11 January 2013

AHAYDE

Jadi memang itu yang tertulis: AHAYDE. Yang artinya kira-kira sejalan dengan 'asik, dah!'.


Setelah saya bicara berbusa-busa 40 menit tentang what-so-called kisah inspiratif, dengan suara serak akibat flu, saya mendapat 'ahayde' di kertas yang seharusnya berisi narasi/kontemplasi masing-masing siswa kelas X SMA. Kesal? Tentu saja. Guru juga manusia.

Di berbagai blog guru yang saya stalk diam-diam ^_^, biasanya yang tertulis adalah kisah keberhasilan, metode sukses, atau keisengan manis dari siswa-siswa di kelas. Meski saya tahu bahwa kisah pembelajaran tiap guru di kelas pastilah tak selalu mulus, tapi sepertinya menceritakan kegagalan perlu juga sesekali. Untuk evaluasi, paling tidak.

Jadi begitulah, saya mendapat 'ahayde'. Tapi bukan hanya itu, ada lagi yang lain:


Oh, my.... ^_^;

Itu di kelas X. Jam berikutnya di salah satu kelas XII. Saya bicara mungkin sekitar 80 menit, diselingi beberapa komentar dan pertanyaan singkat dari beberapa siswa, dan selama itu hanya setengah baris ke depan yang mendengarkan. Setengah bagian ke belakang ngobrol sendiri. Sakit hati? Ya, tentu saja saya merasa tidak dihormati.

Harusnya jangan kebanyakan ceramah? Mungkin saja. Tapi untuk hal yang saya sampaikan kemarin, memang tak banyak metode lain yang bisa dipilih. Kami bicara tentang passion, tentang rencana masa depan, dan tentang 4E. Belum ada ide menjadikannya metode yang lebih hands on.

Tapi saya malas sekali bila harus marah-marah di kelas. Bagi anak kelas XII SMA, marah-marah akan selalu jadi bumerang bagi guru. Semua guru yang mengajar tingkat SLTA pasti sepakat. Bukannya siswa akan mengekeret takut, tapi justru tambah nantangin. Alhasil, bukannya guru 'menang' dan kelas damai, tapi malah tambah kesel dan kelas makin tak kondusif.

Dalam kondisi seperti ini saya teringat sahabat saya sesama pendidik, Wiwiet Mardiati. Dialah yang menasihati saya agar "Don't take it personally." Kelas bukanlah ring tinju untuk membuktikan yang siapakah yang menang dan berkuasa, apakah guru atau murid. Jadi tiap 'kebandelan' yang dilakukan bukanlah karena siswa berniat mengalahkan gurunya, atau mau meruntuhkan otoritas sekolah, tapi karena mereka belum bisa mengalahkan diri sendiri. Guru jangan merasa offended, justru harus sympathize.

Sementara ini, saya belum menemukan cara lain untuk mengelola emosi di kelas (atau di rumah bersama anak) yang lebih baik dari caranya Wiwiet ini. Dengan cara ini, saya bisa mengembalikan lagi kewarasan yang sempat hilang karena emosi, dan membalik kemarahan jadi simpati.

Saya tidak lagi marah pada beberapa siswa kelas X dalam kisah 'ahayde' di atas. Mereka baru kelas X, baru 6 bulan pindah dari SMP ke SMA. Masih suka bercanda konyol, dan boleh jadi belum terbiasa menulis kontemplatif seperti kakak-kakak kelas mereka (seperti blog post saya yang ini).

Jadi, kasus 'ahayde' sepenuhnya bisa saya pahami. Berarti, sedikit demi sedikit, kesadaran akan sikap yang lebih dewasa, termasuk diantaranya keterampilan membangun visi dan berkontlempasi, harus mulai diterapkan bagi kelas X.

Seadang pada cerita kedua, saya masih menata hati soal ini. Kemarin saya biarkan saja yang menolak memperhatikan, dan fokus pada anak-anak yang dari sorot matanya saya tahu bahwa mereka tertarik. Karena tak adil jika saya membuang waktu untuk mengurusi orang yang menolak saya, dan mengabaikan orang yang bersedia mendengarkan.

Yang penting, saya sudah menyampaikan bahwa saya concern terhadap hidup mereka.

Tiap orang punya punya sosok 'guru' masing-masing di antara semua pengajar yang pernah dia temui sepanjang hidup. 'Guru' itu yang menyentuh hati dan mengubah hidupnya. Dan tentu saja, sosok guru itu belum tentu saya. Bagi yang menolak memperhatikan saya kemarin itu, mereka akan menemukan 'guru'nya sendiri nanti, insya Allah.

Tapi memang, begitu saya menggeser tempat menjadi seseorang yang bersimpati, saya merasa prihatin. Sebentar lagi lulus SLTA, tapi belum bisa mengendalikan diri sendiri dan memilih apa yang lebih penting? Ah, ini benar-benar jadi bahan evaluasi bagi saya. Di mana salahnya? Apakah sistemnya, atau ada hal lain yang belum saya mengerti di sini?

Jadi begitulah. Menggeser tempat dari guru yang marah menjadi guru yang bersimpati ternyata works on me. 

09 January 2013

SETUMPUK GALAU


Ini adalah setumpuk galau milik kelas XII BN, yang sebentar lagi akan melepas label anak sekolahan, untuk selamanya. Setelah itu dunia nyata menunggu mereka: kuliah, bekerja, menikah, atau nganggur?



"Di penghujung akhir semester genap ini (harusnya dia menulis: semester ganjil) perasaan dan pemikiran saya bingung untuk menentukan jalan mana yang akan dipilih, karena saya sebagai laki-laki khawatir atau takut (akan) jalan yang saya pilih, sementara itu bukan yang terbaik buat diri saya.

Pencarian jati diri pun terus saya lakukan. harus bagaimana, dengan cara apa, dan mau jadi apa saya nanti, itulah yang saya pikirkan saat ini."

Yang menulis seperti ini bukan cuma satu, tapi hampir semua anak. Saat sebentar lagi akan lulus seperti ini, mereka masih tidak mengerti harus ke mana, karena belum menemukan passion diri.

Pernah mengalaminya? Saya pernah, persis sama, ketika kelas 3 SMA dulu.

Salah seorang mentor saya mengatakan bahwa passion bisa kita kenali salah satunya dengan rumus 4E: ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN. Hal yang jadi passion kita haruslah sesuatu yang kita nikmati, terasa mudah melakukannya mesti butuh waktu dan usaha yang besar, dan karena 'betah' ngulikin hal itu maka akan mudah mencapai tingkat excellent, dan akhirnya, bisa mendatangkan uang, tak jarang dengan sendirinya.

Jadi Senin kemarin, demi menghangatkan kelas di hari pertama aktif belajar, saya dan siswa kelas XII BN ngobrol sambil menilai diri sendiri, hal apakah dari mereka yang memenuhi setidaknya 2 E pertama, yang mereka enjoy dan easy melakukannya.

Apakah menggambar, musik, twitteran, menulis, kerajinan tangan, pangkas rambut, memasak, fisika, fashion, drama korea, coklat? Semua bisa saja dijadikan awal dari passion yang bisa menghidupi diri dan keluarga. 

Dan mereka menuliskan setumpuk galau mereka di atas kertas. Mereka khawatir tentang ujian, tentang jalan yang dipilih setelah ujian, tentang keluarga yang mungkin tak setuju atas pilihan mereka, tentang keinginan untuk secepatnya mandiri, tentang orang tua yang tidak bisa membiayai kuliah, tentang sifat jelek yang sulit dihilangkan, tentang menjadi contoh yang baik untuk adik, banyak sekali.

Sungguh saya bersyukur mereka galau, karena kalau tidak justru akan mengkhawatirkan. Galau artinya mereka berpikir, dan tugas kita para guru untuk menunjukkan jalan.

Satu tulisan membuat saya tersenyum:


"Yang memang sangat saya sukai yaitu memelihara hewan/binatang peliharaan seperti kelinci, hamster, marmut dll kecuali yang najis. Kenapa? Karena saya pernah merasakan dan hampir punya peternakan. Emmmmh..... dulu saya pernah punya kelinci 23 ekor ketika umur 14 tahun dengan modal pembelian 7000 untuk 1 ekor kelinci betina. 

Tapi Allah berkehendak lain. Ketika kelinci saya sudah mulai banyak dan penjualan lancar, saya terkena musibah kecelakaan dan tak bisa berjalan hampir 6 bulan lamanya. Alhasil kelinci saya tak ada yang merawat dan satu persatu mati karena sakit dan sampai habislah semuanya itu. Dan saya sempat putus asa tentang itu selama beberapa tahun.

Akan tetapi dengan adanya 4E saya mendapat bimbingan dan wawasan baru. saya akan tetap menekuni apa yang memang saya sukai itu nanti."

Jika passion sudah ketemu seperti ini, semua akan jadi lebih jelas: kuliah sudah terbayang jurusan apa yang diminati, kerja pun bisa langsung ambil di bidang yang disukai. Tinggal kita yang tua-tua ini melakukan tugas, yaitu mendukung secara moril dan materil.

01 January 2013

KISAH KALA HUJAN


Sore ini hujan lebat, saya jadi teringat pada sebuah kisah manis.

Seorang sahabat saya menikah dengan pria Jepang dan tinggal di sana. Lewat laman Facebooknya dia bercerita bahwa sore itu juga hujan bertepatan dengan jam pulang sekolah. Karena deras, dia menjemput gadisnya dengan mobil. Seperti ibunya, gadis manis ini juga berjilbab, satu-satunya muslimah di sekolah itu, tentu saja.

Tapi mobil tak bisa masuk melewati lapangan, jadi sang ibunda melambai dari pagar luar sekolah. Si gadis bersama dua sahabat nihonjin-nya bergegas berlari menerobos hujan. Tapi tiba-tiba, mereka merasakan sesuatu di atas kepala mereka.

Payung. Ketika si gadis menoleh ke belakang, seorang pemuda tersenyum di sana, sambil menyediakan payungnya.

Aawww..... Seperti cerita dalam shoujo manga ^_^

Saya mengajar siswa-siswa SMA, seusia dengan gadis pada cerita di atas. Karena saya berteman pula dengan siswa-siswa saya di Facebook dan Twitter, maka saya membaca status dan tweet mereka berhubungan dengan cinta. Saya tersenyum melihat para remaja ini memaknai cinta dengan begitu hiruk pikuk, satu saat dengan berbunga-bunga, saat lain dengan galau dan keluhan, tak jarang air mata ikut serta.

Gadis yang saya ceritakan tadi seorang muslimah, dan sang pemuda bukan. Mereka juga baru SMA, dan tak harus merasakan kehidupan cinta yang pelik semacam menikah vs perbedaan keyakinan. Tapi rasa ketertarikan adalah fitrah manusia.

Cerita sahabat saya di atas adalah tentang cinta yang sederhana, tak ditingkahi macam-macam hal, bahkan tak juga menuntut balasan. Bening.

Saya percaya bahwa guru bukan hanya ditugasi mengajarkan mata pelajaran pada anak, membuat soal ujian, lalu mengolahnya jadi nilai rapor. Saya percaya tugas guru adalah membimbing jiwa-jhiwa muda ini untuk mengerti segala hal di dunia ini. Termasuk cinta.

Saya harap pada suatu saat siswa-siswa saya bisa merasakan cinta yang bening seperti itu.

26 December 2012

NYAMPAH

Saya tahu, ini akan jadi blog post sampah, karena isinya menggerutu dan mengeluh, dengan bumbu menyalahkan orang lain. Bolehkah?

Ga boleh yah... =_=#

Begini saja. Saya bersyukur bertemu dengan Mba Lea. Saya kepingin nangis tiap baca posting terbaru di blognya. Kenapa? Karena Mba Lea mengajar di sekolah biasa, dengan siswa-siswa biasa, dengan fasilitas biasa, dan kurikulum nasional. Yang dihadapinya adalah kondisi sekolah pada umumnya di Indonesia.

Kelihatannya saya amat menyanjung Mba Lea, ya? Saya menaruh hormat, tapi lebih penting dari itu, saya merasa terhubung, connected, dengannya.

Karena Mba Lea bukan guru di sekolah terpadu, atau sekolah alam, atau sekolah internasional, atau IB school, atau sekolah nasional plus plus plus. Jadi bila Mba Lea melakukan sesuatu, maka artinya bisa dilakukan oleh kebanyakan guru di Indonesia, yang sekolahnya tidak punya tennis court dan kolam renang sendiri, yang paradigma rekan sejawat dan pimpinannya belum bergeser, yang siswanya tidak mampu membayar banyak untuk proyek macam-macam.

Jadi....

Ah, saya mengaku sajalah.

Kadang saya berpikir:

Kalau sekolah saya lebih kaya, mungkin saya bisa melakukan lebih banyak hal.
Kalau saya disediakan lebih banyak fasilitas, mungkin pembelajaran bisa lebih bervariasi dan menyenangkan.
Kalau saya bisa mendapat lebih banyak dukungan orang tua, mungkin masalah non akademik bisa lebih mudah terselesaikan.
Kalau saya bisa mendapat waktu yang lebih panjang.... 
Kalau kelas yang ada tak harus dipakai bersama sekolah lain....
Kalau....
Kalau....
Kalau....

Tentu saja saya menyiksa diri sendiri dengan sibuk mengutuk kegelapan, tapi menyalakan lilin ternyata bukan perkara gampang.

Dan sungguh berbeda antara membicarakan pendidikan di dalam seminar, paper atau media sosial, dengan menangani banyak siswa kelas X yang mengeja 'siapa' dengan s-i-y-a-p-a dan tak paham cara menambahkan pecahan, berhadapan dengan pihak yayasan yang tak mau mengerti, dibebani ujian nasional, serta kasus kehamilan dan aborsi anak usia 16 tahun.

21 December 2012

DEAR MY STUDENTS #2

Pagi yang cerah ^o^.... Apa kabar, semua?

Ada rencana apa aja nih, untuk liburan? Saya setuju banget sama RT salah satu siswa beberapa hari yang lalu. Kalian tuh kayaknya kebanyakan belajar deh. Hati-hati ah, bisa jadi pinter nanti.... Nah, sekarang waktunya melihat dunia. Coba nih, saya tanya:


Udah pernah lihat proses kupu-kupu keluar dari kepompong?  
Udah pernah nyebrang ke Kepulauan Seribu? 
Udah pernah lihat padang edelweiss langsung? 
Udah pernah lihat matahari terbit dari puncak gunung?  
Udah pernah bakar udang segede gaban di pinggir pantai?

Okelah, mungkin biayanya agak gede. Sekarang yang ini:

Pernah nyusurin jalur kereta commuter line dari ujung sampe ujung?  
Pernah nonton pagelaran di GKJ?
Pernah ke musium apa aja?
Pernah ke Kampung Betawi di Setu Babakan?
Pernah ke Pecinan-nya di sekitar Jakarta (banyak nih)? 
Pernah foto di jembatan Passer Baroe? 
Pernah nyari barang vintage di jalan Surabaya? 
Pernah muter-muterin kota tua?

Atau gimana kalo liburan ini:
Bikin web? 
Belajar nyetir? 
Belajar biola? 

Buat yang kelas XII, jangan gunakan liburan ini hanya untuk jalan-jalan doang. Sekarang waktunya untuk ancang-ancang masa depan. Gimana caranya? Salah atunya gini:

Punya kakak atau temen atau saudara yang kuliah? Minta ajak ke kampusnya, lihat langsung isi kampus, minta terangin sistem belajarnya, kelebihan kekurangannya. Ini manjur banget buat persiapan masuk dunia kampus, biar ga salah pilih. Beda banget loh, antara cuma lihat dari brosur dengan dateng langsung dan ngobrol sama 'pelaku'.

Yang ga kalah penting, bikin ancang-ancang tempat kerja. Ini untuk yang ga memilih kuliah atau mau kuliah sambil kerja. Ada beberapa tempat/kantor yang mengizinkan karyawannya menerima tamu. Kalau ada yang punya kakak atau teman atau saudara yang sudah bekerja, dan kalau diizinkan sama bosnya, datangi aja. Cari tau enak/ga enaknya kerja jadi SPG, jaga counter, gudang, kasir, administrasi, koki, frontdesk, dll. Lebih seru lagi kalo temen kamu punya usaha sendiri. Magang bisa jadi pengalaman berharga!

Para alumni yang baca note ini, adik-adiknya tolong dibantu yaaa.... prokprokprok!

Jadi, jangan sia-siakan masa liburan. Jangan sampe, eh udah 6 Januari, besok udah masuk lagi, kok belum ke mana-man.

Oke deh, selamat liburan, semoga tanggal 7 kita bisa kembali ke sekolah dengan fresh!


Salam,
Irma.

13 December 2012

KURIKULUM YANG BAIK

Apakah kurikulum tersebut jelas, konkret, punya tujuan menyeluruh yang konsisten dengan nilai-nilai sosial? 

Bisakah para siswa menjelaskan bagaimana setiap pelajaran terhubung ke tujuan di atas?
 
Apakah kurikulum tersebut bukan hanya menghormati, tetapi memanfaatkan perbedaan peserta didik?

  
Apakah kurikulum tersebut berjalan dengan mulus dengan tingkat kompleksitas "ide"yang semakin tinggi ?

Apakah diperlukan penggunaan rutin dari semua proses berpikir?

  
Adalah apa yang diajarkan bisa langsung berguna ketika berurusan dengan kehidupan di luar sekolah? 

Apakah anak-anak bisa bangkit dari kursi mereka dan melakukan sesuatu yang mereka anggap penting?
 

Apakah kurikulum tersebut mencerminkan peralihan dari sulitnya akses informasi, kepada kemudahan akses informasi, dan pada akhirnya kepada akses informasi tak terbatas?
 

Adalah apa yang materi dipelajari terlalu rumit untuk dievaluasi oleh mesin?


Jika semua jawabannya adalah YA, maka artinya kurikulum tersebut adalah kurikulum yang baik.



Sumber: http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2012/11/28/nine-questions-about-21st-century-curriculum/

11 December 2012

NASIHAT LAMA

Sebenarnya hari ini saya ngeblog dengan perasaan melow, karena satu kabar yang saya terima di sekolah. Tapi ini blog yang bisa dibaca oleh umum, jadi tentu tak bisa saya ceritakan dengan detil (tapi mesti bisa pada nebak, hehehehe).

Saya menikah usia 21. Melahirkan di usia 22. Sudah dewasakah perempuan usia 22 tahun? Tentu dewasa tak ditentukan oleh berapa usia, tapi dari sikap. Tapi setidaknya ketika itu, saya sudah merasa punya bekal.

Meski tak bisa dibilang aktifis, saya beberapa kali ikut organisasi, sejak tingkat dua sudah memiliki penghasilan sendiri, di waktu yang bersamaan saya kuliah di dua tempat berbeda, dan telah mengurus bayi merah sejak usia saya 19 tahun. Jadi saya pikir, di usia 22 tahun, saya telah memiliki sedikit bekal manajemen, kemandirian, terbiasa sibuk, dan biasa dengan urusan bayi.

Ketika punya anak, apa saya bisa menangani semuanya? Ternyata tidak. Saya mengalami baby blues, saya sering menangis sendiri karena rumah berantakan, belum mandi, dan anak rewel. Ternyata, mengurus rumah tangga bukan seperti menjalankan organisasi, dan jauh lebih sulit dari mengatur kelas. Yah, padahal anak baru satu, rumah cuma sepetak.

Menjadi menjadi ibu rumah tangga bukan perkara enteng. Beberapa teman saya yang menikah di usia yang lebih dewasa dan matang pun tetap merasa menjalani peran ibu tidaklah mudah.

Jadi hal itu menjelaskan mengapa saya khawatir pada para siswi saya. Pernikahan muda bukan masalah, saya pun menikahrelatif muda. Yang jadi masalah adalah pernikahan tanpa persiapan dan bekal. Apalagi pernikahan yang diawali dengan sebuah kekacauan.

Makanya saya rela dibilang sok tua dan nyinyir oleh siswa karena berulang-ulang bilang: "Ada memang cowok atau cewek yang asik diajak jalan dan senang-senang. Tapi yang harus kamu cari adalah seseorang yang kamu inginkan untuk jadi ayah atau ibu anak-anakmu di masa depan.

Kamu mau cowok yang masih nenggak pil jadi suami kamu? Kamu suka cowok yang ngoleksi bokep jadi ayah anak-anakmu? Kamu rela memperistri cewek yang pulang jam 2 pagi sambil teler? Kamu rela cewek yang gampang dipepet jadi ibu anak-anak kamu?"

03 December 2012

DANGKAL DAN MENTAH?

Karena berteman dan following akun siswa di jejaring sosial, saya jadi sedikit tau lebih tentang siswa-siswa saya. Tapi pengetahuan tidak selalu jadi hal yang menyenangkan. Banyak hal yang mungkin akan membuat kita lebih tenang bila kita tidak mengetahuinya, terutama hal-hal yang sulit kita pengaruhi.

Setelah berusaha sekemampuan, saya mengerenyitkan dahi membaca kicauan anak yang tidak puas dengan apa yang terjadi di sekolah, atau anak yang kepingin pindah sekolah karena satu hal remeh. Kalau di kelas saya melihat sosok beberapa siswa sebagai anak lugu, ternyata tak berarti sama ketika menulis status Facebook dan berkicau di Twitter.

Kenyataan ini sebelumnya membuat saya gelisah. Mungkin karena bingung atas penilaian diri sendiri pada orang lain, setengah lagi mungkin dipengaruhi oleh rasa putus asa kenapa pendidikan tak menjadikan mereka lebih matang berpikir.

Suami saya memberi saran: jika ingin tetap berada di socmed, jangan gampang sakit hati. Dan beberapa orang memang punya pikiran pendek.

Jadi saya menyadari, mereka baru 15-18 tahun. Dan saya salah jika mengukur pemikiran dan ucapan mereka dengan mengambil diri sendiri yang ubanan ini sebagi tolok ukur. Bagaimana bisa saya mengharap mereka punya keluasan pandangan, pertimbangan, tanggung jawab, dan kepekaan rasa seperti ibu-ibu beranak tiga?

Ketika saya SMA, begitulah saya juga bersikap. Persis seperti siswa-siswa saya sekarang. Kalau pemikiran anak muda tidak terasa dangkal dan mentah, kemudian apa guna pendidik?

Oh iya, lupa. Mengajarkan mereka cara cepat mengerjakan soal UN.

27 November 2012

KARENA SEBUAH KENANGAN

Tak disangka, mengenakan batik PGRI untuk yang pertama kalinya mendatangkan keharuan dalam dada. Apakah karena merasa bagian dari sebuah organisasi guru? Apakah karena romantisme perjuangan si pahlawan tanpa tanda jasa?

Hehehehe, bukan....

Tapi karena sebuah kenangan.


Ketika saya bercermin di pagi sebelum upacara, lembaran-lembaran kenangan tentang guru-guru saya dulu segera memenuhi kepala. Saya menggunakan pakaian yang sama persis dengan yang digunakan Bu Ida Idris, Pak Budi, Pak Bahroin, Pak Samsul. Seperti melihat kembali mereka berdiri di depan kelas, berjalan di koridor, dan menuruni tangga menuju kantor guru.

Maka saya bahagia, bukan karena seragam apa yang saya gunakan, tapi karena perasaan dekat dengan guru-guru saya tercinta.

Memang waktu sungguh bergerak. Saya yang dulunya siswa, sekarang menggunakan pakaian yang sama dengan guru-guru saya.

Di sisi lain, siswa-siswa saya, yang sungguh saya ajar di kelas ketika usia mereka 15 tahun, sekarang telah jadi rekan sejawat saya.


Ini adalah Wahyu, 7 tahun lalu dia adalah murid saya, sekarang telah jadi rekan sekerja. Jadi saya harus memanggilnya Pak Wahyu. Aneh sekali rasanya berfoto pagi kemarin itu, karena saya merasa sepertinya saya tak ke mana-mana, sementara kejadian-kejadian lain di dunia berdesingan melewati saya. Jarak antara guru dan siswa yang dulu terlihat jauh, ternyata hari ini sudah hilang sama sekali.

Meski merasa limbung dengan kenyataan betapa relatifnya waktu ketika berkelindan dengan kenyataan, saya nikmati perjalanan ini dengan penuh syukur.

SELAMAT HARI GURU!

23 November 2012

BALAS DENDAM

Pernahkah anda masuk ke kelas dan hanya melihat sepertiga saja dari jumlah keseluruhan siswa?

Yah, itu terjadi pada saya hari Senin lalu. Karena saya masuk setelah jam istirahat, saya bertanya apakah siswa lain masih ada di kantin. Ternyata tidak, duapertiga isi kelas memang tak hadir hari itu.


Bagaimanapun, guru piket pasti sudah mengambil langkah tentang masalah ini, jadi saya tak perlu ngomel lagi di kelas. Lagi pula, siapa yang harus diomeli, kan yang alpa tidak ada di sini. Masa' iya malah ngomelin siswa yang masuk?


Tapi kesal sih tetap ada, dan setiap menemukan kasus seperti ini, saya selalu gemas. Meski tanpa persiapan, saya segera putar otak merencanakan pembalasan bagi mereka yang tidak hadir.


Saya menyuruh siswa pindah ke perpustakaan, syukurlah ruang audiovisual sedang kosong. Sementara para siswa pindah gedung, saya berlari pulang, mencari beberapa buku, CD, dan mencetak bahan, syukurlah rumah saya dekat sekali dengan sekolah.



Apa yang kami pelajari hari itu? Manga.

Ya, komik. Kami membahas tentang shoujo manga dan shounen manga. Syukurlah kedua jenis manga itu tersedia di perpus. Kami juga membedakan manga yang masih raw dan manga yang sudah di-flip oleh penerbit Indonesia. Syukurlah kedua jenis itu juga tersedia di perpus.


Kemudian saya membahas sedikit yang saya tau tentang animasi dari Studio Ghibli, dan memutar sedikit cuplikan dari Tales from Earthsea. Terakhir, kami bernyanyi bersama: Teru no Uta *, salah satu suara terindah namun tersedih yang pernah saya dengar.


Saya tak tahu banyak soal manga dan anime, lagi pula itu semua tak ada dalam kurikulum. Tapi siswa yang tak lebih lima belasan orang itu sangat antusias, dan ketika kami bernyanyi bersama, saya segera bisa melihat bahwa mereka some how terhubung dengan (terjemahan) Teru no Uta.


Jadi, itulah balas dendam saya pada siswa yang berani-beraninya tidak masuk hari itu.


Melewatkan kelas saya? Mereka akan menyesal melakukannya!





* Barangkali ada yang mau dengar Teru no Uta (Therru'Song): http://www.youtube.com/watch?v=8M15yHEnEJ0. Teks yang saya punya ditulis ulang dan diterjemahkan oleh sahabat saya, Nesia Andriana.





--TERU NO UTA –

Penyanyi : Teshima Aoi
Penerjemah : Nesia A.

夕闇迫る雲の上
Yuuyami semaru kumo no ue
Samar menjauh di atas langit

いつも一羽で飛んでいる

Itsumo ichiwa de tonde iru
Selalu sendirian ia saja terbang

鷹はきっと 悲しかろ
Taka wa kitto kanashi karou
Elang itu sedih, tentu

音も途絶えた風の中
Oto mo todaeta kaze no naka
Suaranya hanyut bersama angin

空をつかんだその翼
Sora wo tsukanda sono tsubasa
Sayap yang mencengkeram langit

休めることは できなくて

Yasumeru koto wa deki nakute
Tidak bisa ia beristirahat

***

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoeyou
Hati ini, tak seorangpun tahu

鷹のような このこころ

Taka no you na kono kokoro
Hati ini bagai elang itu

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoeyou
Hati ini, tak seorangpun tahu

空を舞うような 悲しさを

Sora wo mau youna kanashi sa wo


Kesedihan yang menari di langit, sungguh
menyakitkan

***

雨のそぼ降る岩陰に

Ame no sobo furui wakage ni
Di bawah bayangan batu karang, saat hujan turun

いつも小さく咲いている
Itsumo chiisaku saite iru
Ia mekar kecil saja

花はきっと せつなかろ

Hana wa kitto setsuna karou
Bunga itu sedih, tentu

色もかすんだ雨の中

Iro mo kasunda ame no naka
Warnanya pun memudar di tengah hujan

薄桃色の花びらを

Usu momo-iro no hanabira wo
Kelopak merah muda sewarna  peach

愛でてくれる 手もなくて

Medete kureru te mo nakute
Tak ada tangan yang ingin menyayanginya

***

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoe you
Hati ini, tak seorangpun tahu

花のような このこころ
Hana no you na kono kokoro
Hati ini, bagai bunga itu

こころを何に たとえよう

Kokoro wo nani ni tatoe you
Hati ini, tak seorangpun tahu

雨に打たれる せつなさを
Ame ni utareru setsuna sa wo
Kesedihan yang terbentur derai hujan

***

人影絶えた野の道を

Hitokage taetano no michi wo
Bayangan orang-orang sirna di jalan setapak

私 と共 に 歩んでる

Watashi to tomo ni ayunderu
Bersamaan ketika aku melangkah

あなた も きっと さみしかろ

Anata mo kitto samishi karou
Kamu juga kesepian, bukan?

虫 の 囁くくさはらを

Mushi no sasayaku kusahara wo
Serangga berdenging di semak-semak

共に道行く人だけど
Tomo ni michiyuku hito dakedo
Bersama-sama kita menapaki jalan itu

絶えて物言う こともなく

Taete mono iu koto mo naku
Tapi tak ada kata yang bisa diucapkan

***

こころを何に たとえよう
Kokoro wo nani ni tatoe you
Hati ini, tak seorangpun tahu

一人道行く このこころ
Hitori michiyuku kono kokoro
Hati ini sendirian menapaki jalan

こころを何に たとえよう
Kokoro wo nani ni tatoeyou
Hati ini, tak seorangpun tahu

ひとりぼっちの さみしさを
 Hitoribocchi no samishi sa wo
Kesendirian yang sepi ini sungguh
menyakitkan

***

"PINJAM RAUTAN YA, BU!"

Tadi, seorang siswa memanggil saya yang sedang berkeliling memeriksa tugas yang sedang dikerjakan siswa.

"Ibu punya rautan ga, Bu?"

Saya menyuruhnya mengambil di tempat pensil saya di atas meja guru, dan dia bangkit, berjalan ke depan kelas, lalu mengorek-ngorek tempat pensil saya.

Tiba-tiba saya jadi ingat dengan istilah 'akrab dominan' yang diperkenalkan oleh seorang tokoh pendidikan, kala bicara bagaimana model hubungan terbaik antara guru dan siswa. Guru harus akrab, namun tak boleh kehilangan wibawa.

Saya sendiri masih berusaha untuk memiliki hubungan 'akrab dominan' ini, sambil mereka-reka apa saya sudah menuju arah yang benar dalam membina hubungan dengan siswa.

Tak banyak (tak ada? hihihi...) anak yang curhat masalahnya pada saya, namun seperti cerita di atas, sepertinya saya tak terlalu berjarak dengan siswa. Mungkin belum bisa dibilang akrab sih, tapi lumayanlah.

Ada guru yang akrab dengan siswa tapi kebablasan. Siswa bicara sembarangan dan berbicara/bersikap seperti pada teman. Ini juga tak baik, karena berarti tak mengenal adab. Istilahnya, akrab tapi tak dominan.

Saya melihat ke sekeliling. Beberapa siswa berjalan-jalan, suara obrolan juga mengambang samar di udara. Memang bukan kelas yang tenang.

Tapi mereka bekerja. Yang berjalan biasanya sedang meminjam spidol warna yang memang dipakai bergantian. Yang mengobrol ternyata membincangkan tugas yang sedang dikerjakan, tidak berteriak-teriak, tapi dengan suara ringan saja. Satu dua siswa berjalan menghampiri saya, membawa tugas setengah jadi, untuk memastikan mereka ada di jalur yang benar.

Ini kelas yang santai, saya kira, namun tetap fokus. Jadi rasanya saya tetap tidak kehilangan dominasi saya di sini.

12 November 2012

KELAS PD BIKIN PD

Sedikit banyak saya merasa iri pada siswa-siswa saya sekarang. Utamanya karena di zaman saya sekolah dulu, belum ada yang disebut dengan pendidikan karakter yang terencana seperti sekarang.

Tapi kami guru-guru di sekolah ini hampir tak tau apa-apa tentang pendidikan karakter ini. Semua guru di sini belum pernah mendapatkan pelatihan resmi tentang pendidikan karakter. Yang kami punya hanya naluri sebagai guru, bahwa siswa tak bisa hanya dicekoki pelajaran saja. Tapi juga harus dibangun jiwanya, diperluas wawasannya.

Sebenarnya pencarian atas bentuk pendidikan karakter di sekolah kami sudah cukup lama juga. Begitu pendidikan karakter mulai digaungkan, dinas pendidikan kota sudah menyuplai buku pegangan untuk guru dan siswa. Penerbit juga menyebar sampel buku pendidikan karakter yang bisa dibeli. Sayang, cara materi itu disajikan sungguh kering dan tidak menginspirasi.

Ada juga materi yang bagus, malah telah di-franchise-kan secara internasional. Sebenarnya saya ngiler berat begitu lihat materi dan tampilan tools-nya. Tapi ya itu, mihil, bo... Akhirnya kami memutuskan, kita buat sendiri aja!

Meski pendidikan karakter seharusnya menyatu dalam pembelajaran, tapi dipandang perlu untuk tetap menjadwalkan satu jam pelajaran sebagai waktu khusus membimbing soft skills siswa. Setiap Rabu pagi, masing-masing guru dengan 20 siswa kelompoknya duduk melingkar. Semacam morning talk, begitu. Kami menyebutnya kelas PD, Pengembangan Diri.

Apa hebatnya program ini? Bukankah sekolah lain juga banyak yang memiliki program serupa? Malah bukan hanya seminggu sekali, tapi setiap hari.

Ya memang ini program biasa saja. Tapi untuk sekolah yang pada siang hari ruangannya digunakan untuk sekolah lain, bahkan 45 menit untuk jam 'ngobrol-ngobrol dengan siswa' ini sulit sekali dapat tempat di antara sesaknya kurikulum. Solusinya? Kami mengorbankan jam pelajaran. Dan hasilnya sama sekali tidak merugi.

Adalah Fahrudin, guru IPS, yang merangkum semua materi yang bisa kami dapat. Guru-guru PD yang lain mengumpulkan berbagai materi dari buku, internet, majalah, tabloid, dan sumber lain. Fahru kemudian menyortirnya, mana yang cocok untuk kelas X, kelas XI dan kelas XII. Lalu program semesternya dibuat. Semua proyek ini dilakukan tanpa bayaran.

Maka inilah yang kami jalani tiap hari Rabu pagi, Kelas PD namanya. Kami tak punya taman rindang apalagi saung, jadi kami menggunakan masjid,  perpus,  kelas, lapangan, mana saja yang memungkinkan untuk anak-anak duduk melingkar bersama mentor PD mereka.

Program kelas X difokuskan pada kecakapan pribadi. Materinya antara lain tentang perbedaan karakter, mendeteksi perubahan diri, pemahaman pada orang lain, kiat berteman, mengatur jadwal, sikap dan pikiran positif, keluarga dan teman, data sosiogram, pengendalian diri, tes gaya belajar, sikap belajar, dan menyontek.

Saya sendiri memegang salah satu kelompok kelas X.

Program kelas XI membahas kecakapan sosial. Materinya antara lain tentang laras bahasa, sikap asertif, respon pada pendapat orang, ekspresi positif, etika diskusi, hubungan remaja, kepedulian sosial, membaca boigrafi, dan terakhir, proyek tentang mimpi dan cita-cita.

Program kelas XII sebagai kelas tertinggi lebih ditujukan pada persiapan tentang kehidupan setelah lulus. Materinya antara lain tentang jenjang pendidikan tinggi, profesi dan karir, genogram, bakat dan minat, kewirausahaan, masalah pengangguran, masalah TKW/TKI, hingga persiapan pernikahan dan pernikahan dini

Di kelas XII, terlihat sekali siswa lebih banyak memegang peranan dibanding kelas-kelas sebelumnya. Keseruannya sudah mulai ketika siswa mengadakan talent show, di mana tiap orang mempertunjukan bakat dan minat yang mereka punyai.

Untuk materi kewirausahaan, siswa mencari profil pengusaha di lingkungan mereka, mewawancarai, dan mempresentasikannya. Setelah itu mereka membentuk kelompok usaha dan memulai proyek berjualan di sekolah. Tiap istirahat, kantor guru dipenuhi anak kelas XII yang berjualan, mulai coklat, kripik, sampai cupcake wortel dan bayam. Terakhir, mereka akan membuat laporan tertulis tentang proyek kewirausahaan ini.

Dengan keterbatasan pengetahuan kami tentang pendidikan karakter, soft skills, bimbingan konseling atau apapun namanya, inilah ikhtiar sederhana untuk para siswa. Harapannya, Kelas PD (Pengembangan Diri) bisa ikut mempersiapkan para siswa agar lebih PD (Percaya Diri) menghadapi dunia nyata

Dulu ketika sekolah, tak ada program seperti ini di sekolah saya. Jadi sekarang, bagaimana mungkin saya tak merasa iri ^_^?