Showing posts with label nyampah. Show all posts
Showing posts with label nyampah. Show all posts

05 June 2016

EVALUASI PENDIDIKAN KARAKTER

Evaluasi pencapaian pendidikan karakter dalam acara Fieldtrip 2016 SMA Yapera ke Saung Angklung Mang Udjo Bandung, diikuti 200 peserta.

1. Peserta melaksanakan shalat tanpa diatur guru
2. Peserta antri dengan tertib saat mengambil wudhu tanpa diatur guru (spt dlm foto)
3. Peserta antusias mengikuti acara dan tertib mengikuti panduan
4. Peserta tidak bubar hingga selesai menjawab salam penutup dari pembawa acara
5. Secara umum tidak ada kemasan makanan/minuman di kolong bangku bis maupun tempat acara, namun masih ditemukan satu botol aqua dan dua lembar tisu di tempat duduk penonton
6. Tidak ditemukan peserta yang merokok.
7. Peserta sudah ada di bis pada waktu yang ditentukan.

Mengutip kata Pak Putra Indonesia, hal2 seperti ini adalah hal2 kecil dan rutin yang didawamkan guru pada siswa setiap harinya. Untuk hal2 sederhana seperti ini, kami butuh paling tidak sebelas bulan. Kuncinya ada pada keteladanan dan konsistensi, hingga masalah semacam buang sampah sudah menjadi kebiasaan, bukan lagi peraturan.


Tidak massal, namun intens.
Bukan conditioning, tapi penyadaran.
Ikhlas jika hasil besar tak segera datang.
Percaya bahwa Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali jika ada perubahan dalam jiwa mereka.


21 February 2015

ANAK SMA DAN KEDEWASAAN

(1)
Udah nonton Twilight Saga - Eclipse, kan? Masih inget valedictorian speechnya Jessica? Bisa dicari potongan filmnya di Youtube, tapi isinya kira2 begini:

"Waktu kita umur lima tahun, orang2 bertanya, "Mau jadi apa kalo sudah besar?" Kita jawab mau jadi astronot, presiden, atau kalo saya, pengen jadi putri.
Waktu kita sepuluh tahun dan ditanya lagi, jawabnya bintang rock, koboi, atau kalo saya, peraih medali emas.
Tapi sekarang kita sudah dewasa. Orang2 ingin jawaban yang lebih serius. Nah, bagaimana dengan ini ... WHO THE HELL KNOWS?
Sekarang bukan waktu untuk membuat keputusan yang sulit dan cepat. Sekarang adalah waktu untuk membuat kesalahan. Naik kereta api yang salah dan terjebak di suatu tempat dingin. Jatuh cinta, yang banyaaak. Ambil jurusan Filsafat karena ga ada lowongan kerja buat sarjana filsafat. Berubah pikiran, kemudian mengubahnya lagi, karena tidak ada yang tetap terus2an. Buat kesalahan sebanyak-banyaknya.
Dengan begitu, suatu hari nanti, ketika mereka bertanya lagi apa yang kita inginkan, kita ga perlu menebak. Kita sudah tau."


(2)
Beberapa hari ini saya memikirkan valedictorian speechnya Jessica tadi. Benarkah 18 tahun adalah waktu untuk membuat kesalahan? Jadi bisakah kita bilang "Maklum anak muda" jika seorang berusia 18 tahun berbuat tanpa pikir panjang?

Karena Usamah bin Zaid telah memimpin pasukan perang di usia 18 tahun.

(3)
Ketika seorang berusia 18 tahun, sudah pegang ijazah SLTA, tapi kenal dirinya sendiri saja tidak, bukankah kita harus khawatir?

Ditanya punya kompetensi apa yang bisa 'dijual', jawabnya tidak tau. Ditanya mau kejar karier di bidang apa, jawabnya tidak tau. Ditanya kenapa kuliah ambil jurusan itu, jawabnya tidak tau.


(5)
Kelas XII itu (atau harusnya sejak kelas X sih) itu harusnya waktu buat cari tau mau ngapain, ngider ke sana ke mari, ketemu dan ngobrol dengan banyak orang, liat segala macam. Karena begitu kuliah dan baru ngeh kalo ternyata jurusnya sama sekali bukan minat, bakal terjebak dan sulit balik karena terlanjur ngabisin waktu dan uang.

KENAPA JADI MALAH FULL PM DAN BIMBEL? ‪#‎IHateUN‬

07 August 2013

ME vs TIME


Eh jadi mikir, apa ga sebaiknya pendidikan menengah disatukan aja yah, artinya smp & sma/smk ada di satu sekolah. Soalnya kerasa bgt kl 3th terlalu pendek untuk membentuk kebiasaan. Belum keliatan hasilnya, eh anaknya keburu lulus.

Dari awal jadi guru, yg paling terasa nyebelin » selalu aja kurang waktu. Untuk materi pelajaran aja kurang, apalagi pengembangan diri siswa Kirain karena sekolah saya bukan fullday. Sekarang baru tau kl ternyata biar pulang sekolah jam 4 sore, tetep aja waktu terasa kurang.

Tau guru/sekolah yg 'menang' lawan kurikulum? Kenalin dong, saya pengen belajar caranya, serius! Sejak awal ngajar th 2000 sampe sekarang, saya belum pernah merasa menang deh lawan kurikulum. 'Menang' maksudnya waktunya cukup untuk bahas semua materi, anak2 paham semua, karakter & budaya terbangun, semua yg dituntut kurikulum lah. 

 Tp kurnas itu yg bikin pan para ahli, masa' iya mrk ga becus ngitung beban belajar vs waktu, yekaaan? Artinya saya kali yg blm jago ngajar.

TETANG PELAJARAN AGAMA


Yang namanya ngaji atau belajar agama itu memang harus menyeluruh. Datang ke majelis zikir itu bagus sekali, tapi harus juga belajar aqidahnya, fiqhnya, akhlaknya, dst. Kenapa saya menulis begini? Karena saat tarawih, gemeeees lihat shaf shalat di bagian perempuan. Renggang, bolong-bolong, tidak lurus. Padahal dibanding kaum lelaki, kaum perempuan biasanya punya lebih banyak pengajian. Jadi harusnya lebih mengerti fiqih dasar seperti shalat.

Oh ya, saya pernah bertanya pada guru agama, kenapa banyak siswa SMA yang belum benar tata cara shalatnya. Padahal shalat itu ibadah utama, tiang agama. Apa tidak dibahas di kelas?

Guru agamanya bilang, "Tuntutan kurikulum, Bu. Materi shalat ada di SD. Untuk kurikulum SMA, pelajaran agama mempelajari waris, haji, dan demokrasi. Hampir tak ada waktu untuk memperbaiki shalat secara keseluruhan."

Eaaa.... shalat belum bener, kok sibuk ngitung faraidh.

Kalau pembelajaran kita menganut mastery learning, berarti materi harus dikuasai sebelum pindah materi lain. Kalau siswa SMA belum bisa shalat, apanya yang salah? Yah, nyengir aja dah.

Ya sudahlah, mom cleans the mess, as always. Kalau shalat tidak sempat meletakkan fondasi yang kokoh tentang shalat, kita saja orang tua yang melakukannya. Lagipula, itu memang kewajiban kita.

26 December 2012

NYAMPAH

Saya tahu, ini akan jadi blog post sampah, karena isinya menggerutu dan mengeluh, dengan bumbu menyalahkan orang lain. Bolehkah?

Ga boleh yah... =_=#

Begini saja. Saya bersyukur bertemu dengan Mba Lea. Saya kepingin nangis tiap baca posting terbaru di blognya. Kenapa? Karena Mba Lea mengajar di sekolah biasa, dengan siswa-siswa biasa, dengan fasilitas biasa, dan kurikulum nasional. Yang dihadapinya adalah kondisi sekolah pada umumnya di Indonesia.

Kelihatannya saya amat menyanjung Mba Lea, ya? Saya menaruh hormat, tapi lebih penting dari itu, saya merasa terhubung, connected, dengannya.

Karena Mba Lea bukan guru di sekolah terpadu, atau sekolah alam, atau sekolah internasional, atau IB school, atau sekolah nasional plus plus plus. Jadi bila Mba Lea melakukan sesuatu, maka artinya bisa dilakukan oleh kebanyakan guru di Indonesia, yang sekolahnya tidak punya tennis court dan kolam renang sendiri, yang paradigma rekan sejawat dan pimpinannya belum bergeser, yang siswanya tidak mampu membayar banyak untuk proyek macam-macam.

Jadi....

Ah, saya mengaku sajalah.

Kadang saya berpikir:

Kalau sekolah saya lebih kaya, mungkin saya bisa melakukan lebih banyak hal.
Kalau saya disediakan lebih banyak fasilitas, mungkin pembelajaran bisa lebih bervariasi dan menyenangkan.
Kalau saya bisa mendapat lebih banyak dukungan orang tua, mungkin masalah non akademik bisa lebih mudah terselesaikan.
Kalau saya bisa mendapat waktu yang lebih panjang.... 
Kalau kelas yang ada tak harus dipakai bersama sekolah lain....
Kalau....
Kalau....
Kalau....

Tentu saja saya menyiksa diri sendiri dengan sibuk mengutuk kegelapan, tapi menyalakan lilin ternyata bukan perkara gampang.

Dan sungguh berbeda antara membicarakan pendidikan di dalam seminar, paper atau media sosial, dengan menangani banyak siswa kelas X yang mengeja 'siapa' dengan s-i-y-a-p-a dan tak paham cara menambahkan pecahan, berhadapan dengan pihak yayasan yang tak mau mengerti, dibebani ujian nasional, serta kasus kehamilan dan aborsi anak usia 16 tahun.