Evaluasi
pencapaian pendidikan karakter dalam acara Fieldtrip 2016 SMA Yapera ke
Saung Angklung Mang Udjo Bandung, diikuti 200 peserta.
1. Peserta melaksanakan shalat tanpa diatur guru
2. Peserta antri dengan tertib saat mengambil wudhu tanpa diatur guru (spt dlm foto)
3. Peserta antusias mengikuti acara dan tertib mengikuti panduan
4. Peserta tidak bubar hingga selesai menjawab salam penutup dari pembawa acara
5. Secara umum tidak ada kemasan makanan/minuman di kolong bangku bis
maupun tempat acara, namun masih ditemukan satu botol aqua dan dua
lembar tisu di tempat duduk penonton
6. Tidak ditemukan peserta yang merokok.
7. Peserta sudah ada di bis pada waktu yang ditentukan.
Mengutip kata Pak Putra Indonesia,
hal2 seperti ini adalah hal2 kecil dan rutin yang didawamkan guru pada
siswa setiap harinya. Untuk hal2 sederhana seperti ini, kami butuh
paling tidak sebelas bulan. Kuncinya ada pada keteladanan dan
konsistensi, hingga masalah semacam buang sampah sudah menjadi
kebiasaan, bukan lagi peraturan.
Tidak massal, namun intens.
Bukan conditioning, tapi penyadaran.
Ikhlas jika hasil besar tak segera datang.
Percaya bahwa Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali jika ada perubahan dalam jiwa mereka.
Showing posts with label program sekolah. Show all posts
Showing posts with label program sekolah. Show all posts
05 June 2016
21 February 2015
JUALAN DI SEKOLAH

Kudapan dari Bu Ida Farida, beli dari siswa yang jualan di sekolah. Karena banyak siswa yang jualan, tahun ini sekolah memesan kue dari mereka untuk kudapan acara-acara sekolah. Alhamdulillah, market week nanti kayanya lebih mudah, anak-anaknya sudah biasa bisnis.
Market week adalah salah satu proyek kelas pengembangan diri untuk kelas XII. Tapi anak-anak kelas XII bukan hanya diminta berjualan, tapi juga membuat business plan dan laporan keuangannya.
23 August 2014
Bikin PD kelas XII ^_^
Hari ini sekolah kami libur, tapi saya tetap hadir untuk mereview program pengembangan diri. Program pengembangan diri adalah salah satu yang dihapus dari K13, karena diintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Meski demikian kami mempertahankannya karena menganggap ada materi yang lebih efektif jika dikerjakan terpisah. Kata 'dikerjakan' saya garis bawahi ^_^.
Kali ini kami mereview materi kelas XII, apa yang penting, apa yang kurang, ditambah beberapa updates. Aduh, terasa beneeer anak-anak ini makin gede. Lihat saja materinya: 4E, talent show, rencana pendidikan tinggi dan karir, informasi perguruan tinggi beserta ujian masuknya, kunjungan ke kampus, seminar kewirausahaan, membuat business plan, mencari lowongan kerja, masalah pengangguran, TKI, dan persiapan pernikahan. Segala hal yang bisa kami pikirkan untuk membantu anak-anak ini menuju kedewasaan, agar mereka bisa memecahkan masalah, bisa menciptakan sesuatu, dan bisa hidup bersama. Karena itulah makna 'belajar' menurut kami.
Karena lingkungan sekolah kami ada di kalangan menengah ke bawah, maka kebanyakan siswa saya memilih bekerja dibanding kuliah. Langsung bekerja sebenarnya bagus sekali, mereka bisa segera mandiri dan tidak lagi menyusahkan orang tua. Sayangnya kebanyakan hanya berpikir sampai di situ, hanya jadi SPG. Tanpa usaha meningkatkan diri lagi.
Setelah 5 tahun, ketika kebutuhan main banyak, usia tidak lagi muda dan gaji tidak naik signifikan sementara jenjang karir sulit dicapai tanpa kompetensi yang memadai, baru terasa sulitnya. Inilah yang ingin persiapkan, agar mereka mampu menyesuaikan diri dengan kondisi sekarang, tapi tetap berencana jauh ke depan, dan punya daya juang yang baik untuk mencapai hidup yang sejahtera.
Kali ini kami mereview materi kelas XII, apa yang penting, apa yang kurang, ditambah beberapa updates. Aduh, terasa beneeer anak-anak ini makin gede. Lihat saja materinya: 4E, talent show, rencana pendidikan tinggi dan karir, informasi perguruan tinggi beserta ujian masuknya, kunjungan ke kampus, seminar kewirausahaan, membuat business plan, mencari lowongan kerja, masalah pengangguran, TKI, dan persiapan pernikahan. Segala hal yang bisa kami pikirkan untuk membantu anak-anak ini menuju kedewasaan, agar mereka bisa memecahkan masalah, bisa menciptakan sesuatu, dan bisa hidup bersama. Karena itulah makna 'belajar' menurut kami.
Karena lingkungan sekolah kami ada di kalangan menengah ke bawah, maka kebanyakan siswa saya memilih bekerja dibanding kuliah. Langsung bekerja sebenarnya bagus sekali, mereka bisa segera mandiri dan tidak lagi menyusahkan orang tua. Sayangnya kebanyakan hanya berpikir sampai di situ, hanya jadi SPG. Tanpa usaha meningkatkan diri lagi.Setelah 5 tahun, ketika kebutuhan main banyak, usia tidak lagi muda dan gaji tidak naik signifikan sementara jenjang karir sulit dicapai tanpa kompetensi yang memadai, baru terasa sulitnya. Inilah yang ingin persiapkan, agar mereka mampu menyesuaikan diri dengan kondisi sekarang, tapi tetap berencana jauh ke depan, dan punya daya juang yang baik untuk mencapai hidup yang sejahtera.
09 April 2014
PELATIHAN GURU
Beberapa
waktu yang lalu, ada temen yang cerita kalo dia shock (hehehe, lebay)
pas masuk kamar anaknya yang SMP dan menemukan anaknya sedang menghapal,
"Puisi adalah bla bla bla.... Prosa adalah bla bla bla...."
Saya jadi teringat masa sekolah, ketika saya melakukan hal yang sama, menghafal definisi. Tapi teman itu berkata sengit, "Aku bayar mahal di sekolah itu, tapi cara mengajar gurunya masih begini!"
Dia pengennya anak2 membaca beberapa prosa dan puisi, hingga dengan sendirinya ngeh apa itu prosa dan puisi dan perbedaan di antara keduanya tanpa harus menghapal definisi textbook.
Saya nyengir prihatin mikirin sekolah tersebut. Nasiiiib punya ortusis yang paradigma pendidikannya lebih maju. Bakal dikomplen melulu dah. Teman saya memang menyekolahkan anaknya di SMP swasta mahal yang uang pangkalnya sekitar 30jutaan. ~> tapi kata Wiwiet ini masih standar aja untuk wilayah Jakarta.
Begitulah. Sering kali visi misi sekolahnya bagus, kegiatannya mencorong, pialanya berjejer, tapi kesehariannya di kelas masih pakai metode yang sama dengan zaman kita sekolah dulu. Jadi kondisi ini harusnya digimanain?
Ya guru harus digeser paradigmanya, dilatih menggunakan beragam metode, dan lebih penting, dibuat sistem untuk memastikan metode itu beneran dipakai di kelas.
Tapi sebagai guru sekolah swasta, saya mengerti perubahan itu tidak bisa cepat. Guru yang baru lulus seringkali tidak terampil, dan guru yang lama menolak mengajar dengan cara yang lebih efektif. Membuat guru berjalan searah dengan visi sekolah memang tidak mudah.
Di sisi lain, ada kendala biaya dan waktu. Di sekolah yang dananya terbatas, menyisihkan dana untuk pelatihan guru itu tidak mudah. Sementara itu, sekolah yang memiliki sumber dana lebih, waktu tidak selalu tersedia. Ada berbagai ujian, urusan administrasi, kegiatan kesiswaan, lomba2, sampai promosi sekolah. pakai hari Minggu? Mana tega. Sabtu kan masih masuk full, masa' hari Minggu juga dipake kerja? Guru kan juga manusia yang punya kehidupan pribadi.
Jadi?
Jadi ya jalani saja usahanya, siasati saja kondisinya. Untuk mencapai idealisme, memang perlu pengorbanan. Tidak kuat bayar pelatih, ya pelatihnya KS/WKS sendiri. Kan mereka memang yang bertanggung jawab meningkatkan kualitas anak buahnya. Mereka yang harus lebih dulu tau, dan lebih dulu menerapkan metode terbaru. Tidak ada waktu? Kalau terpaksa sekali pakai hari efektif, apa boleh buat.
Gurunya tidak mau? Nah iniiiii.... Nah iniiiii....
Saya jadi teringat masa sekolah, ketika saya melakukan hal yang sama, menghafal definisi. Tapi teman itu berkata sengit, "Aku bayar mahal di sekolah itu, tapi cara mengajar gurunya masih begini!"
Dia pengennya anak2 membaca beberapa prosa dan puisi, hingga dengan sendirinya ngeh apa itu prosa dan puisi dan perbedaan di antara keduanya tanpa harus menghapal definisi textbook.
Saya nyengir prihatin mikirin sekolah tersebut. Nasiiiib punya ortusis yang paradigma pendidikannya lebih maju. Bakal dikomplen melulu dah. Teman saya memang menyekolahkan anaknya di SMP swasta mahal yang uang pangkalnya sekitar 30jutaan. ~> tapi kata Wiwiet ini masih standar aja untuk wilayah Jakarta.
Begitulah. Sering kali visi misi sekolahnya bagus, kegiatannya mencorong, pialanya berjejer, tapi kesehariannya di kelas masih pakai metode yang sama dengan zaman kita sekolah dulu. Jadi kondisi ini harusnya digimanain?
Ya guru harus digeser paradigmanya, dilatih menggunakan beragam metode, dan lebih penting, dibuat sistem untuk memastikan metode itu beneran dipakai di kelas.
Tapi sebagai guru sekolah swasta, saya mengerti perubahan itu tidak bisa cepat. Guru yang baru lulus seringkali tidak terampil, dan guru yang lama menolak mengajar dengan cara yang lebih efektif. Membuat guru berjalan searah dengan visi sekolah memang tidak mudah.
Di sisi lain, ada kendala biaya dan waktu. Di sekolah yang dananya terbatas, menyisihkan dana untuk pelatihan guru itu tidak mudah. Sementara itu, sekolah yang memiliki sumber dana lebih, waktu tidak selalu tersedia. Ada berbagai ujian, urusan administrasi, kegiatan kesiswaan, lomba2, sampai promosi sekolah. pakai hari Minggu? Mana tega. Sabtu kan masih masuk full, masa' hari Minggu juga dipake kerja? Guru kan juga manusia yang punya kehidupan pribadi.
Jadi?
Jadi ya jalani saja usahanya, siasati saja kondisinya. Untuk mencapai idealisme, memang perlu pengorbanan. Tidak kuat bayar pelatih, ya pelatihnya KS/WKS sendiri. Kan mereka memang yang bertanggung jawab meningkatkan kualitas anak buahnya. Mereka yang harus lebih dulu tau, dan lebih dulu menerapkan metode terbaru. Tidak ada waktu? Kalau terpaksa sekali pakai hari efektif, apa boleh buat.
Gurunya tidak mau? Nah iniiiii.... Nah iniiiii....
13 March 2014
LINTASAN PIKIRAN TERKAIT K13
Salah
satu hal yang saya khawatirkan tentang pendidikan di Indonesia
sebenarnya adalah durasi belajar formal yang terlalu panjang setiap
harinya. Karena ada UN, kebanyakan siswa harus menambah jam belajar di
lembaga bimbingan belajar.
Sekarang durasi belajar akan bertambah lagi. Kurikulum 2013 menghendaki penambahan 4-6 jampel/minggu untuk SMA dan 8-12 jampel/minggu untuk SMK. Jadi semua sekolah akan jadi fullday, jam 7 pagi sampai minimal 15 sore. Delapan jam, persis orang kantoran. Kalau ditambah lagi dengan bimbel persiapan ujian, jam berapa sampai di rumah?
Dengan durasi selama itu, siswa akan makin terpisah dari dunia nyata dan menyebabkan hal-hal yang harus dia jalani/kuasai di dunia nyata jadi hilang.
Bagi saya sendiri, anak harus menguasai hal-hal 'remeh' seperti mengerjakan pekerjaan rumah tangga (masak-cuci-beberes), kursus minat/hobi, ikut kegiatan lingkungan seperti arisan keluarga besar dan panitia tujuhbelasan, atau sekedar nonton bioskop dengan orangtua. Itu dunia nyata, yang akan membuat anak-anak menjadi pribadi yang mandiri, bahagia, dan memiliki kecakapan sosial yang baik.
Jika durasi sekolah terlalu lama, apa yang akan dilakukan anak di rumah. Ya, nonton tv atau main game. Itu saja. Mana tega orang tua menyuruh mereka cuci sepatu sendiri?
Kurikulum 2013 mengurangi mata pelajaran, katanya.
Apa yang dikurangi? Pengembangan Diri, TIK (komputer), dan Muatan Lokal dihapus, Bahasa Inggris di jurusan IPA/IPS hanya 2 jam (~> maksut looo? =_=').
Pengembangan Diri dan TIK diintegrasi ke semua mata pelajaran. Muatan Lokal diintegrasi ke mapel Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, dan Kewirausahaan (~> lah, di sma mah ini mapel baru =_='). Dan pramuka wajib.
Bila waktu belajar di sekolah diperpanjang, dalam pikiran saya seharusnya agama, pengembangan diri, seni, olahraga, keterampilan, yang justru ditambah. Yang terjadi malah anak jurusan IPA sekarang dapat 8 jam pelajaran matematika.
Baiklah, diintegrasi. Saya tidak ingin apatis atau pesimis. Jadi mari katakan saja bahwa mengintegrasikan Pengembangan Diri dan TIK ke mata pelajaran perlu kerja keras dari guru dan sekolah. Mohon doa untuk keselamatan kami ^_~
Sekarang durasi belajar akan bertambah lagi. Kurikulum 2013 menghendaki penambahan 4-6 jampel/minggu untuk SMA dan 8-12 jampel/minggu untuk SMK. Jadi semua sekolah akan jadi fullday, jam 7 pagi sampai minimal 15 sore. Delapan jam, persis orang kantoran. Kalau ditambah lagi dengan bimbel persiapan ujian, jam berapa sampai di rumah?
Dengan durasi selama itu, siswa akan makin terpisah dari dunia nyata dan menyebabkan hal-hal yang harus dia jalani/kuasai di dunia nyata jadi hilang.
Bagi saya sendiri, anak harus menguasai hal-hal 'remeh' seperti mengerjakan pekerjaan rumah tangga (masak-cuci-beberes), kursus minat/hobi, ikut kegiatan lingkungan seperti arisan keluarga besar dan panitia tujuhbelasan, atau sekedar nonton bioskop dengan orangtua. Itu dunia nyata, yang akan membuat anak-anak menjadi pribadi yang mandiri, bahagia, dan memiliki kecakapan sosial yang baik.
Jika durasi sekolah terlalu lama, apa yang akan dilakukan anak di rumah. Ya, nonton tv atau main game. Itu saja. Mana tega orang tua menyuruh mereka cuci sepatu sendiri?
Kurikulum 2013 mengurangi mata pelajaran, katanya.
Apa yang dikurangi? Pengembangan Diri, TIK (komputer), dan Muatan Lokal dihapus, Bahasa Inggris di jurusan IPA/IPS hanya 2 jam (~> maksut looo? =_=').
Pengembangan Diri dan TIK diintegrasi ke semua mata pelajaran. Muatan Lokal diintegrasi ke mapel Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, dan Kewirausahaan (~> lah, di sma mah ini mapel baru =_='). Dan pramuka wajib.
Bila waktu belajar di sekolah diperpanjang, dalam pikiran saya seharusnya agama, pengembangan diri, seni, olahraga, keterampilan, yang justru ditambah. Yang terjadi malah anak jurusan IPA sekarang dapat 8 jam pelajaran matematika.
Baiklah, diintegrasi. Saya tidak ingin apatis atau pesimis. Jadi mari katakan saja bahwa mengintegrasikan Pengembangan Diri dan TIK ke mata pelajaran perlu kerja keras dari guru dan sekolah. Mohon doa untuk keselamatan kami ^_~
13 January 2014
KATA MEREKA TENTANG SEKOLAH
Di Facebook, saya bertanya pada siswa yang masih dan pernah saya ajar tentang hal-hal ini:
1. Kalo liburan, kamu kangen sekolah ga? Kenapa?
2. Apa guru2 di SMA Yapera membosankan, suka teriak, dan suka marah kalo ada siswa yang nanya di kelas?
3. Berapa banyak guru yang banyak senyum, ramah, suka bercanda, dan bikin kelas jadi menyenangkan?
4. Apakah kamu merasa kalo sekolah di SMA Yapera itu penyiksaan?
Jawaban mereka (maafkan atas segala kealayan yang terjadi ^_~V):
Sma yapera, guru guru yapera , trus apapun yg ada di sma yapera tu udah sepaket bu paketan bikin puas alumni alumninya , dan kalo masih bisa balik lagi saya juga mau bu hehe
1. Kangen banget pengen ketemu temen2 lagi,, entah kenapa, di waktu SMA itu saya semangat banget berangkat sekolah, ibu pasti tau gimana perjuangan saya ke sekolah,, haha semuaa karena saya punya temen2 yg baik dan asik ,, klw pulang kita jalan kaki bareng2.. haha jadi kangen..
kalo menurut saya ya bu dr pertayaan yg pertama itu dibilang kangen sekolah kangen bgt . malah pengen bgt bu saya sekolah . soalnya sekolah itu tempat kita scharing berbagi curhat kadang tempat bermain . banyak hal yg gak pernah terlupakan yaitu waktu sekolah .
kalo pertayaan ibu yg ke dua . guru membosankan diyapera . alhamdulilah dr saya masuk hingga lulus guru guru ya tdk membosankan mlh justru kangenin.
ketiga : hampir rata rata guru yapera suka senyum dan sebelum beljar itu kadang malh kita suka ketawa ketawa dulu . sangat menyengkan
kalo penyikasaan itu gk bgt bu . malah adanya kasih sayang penuh suka bukan duka. hehh
1. Kangen banget bu, kadang sampe punya pikiran mau bolos kerja cuma mau maen ke yapera
Bu saya hadir, tapi agak telat !
Hehehehe
Kalo masalah kangen banget, tuh udah pastilah kangen se kangen"nya !
Dari kawan"nya guru"nya sistem sekolahnya pokonya semuanya tuh asli bikin kangen ! Heheheheh .
Kalo masalah guru galak si yah, tergantung anaknya juga sih ya gimana disekolahnya hehehe kalo saya kan agak baik anaknya jadi yaa ada beberapa guru lah yg menurut saya galak !
Hehehehe
Kalo masalah ngbosenin sih yaaa, gak sama sekali ! Malah saya nyesel bu cuma ngerasain 2 tahunan disekolah , haha.
Wahh kalo masalah penyiksaan si, penyiksaan banget bu kenapa saya harus di keluarin dari sekolah padahal masih kepngen sekolah !
Yaaa pokoknya semua yg ada di sma yapera dari yg namanya kantin, satpam, guru"nya serta bangku kelasnya bikin kangen bgt, apalagi sama semua angkatan saya
Hehehe sekian persentasi dari saya, kalo ada yg salah" kata atau perbuatan tolong dimaafkan, wabilahitaufiq walhidayahh wasallamualikum warahmatullahi wabaraktuh
great buat yapera, asal jangan angkuh ketika menjadi salah satu bagian darinya, sering saya lihat karakter karakter yang sombong tapi bukan saatnya saya mengkritik mereka karena, itu adalah sebagian ciri khas dari mereka, Mungkin!...kalo yang menyenangkan banyak, kalo ngebanyol juga pas.. jadi bisa refresh otak dari suntuknya belajar. tapi yang jadi patokan saya adalah Hukum Alam masih berlaku, tentang apa saja yang kita lakukan pasti dikemudian hari kita akan disadarkan .
1.kangenn banget bu,kangeen curhat bareng , kangen makan di kantin bareng bareng , kangen kegiatan"an sekolah ..
Ini sampel aja, dan ga pake metode ilmiah sama sekali, tapi bisa disimpulkan bahwa bagi anak-anak ini:
Apa yang coba saya katakan di sini? Jadi menurut saya, sekolah yang menyenangkan tidak harus karena label sekolah favorit, fasilitas lengkap dan guru level 'dewa'. Kadang sekolah kampung biasa saja bisa membuat anak merasa senang sekolah.
1. Kalo liburan, kamu kangen sekolah ga? Kenapa?
2. Apa guru2 di SMA Yapera membosankan, suka teriak, dan suka marah kalo ada siswa yang nanya di kelas?
3. Berapa banyak guru yang banyak senyum, ramah, suka bercanda, dan bikin kelas jadi menyenangkan?
4. Apakah kamu merasa kalo sekolah di SMA Yapera itu penyiksaan?
Jawaban mereka (maafkan atas segala kealayan yang terjadi ^_~V):
Kalo kangen pasti bu, apa lagi kalo liat anak" sekolah, jadi pengen sekolah lagi
guru yg membosankan ada tp lebih banyak yg menyenangkan
kalo penyiksaan ga banget
1. haaa iyah ibu irma pengen masuk sekolah lagi walupun sering bikin ulah , enak aja ibu nama nya sekolah banyak temen terus banyak hal indah yang terjadi di kelas bersama teman dan guru, 2. hampir semua nya kalo sama murid alus kalo ngebilangin paling maksimal ya mereka mencoba untuk lebih tegas aja hee, malah saya kangen di cukur ka fahru , 3. hee guru di SMA an-nurmaniah seru kalo ngajar, 4. hemm engga ibu, penyiksaan dalam hal apa ? semua guru nya penuh dengan kasih sayang kok
kangenn bu...gurunya ramah semua ko..bu hawa guru matematika yg killer ajh kdng menyenangkan..apalagi bu erna..hehe...apalagi bu erna,,kl ngajar bikin kuis dan pasti ngasih penghrgaan atau hadiah untu klompk yg menang..ga da pnyiksaan ko bu...kpn bu bikin reuni akbar gtu...
1. kangen banget sama sekolah apalagi makanan dikantin hehe,, iy kngen bgt soalnya bnyk tmn n psti kumpul klo udh lulus ky gini susah buat kumpul2nya, walaupun kumpul jg psti ad aj yg gk ikut kurang kumplit, ayolah reoni. 2. guru di SMA membosankn sih psti ad. itu sih tinggal guru2nya aj yg kreatif bikin suasana ngajarnya seru. gk ad kok yg marah2 klo ditnya. 3. smuanya menyenangkan 4. gk menyiksa kok malahan seru. itu jawaban ku.. mn jawabanmu hehe
guru yg membosankan ada tp lebih banyak yg menyenangkan
kalo penyiksaan ga banget
1. haaa iyah ibu irma pengen masuk sekolah lagi walupun sering bikin ulah , enak aja ibu nama nya sekolah banyak temen terus banyak hal indah yang terjadi di kelas bersama teman dan guru, 2. hampir semua nya kalo sama murid alus kalo ngebilangin paling maksimal ya mereka mencoba untuk lebih tegas aja hee, malah saya kangen di cukur ka fahru , 3. hee guru di SMA an-nurmaniah seru kalo ngajar, 4. hemm engga ibu, penyiksaan dalam hal apa ? semua guru nya penuh dengan kasih sayang kok
kangenn bu...gurunya ramah semua ko..bu hawa guru matematika yg killer ajh kdng menyenangkan..apalagi bu erna..hehe...apalagi bu erna,,kl ngajar bikin kuis dan pasti ngasih penghrgaan atau hadiah untu klompk yg menang..ga da pnyiksaan ko bu...kpn bu bikin reuni akbar gtu...
1. kangen banget sama sekolah apalagi makanan dikantin hehe,, iy kngen bgt soalnya bnyk tmn n psti kumpul klo udh lulus ky gini susah buat kumpul2nya, walaupun kumpul jg psti ad aj yg gk ikut kurang kumplit, ayolah reoni. 2. guru di SMA membosankn sih psti ad. itu sih tinggal guru2nya aj yg kreatif bikin suasana ngajarnya seru. gk ad kok yg marah2 klo ditnya. 3. smuanya menyenangkan 4. gk menyiksa kok malahan seru. itu jawaban ku.. mn jawabanmu hehe
Sma yapera, guru guru yapera , trus apapun yg ada di sma yapera tu udah sepaket bu paketan bikin puas alumni alumninya , dan kalo masih bisa balik lagi saya juga mau bu hehe
1. Kangen banget pengen ketemu temen2 lagi,, entah kenapa, di waktu SMA itu saya semangat banget berangkat sekolah, ibu pasti tau gimana perjuangan saya ke sekolah,, haha semuaa karena saya punya temen2 yg baik dan asik ,, klw pulang kita jalan kaki bareng2.. haha jadi kangen..
2.
em, buat saya guru kelas seni tu bu (yg setiap sabtu) semuanya asik2,,
karena kita lebih sering praktek, jadi lebih seru.. guru2 dikelas juga
seru seru si, tapi menurut saya belajar sambil praktek itu seru, kaya
pelajaran komputer, Rohis, Bhs. Jepang, B.Indonesia (sering praktek
@perpus).. walaupun ada beberapa guru yg GUALAK, membosankan dan
menjenuhkan hihihihihi. haha
guru yg banyak senyum sih, hampir semua bu,, tp yg senyum dari hati itu
yg susah di tebak hahahaa kadang ada yang biasa aja, tapi membuat kelas
jadi Happy..
Gak laaah,, buktinya saya selalu dateng ke sekolah, bagaimanapun itu
caranya HaHaHaa.. SMA Saya yang sangat menyenangkan SMA An-Nurmaniyah
kalo menurut saya ya bu dr pertayaan yg pertama itu dibilang kangen sekolah kangen bgt . malah pengen bgt bu saya sekolah . soalnya sekolah itu tempat kita scharing berbagi curhat kadang tempat bermain . banyak hal yg gak pernah terlupakan yaitu waktu sekolah .
kalo pertayaan ibu yg ke dua . guru membosankan diyapera . alhamdulilah dr saya masuk hingga lulus guru guru ya tdk membosankan mlh justru kangenin.
ketiga : hampir rata rata guru yapera suka senyum dan sebelum beljar itu kadang malh kita suka ketawa ketawa dulu . sangat menyengkan
kalo penyikasaan itu gk bgt bu . malah adanya kasih sayang penuh suka bukan duka. hehh
1. Kangen banget bu, kadang sampe punya pikiran mau bolos kerja cuma mau maen ke yapera
2. engga ada lah bu, beliau beliau semua nya baik, selalu mau ngebimbing siswa siswi nya, sampe siswa nya bener bener ngerti,
3. banyak banget guru yang bikin situasi kelas kaya bukan di dalem kelas, semua nya itu yang bikin kangen, walaupun kadang ada guru yang bikin bete,
4. yang pasti nya engga dong bu, kalo di yapera ga ada penyiksaan yang ada malah seneng seneng terus, udah kaya anak TK,
walaupun udah SMA.
Kangennnn bu kalo lagi liburan pengen cepet2 masuk sekolah lagi, guru SMA yapera asik2 semua bu, gada yg pernah sampe teriak-teriakan, malah kalo kata aku mah gurunya pada sabar2 bangetttt:* sekolah yapera menurut aku bukan tempat penyiksaan bu malah kalo kata aku mah ditempat itu aku bisa nemuin hal2 baru yg bermanfaat:*
3. banyak banget guru yang bikin situasi kelas kaya bukan di dalem kelas, semua nya itu yang bikin kangen, walaupun kadang ada guru yang bikin bete,
4. yang pasti nya engga dong bu, kalo di yapera ga ada penyiksaan yang ada malah seneng seneng terus, udah kaya anak TK,
walaupun udah SMA.
Kangennnn bu kalo lagi liburan pengen cepet2 masuk sekolah lagi, guru SMA yapera asik2 semua bu, gada yg pernah sampe teriak-teriakan, malah kalo kata aku mah gurunya pada sabar2 bangetttt:* sekolah yapera menurut aku bukan tempat penyiksaan bu malah kalo kata aku mah ditempat itu aku bisa nemuin hal2 baru yg bermanfaat:*
Bu saya hadir, tapi agak telat !
Hehehehe
Kalo masalah kangen banget, tuh udah pastilah kangen se kangen"nya !
Dari kawan"nya guru"nya sistem sekolahnya pokonya semuanya tuh asli bikin kangen ! Heheheheh .
Kalo masalah guru galak si yah, tergantung anaknya juga sih ya gimana disekolahnya hehehe kalo saya kan agak baik anaknya jadi yaa ada beberapa guru lah yg menurut saya galak !
Hehehehe
Kalo masalah ngbosenin sih yaaa, gak sama sekali ! Malah saya nyesel bu cuma ngerasain 2 tahunan disekolah , haha.
Wahh kalo masalah penyiksaan si, penyiksaan banget bu kenapa saya harus di keluarin dari sekolah padahal masih kepngen sekolah !
Yaaa pokoknya semua yg ada di sma yapera dari yg namanya kantin, satpam, guru"nya serta bangku kelasnya bikin kangen bgt, apalagi sama semua angkatan saya
Hehehe sekian persentasi dari saya, kalo ada yg salah" kata atau perbuatan tolong dimaafkan, wabilahitaufiq walhidayahh wasallamualikum warahmatullahi wabaraktuh
great buat yapera, asal jangan angkuh ketika menjadi salah satu bagian darinya, sering saya lihat karakter karakter yang sombong tapi bukan saatnya saya mengkritik mereka karena, itu adalah sebagian ciri khas dari mereka, Mungkin!...kalo yang menyenangkan banyak, kalo ngebanyol juga pas.. jadi bisa refresh otak dari suntuknya belajar. tapi yang jadi patokan saya adalah Hukum Alam masih berlaku, tentang apa saja yang kita lakukan pasti dikemudian hari kita akan disadarkan .
sekian dari saya, jadi curhat kan
kangen banget bu klo lagi libur pengennya cepet2 masuk sekolah lagi , klo menurut aku guru SMA asik2 semua ko bu .. gak ada yang pernah marah ko bu klo ada yang nanya malah guru2nya pada sabar2 semua, hampir semua guru pada ramah & suka bercanda ,, sekolah yapera menurut aku sih bukan tempat penyiksaan bu malah di yapera aku nemuin banyak hal2 yang menarik & bermanfaat
kangen banget bu klo lagi libur pengennya cepet2 masuk sekolah lagi , klo menurut aku guru SMA asik2 semua ko bu .. gak ada yang pernah marah ko bu klo ada yang nanya malah guru2nya pada sabar2 semua, hampir semua guru pada ramah & suka bercanda ,, sekolah yapera menurut aku sih bukan tempat penyiksaan bu malah di yapera aku nemuin banyak hal2 yang menarik & bermanfaat
1.kangenn banget bu,kangeen curhat bareng , kangen makan di kantin bareng bareng , kangen kegiatan"an sekolah ..
2.ga ada yg ngebosenin bu .. guru guru di SMA punya cara trik ngajar ..
3.semuanya nyenengin .. bisa tuker pikiran , bisa kya sahabat pokonya plus plus bgt
4.bukan menyiksa tpi menyisakan byk kenangan .. imell punya temen dari sekolah luar yg waktu itu sempet isi acara di SMA yaperaa dy bilang "keren ya sekolah lu,walaupun murid ga smpe 100 tpi bisa buat acara kya gini" bangga bgt sama SMA An-Nurmaniyahh
Makasih buat bu irma dan guru guru yg lain .. buat bantuan yg kalian berikan sama imell
jujur sih ada rasa kangen kalo liburan panjang sekolah, kangen maen sama belajar dikelas, kangenn guru gurunya, kangen suasana koridor sekolah. menurut sayay di sma yapera itu guru gurunya ga ada yang membosankan, mungkin kalo beberapa pelajaran ada pasti yang membosankan hehehe. setiap guru pasti punya sisis galaknya, tapi itu galak berarti tegas, buak galak karna ga senang sama siswanya, cuman porsi sisi tegas sama sisi menyenangkanya itu seimbang, jadinya bikin susasana mengajar itu ga terlalu monoton. mungkin pas saya waktu kls 1 masih kerasa galau karna yah faktor muridnya yang sedikit hehehe tapi lama kelamaan mulai tau sisi positive dari keterbatasan itu, kita jadi gampang saling kenal, guru gurunya lebih kenal karakter murid muridnya, dan kebersamaanya kuat. jadi ga ada perasaan sekolah di sma yapera itu penyiksaan
walaupun saya belum jadi alumni tapi, masa liburan 2minggu cukup untuk membuat hati merasa rindu akan sekolah, rindu dengan teman-teman, guru-guru, serta suasana sekolah. menurut saya gurunya ramah, baik, dan suka bikin kelas ramai ya walaupun bercandanya terkadang agak garing tapi , dengan cara itu membuat cara agar kita tidak merasakan bahwa belajar dan diajar bukanlah suatu beban kehidupan
tidak pernah marah, malah mereka terlihat senang melihat kita aktif bertanya,
menurut saya hampir seluruhnya ramah,dan baik. tak pernah ngerasa tersiksa dan tak pernah melihat adanya penyiksaan yang ada malah kegembiraan ada tugas pun masih dalam batas yang wajar kok bu
Menurut sy pribadi sekolahan SMA yapera itu beda banget sama sekolahan yg lain terutama sama sekolahan sy dulu sebelum pindah ke yapera.
3.semuanya nyenengin .. bisa tuker pikiran , bisa kya sahabat pokonya plus plus bgt
4.bukan menyiksa tpi menyisakan byk kenangan .. imell punya temen dari sekolah luar yg waktu itu sempet isi acara di SMA yaperaa dy bilang "keren ya sekolah lu,walaupun murid ga smpe 100 tpi bisa buat acara kya gini" bangga bgt sama SMA An-Nurmaniyahh
Makasih buat bu irma dan guru guru yg lain .. buat bantuan yg kalian berikan sama imell
jujur sih ada rasa kangen kalo liburan panjang sekolah, kangen maen sama belajar dikelas, kangenn guru gurunya, kangen suasana koridor sekolah. menurut sayay di sma yapera itu guru gurunya ga ada yang membosankan, mungkin kalo beberapa pelajaran ada pasti yang membosankan hehehe. setiap guru pasti punya sisis galaknya, tapi itu galak berarti tegas, buak galak karna ga senang sama siswanya, cuman porsi sisi tegas sama sisi menyenangkanya itu seimbang, jadinya bikin susasana mengajar itu ga terlalu monoton. mungkin pas saya waktu kls 1 masih kerasa galau karna yah faktor muridnya yang sedikit hehehe tapi lama kelamaan mulai tau sisi positive dari keterbatasan itu, kita jadi gampang saling kenal, guru gurunya lebih kenal karakter murid muridnya, dan kebersamaanya kuat. jadi ga ada perasaan sekolah di sma yapera itu penyiksaan
walaupun saya belum jadi alumni tapi, masa liburan 2minggu cukup untuk membuat hati merasa rindu akan sekolah, rindu dengan teman-teman, guru-guru, serta suasana sekolah. menurut saya gurunya ramah, baik, dan suka bikin kelas ramai ya walaupun bercandanya terkadang agak garing tapi , dengan cara itu membuat cara agar kita tidak merasakan bahwa belajar dan diajar bukanlah suatu beban kehidupan
tidak pernah marah, malah mereka terlihat senang melihat kita aktif bertanya,
menurut saya hampir seluruhnya ramah,dan baik. tak pernah ngerasa tersiksa dan tak pernah melihat adanya penyiksaan yang ada malah kegembiraan ada tugas pun masih dalam batas yang wajar kok bu
Menurut sy pribadi sekolahan SMA yapera itu beda banget sama sekolahan yg lain terutama sama sekolahan sy dulu sebelum pindah ke yapera.
yapera
good bgt dari peraturannya gurunya cara belajarnya meberikan ilmu"nya
itu sangat bagus apalagi ada yg namanya pengembangan diri ataw rohis.
makasih banget guru" rohis sy yg telah bantu sy belajar ngaji yg tadinya gak bisa banget krna kesabaran guru" bantu sy belajar sy alhamdulilah jadi bisa... walaupun sy sudah berkeluarga terkadang sy merindukan jaman" sy Sekolah di yapera banyak sekali masukan ilmunya bnyak sekali teman" canda tawa bersama.
Klu sekarang kangen banget, klu masih sekolah dulu sekalinya kangen sama sekolah langsung tancap gas, main keasrama atw ruang osis, klu kangen temen tinggal sms ajak main, klu sama guru, ajak rombongan bawa rujak kerumah bpk ibu gurunya , Klau guru marah2 karna banyak nanya gak ada tuh bu, soalnya yg mw nanya juga bingung mw nanya apa, terus klu bingung kebanyakan sih pada pasrah dan lebih milih diem dipojok sambil smssan hehehehe (buat yg merasa ;D )
makasih banget guru" rohis sy yg telah bantu sy belajar ngaji yg tadinya gak bisa banget krna kesabaran guru" bantu sy belajar sy alhamdulilah jadi bisa... walaupun sy sudah berkeluarga terkadang sy merindukan jaman" sy Sekolah di yapera banyak sekali masukan ilmunya bnyak sekali teman" canda tawa bersama.
Klu sekarang kangen banget, klu masih sekolah dulu sekalinya kangen sama sekolah langsung tancap gas, main keasrama atw ruang osis, klu kangen temen tinggal sms ajak main, klu sama guru, ajak rombongan bawa rujak kerumah bpk ibu gurunya , Klau guru marah2 karna banyak nanya gak ada tuh bu, soalnya yg mw nanya juga bingung mw nanya apa, terus klu bingung kebanyakan sih pada pasrah dan lebih milih diem dipojok sambil smssan hehehehe (buat yg merasa ;D )
Guru yg banyak senyum dan bikin suasana seneng dikelas, semua guru yg masuk dan keluar kelas setiap hari senyum bu . Heheh mungkin ada juga yg senyum sambil geleng2 kepala, ada yg sambil gosok2 kuping, heheheh kelas selalu rame, mw jam pelajaran istirahat, sepi pas ulangan doang selesai rame lgy, . Sabaarr banget ibu bapak guru yg ngajar dikelas.
Penyiksaan diyapera, itu pas ulangan, apalagi pas pelajaran produktif, (angkattangan) hehehe,
3thn disma yapera itu,3 kata: seru, berkesan dan tak terlupakan. (^_^)
Penyiksaan diyapera, itu pas ulangan, apalagi pas pelajaran produktif, (angkattangan) hehehe,
3thn disma yapera itu,3 kata: seru, berkesan dan tak terlupakan. (^_^)
Ini sampel aja, dan ga pake metode ilmiah sama sekali, tapi bisa disimpulkan bahwa bagi anak-anak ini:
1. Mereka tidak benci sekolah. Sekolah bukan tempat penyiksaan, misalnya karena guru represif, tugas bejibun atau penuh suasana kompetisi.
2. Memang ada guru yang membosankan atau galak, tapi mayoritas guru menyenangkan, ramah, sabar, suka bercanda.
Sekolah macam apakah SMA Yapera?
Sekolah macam apakah SMA Yapera?
Sekolah kami berada di Ciledug, Tangerang. Sekolah swasta kebanyakan, bukan plus, bukan terpadu, bukan sekolah alam, bukan SSN.
Jumlah siswanya sekitar 140 siswa saja. Bukan sengaja dibatasi, yang mendaftar memang cuma segitu ^_^. Tingkat ekonomi siswa menengah ke bawah.
SPP 190.000 perbulan, yang tidak mencukupi untuk biaya operasional hingga harus disubsidi cukup besar setiap bulan oleh Yayasan.
Sekolah dari jam 7 hingga 12.20, bukan fullday. Satu pekan ada 41 jam pelajaran, masih ada upacara tiap Senin pagi, dan tidak ada program lain di luar jam pelajaran (misalnya solat duha dan tilawah sebelum belajar).
Kurikulum masih KTSP sampai tahun ini.
Guru mayoritas lulusan S1, 1-2 orang saja lulusan PTN, 1 orang mengikuti kuliah S2 (tapi bukan saya, hehehe), tidak aktif dalam organisasi guru, belum pernah ikut dalam lomba atau konferensi guru di tingkat apapun.
Tidak punya guru BK, apalagi konsultan sekolah.
Tidak punya lab komputer dan IPA sendiri (menumpang), tidak ada lab bahasa.
Dengan profil sekolah di atas, pertanyaannya adalah, apakah proses pendidikan di sekolah kami sudah sesuai SNP dari pemerintah? Belum, masih jauuuuh dari situ. Apa kami meluluskan alumni yang punya kompetensi sesuai SKL? Mungkin tidak. Tapi apa siswa kami bahagia? Saya melihat kemungkinan itu.
Sekolah adalah meeting point bagi anak-anak. Jadi mudah saja bagi anak-anak untuk tetap datang ke sekolah meski tidak suka sekolah, yakni untuk sosialisasi, hang out dengan teman. Namun selain kenangan dengan teman, tampaknya siswa dan alumni juga menuliskan poin tentang kedekatan dengan guru, juga sistem dan program sekolah. Jadi yang mereka maksud dengan menyenangkan bukan semata soal bertemu teman.
Apa yang coba saya katakan di sini? Jadi menurut saya, sekolah yang menyenangkan tidak harus karena label sekolah favorit, fasilitas lengkap dan guru level 'dewa'. Kadang sekolah kampung biasa saja bisa membuat anak merasa senang sekolah.
Labels:
budaya sekolah,
pembelajaran,
program sekolah,
siswa
20 December 2013
DRESS LIKE YOURSELF
Saya pernah menulis di sini tentang seragam, jadi post kali ini mungkin adalah perubahan pandangan saya mengenai penggunaan baju 'seragam' di sekolah.
Baru terpikir oleh saya belakanagan ini bahwa di banyak sekolah, baik siswa maupun guru, tidak bisa jadi diri sendiri. Sekolah saya yang satu adalah sekolah Islam, jadi semua siswa berpakaian sesuai kaidah Islam; siswa harus menggunakan celana panjang dan siswi menggunakan rok (tidak bercelana), baju panjang dan kerudung. Sekolah satu lagi adalah sekolah umum, tapi perbedaan pakaian siswa hanya di kewajiban kerudung saja, selebihnya sama.
Masalahnya adalah, di luar sekolah, banyak siswa yang berpenampilan berbeda, terutama siswa perempuan. Ah, ini meresahkan saya. Artinya, siswa tidak menjadi dirinya sendiri di sekolah. Mereka berpenampilan demikian karena dituntut sekolah, bukan karena keputusan pribadi.
Apakah hanya siswa yang tidak tampil sebagai diri sendiri? Tidak, karena guru juga demikian. Tidak sedikit guru yang penampilan di sekolah berbeda dengan di rumah. Mungkin dalam batasan tertentu, saya termasuk guru yang demikian.
Pernah saya sudah siap berangkat, lalu merasa ada yang aneh dan bercermin lagi. Sambil bergumam i'm so fake right now, saya mengubah cara berpakaian hari itu, karena terasa bahwa saya berpakaian untuk sekolah, sedang keseharian saya tidak demikian. Hal ini membuat saya tidak nyaman.
Untunglah saya hanya mengajar di sekolah swasta, yang mengizinkan saya menggunakan kerudung rempong (kata orang, kata saya sih biasa aja ^_~V), baju warna warni, dan hak tinggi. Kalau mengajar di sekolah negeri atau swasta yang lebih ketat, mungkin saya harus lebih sulit jadi diri sendiri.
Jadi bagaimana, apa kita biarkan saja siswa dan guru berpakaian semau mereka?
*krik.... krik....*
Baiklah, pertnyaan barusan terasa agak negatif, seperti jika kita membebaskan siswa, mereka serta merta akan datang dengan tattoo atau bikini. Bagaimana jika begini: Apakah seharusnya sekolah mengizinkan guru dan siswa berpakaian sesuai dengan preferensi pribadi?
Sebagai orang yang konservatif, saya pikir tak apa jika sekolah menerapkan semacam peraturan mengenai penampilan. Bagaimanapun, sekolah boleh saja memiliki visi dan nilai yang coba ditransfer pada anggota komunitasnya. Masalahnya, peraturan ini harusnya jadi akibat, bukan sebab. Bukan karena ada peraturan, maka guru dan siswa jadi terpahamkan, tapi karena telah mendapat pemahaman, maka mereka jadi taat peraturan.
Sebelum kita mewajibkan warga sekolah berpenampilan islami, misalnya, apakah kita telah memberikan pemahaman dan contoh yang cukup secara konsisten? Apakah siswa dan guru lelaki mengerti kenapa mereka dilarang memakai celana di atas lutut? Apakah siswa dan guru perempuan mengerti mengapa mereka harusnya menutup aurat dengan baik dan berdandan sederhana?
Dalam kasus saya, mungkin saja apa yang jadi pilihan saya dalam berpakaian bukanlah hal yang ideal menurut nilai yang dipegang oleh sekolah, tapi saya ingin jika saya mengubah penampilan, itu karena paham. Dengan demikian, tak peduli di dalam maupun luar sekolah, cara saya berpakaian akan sama.
Hal ini tidak hanya untuk berpakaian, tapi untuk semua hal yang ingin diterapkan sekolah.
Tentu saja, mendahulukan pendidikan membutuhkan waktu panjang, dan jangan heran bila penolakan tetap ada. Artinya, sudah diberi tahu, dicontohkan, tetep ga mempan. Namun mendahulukan peraturan justru akan membuat warga sekolah malah faking themselves di sekolah, yang malah bertentangan dengan idealisme pendidikan.
photos' credit to owner
![]() |
| pengen seragam model gini tapi susah juga, lol |
Masalahnya adalah, di luar sekolah, banyak siswa yang berpenampilan berbeda, terutama siswa perempuan. Ah, ini meresahkan saya. Artinya, siswa tidak menjadi dirinya sendiri di sekolah. Mereka berpenampilan demikian karena dituntut sekolah, bukan karena keputusan pribadi.
Apakah hanya siswa yang tidak tampil sebagai diri sendiri? Tidak, karena guru juga demikian. Tidak sedikit guru yang penampilan di sekolah berbeda dengan di rumah. Mungkin dalam batasan tertentu, saya termasuk guru yang demikian.
Pernah saya sudah siap berangkat, lalu merasa ada yang aneh dan bercermin lagi. Sambil bergumam i'm so fake right now, saya mengubah cara berpakaian hari itu, karena terasa bahwa saya berpakaian untuk sekolah, sedang keseharian saya tidak demikian. Hal ini membuat saya tidak nyaman.
![]() |
| kerudung rempong + hak tinggi, lol |
Jadi bagaimana, apa kita biarkan saja siswa dan guru berpakaian semau mereka?
*krik.... krik....*
Baiklah, pertnyaan barusan terasa agak negatif, seperti jika kita membebaskan siswa, mereka serta merta akan datang dengan tattoo atau bikini. Bagaimana jika begini: Apakah seharusnya sekolah mengizinkan guru dan siswa berpakaian sesuai dengan preferensi pribadi?
Sebagai orang yang konservatif, saya pikir tak apa jika sekolah menerapkan semacam peraturan mengenai penampilan. Bagaimanapun, sekolah boleh saja memiliki visi dan nilai yang coba ditransfer pada anggota komunitasnya. Masalahnya, peraturan ini harusnya jadi akibat, bukan sebab. Bukan karena ada peraturan, maka guru dan siswa jadi terpahamkan, tapi karena telah mendapat pemahaman, maka mereka jadi taat peraturan.
Sebelum kita mewajibkan warga sekolah berpenampilan islami, misalnya, apakah kita telah memberikan pemahaman dan contoh yang cukup secara konsisten? Apakah siswa dan guru lelaki mengerti kenapa mereka dilarang memakai celana di atas lutut? Apakah siswa dan guru perempuan mengerti mengapa mereka harusnya menutup aurat dengan baik dan berdandan sederhana?
Dalam kasus saya, mungkin saja apa yang jadi pilihan saya dalam berpakaian bukanlah hal yang ideal menurut nilai yang dipegang oleh sekolah, tapi saya ingin jika saya mengubah penampilan, itu karena paham. Dengan demikian, tak peduli di dalam maupun luar sekolah, cara saya berpakaian akan sama.
Hal ini tidak hanya untuk berpakaian, tapi untuk semua hal yang ingin diterapkan sekolah.
Tentu saja, mendahulukan pendidikan membutuhkan waktu panjang, dan jangan heran bila penolakan tetap ada. Artinya, sudah diberi tahu, dicontohkan, tetep ga mempan. Namun mendahulukan peraturan justru akan membuat warga sekolah malah faking themselves di sekolah, yang malah bertentangan dengan idealisme pendidikan.
photos' credit to owner
09 November 2013
ATMOSFIR
Tulisan ini adalah refleksi diri sebagai guru, bukan untuk menyalahkan pihak manapun. [Dan entah kenapa saya harus menjelaskan begini, mungkin akibat membaca artikel yang bilang kalau kadang what I said bisa bereda dengan what they hear ^_^;]
Suatu sore, saya duduk bersama para siswa dan guru di hall. Kami baru selesi shalat ashar dan tengah membaca zikir sore sebelum pulang. Saat itu saya teringat bahwa saya melakukan hal mirip tadi pagi pada pukul tujuh lewat, duduk di sini setelah shalat duha dan membaca zikir pagi. Lalu saya sadar, betapa panjangnya waktu yang dilalui anak-anak ini di sekolah.
Apalagi ketika saya turun untuk pulang, di lapangan anak-anak sudah berganti kostum eskul masing-masing. Saya bayangkan mereka pulang menjelang magrib, kelelahan -sama dengan orang tua mereka, lalu masing-masing masuk kamar untuk bangun besok pagi dan mengulang lagi rutintas biasa.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa sekolah mesti sadar bahwa dengan mengambil sistem fullday, artinya ia mengambil resiko yang besar. Kalau sekolah biasa (yang pulang tengah hari) bisa berkilah bahwa orang tua yang seharusnya paling bertanggung jawab atas kegagalan pendidikan karena porsi orang tua bersama anak terhitung lebih banyak., sekolah full day tidak bisa menggunakan alasan itu. Kenyataannya, anak memang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Mereka tumbuh besar di sekolah.
Sampai sekarang, saya masih percaya bahwa nilai-nilai diturunkan dan ditanamkan dengan cara hidup di dalamnya. Ini titik kritis di sekolah fullday. Apakah guru sudah menjalankan hidup bersama anak-anak didiknya, bukan hanya kegiatan formal belajar mengajar yang diatur oleh bel sekolah. Karena panjangnya jam sekolah, mau tak mau guru tidak hanya melakukan educating, tapi juga parenting.
Di pesantren yang masih mengikuti tradisi asli, anak-anak dititipkan pada kyai sebagai 'anak angkat'. Mereka menyerap kehidupan kyai dan nyainya, melihat cara hidup, karakter, kebiasaan, dan cara pandang kyai-nyai. Orang tua percaya atmosfir di sekitar kyai memiliki standar nilai yang lebih tinggi daripada di rumah sendiri.
Sekolah yang memiliki jam belajar yang panjang memiliki kesempatan yang hampir mendekati pesantren. Visi sekolah harus dibuat sebagai atmosfir yang melingkupi anak-anak, dengan guru-guru sebagai penjaganya. Kita tidak melihat atmosfir ini sebagai benda nyata (misalnya dalam bentuk tata tertib atau hukuman), tapi semua orang melakukannya karena memang terbiasa demikian. Semua guru melakukannya, semua kakak kelas melakukannya, maka anak-anak baru akan menyesuaikan diri secara alamiah dengan atmosfir yang ada.
Jika sekolah fullday gagal menciptakan atmosfir yang sesuai dengan visi di atas kertas, anak-anak ini akan dibesarkan oleh teman-teman mereka.
Suatu sore, saya duduk bersama para siswa dan guru di hall. Kami baru selesi shalat ashar dan tengah membaca zikir sore sebelum pulang. Saat itu saya teringat bahwa saya melakukan hal mirip tadi pagi pada pukul tujuh lewat, duduk di sini setelah shalat duha dan membaca zikir pagi. Lalu saya sadar, betapa panjangnya waktu yang dilalui anak-anak ini di sekolah.
Apalagi ketika saya turun untuk pulang, di lapangan anak-anak sudah berganti kostum eskul masing-masing. Saya bayangkan mereka pulang menjelang magrib, kelelahan -sama dengan orang tua mereka, lalu masing-masing masuk kamar untuk bangun besok pagi dan mengulang lagi rutintas biasa.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa sekolah mesti sadar bahwa dengan mengambil sistem fullday, artinya ia mengambil resiko yang besar. Kalau sekolah biasa (yang pulang tengah hari) bisa berkilah bahwa orang tua yang seharusnya paling bertanggung jawab atas kegagalan pendidikan karena porsi orang tua bersama anak terhitung lebih banyak., sekolah full day tidak bisa menggunakan alasan itu. Kenyataannya, anak memang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Mereka tumbuh besar di sekolah.
Sampai sekarang, saya masih percaya bahwa nilai-nilai diturunkan dan ditanamkan dengan cara hidup di dalamnya. Ini titik kritis di sekolah fullday. Apakah guru sudah menjalankan hidup bersama anak-anak didiknya, bukan hanya kegiatan formal belajar mengajar yang diatur oleh bel sekolah. Karena panjangnya jam sekolah, mau tak mau guru tidak hanya melakukan educating, tapi juga parenting.
Di pesantren yang masih mengikuti tradisi asli, anak-anak dititipkan pada kyai sebagai 'anak angkat'. Mereka menyerap kehidupan kyai dan nyainya, melihat cara hidup, karakter, kebiasaan, dan cara pandang kyai-nyai. Orang tua percaya atmosfir di sekitar kyai memiliki standar nilai yang lebih tinggi daripada di rumah sendiri.
Sekolah yang memiliki jam belajar yang panjang memiliki kesempatan yang hampir mendekati pesantren. Visi sekolah harus dibuat sebagai atmosfir yang melingkupi anak-anak, dengan guru-guru sebagai penjaganya. Kita tidak melihat atmosfir ini sebagai benda nyata (misalnya dalam bentuk tata tertib atau hukuman), tapi semua orang melakukannya karena memang terbiasa demikian. Semua guru melakukannya, semua kakak kelas melakukannya, maka anak-anak baru akan menyesuaikan diri secara alamiah dengan atmosfir yang ada.
Jika sekolah fullday gagal menciptakan atmosfir yang sesuai dengan visi di atas kertas, anak-anak ini akan dibesarkan oleh teman-teman mereka.
18 August 2013
GIMANA AJA BOLEH, ASAL....
Sebelumnya saya mengira bahwa jadi guru itu harus begini metodenya, harus begitu caranya, harus begono alatnya. Tapi sepertinya tidak demikian, deh. Rupanya selama ini saya terlalu fokus pada 'teaching', padahal harusnya pada 'learning'.
Pelatihan metode & teknik tertentu boleh saja, tapi kita tidak bisa memaksa seseorang melakukan sesuatu yang bukan dirinya. Yang harus disamakan adalah filosofi dan paradigma belajar (ini PR besar para principal ^^). Sedang pelatihan metode & teknik hanyalah inspirasi, tabungan ide di kepala guru-guru.
Silakanlah guru ngajar, gimana aja metodenya, pake apa aja alatnya, asal siswa mengalami proses belajar (dan tentu saja kita semua tau, ketika guru mengajar, tidak berarti siswa belajar).
Ini kotak peralatan perang saya di sekolah.
Saya bukan a good storyteller, gapteknya pol, dan lemah di bidang kinestetik. Hal2 tadi bukan kekuatan saya, jadi ketika mengajar, saya tidak banyak berceramah, tidak banyak menggunakan teknologi, dan hanya sedikit berlarian di lapangan.
Tapi saya suka craft, meski ga jago. Maka itulah yang banyak saya gunakan. Tentu saja tidak semua guru harus menggunakan cara seperti saya.
Apa saja yang cocok dengan guru & efektif bagi siswa, maka itulah metode yang keren.
Pelatihan metode & teknik tertentu boleh saja, tapi kita tidak bisa memaksa seseorang melakukan sesuatu yang bukan dirinya. Yang harus disamakan adalah filosofi dan paradigma belajar (ini PR besar para principal ^^). Sedang pelatihan metode & teknik hanyalah inspirasi, tabungan ide di kepala guru-guru.
Silakanlah guru ngajar, gimana aja metodenya, pake apa aja alatnya, asal siswa mengalami proses belajar (dan tentu saja kita semua tau, ketika guru mengajar, tidak berarti siswa belajar).
Ini kotak peralatan perang saya di sekolah.
Saya bukan a good storyteller, gapteknya pol, dan lemah di bidang kinestetik. Hal2 tadi bukan kekuatan saya, jadi ketika mengajar, saya tidak banyak berceramah, tidak banyak menggunakan teknologi, dan hanya sedikit berlarian di lapangan.
Tapi saya suka craft, meski ga jago. Maka itulah yang banyak saya gunakan. Tentu saja tidak semua guru harus menggunakan cara seperti saya.
Apa saja yang cocok dengan guru & efektif bagi siswa, maka itulah metode yang keren.
29 May 2013
BERHENTI MENGELUH JIKA....
Kemarin ketika saya dan suami ngobrol ringan, dia bertanya, "Apakah dosen yang harus membuat materi jadi menarik bagi seluruh mahasiswa?"
Suami saya dosen di salah satu PTN, kebanyakan kelasnya adalah mata kuliah matematika.
Saya bilang, "Harusnya begitu. Pendidik harus menunjukan di mana menariknya suatu ilmu."
"But not in university," kata suami saya.
Menurutnya, siswa harus diinspirasi ketika di sekolah, bukan di universitas. Di sekolah ada berbagai macam pelajaran, dan saat itulah guru harus menunjukkan bagian-bagian terbaik dari mata pelajaran yang diampunya, ke mana mata pelajaran ini akan menuju nantinya, dan menjadikan mata pelajaran ini punya 'makna' untuk masing-masing siswa.
Siswa yang kemudian akan menentukan, "Saya memimpikan sesuatu di masa depan, dan mata pelajaran ini akan jadi bagiannya."
Jadi sekolah tidak mempelajari hal-hal terlalu dalam dan teknis, tapi merupakan ekspose dan pencarian minat/bakat. Di universitas, anak harusnya sudah memilih jurusan dengan alasan pribadi, bukan karena 'katanya....' atau 'kayaknya....' atau 'yah, habisnya....'. Dengan demikian, semua mata kuliah akan menarik dengan sendirinya. Atau kalau tidak, semua penting dan dilakukan dengan sukarela.
Begitukah? Harus nanya teman-teman dosen nih kayaknya.
Lalu saya membaca buku Sekolah Anak-anak Juara oleh Munif Chatib. Di sana dia mengutip tabel dari buku Thomas Amstrong berjudul The Best School. Tabel itu memaparkan suasana pendidikan terbaik dan fokus utama yang harusnya kita jadikan tujuan tiap jenjang, mulai dari TK hingga SMA, yang berbasis pada riset pengembangan manusia (bukan pengembangan industri ya, hehehe).
Saya baru sadar bahwa kapasitas otak saya tampaknya tidak mampu mencerna Sisdiknas kita, dan baru mengerti dari tabel sederhana ini, bahwa memang harus ada gambaran besar pendidikan seperti ini dalam membesarkan anak-anak kita, baik di sekolah maupun di rumah. Yang berkelanjutan, yang praktis (mudah dilaksanakan), yang sesuai dengan fitrah manusia, yang mengakomodasi kebutuhan kehidupan.
Anak akan menjelajah dan belajar bagaimana cara dunia ini bekerja ketika berada di pendidikan dasar, lalu mulai bersiap untuk masuk kehidupan profesional dan menemukan di bagiam mana dari dunia ini yang merupakan tempat mereka.
Jika itu terjadi, mungkin saya akan berhenti mengeluh bahwa anak-anak kehilangan minat belajar (terhadap hampir apapun) di usia yang baru 15 tahun, dan suami akan berhenti mengeluh bahwa mahasiswanya have no idea tentang kenapa mereka memilih jurusan dan apa yang mereka tuju sebenarnya dari pilihan tersebut.
Suami saya dosen di salah satu PTN, kebanyakan kelasnya adalah mata kuliah matematika.
Saya bilang, "Harusnya begitu. Pendidik harus menunjukan di mana menariknya suatu ilmu."
"But not in university," kata suami saya.
Menurutnya, siswa harus diinspirasi ketika di sekolah, bukan di universitas. Di sekolah ada berbagai macam pelajaran, dan saat itulah guru harus menunjukkan bagian-bagian terbaik dari mata pelajaran yang diampunya, ke mana mata pelajaran ini akan menuju nantinya, dan menjadikan mata pelajaran ini punya 'makna' untuk masing-masing siswa.
Siswa yang kemudian akan menentukan, "Saya memimpikan sesuatu di masa depan, dan mata pelajaran ini akan jadi bagiannya."
Jadi sekolah tidak mempelajari hal-hal terlalu dalam dan teknis, tapi merupakan ekspose dan pencarian minat/bakat. Di universitas, anak harusnya sudah memilih jurusan dengan alasan pribadi, bukan karena 'katanya....' atau 'kayaknya....' atau 'yah, habisnya....'. Dengan demikian, semua mata kuliah akan menarik dengan sendirinya. Atau kalau tidak, semua penting dan dilakukan dengan sukarela.
Begitukah? Harus nanya teman-teman dosen nih kayaknya.
Lalu saya membaca buku Sekolah Anak-anak Juara oleh Munif Chatib. Di sana dia mengutip tabel dari buku Thomas Amstrong berjudul The Best School. Tabel itu memaparkan suasana pendidikan terbaik dan fokus utama yang harusnya kita jadikan tujuan tiap jenjang, mulai dari TK hingga SMA, yang berbasis pada riset pengembangan manusia (bukan pengembangan industri ya, hehehe).Saya baru sadar bahwa kapasitas otak saya tampaknya tidak mampu mencerna Sisdiknas kita, dan baru mengerti dari tabel sederhana ini, bahwa memang harus ada gambaran besar pendidikan seperti ini dalam membesarkan anak-anak kita, baik di sekolah maupun di rumah. Yang berkelanjutan, yang praktis (mudah dilaksanakan), yang sesuai dengan fitrah manusia, yang mengakomodasi kebutuhan kehidupan.
Anak akan menjelajah dan belajar bagaimana cara dunia ini bekerja ketika berada di pendidikan dasar, lalu mulai bersiap untuk masuk kehidupan profesional dan menemukan di bagiam mana dari dunia ini yang merupakan tempat mereka.
Jika itu terjadi, mungkin saya akan berhenti mengeluh bahwa anak-anak kehilangan minat belajar (terhadap hampir apapun) di usia yang baru 15 tahun, dan suami akan berhenti mengeluh bahwa mahasiswanya have no idea tentang kenapa mereka memilih jurusan dan apa yang mereka tuju sebenarnya dari pilihan tersebut.
08 March 2013
BUDAYA SEKOLAH
Di sekolah-sekolah, plang dan spanduk 'Jagalah
Kebersihan' atau 'Buanglah Sampah di Tempatnya' bertaburan. Apa kelas
jadi bersih? Apa di kolong-kolong meja tak ada lagi sampah bekas makanan? Apa
pojok2 dan koridor bebas sampah? Apa lantai kantin rapi?
Banyak pula plang berbahasa Inggris, dari yang bener sampe yang ngaco. Apakah itu membuat siswa lancar berbahasa Inggris? Ataukah membuat siswa memiliki wawasan global? Atau nilai Bahasa inggris bisa terkatrol?
Karena budaya, mulai dari buang sampah, menjawab salam, sampai yang 'besar2' seperti toleransi, wawasan global, kritis, atau apalah, bukan hanya diperintahkan, tapi juga dicontohkan, dilatihkan, dibiasakan, didukung, didampingi, disediakan fasilitasnya. dari semua sisi, oleh semua orang. Sampai semua anggota komunitas di situ merasa bahwa budaya bersih, budaya mengasihi, budaya apapun yang dimiliki, bukanlagi aturan yang diterapkan, tapi kebiasaan. Menang seharusnya begitu. Tidak ada cara lain yang lebih 'gue' dibanding cara itu.
Tentu saja, ortunya dulu sebelum anak. Gurunya dulu sebelum siswa. Hayooo, gimana caranya supaya guru bisa 'berbudaya'?
Omong2, jauh lebih sulit mendidik GURUNYA dibanding mendidik siswanya. lebih sulit mendidik ORTUNYA dibanding mendidik anaknya. Pengalaman pribadi.
Banyak pula plang berbahasa Inggris, dari yang bener sampe yang ngaco. Apakah itu membuat siswa lancar berbahasa Inggris? Ataukah membuat siswa memiliki wawasan global? Atau nilai Bahasa inggris bisa terkatrol?
Karena budaya, mulai dari buang sampah, menjawab salam, sampai yang 'besar2' seperti toleransi, wawasan global, kritis, atau apalah, bukan hanya diperintahkan, tapi juga dicontohkan, dilatihkan, dibiasakan, didukung, didampingi, disediakan fasilitasnya. dari semua sisi, oleh semua orang. Sampai semua anggota komunitas di situ merasa bahwa budaya bersih, budaya mengasihi, budaya apapun yang dimiliki, bukanlagi aturan yang diterapkan, tapi kebiasaan. Menang seharusnya begitu. Tidak ada cara lain yang lebih 'gue' dibanding cara itu.
Tentu saja, ortunya dulu sebelum anak. Gurunya dulu sebelum siswa. Hayooo, gimana caranya supaya guru bisa 'berbudaya'?
Omong2, jauh lebih sulit mendidik GURUNYA dibanding mendidik siswanya. lebih sulit mendidik ORTUNYA dibanding mendidik anaknya. Pengalaman pribadi.
14 February 2013
GENOGRAM
Apakah harusnya kelas XII fokus ke UN saja, yah? Apa mereka masih perlu duduk melingkar untuk jam kerohanian di masjid, atau ikut kelas pengembangan diri? Lumayan juga kan, ada 4 jam tambahan untuk belajar. Tapi ga tega deh, rasanya. Kepala mereka udah ngebul kebanyakan latihan soal. Barangkali saja kelas rohis, PD, maupun kelas seni justru bisa menjadi selingan.
Jadi kami duduk lagi di kelas PD. Saya bersama belasan siswa kelas XII, gabungan dari 3 kelas berbeda. Hari itu kami membuat genogram, atau pohon keluarga. Bukan hanya berisi nama, tapi juga pendidikan terakhir dan pekerjaan sekarang.
Apa adanya kita sekarang adalah hasil bentukan nature+nurture, dan keluarga jelas memegang peranan besar mengatur cara pandang kita terhadap sesuatu, termasuk tentang pendidikan dan jenis pekerjaan. Meskipun semua siswa pasti hapal apa pendidikan terakhir dan pekerjaan orang tuanya, tapi kebanyakan belum 'ngeh' sebelum dipetakan seperti ini. Maka saya meminta anak-anak membuat genogram.
Saya teringat salah satu anak di kelas XII, kira-kira 2 tahun yang lalu. Ketika saya bertanya apa rencananya setelah lulus SMA, dia menjawab, "Akan bekerja di pengeboran minyak lepas pantai."
Wow, itu jenis pekerjaan yang tak pernah saya bayangkan akan keluar dari murid saya, seorang siswa SMA di Ciledug, Tangerang. Ketika saya tanya kenapa demikian, dia bilang ingin ikut kakaknya yang sudah lebih dulu bekerja di sana. Oh, ternyata begitu. Ini menjelaskan tentang pengaruh keluarga/lingkungan pada pilihan pendidikan dan karir kita.
Seperti juga pada kenyataan bahwa setiap tahun saya menyodorkan persyaratan beasiswa ke luar negeri pada siswa-siswa kelas XII, tapi ternyata tak seorang pun berani mencoba. Bahkan mencoba saja tidak berani. Kuliah di luar negeri sepertinya jauh sekali dari dunia mereka, dan sulit dibayangkan. Mungkin saja karena tak seorangpun dari orang-orang terdekat mereka yang memiliki pengalaman tersebut, hingga tampaknya impossible.
Kembali ke genogram, saya membaca hasil genogram yang dibuat para siswa dan menemukan beberapa hal menarik. Banyak profesi terbaca di sana, dari guru, supir taksi, ibu rumah tangga, wartawan, sales, pedagang, buruh, petani, sampai pengrajin sepatu.
Saya bertanya pada mereka, adakah yang sudah pernah mengobrol dengan pamannya yang wartawan, atau kakaknya yang menjadi kasir supermarket? Tentang bagaimana asyiknya wartawan, atau bagaimana cara melamar kerja di supermarket. Adakah yang sudah meminta tips bagaimana berdagang atau bagaimana cara memasarkan sepatu? Kalau bapaknya petani, adakah yang menjadikannya inspirasi dalam memilih jurusan saat kuliah? Kalau kebanyakan keluarganya hanya lulusan SD, adakah yang berniat menjejaki pendidikan tinggi?
Lalu kenapa tidak terpikir 'menggunakan' teman sendiri? Ngobrol dengan kakaknya teman yang bekerja di showroom mobil, belajar memelihara ternak dari ayah teman yang petani, atau belajar manajemen warung dari teman yang keluarganya nge-warung.
Inilah serunya menjadi mentor kelas pengembangan diri. Saya bisa melihat jiwa-jiwa muda yang punya kesempatan tak terbatas untuk tumbuh, potensi yang bisa kita, para guru, bangunkan dan dorong keluar. Mudah-mudahan saja materi genogram bisa berguna untuk anak-anak ini dalam membangun masa depan mereka.
14 January 2013
"SAYA SUKA NYIRAM, BU!"
Mengabaikan segala hal yang memecah konsentrasi (yang saya tuliskan di sini), saya kembali ke fokus pembicaraan bersama setengah dari kelas yang memperhatikan. Kami membicarakan hal yang membuat mereka enjoy dan terasa easy melakukannya. Ini bisa jadi awal menemukan passion yang ingin dijalani setelah lulus.
Dan seorang siswa menyela, "Saya suka nyiram, Bu!"
Maksudnya adalah menyiram tanaman di sore hari. Selama saya berbicara, siswa memang bebas menyela dan menanggapi atau bertanya, tanpa harus mengangkat tangan dan dipersilakan. Langsung saja bicara, dan langsung juga saya tanggapi. Jadi ada rasa seperti ngobrol beneran.
Saya melihat spontanitas di wajah Rani, siswa yang bicara itu. Teman-temannya juga merasa begitu. Maka semua terdiam beberapa detik, lalu tawa pecah di kelas itu. Saya membiarkannya sejenak.
"Bagus banget, tuh!" komentar saya bersemangat setelah tawa reda. Hobi menyiram adalah sebuah penemuan berharga, itu bisa jadi awal menemukan passion, bukan? Rani bisa jadi tukang bunga, misalnya.
Siswa tertawa lagi, kali ini heran. "Masa' cita2 jadi tukang bunga, Bu?"
"Loh, tukang bunga, atau florist, adalah pekerjaan yang indah. Sehari-hari bergaul dengan bunga dan tanaman, merangkainya jadi indah, dan hasil karyanya digunakan pada acara-acara istimewa." Saya menyarankan Rani ikut kursus merangkai bunga atau budidaya tanaman. Jika ingin kuliah pun, sudah enak pilih jurusannya. Tidak bingung lagi.
Para siswa mengangguk-angguk mengerti, tak ada lagi yang mengejek hobi 'menyiram' Rani, sementara wajah Rani terlihat cerah, seperti ada lampu menyala di kepalanya.
Rani adalah siswi yang lemah di bidang akademik. Meski begitu, beberapa saat setelah saya bicara tentang hal yang membuat enjoy dan terasa easy, dia langsung paham dan mengaitkan dengan dirinya, lalu menemukan aktifitas itu. Sementara itu teman-temannya, bahkan yang dibilang pintar-pintar, masih mencari di kepala mereka.
Yah, hal itu juga membuat saya iri sebenarnya. Ketika saya seusia Rani, saya belum menemukan kegiatan yang bisa jadi calon passion saya kelak. Tembus UMPTN, tapi 'tersesat' begitu perkuliahan di mulai bukan hal yang membanggakan juga sebenarnya.
Sedang untuk siswa-siswa lain, saya melihat bahwa banyak hal perlu dibukakan pada anak-anak ini. Mereka tertawa dan mengejek, lebih banyak karena mereka belum tahu. Ketika wawasan mereka dibuka, mereka akan melihat bahwa dunia ini sungguh luas, dengan berbagai kemungkinan di dalamnya.
* * * * *
Saya merasa beruntung sekali minggu ini. Tiga tulisan dihasilkan dari satu materi yang sama di tiga kelas XII, membukatikan bahwa saya belajar banyak sekali. Saya membaca galau mereka yang sebentar lagi lulus, saya mengatasi rasa marah diri sendiri, saya melihat potensi anak-anak ini. Bagi saya, ini adalah tambahan berguna bagi cara pandang saya terhadap siswa. Mudah-mudahan obrolan ini bermanfaat bukan hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk siswa yang bersedia mengikuti.
Dan seorang siswa menyela, "Saya suka nyiram, Bu!"
Maksudnya adalah menyiram tanaman di sore hari. Selama saya berbicara, siswa memang bebas menyela dan menanggapi atau bertanya, tanpa harus mengangkat tangan dan dipersilakan. Langsung saja bicara, dan langsung juga saya tanggapi. Jadi ada rasa seperti ngobrol beneran.
Saya melihat spontanitas di wajah Rani, siswa yang bicara itu. Teman-temannya juga merasa begitu. Maka semua terdiam beberapa detik, lalu tawa pecah di kelas itu. Saya membiarkannya sejenak.
"Bagus banget, tuh!" komentar saya bersemangat setelah tawa reda. Hobi menyiram adalah sebuah penemuan berharga, itu bisa jadi awal menemukan passion, bukan? Rani bisa jadi tukang bunga, misalnya.
Siswa tertawa lagi, kali ini heran. "Masa' cita2 jadi tukang bunga, Bu?"
"Loh, tukang bunga, atau florist, adalah pekerjaan yang indah. Sehari-hari bergaul dengan bunga dan tanaman, merangkainya jadi indah, dan hasil karyanya digunakan pada acara-acara istimewa." Saya menyarankan Rani ikut kursus merangkai bunga atau budidaya tanaman. Jika ingin kuliah pun, sudah enak pilih jurusannya. Tidak bingung lagi.
Para siswa mengangguk-angguk mengerti, tak ada lagi yang mengejek hobi 'menyiram' Rani, sementara wajah Rani terlihat cerah, seperti ada lampu menyala di kepalanya.
Rani adalah siswi yang lemah di bidang akademik. Meski begitu, beberapa saat setelah saya bicara tentang hal yang membuat enjoy dan terasa easy, dia langsung paham dan mengaitkan dengan dirinya, lalu menemukan aktifitas itu. Sementara itu teman-temannya, bahkan yang dibilang pintar-pintar, masih mencari di kepala mereka.
Yah, hal itu juga membuat saya iri sebenarnya. Ketika saya seusia Rani, saya belum menemukan kegiatan yang bisa jadi calon passion saya kelak. Tembus UMPTN, tapi 'tersesat' begitu perkuliahan di mulai bukan hal yang membanggakan juga sebenarnya.
Sedang untuk siswa-siswa lain, saya melihat bahwa banyak hal perlu dibukakan pada anak-anak ini. Mereka tertawa dan mengejek, lebih banyak karena mereka belum tahu. Ketika wawasan mereka dibuka, mereka akan melihat bahwa dunia ini sungguh luas, dengan berbagai kemungkinan di dalamnya.
* * * * *
Saya merasa beruntung sekali minggu ini. Tiga tulisan dihasilkan dari satu materi yang sama di tiga kelas XII, membukatikan bahwa saya belajar banyak sekali. Saya membaca galau mereka yang sebentar lagi lulus, saya mengatasi rasa marah diri sendiri, saya melihat potensi anak-anak ini. Bagi saya, ini adalah tambahan berguna bagi cara pandang saya terhadap siswa. Mudah-mudahan obrolan ini bermanfaat bukan hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk siswa yang bersedia mengikuti.
09 January 2013
SETUMPUK GALAU
Ini adalah setumpuk galau milik kelas XII BN, yang sebentar lagi akan melepas label anak sekolahan, untuk selamanya. Setelah itu dunia nyata menunggu mereka: kuliah, bekerja, menikah, atau nganggur?
"Di penghujung akhir semester genap ini (harusnya dia menulis: semester ganjil) perasaan dan pemikiran saya bingung untuk menentukan jalan mana yang akan dipilih, karena saya sebagai laki-laki khawatir atau takut (akan) jalan yang saya pilih, sementara itu bukan yang terbaik buat diri saya.
Pencarian jati diri pun terus saya lakukan. harus bagaimana, dengan cara apa, dan mau jadi apa saya nanti, itulah yang saya pikirkan saat ini."
Yang menulis seperti ini bukan cuma satu, tapi hampir semua anak. Saat sebentar lagi akan lulus seperti ini, mereka masih tidak mengerti harus ke mana, karena belum menemukan passion diri.
Pernah mengalaminya? Saya pernah, persis sama, ketika kelas 3 SMA dulu.
Salah seorang mentor saya mengatakan bahwa passion bisa kita kenali salah satunya dengan rumus 4E: ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN. Hal yang jadi passion kita haruslah sesuatu yang kita nikmati, terasa mudah melakukannya mesti butuh waktu dan usaha yang besar, dan karena 'betah' ngulikin hal itu maka akan mudah mencapai tingkat excellent, dan akhirnya, bisa mendatangkan uang, tak jarang dengan sendirinya.
Jadi Senin kemarin, demi menghangatkan kelas di hari pertama aktif belajar, saya dan siswa kelas XII BN ngobrol sambil menilai diri sendiri, hal apakah dari mereka yang memenuhi setidaknya 2 E pertama, yang mereka enjoy dan easy melakukannya.
Apakah menggambar, musik, twitteran, menulis, kerajinan tangan, pangkas rambut, memasak, fisika, fashion, drama korea, coklat? Semua bisa saja dijadikan awal dari passion yang bisa menghidupi diri dan keluarga.
Dan mereka menuliskan setumpuk galau mereka di atas kertas. Mereka khawatir tentang ujian, tentang jalan yang dipilih setelah ujian, tentang keluarga yang mungkin tak setuju atas pilihan mereka, tentang keinginan untuk secepatnya mandiri, tentang orang tua yang tidak bisa membiayai kuliah, tentang sifat jelek yang sulit dihilangkan, tentang menjadi contoh yang baik untuk adik, banyak sekali.
Sungguh saya bersyukur mereka galau, karena kalau tidak justru akan mengkhawatirkan. Galau artinya mereka berpikir, dan tugas kita para guru untuk menunjukkan jalan.
Satu tulisan membuat saya tersenyum:
"Yang memang sangat saya sukai yaitu memelihara hewan/binatang peliharaan seperti kelinci, hamster, marmut dll kecuali yang najis. Kenapa? Karena saya pernah merasakan dan hampir punya peternakan. Emmmmh..... dulu saya pernah punya kelinci 23 ekor ketika umur 14 tahun dengan modal pembelian 7000 untuk 1 ekor kelinci betina.
Tapi Allah berkehendak lain. Ketika kelinci saya sudah mulai banyak dan penjualan lancar, saya terkena musibah kecelakaan dan tak bisa berjalan hampir 6 bulan lamanya. Alhasil kelinci saya tak ada yang merawat dan satu persatu mati karena sakit dan sampai habislah semuanya itu. Dan saya sempat putus asa tentang itu selama beberapa tahun.
Akan tetapi dengan adanya 4E saya mendapat bimbingan dan wawasan baru. saya akan tetap menekuni apa yang memang saya sukai itu nanti."
Jika passion sudah ketemu seperti ini, semua akan jadi lebih jelas: kuliah sudah terbayang jurusan apa yang diminati, kerja pun bisa langsung ambil di bidang yang disukai. Tinggal kita yang tua-tua ini melakukan tugas, yaitu mendukung secara moril dan materil.
12 November 2012
KELAS PD BIKIN PD
Sedikit banyak saya merasa iri pada siswa-siswa saya sekarang.
Utamanya karena di zaman saya sekolah dulu, belum ada yang disebut
dengan pendidikan karakter yang terencana seperti sekarang.
Tapi kami guru-guru di sekolah ini hampir tak tau apa-apa tentang pendidikan karakter ini. Semua guru di sini belum pernah mendapatkan pelatihan resmi tentang pendidikan karakter. Yang kami punya hanya naluri sebagai guru, bahwa siswa tak bisa hanya dicekoki pelajaran saja. Tapi juga harus dibangun jiwanya, diperluas wawasannya.
Sebenarnya pencarian atas bentuk pendidikan karakter di sekolah kami sudah cukup lama juga. Begitu pendidikan karakter mulai digaungkan, dinas pendidikan kota sudah menyuplai buku pegangan untuk guru dan siswa. Penerbit juga menyebar sampel buku pendidikan karakter yang bisa dibeli. Sayang, cara materi itu disajikan sungguh kering dan tidak menginspirasi.
Ada juga materi yang bagus, malah telah di-franchise-kan secara internasional. Sebenarnya saya ngiler berat begitu lihat materi dan tampilan tools-nya. Tapi ya itu, mihil, bo... Akhirnya kami memutuskan, kita buat sendiri aja!
Meski
pendidikan karakter seharusnya menyatu dalam pembelajaran, tapi
dipandang perlu untuk tetap menjadwalkan satu jam pelajaran sebagai
waktu khusus membimbing soft skills siswa. Setiap Rabu pagi, masing-masing guru dengan 20 siswa kelompoknya duduk melingkar. Semacam morning talk, begitu. Kami menyebutnya kelas PD, Pengembangan Diri.
Apa hebatnya program ini? Bukankah sekolah lain juga banyak yang memiliki program serupa? Malah bukan hanya seminggu sekali, tapi setiap hari.
Ya memang ini program biasa saja. Tapi untuk sekolah yang pada siang hari ruangannya digunakan untuk sekolah lain, bahkan 45 menit untuk jam 'ngobrol-ngobrol dengan siswa' ini sulit sekali dapat tempat di antara sesaknya kurikulum. Solusinya? Kami mengorbankan jam pelajaran. Dan hasilnya sama sekali tidak merugi.
Adalah Fahrudin, guru IPS, yang merangkum semua materi yang bisa kami dapat. Guru-guru PD yang lain mengumpulkan berbagai materi dari buku, internet, majalah, tabloid, dan sumber lain. Fahru kemudian menyortirnya, mana yang cocok untuk kelas X, kelas XI dan kelas XII. Lalu program semesternya dibuat. Semua proyek ini dilakukan tanpa bayaran.
Maka
inilah yang kami jalani tiap hari Rabu pagi, Kelas PD namanya. Kami tak
punya taman rindang apalagi saung, jadi kami menggunakan masjid,
perpus, kelas, lapangan, mana saja yang memungkinkan untuk anak-anak
duduk melingkar bersama mentor PD mereka.
Program kelas X difokuskan pada kecakapan pribadi. Materinya antara lain tentang perbedaan karakter, mendeteksi perubahan diri, pemahaman pada orang lain, kiat berteman, mengatur jadwal, sikap dan pikiran positif, keluarga dan teman, data sosiogram, pengendalian diri, tes gaya belajar, sikap belajar, dan menyontek.
Saya sendiri memegang salah satu kelompok kelas X.
Program kelas XI membahas kecakapan sosial. Materinya antara lain tentang laras bahasa, sikap asertif, respon pada pendapat orang, ekspresi positif, etika diskusi, hubungan remaja, kepedulian sosial, membaca boigrafi, dan terakhir, proyek tentang mimpi dan cita-cita.
Program kelas XII sebagai kelas tertinggi lebih ditujukan pada persiapan tentang kehidupan setelah lulus. Materinya antara lain tentang jenjang pendidikan tinggi, profesi dan karir, genogram, bakat dan minat, kewirausahaan, masalah pengangguran, masalah TKW/TKI, hingga persiapan pernikahan dan pernikahan dini
Di
kelas XII, terlihat sekali siswa lebih banyak memegang peranan
dibanding kelas-kelas sebelumnya. Keseruannya sudah mulai ketika siswa
mengadakan talent show, di mana tiap orang mempertunjukan bakat
dan minat yang mereka punyai.
Untuk materi kewirausahaan, siswa mencari profil pengusaha di lingkungan mereka, mewawancarai, dan mempresentasikannya. Setelah itu mereka membentuk kelompok usaha dan memulai proyek berjualan di sekolah. Tiap istirahat, kantor guru dipenuhi anak kelas XII yang berjualan, mulai coklat, kripik, sampai cupcake wortel dan bayam. Terakhir, mereka akan membuat laporan tertulis tentang proyek kewirausahaan ini.
Dengan keterbatasan pengetahuan kami tentang pendidikan karakter, soft skills, bimbingan konseling atau apapun namanya, inilah ikhtiar sederhana untuk para siswa. Harapannya, Kelas PD (Pengembangan Diri) bisa ikut mempersiapkan para siswa agar lebih PD (Percaya Diri) menghadapi dunia nyata
Dulu ketika sekolah, tak ada program seperti ini di sekolah saya. Jadi sekarang, bagaimana mungkin saya tak merasa iri ^_^?
Tapi kami guru-guru di sekolah ini hampir tak tau apa-apa tentang pendidikan karakter ini. Semua guru di sini belum pernah mendapatkan pelatihan resmi tentang pendidikan karakter. Yang kami punya hanya naluri sebagai guru, bahwa siswa tak bisa hanya dicekoki pelajaran saja. Tapi juga harus dibangun jiwanya, diperluas wawasannya.
Sebenarnya pencarian atas bentuk pendidikan karakter di sekolah kami sudah cukup lama juga. Begitu pendidikan karakter mulai digaungkan, dinas pendidikan kota sudah menyuplai buku pegangan untuk guru dan siswa. Penerbit juga menyebar sampel buku pendidikan karakter yang bisa dibeli. Sayang, cara materi itu disajikan sungguh kering dan tidak menginspirasi.
Ada juga materi yang bagus, malah telah di-franchise-kan secara internasional. Sebenarnya saya ngiler berat begitu lihat materi dan tampilan tools-nya. Tapi ya itu, mihil, bo... Akhirnya kami memutuskan, kita buat sendiri aja!
Meski
pendidikan karakter seharusnya menyatu dalam pembelajaran, tapi
dipandang perlu untuk tetap menjadwalkan satu jam pelajaran sebagai
waktu khusus membimbing soft skills siswa. Setiap Rabu pagi, masing-masing guru dengan 20 siswa kelompoknya duduk melingkar. Semacam morning talk, begitu. Kami menyebutnya kelas PD, Pengembangan Diri.Apa hebatnya program ini? Bukankah sekolah lain juga banyak yang memiliki program serupa? Malah bukan hanya seminggu sekali, tapi setiap hari.
Ya memang ini program biasa saja. Tapi untuk sekolah yang pada siang hari ruangannya digunakan untuk sekolah lain, bahkan 45 menit untuk jam 'ngobrol-ngobrol dengan siswa' ini sulit sekali dapat tempat di antara sesaknya kurikulum. Solusinya? Kami mengorbankan jam pelajaran. Dan hasilnya sama sekali tidak merugi.
Adalah Fahrudin, guru IPS, yang merangkum semua materi yang bisa kami dapat. Guru-guru PD yang lain mengumpulkan berbagai materi dari buku, internet, majalah, tabloid, dan sumber lain. Fahru kemudian menyortirnya, mana yang cocok untuk kelas X, kelas XI dan kelas XII. Lalu program semesternya dibuat. Semua proyek ini dilakukan tanpa bayaran.
Maka
inilah yang kami jalani tiap hari Rabu pagi, Kelas PD namanya. Kami tak
punya taman rindang apalagi saung, jadi kami menggunakan masjid,
perpus, kelas, lapangan, mana saja yang memungkinkan untuk anak-anak
duduk melingkar bersama mentor PD mereka.Program kelas X difokuskan pada kecakapan pribadi. Materinya antara lain tentang perbedaan karakter, mendeteksi perubahan diri, pemahaman pada orang lain, kiat berteman, mengatur jadwal, sikap dan pikiran positif, keluarga dan teman, data sosiogram, pengendalian diri, tes gaya belajar, sikap belajar, dan menyontek.
Saya sendiri memegang salah satu kelompok kelas X.
Program kelas XI membahas kecakapan sosial. Materinya antara lain tentang laras bahasa, sikap asertif, respon pada pendapat orang, ekspresi positif, etika diskusi, hubungan remaja, kepedulian sosial, membaca boigrafi, dan terakhir, proyek tentang mimpi dan cita-cita.
Program kelas XII sebagai kelas tertinggi lebih ditujukan pada persiapan tentang kehidupan setelah lulus. Materinya antara lain tentang jenjang pendidikan tinggi, profesi dan karir, genogram, bakat dan minat, kewirausahaan, masalah pengangguran, masalah TKW/TKI, hingga persiapan pernikahan dan pernikahan dini
Di
kelas XII, terlihat sekali siswa lebih banyak memegang peranan
dibanding kelas-kelas sebelumnya. Keseruannya sudah mulai ketika siswa
mengadakan talent show, di mana tiap orang mempertunjukan bakat
dan minat yang mereka punyai.Untuk materi kewirausahaan, siswa mencari profil pengusaha di lingkungan mereka, mewawancarai, dan mempresentasikannya. Setelah itu mereka membentuk kelompok usaha dan memulai proyek berjualan di sekolah. Tiap istirahat, kantor guru dipenuhi anak kelas XII yang berjualan, mulai coklat, kripik, sampai cupcake wortel dan bayam. Terakhir, mereka akan membuat laporan tertulis tentang proyek kewirausahaan ini.
Dengan keterbatasan pengetahuan kami tentang pendidikan karakter, soft skills, bimbingan konseling atau apapun namanya, inilah ikhtiar sederhana untuk para siswa. Harapannya, Kelas PD (Pengembangan Diri) bisa ikut mempersiapkan para siswa agar lebih PD (Percaya Diri) menghadapi dunia nyata
Dulu ketika sekolah, tak ada program seperti ini di sekolah saya. Jadi sekarang, bagaimana mungkin saya tak merasa iri ^_^?
30 October 2012
GURU KEPO
Saya memang kepo sama siswa, alias mau tauuuu aja! Dan baru saya sadari, keponya guru ternyata beragam caranya. Saya sendiri kurang nyaman kalau bicara secara pribadi semacam sesi konseling, dan lebih memilih melakukan bersama dengan banyak siswa di kelas.
Ternyata eh ternyata, salah satu sifat yang tidak disukai siswa dari guru adalah KEPO, hahahaha.... Ini saya ketahui ketika meminta anak mengumpulkan hal-hal yang yang mereka tidak sukai dari guru. Saat itu kami sedang berada di kelas PD, membahas tentang konflik yang terjadi antara remaja dengan teman, guru dan orang tua, serta bagaimana mengatasinya.
(Kelas PD, atau Pengembangan Diri, adalah kelas ngobrol-ngobrol. Semacam morning talk, di mana satu guru memandu <20 siswa, membahas pengembangan pribadi, sosial, dan karir)
Jadi, apa yang disebelin siswa dari kita para guru? Ini daftar panjangnya:
Bikin bete
Omongan ketinggian
Pelit (nilai, kayaknya)
Sok Jagoan
Ga mendengarkan
Galak
Sok galak
Kepo
Ngasih tugas kebanyakan
Kalo menerangkan ga jelas
Ga semangat pas ngajar
Sok pinter
Ngajarnya bikin ngantuk
Main HP di kelas
Jaim
Maunya menang sendiri
Sensitif banget
Pilih kasih sama anak pinter
Ngomong kecepetan
Membandingkan dengan kelas lain
Marah-marah ga jelas
Membosankan
Hahahaha.... Ternyata saya sudah lupa gimana rasanya jadi siswa. Membaca daftar ini, saya langsung berpikir, "Wih, dulu gue juga ngalamin!", persis seperti yang siswa-siswa saya rasakan. Aneh kan, ketika jadi guru, saya melakukan hal yang dulu saya benci. Jadi daftar ini membuat saya introspeksi diri kembali.
Sebagai guru, yang juga orang tua, saya juga tertarik ada daftar hal-hal yang disebelin anak dari ortunya. Ini daftarnya:
Ga ngertiin anak
Galak
Terlalu mengatur
Pilih kasih
Cepat tersinggung
Pelit
Kalo nyuruh kebanyakan
Khawatir berlebihan
Egois
Jarang ngajak jalan bareng
Ngga perhatian
Membandingkan dengan anak lain
Telalu menuntut
Terlalu sibuk
Curigaan
Berprasangka
Bertengkar di depan anak
Main tangan kalau marah
Tak cukup waktu. Kelas PD hanya 45 menit, jadi beberapa menit terakhir kami gunakan untuk berefleksi dan membangun empati. Siswa diminta membayangkan diri jadi orang tua, lalu mereka menjawab pertanyaan, "Anak kamu bilang, sebagai orang tua, kamu itu terlalu ngatur. Benarkah itu? Kenapa?"
Setelah itu, mereka diminta membayangkan diri jadi guru, lalu menjawab pertanyaan, "Siswa kamu bilang, sebagai guru, kamu itu sok jagoan. Benarkah itu? Kenapa?"
Terakhir, siswa mejawab pertanyaan berkaitan dengan teman, yaitu, "Teman kamu bilang, kamu itu egois. Benarkah itu? Kenapa?"
Menempatkan diri dalam posisi orang lain diharapkan bisa membuat siswa dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya dalam pertanyaan ketiga, beragam jawaban dilontarkan tentang kenapa mereka bisa egois. Misalnya:
"Karena saya harus membela diri. Semua orang juga begitu."
"Karena ada hal yang teman saya ga perlu tahu."
"Saya ga egois. Tiap orang kan beda2 pendapatnya."
Lalu kami berlari-lari kembali ke kelas, karena saya telah menggunakan beberapa menit dari jam pelajaran untuk membahas materi Kelas PD kali ini.
Ternyata eh ternyata, salah satu sifat yang tidak disukai siswa dari guru adalah KEPO, hahahaha.... Ini saya ketahui ketika meminta anak mengumpulkan hal-hal yang yang mereka tidak sukai dari guru. Saat itu kami sedang berada di kelas PD, membahas tentang konflik yang terjadi antara remaja dengan teman, guru dan orang tua, serta bagaimana mengatasinya.
(Kelas PD, atau Pengembangan Diri, adalah kelas ngobrol-ngobrol. Semacam morning talk, di mana satu guru memandu <20 siswa, membahas pengembangan pribadi, sosial, dan karir)
Jadi, apa yang disebelin siswa dari kita para guru? Ini daftar panjangnya:
Bikin bete
Omongan ketinggian
Pelit (nilai, kayaknya)
Sok Jagoan
Ga mendengarkan
Galak
Sok galak
Kepo
Ngasih tugas kebanyakan
Kalo menerangkan ga jelas
Ga semangat pas ngajar
Sok pinter
Ngajarnya bikin ngantuk
Main HP di kelas
Jaim
Maunya menang sendiri
Sensitif banget
Pilih kasih sama anak pinter
Ngomong kecepetan
Membandingkan dengan kelas lain
Marah-marah ga jelas
Membosankan
Hahahaha.... Ternyata saya sudah lupa gimana rasanya jadi siswa. Membaca daftar ini, saya langsung berpikir, "Wih, dulu gue juga ngalamin!", persis seperti yang siswa-siswa saya rasakan. Aneh kan, ketika jadi guru, saya melakukan hal yang dulu saya benci. Jadi daftar ini membuat saya introspeksi diri kembali.
Sebagai guru, yang juga orang tua, saya juga tertarik ada daftar hal-hal yang disebelin anak dari ortunya. Ini daftarnya:
Ga ngertiin anak
Galak
Terlalu mengatur
Pilih kasih
Cepat tersinggung
Pelit
Kalo nyuruh kebanyakan
Khawatir berlebihan
Egois
Jarang ngajak jalan bareng
Ngga perhatian
Membandingkan dengan anak lain
Telalu menuntut
Terlalu sibuk
Curigaan
Berprasangka
Bertengkar di depan anak
Main tangan kalau marah
Tak cukup waktu. Kelas PD hanya 45 menit, jadi beberapa menit terakhir kami gunakan untuk berefleksi dan membangun empati. Siswa diminta membayangkan diri jadi orang tua, lalu mereka menjawab pertanyaan, "Anak kamu bilang, sebagai orang tua, kamu itu terlalu ngatur. Benarkah itu? Kenapa?"
Setelah itu, mereka diminta membayangkan diri jadi guru, lalu menjawab pertanyaan, "Siswa kamu bilang, sebagai guru, kamu itu sok jagoan. Benarkah itu? Kenapa?"
Terakhir, siswa mejawab pertanyaan berkaitan dengan teman, yaitu, "Teman kamu bilang, kamu itu egois. Benarkah itu? Kenapa?"
Menempatkan diri dalam posisi orang lain diharapkan bisa membuat siswa dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya dalam pertanyaan ketiga, beragam jawaban dilontarkan tentang kenapa mereka bisa egois. Misalnya:
"Karena saya harus membela diri. Semua orang juga begitu."
"Karena ada hal yang teman saya ga perlu tahu."
"Saya ga egois. Tiap orang kan beda2 pendapatnya."
Lalu kami berlari-lari kembali ke kelas, karena saya telah menggunakan beberapa menit dari jam pelajaran untuk membahas materi Kelas PD kali ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)










