih mencari di kepala mereka.

Yah, hal itu juga membuat saya iri sebenarnya. Ketika saya seusia Rani, saya belum menemukan kegiatan yang bisa jadi calon passion saya kelak. Tembus UMPTN, tapi 'tersesat' begitu perkuliahan di mulai bukan hal yang membanggakan juga sebenarnya.

Sedang untuk siswa-siswa lain, saya melihat bahwa banyak hal perlu dibukakan pada anak-anak ini. Mereka tertawa dan mengejek, lebih banyak karena mereka belum tahu. Ketika wawasan mereka dibuka, mereka akan melihat bahwa dunia ini sungguh luas, dengan berbagai kemungkinan di dalamnya.

* * * * *

Saya merasa beruntung sekali minggu ini. Tiga tulisan dihasilkan dari satu materi yang sama di tiga kelas XII, membukatikan bahwa saya belajar banyak sekali. Saya membaca galau mereka yang sebentar lagi lulus, saya mengatasi rasa marah diri sendiri, saya melihat potensi anak-anak ini. Bagi saya, ini adalah tambahan berguna bagi cara pandang saya terhadap siswa. Mudah-mudahan obrolan ini bermanfaat bukan hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk siswa yang bersedia mengikuti.

11 January 2013

AHAYDE

Jadi memang itu yang tertulis: AHAYDE. Yang artinya kira-kira sejalan dengan 'asik, dah!'.


Setelah saya bicara berbusa-busa 40 menit tentang what-so-called kisah inspiratif, dengan suara serak akibat flu, saya mendapat 'ahayde' di kertas yang seharusnya berisi narasi/kontemplasi masing-masing siswa kelas X SMA. Kesal? Tentu saja. Guru juga manusia.

Di berbagai blog guru yang saya stalk diam-diam ^_^, biasanya yang tertulis adalah kisah keberhasilan, metode sukses, atau keisengan manis dari siswa-siswa di kelas. Meski saya tahu bahwa kisah pembelajaran tiap guru di kelas pastilah tak selalu mulus, tapi sepertinya menceritakan kegagalan perlu juga sesekali. Untuk evaluasi, paling tidak.

Jadi begitulah, saya mendapat 'ahayde'. Tapi bukan hanya itu, ada lagi yang lain:


Oh, my.... ^_^;

Itu di kelas X. Jam berikutnya di salah satu kelas XII. Saya bicara mungkin sekitar 80 menit, diselingi beberapa komentar dan pertanyaan singkat dari beberapa siswa, dan selama itu hanya setengah baris ke depan yang mendengarkan. Setengah bagian ke belakang ngobrol sendiri. Sakit hati? Ya, tentu saja saya merasa tidak dihormati.

Harusnya jangan kebanyakan ceramah? Mungkin saja. Tapi untuk hal yang saya sampaikan kemarin, memang tak banyak metode lain yang bisa dipilih. Kami bicara tentang passion, tentang rencana masa depan, dan tentang 4E. Belum ada ide menjadikannya metode yang lebih hands on.

Tapi saya malas sekali bila harus marah-marah di kelas. Bagi anak kelas XII SMA, marah-marah akan selalu jadi bumerang bagi guru. Semua guru yang mengajar tingkat SLTA pasti sepakat. Bukannya siswa akan mengekeret takut, tapi justru tambah nantangin. Alhasil, bukannya guru 'menang' dan kelas damai, tapi malah tambah kesel dan kelas makin tak kondusif.

Dalam kondisi seperti ini saya teringat sahabat saya sesama pendidik, Wiwiet Mardiati. Dialah yang menasihati saya agar "Don't take it personally." Kelas bukanlah ring tinju untuk membuktikan yang siapakah yang menang dan berkuasa, apakah guru atau murid. Jadi tiap 'kebandelan' yang dilakukan bukanlah karena siswa berniat mengalahkan gurunya, atau mau meruntuhkan otoritas sekolah, tapi karena mereka belum bisa mengalahkan diri sendiri. Guru jangan merasa offended, justru harus sympathize.

Sementara ini, saya belum menemukan cara lain untuk mengelola emosi di kelas (atau di rumah bersama anak) yang lebih baik dari caranya Wiwiet ini. Dengan cara ini, saya bisa mengembalikan lagi kewarasan yang sempat hilang karena emosi, dan membalik kemarahan jadi simpati.

Saya tidak lagi marah pada beberapa siswa kelas X dalam kisah 'ahayde' di atas. Mereka baru kelas X, baru 6 bulan pindah dari SMP ke SMA. Masih suka bercanda konyol, dan boleh jadi belum terbiasa menulis kontemplatif seperti kakak-kakak kelas mereka (seperti blog post saya yang ini).

Jadi, kasus 'ahayde' sepenuhnya bisa saya pahami. Berarti, sedikit demi sedikit, kesadaran akan sikap yang lebih dewasa, termasuk diantaranya keterampilan membangun visi dan berkontlempasi, harus mulai diterapkan bagi kelas X.

Seadang pada cerita kedua, saya masih menata hati soal ini. Kemarin saya biarkan saja yang menolak memperhatikan, dan fokus pada anak-anak yang dari sorot matanya saya tahu bahwa mereka tertarik. Karena tak adil jika saya membuang waktu untuk mengurusi orang yang menolak saya, dan mengabaikan orang yang bersedia mendengarkan.

Yang penting, saya sudah menyampaikan bahwa saya concern terhadap hidup mereka.

Tiap orang punya punya sosok 'guru' masing-masing di antara semua pengajar yang pernah dia temui sepanjang hidup. 'Guru' itu yang menyentuh hati dan mengubah hidupnya. Dan tentu saja, sosok guru itu belum tentu saya. Bagi yang menolak memperhatikan saya kemarin itu, mereka akan menemukan 'guru'nya sendiri nanti, insya Allah.

Tapi memang, begitu saya menggeser tempat menjadi seseorang yang bersimpati, saya merasa prihatin. Sebentar lagi lulus SLTA, tapi belum bisa mengendalikan diri sendiri dan memilih apa yang lebih penting? Ah, ini benar-benar jadi bahan evaluasi bagi saya. Di mana salahnya? Apakah sistemnya, atau ada hal lain yang belum saya mengerti di sini?

Jadi begitulah. Menggeser tempat dari guru yang marah menjadi guru yang bersimpati ternyata works on me. 

09 January 2013

SETUMPUK GALAU


Ini adalah setumpuk galau milik kelas XII BN, yang sebentar lagi akan melepas label anak sekolahan, untuk selamanya. Setelah itu dunia nyata menunggu mereka: kuliah, bekerja, menikah, atau nganggur?



"Di penghujung akhir semester genap ini (harusnya dia menulis: semester ganjil) perasaan dan pemikiran saya bingung untuk menentukan jalan mana yang akan dipilih, karena saya sebagai laki-laki khawatir atau takut (akan) jalan yang saya pilih, sementara itu bukan yang terbaik buat diri saya.

Pencarian jati diri pun terus saya lakukan. harus bagaimana, dengan cara apa, dan mau jadi apa saya nanti, itulah yang saya pikirkan saat ini."

Yang menulis seperti ini bukan cuma satu, tapi hampir semua anak. Saat sebentar lagi akan lulus seperti ini, mereka masih tidak mengerti harus ke mana, karena belum menemukan passion diri.

Pernah mengalaminya? Saya pernah, persis sama, ketika kelas 3 SMA dulu.

Salah seorang mentor saya mengatakan bahwa passion bisa kita kenali salah satunya dengan rumus 4E: ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN. Hal yang jadi passion kita haruslah sesuatu yang kita nikmati, terasa mudah melakukannya mesti butuh waktu dan usaha yang besar, dan karena 'betah' ngulikin hal itu maka akan mudah mencapai tingkat excellent, dan akhirnya, bisa mendatangkan uang, tak jarang dengan sendirinya.

Jadi Senin kemarin, demi menghangatkan kelas di hari pertama aktif belajar, saya dan siswa kelas XII BN ngobrol sambil menilai diri sendiri, hal apakah dari mereka yang memenuhi setidaknya 2 E pertama, yang mereka enjoy dan easy melakukannya.

Apakah menggambar, musik, twitteran, menulis, kerajinan tangan, pangkas rambut, memasak, fisika, fashion, drama korea, coklat? Semua bisa saja dijadikan awal dari passion yang bisa menghidupi diri dan keluarga. 

Dan mereka menuliskan setumpuk galau mereka di atas kertas. Mereka khawatir tentang ujian, tentang jalan yang dipilih setelah ujian, tentang keluarga yang mungkin tak setuju atas pilihan mereka, tentang keinginan untuk secepatnya mandiri, tentang orang tua yang tidak bisa membiayai kuliah, tentang sifat jelek yang sulit dihilangkan, tentang menjadi contoh yang baik untuk adik, banyak sekali.

Sungguh saya bersyukur mereka galau, karena kalau tidak justru akan mengkhawatirkan. Galau artinya mereka berpikir, dan tugas kita para guru untuk menunjukkan jalan.

Satu tulisan membuat saya tersenyum:


"Yang memang sangat saya sukai yaitu memelihara hewan/binatang peliharaan seperti kelinci, hamster, marmut dll kecuali yang najis. Kenapa? Karena saya pernah merasakan dan hampir punya peternakan. Emmmmh..... dulu saya pernah punya kelinci 23 ekor ketika umur 14 tahun dengan modal pembelian 7000 untuk 1 ekor kelinci betina. 

Tapi Allah berkehendak lain. Ketika kelinci saya sudah mulai banyak dan penjualan lancar, saya terkena musibah kecelakaan dan tak bisa berjalan hampir 6 bulan lamanya. Alhasil kelinci saya tak ada yang merawat dan satu persatu mati karena sakit dan sampai habislah semuanya itu. Dan saya sempat putus asa tentang itu selama beberapa tahun.

Akan tetapi dengan adanya 4E saya mendapat bimbingan dan wawasan baru. saya akan tetap menekuni apa yang memang saya sukai itu nanti."

Jika passion sudah ketemu seperti ini, semua akan jadi lebih jelas: kuliah sudah terbayang jurusan apa yang diminati, kerja pun bisa langsung ambil di bidang yang disukai. Tinggal kita yang tua-tua ini melakukan tugas, yaitu mendukung secara moril dan materil.

01 January 2013

KISAH KALA HUJAN


Sore ini hujan lebat, saya jadi teringat pada sebuah kisah manis.

Seorang sahabat saya menikah dengan pria Jepang dan tinggal di sana. Lewat laman Facebooknya dia bercerita bahwa sore itu juga hujan bertepatan dengan jam pulang sekolah. Karena deras, dia menjemput gadisnya dengan mobil. Seperti ibunya, gadis manis ini juga berjilbab, satu-satunya muslimah di sekolah itu, tentu saja.

Tapi mobil tak bisa masuk melewati lapangan, jadi sang ibunda melambai dari pagar luar sekolah. Si gadis bersama dua sahabat nihonjin-nya bergegas berlari menerobos hujan. Tapi tiba-tiba, mereka merasakan sesuatu di atas kepala mereka.

Payung. Ketika si gadis menoleh ke belakang, seorang pemuda tersenyum di sana, sambil menyediakan payungnya.

Aawww..... Seperti cerita dalam shoujo manga ^_^

Saya mengajar siswa-siswa SMA, seusia dengan gadis pada cerita di atas. Karena saya berteman pula dengan siswa-siswa saya di Facebook dan Twitter, maka saya membaca status dan tweet mereka berhubungan dengan cinta. Saya tersenyum melihat para remaja ini memaknai cinta dengan begitu hiruk pikuk, satu saat dengan berbunga-bunga, saat lain dengan galau dan keluhan, tak jarang air mata ikut serta.

Gadis yang saya ceritakan tadi seorang muslimah, dan sang pemuda bukan. Mereka juga baru SMA, dan tak harus merasakan kehidupan cinta yang pelik semacam menikah vs perbedaan keyakinan. Tapi rasa ketertarikan adalah fitrah manusia.

Cerita sahabat saya di atas adalah tentang cinta yang sederhana, tak ditingkahi macam-macam hal, bahkan tak juga menuntut balasan. Bening.

Saya percaya bahwa guru bukan hanya ditugasi mengajarkan mata pelajaran pada anak, membuat soal ujian, lalu mengolahnya jadi nilai rapor. Saya percaya tugas guru adalah membimbing jiwa-jhiwa muda ini untuk mengerti segala hal di dunia ini. Termasuk cinta.

Saya harap pada suatu saat siswa-siswa saya bisa merasakan cinta yang bening seperti itu.

26 December 2012

NYAMPAH

Saya tahu, ini akan jadi blog post sampah, karena isinya menggerutu dan mengeluh, dengan bumbu menyalahkan orang lain. Bolehkah?

Ga boleh yah... =_=#

Begini saja. Saya bersyukur bertemu dengan Mba Lea. Saya kepingin nangis tiap baca posting terbaru di blognya. Kenapa? Karena Mba Lea mengajar di sekolah biasa, dengan siswa-siswa biasa, dengan fasilitas biasa, dan kurikulum nasional. Yang dihadapinya adalah kondisi sekolah pada umumnya di Indonesia.

Kelihatannya saya amat menyanjung Mba Lea, ya? Saya menaruh hormat, tapi lebih penting dari itu, saya merasa terhubung, connected, dengannya.

Karena Mba Lea bukan guru di sekolah terpadu, atau sekolah alam, atau sekolah internasional, atau IB school, atau sekolah nasional plus plus plus. Jadi bila Mba Lea melakukan sesuatu, maka artinya bisa dilakukan oleh kebanyakan guru di Indonesia, yang sekolahnya tidak punya tennis court dan kolam renang sendiri, yang paradigma rekan sejawat dan pimpinannya belum bergeser, yang siswanya tidak mampu membayar banyak untuk proyek macam-macam.

Jadi....

Ah, saya mengaku sajalah.

Kadang saya berpikir:

Kalau sekolah saya lebih kaya, mungkin saya bisa melakukan lebih banyak hal.
Kalau saya disediakan lebih banyak fasilitas, mungkin pembelajaran bisa lebih bervariasi dan menyenangkan.
Kalau saya bisa mendapat lebih banyak dukungan orang tua, mungkin masalah non akademik bisa lebih mudah terselesaikan.
Kalau saya bisa mendapat waktu yang lebih panjang.... 
Kalau kelas yang ada tak harus dipakai bersama sekolah lain....
Kalau....
Kalau....
Kalau....

Tentu saja saya menyiksa diri sendiri dengan sibuk mengutuk kegelapan, tapi menyalakan lilin ternyata bukan perkara gampang.

Dan sungguh berbeda antara membicarakan pendidikan di dalam seminar, paper atau media sosial, dengan menangani banyak siswa kelas X yang mengeja 'siapa' dengan s-i-y-a-p-a dan tak paham cara menambahkan pecahan, berhadapan dengan pihak yayasan yang tak mau mengerti, dibebani ujian nasional, serta kasus kehamilan dan aborsi anak usia 16 tahun.

21 December 2012

DEAR MY STUDENTS #2

Pagi yang cerah ^o^.... Apa kabar, semua?

Ada rencana apa aja nih, untuk liburan? Saya setuju banget sama RT salah satu siswa beberapa hari yang lalu. Kalian tuh kayaknya kebanyakan belajar deh. Hati-hati ah, bisa jadi pinter nanti.... Nah, sekarang waktunya melihat dunia. Coba nih, saya tanya:


Udah pernah lihat proses kupu-kupu keluar dari kepompong?  
Udah pernah nyebrang ke Kepulauan Seribu? 
Udah pernah lihat padang edelweiss langsung? 
Udah pernah lihat matahari terbit dari puncak gunung?  
Udah pernah bakar udang segede gaban di pinggir pantai?

Okelah, mungkin biayanya agak gede. Sekarang yang ini:

Pernah nyusurin jalur kereta commuter line dari ujung sampe ujung?  
Pernah nonton pagelaran di GKJ?
Pernah ke musium apa aja?
Pernah ke Kampung Betawi di Setu Babakan?
Pernah ke Pecinan-nya di sekitar Jakarta (banyak nih)? 
Pernah foto di jembatan Passer Baroe? 
Pernah nyari barang vintage di jalan Surabaya? 
Pernah muter-muterin kota tua?

Atau gimana kalo liburan ini:
Bikin web? 
Belajar nyetir? 
Belajar biola? 

Buat yang kelas XII, jangan gunakan liburan ini hanya untuk jalan-jalan doang. Sekarang waktunya untuk ancang-ancang masa depan. Gimana caranya? Salah atunya gini:

Punya kakak atau temen atau saudara yang kuliah? Minta ajak ke kampusnya, lihat langsung isi kampus, minta terangin sistem belajarnya, kelebihan kekurangannya. Ini manjur banget buat persiapan masuk dunia kampus, biar ga salah pilih. Beda banget loh, antara cuma lihat dari brosur dengan dateng langsung dan ngobrol sama 'pelaku'.

Yang ga kalah penting, bikin ancang-ancang tempat kerja. Ini untuk yang ga memilih kuliah atau mau kuliah sambil kerja. Ada beberapa tempat/kantor yang mengizinkan karyawannya menerima tamu. Kalau ada yang punya kakak atau teman atau saudara yang sudah bekerja, dan kalau diizinkan sama bosnya, datangi aja. Cari tau enak/ga enaknya kerja jadi SPG, jaga counter, gudang, kasir, administrasi, koki, frontdesk, dll. Lebih seru lagi kalo temen kamu punya usaha sendiri. Magang bisa jadi pengalaman berharga!

Para alumni yang baca note ini, adik-adiknya tolong dibantu yaaa.... prokprokprok!

Jadi, jangan sia-siakan masa liburan. Jangan sampe, eh udah 6 Januari, besok udah masuk lagi, kok belum ke mana-man.

Oke deh, selamat liburan, semoga tanggal 7 kita bisa kembali ke sekolah dengan fresh!


Salam,
Irma.

13 December 2012

KURIKULUM YANG BAIK

Apakah kurikulum tersebut jelas, konkret, punya tujuan menyeluruh yang konsisten dengan nilai-nilai sosial? 

Bisakah para siswa menjelaskan bagaimana setiap pelajaran terhubung ke tujuan di atas?
 
Apakah kurikulum tersebut bukan hanya menghormati, tetapi memanfaatkan perbedaan peserta didik?

  
Apakah kurikulum tersebut berjalan dengan mulus dengan tingkat kompleksitas "ide"yang semakin tinggi ?

Apakah diperlukan penggunaan rutin dari semua proses berpikir?

  
Adalah apa yang diajarkan bisa langsung berguna ketika berurusan dengan kehidupan di luar sekolah? 

Apakah anak-anak bisa bangkit dari kursi mereka dan melakukan sesuatu yang mereka anggap penting?
 

Apakah kurikulum tersebut mencerminkan peralihan dari sulitnya akses informasi, kepada kemudahan akses informasi, dan pada akhirnya kepada akses informasi tak terbatas?
 

Adalah apa yang materi dipelajari terlalu rumit untuk dievaluasi oleh mesin?


Jika semua jawabannya adalah YA, maka artinya kurikulum tersebut adalah kurikulum yang baik.



Sumber: http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2012/11/28/nine-questions-about-21st-century-curriculum/

11 December 2012

NASIHAT LAMA

Sebenarnya hari ini saya ngeblog dengan perasaan melow, karena satu kabar yang saya terima di sekolah. Tapi ini blog yang bisa dibaca oleh umum, jadi tentu tak bisa saya ceritakan dengan detil (tapi mesti bisa pada nebak, hehehehe).

Saya menikah usia 21. Melahirkan di usia 22. Sudah dewasakah perempuan usia 22 tahun? Tentu dewasa tak ditentukan oleh berapa usia, tapi dari sikap. Tapi setidaknya ketika itu, saya sudah merasa punya bekal.

Meski tak bisa dibilang aktifis, saya beberapa kali ikut organisasi, sejak tingkat dua sudah memiliki penghasilan sendiri, di waktu yang bersamaan saya kuliah di dua tempat berbeda, dan telah mengurus bayi merah sejak usia saya 19 tahun. Jadi saya pikir, di usia 22 tahun, saya telah memiliki sedikit bekal manajemen, kemandirian, terbiasa sibuk, dan biasa dengan urusan bayi.

Ketika punya anak, apa saya bisa menangani semuanya? Ternyata tidak. Saya mengalami baby blues, saya sering menangis sendiri karena rumah berantakan, belum mandi, dan anak rewel. Ternyata, mengurus rumah tangga bukan seperti menjalankan organisasi, dan jauh lebih sulit dari mengatur kelas. Yah, padahal anak baru satu, rumah cuma sepetak.

Menjadi menjadi ibu rumah tangga bukan perkara enteng. Beberapa teman saya yang menikah di usia yang lebih dewasa dan matang pun tetap merasa menjalani peran ibu tidaklah mudah.

Jadi hal itu menjelaskan mengapa saya khawatir pada para siswi saya. Pernikahan muda bukan masalah, saya pun menikahrelatif muda. Yang jadi masalah adalah pernikahan tanpa persiapan dan bekal. Apalagi pernikahan yang diawali dengan sebuah kekacauan.

Makanya saya rela dibilang sok tua dan nyinyir oleh siswa karena berulang-ulang bilang: "Ada memang cowok atau cewek yang asik diajak jalan dan senang-senang. Tapi yang harus kamu cari adalah seseorang yang kamu inginkan untuk jadi ayah atau ibu anak-anakmu di masa depan.

Kamu mau cowok yang masih nenggak pil jadi suami kamu? Kamu suka cowok yang ngoleksi bokep jadi ayah anak-anakmu? Kamu rela memperistri cewek yang pulang jam 2 pagi sambil teler? Kamu rela cewek yang gampang dipepet jadi ibu anak-anak kamu?"

03 December 2012

DANGKAL DAN MENTAH?

Karena berteman dan following akun siswa di jejaring sosial, saya jadi sedikit tau lebih tentang siswa-siswa saya. Tapi pengetahuan tidak selalu jadi hal yang menyenangkan. Banyak hal yang mungkin akan membuat kita lebih tenang bila kita tidak mengetahuinya, terutama hal-hal yang sulit kita pengaruhi.

Setelah berusaha sekemampuan, saya mengerenyitkan dahi membaca kicauan anak yang tidak puas dengan apa yang terjadi di sekolah, atau anak yang kepingin pindah sekolah karena satu hal remeh. Kalau di kelas saya melihat sosok beberapa siswa sebagai anak lugu, ternyata tak berarti sama ketika menulis status Facebook dan berkicau di Twitter.

Kenyataan ini sebelumnya membuat saya gelisah. Mungkin karena bingung atas penilaian diri sendiri pada orang lain, setengah lagi mungkin dipengaruhi oleh rasa putus asa kenapa pendidikan tak menjadikan mereka lebih matang berpikir.

Suami saya memberi saran: jika ingin tetap berada di socmed, jangan gampang sakit hati. Dan beberapa orang memang punya pikiran pendek.

Jadi saya menyadari, mereka baru 15-18 tahun. Dan saya salah jika mengukur pemikiran dan ucapan mereka dengan mengambil diri sendiri yang ubanan ini sebagi tolok ukur. Bagaimana bisa saya mengharap mereka punya keluasan pandangan, pertimbangan, tanggung jawab, dan kepekaan rasa seperti ibu-ibu beranak tiga?

Ketika saya SMA, begitulah saya juga bersikap. Persis seperti siswa-siswa saya sekarang. Kalau pemikiran anak muda tidak terasa dangkal dan mentah, kemudian apa guna pendidik?

Oh iya, lupa. Mengajarkan mereka cara cepat mengerjakan soal UN.

27 November 2012

KARENA SEBUAH KENANGAN

Tak disangka, mengenakan batik PGRI untuk yang pertama kalinya mendatangkan keharuan dalam dada. Apakah karena merasa bagian dari sebuah organisasi guru? Apakah karena romantisme perjuangan si pahlawan tanpa tanda jasa?

Hehehehe, bukan....

Tapi karena sebuah kenangan.


Ketika saya bercermin di pagi sebelum upacara, lembaran-lembaran kenangan tentang guru-guru saya dulu segera memenuhi kepala. Saya menggunakan pakaian yang sama persis dengan yang digunakan Bu Ida Idris, Pak Budi, Pak Bahroin, Pak Samsul. Seperti melihat kembali mereka berdiri di depan kelas, berjalan di koridor, dan menuruni tangga menuju kantor guru.

Maka saya bahagia, bukan karena seragam apa yang saya gunakan, tapi karena perasaan dekat dengan guru-guru saya tercinta.

Memang waktu sungguh bergerak. Saya yang dulunya siswa, sekarang menggunakan pakaian yang sama dengan guru-guru saya.

Di sisi lain, siswa-siswa saya, yang sungguh saya ajar di kelas ketika usia mereka 15 tahun, sekarang telah jadi rekan sejawat saya.


Ini adalah Wahyu, 7 tahun lalu dia adalah murid saya, sekarang telah jadi rekan sekerja. Jadi saya harus memanggilnya Pak Wahyu. Aneh sekali rasanya berfoto pagi kemarin itu, karena saya merasa sepertinya saya tak ke mana-mana, sementara kejadian-kejadian lain di dunia berdesingan melewati saya. Jarak antara guru dan siswa yang dulu terlihat jauh, ternyata hari ini sudah hilang sama sekali.

Meski merasa limbung dengan kenyataan betapa relatifnya waktu ketika berkelindan dengan kenyataan, saya nikmati perjalanan ini dengan penuh syukur.

SELAMAT HARI GURU!

23 November 2012

BALAS DENDAM

Pernahkah anda masuk ke kelas dan hanya melihat sepertiga saja dari jumlah keseluruhan siswa?

Yah, itu terjadi pada saya hari Senin lalu. Karena saya masuk setelah jam istirahat, saya bertanya apakah siswa lain masih ada di kantin. Ternyata tidak, duapertiga isi kelas memang tak hadir hari itu.


Bagaimanapun, guru piket pasti sudah mengambil langkah tentang masalah ini, jadi saya tak perlu ngomel lagi di kelas. Lagi pula, siapa yang harus diomeli, kan yang alpa tidak ada di sini. Masa' iya malah ngomelin siswa yang masuk?


Tapi kesal sih tetap ada, dan setiap menemukan kasus seperti ini, saya selalu gemas. Meski tanpa persiapan, saya segera putar otak merencanakan pembalasan bagi mereka yang tidak hadir.


Saya menyuruh siswa pindah ke perpustakaan, syukurlah ruang audiovisual sedang kosong. Sementara para siswa pindah gedung, saya berlari pulang, mencari beberapa buku, CD, dan mencetak bahan, syukurlah rumah saya dekat sekali dengan sekolah.



Apa yang kami pelajari hari itu? Manga.

Ya, komik. Kami membahas tentang shoujo manga dan shounen manga. Syukurlah kedua jenis manga itu tersedia di perpus. Kami juga membedakan manga yang masih raw dan manga yang sudah di-flip oleh penerbit Indonesia. Syukurlah kedua jenis itu juga tersedia di perpus.


Kemudian saya membahas sedikit yang saya tau tentang animasi dari Studio Ghibli, dan memutar sedikit cuplikan dari Tales from Earthsea. Terakhir, kami bernyanyi bersama: Teru no Uta *, salah satu suara terindah namun tersedih yang pernah saya dengar.


Saya tak tahu banyak soal manga dan anime, lagi pula itu semua tak ada dalam kurikulum. Tapi siswa yang tak lebih lima belasan orang itu sangat antusias, dan ketika kami bernyanyi bersama, saya segera bisa melihat bahwa mereka some how terhubung dengan (terjemahan) Teru no Uta.


Jadi, itulah balas dendam saya pada siswa yang berani-beraninya tidak masuk hari itu.


Melewatkan kelas saya? Mereka akan menyesal melakukannya!





* Barangkali ada yang mau dengar Teru no Uta (Therru'Song): http://www.youtube.com/watch?v=8M15yHEnEJ0. Teks yang saya punya ditulis ulang dan diterjemahkan oleh sahabat saya, Nesia Andriana.





--TERU NO UTA –

Penyanyi : Teshima Aoi
Penerjemah : Nesia A.

夕闇迫る雲の上
Yuuyami semaru kumo no ue
Samar menjauh di atas langit

いつも一羽で飛んでいる

Itsumo ichiwa de tonde iru
Selalu sendirian ia saja terbang

鷹はきっと 悲しかろ
Taka wa kitto kanashi karou
Elang itu sedih, tentu

音も途絶えた風の中
Oto mo todaeta kaze no naka
Suaranya hanyut bersama angin

空をつかんだその翼
Sora wo tsukanda sono tsubasa
Sayap yang mencengkeram langit

休めることは できなくて

Yasumeru koto wa deki nakute
Tidak bisa ia beristirahat

***

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoeyou
Hati ini, tak seorangpun tahu

鷹のような このこころ

Taka no you na kono kokoro
Hati ini bagai elang itu

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoeyou
Hati ini, tak seorangpun tahu

空を舞うような 悲しさを

Sora wo mau youna kanashi sa wo


Kesedihan yang menari di langit, sungguh
menyakitkan

***

雨のそぼ降る岩陰に

Ame no sobo furui wakage ni
Di bawah bayangan batu karang, saat hujan turun

いつも小さく咲いている
Itsumo chiisaku saite iru
Ia mekar kecil saja

花はきっと せつなかろ

Hana wa kitto setsuna karou
Bunga itu sedih, tentu

色もかすんだ雨の中

Iro mo kasunda ame no naka
Warnanya pun memudar di tengah hujan

薄桃色の花びらを

Usu momo-iro no hanabira wo
Kelopak merah muda sewarna  peach

愛でてくれる 手もなくて

Medete kureru te mo nakute
Tak ada tangan yang ingin menyayanginya

***

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoe you
Hati ini, tak seorangpun tahu

花のような このこころ
Hana no you na kono kokoro
Hati ini, bagai bunga itu

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoe you
Hati ini, tak seorangpun tahu

雨に打たれる せつなさを
Ame ni utareru setsuna sa wo
Kesedihan yang terbentur derai hujan

***

人影絶えた野の道を

Hitokage taetano no michi wo
Bayangan orang-orang sirna di jalan setapak

私 と共 に 歩んでる

Watashi to tomo ni ayunderu
Bersamaan ketika aku melangkah

あなた も きっと さみしかろ

Anata mo kitto samishi karou
Kamu juga kesepian, bukan?

虫 の 囁くくさはらを

Mushi no sasayaku kusahara wo
Serangga berdenging di semak-semak

共に道行く人だけど
Tomo ni michiyuku hito dakedo
Bersama-sama kita menapaki jalan itu

絶えて物言う こともなく

Taete mono iu koto mo naku
Tapi tak ada kata yang bisa diucapkan

***

こころを何に たとえよう
Kokoro wo nani ni tatoe you
Hati ini, tak seorangpun tahu

一人道行く このこころ
Hitori michiyuku kono kokoro
Hati ini sendirian menapaki jalan

こころを何に たとえよう
Kokoro wo nani ni tatoeyou
Hati ini, tak seorangpun tahu

ひとりぼっちの さみしさを
 Hitoribocchi no samishi sa wo
Kesendirian yang sepi ini sungguh
menyakitkan

***