Evaluasi
pencapaian pendidikan karakter dalam acara Fieldtrip 2016 SMA Yapera ke
Saung Angklung Mang Udjo Bandung, diikuti 200 peserta.
1. Peserta melaksanakan shalat tanpa diatur guru
2. Peserta antri dengan tertib saat mengambil wudhu tanpa diatur guru (spt dlm foto)
3. Peserta antusias mengikuti acara dan tertib mengikuti panduan
4. Peserta tidak bubar hingga selesai menjawab salam penutup dari pembawa acara
5. Secara umum tidak ada kemasan makanan/minuman di kolong bangku bis
maupun tempat acara, namun masih ditemukan satu botol aqua dan dua
lembar tisu di tempat duduk penonton
6. Tidak ditemukan peserta yang merokok.
7. Peserta sudah ada di bis pada waktu yang ditentukan.
Mengutip kata Pak Putra Indonesia,
hal2 seperti ini adalah hal2 kecil dan rutin yang didawamkan guru pada
siswa setiap harinya. Untuk hal2 sederhana seperti ini, kami butuh
paling tidak sebelas bulan. Kuncinya ada pada keteladanan dan
konsistensi, hingga masalah semacam buang sampah sudah menjadi
kebiasaan, bukan lagi peraturan.
Tidak massal, namun intens.
Bukan conditioning, tapi penyadaran.
Ikhlas jika hasil besar tak segera datang.
Percaya bahwa Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali jika ada perubahan dalam jiwa mereka.
Showing posts with label budaya sekolah. Show all posts
Showing posts with label budaya sekolah. Show all posts
05 June 2016
21 February 2015
09 April 2014
PELATIHAN GURU
Beberapa
waktu yang lalu, ada temen yang cerita kalo dia shock (hehehe, lebay)
pas masuk kamar anaknya yang SMP dan menemukan anaknya sedang menghapal,
"Puisi adalah bla bla bla.... Prosa adalah bla bla bla...."
Saya jadi teringat masa sekolah, ketika saya melakukan hal yang sama, menghafal definisi. Tapi teman itu berkata sengit, "Aku bayar mahal di sekolah itu, tapi cara mengajar gurunya masih begini!"
Dia pengennya anak2 membaca beberapa prosa dan puisi, hingga dengan sendirinya ngeh apa itu prosa dan puisi dan perbedaan di antara keduanya tanpa harus menghapal definisi textbook.
Saya nyengir prihatin mikirin sekolah tersebut. Nasiiiib punya ortusis yang paradigma pendidikannya lebih maju. Bakal dikomplen melulu dah. Teman saya memang menyekolahkan anaknya di SMP swasta mahal yang uang pangkalnya sekitar 30jutaan. ~> tapi kata Wiwiet ini masih standar aja untuk wilayah Jakarta.
Begitulah. Sering kali visi misi sekolahnya bagus, kegiatannya mencorong, pialanya berjejer, tapi kesehariannya di kelas masih pakai metode yang sama dengan zaman kita sekolah dulu. Jadi kondisi ini harusnya digimanain?
Ya guru harus digeser paradigmanya, dilatih menggunakan beragam metode, dan lebih penting, dibuat sistem untuk memastikan metode itu beneran dipakai di kelas.
Tapi sebagai guru sekolah swasta, saya mengerti perubahan itu tidak bisa cepat. Guru yang baru lulus seringkali tidak terampil, dan guru yang lama menolak mengajar dengan cara yang lebih efektif. Membuat guru berjalan searah dengan visi sekolah memang tidak mudah.
Di sisi lain, ada kendala biaya dan waktu. Di sekolah yang dananya terbatas, menyisihkan dana untuk pelatihan guru itu tidak mudah. Sementara itu, sekolah yang memiliki sumber dana lebih, waktu tidak selalu tersedia. Ada berbagai ujian, urusan administrasi, kegiatan kesiswaan, lomba2, sampai promosi sekolah. pakai hari Minggu? Mana tega. Sabtu kan masih masuk full, masa' hari Minggu juga dipake kerja? Guru kan juga manusia yang punya kehidupan pribadi.
Jadi?
Jadi ya jalani saja usahanya, siasati saja kondisinya. Untuk mencapai idealisme, memang perlu pengorbanan. Tidak kuat bayar pelatih, ya pelatihnya KS/WKS sendiri. Kan mereka memang yang bertanggung jawab meningkatkan kualitas anak buahnya. Mereka yang harus lebih dulu tau, dan lebih dulu menerapkan metode terbaru. Tidak ada waktu? Kalau terpaksa sekali pakai hari efektif, apa boleh buat.
Gurunya tidak mau? Nah iniiiii.... Nah iniiiii....
Saya jadi teringat masa sekolah, ketika saya melakukan hal yang sama, menghafal definisi. Tapi teman itu berkata sengit, "Aku bayar mahal di sekolah itu, tapi cara mengajar gurunya masih begini!"
Dia pengennya anak2 membaca beberapa prosa dan puisi, hingga dengan sendirinya ngeh apa itu prosa dan puisi dan perbedaan di antara keduanya tanpa harus menghapal definisi textbook.
Saya nyengir prihatin mikirin sekolah tersebut. Nasiiiib punya ortusis yang paradigma pendidikannya lebih maju. Bakal dikomplen melulu dah. Teman saya memang menyekolahkan anaknya di SMP swasta mahal yang uang pangkalnya sekitar 30jutaan. ~> tapi kata Wiwiet ini masih standar aja untuk wilayah Jakarta.
Begitulah. Sering kali visi misi sekolahnya bagus, kegiatannya mencorong, pialanya berjejer, tapi kesehariannya di kelas masih pakai metode yang sama dengan zaman kita sekolah dulu. Jadi kondisi ini harusnya digimanain?
Ya guru harus digeser paradigmanya, dilatih menggunakan beragam metode, dan lebih penting, dibuat sistem untuk memastikan metode itu beneran dipakai di kelas.
Tapi sebagai guru sekolah swasta, saya mengerti perubahan itu tidak bisa cepat. Guru yang baru lulus seringkali tidak terampil, dan guru yang lama menolak mengajar dengan cara yang lebih efektif. Membuat guru berjalan searah dengan visi sekolah memang tidak mudah.
Di sisi lain, ada kendala biaya dan waktu. Di sekolah yang dananya terbatas, menyisihkan dana untuk pelatihan guru itu tidak mudah. Sementara itu, sekolah yang memiliki sumber dana lebih, waktu tidak selalu tersedia. Ada berbagai ujian, urusan administrasi, kegiatan kesiswaan, lomba2, sampai promosi sekolah. pakai hari Minggu? Mana tega. Sabtu kan masih masuk full, masa' hari Minggu juga dipake kerja? Guru kan juga manusia yang punya kehidupan pribadi.
Jadi?
Jadi ya jalani saja usahanya, siasati saja kondisinya. Untuk mencapai idealisme, memang perlu pengorbanan. Tidak kuat bayar pelatih, ya pelatihnya KS/WKS sendiri. Kan mereka memang yang bertanggung jawab meningkatkan kualitas anak buahnya. Mereka yang harus lebih dulu tau, dan lebih dulu menerapkan metode terbaru. Tidak ada waktu? Kalau terpaksa sekali pakai hari efektif, apa boleh buat.
Gurunya tidak mau? Nah iniiiii.... Nah iniiiii....
12 February 2014
ALAY? GA MASALAH....
Tepok
jidat karena status2 alay di wall/TL? Seriiiiiing, hahaha.... Secara
saya ini guru, dan berteman dengan siswa di socmed. Tapi sebenarnya,
saya tidak keberatan. Saya tidak keberatan siswa-siswa saya bikin status gaje
dan lebay, saya tidak keberatan mereka (masih) jadi anak alay.
Sejujurnya, sulit sekali melihat perkembangan pemikiran/perasaan siswa di kelas. Saya masuk kelas, menerangkan, mereka diam mendengarkan, melakukan tugas yang saya minta, dan bel berbunyi. Tak cukup waktu untuk memahami apa yang digelisahkan siswa. Di sosmed, saya bisa memahami siswa lebih baik, melihat bagaimana mereka memandang berbagai peristiwa dan berhubungan dengan orang lain.
Karena saya melihat hal-hal tersebut di socmed, maka saya bisa melihat perubahan status/tweet mereka dari waktu ke waktu, sejak masih siswa hingga jadi alumni. Dari sana, saya menemukan bahwa pemikiran mereka bergerak, anak-anak ini tumbuh dewasa.
Maka saya tidak keberatan ketika wall saya berisi status anak 15 tahun yang sudah merasa dewasa dan tahu segalanya, karena berdasarkan pengalaman, pandangan mereka akan bergeser jadi lebih bijak dalam 2-3 tahun ke depan.
Saya juga tidak merasa diburu waktu, mencekoki dengan berbagai macam hal di usia belia, karena kedewasaan didapat dari proses dan pengalaman, bukan dari mata pelajaran di sekolah.
Saya juga tidak merasa wajib jadi polisi status/tweet siswa, memata-matai dan mengatur apa yang harus dan jangan mereka ekspresikan. Karena bahkan menyampaikan kebenaran pun, mesti memilih metode yang tepat.
Dan demi melihat pergeseran sikap siswa-siswa, saya tidak keberatan jika kelas kami tidak menuntaskan seluruh SKL. Saya tidak keberatan menghabiskan seluruh jam pelajaran untuk sekedar ngobrol.
Sejujurnya, sulit sekali melihat perkembangan pemikiran/perasaan siswa di kelas. Saya masuk kelas, menerangkan, mereka diam mendengarkan, melakukan tugas yang saya minta, dan bel berbunyi. Tak cukup waktu untuk memahami apa yang digelisahkan siswa. Di sosmed, saya bisa memahami siswa lebih baik, melihat bagaimana mereka memandang berbagai peristiwa dan berhubungan dengan orang lain.
Karena saya melihat hal-hal tersebut di socmed, maka saya bisa melihat perubahan status/tweet mereka dari waktu ke waktu, sejak masih siswa hingga jadi alumni. Dari sana, saya menemukan bahwa pemikiran mereka bergerak, anak-anak ini tumbuh dewasa.
Maka saya tidak keberatan ketika wall saya berisi status anak 15 tahun yang sudah merasa dewasa dan tahu segalanya, karena berdasarkan pengalaman, pandangan mereka akan bergeser jadi lebih bijak dalam 2-3 tahun ke depan.
Saya juga tidak merasa diburu waktu, mencekoki dengan berbagai macam hal di usia belia, karena kedewasaan didapat dari proses dan pengalaman, bukan dari mata pelajaran di sekolah.
Saya juga tidak merasa wajib jadi polisi status/tweet siswa, memata-matai dan mengatur apa yang harus dan jangan mereka ekspresikan. Karena bahkan menyampaikan kebenaran pun, mesti memilih metode yang tepat.
Dan demi melihat pergeseran sikap siswa-siswa, saya tidak keberatan jika kelas kami tidak menuntaskan seluruh SKL. Saya tidak keberatan menghabiskan seluruh jam pelajaran untuk sekedar ngobrol.
BUKAN EMBER KOSONG
Seperti
semua guru yang lain, saya berharapa anak-anak didik saya bisa punya
pendapat sendiri, berdasarkan pada prinsip yang mereka percaya. Dengan
demikian, mereka tidak akan ikut-ikutan jika ditawari hal-hal buruk. Di sisi
lain, saya masih suka 'terbakar' jika ada siswa menantang pendapat saya,
meski dengan cara yang amat sopan. Jadi masih jauh tingkatannya untuk
sampai ke menantang siswa untuk "Jangan terburu-buru percaya saya."
Tentu tidak berapa berat membantah pemikiran anak kemarin sore yang menantang pendapat gurunya. Dengan jam terbang yang tidak terlalu banyak, tentu kelemahan pendapat mereka segera terlihat. Lagipula, jika mentok, bisa kita potong saja: "Saya gurumu, jadi kamu patuh saja. Mengerti?"
Tapi guru adalah penyampai, bukan sumber kebenaran. Anak-anak pun bukan ember kosong, tapi benih yang tumbuh. Yang bisa kita lakukan adalah menyediakan tanah, udara dan pupuk yang baik. Benih itu akan tumbuh dengan cirinya sendiri. Yang bisa guru lakukan adalah menunjukan pilihan-pilihan dan konsekuensinya, berusaha membiasakannya dalam lingkungan yang baik. Siswa akan memilih sendiri pendapat yang ia akan pegang erat.
Tentu tidak berapa berat membantah pemikiran anak kemarin sore yang menantang pendapat gurunya. Dengan jam terbang yang tidak terlalu banyak, tentu kelemahan pendapat mereka segera terlihat. Lagipula, jika mentok, bisa kita potong saja: "Saya gurumu, jadi kamu patuh saja. Mengerti?"
Tapi guru adalah penyampai, bukan sumber kebenaran. Anak-anak pun bukan ember kosong, tapi benih yang tumbuh. Yang bisa kita lakukan adalah menyediakan tanah, udara dan pupuk yang baik. Benih itu akan tumbuh dengan cirinya sendiri. Yang bisa guru lakukan adalah menunjukan pilihan-pilihan dan konsekuensinya, berusaha membiasakannya dalam lingkungan yang baik. Siswa akan memilih sendiri pendapat yang ia akan pegang erat.
13 January 2014
KATA MEREKA TENTANG SEKOLAH
Di Facebook, saya bertanya pada siswa yang masih dan pernah saya ajar tentang hal-hal ini:
1. Kalo liburan, kamu kangen sekolah ga? Kenapa?
2. Apa guru2 di SMA Yapera membosankan, suka teriak, dan suka marah kalo ada siswa yang nanya di kelas?
3. Berapa banyak guru yang banyak senyum, ramah, suka bercanda, dan bikin kelas jadi menyenangkan?
4. Apakah kamu merasa kalo sekolah di SMA Yapera itu penyiksaan?
Jawaban mereka (maafkan atas segala kealayan yang terjadi ^_~V):
Sma yapera, guru guru yapera , trus apapun yg ada di sma yapera tu udah sepaket bu paketan bikin puas alumni alumninya , dan kalo masih bisa balik lagi saya juga mau bu hehe
1. Kangen banget pengen ketemu temen2 lagi,, entah kenapa, di waktu SMA itu saya semangat banget berangkat sekolah, ibu pasti tau gimana perjuangan saya ke sekolah,, haha semuaa karena saya punya temen2 yg baik dan asik ,, klw pulang kita jalan kaki bareng2.. haha jadi kangen..
kalo menurut saya ya bu dr pertayaan yg pertama itu dibilang kangen sekolah kangen bgt . malah pengen bgt bu saya sekolah . soalnya sekolah itu tempat kita scharing berbagi curhat kadang tempat bermain . banyak hal yg gak pernah terlupakan yaitu waktu sekolah .
kalo pertayaan ibu yg ke dua . guru membosankan diyapera . alhamdulilah dr saya masuk hingga lulus guru guru ya tdk membosankan mlh justru kangenin.
ketiga : hampir rata rata guru yapera suka senyum dan sebelum beljar itu kadang malh kita suka ketawa ketawa dulu . sangat menyengkan
kalo penyikasaan itu gk bgt bu . malah adanya kasih sayang penuh suka bukan duka. hehh
1. Kangen banget bu, kadang sampe punya pikiran mau bolos kerja cuma mau maen ke yapera
Bu saya hadir, tapi agak telat !
Hehehehe
Kalo masalah kangen banget, tuh udah pastilah kangen se kangen"nya !
Dari kawan"nya guru"nya sistem sekolahnya pokonya semuanya tuh asli bikin kangen ! Heheheheh .
Kalo masalah guru galak si yah, tergantung anaknya juga sih ya gimana disekolahnya hehehe kalo saya kan agak baik anaknya jadi yaa ada beberapa guru lah yg menurut saya galak !
Hehehehe
Kalo masalah ngbosenin sih yaaa, gak sama sekali ! Malah saya nyesel bu cuma ngerasain 2 tahunan disekolah , haha.
Wahh kalo masalah penyiksaan si, penyiksaan banget bu kenapa saya harus di keluarin dari sekolah padahal masih kepngen sekolah !
Yaaa pokoknya semua yg ada di sma yapera dari yg namanya kantin, satpam, guru"nya serta bangku kelasnya bikin kangen bgt, apalagi sama semua angkatan saya
Hehehe sekian persentasi dari saya, kalo ada yg salah" kata atau perbuatan tolong dimaafkan, wabilahitaufiq walhidayahh wasallamualikum warahmatullahi wabaraktuh
great buat yapera, asal jangan angkuh ketika menjadi salah satu bagian darinya, sering saya lihat karakter karakter yang sombong tapi bukan saatnya saya mengkritik mereka karena, itu adalah sebagian ciri khas dari mereka, Mungkin!...kalo yang menyenangkan banyak, kalo ngebanyol juga pas.. jadi bisa refresh otak dari suntuknya belajar. tapi yang jadi patokan saya adalah Hukum Alam masih berlaku, tentang apa saja yang kita lakukan pasti dikemudian hari kita akan disadarkan .
1.kangenn banget bu,kangeen curhat bareng , kangen makan di kantin bareng bareng , kangen kegiatan"an sekolah ..
Ini sampel aja, dan ga pake metode ilmiah sama sekali, tapi bisa disimpulkan bahwa bagi anak-anak ini:
Apa yang coba saya katakan di sini? Jadi menurut saya, sekolah yang menyenangkan tidak harus karena label sekolah favorit, fasilitas lengkap dan guru level 'dewa'. Kadang sekolah kampung biasa saja bisa membuat anak merasa senang sekolah.
1. Kalo liburan, kamu kangen sekolah ga? Kenapa?
2. Apa guru2 di SMA Yapera membosankan, suka teriak, dan suka marah kalo ada siswa yang nanya di kelas?
3. Berapa banyak guru yang banyak senyum, ramah, suka bercanda, dan bikin kelas jadi menyenangkan?
4. Apakah kamu merasa kalo sekolah di SMA Yapera itu penyiksaan?
Jawaban mereka (maafkan atas segala kealayan yang terjadi ^_~V):
Kalo kangen pasti bu, apa lagi kalo liat anak" sekolah, jadi pengen sekolah lagi
guru yg membosankan ada tp lebih banyak yg menyenangkan
kalo penyiksaan ga banget
1. haaa iyah ibu irma pengen masuk sekolah lagi walupun sering bikin ulah , enak aja ibu nama nya sekolah banyak temen terus banyak hal indah yang terjadi di kelas bersama teman dan guru, 2. hampir semua nya kalo sama murid alus kalo ngebilangin paling maksimal ya mereka mencoba untuk lebih tegas aja hee, malah saya kangen di cukur ka fahru , 3. hee guru di SMA an-nurmaniah seru kalo ngajar, 4. hemm engga ibu, penyiksaan dalam hal apa ? semua guru nya penuh dengan kasih sayang kok
kangenn bu...gurunya ramah semua ko..bu hawa guru matematika yg killer ajh kdng menyenangkan..apalagi bu erna..hehe...apalagi bu erna,,kl ngajar bikin kuis dan pasti ngasih penghrgaan atau hadiah untu klompk yg menang..ga da pnyiksaan ko bu...kpn bu bikin reuni akbar gtu...
1. kangen banget sama sekolah apalagi makanan dikantin hehe,, iy kngen bgt soalnya bnyk tmn n psti kumpul klo udh lulus ky gini susah buat kumpul2nya, walaupun kumpul jg psti ad aj yg gk ikut kurang kumplit, ayolah reoni. 2. guru di SMA membosankn sih psti ad. itu sih tinggal guru2nya aj yg kreatif bikin suasana ngajarnya seru. gk ad kok yg marah2 klo ditnya. 3. smuanya menyenangkan 4. gk menyiksa kok malahan seru. itu jawaban ku.. mn jawabanmu hehe
guru yg membosankan ada tp lebih banyak yg menyenangkan
kalo penyiksaan ga banget
1. haaa iyah ibu irma pengen masuk sekolah lagi walupun sering bikin ulah , enak aja ibu nama nya sekolah banyak temen terus banyak hal indah yang terjadi di kelas bersama teman dan guru, 2. hampir semua nya kalo sama murid alus kalo ngebilangin paling maksimal ya mereka mencoba untuk lebih tegas aja hee, malah saya kangen di cukur ka fahru , 3. hee guru di SMA an-nurmaniah seru kalo ngajar, 4. hemm engga ibu, penyiksaan dalam hal apa ? semua guru nya penuh dengan kasih sayang kok
kangenn bu...gurunya ramah semua ko..bu hawa guru matematika yg killer ajh kdng menyenangkan..apalagi bu erna..hehe...apalagi bu erna,,kl ngajar bikin kuis dan pasti ngasih penghrgaan atau hadiah untu klompk yg menang..ga da pnyiksaan ko bu...kpn bu bikin reuni akbar gtu...
1. kangen banget sama sekolah apalagi makanan dikantin hehe,, iy kngen bgt soalnya bnyk tmn n psti kumpul klo udh lulus ky gini susah buat kumpul2nya, walaupun kumpul jg psti ad aj yg gk ikut kurang kumplit, ayolah reoni. 2. guru di SMA membosankn sih psti ad. itu sih tinggal guru2nya aj yg kreatif bikin suasana ngajarnya seru. gk ad kok yg marah2 klo ditnya. 3. smuanya menyenangkan 4. gk menyiksa kok malahan seru. itu jawaban ku.. mn jawabanmu hehe
Sma yapera, guru guru yapera , trus apapun yg ada di sma yapera tu udah sepaket bu paketan bikin puas alumni alumninya , dan kalo masih bisa balik lagi saya juga mau bu hehe
1. Kangen banget pengen ketemu temen2 lagi,, entah kenapa, di waktu SMA itu saya semangat banget berangkat sekolah, ibu pasti tau gimana perjuangan saya ke sekolah,, haha semuaa karena saya punya temen2 yg baik dan asik ,, klw pulang kita jalan kaki bareng2.. haha jadi kangen..
2.
em, buat saya guru kelas seni tu bu (yg setiap sabtu) semuanya asik2,,
karena kita lebih sering praktek, jadi lebih seru.. guru2 dikelas juga
seru seru si, tapi menurut saya belajar sambil praktek itu seru, kaya
pelajaran komputer, Rohis, Bhs. Jepang, B.Indonesia (sering praktek
@perpus).. walaupun ada beberapa guru yg GUALAK, membosankan dan
menjenuhkan hihihihihi. haha
guru yg banyak senyum sih, hampir semua bu,, tp yg senyum dari hati itu
yg susah di tebak hahahaa kadang ada yang biasa aja, tapi membuat kelas
jadi Happy..
Gak laaah,, buktinya saya selalu dateng ke sekolah, bagaimanapun itu
caranya HaHaHaa.. SMA Saya yang sangat menyenangkan SMA An-Nurmaniyah
kalo menurut saya ya bu dr pertayaan yg pertama itu dibilang kangen sekolah kangen bgt . malah pengen bgt bu saya sekolah . soalnya sekolah itu tempat kita scharing berbagi curhat kadang tempat bermain . banyak hal yg gak pernah terlupakan yaitu waktu sekolah .
kalo pertayaan ibu yg ke dua . guru membosankan diyapera . alhamdulilah dr saya masuk hingga lulus guru guru ya tdk membosankan mlh justru kangenin.
ketiga : hampir rata rata guru yapera suka senyum dan sebelum beljar itu kadang malh kita suka ketawa ketawa dulu . sangat menyengkan
kalo penyikasaan itu gk bgt bu . malah adanya kasih sayang penuh suka bukan duka. hehh
1. Kangen banget bu, kadang sampe punya pikiran mau bolos kerja cuma mau maen ke yapera
2. engga ada lah bu, beliau beliau semua nya baik, selalu mau ngebimbing siswa siswi nya, sampe siswa nya bener bener ngerti,
3. banyak banget guru yang bikin situasi kelas kaya bukan di dalem kelas, semua nya itu yang bikin kangen, walaupun kadang ada guru yang bikin bete,
4. yang pasti nya engga dong bu, kalo di yapera ga ada penyiksaan yang ada malah seneng seneng terus, udah kaya anak TK,
walaupun udah SMA.
Kangennnn bu kalo lagi liburan pengen cepet2 masuk sekolah lagi, guru SMA yapera asik2 semua bu, gada yg pernah sampe teriak-teriakan, malah kalo kata aku mah gurunya pada sabar2 bangetttt:* sekolah yapera menurut aku bukan tempat penyiksaan bu malah kalo kata aku mah ditempat itu aku bisa nemuin hal2 baru yg bermanfaat:*
3. banyak banget guru yang bikin situasi kelas kaya bukan di dalem kelas, semua nya itu yang bikin kangen, walaupun kadang ada guru yang bikin bete,
4. yang pasti nya engga dong bu, kalo di yapera ga ada penyiksaan yang ada malah seneng seneng terus, udah kaya anak TK,
walaupun udah SMA.
Kangennnn bu kalo lagi liburan pengen cepet2 masuk sekolah lagi, guru SMA yapera asik2 semua bu, gada yg pernah sampe teriak-teriakan, malah kalo kata aku mah gurunya pada sabar2 bangetttt:* sekolah yapera menurut aku bukan tempat penyiksaan bu malah kalo kata aku mah ditempat itu aku bisa nemuin hal2 baru yg bermanfaat:*
Bu saya hadir, tapi agak telat !
Hehehehe
Kalo masalah kangen banget, tuh udah pastilah kangen se kangen"nya !
Dari kawan"nya guru"nya sistem sekolahnya pokonya semuanya tuh asli bikin kangen ! Heheheheh .
Kalo masalah guru galak si yah, tergantung anaknya juga sih ya gimana disekolahnya hehehe kalo saya kan agak baik anaknya jadi yaa ada beberapa guru lah yg menurut saya galak !
Hehehehe
Kalo masalah ngbosenin sih yaaa, gak sama sekali ! Malah saya nyesel bu cuma ngerasain 2 tahunan disekolah , haha.
Wahh kalo masalah penyiksaan si, penyiksaan banget bu kenapa saya harus di keluarin dari sekolah padahal masih kepngen sekolah !
Yaaa pokoknya semua yg ada di sma yapera dari yg namanya kantin, satpam, guru"nya serta bangku kelasnya bikin kangen bgt, apalagi sama semua angkatan saya
Hehehe sekian persentasi dari saya, kalo ada yg salah" kata atau perbuatan tolong dimaafkan, wabilahitaufiq walhidayahh wasallamualikum warahmatullahi wabaraktuh
great buat yapera, asal jangan angkuh ketika menjadi salah satu bagian darinya, sering saya lihat karakter karakter yang sombong tapi bukan saatnya saya mengkritik mereka karena, itu adalah sebagian ciri khas dari mereka, Mungkin!...kalo yang menyenangkan banyak, kalo ngebanyol juga pas.. jadi bisa refresh otak dari suntuknya belajar. tapi yang jadi patokan saya adalah Hukum Alam masih berlaku, tentang apa saja yang kita lakukan pasti dikemudian hari kita akan disadarkan .
sekian dari saya, jadi curhat kan
kangen banget bu klo lagi libur pengennya cepet2 masuk sekolah lagi , klo menurut aku guru SMA asik2 semua ko bu .. gak ada yang pernah marah ko bu klo ada yang nanya malah guru2nya pada sabar2 semua, hampir semua guru pada ramah & suka bercanda ,, sekolah yapera menurut aku sih bukan tempat penyiksaan bu malah di yapera aku nemuin banyak hal2 yang menarik & bermanfaat
kangen banget bu klo lagi libur pengennya cepet2 masuk sekolah lagi , klo menurut aku guru SMA asik2 semua ko bu .. gak ada yang pernah marah ko bu klo ada yang nanya malah guru2nya pada sabar2 semua, hampir semua guru pada ramah & suka bercanda ,, sekolah yapera menurut aku sih bukan tempat penyiksaan bu malah di yapera aku nemuin banyak hal2 yang menarik & bermanfaat
1.kangenn banget bu,kangeen curhat bareng , kangen makan di kantin bareng bareng , kangen kegiatan"an sekolah ..
2.ga ada yg ngebosenin bu .. guru guru di SMA punya cara trik ngajar ..
3.semuanya nyenengin .. bisa tuker pikiran , bisa kya sahabat pokonya plus plus bgt
4.bukan menyiksa tpi menyisakan byk kenangan .. imell punya temen dari sekolah luar yg waktu itu sempet isi acara di SMA yaperaa dy bilang "keren ya sekolah lu,walaupun murid ga smpe 100 tpi bisa buat acara kya gini" bangga bgt sama SMA An-Nurmaniyahh
Makasih buat bu irma dan guru guru yg lain .. buat bantuan yg kalian berikan sama imell
jujur sih ada rasa kangen kalo liburan panjang sekolah, kangen maen sama belajar dikelas, kangenn guru gurunya, kangen suasana koridor sekolah. menurut sayay di sma yapera itu guru gurunya ga ada yang membosankan, mungkin kalo beberapa pelajaran ada pasti yang membosankan hehehe. setiap guru pasti punya sisis galaknya, tapi itu galak berarti tegas, buak galak karna ga senang sama siswanya, cuman porsi sisi tegas sama sisi menyenangkanya itu seimbang, jadinya bikin susasana mengajar itu ga terlalu monoton. mungkin pas saya waktu kls 1 masih kerasa galau karna yah faktor muridnya yang sedikit hehehe tapi lama kelamaan mulai tau sisi positive dari keterbatasan itu, kita jadi gampang saling kenal, guru gurunya lebih kenal karakter murid muridnya, dan kebersamaanya kuat. jadi ga ada perasaan sekolah di sma yapera itu penyiksaan
walaupun saya belum jadi alumni tapi, masa liburan 2minggu cukup untuk membuat hati merasa rindu akan sekolah, rindu dengan teman-teman, guru-guru, serta suasana sekolah. menurut saya gurunya ramah, baik, dan suka bikin kelas ramai ya walaupun bercandanya terkadang agak garing tapi , dengan cara itu membuat cara agar kita tidak merasakan bahwa belajar dan diajar bukanlah suatu beban kehidupan
tidak pernah marah, malah mereka terlihat senang melihat kita aktif bertanya,
menurut saya hampir seluruhnya ramah,dan baik. tak pernah ngerasa tersiksa dan tak pernah melihat adanya penyiksaan yang ada malah kegembiraan ada tugas pun masih dalam batas yang wajar kok bu
Menurut sy pribadi sekolahan SMA yapera itu beda banget sama sekolahan yg lain terutama sama sekolahan sy dulu sebelum pindah ke yapera.
3.semuanya nyenengin .. bisa tuker pikiran , bisa kya sahabat pokonya plus plus bgt
4.bukan menyiksa tpi menyisakan byk kenangan .. imell punya temen dari sekolah luar yg waktu itu sempet isi acara di SMA yaperaa dy bilang "keren ya sekolah lu,walaupun murid ga smpe 100 tpi bisa buat acara kya gini" bangga bgt sama SMA An-Nurmaniyahh
Makasih buat bu irma dan guru guru yg lain .. buat bantuan yg kalian berikan sama imell
jujur sih ada rasa kangen kalo liburan panjang sekolah, kangen maen sama belajar dikelas, kangenn guru gurunya, kangen suasana koridor sekolah. menurut sayay di sma yapera itu guru gurunya ga ada yang membosankan, mungkin kalo beberapa pelajaran ada pasti yang membosankan hehehe. setiap guru pasti punya sisis galaknya, tapi itu galak berarti tegas, buak galak karna ga senang sama siswanya, cuman porsi sisi tegas sama sisi menyenangkanya itu seimbang, jadinya bikin susasana mengajar itu ga terlalu monoton. mungkin pas saya waktu kls 1 masih kerasa galau karna yah faktor muridnya yang sedikit hehehe tapi lama kelamaan mulai tau sisi positive dari keterbatasan itu, kita jadi gampang saling kenal, guru gurunya lebih kenal karakter murid muridnya, dan kebersamaanya kuat. jadi ga ada perasaan sekolah di sma yapera itu penyiksaan
walaupun saya belum jadi alumni tapi, masa liburan 2minggu cukup untuk membuat hati merasa rindu akan sekolah, rindu dengan teman-teman, guru-guru, serta suasana sekolah. menurut saya gurunya ramah, baik, dan suka bikin kelas ramai ya walaupun bercandanya terkadang agak garing tapi , dengan cara itu membuat cara agar kita tidak merasakan bahwa belajar dan diajar bukanlah suatu beban kehidupan
tidak pernah marah, malah mereka terlihat senang melihat kita aktif bertanya,
menurut saya hampir seluruhnya ramah,dan baik. tak pernah ngerasa tersiksa dan tak pernah melihat adanya penyiksaan yang ada malah kegembiraan ada tugas pun masih dalam batas yang wajar kok bu
Menurut sy pribadi sekolahan SMA yapera itu beda banget sama sekolahan yg lain terutama sama sekolahan sy dulu sebelum pindah ke yapera.
yapera
good bgt dari peraturannya gurunya cara belajarnya meberikan ilmu"nya
itu sangat bagus apalagi ada yg namanya pengembangan diri ataw rohis.
makasih banget guru" rohis sy yg telah bantu sy belajar ngaji yg tadinya gak bisa banget krna kesabaran guru" bantu sy belajar sy alhamdulilah jadi bisa... walaupun sy sudah berkeluarga terkadang sy merindukan jaman" sy Sekolah di yapera banyak sekali masukan ilmunya bnyak sekali teman" canda tawa bersama.
Klu sekarang kangen banget, klu masih sekolah dulu sekalinya kangen sama sekolah langsung tancap gas, main keasrama atw ruang osis, klu kangen temen tinggal sms ajak main, klu sama guru, ajak rombongan bawa rujak kerumah bpk ibu gurunya , Klau guru marah2 karna banyak nanya gak ada tuh bu, soalnya yg mw nanya juga bingung mw nanya apa, terus klu bingung kebanyakan sih pada pasrah dan lebih milih diem dipojok sambil smssan hehehehe (buat yg merasa ;D )
makasih banget guru" rohis sy yg telah bantu sy belajar ngaji yg tadinya gak bisa banget krna kesabaran guru" bantu sy belajar sy alhamdulilah jadi bisa... walaupun sy sudah berkeluarga terkadang sy merindukan jaman" sy Sekolah di yapera banyak sekali masukan ilmunya bnyak sekali teman" canda tawa bersama.
Klu sekarang kangen banget, klu masih sekolah dulu sekalinya kangen sama sekolah langsung tancap gas, main keasrama atw ruang osis, klu kangen temen tinggal sms ajak main, klu sama guru, ajak rombongan bawa rujak kerumah bpk ibu gurunya , Klau guru marah2 karna banyak nanya gak ada tuh bu, soalnya yg mw nanya juga bingung mw nanya apa, terus klu bingung kebanyakan sih pada pasrah dan lebih milih diem dipojok sambil smssan hehehehe (buat yg merasa ;D )
Guru yg banyak senyum dan bikin suasana seneng dikelas, semua guru yg masuk dan keluar kelas setiap hari senyum bu . Heheh mungkin ada juga yg senyum sambil geleng2 kepala, ada yg sambil gosok2 kuping, heheheh kelas selalu rame, mw jam pelajaran istirahat, sepi pas ulangan doang selesai rame lgy, . Sabaarr banget ibu bapak guru yg ngajar dikelas.
Penyiksaan diyapera, itu pas ulangan, apalagi pas pelajaran produktif, (angkattangan) hehehe,
3thn disma yapera itu,3 kata: seru, berkesan dan tak terlupakan. (^_^)
Penyiksaan diyapera, itu pas ulangan, apalagi pas pelajaran produktif, (angkattangan) hehehe,
3thn disma yapera itu,3 kata: seru, berkesan dan tak terlupakan. (^_^)
Ini sampel aja, dan ga pake metode ilmiah sama sekali, tapi bisa disimpulkan bahwa bagi anak-anak ini:
1. Mereka tidak benci sekolah. Sekolah bukan tempat penyiksaan, misalnya karena guru represif, tugas bejibun atau penuh suasana kompetisi.
2. Memang ada guru yang membosankan atau galak, tapi mayoritas guru menyenangkan, ramah, sabar, suka bercanda.
Sekolah macam apakah SMA Yapera?
Sekolah macam apakah SMA Yapera?
Sekolah kami berada di Ciledug, Tangerang. Sekolah swasta kebanyakan, bukan plus, bukan terpadu, bukan sekolah alam, bukan SSN.
Jumlah siswanya sekitar 140 siswa saja. Bukan sengaja dibatasi, yang mendaftar memang cuma segitu ^_^. Tingkat ekonomi siswa menengah ke bawah.
SPP 190.000 perbulan, yang tidak mencukupi untuk biaya operasional hingga harus disubsidi cukup besar setiap bulan oleh Yayasan.
Sekolah dari jam 7 hingga 12.20, bukan fullday. Satu pekan ada 41 jam pelajaran, masih ada upacara tiap Senin pagi, dan tidak ada program lain di luar jam pelajaran (misalnya solat duha dan tilawah sebelum belajar).
Kurikulum masih KTSP sampai tahun ini.
Guru mayoritas lulusan S1, 1-2 orang saja lulusan PTN, 1 orang mengikuti kuliah S2 (tapi bukan saya, hehehe), tidak aktif dalam organisasi guru, belum pernah ikut dalam lomba atau konferensi guru di tingkat apapun.
Tidak punya guru BK, apalagi konsultan sekolah.
Tidak punya lab komputer dan IPA sendiri (menumpang), tidak ada lab bahasa.
Dengan profil sekolah di atas, pertanyaannya adalah, apakah proses pendidikan di sekolah kami sudah sesuai SNP dari pemerintah? Belum, masih jauuuuh dari situ. Apa kami meluluskan alumni yang punya kompetensi sesuai SKL? Mungkin tidak. Tapi apa siswa kami bahagia? Saya melihat kemungkinan itu.
Sekolah adalah meeting point bagi anak-anak. Jadi mudah saja bagi anak-anak untuk tetap datang ke sekolah meski tidak suka sekolah, yakni untuk sosialisasi, hang out dengan teman. Namun selain kenangan dengan teman, tampaknya siswa dan alumni juga menuliskan poin tentang kedekatan dengan guru, juga sistem dan program sekolah. Jadi yang mereka maksud dengan menyenangkan bukan semata soal bertemu teman.
Apa yang coba saya katakan di sini? Jadi menurut saya, sekolah yang menyenangkan tidak harus karena label sekolah favorit, fasilitas lengkap dan guru level 'dewa'. Kadang sekolah kampung biasa saja bisa membuat anak merasa senang sekolah.
Labels:
budaya sekolah,
pembelajaran,
program sekolah,
siswa
20 December 2013
DRESS LIKE YOURSELF
Saya pernah menulis di sini tentang seragam, jadi post kali ini mungkin adalah perubahan pandangan saya mengenai penggunaan baju 'seragam' di sekolah.
Baru terpikir oleh saya belakanagan ini bahwa di banyak sekolah, baik siswa maupun guru, tidak bisa jadi diri sendiri. Sekolah saya yang satu adalah sekolah Islam, jadi semua siswa berpakaian sesuai kaidah Islam; siswa harus menggunakan celana panjang dan siswi menggunakan rok (tidak bercelana), baju panjang dan kerudung. Sekolah satu lagi adalah sekolah umum, tapi perbedaan pakaian siswa hanya di kewajiban kerudung saja, selebihnya sama.
Masalahnya adalah, di luar sekolah, banyak siswa yang berpenampilan berbeda, terutama siswa perempuan. Ah, ini meresahkan saya. Artinya, siswa tidak menjadi dirinya sendiri di sekolah. Mereka berpenampilan demikian karena dituntut sekolah, bukan karena keputusan pribadi.
Apakah hanya siswa yang tidak tampil sebagai diri sendiri? Tidak, karena guru juga demikian. Tidak sedikit guru yang penampilan di sekolah berbeda dengan di rumah. Mungkin dalam batasan tertentu, saya termasuk guru yang demikian.
Pernah saya sudah siap berangkat, lalu merasa ada yang aneh dan bercermin lagi. Sambil bergumam i'm so fake right now, saya mengubah cara berpakaian hari itu, karena terasa bahwa saya berpakaian untuk sekolah, sedang keseharian saya tidak demikian. Hal ini membuat saya tidak nyaman.
Untunglah saya hanya mengajar di sekolah swasta, yang mengizinkan saya menggunakan kerudung rempong (kata orang, kata saya sih biasa aja ^_~V), baju warna warni, dan hak tinggi. Kalau mengajar di sekolah negeri atau swasta yang lebih ketat, mungkin saya harus lebih sulit jadi diri sendiri.
Jadi bagaimana, apa kita biarkan saja siswa dan guru berpakaian semau mereka?
*krik.... krik....*
Baiklah, pertnyaan barusan terasa agak negatif, seperti jika kita membebaskan siswa, mereka serta merta akan datang dengan tattoo atau bikini. Bagaimana jika begini: Apakah seharusnya sekolah mengizinkan guru dan siswa berpakaian sesuai dengan preferensi pribadi?
Sebagai orang yang konservatif, saya pikir tak apa jika sekolah menerapkan semacam peraturan mengenai penampilan. Bagaimanapun, sekolah boleh saja memiliki visi dan nilai yang coba ditransfer pada anggota komunitasnya. Masalahnya, peraturan ini harusnya jadi akibat, bukan sebab. Bukan karena ada peraturan, maka guru dan siswa jadi terpahamkan, tapi karena telah mendapat pemahaman, maka mereka jadi taat peraturan.
Sebelum kita mewajibkan warga sekolah berpenampilan islami, misalnya, apakah kita telah memberikan pemahaman dan contoh yang cukup secara konsisten? Apakah siswa dan guru lelaki mengerti kenapa mereka dilarang memakai celana di atas lutut? Apakah siswa dan guru perempuan mengerti mengapa mereka harusnya menutup aurat dengan baik dan berdandan sederhana?
Dalam kasus saya, mungkin saja apa yang jadi pilihan saya dalam berpakaian bukanlah hal yang ideal menurut nilai yang dipegang oleh sekolah, tapi saya ingin jika saya mengubah penampilan, itu karena paham. Dengan demikian, tak peduli di dalam maupun luar sekolah, cara saya berpakaian akan sama.
Hal ini tidak hanya untuk berpakaian, tapi untuk semua hal yang ingin diterapkan sekolah.
Tentu saja, mendahulukan pendidikan membutuhkan waktu panjang, dan jangan heran bila penolakan tetap ada. Artinya, sudah diberi tahu, dicontohkan, tetep ga mempan. Namun mendahulukan peraturan justru akan membuat warga sekolah malah faking themselves di sekolah, yang malah bertentangan dengan idealisme pendidikan.
photos' credit to owner
![]() |
| pengen seragam model gini tapi susah juga, lol |
Masalahnya adalah, di luar sekolah, banyak siswa yang berpenampilan berbeda, terutama siswa perempuan. Ah, ini meresahkan saya. Artinya, siswa tidak menjadi dirinya sendiri di sekolah. Mereka berpenampilan demikian karena dituntut sekolah, bukan karena keputusan pribadi.
Apakah hanya siswa yang tidak tampil sebagai diri sendiri? Tidak, karena guru juga demikian. Tidak sedikit guru yang penampilan di sekolah berbeda dengan di rumah. Mungkin dalam batasan tertentu, saya termasuk guru yang demikian.
Pernah saya sudah siap berangkat, lalu merasa ada yang aneh dan bercermin lagi. Sambil bergumam i'm so fake right now, saya mengubah cara berpakaian hari itu, karena terasa bahwa saya berpakaian untuk sekolah, sedang keseharian saya tidak demikian. Hal ini membuat saya tidak nyaman.
![]() |
| kerudung rempong + hak tinggi, lol |
Jadi bagaimana, apa kita biarkan saja siswa dan guru berpakaian semau mereka?
*krik.... krik....*
Baiklah, pertnyaan barusan terasa agak negatif, seperti jika kita membebaskan siswa, mereka serta merta akan datang dengan tattoo atau bikini. Bagaimana jika begini: Apakah seharusnya sekolah mengizinkan guru dan siswa berpakaian sesuai dengan preferensi pribadi?
Sebagai orang yang konservatif, saya pikir tak apa jika sekolah menerapkan semacam peraturan mengenai penampilan. Bagaimanapun, sekolah boleh saja memiliki visi dan nilai yang coba ditransfer pada anggota komunitasnya. Masalahnya, peraturan ini harusnya jadi akibat, bukan sebab. Bukan karena ada peraturan, maka guru dan siswa jadi terpahamkan, tapi karena telah mendapat pemahaman, maka mereka jadi taat peraturan.
Sebelum kita mewajibkan warga sekolah berpenampilan islami, misalnya, apakah kita telah memberikan pemahaman dan contoh yang cukup secara konsisten? Apakah siswa dan guru lelaki mengerti kenapa mereka dilarang memakai celana di atas lutut? Apakah siswa dan guru perempuan mengerti mengapa mereka harusnya menutup aurat dengan baik dan berdandan sederhana?
Dalam kasus saya, mungkin saja apa yang jadi pilihan saya dalam berpakaian bukanlah hal yang ideal menurut nilai yang dipegang oleh sekolah, tapi saya ingin jika saya mengubah penampilan, itu karena paham. Dengan demikian, tak peduli di dalam maupun luar sekolah, cara saya berpakaian akan sama.
Hal ini tidak hanya untuk berpakaian, tapi untuk semua hal yang ingin diterapkan sekolah.
Tentu saja, mendahulukan pendidikan membutuhkan waktu panjang, dan jangan heran bila penolakan tetap ada. Artinya, sudah diberi tahu, dicontohkan, tetep ga mempan. Namun mendahulukan peraturan justru akan membuat warga sekolah malah faking themselves di sekolah, yang malah bertentangan dengan idealisme pendidikan.
photos' credit to owner
26 November 2013
SOKOLA RIMBA
Tadi siang saya menonton Sokola Rimba dengan 3 krucils. Sambil mengurus makan siang dan mengendalikan si bungsu (3th) yang loncat2an di antara bangku, saya menangis hampir setengah film. Saya ingat murid2 saya di SC.
Mulainya adalah ketika Bungo menunjukkan surat perjanjian pada Butet, tentang izin penebangan pohon di daerah Orang Rimba, yang mereka setujui dengan imbalan beberapa kaleng biskuit, kopi, gula dan rokok, karena mereka tidak bisa membaca. Juga keluhan mereka yang tidak diperbolehkan berburu dan membuka ladang lebar2 di tanah mereka sendiri, karena bertentangan dengan peraturan Taman Nasional.
Yang kayak gitu rakyat indonesia banget ga sih?
Murid2 saya di Yapera, kebanyakan akan lulus dan jadi SPG. Beberapa akan kuliah di kampus kelas tiga dan mendapat pekerjaan semenjana. Tidak bermaksud membatasi diri, tapi fokus saya untuk mereka saat ini adalah bagaimana membuka wawasan pada dunia yang lebih luas dan pilihan yang lebih banyak. Tapi siswa saya di SC tidak demikian. Mereka punya cukup modal untuk mencapai lebih, dari segi finansial dan akses.
Saya mengajar sejarah di SC, dan kami melihat Indonesia, setelah dijajah begitu lama, setelah merdeka masih menjadi bulan2an pihak lain. Siswa melihat bahwa kita menerima perjanjian2 internasional yang jelas merugikan, dan kesal dengan campur tangan asing dalam kisruh politik yang ujung2nya bagi2 kekayaan alam indonesia.
Siswa2 SC akan kuliah di kampus top dalam dan luar negeri. Karena itu merekalah yang saya harap bisa menjadi penjaga paling depan negeri ini. Mereka harus cerdas, mereka harus punya dignity, mereka harus istiqomah. Harus. Agar jangan sampai kekayaan kita dihabisi oleh pihak lain karena kita terlalu bodoh untuk memahami, dan gampang disogok dengan hal2 remeh. Agar jangan sampai kita harus izin ke pihak lain untuk nyari makan di tanah sendiri.
09 November 2013
ATMOSFIR
Tulisan ini adalah refleksi diri sebagai guru, bukan untuk menyalahkan pihak manapun. [Dan entah kenapa saya harus menjelaskan begini, mungkin akibat membaca artikel yang bilang kalau kadang what I said bisa bereda dengan what they hear ^_^;]
Suatu sore, saya duduk bersama para siswa dan guru di hall. Kami baru selesi shalat ashar dan tengah membaca zikir sore sebelum pulang. Saat itu saya teringat bahwa saya melakukan hal mirip tadi pagi pada pukul tujuh lewat, duduk di sini setelah shalat duha dan membaca zikir pagi. Lalu saya sadar, betapa panjangnya waktu yang dilalui anak-anak ini di sekolah.
Apalagi ketika saya turun untuk pulang, di lapangan anak-anak sudah berganti kostum eskul masing-masing. Saya bayangkan mereka pulang menjelang magrib, kelelahan -sama dengan orang tua mereka, lalu masing-masing masuk kamar untuk bangun besok pagi dan mengulang lagi rutintas biasa.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa sekolah mesti sadar bahwa dengan mengambil sistem fullday, artinya ia mengambil resiko yang besar. Kalau sekolah biasa (yang pulang tengah hari) bisa berkilah bahwa orang tua yang seharusnya paling bertanggung jawab atas kegagalan pendidikan karena porsi orang tua bersama anak terhitung lebih banyak., sekolah full day tidak bisa menggunakan alasan itu. Kenyataannya, anak memang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Mereka tumbuh besar di sekolah.
Sampai sekarang, saya masih percaya bahwa nilai-nilai diturunkan dan ditanamkan dengan cara hidup di dalamnya. Ini titik kritis di sekolah fullday. Apakah guru sudah menjalankan hidup bersama anak-anak didiknya, bukan hanya kegiatan formal belajar mengajar yang diatur oleh bel sekolah. Karena panjangnya jam sekolah, mau tak mau guru tidak hanya melakukan educating, tapi juga parenting.
Di pesantren yang masih mengikuti tradisi asli, anak-anak dititipkan pada kyai sebagai 'anak angkat'. Mereka menyerap kehidupan kyai dan nyainya, melihat cara hidup, karakter, kebiasaan, dan cara pandang kyai-nyai. Orang tua percaya atmosfir di sekitar kyai memiliki standar nilai yang lebih tinggi daripada di rumah sendiri.
Sekolah yang memiliki jam belajar yang panjang memiliki kesempatan yang hampir mendekati pesantren. Visi sekolah harus dibuat sebagai atmosfir yang melingkupi anak-anak, dengan guru-guru sebagai penjaganya. Kita tidak melihat atmosfir ini sebagai benda nyata (misalnya dalam bentuk tata tertib atau hukuman), tapi semua orang melakukannya karena memang terbiasa demikian. Semua guru melakukannya, semua kakak kelas melakukannya, maka anak-anak baru akan menyesuaikan diri secara alamiah dengan atmosfir yang ada.
Jika sekolah fullday gagal menciptakan atmosfir yang sesuai dengan visi di atas kertas, anak-anak ini akan dibesarkan oleh teman-teman mereka.
Suatu sore, saya duduk bersama para siswa dan guru di hall. Kami baru selesi shalat ashar dan tengah membaca zikir sore sebelum pulang. Saat itu saya teringat bahwa saya melakukan hal mirip tadi pagi pada pukul tujuh lewat, duduk di sini setelah shalat duha dan membaca zikir pagi. Lalu saya sadar, betapa panjangnya waktu yang dilalui anak-anak ini di sekolah.
Apalagi ketika saya turun untuk pulang, di lapangan anak-anak sudah berganti kostum eskul masing-masing. Saya bayangkan mereka pulang menjelang magrib, kelelahan -sama dengan orang tua mereka, lalu masing-masing masuk kamar untuk bangun besok pagi dan mengulang lagi rutintas biasa.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa sekolah mesti sadar bahwa dengan mengambil sistem fullday, artinya ia mengambil resiko yang besar. Kalau sekolah biasa (yang pulang tengah hari) bisa berkilah bahwa orang tua yang seharusnya paling bertanggung jawab atas kegagalan pendidikan karena porsi orang tua bersama anak terhitung lebih banyak., sekolah full day tidak bisa menggunakan alasan itu. Kenyataannya, anak memang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Mereka tumbuh besar di sekolah.
Sampai sekarang, saya masih percaya bahwa nilai-nilai diturunkan dan ditanamkan dengan cara hidup di dalamnya. Ini titik kritis di sekolah fullday. Apakah guru sudah menjalankan hidup bersama anak-anak didiknya, bukan hanya kegiatan formal belajar mengajar yang diatur oleh bel sekolah. Karena panjangnya jam sekolah, mau tak mau guru tidak hanya melakukan educating, tapi juga parenting.
Di pesantren yang masih mengikuti tradisi asli, anak-anak dititipkan pada kyai sebagai 'anak angkat'. Mereka menyerap kehidupan kyai dan nyainya, melihat cara hidup, karakter, kebiasaan, dan cara pandang kyai-nyai. Orang tua percaya atmosfir di sekitar kyai memiliki standar nilai yang lebih tinggi daripada di rumah sendiri.
Sekolah yang memiliki jam belajar yang panjang memiliki kesempatan yang hampir mendekati pesantren. Visi sekolah harus dibuat sebagai atmosfir yang melingkupi anak-anak, dengan guru-guru sebagai penjaganya. Kita tidak melihat atmosfir ini sebagai benda nyata (misalnya dalam bentuk tata tertib atau hukuman), tapi semua orang melakukannya karena memang terbiasa demikian. Semua guru melakukannya, semua kakak kelas melakukannya, maka anak-anak baru akan menyesuaikan diri secara alamiah dengan atmosfir yang ada.
Jika sekolah fullday gagal menciptakan atmosfir yang sesuai dengan visi di atas kertas, anak-anak ini akan dibesarkan oleh teman-teman mereka.
19 October 2013
MEREKAYASA ATMOSFIR
Tahun ini adalah tahun pertama saya mengajar di sekolah fullday. Sebelumnya saya selalu mengajar di sekolah biasa yang pulang hanya lewat sedikit dari waktu zuhur. Ini perubahan yang sangat saya syukuri, karena perbedaan ini membuat saya berpikir banyak hal, dan menulis lagi. Yah, paling ngga update status terkait KBM, hehehe... Tapi intinya, otak saya bekerja.
Sebelumnya di sekolah-sekolah biasa, saya merasa selalu kekurangan waktu. Waktu habis untuk sedikitnya 16 pelajaran, dan hanya tersisa sedikit untuk mengembangkan diri dan menanamkan karakter. Ataukah memang selalu demikian, bahwa waktu tidak akan pernah cukup?
Memang aneh jika pendidikan karakter diterjemahkan hanya sebagai buku pelajaran berjudul Pendidikan Karakter, dibahas di kelas, lalu dikerjakan soal-soalnya. Bookish abis ^_^, dan sepertinya tidak banyak berpengaruh ke siswa.
Pendidikan karakter harusnya diciptakan atmosfirnya, dipahamkan, dicontohkan, dilatihkan, disediakan fasilitas/wadah ekspresinya, diberi ruang untuk merasakan kenikmatannya, dsb. Anak kita, baik di sekolah maupun di rumah, harus diselimuti dengan atmosfir itu setiap hari sampai karakternya terbentuk.
Misalnya, karakter gotong royong. Jika ada acara, semuanya turun tangan, dari kepsek, guru, TU, hingga pesuruh. Jika ada rapat, sama-sama menyiapkan ruang rapat, selesainya sama-sama membantu buang sampah di satu tempat, bukan ditinggal berserakan di atas meja.
Frase yang harusnya paling sering terdengar adalah, "Apa yang bisa saya bantu?" Semua itu dilakukan tiap hari, di tiap sisi, oleh tiap orang, sampai siswa bisa melakukannya secara otomatis. Berapa lama? Mungkin tahunan. Bila karakter terbentuk, menjalankan disiplin jadi tidak harus dipaksa-paksa.
Nah, itu baru satu karakter. Pemerintah mintanya 18 loooooh.....*lap keringet*
Sekali lagi, atmosfernya yang harus direkayasa untuk mencapai tujuan. Siapa yang menciptakan dan menjaga atmosfir ini? Tentu saja seluruh manajeman dan dewan guru. Maka internalisasi nilai adalah WAJIB bagi pengelola sekolah, dengan segala cara yang memungkinkan. Kepala sekolah harus memastikan atmosfir ini terbentuk dan jadi mindset seluruh pengelola sekolah.
Selama ini di kebanyakan sekolah, pendidikan karakter masih dipelajari, lalu diperintahkan, kalau tidak dilaksanakan ya diomeli. Ini bukan penanaman karakter, tapi sekadar membuat peraturan. Kalaupun terselip dalam proses KBM, seringkali seperti perang gerilya. Sesekali jika ada kesempatan, dan tidak semua lini ikut bergerak. Kalau begini, bisakah sampai ke tujuan?
Ketika mulai mengajar di sekolah fullday, saya melihat kesempatan untuk menanamkan karakter. Bahkan, mungkin memang tak ada pilihan. Anak-anak ini di sekolah hampir sepanjang hari, lebih lama di banding di rumah. Mungkin tak ada pihak lain yang bisa menerapkan seefektif sekolah fullday.
Kalau atmosfir ini tidak terbentuk, atau terbentuk tapi tidak melingkupi dengan konsisten, ah sayang sekali. Anak-anak ini berkesempatan mendapatkan bukan hanya pendidikan, tapi juga pengasuhan (parenting) yang berkualitas, tapi malah lulus dengan 'pengasuhan' teman sebaya saja.
Sebelumnya di sekolah-sekolah biasa, saya merasa selalu kekurangan waktu. Waktu habis untuk sedikitnya 16 pelajaran, dan hanya tersisa sedikit untuk mengembangkan diri dan menanamkan karakter. Ataukah memang selalu demikian, bahwa waktu tidak akan pernah cukup?
Memang aneh jika pendidikan karakter diterjemahkan hanya sebagai buku pelajaran berjudul Pendidikan Karakter, dibahas di kelas, lalu dikerjakan soal-soalnya. Bookish abis ^_^, dan sepertinya tidak banyak berpengaruh ke siswa.
Pendidikan karakter harusnya diciptakan atmosfirnya, dipahamkan, dicontohkan, dilatihkan, disediakan fasilitas/wadah ekspresinya, diberi ruang untuk merasakan kenikmatannya, dsb. Anak kita, baik di sekolah maupun di rumah, harus diselimuti dengan atmosfir itu setiap hari sampai karakternya terbentuk.
Misalnya, karakter gotong royong. Jika ada acara, semuanya turun tangan, dari kepsek, guru, TU, hingga pesuruh. Jika ada rapat, sama-sama menyiapkan ruang rapat, selesainya sama-sama membantu buang sampah di satu tempat, bukan ditinggal berserakan di atas meja.
Frase yang harusnya paling sering terdengar adalah, "Apa yang bisa saya bantu?" Semua itu dilakukan tiap hari, di tiap sisi, oleh tiap orang, sampai siswa bisa melakukannya secara otomatis. Berapa lama? Mungkin tahunan. Bila karakter terbentuk, menjalankan disiplin jadi tidak harus dipaksa-paksa.
Nah, itu baru satu karakter. Pemerintah mintanya 18 loooooh.....*lap keringet*
Sekali lagi, atmosfernya yang harus direkayasa untuk mencapai tujuan. Siapa yang menciptakan dan menjaga atmosfir ini? Tentu saja seluruh manajeman dan dewan guru. Maka internalisasi nilai adalah WAJIB bagi pengelola sekolah, dengan segala cara yang memungkinkan. Kepala sekolah harus memastikan atmosfir ini terbentuk dan jadi mindset seluruh pengelola sekolah.
Selama ini di kebanyakan sekolah, pendidikan karakter masih dipelajari, lalu diperintahkan, kalau tidak dilaksanakan ya diomeli. Ini bukan penanaman karakter, tapi sekadar membuat peraturan. Kalaupun terselip dalam proses KBM, seringkali seperti perang gerilya. Sesekali jika ada kesempatan, dan tidak semua lini ikut bergerak. Kalau begini, bisakah sampai ke tujuan?
Ketika mulai mengajar di sekolah fullday, saya melihat kesempatan untuk menanamkan karakter. Bahkan, mungkin memang tak ada pilihan. Anak-anak ini di sekolah hampir sepanjang hari, lebih lama di banding di rumah. Mungkin tak ada pihak lain yang bisa menerapkan seefektif sekolah fullday.
Kalau atmosfir ini tidak terbentuk, atau terbentuk tapi tidak melingkupi dengan konsisten, ah sayang sekali. Anak-anak ini berkesempatan mendapatkan bukan hanya pendidikan, tapi juga pengasuhan (parenting) yang berkualitas, tapi malah lulus dengan 'pengasuhan' teman sebaya saja.
07 August 2013
MY TWEETS ON #SERAGAM (2)
- Eh jadi inget rapat program sekolah bbrp hari yl, bahas ttg standar penampilan siswa dan guru di sekolah
- Di SMA Yapera standar minimalnya berseragam, baju dimasukkan, atribut, celana panjang ut putra, lengan panjang & rok lipit lebar ut putri.
- Yg kemarin lama dibahas ttg rambut. Prinsip1: Model tdk boleh menyerupai lawan jenis. Prinsip2: Harus rapi. Nah ttg rapi ini gmn standarnya?
- Kenapa siswa & guru pria di Indonesia kebanyakan dilarang gondrong? Apa panjang rambut berpengaruh pada prestasi? Apa gondrong = berantakan?
- Tapi akhirnya diputuskan kl kita di SMA Yapera ga usah liat sekolah anu yg siswanya boleh gondrong, sekolah anu siswanya rambut 2 senti
- Tiap lingkungan punya standar sendiri sesuai nilai2 yg dipercaya, jadi kita kudu merumuskan sendiri, rapi menurut kita tuh gimana.
- Jadi siswa & guru pria kita boleh gondrong? Atau harus 2 senti? Ngga. Dua2nya ngga, karena bukan itu nilai yg kita pegang. Gitu, guys
- Guru2 tuh suka gerah liat cara siswa pake seragam, terutama yg cowo. Tiap orang punya selera masing2, tapi kan tetep kudu enak diliat dong.
- Tapi kata saya sih, mereka lagi berproses, termasuk nyari gaya penampilan yg paling bisa menunjukkan 'who i am'.
- Sekarang biar aja dulu gaya rambut aneh, pake baju ga liat2 kondisi dulu dsb. Pas jadi alumni, bakal jauh membaik kok.
- Yg perlu anak2 tau tuh, mereka harus pilih gaya (pakaian, aksesori, cara mikir, cara gaul) sesuai prinsip. Bkn ikut2an trend atau lingkungan
MY TWEETS ON #SERAGAM (1)
- Pake
#seragam itu asik ga? Saya sih ga gitu suka. Sekarang dikasih seragam upacara 1 stel, batik 1 stel, cukup. - Kata Dr. Seuss, "Why fit in when you're born to stand out." Kalo pake
#seragam, saya ga bisa stand out, alias 'ga keliatan'.get dah, jangan nambah! - Tapi ada juga yang suka rela pake
#seragam. Misalnya, janjian beli baju samaan bareng temen se-geng. Atau rame2 bikin jaket angkatan. - Idealnya
#seragam itu dipake bukan karena disuruh, tapi karena kepengen aja kompakan. Asalnya hati yang kompak, jadi pengen luarnya juga. #Seragam jadi asik dipake kl kita bangga dg apa yg diwakili olehnya. Kalo ga bangga sama sekolahnya, mana bisa bangga pake seragamnya.- Dan tentu saja, biar asik dipake,
#seragam harus keren, ga pasaran, bisa customized dg ciri khas msg2 org >> Lah ini yg susah diwujudkan - Nah itu dia, yang namanya
#seragam sebagai identitas kelompok, bukan sebagai 'penjajahan' ^_~v - Guru2 piket sering ngejar anak2 yang ga pake atribut wajib. Kesian guru piketnya, kesian anaknya. Siapa yang salah? Ya sekolahnya ^_^;
- Kenapa sekolahnya yang 'salah'? Krn blm bisa bikin anak bangga pake atribut sekolah sendiri. Tapi emang atributnya jg kurang keren kali
- Terus ada yang bilang, nunggu kompak mah lama. Seragamin dulu, nanti kompaknya ikut muncul.
#seragam - Pake
#seragam sama semua, jadi gada persaingan, ga ada pamer, ga ada gap2an antar kelas. Lebur jadi satu, merdeka! >> bener ga kira2? - Ada siswa yg pernah nulis ttg
#seragam di kelas saya. Menurutnya, biar diseragamin, kalo mo pamer kekayaan mah selalu ada jalannya. - Biar udah diseragamin, ga berarti gap2an antar kelas jadi hilang. Karena masalahnya bukan soal
#seragam atau ngga, tapi budaya sekolah. - Gimana sekolah bikin sistem & program biar lingkungan jadi egaliter, kompak. Bukan cuma ngurusin yang luar2 kayak
#seragam. - Di sekolah kami, setiap pekan ada 5 jam pelajaran di mana semua anak dari kelas X, XI, XII digabung dalam kelompok2 kecil.
- Selain keg osis & eskul, ada acara2 tradisi yg menggabungkan seluruh siswa antar angkatan (teater kolosal, sma fair, mabit, fieldtrip)
- Di kelas PD (di sekolah lain disebut BP), kami ada materi khusus tentang hadist 'menghormati yang tua menyayangi yang muda'.
- Itu usaha membentuk budaya egaliter untuk menghilangkan gap2 yg ada. Mudah2an jadi penyeimbang peraturan
#seragam yang masih kami pakai.
25 May 2013
BUKAN BARANG ASING
Ketika keluar dari ruangan pengumuman kelulusan, saya terkejut menemkan siswa-siswa kelas X dan XI tumpah ke koridor. Mereka berdiri di sisi, seperti menyambut kakak kelas mereka yang baru saja menerima amplop basil ujian.
Tidak tau siapa yang memulai, tapi ini spontanitas saja. Tak ada guru yang menyuruh atau mengatur mereka.
![]() |
| pada nungguin anak kelas xii lewat di ujung sana |
Mungkin ini salah satu keuntungan sekolah yang isinya tak lebih dari 200 orang. Semua saling kenal dan sering berada dalam kegiatan yang sama. Kelas seni dan Rohis kami digabung, tidak pertingkat. Di OSIS juga demikian. Kami punya tradisi yang melibatkan seluruh siswa secara intens tanpa terkecuali (bukan hanya anak OSIS atau panitia), seperti pementasan teater kolosal, SMA Fair, dan menginap di sekolah setiap malam Maulid dan makan dari nampan bersama-sama. Prinsip sesuai hadist bahwa 'yang lebih tua dihormati, yang lebih muda di sayang' juga masuk dalam materi kelas pengembangan diri.
![]() |
| wawan dan syarif waktu itu kelas xii, ariq kelas xi, yang lain ga keliatan mukanya jadi saya ga tau kelas berapa. mereka makan senampan berenam. |
Masalah pasti ada saja, biasalah. Ada kelompok-kelompok di kelas, ada gesekan dengan kakak/adik kelas. Tapi kasus bullying memang hampir tidak ada. Jadi anak kelas X, XI dan XII duduk barang di kantin atau saling ledek dengan akrab di twitter kelihatannya bukan barang yang terlalu asing di sekolah kami.
![]() |
| nita, imel dan madda waktu itu kelas xii, citra masih kelas xi (pake jaket osis), gita, fitri dan anoy masih anak baru. semua makan bareng semeja di kantin. |
08 March 2013
BUDAYA SEKOLAH
Di sekolah-sekolah, plang dan spanduk 'Jagalah
Kebersihan' atau 'Buanglah Sampah di Tempatnya' bertaburan. Apa kelas
jadi bersih? Apa di kolong-kolong meja tak ada lagi sampah bekas makanan? Apa
pojok2 dan koridor bebas sampah? Apa lantai kantin rapi?
Banyak pula plang berbahasa Inggris, dari yang bener sampe yang ngaco. Apakah itu membuat siswa lancar berbahasa Inggris? Ataukah membuat siswa memiliki wawasan global? Atau nilai Bahasa inggris bisa terkatrol?
Karena budaya, mulai dari buang sampah, menjawab salam, sampai yang 'besar2' seperti toleransi, wawasan global, kritis, atau apalah, bukan hanya diperintahkan, tapi juga dicontohkan, dilatihkan, dibiasakan, didukung, didampingi, disediakan fasilitasnya. dari semua sisi, oleh semua orang. Sampai semua anggota komunitas di situ merasa bahwa budaya bersih, budaya mengasihi, budaya apapun yang dimiliki, bukanlagi aturan yang diterapkan, tapi kebiasaan. Menang seharusnya begitu. Tidak ada cara lain yang lebih 'gue' dibanding cara itu.
Tentu saja, ortunya dulu sebelum anak. Gurunya dulu sebelum siswa. Hayooo, gimana caranya supaya guru bisa 'berbudaya'?
Omong2, jauh lebih sulit mendidik GURUNYA dibanding mendidik siswanya. lebih sulit mendidik ORTUNYA dibanding mendidik anaknya. Pengalaman pribadi.
Banyak pula plang berbahasa Inggris, dari yang bener sampe yang ngaco. Apakah itu membuat siswa lancar berbahasa Inggris? Ataukah membuat siswa memiliki wawasan global? Atau nilai Bahasa inggris bisa terkatrol?
Karena budaya, mulai dari buang sampah, menjawab salam, sampai yang 'besar2' seperti toleransi, wawasan global, kritis, atau apalah, bukan hanya diperintahkan, tapi juga dicontohkan, dilatihkan, dibiasakan, didukung, didampingi, disediakan fasilitasnya. dari semua sisi, oleh semua orang. Sampai semua anggota komunitas di situ merasa bahwa budaya bersih, budaya mengasihi, budaya apapun yang dimiliki, bukanlagi aturan yang diterapkan, tapi kebiasaan. Menang seharusnya begitu. Tidak ada cara lain yang lebih 'gue' dibanding cara itu.
Tentu saja, ortunya dulu sebelum anak. Gurunya dulu sebelum siswa. Hayooo, gimana caranya supaya guru bisa 'berbudaya'?
Omong2, jauh lebih sulit mendidik GURUNYA dibanding mendidik siswanya. lebih sulit mendidik ORTUNYA dibanding mendidik anaknya. Pengalaman pribadi.
03 February 2013
APAKAH SAYA SEBEGITU MEMBOSANKAN?
Beberapa waktu yang lalu, saya mengajar di SMK BN. Hari itu hari Sabtu yang mendung, jam tujuh pagi. Setelah beberapa menit, salah seorang siswa terangguk-angguk di baris ketiga. Mengantuk.
Xixixi.... Apakah saya sebegitu membosankan?
Mungkin mood saya sedang bagus, karena alih-alih marah atau kesal, saya malah nyengir-ngengir bernostalgia.
SMK BN adalah sekolah berbasis pesantren. Saya juga dulu murid di sekolah berbasis pesantren. Jadi saya mengerti bahwa anak-anak ini harus bangun jauh sebelum subuh untuk antri mandi. Kalau menunggu setelah subuh, bisa tidak kebagian mandi, dan beresiko kehabisan air juga.
Setelah subuh ada tilawah dan mufradat, piket sarapan, sekolah, dan seterusnya kegiatan berturut-turut, mulai dari yang wajib sampai yang pilihan. Belum lagi mengurus keperluan pribadi seperti cuci setrika dan sebagainya.
Jadi saya mengalami juga tuh, yang seperti itu. Terangguk-angguk ngantuk di kelas. Dan sepertinya itu alasan kenapa saya tidak marah, justru menganggapnya lucu sekaligus jatuh kasihan.
Di hari lainnya, saya masuk ke salah satu kelas. Di sekolah saya, meja kursi guru tidak beda dengan siswa. Begitu duduk, pandangan saya jatuh pada meja tanpa taplak di hadapan. Ya ampyuuuun.... penuh contekan isinya! Saya sontak terbahak, tapi dalam hati saja. Yang muncul di luar cuma mesem-mesem sambil menunjukan apa yang tertulis di atas meja itu pada pada para siswa.
Saya sendiri hampir tidak pernah nyontek. Pernah sih melihat lembar jawaban teman, tapi malah ragu jangan-jangan dia salah. Ga jadi deh nyonteknya (eheheh, mo nyontek aja kok pake cerewet). Tapi melihat meja penuh contekan membawa saya (lagi-lagi) bernostalgia.
Mungkin sebagai guru harusnya saya menasihati para siswa dan menunjukkan keprihatinan saya pada kebiasaan buruk ini. Tapi maklumlah, kadang otak ini lemot jalannya. Bukannya prihatin, kok saya malah merasa hal ini lucu.
Saya bagikan cerita ini pada sahabat-sahabat saya di grup whatsapp, yang membawa kami semua mengingat cerita-cerita masa lalu. Nah, terbukti memang ada orang yang sama anehnya dengan saya, bukannya menasihati malah cekikikan ^o^.
Lalu yang terakhir, ini baru terjadi kemarin. Jadi mulai Januari ini, sekolah saya mengeluarkan kebijakan tidak membawa hp di kelas. Kebijakan ini berlaku baik bagi guru dan siswa. Lalu kemarin ada kasus: karena dilarang bawa hp, eeeeh siswa bawa iPod ke kelas.
Yang dilarang kan hp, jadi apa yang salah?
Hwahahahaha..... We can't beat them, for sure! *nyengir sambil tepok jidad*
Apa yang saya pelajari kemudian?
Yaitu bahwa ketika kita memakai kacamata yang lebih positif pada siswa, segala macam masalah bisa terlewati dengan hati yang lebih lapang. Siswa itu bukan 'lawan' bagi pihak sekolah loh. Bila ada kelakuan yang tidak sesuai harapan sekolah, tidak selalu diartikan sebagai upaya melawan otoritas, makar, usaha menghancurkan tatanan. Kalau kita memandang demikian, itu yang dinamakan 'take it too personal'. Dengan kata lain, kita tersinggung.
Kadang siswa bandel, mungkin hanya karena kurang tidur, atau sekedar clueless, atau malah kreatifitas mereka dalam hal problem solving. Dan saya HARUS terus mengingat hal ini, karena sering sekali lupa.
Tapi tidur di kelas, mencoret-coret meja untuk contekan, dan menyetel iPod saat belajar di kelas itu SALAH!
Memang, kemungkinan besar memang demikian. Tapi kalau semua itu dipandang sebagai kenyataan bahwa mereka belum bisa mengendalikan diri sendiri, dan bukan bentuk perlawanan pada guru/sekolah, kita akan bisa menyelesaikannya dengan lebih santai, tanpa tersinggung, dan -mudah-mudahan- lebih bijaksana.
*gambar ngambil semua di googleimages, mohon keikhlasannya.
Xixixi.... Apakah saya sebegitu membosankan?
Mungkin mood saya sedang bagus, karena alih-alih marah atau kesal, saya malah nyengir-ngengir bernostalgia.
SMK BN adalah sekolah berbasis pesantren. Saya juga dulu murid di sekolah berbasis pesantren. Jadi saya mengerti bahwa anak-anak ini harus bangun jauh sebelum subuh untuk antri mandi. Kalau menunggu setelah subuh, bisa tidak kebagian mandi, dan beresiko kehabisan air juga.
Setelah subuh ada tilawah dan mufradat, piket sarapan, sekolah, dan seterusnya kegiatan berturut-turut, mulai dari yang wajib sampai yang pilihan. Belum lagi mengurus keperluan pribadi seperti cuci setrika dan sebagainya.
Jadi saya mengalami juga tuh, yang seperti itu. Terangguk-angguk ngantuk di kelas. Dan sepertinya itu alasan kenapa saya tidak marah, justru menganggapnya lucu sekaligus jatuh kasihan.
Di hari lainnya, saya masuk ke salah satu kelas. Di sekolah saya, meja kursi guru tidak beda dengan siswa. Begitu duduk, pandangan saya jatuh pada meja tanpa taplak di hadapan. Ya ampyuuuun.... penuh contekan isinya! Saya sontak terbahak, tapi dalam hati saja. Yang muncul di luar cuma mesem-mesem sambil menunjukan apa yang tertulis di atas meja itu pada pada para siswa.
Saya sendiri hampir tidak pernah nyontek. Pernah sih melihat lembar jawaban teman, tapi malah ragu jangan-jangan dia salah. Ga jadi deh nyonteknya (eheheh, mo nyontek aja kok pake cerewet). Tapi melihat meja penuh contekan membawa saya (lagi-lagi) bernostalgia.
Mungkin sebagai guru harusnya saya menasihati para siswa dan menunjukkan keprihatinan saya pada kebiasaan buruk ini. Tapi maklumlah, kadang otak ini lemot jalannya. Bukannya prihatin, kok saya malah merasa hal ini lucu.
Saya bagikan cerita ini pada sahabat-sahabat saya di grup whatsapp, yang membawa kami semua mengingat cerita-cerita masa lalu. Nah, terbukti memang ada orang yang sama anehnya dengan saya, bukannya menasihati malah cekikikan ^o^.
Lalu yang terakhir, ini baru terjadi kemarin. Jadi mulai Januari ini, sekolah saya mengeluarkan kebijakan tidak membawa hp di kelas. Kebijakan ini berlaku baik bagi guru dan siswa. Lalu kemarin ada kasus: karena dilarang bawa hp, eeeeh siswa bawa iPod ke kelas.
Yang dilarang kan hp, jadi apa yang salah? Hwahahahaha..... We can't beat them, for sure! *nyengir sambil tepok jidad*
Apa yang saya pelajari kemudian?
Yaitu bahwa ketika kita memakai kacamata yang lebih positif pada siswa, segala macam masalah bisa terlewati dengan hati yang lebih lapang. Siswa itu bukan 'lawan' bagi pihak sekolah loh. Bila ada kelakuan yang tidak sesuai harapan sekolah, tidak selalu diartikan sebagai upaya melawan otoritas, makar, usaha menghancurkan tatanan. Kalau kita memandang demikian, itu yang dinamakan 'take it too personal'. Dengan kata lain, kita tersinggung.
Kadang siswa bandel, mungkin hanya karena kurang tidur, atau sekedar clueless, atau malah kreatifitas mereka dalam hal problem solving. Dan saya HARUS terus mengingat hal ini, karena sering sekali lupa.
Tapi tidur di kelas, mencoret-coret meja untuk contekan, dan menyetel iPod saat belajar di kelas itu SALAH!Memang, kemungkinan besar memang demikian. Tapi kalau semua itu dipandang sebagai kenyataan bahwa mereka belum bisa mengendalikan diri sendiri, dan bukan bentuk perlawanan pada guru/sekolah, kita akan bisa menyelesaikannya dengan lebih santai, tanpa tersinggung, dan -mudah-mudahan- lebih bijaksana.
*gambar ngambil semua di googleimages, mohon keikhlasannya.
11 January 2013
AHAYDE
Jadi memang itu yang tertulis: AHAYDE. Yang artinya kira-kira sejalan dengan 'asik, dah!'.
Setelah saya bicara berbusa-busa 40 menit tentang what-so-called kisah inspiratif, dengan suara serak akibat flu, saya mendapat 'ahayde' di kertas yang seharusnya berisi narasi/kontemplasi masing-masing siswa kelas X SMA. Kesal? Tentu saja. Guru juga manusia.
Di berbagai blog guru yang saya stalk diam-diam ^_^, biasanya yang tertulis adalah kisah keberhasilan, metode sukses, atau keisengan manis dari siswa-siswa di kelas. Meski saya tahu bahwa kisah pembelajaran tiap guru di kelas pastilah tak selalu mulus, tapi sepertinya menceritakan kegagalan perlu juga sesekali. Untuk evaluasi, paling tidak.
Jadi begitulah, saya mendapat 'ahayde'. Tapi bukan hanya itu, ada lagi yang lain:
Oh, my.... ^_^;
Itu di kelas X. Jam berikutnya di salah satu kelas XII. Saya bicara mungkin sekitar 80 menit, diselingi beberapa komentar dan pertanyaan singkat dari beberapa siswa, dan selama itu hanya setengah baris ke depan yang mendengarkan. Setengah bagian ke belakang ngobrol sendiri. Sakit hati? Ya, tentu saja saya merasa tidak dihormati.
Harusnya jangan kebanyakan ceramah? Mungkin saja. Tapi untuk hal yang saya sampaikan kemarin, memang tak banyak metode lain yang bisa dipilih. Kami bicara tentang passion, tentang rencana masa depan, dan tentang 4E. Belum ada ide menjadikannya metode yang lebih hands on.
Tapi saya malas sekali bila harus marah-marah di kelas. Bagi anak kelas XII SMA, marah-marah akan selalu jadi bumerang bagi guru. Semua guru yang mengajar tingkat SLTA pasti sepakat. Bukannya siswa akan mengekeret takut, tapi justru tambah nantangin. Alhasil, bukannya guru 'menang' dan kelas damai, tapi malah tambah kesel dan kelas makin tak kondusif.
Dalam kondisi seperti ini saya teringat sahabat saya sesama pendidik, Wiwiet Mardiati. Dialah yang menasihati saya agar "Don't take it personally." Kelas bukanlah ring tinju untuk membuktikan yang siapakah yang menang dan berkuasa, apakah guru atau murid. Jadi tiap 'kebandelan' yang dilakukan bukanlah karena siswa berniat mengalahkan gurunya, atau mau meruntuhkan otoritas sekolah, tapi karena mereka belum bisa mengalahkan diri sendiri. Guru jangan merasa offended, justru harus sympathize.
Sementara ini, saya belum menemukan cara lain untuk mengelola emosi di kelas (atau di rumah bersama anak) yang lebih baik dari caranya Wiwiet ini. Dengan cara ini, saya bisa mengembalikan lagi kewarasan yang sempat hilang karena emosi, dan membalik kemarahan jadi simpati.
Saya tidak lagi marah pada beberapa siswa kelas X dalam kisah 'ahayde' di atas. Mereka baru kelas X, baru 6 bulan pindah dari SMP ke SMA. Masih suka bercanda konyol, dan boleh jadi belum terbiasa menulis kontemplatif seperti kakak-kakak kelas mereka (seperti blog post saya yang ini).
Jadi, kasus 'ahayde' sepenuhnya bisa saya pahami. Berarti, sedikit demi sedikit, kesadaran akan sikap yang lebih dewasa, termasuk diantaranya keterampilan membangun visi dan berkontlempasi, harus mulai diterapkan bagi kelas X.
Seadang pada cerita kedua, saya masih menata hati soal ini. Kemarin saya biarkan saja yang menolak memperhatikan, dan fokus pada anak-anak yang dari sorot matanya saya tahu bahwa mereka tertarik. Karena tak adil jika saya membuang waktu untuk mengurusi orang yang menolak saya, dan mengabaikan orang yang bersedia mendengarkan.
Yang penting, saya sudah menyampaikan bahwa saya concern terhadap hidup mereka.
Tiap orang punya punya sosok 'guru' masing-masing di antara semua pengajar yang pernah dia temui sepanjang hidup. 'Guru' itu yang menyentuh hati dan mengubah hidupnya. Dan tentu saja, sosok guru itu belum tentu saya. Bagi yang menolak memperhatikan saya kemarin itu, mereka akan menemukan 'guru'nya sendiri nanti, insya Allah.
Tapi memang, begitu saya menggeser tempat menjadi seseorang yang bersimpati, saya merasa prihatin. Sebentar lagi lulus SLTA, tapi belum bisa mengendalikan diri sendiri dan memilih apa yang lebih penting? Ah, ini benar-benar jadi bahan evaluasi bagi saya. Di mana salahnya? Apakah sistemnya, atau ada hal lain yang belum saya mengerti di sini?
Jadi begitulah. Menggeser tempat dari guru yang marah menjadi guru yang bersimpati ternyata works on me.
Setelah saya bicara berbusa-busa 40 menit tentang what-so-called kisah inspiratif, dengan suara serak akibat flu, saya mendapat 'ahayde' di kertas yang seharusnya berisi narasi/kontemplasi masing-masing siswa kelas X SMA. Kesal? Tentu saja. Guru juga manusia.
Di berbagai blog guru yang saya stalk diam-diam ^_^, biasanya yang tertulis adalah kisah keberhasilan, metode sukses, atau keisengan manis dari siswa-siswa di kelas. Meski saya tahu bahwa kisah pembelajaran tiap guru di kelas pastilah tak selalu mulus, tapi sepertinya menceritakan kegagalan perlu juga sesekali. Untuk evaluasi, paling tidak.
Jadi begitulah, saya mendapat 'ahayde'. Tapi bukan hanya itu, ada lagi yang lain:
Oh, my.... ^_^;
Itu di kelas X. Jam berikutnya di salah satu kelas XII. Saya bicara mungkin sekitar 80 menit, diselingi beberapa komentar dan pertanyaan singkat dari beberapa siswa, dan selama itu hanya setengah baris ke depan yang mendengarkan. Setengah bagian ke belakang ngobrol sendiri. Sakit hati? Ya, tentu saja saya merasa tidak dihormati.
Harusnya jangan kebanyakan ceramah? Mungkin saja. Tapi untuk hal yang saya sampaikan kemarin, memang tak banyak metode lain yang bisa dipilih. Kami bicara tentang passion, tentang rencana masa depan, dan tentang 4E. Belum ada ide menjadikannya metode yang lebih hands on.
Tapi saya malas sekali bila harus marah-marah di kelas. Bagi anak kelas XII SMA, marah-marah akan selalu jadi bumerang bagi guru. Semua guru yang mengajar tingkat SLTA pasti sepakat. Bukannya siswa akan mengekeret takut, tapi justru tambah nantangin. Alhasil, bukannya guru 'menang' dan kelas damai, tapi malah tambah kesel dan kelas makin tak kondusif.
Dalam kondisi seperti ini saya teringat sahabat saya sesama pendidik, Wiwiet Mardiati. Dialah yang menasihati saya agar "Don't take it personally." Kelas bukanlah ring tinju untuk membuktikan yang siapakah yang menang dan berkuasa, apakah guru atau murid. Jadi tiap 'kebandelan' yang dilakukan bukanlah karena siswa berniat mengalahkan gurunya, atau mau meruntuhkan otoritas sekolah, tapi karena mereka belum bisa mengalahkan diri sendiri. Guru jangan merasa offended, justru harus sympathize.
Sementara ini, saya belum menemukan cara lain untuk mengelola emosi di kelas (atau di rumah bersama anak) yang lebih baik dari caranya Wiwiet ini. Dengan cara ini, saya bisa mengembalikan lagi kewarasan yang sempat hilang karena emosi, dan membalik kemarahan jadi simpati.
Saya tidak lagi marah pada beberapa siswa kelas X dalam kisah 'ahayde' di atas. Mereka baru kelas X, baru 6 bulan pindah dari SMP ke SMA. Masih suka bercanda konyol, dan boleh jadi belum terbiasa menulis kontemplatif seperti kakak-kakak kelas mereka (seperti blog post saya yang ini).
Jadi, kasus 'ahayde' sepenuhnya bisa saya pahami. Berarti, sedikit demi sedikit, kesadaran akan sikap yang lebih dewasa, termasuk diantaranya keterampilan membangun visi dan berkontlempasi, harus mulai diterapkan bagi kelas X.
Seadang pada cerita kedua, saya masih menata hati soal ini. Kemarin saya biarkan saja yang menolak memperhatikan, dan fokus pada anak-anak yang dari sorot matanya saya tahu bahwa mereka tertarik. Karena tak adil jika saya membuang waktu untuk mengurusi orang yang menolak saya, dan mengabaikan orang yang bersedia mendengarkan.
Yang penting, saya sudah menyampaikan bahwa saya concern terhadap hidup mereka. Tiap orang punya punya sosok 'guru' masing-masing di antara semua pengajar yang pernah dia temui sepanjang hidup. 'Guru' itu yang menyentuh hati dan mengubah hidupnya. Dan tentu saja, sosok guru itu belum tentu saya. Bagi yang menolak memperhatikan saya kemarin itu, mereka akan menemukan 'guru'nya sendiri nanti, insya Allah.
Tapi memang, begitu saya menggeser tempat menjadi seseorang yang bersimpati, saya merasa prihatin. Sebentar lagi lulus SLTA, tapi belum bisa mengendalikan diri sendiri dan memilih apa yang lebih penting? Ah, ini benar-benar jadi bahan evaluasi bagi saya. Di mana salahnya? Apakah sistemnya, atau ada hal lain yang belum saya mengerti di sini?
Jadi begitulah. Menggeser tempat dari guru yang marah menjadi guru yang bersimpati ternyata works on me.
21 December 2012
DEAR MY STUDENTS #2
Pagi yang cerah ^o^.... Apa kabar, semua?
Ada rencana apa aja nih, untuk liburan? Saya setuju banget sama RT salah satu siswa beberapa hari yang lalu. Kalian tuh kayaknya kebanyakan belajar deh. Hati-hati ah, bisa jadi pinter nanti.... Nah, sekarang waktunya melihat dunia. Coba nih, saya tanya:
Buat yang kelas XII, jangan gunakan liburan ini hanya untuk jalan-jalan doang. Sekarang waktunya untuk ancang-ancang masa depan. Gimana caranya? Salah atunya gini:
Punya kakak atau temen atau saudara yang kuliah? Minta ajak ke kampusnya, lihat langsung isi kampus, minta terangin sistem belajarnya, kelebihan kekurangannya. Ini manjur banget buat persiapan masuk dunia kampus, biar ga salah pilih. Beda banget loh, antara cuma lihat dari brosur dengan dateng langsung dan ngobrol sama 'pelaku'.
Yang ga kalah penting, bikin ancang-ancang tempat kerja. Ini untuk yang ga memilih kuliah atau mau kuliah sambil kerja. Ada beberapa tempat/kantor yang mengizinkan karyawannya menerima tamu. Kalau ada yang punya kakak atau teman atau saudara yang sudah bekerja, dan kalau diizinkan sama bosnya, datangi aja. Cari tau enak/ga enaknya kerja jadi SPG, jaga counter, gudang, kasir, administrasi, koki, frontdesk, dll. Lebih seru lagi kalo temen kamu punya usaha sendiri. Magang bisa jadi pengalaman berharga!
Para alumni yang baca note ini, adik-adiknya tolong dibantu yaaa.... prokprokprok!
Jadi, jangan sia-siakan masa liburan. Jangan sampe, eh udah 6 Januari, besok udah masuk lagi, kok belum ke mana-man.
Oke deh, selamat liburan, semoga tanggal 7 kita bisa kembali ke sekolah dengan fresh!
Salam,
Irma.
Ada rencana apa aja nih, untuk liburan? Saya setuju banget sama RT salah satu siswa beberapa hari yang lalu. Kalian tuh kayaknya kebanyakan belajar deh. Hati-hati ah, bisa jadi pinter nanti.... Nah, sekarang waktunya melihat dunia. Coba nih, saya tanya:
Udah pernah lihat proses kupu-kupu keluar dari kepompong?
Udah pernah nyebrang ke Kepulauan Seribu?
Udah pernah lihat padang edelweiss langsung?
Udah pernah lihat matahari terbit dari puncak gunung?
Udah pernah bakar udang segede gaban di pinggir pantai?
Okelah, mungkin biayanya agak gede. Sekarang yang ini:
Pernah nyusurin jalur kereta commuter line dari ujung sampe ujung?
Pernah nonton pagelaran di GKJ?
Pernah ke musium apa aja?
Pernah ke Kampung Betawi di Setu Babakan?
Pernah ke Pecinan-nya di sekitar Jakarta (banyak nih)?
Pernah foto di jembatan Passer Baroe?
Pernah nyari barang vintage di jalan Surabaya?
Pernah muter-muterin kota tua?
Atau gimana kalo liburan ini:
Bikin web?
Belajar nyetir?
Belajar biola?
Punya kakak atau temen atau saudara yang kuliah? Minta ajak ke kampusnya, lihat langsung isi kampus, minta terangin sistem belajarnya, kelebihan kekurangannya. Ini manjur banget buat persiapan masuk dunia kampus, biar ga salah pilih. Beda banget loh, antara cuma lihat dari brosur dengan dateng langsung dan ngobrol sama 'pelaku'.
Yang ga kalah penting, bikin ancang-ancang tempat kerja. Ini untuk yang ga memilih kuliah atau mau kuliah sambil kerja. Ada beberapa tempat/kantor yang mengizinkan karyawannya menerima tamu. Kalau ada yang punya kakak atau teman atau saudara yang sudah bekerja, dan kalau diizinkan sama bosnya, datangi aja. Cari tau enak/ga enaknya kerja jadi SPG, jaga counter, gudang, kasir, administrasi, koki, frontdesk, dll. Lebih seru lagi kalo temen kamu punya usaha sendiri. Magang bisa jadi pengalaman berharga!
Para alumni yang baca note ini, adik-adiknya tolong dibantu yaaa.... prokprokprok!
Jadi, jangan sia-siakan masa liburan. Jangan sampe, eh udah 6 Januari, besok udah masuk lagi, kok belum ke mana-man.
Oke deh, selamat liburan, semoga tanggal 7 kita bisa kembali ke sekolah dengan fresh!
Salam,
Irma.
Subscribe to:
Posts (Atom)











