01 January 2013

KISAH KALA HUJAN


Sore ini hujan lebat, saya jadi teringat pada sebuah kisah manis.

Seorang sahabat saya menikah dengan pria Jepang dan tinggal di sana. Lewat laman Facebooknya dia bercerita bahwa sore itu juga hujan bertepatan dengan jam pulang sekolah. Karena deras, dia menjemput gadisnya dengan mobil. Seperti ibunya, gadis manis ini juga berjilbab, satu-satunya muslimah di sekolah itu, tentu saja.

Tapi mobil tak bisa masuk melewati lapangan, jadi sang ibunda melambai dari pagar luar sekolah. Si gadis bersama dua sahabat nihonjin-nya bergegas berlari menerobos hujan. Tapi tiba-tiba, mereka merasakan sesuatu di atas kepala mereka.

Payung. Ketika si gadis menoleh ke belakang, seorang pemuda tersenyum di sana, sambil menyediakan payungnya.

Aawww..... Seperti cerita dalam shoujo manga ^_^

Saya mengajar siswa-siswa SMA, seusia dengan gadis pada cerita di atas. Karena saya berteman pula dengan siswa-siswa saya di Facebook dan Twitter, maka saya membaca status dan tweet mereka berhubungan dengan cinta. Saya tersenyum melihat para remaja ini memaknai cinta dengan begitu hiruk pikuk, satu saat dengan berbunga-bunga, saat lain dengan galau dan keluhan, tak jarang air mata ikut serta.

Gadis yang saya ceritakan tadi seorang muslimah, dan sang pemuda bukan. Mereka juga baru SMA, dan tak harus merasakan kehidupan cinta yang pelik semacam menikah vs perbedaan keyakinan. Tapi rasa ketertarikan adalah fitrah manusia.

Cerita sahabat saya di atas adalah tentang cinta yang sederhana, tak ditingkahi macam-macam hal, bahkan tak juga menuntut balasan. Bening.

Saya percaya bahwa guru bukan hanya ditugasi mengajarkan mata pelajaran pada anak, membuat soal ujian, lalu mengolahnya jadi nilai rapor. Saya percaya tugas guru adalah membimbing jiwa-jhiwa muda ini untuk mengerti segala hal di dunia ini. Termasuk cinta.

Saya harap pada suatu saat siswa-siswa saya bisa merasakan cinta yang bening seperti itu.

No comments:

Post a Comment