25 February 2012

NGERI

Belakangan ini, saya jadi agak 'ngeri' bertemu dengan cleaning service, penjaga di penitipan barang, penjaga toilet, waiter, atau sales promotion girl/boy. Rasanya tidak bisa cuek seperti dulu lagi. 'Ngeri' di sini maksudnya khawatir bertindak merendahkan, sembarangan menyuruh atau semacamnya.

Apa pasal?

Karena sekarang saya tahu bahwa mereka itu dulunya adalah siswa-siswa saya. Mereka bukan orang bodoh tak berpendidikan yang tidak berprestasi karena malas. Mereka, di suatu masa dalam hidupnya, adalah orang-orang yang pernah punya banyak mimpi.



Seperti L, yang melengos ketika bertemu saya. Dia memegang kain pel, dan seragamnya jelas menunjukkan bahwa profesinya adalah cleaning service sebuah mal. Apakah ada yang menyangka, kalau dia adalah lulusan terbaik di angkatannya? Tiga tahun dia menerima beasiswa dari yayasan karena prestasi belajar yang tidak tergeser dari puncak.

Kalau anda melihatnya, dia berpostur pendek, dengan perawakan mungil dan karakter pemalu. Walaupun prestasinya akademiknya di SMA gemilang, perusahaan akan lebih mengutamakan karyawan berpostur tinggi dan wajah ganteng untuk posisi di depan. Menyisakan orang-orang seperti L untuk mengepel lantai.

Kenyataan yang cukup meremas hati, memang.

Bagaimana pun, banyak orang cenderung menganggap pekerjaan 'kuli' adalah pekerjaan yang tidak bermartabat. Habis makan, buang saja di lantai. Nanti kan cleaning service yang membersihkan. Terima karcis tol, jangan repot-repot memasukkan karcis ke tempat sampah. Lepaskan saja di jalan, nanti juga ada tukang sapu. Habis main, biarkan saja lantai berantakan, kita kan punya pembantu.

Tentu saja, bagi penjual jasa, pelanggan adalah raja, yang harus dilayani sebaik-baiknya. Tapi harusnya, bagi pelanggan, semua manusia adalah sama, dan tak boleh memandang orang lebih rendah karena pekerjaannya yang bersifat melayani.

SUATU HARI NANTI

Suatu hari nanti, kita akan membangun sebuah sekolah untuk anak-anak dari "golongan sisa-sisa', yang ditolak oleh lingkungannya oleh berbagai alasan. Mungkin karena kenakalannya, mungkin karena kedunguannya yang luar biasa, mungkin karena kemiskinannya, mungkin karena apa saja yang distigmakan kepadanya.

Suatu hari nanti, kita akan membangun sebuah sekolah untuk anak-anak itu, sebagai upaya kita untuk membawa mereka pulang kepada kesempurnaan mereka. Kesempurnaan yang telah dihembuskan oleh Ia Yang Maha Sempurna. Di sekolah itu, semogalah mereka tumbuh dalam kegembiraan sejati seorang anak.

Jika seorang anak tumbuh ke arah yang salah, maka pasti, pasti, itu karena orang dewasa. Orang dewasa yang ada di rumahnya, dan atau orang dewasa yang ada di sekolahnya, dan atau orang dewasa yang ada di lingkungannya. Tentulah wajib bagi para orang dewasa untuk menebus kesalahannya itu.

Maka, suatu hari nanti kita akan membangun sekolah untuk anak-anak itu. Sekolah yang memungkinkan mereka untuk menjadi kegembiraan bagi semesta, kebahagiaan bagi langit dan bumi.


Saat ini, kita akan lebih dulu menyekolahkan diri kita sendiri. Supaya menjadi orang dewasa yang layak bagi mereka. Supaya menjadi guru, sahabat, dan pembimbing yang pantas bagi mereka.

Mei 2010
A. Muzi Marpaung

KAMU ANAK BAIK, KAMU TAHU? (1)

Bila ada yang bilang ku tak baik,
Jangan kau dengar....

Begitu kan, lirik lagunya BCL? Tadinya saya mendengarnya sekilas lalu saja, menikmatinya sebagai lagu cinta biasa, sampai awal tahun ajaran ini dimulai. Apa pasal? karena pada rembukan tentang pembagian ruang, salah satu guru yang meminta SMA (unit saya) menempati ruang lantai 2. Dan saya tersinggung.

Kenapa memangnya kalau SMA menempati lantai 2? Ya gapapa, karena bukan lokasi yang jadi masalah. Alasan bapak guru tersebut yang
bikin kesel, yaitu demi keamanan dan ketertiban.

Gubrak! Memangnya siswa saya itu para kriminal? >_<#

Saya cuma menanggapi, "Anak yang aktif itu biasanya pinter-pinter, Pak." Tapi ngomongnya dengan kalem, kan 'demi keamanan dan ketertiban' =_=;.



Ketika bertemu dengan anak-anak panitia MBS (Masa Bimbingan Studi) yang tak tau apa-apa, saya dengan sisa-sisa rasa mangkel di hati mengulangi lirik lagu BCL dengan sedikit perubahan, "Kalau ada yang bilang kalian bukan anak baik, jangan kalian dengar. Kalau ada yang bilang kalian ga keren, bandel, susah diatur, jangan kalian percaya."

Kenapa saya bilang gitu? Karena saya yang mengajar anak-anak ini. Saya yang tahu mereka, dan guru dari unit lain ga berhak omong sembarangan tentang siswa-siswa saya. Panitia MBS ini tentu tidak tahu menahu kenapa saya tiba-tiba bicara seperti itu, tapi yang penting 'penguatan' itu telah dilakukan. Mereka pun sepertinya paham maksud saya.

Dari Mbak Gita Lovusa, saya belajar tentang sesuatu yang bernama konsep diri.
Konsep diri menurut para ahli diartikan sebagai bagaimana diri mempersepsi fisik, sosial dan psikologi diri sendiri berdasarkan pengalaman dan interaksi diri dengan orang lain. Konsep diri seseorang dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain harapan orang tua, sikap anggota keluarga, kematangan biologis, sikap terhadap teman sebaya, efek dari media, dsb.

Ketika
anak mendapat konsep diri negatif di luar sekolah, bukankah
kita para guru, yang harus memperbaiki hal tersebut? Sudah bukan jamannya lagi mencap anak dengan sebutan-sebutan semacam bodoh, ga punya otak, o'on, bandel, susah diatur, dan sejenisnya.



Tentu seluruh dunia sudah membaca buku Totto-chan, bukan? Betapa Sosaku Kobayashi, sang kepala sekolah di Tomoe Gakuen, rajin sekali berkata pada muridnya, "Kamu anak baik, kamu tahu? Kamu benar-benar anak baik." Padahal Tomoe Gakuen berdiri di masa perang dunia kedua. Lha kalau sekarang masih ada guru yang mencap buruk anak-anak didik mereka, kemenong aje bo?

Eh, tapi kan siswanya ga tau kalo kita menganggap mereka bodoh dan nakal. Yang tau guru-guru aja, pas ngegosip sambil makan bakwan waktu jam istirahat. Tapi lagi-lagi ga bisa begitu. Anak-anak ini menangkap 'pandangan' kita lebih cepat daripada menangkap apapun yang kita ajarkan. Mereka tau loh, jika guru menganggap mereka o'on, karena terbaca dari gesture dan nada suara gurunya.

Tapi hal yang berkaitan dengan konsep diri bukan hanya kejadian di atas saja. Satu pengalaman lain saya dapatkan ketika bertemu lagi
dengan siswa untuk yang pertama kalinya sejak mereka naik ke kelas XII. tapi ceritanya bersambung ke tulisan berikutnya yah.

KAMU ANAK BAIK, KAMU TAHU? (2)

Hari itu saya melangkah ke kelas biru (warna kelas di sekolah kami berbeda-beda), dan bertemu untuk pertama kalinya dengan anak kelas XII. Ya, mereka baru 3 hari jadi anak kelas XII. Tingkatan yang penting menurut saya, karena tahun ini akan menjadi tahun terakhir bagi mereka berpredikat 'siswa'.

Dalam pertemuan pertama ini, belum ada materi yang kami pelajari. Saya hanya meminta mereka mengeluarkan selembar kertas dan alat tulis. Kami akan membuat kapsul waktu.

Kapsul waktu biasanya berupa kotak berisi benda-benda kenangan, lalu ditanam untuk beberapa tahun. Tapi kami membuat kapsul waktu yang lebih sederhana, hanya tulisan di awal tahun ajaran. Mereka diberi mereka 3 pertanyaan panduan, tentang apa yang terasa berubah tahun ini, bagaimana kira-kira tahun ini akan berlangsung, dan apa harapan terbesar di tahun ini. Ya memang, sebenarnya kami tengah berefleksi, lalu membuat pernyataan misi.

"Bila kalian mengizinkan saya membaca tulisan kalian, lipat kertas sekali. Bila tidak, lipat dua kali," kata saya.

Kertas-kertas dikumpulkan, dan terlihat beberapa yang dilipat dua kali. Saya menghela napas diam-diam. Ini tahun ketiga saya mengajar mereka, dan masih banyak anak yang memutuskan untuk belum bisa percaya pada saya. Tapi pilihan itu tetap harus dihargai, bukan?

Saya membaca satu persatu kertas yang terlipat sekali sambil tersenyum-senyum. Anak-anak ini berkembang, baik secara akademis maupun psikologis. Saya terus membaca, hingga sampai pada tulisan milik Dwi. Dwi adalah anak yang beberapa kali dikeluhkan guru-guru karena lambat menyerap materi. Kedisiplinannya pun kurang memuaskan walaupun tidak termasuk kategori berat.

Tapi kertas milik Dwi membuat saya tertegun. Dia menulis, "Saya ingin buktikan pada orang tua, teman dan guru bahwa saya bisa jadi anak yang baik."

Bisa jadi anak baik.

Saya langsung teringat Sosaku Kobayashi, kepala sekolah dalam buku Totto-chan. Katanya, "Ada orang yang mungkin berpendapat kau bukan anak baik dalam hal-hal tertentu, tapi watakmu yang sesungguhnya tidaklah buruk. Banyak watak baik dalam dirimu dan aku tahu itu" (hlm. 189).


Saya memanggi Dwi ke depan. Menunjuk tulisannya sambil meniru kata-kata Sosaku Kobayashi, "Tapi Dwi, menurut saya, kamu memang anak yang baik, kok. Kamu benar-benar anak yang baik.

Dwi kembali ke tempat duduknya, menelungkupkan kepala di atas meja. Teman-temannya ribut bertanya, "Kenapa sih? Diapain sama Bu Irma?" Dwi cuma menggeleng-geleng saja dan kembali menunduk dalam.

Saya menghela napas lagi. Saya memang sungguh-sungguh percaya bahwa Dwi, dan semua temannya, adalah anak yang baik. Bukan karena buku-buku parenting dan pendidikan mengatakan begitu, tapi karena agama saya yang mengajarkan demikian. Tiap manusia dilahirkan suci. Lalu kenapa anak jadi nakal? Kita orang tua, baik orang tua biologis maupun sosiologis, yang membuatnya demikian. Maka ketika anak bermasalah, hukumlah diri kita sendiri terlebih dulu.

Sebagai penutup hari itu, saya memuji tulisan mereka, yang juga menandakan keberhasilan guru Bahasa Indonesia di sekolah kami. Tiap kertas terisi penuh, bahkan ada yang menulis hingga ke halaman belakang. Inilah maksud saya menulis 'mereka berkembang secara akademis' di atas. Sedangkan secara psikologis, adalah karena saya menemukan kata yang sama di tulisan mereka, yaitu lulus ujian, bekerja, dan kuliah. Masa depan, walaupun masih samar, telah masuk pada deretan hal yang mereka anggap paling penting. Dan tentu saja, hal-hal membanggakan ini saya sampaikan pada mereka.

Kelas diakhiri dengan menutup amplop besar yang kami namai 'Kapsul Waktu Kelas XII'. Kapsul ini akan dibuka dan diperbarui lagi semester depan, sebelum pelaksanaan ujian yang menentukan nasib mereka selanjutnya.

HANYA GAGAL BILA BERHENTI

Tahun-tahun di mana saya bekerja di sekolah adalah salah satu masa terbaik dalam hidup saya. Memang lima tahun ini tak selalu mulus jalannya. Saya pernah merasa putus asa, kehilangan kendali, hampir menyerah, dan sudah berkali-kali menyatakan keinginan resign (tapi ga jadi-jadi ^^;).

Selama itu pula saya punya kebiasaan pulang ke rumah dan menjadikan suami tempat sampah yang menampung segala macam keluhan, karena saya tidak tahu bagaimana cara merubah keadaan dan merasa bahwa bersumpah serapah adalah satu-satunya hal yang saya mampu lakukan.


Tapi di atas semuanya, tetap saja, saat itulah hal-hal terbaik terjadi pada saya.

Kenapa demikian? Karena rasanya diri saya belum pernah merasa teroptimalkan seperti sekarang. Nalar, kreatifitas, kepemimpinan, sensitifitas, persepsi, standar moral, keterampilan komunikasi, kemampuan menempatkan diri, semua terasa diaktifkan. Bahkan selera mode saya sepertinya juga ikut-ikutan bekerja ^_^;.

Mengajar membuat saya membaca, berpikir ulang, mencari cara, dan menulis. Rekan tim datang dan pergi silih berganti, tapi saya selalu mendapatkan yang terbaik (versi saya). Saya jadi belajar banyaaaaak sekali. Pada kenyataannya, anak-anak didik dan rekan sejawat memberi saya manfaat jauh lebih banyak dibanding yang saya beri pada mereka.


Jadi saya memutuskan untuk berhenti jadi orang cengeng.

Seperti yang ditulis oleh Rhenald Kasali: "Seratus kali gagal, seratus sepuluh kali saya coba berdiri lagi. Hanya kalau saya berhentilah maka saya akan gagal."

MENGKHIANATI KURIKULUM

Ada satu pertanyaan penting yang pernah merecoki pikiran saya beberapa tahun yang lalu, yaitu: Kenapa ada manusia yang dilahirkan sebagai orang bodoh?

Mungkin saja ada orang yang diuji dengan kemiskinan atau cacat, tapi menjadi bodoh bukanlah ujian, melainkan kutukan. Bodoh membuat seseorang tidak bisa menghadapi hidup dan tak berdaya. Bukankah itu artinya Allah tak sayang pada manusia yang ditakdirkannya bodoh?

Begitu saya membaca tentang Multiple Intelligences, saya tak lagi bertanya tentang keadilan Allah pada manusia bodoh. Saya tak peduli bahwa ada juga ahli yang mempertanyakan validitas teori ini, karena saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Allah Mahaadil, karena semua orang diciptakanNya cerdas, dalam tipe kecerdasan yang berbeda.

Siang itu saya (dan teman-teman guru) kembali mengkhianati kurikulum. Bukannya kami mengajar pelajaran yang kami ampu, malah kami duduk melingkar bersama 15an anak untuk tiap seorang guru. Kami menamakannya kelas PD, Pengembangan Diri.

Siang itu adalah pertemuan pertama di awal tahun ajaran, maka materinya adalah perkenalan. Caranya seperti ini:
"Nama saya Irma. Saya suka belanja baju. Saya tidak suka bernyanyi."

Saya duduk bersama sebagian kelas 12 saat itu, yang artinya mereka sudah bersama-sama selama dua tahun lebih. Namun demikian, rupanya duduk bersama selama 6 jam sehari, 6 hari seminggu, tak lantas membuat mereka bisa saling kenal lebih dalam.

Adalah Zaid (bukan nama sebenarnya) yang mula-mula mencengangkan saya. Zaid adalah siswa yang, yah, lemah dalam bidang akademik. Bukan hanya satu atau dua mata pelajaran, tapi hampir semuanya. Apakah dia bodoh? Tidak, begitu saya tau bahwa dia suka memodifikasi sepeda motor. Tentu itu adalah kecerdasan tersendiri, bukan?

Rido lain lagi. Namanya pernah masuk pembahasan rapat evaluasi guru karena dianggap abai pada pelajaran dan berlaku tidak sopan dengan mencoret-coret kertas ujian. Dia bilang, "Saya suka memelihara burung merpati." Nah, itu juga kecerdasan tersendiri, bukan?

Ada Eri, siswa pemalu yang mengaku hobi nyanyi, dan ada Mia, siswi yang paling tidak suka disuruh makan teratur. Ada Rizal yang suka Persija ^_^ dan ada Is yang suka nonton film kartun.

Saya menanggapi, "Kesukaan kalian bisa jadi sumber mata pencarian di masa depan, loh. Misalnya, Zaid bisa buka bengkel, dan Rizal bisa buka usaha konveksi dan sablon untuk kaos Persija. Rido juga bisa jadi peternak burung." Robi menjawab, "Itu sudah pasti, Bu." Jawaban yang membuat saya amat bahagia.


Saya merasa, kelas PD hari itu luar biasa. Pertama, anda tahu bahwa bagi banyak guru, anak-anak ini bukan manusia. Mereka sekadar nama di deretan absen, yang nantinya diberi angka sesuai dengan kertas yang ia isi ketika ujian. Tak lebih. Namun saat itu, saya bisa mengenal mereka sebagai manusia, dengan emosi, pemikiran, dan cita-cita.

Kedua, berkaitan dengan MI, bahwa banyak kecerdasan anak-anak ini yang tak tergali, atau mungkin malah tumpul, akibat perlakuan salah yang diberikan sekolah. Memang ada pelajaran kesenian, biologi, penjas, yang harusnya bisa mengakomodasi tipe kecerdasan anak-anak seperti Zaid dan Rido. Sayangnya mata pelajaran sekarang amat berorientasi nilai dan wajib tunduk pada kurikulum (demi ujian nasional), hingga abai pada minat anak.

Ketiga, anak yang bersekolah bukan berarti dia akan banyak berteman. Oke, mereka kenal banyak orang, tapi tidak selalu bisa bergaul dengan luas dan memiliki banyak sahabat. Jadi, kemungkinan pergaulannya sama seperti anak homeschooling, yakni tergantung kepribadian anak dan lingkungan yang kondusif.

Begitulah, sedikit mengkhianati kurikulum, sama sekali tidak rugi ternyata....

BELAJAR TATA SURYA

Waktu sekolah dulu, di pelajaran apa ya saya belajar tata surya? Geografikah? Saya lupa. Tapi yang saya ingat adalah bahwa saya harus menghapal nama-nama planet dan teori penciptaan alam. Kenapa? Mungkin karena keluar di ujian: "Planet apakah yang merupakan planet dalam dalam tata surya kita?"

Bukan ingin mengingkari peran bapak ibu guru terhormat tercinta yang telah mengajarkan banyak hal, karena ini mungkin bukan salah mereka juga. Namun ijinkan sekarang saya berkata, "Bukan ini hasil yang saya inginkan setelah belajar tentang alam raya."



S
aya ingin dulu diajak 'terbang' dan melihat galaksi Bima Sakti, di mana tata surya kita hanyalah titik kecil. Saya ingin ditunjukkan bahwa ada galaksi lain, dengan gugusan bintang dan planet, entah berapa ratus ribu juta milyar jumlahnya.

Dan semua itu Ada yang mengatur, tak pernah keluar dari orbit, dan tidak saling bertabrakan.


Jika tata surya bahkan kita lebih kecil dari debu di jagad raya ini, maka manusia yang bisa sombong hanyah orang gila.

Mungkin satu-satunya tujuan belajar adalah memang untuk membuat seseorang lebih bertakwa. Tak ada yang lain.

"Orang yang bermanfaat ilmunya tidak peduli pada kedudukan. Hati mereka membenci pujian dari manusia, tak pernah merasa suci, dan tak pernah menyombongkan diri dan ilmu yang dimiliki. Jika ilmunya bertambah, bertambah pula rasa tawdhu', ketaatan, rasa takut, dan ketundukannya pada Allah." (dikutip dari sini)

YA SUDAHLAH

Ketika kemarin ngobrol sedikit dengan salah seorang alumni di Facebook, saya mendapat balasan comment seperti ini: "kangen crita kalo upacara bu."

Yang dimaksudkannya adalah isi amanat yang saya sampaikan bila jadi pembina upacara. Sampai tahun ke-6 ini, baru beberapa kali saya jadi pembina upacara. Saya memang hampir selalu mengisi amanat dengan kisah dan cerita, dan sedapat mungkin menghindari nasihat terbuka. Cara ini rada aneh sedikit, karena kelihatannya tidak sesuai dengan gaya upacara yang resmi dan formal. Tapi belum ada yang ngomelin saya, jadi ya terus aja begitu ^_~v.

KLembali lagi ke alumni tersebut, dibilang begitu, saya jadi terharu loh. Beneran. Kenapa? Karena kalau berdiri di mimbar pembina upacara di atas, akan telihat sekali kondisi peserta upacara. Ada yang memandang ke sana ke mari, ada yang ngobrol, ada juga yang nunduk (smsan?). Ada yang memandang saya juga sih, tapi ga tau apa memperhatikan atau tidak.

Ketika sampai pada amanat pembina, rasa nelangsanya tambah terasa. Kita lagi ngomong dengan semangat, berusaha tampil sebaik-baiknya, padahal berasa mati gaya ngeliat peserta di depan yang pada asyik ngobrol.

Hal seperti ini juga terasa waktu ngajar di kelas, terutama di kelas-kelas gendut (antara 40-46 anak). Terjadi juga waktu kultum di kegiatan rohis, atau pembinaan Osis. Rasanya ya gitu, menyedihkan.

Ya saya kan ga bisa maksa juga, misalnya dengan bilang, "Diaaaaam! Dengarkan saya!!! Yang ngobrol lari keliling lapangan!", karena kondisi yang mempengaruhinya banyak. Ruang yang terbuka saat upacara, suara yang ga terdengar, kondisi si pendengar, keterampilan bicara saya, dan sebagainya.

Nah, ketika alumni di atas bilang kangen cerita saya pas upacara, saya pikir, oh, masih ada kok yang dengerin. Yang pada dengerin ini mungkin ga banyak kali yah, dan ga gitu kelihatan. Tapi yang penting kan, ada.

Waktu saya ceritakan hal ini di kelas, salah satu murid bilang, "Saya selalu dengerin kok, Bu."

Huhuhuhu.... Terima kasih.

Nah kalau gitu, saya akan berusaha menyampaikan materi dengan baik. Kenapa? Karena saya berkewajiban menyampaikan kebaikan dengan cara yang ihsan, tentu saja. Alasan lainnya adalah karena ada orang-orang ini, yang mau mendengar saya.

Kalau ada yang ngobrol pas saya bicara, bila sulit atau tidak mungkin ditangani saat itu, ya sudahlah... (gaya bondan ^_^). Ga bisa maksa juga, kan. Toh mereka selalu bisa mendapat ilmu dari saluran lain. Amiiiin.....

MENEMUKAN ZEIN

Saya tahu, saya harus percaya kalau semua anak itu terlahir cerdas. Saya seorang guru, dan kepercayaan akan hal itu adalah modal awal bagi setiap guru yang akan mengajar. Tapi kadang, sulit sekali untuk merasa percaya, setelah berbagai cara telah dicoba di kelas. Pakai metode ini, pakai cara itu, tapi materinya tidak bisa terserap juga. Ya, mungkin saya tidak cukup sabar. Apa daya, kurikulum mengejar.

Pagi ini kami berkumpul untuk rapat evaluasi tengah semester. Seperti biasa, semua guru melaporkan perkembangan mata pelajaran yang diampunya. Maka muncullah nama-nama siswa yang 'sulit ditangani', baik secara kedisiplinan maupun secara akademik.

Dalam situasi ini, memang sulit untuk tidak berpendapat bahwa ada anak yang memang terlahir bodoh. Zein, misalnya. Nilainya di bidang eksakta hancur-hancuran, di bidang sosial jeblok, di bidang bahasa sama saja. Sulit sekali menghapal, tulisannya sangat jelek, dan tidak paham bila guru menerangkan. Jadi kalau bukan bodoh, anak ini disebut apa?

Tampaknya memang sulit menemukan gaya belajar anak bila masih mengikuti pakem pembelajaran yang konvensional. Saya bersyukur, sekolah kami punya tiga kelas yang 'mengkhianati' kurikulum, yaitu kelas seni, kelas pengembangan diri, dan kelas kerohanian. Ada 7 jam pelajaran normal yang dikorbankan untuk ketiga kelas ini. Nah, kalau 'pengkhianatan' ini ketahuan pengawas sekolah, bisa gaswat!

Kebetulan saya menjadi mentor Zein di kelas pengembangan diri. Di kelas 'ngobrol-ngobrol lesehan' ini baru saya tahu bahwa Zein hobi memodifikasi sepeda motor. Wah, bukankah ini memerlukan keterampilan teknis tertentu? Titik terang tentang gaya belajar Zein mulai bisa ditemukan, ketika kami mulai mengkhianati kurikulum.

Ketika rapat tadi, titik terang itu makin jelas. Pelatih kelas marawis (semua alatnya perkusi) menyerahkan nilai, dan tebak siapa yang tertinggi nilainya? Ya, Zein. Ah, saya jadi terharu. Ternyata dia punya kecenderungan pada kecerdasan kinestetik (badan) dan ritmik (musikal) yang tidak diketahui orang, bahkan juga tidak diketahui oleh dirinya sendiri.

Aneh juga. Zein sudah pernah mengikuti tes multiple intelligences sederhana sebelumnya, tapi hasilnya tidak terlalu jelas. Saya berpikir, dan menduga bahwa ia lemah dalam bidang verbal (bahasa). Hal itu membuatnya sulit mempelajari percakapan, menulis dengan baik, termasuk memahami instruksi dalam tes MI.

Coba tebak, apa yang saya pikirkan soal kondisi ini? Ya, ya ya. Saya tahu tak semua anak bisa jadi homeschooler karena berbagai sebab. Tidak bisa saya bilang, "Kita pulangkan saja Zein ke orang tuanya. Homeschooling!" Tidak semudah itu. Tetapi setiap bertemu dengan masalah seperti ini, kepercayaan saya pada sistem sekolah konvensional makin rendah saja.

Di sekolah konvensional, dengan kurikulum kemendiknas, Zein akan selalu jadi pecundang. Padahal kalau Zein boleh belajar dengan gayanya, dengan musik, dengan lagi, dengan bergerak, dengan peralatan, mungkin tak akan ada yang bilang dia bodoh. Tapi di sekolah biasa seperti tempat saya, hal itu cukup sulit dilakukan.


Memang, tak boleh hanya menyalahkan, menuduh, menggerutu, marah-marah, pada institusi bernama sekolah. Karena sekali lagi, tak semua anak punya kesempatan homeschooling. Yang harus dipikirkan adalah apa yang bisa saya lakukan dalam kondisi ini untuk membuat kondisi anak-anak ini bisa lebih nyaman. Maksud saya, sedikit lebih nyaman. Sedikit saja, kecuali Paman Gober mewasiatkan hartanya pada saya untuk bisa membangun sekolah macam Summerhill.

SEBATANG SPIDOL DAN SELEMBAR KERTAS

Pagi hari tadi, saya masih bimbang apakah saya harus berangkat ke sekolah atau tidak. Kepala nyut-nyutan dan suara masih agak serak. Tapi berangkat saja, ah.... Bukan karena pengabdian guru atau alasan apalah yang keren-keren, tapi karena dikejar si kurikulum. Nyebelin memang makhluk yang satu itu, tapi ya bagaimana lagi. Saya ada di sistem pendidikan formal, jadi ya terima aaja apa adanya.

Lagipula, hari ini cuma mengajar dua jam, kelas sepuluh pula. Kelas sepuluh relatif mudah ditangani, apalagi masih di awal tahun ajaran begini. Maklum, anak baru. Tidak seperti kelas sebelas yang sudah merasa 'anak lama', atau kelas dua belas yang sudah ngebet kepingin lulus (padahal setelah lulus kepingin jadi anak sekolahan lagi ^^). Singkat kata, berangkatlah saya.

Hari ini saya hanya mengajarkan hal sederhana: jikoshoukai (perkenalan diri). Mula-mula kami menulis percakapan, melatihnya lebih dulu bersama-sama, lalu mempraktekkannya secara individual, lengkap dengan ojigi (membungkukkan badan). Kelas berlangsung normal saja, tak banyak kejutan.

Lalu saya turun ke kantor, dan kembali dengan membawa kertas kosong dan spidol warna. Setelah tiap anak mendapat selembar kertas dan sebatang spidol berwarna, saya memberi mereka tugas: mencari tanda tangan teman sekelas. Tandatangan mereka tentu harus menggunakan hiragana.

Maka mulailah kemeriahannya. Yang melihat mungkin akan berkomentar: kelas yang kacau dan berisik. Tapi mereka sesungguhnya sedang belajar. Anak-anak ini sedang menghapal hiragana, dengan menuliskan nama masing-masing di 43 lembar kertas teman-teman sekelasnya yang lain. Kalau sudah menulis nama sendiri sebanyak 43 kali, saya kira beberapa karakter setidaknya lumayanlah bisa nyangkut di kepala.

Bel istirahat berbunyi. Saya menggunakan suara yang tersisa di tenggorokan supaya anak-anak ini mengumpulkan kertas mereka. Saya bilang, "Sudah masuk waktu istirahat!" Tapi mereka tidak mau berhenti, "Tanggung, Bu... Tiga lagiiii....," teriak seorang siswi dari arah belakang. Yang lain masih berlari ke sana-kemari.

Saya puas hari ini. Kelas sepuluh yang saya ajar hari ini berisi 46 siswa. Dengan jumlah melebihi kuota seperti itu, ada saja anak yang tidak 'terlihat' oleh guru, tidur di pojokan, facebook-an di kolong meja, atau ngobrol di belakang. Tapi hari ini tidak, karena semua berpartisipasi, termasuk anak yang sudah ditandai sebagai anak 'sulit' oleh banyak guru.



Ya, hanya perlu selembar kertas, dan sebatang spidol warna, serta sedikit ide, untuk sebuah pengalaman menyenangkan di sekolah.
Tulisan ini mudah-mudahan bisa ada manfaatnya juga bagi yang membaca, meski sebenarnya adalah pemenuhan janji saya untuk menjelaskan foto di bawah ini pada mbak Virna Lytha.

Hampir semua cara mengajar yang saya lakukan di kelas diambil dari pengalaman guru lain. Kadang dari teman sendiri, dari milis IGI (Ikatan Guru Indonesia), dari majalah (biasanya Horison), atau beberapa media cetak dan elektronik. Pokoknya dari mana-mana, deh.

Nah, kalau yang saya pakai kali ini adalah hasil nyontek dari Mbak Lea di Salatiga (bisa kunjungi blognya di http://untukanakbangsa.blogspot.com/)

Pertama, siswa ditunjukkan huruf-huruf dengan flashcard -> sedikit niru metode Glen Domann.

Kedua, siswa dibagi ke beberapa kelompok -> saya biasa membagikan kepingan puzzle yang bila disatukan akan membentuk kelompok.

Ketiga, flashcard disebar di lantai -> mulai gamenya.



Keempat, bergantian dua orang dari tiap kelompok maju.



Kenapa ga sendiri-sendiri? Karena kita harus menghilangkan hambatan belajar sebisa mungkin. Ketakutan (takut gagal, takut ditertawakan, malu kalau ga bisa, tidak nyaman dipandangi puluhan pasang mata, dll) adalah salah satu hambatan terbesar! Dengan maju dua orang, anak yang lambat menghapal bisa dibantu rekannya. Anak jadi nyaman, dan sekaligus belajar kerja sama.

Kelima, saya memberi soal, dan dua anak tersebut berdiri di depan jawaban yang menurutnya benar. Oya, soal bisa juga diberi oleh siswa kelompok lain.



Kalau bisa menjawab, dua orang tadi keluar dari kelompok dan menjadi tim hore. Kelompok yang lebih dulu habis adalah pemenangnya.

Perhatian:
Menggunakan metode ini menyebabkan kelas bisa ribut sekali karena antusiasme anak selalu melonjak. Disarankan untuk memainkannya di lapangan. Saya pakai selasar masjid sih (ga ada aula dan lapangan adalah daerah kekuasaan guru penjas -> penuh melulu).

KENA, DEH!

Kena dikerjai siswa-siswa nih saya hari ini. Tapi saya pikir, guru memang perlu dikerjai siswa-siswanya sesekali. Yah, semacam tanda cinta dan kenang-kenangan, begitu. Hari ini begini ceritanya.

Saya sedang menyiapkan makan siang anak-anak dengan terburu-buru ketika Ida, kepala tata usaha, menelfon. "Bu Irma dipanggil Bu Aroha."

Adudududuwww.... Sudah setengah dua, anak-anak belum makan, eh tiba-tiba dipanggil ibu pejabat. Ya sudah, ganti baju segera, si sulung dan si bungsu ditinggal berdua, sementara saya berangkat sambil menggendong yang bontot. Si bontot ini harus dititipkan dulu di tetangga dalam perjalanan ke sekolah.

Singkat cerita, saya sampai di sekolah sambil kegerahan. Ketika saya masuk, ada beberapa siswa duduk-duduk di ruang guru. Wah, kok aneh. ngapain siswa di dalam? Taunyaaaa.....

SURPRISE!!!




Kena dikerjai anak-anak nih saya. Tentu saja mereka berkomplot dengan yang tua-tua, kayak Ida (paling kanan, Kepala TU), Sri (Adiministrasi, yang moto), dan Fachru (Pembina Osis, ga keliatan). Ada anak kelas 10, 11, dan 12 di foto di atas. Seneng banget deh ngeliatnya, karena perbedaan tingkatan kelas ga terlalu jadi tembok bagi mereka buat gaul bareng.

O ya, kuenya bikinan anak-anak sendiri loh, atas arahan Bu Nita (pakai jilbab pink, guru Bahasa Indonesia dan pelatih kelas memasak). Enaaaak....



Huhuhu.... Terharu.... b^_^d

SIAPA BERHAK JADI GURU?

Semua pasti kenal Totto-chan. Saya sendiri fans berat buku itu, sampai saya pinjamkan ke semua orang yang berminat, sampai saya hadiahi ke kepala sekolah TK Difi dulu, sampai saya bacakan pada anak-anak setiap malam lembar demi lembar hingga tamat.

Kalau anda pernah baca dan mungkin terlupa, bisa buka blognya Mbak Lea. Saya tadi dari sana dan terpikir untuk menulis di sini.

Di poin 5 di blog itu, tertulis bahwa kepala sekolah Sosaku Kobayashi menjadikan pak tani sebagai guru pertanian murid-muridnya. Padahal pak tani mungkin tidak sekolah tinggi, bukan sarjana, apalagi punya sertifikat pendidik ^^;.

Jadi saya bertanya, siapakan yang berhak jadi guru?

Pernah suatu kali saya ngobrol dengan teman sejawat. Saya bilang, "Gimana kalo kita minta Mpok Yum saja yang mengajar keterampilan. Setidaknya untuk beberapa minggu, sampai posisi guru keterampilan tangan dan kesenian (KTK) terisi."

Siapa Mpok Yum ini? Penjual nasi uduk di kantin, yang menjadi langganan katering guru.

"Atau kalau bukan Mpok Yum, bisa saja Pak Warto yang punya usaha sablon kaos dan spanduk yang sering dipakai sekolah, atau pengrajin rotan dekat sekolah."


Teman saya itu menolak. Dia bilang, seseorang bisa saja punya keterampilan, tapi di tak lantas bisa jadi guru. Saya sendiri bukan lulusan fakultas ilmu kependidikan, makanya saya baru tahu ketika mengikuti sertifikasi, bahwa menjadi guru harus memiliki kemampuan akademik, sosial, psikologis, juga pedagogis.

Bila ada seseorang yang datang membawa ijasah sarjana, apalagi sarjana kependidikan, lalu apakah dia lantas memiliki empat kecakapan di atas? Harusnya iya. Apa yang bisa menjamin hal itu? Tentu saja: lembaran-lembaran kertas.



Di sisi lain, ada satu cerita menarik. Kebetulan di sekolah saya, guru teknologi informasi dan komputer (TIK) mengambil cuti hingga akhir tahun. Untunglah guru pengganti sementara segera didapatkan.


Kemarin saya membaca status Facebook salah seorang siswi (inilah salah satu alasan saya menggunakan Facebook). Dengan bahasa alay gaya anak jaman sekarang, dia bilang sekarang sulit sekali mengerti pelajaran TIK. Gurunya membingungkan! Ternyata beberapa teman sekelasnya memberi komentar senada. Mereka ingin agar guru lama mereka segera kembali.

Saya yang penasaran, mencari informasi sedikit tentang guru baru ini, dan terkejut! Dia dosen, bukan sekedar guru sekolah. Pendidikannya S2, punya akta IV, dan tebak berapa IPKnya? Empat, sodara-sodara. Sempurna.

Lalu dengan kertas-kertas menakjubkan itu, kenapa murid-murid tidak bisa memahami materi jika dia yang mengajarkannya?

Saya sendiri lebih memilih pak petani yang hanya sekolah rendah tapi apa yang diucapkannya bisa dimengerti dan bisa digunakan, dari pada lulusan master atau doktor yang justru membuat bingung.


Jadi, siapa berhak jadi guru?

Quantum Teaching, bahkan di halaman-halaman awal, sudah menegaskan bahwa mengajar adalah hak yang harus diraih oleh guru. Hak tersebut diberikan oleh siswa, bukan oleh kementrian pendidikan nasional.

PERTARUNGAN HARI INI

Di papan tulis tertera pengumuman dari bidang kedisiplinan:

Guru harap menyita hp yang digunakan anak di kelas.

Saya sudah menyiapkan segalanya untuk pagi ini sejak kemarin. Membooking ruang audio visual di perpus, membongkar koleksi anime dari Studio Ghibli, mencari buku pajak keluaran departemen keuangan Jepang yang dulu dipelajari suami ketika mengambil gelar master, menyiapkan dua buah file berisi original soundtrack dari Sen To Chihiro dan Tales from Earthsea, serta memfotokopi teksnya beserta arti sejumlah anak di kelas.

Memang saya mau ngajar apa? Jangan tanya ya, karena saya sedang mengkhianati kurikulum (lagi). Pokoknya, saya sudah hebohlah, gitu. Saya harap, semua bisa antusias dan terlibat, tapi tetap mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru yang akan memperluas dunia mereka.

Di tengah materi, saya memergoki seorang anak dengan ngutak-atik hp di pojok belakang.

Lemasss....
Duh Nak, setelah segala yang saya persiapkan, ketika asisten tak datang, dan dua anak demam semalaman.... @~@;

Saya tau, apapun tanggapan anak, Allah sudah pasti membalas sesuai keikhlasan, niat baik, dan kesungguhan saya. Tapi tetap saja rasa kesal itu ada.

Apakah saya lalu mengambil hp anak tersebut seperti instruksi di papan pengumuman ruang guru? Tidak. Saya terlalu pemalas untuk melakukannya ^^;. Nanti setelah itu saya harus bertemu siswa di jam istirahat, memberi poin pelanggaran dalam catatannya, menasihatinya, baru mengembalikannya. Waaa.... reffffot. Jadi saya peringatkan saja agar kembali terlibat dalam pembelajaran dan meninggalkannya setelah itu.

Tapi saya jadi menyadari bahwa hal ini akan selalu terjadi: tarik-menarik antara guru dengan dunia luar. Setiap hari saya bertarung melawan facebook, melawan sms, melawan bahan obrolan yang tak habis-habisnya, untuk memenangkan perhatian siswa-siswa saya.

Tentu saja dalam pertarungan ini saya bisa berteriak, menghukum, atau berceramah tentang betapa-buruknya-perilaku-siswa-semacam-fesbukan-ketika-pelajaran-berlangsung. Tapi itulah yang dikatakan Covey sebagai 'kekuatan pinjaman'.

Kekuatan pinjaman berasal dari status, usia, jabatan, kelebihan harta, dan semacamnya. Karena saya guru, saya menggunakan kekuasaan saya untuk memaksa anak-anak belajar. Karena saya orang tua, maka saya menggunakan kekuasaan saya untuk membuat anak saya patuh.

Tapi ada yang disebut dengan kekuatan asli. Kekuatan ini berasal dari karakter dan hubungan yang kita bina. Siswa akan belajar karena kualitas mengajar guru yang baik dan terasa menyenangkan, atau anak akan patuh karena yakin pada keadilan orang tua, atau rekan kerja akan hormat karena integritas pribadi atasannya.

Kembali lagi ke siswa-siswa saya.

Ada yang menarik soal teknologi dalam pembelajaran seperti yang diobrolkan beberapa sahabat di Facebook. If you can't beat it, use it, begitulah kira-kira. Jadi daripada kita mengeluh karena siswa sering smsan atau facebookan, gunakan saja hp sebagai alat belajar.

Hm.... menarik juga. Jadi kemarin saya coba di kelas XI.

"Ayo sekarang kita kuis. Yang menang saya kasih hadiah!"
"Horeeeee...."
"Bawa hape?"
"Bawa, Buuu..."
"Kalo gitu saya kasih pertanyaan, nanti jawabnya pake sms ya. Siapa yang duluan masuk jadi pemenangnya."
"Ga punya pulsa, Buuuu...."

Ahahahah, lain padang lain belalang f(^_^;)v.

Jadi apa kesimpulannya? Yak bagaimanapun, kesimpulannya adalah saya tetap akan berusaha memenangkan pertarungan ini. Yosh, gambareeee....

KEKUATAN ASLI

Tempo hari saya berada di antara dua ayah: yang pertama Abi, ayah kandung saya, dan yang lainnya Aki, mertua saya. Aki adalah dosen di UPI Bandung yang sekarang telah memasuki masa pensiun. Sebaliknya, Abi adalah wiraswastawan yang tidak mengenal kata pensiun.

Aki bercerita, beberapa temannya sibuk memikirkan dan mencari-cari pekerjaan lagi setelah pensiun. Padahal menurutnya, kalau sudah pensiun ya nikmati saja. Memperdalam agama, ikut kegiatan di lingkungan, menekuni hobi mengurus kolam ikan dan taman, serta sesekali dikunjungi dan mengunjungi anak cucu.

Abi menimpali dengan menceritakan kisah seseorang yang dikenalnya. Orang tersebut merasa tertekan ketika tiba masa pensiun karena tidak lagi punya jabatan dan pengaruh.

Saya terdiam mendengarkannya, mengingat-ingat bahwa hal yang dibicarakan dua lelaki ini

sering dinamakan post power syndrome, atau sindrom yang hinggap ketika seseorang kehilangan kekuasaan untuk mengatur dan mempengaruhi, misalnya ketika memasuki
masa pensiun.

Kenapa ada orang yang tertekan begitu jabatan, kekuasaan, dan pengaruh (yang mungkin berakibat padakekayaan materi yang dimiliki) yang mereka punya hilang?


Sekali lagi saya teringat pada istilah kekuatan pinjaman yang digunakan oleh Covey. Kekuatan pinjaman adalah kekuatan yang berasal dari jabatan, harta, posisi orang tua, usia yang lebih dewasa, dan semacamnya. Karena kekuatan itu hanya pinjaman, maka ketika hal-hal tadi hilang, maka hilang juga kekuatannya.

Saya jadi tergerak mengevaluasi diri, apakah yang saya dapatkan hari ini dari para guru rekan sejawat dan siswa –hubungan baik, bantuan, dan mungkin juga kepatuhan, berasal dari kualitas diri saya, ataukah hanya dari jabatan saya? Apakah diri saya punya kekuatan asli, atau hanya kekuatan pinjaman?

Di luar lingkup sekolah, saya hanyalah saya tanpa jabatan. Tanpa jabatan, kekuasaan akan hilang. Kepatuhan juga akan hilang. Tapi biarlah hilang, toh itu hanya kekuatan pinjaman. Yang penting, hubungan baiknya tetap, persahabatannya tetap, kedekatannya juga tetap. Karena hubungan baik, persahabatan dan rasa kedekatan hanya bisa diperoleh dari kekuatan asli yang kita punya.

Lalu bagaimana ketika proses pembelajaran berlangsung? Kita menggunakan apa di kelas, kekuatan pinjaman, atau kekuatan asli?

Ketika siswa tenang dikelas, apakah karena kita menyampaikan materi dengan menarik, atau karena kita menyediakan kayu pemukul? Ketika mereka mengerjakan tugas, apakah karena mereka merasa antusias dan ingin tahu, atau karena kita mengancam mereka dengan nilai? Ketika mereka patuh, apakah karena hubungan baik yang kita bangun, ataukah mereka ketakutan kita akan menjemur mereka di lapangan?

Ketika jabatan guru ditanggalkan dari kita, apa masih ada yang kita punya?

REVOLUSI KEBAIKAN

"Buat apa sih?"

Pertanyaan itu sering mengganggu saya ketika membuka silabus kurikulum. "Materi sampai sebanyak ini, untuk apa sih dipelajari?" Kalau 20% saja dari semua hal yang kita hapalkan mati-matian untuk ujian selama sekolah masih tersisa di kepala, itu saja sudah amat beruntung.

Bukan bermaksud sombong, tapi rasanya saya sudah cukup bahagia dan bersyukur dengan hidup saya sekarang. Menjalankan peran saya sebagai istri dan ibu, bahkan menjalankan profesi sebagai guru pun, saya sama sekali tak menggunakan silsilah raja-raja Singosari, atau logaritma, atau rantai karbon, atau grafik supply-demand, atau butir-butir Pancasila. Tidak.

Jadi semua beban yang membuat anak-anak kita jadi bungkuk ini, untuk apa sih?

Untuk mempersiapkan masa depan, tapi entah mempersiapkan diri menghadapi apa. Untruk mempelajari minat dan bakat diri, tapi bagaimana mungkin bisa tau minat diri kalau nantinya semua nilai mata pelajaran di rapor harus di atas tujuh semua (lihat kriteria kelulusan UN yang baru).

Saya kemudian menemukan satu kalimat indah di situs milik Ines Setiawan, guru dan aktivis pendidikan. Katanya: "Me as Teacher: Creating just 1% scientist and 99% happy, fulfilled, content and loving human being."

Benar, kita harus tentukan apa yang penting dalam pendidikan, dan selalu, selalu saja manusia yang lebih penting. Ketika harus memilih, mengejar kurikulum atau membangun jiwa dan akal budi anak-anak ini, kita tahu apa yang kita harus dahulukan.

Beberapa hari yang lalu, saya membuka kelas dengan evaluasi diri. Saya meminta anak kelas XI untuk mengevaluasi dirinya di tengah tahun ini, berefleksi tentang apa yang terjadi pada mereka selama 6 bulan duduk di kelas 2 SMA. Mereka tidak boleh membiarkan masa-masa berharga ini lewat begitu saja lalu menghilang tanpa jejak, tanpa kesadaran atas perubahan dalam diri dan lingkungan.

Beberapa kertas masih menyisakan pesimisme dan menyatakan tak ada yang berubah, masih sama 'menyedihkan' seperti sebelumnya ^^;, tapi yang lain terlihat menemukan secercah cahaya. Dan inilah beberapa kertas yang membuat saya terharu:



"Setelah enam bulan saya merasa ada perubahan. Sebelumnya saya males, boros dan pendiam. Semuanya berubah meskipun perubahannya tidak total. Dan saya banyak sekali mendapatkan motivasi-motivasi dari orang lain. Semoga dengan motivasi-motivasi itu saya bisa menjadi lebih baik lagi."




"Selama ini saya memang biasa-biasa saja, tetapi saya ingin lebih-lebih baik. Selalu beri kesehatan untuk saya dan kedua orang tua saya, amiiin... Mudah-mudahan apa-apa yang diajarkan guru-guru selalu bermanfaat untuk saya, amin..."




"Di kelas dua ini saya banyak berubah, terutama di absensi saya. Saya mau seperti ini sampai lulus. Dan di kelas 2 ini saya senang bermain film yang karakternya hampir sama dengan saya. Yang penting saya mau belajar menghargai orang lain."




"Saya berubah banget... lebih menyadari diri sendiri dan ada kemauan hidup penuh dengan arti... semakin berpikiran panjang dan positif..... REVOLUSI KEBAIKAN."


Mengapa saya mengajar? Mengapa mereka belajar? Untuk mendapat nilaikah? Untuk lulus Ujian Nasional? Untuk menghasilkan selembar ijasah? Terserahlah, terserah apa yang dituntut sistem ini dari kita. Terseraaaah.... Tapi selamanya, mendorong, membantu, dan mendampingi anak-anak ini menapaki jalan dan mencari arah menuju kebaikan, itulah alasan kenapa kita ada di sini.


Status Nengirma: "Alhamdulillah, bahagiaaa...."

MEMBERI INSPIRASI



Jantung saya berdebar memandang gerbangnya. Ribuan ingatan mendesak di kepala, berebut ingin lebih dulu diingat, tentang tiga tahun berisi romansa masa muda.


Beberapa langkah dari sana, beberapa siswa berbaju batik sedang berwudhu. Rupanya sekarang wajib shalat berjamaah yah. Saya tersenyum melihat motif batik yang saya kenal, merasa pernah mengenakan seraham itu juga, kira-kira mulai enam belas tahun yang lalu sampai tiga tahun setelah itu.

Waw, sekarang ada pos satpam.... Beberapa bagian fisik sekolah ini telah berubah, tapi banyak hal masih di tempatnya. Agak aneh membayangkan bahwa ribuan orang pernah belajar, lalu lulus, bertambah tua dan menyebar melanglang dunia. Tapi tempat ini tetap di sini, setia.


"Ada memori di tiap ubinnya, juga butir debu-debunya...."

Seorang siswa mengantar saya ke ruang guru. Banyak wajah yang asing, tentu saja. Tapi yang kemudian datang tak salah lagi: Ibu Ida Idris.

"Eh, Norma, ya?"



Saya tertawa, Bu Ida menyebut nama ibu saya, sebelum akhirnya beliau mengingat nama salah satu muridnya ini.

Kami mengobrol panjang, membuka halaman-halaman foto masa sekolah yang saya bawa, dan menggali kenangan-kenangan.


Kepala sekolah sudah berganti, ada guru yang sudah dipanggilNya, beberapa hal berubah, tapi Bang Manih masih di sana ^_^;

Setelah belasan tahun, akhirnya saya datang lagi. Untuk melapor pada Bu Ida:

"Saya sudah jadi guru, Bu. Dan kata-kata Ibu benar, menjadi guru itu luar biasa. Saya bangga dan bahagia jadi guru. Dari hati paling dalam, terima kasih."


Salah satu siswa saya sekarang menjadi guru. Kenyataan bahwa saya mendapat inspirasi dari para guru saya, membuat hal ini jadi terpikirkan: saya juga mungkin bisa menginspirasi seseorang.

Dan profesi ini jadi terasa semakin berarti.

24 February 2012

Children Learn What They Live

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.

If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.

If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.

If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.

If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.


By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

Selalu antara Engkau dan Tuhan

Orang kerap kali tak bernalar, tak logis dan egois
... Biar begitu, ma'afkanlah mereka

Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois
... Biar begitu, tetaplah bersikap baik

Bila engkau jujur dan berterus terang, orang akan menipumu
...B iar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang

Bila engkau sukses, engkau akan mendapati teman-teman palsu dan dan teman-teman sejati
... Biar begitu, tetaplah meraih sukses

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam
... Biar begitu, tetaplah membangun

Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki
... Biar begitu, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya
... Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan

Kau telah beri pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup
... Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik

Ketahuilah, pada akhirnya
Sesungguhnya ini semua adalah antara engkau dan Tuhan
Tidak pernah antara engkau dan mereka


(Bunda Theresa)

18 February 2012

SURAT UNTUK GURU ANAKKU

Guru yang terhormat,

Anakku akan belajar, tentu saja,
bahwa tak semua orang itu adil, tak semua orang benar.
Tapi ajarkanlah padanya,
bahwa meski bajingan memang ada, tapi pahlawan juga nyata,
meski politisi yang egois memang ada, tapi pemimpin yang berdedikasi juga nyata,
Ajarkan padanya, bahwa meski musuh memang ada, tapi kawan juga nyata.
Biarkan dia segera belajar,
bahwa penindas adalah orang yang paling gampang di'jilat'.

Ajari dia, wahai Guru, keajaiban buku-buku,
tapi berikan juga waktu padanya
merenungi misteri abadi tentang burung di langit,
lebah melintasi matahari, dan bebungaan di lereng bukit.

Di sekolah ini, ajarkan pada anakku,
bahwa gagal jauh lebih terhormat dibanding curang.
Ajarkan dia untuk percaya pada ide-idenya sendiri,
meski semua orang berkata bahwa dia salah.
Ajarkan dia untuk berlaku lembut pada mereka yang lembut,
tapi tegas pada mereka yang keras.

Cobalah berikan pada anakku,
kekuatan untuk tidak ikut-ikutan,
ketika semua orang naik 'kendaraan' yang sama.
Ajari dia untuk mendengarkan semua orang,
tapi didik dia supaya memfilter semua yang dia dengar
dengan 'saringan kebenaran',
hingga hanya yang baik yang akan dia pilih.

Ajari anakku, wahai Guru,
cara tertawa ketika sedang sedih.
Ajari dia bahwa airmata bukan sesuatu yang memalukan.
Ajari dia untuk menjauhi kesinisan,
dan berhati-hati pada mulut yang terlalu manis.

Ajari dia agar menjual otot dan otaknya
hanya pada penawar tertinggi,
tapi didik dia agar jangan pernah
meletakkan bandrol harga pada hati dan jiwanya.

Ajari dia untuk menutup kuping pada teriakan orang-orang,
dan berdiri melawan jika dia berpendapat benar.
Perlakukan dia dengan lembut, tapi jangan manjakan dia.
karena hanya api yang bisa membuat baja jadi berkualitas.

Biarkan anakku memiliki keberanian untuk jadi 'tidak sabaran'.
Biarkan dia punya kesabaran untuk bisa 'berani'.
Ajarkan dia untuk selalu memiliki iman yang agung dalam dirinya,
karena dengan demikian dia akan memiliki keyakinan luhur pada kemanusiaan.

Ini permintaan besar, o Guru, aku tahu.
Tapi kita lihat saja apa yang bisa dilakukan.
Karena dia bocah kecil
yang sungguh baik,
anakku.


-Abraham Lincoln-



http://www.youtube.com/watch?v=z-yuQKi-bdo&feature=player_embedded

15 February 2012

YUK, LOMPAT SAMA-SAMA!

Berikut hasil PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2006-2007 yang diadakan OECD.

KOMPETENSI MATEMATIKA

Skor Tertinggi
1. Hongkong-Cina
2. Finlandia
3. Korea Selatan
4. Belanda
5. Liechtenstein

Skor Terendah
1. Brazil
2. Tunisia
3. Indonesia
4. Meksiko
5. Thailand

KOMPETENSI MEMBACA

Skor Tertinggi
1. Finlandia
2. Korea Selatan
3. Kanada
4. Australia
5. Liechtenstein

Skor Terendah
1. Tunisia
2. Indonesia
3. Meksiko
4. Brazil
5. Serbia

KOMPETENSI SAINS

Skor Tertinggi
1. Finlandia
2. Jepang
3. Hongkong-Cina
4. Korea Selatan
5. Liechtenstein

Skor Terendah
1. Tunisia
2. Brazil
3. Indonesia
4. Meksiko
5. Thailand

KOMPETENSI PROBLEM SOLVING

Skor Tertinggi
1. Korea Selatan
2. Hongkong-Cina
3. Finlandis
4. Jepang
5. Selandia Baru

Skor Terendah
1. Tunisia
2. Indonesia
3. Brazil
4. Meksiko
5. Turki

SKOR TOTAL:
Negara dengan kualitas pendidikan terbaik: FINLANDIA.

INDONESIA? Keempat dari bawah ^_^;
Cukup menarik karena kalau kita lihat jumlah pelajaran Matematika di Indonesia rata-rata mencapai 70 menit seminggu, sedang Hongkokng-Cina rata-rata hanya 41 menit, Belanda hanya 45 menit, dan Jepang hanya 50 menit.

Salah di mana, hayoooooo?

Biarlah masalah kebijakan dan sistem diurusi pemerintah. Saya sendiri sudah cape ngomel ngeluh mengutuk sistem. Sekarang ayo kita lihat apa yang bisa kita perbuat.

Saya sebagai guru merasa bisa berbuat sesuatu dengan mengikuti pelatihan dan terus belajar, agar kualitas mengajar saya lebih baik. Meski ga mungkin ngaruh pada hasil PISA, tapi barangkali ngaruh pada hidup beberapa orang.

Saya sebagai ibu ingin mengusahakan agar anak-anak saya tidak hanya menghapal, tapi paham konsep, bisa mengaplikasikan, memecahkan masalah, dan membuat produk bermanfaat. Bukan nilai atau gengsi yang dikejar, bukan selembar ijasah atau gelar semu yang dituju.

Anak Indonesia banyak banget, saya ga sanggup ngurus semuanya. Tapi anak sendiri insya Allah akan berusaha sampai titik darah penghabisan.

YUK, KITA LOMPAT SAMA-SAMA.
Semangaaaaaat!!! \ ^ o ^ /

12 February 2012

GURUNYA LAGI MALES?

Ceritanya saya upload salah satu foto kelas saya di Facebook, dengan komentar: "Ini bukan jam kosong (yaealah, ini gurunya lagi moto2)."

Terus salah satu kontak komen, "Gurunya lagi bete."

Saya membantah, "Nggak kok, gurunya lagi hepi."

Et dah dia masih keukeuh, "Lagi malez..."

Memang kadang hal ini terjadi di kelas. Saya memang ditinggal sendirian di depan, iseng juga karena ga bawa buku, jadi kadang foto-fotoin anak-anak yang lagi seliweran. Tapi saya tidak sedang bete, tidak juga sedang males. Kalau guru sudah sibuk (= mempersiapkan aktivitas mandiri untuk siswa), maka seringkali dia kelihatan santai di kelas.

Hehehehe, bukannya sewot sih atas komentar my dear friend di FB itu, tapi memang ga asik kalo kita mudah menilai dari luar (sedang mengingatkan diri sendiri). Kelas saya biasanya berisik, anak-anak seliweran, tapi bukan berarti kami sedang tidak belajar.

Tapi gaya saya ini biasanya belum dipahami oleh anak kelas X, kelas paling muda. Bila saya keluar pakem sedikit saja, mereka sudah menganggapnya "Kita boleh main, Bu Irma ga ngasih pelajaran hari ini!" Alhasil, kelas jadi ribut sekali. Beberapa malah pernah nongkrong di koridor, sampai saya harus menjelaskan, bahwa apapun yang saya lakukan, makan comro atau menggunting-lipat-gaya-anak-tk, semuanya termasuk belajar, punya tujuan, dan berlandaskan teori.

Biasanya, anak kelas XI sudah terbiasa hingga kelas berjalan lancar. Di kelas XII apalagi, karena mereka belajar dengan portofolio, bukan buku catatan biasa, maka belajar-gaya-anak-tk dan belajar-sambil-makan sepertinya sudah jadi kebiasaan.

29 January 2012

KOWAWA! ^o^

Ga ada hubungannya dengan apa yang lagi ngetrend di twitter atau kaskus, karena saya kepingin cerita tentang pertemuan dengan salah satu alumni yang pernah saya ajar.

Tadi siang anak-anak minta main di playground CBD Ciledug. kami berangkat tanpa suami karena sedang dinas ke luar kota. Pulangnya lapar, tapi saya malas masak, seperti biasa ^_^;. Jadi kami mapir ke restoran siap saji A&W.

Salah seorang waiter menyapa, yang ternyata adalah alumni yang pernah saya ajar. Tentu saja saya hapal padanya, syukurlah saya mengajar di sekolah kecil. Jadi semua alumni saya kenal, insya Allah. Kami ngobrol sebentar, eh pulangnya dibekeli waffle dan es krim. Alhamdulillah.... Tapi saya rada sungkan nih makan di sini lagi, khawatir dibekelin, hihihihi...

Lulusan sekolah kami memang hanya 3-4 orang yang melanjutkan kuliah. Yang lain bekerja, dan paling banyak menjadi SPG/waiter. Yah, meski ada juga yang jadi cabin crew, tapi kan sebenernya waiter juga, cuma di airlines ^_^.

Tapi saya bangga pada mereka. Harapan saya pada mereka bukanlah kuliah, tapi mandiri. Kenapa mandiri yang paling awal? Karena saya tau sekali kondisi ekonomi keluarga mereka. Jadi kalau ada yang dapat pekerjaan sebagai kuli cuci-setrika atau office boy, saya sarankan untuk diambil.

Setelah itu barulah mengembangkan diri. Ya siapa sih yang mau jadi pesuruh selamanya. Cara mengembangkan diri ini banyak, kuliah, kursus, atau otodidak, yang penting tak berhenti meningkatkan kualitas diri, a.k.a belajar.

Tapi memang harapan ini meninggalkan rasa sedih dan penyesalan di hati. Pasalnya, saya merasa anak-anak ini tak cukup dibekali ketika di sekolah. Dijejali pelajaran segitu banyaknya, tapi hampir tidak mendapat bekal untuk mandiri dan tidak diarahkan jadi pecinta belajar.

Ketika saya ceritakan pertemuan ini dengan beberapa teman, mereka mendokan, "Semoga jadi manager."

Saya mengaminkan sepenuh hati, sambil merasa cemas, apakah dia sudah punya kemampuan mengembangkan diri hingga level manager. Ah, mudah-mudahan saja.

Yang pasti saya sendiri ikut dengan beberapa teman lain yang ikut menyemangati, "Kowawaaaa!!!" (^o^)/

25 January 2012

GOOD TEACHING

GOOD TEACHING: THE TOP TEN REQUIREMENTS
By Richard Leblanc, York University, Ontario
This article appeared in The Teaching Professor after Professor Leblanc won a Seymous Schulich Award for Teaching Excellence including a $10,000 cash award. Reprinted here with permission of Professor Leblanc, October 8, 1998.

One. Good teaching is as much about passion as it is about reason. It's about not only motivating students to learn, but teaching them how to learn, and doing so in a manner that is relevant, meaningful, and memorable. It's about caring for your craft, having a passion for it, and conveying that passion to everyone, most importantly to your students.

Two. Good teaching is about substance and treating students as consumers of knowledge. It's about doing your best to keep on top of your field, reading sources, inside and outside of your areas of expertise, and being at the leading edge as often as possible. But knowledge is not confined to scholarly journals. Good teaching is also about bridging the gap between theory and practice. It's about leaving the ivory tower and immersing oneself in the field, talking to, consulting with, and assisting practitioners, and liaisoning with their communities.

Three. Good teaching is about listening, questioning, being responsive, and remembering that each student and class is different. It's about eliciting responses and developing the oral communication skills of the quiet students. It's about pushing students to excel; at the same time, it's about being human, respecting others, and being professional at all times.

Four. Good teaching is about not always having a fixed agenda and being rigid, but being flexible, fluid, experimenting, and having the confidence to react and adjust to changing circumstances. It's about getting only 10 percent of what you wanted to do in a class done and still feeling good. It's about deviating from the course syllabus or lecture schedule easily when there is more and better learning elsewhere. Good teaching is about the creative balance between being an authoritarian dictator on the one hand and a pushover on the other.

Five. Good teaching is also about style. Should good teaching be entertaining? You bet! Does this mean that it lacks in substance? Not a chance! Effective teaching is not about being locked with both hands glued to a podium or having your eyes fixated on a slide projector while you drone on. Good teachers work the room and every student in it. They realize that they are the conductors and the class is the orchestra. All students play different instruments and at varying proficiencies.

Six. This is very important -- good teaching is about humor. It's about being self-deprecating and not taking yourself too seriously. It's often about making innocuous jokes, mostly at your own expense, so that the ice breaks and students learn in a more relaxed atmosphere where you, like them, are human with your own share of faults and shortcomings.

Seven. Good teaching is about caring, nurturing, and developing minds and talents. It's about devoting time, often invisible, to every student. It's also about the thankless hours of grading, designing or redesigning courses, and preparing materials to still further enhance instruction.

Eight. Good teaching is supported by strong and visionary leadership, and very tangible institutional support -- resources, personnel, and funds. Good teaching is continually reinforced by an overarching vision that transcends the entire organization -- from full professors to part-time instructors -- and is reflected in what is said, but more importantly by what is done.

Nine. Good teaching is about mentoring between senior and junior faculty, teamwork, and being recognized and promoted by one's peers. Effective teaching should also be rewarded, and poor teaching needs to be remediated through training and development programs.

Ten. At the end of the day, good teaching is about having fun, experiencing pleasure and intrinsic rewards ... like locking eyes with a student in the back row and seeing the synapses and neurons connecting, thoughts being formed, the person becoming better, and a smile cracking across a face as learning all of a sudden happens. Good teachers practice their craft not for the money or because they have to, but because they truly enjoy it and because they want to. Good teachers couldn't imagine doing anything else.


http://www2.honolulu.hawaii.edu/facdev/guidebk/teachtip/topten.htm

10 January 2012

JANGAN MATRE!

Sekarang ini, sekolah mahal mah di mana-mana, ga negeri ga swasta. Kenapa mahal? Hayooooo, kenapa coba?

Saya setuju kalau biaya sekolah mahal karena kita harus mengurangi jumlah anak dalam satu kelas. Saya setuju jika sekolah mahal karena harus membayar tenaga lebih banyak guru, atau menaikkan gaji guru agar lebih fokus mengajar. Saya setuju kalau biaya mahal jika kualitas pendidikan memang jempolan, karena untuk itu pasti perlu biaya besar..

Tapi apakah yang disebut jempolan itu?

Apakah kalau ada in focus dan sound system di setiap ruangan berarti kualitasnya jempolan? Apakah kalau fieldtrip ke luar negeri berarti kualitasnya jempolan? Apakah karena ruang ber-AC, ada CCTV, anak pakai laptop, terus artinya jempolan? Bahkan, jikapun perpustakaannya digital, koleksi bukunya ratusan ribu, ada pohon Baobab boleh impor dari Afrika (kayaknya pernah denger kasusnya di manaaaaa gitu ^_~v), apa kualitasnya jadi jempolan?

Karena kualitas sekolah dilihat dari bagaimanan PROSES PEMBELAJARAN, bukan fasilitas yang tersedia.

Tempo hari saya mewakili ibu mengambilkan rapor adik yang sekarang kelas 1 SMP. Di tembok ada tempelan-tempelan tugas siswa, dibuat dari karton berwarna. Isinya ringkasan pelajaran yang dibuat kelompok.


Sebelumnya saya mau istighfar dulu, karena bukan maksud saya untuk tidak menghargai usaha guru yang memberikan tugas ini. Mudah-mudahan ini bisa jadi bahan diskusi kita saja, karena segala hal tentu perlu evaluasi.

Begini maksud saya. Karton berwarna yang ditempel di dinding itu adalah fasilitasnya. Tapi mari kita cermati proses pembelajarannya. Ringkasan ditulis dengan huruf kecil-kecil yang hampir tidak terbaca, hingga penempatannya di dinding kelas sama sekali tidak berpengaruh pada pembelajaran. Perhatikan jjuga bagaimana cara informasi tersebut dituliskan, amat bookish dan tidak melatih keterampilan berpikir anak. Meski tentu saja kita akui, bahwa mungkin ada unsur kerja sama yang hadir di sini.

Ketika datang ke sebuah SMAN di Tangerang, saya dibuat terpesona oleh layar lebar nan tipis sebuah LCD TV yang terpampang di depan ruang guru. Kenapa terpesona? Karena fungsinya hanya menampilkan jadwal pelajaran tiap kelas bergantian. Sayang sekali, IMHO, karena kalau hanya menampilkan jadwal, pakai mading juga bisa.

LCD TV itu berapa ya, harganya? Kalau dijual terus dijadikan biaya pelatihan guru, mungkin akan lebih nyata hasilnya dengan kualitas pembelajaran. Ah, tapi mungkin saja TV itu bantuan pemerintah yah, jadi ga bisa dijual ^_^;.

Jadi begitu kira-kira contoh kecilnya. Meskipun fasilitas sekolah lengkap dan mewah, ada kalanya hal itu tidak memiliki arti yang signifikan bagi pendidikan anak-anak kita. Karena bagaimana fasilitas itu digunakanlah yang akan menentukan mutu pendidikan yang ditawarkan sekolah.

Apalagi, apalagi nih ya.... Orang tua siswalah yang harus MEMBAYAR segala fasilitas yang belum tentu signifikan itu!

Seorang ibu pernah bercita-cita agar anaknya masuk SMPN percontohan di wilayah Jakarta Selatan. Sekolah ini sistemnya berbasis internet. Nilai dipublish lewat internet, orang tua bisa melihat tunggakan spp atau kegiatan anak lewat internet, tugas disubmit lewat internet, ada hotspot di sekolah, dll.

Ketika itu saya berpikir, mudah-mudahan si ibu juga melihat bagaimana cara guru di sekolah itu memanfaatkan internet itu untuk pembelajaran, dan bukan sekedar 'kerennya doang'.

Banyak sekolah sekarang sudah menyediakan peralatan multimedia di kelas. Apakah kualitas pembelajaran jadi meningkat? Di berbagai forum guru banyak ditemukan keluhan bahwa guru sekarang mengajar dengan power point, tapi sebenernya di kelas cuma mengklik tetikus membacakan isi slide. Selebihnya sama saja: kerjakan soal, koreksi bersama, sudah.

Yang parah, kalo siswanya berani nyombong kalo sekolahnya keren karena tiap kelas ada AC dan in focus.

Bagaimana dengan meningkatkan kemampuan menganalisis, memecahkan masalah, mencari solusi, menemukan hubungan, mengkritiisi, berpendapat, kolaborasi, atau paling tidak, BERGEMBIRA ketika belajar?

Jadi, mari jangan matre. Materialistis, alias gandrung pada benda. Baik guru, siswa, orang tua, semua JANGAN MATRE!

08 January 2012

CERITA TIGA SISWA SAYA

Ini cerita tentang tiga mantan siswa saya.

Yang pertama adalah siswa yang pernah saya ceritakan di sini. Waktu sekolah, semua menyerah menanganinya, meski akhirnya dia ikut UN dan lulus. Yang kedua siswa perempuan, lemah dalam semua mata pelajaran. Yang ketiga siswa tukang rusuh, poin pelanggarannya mengular di buku laporan. Tapi seperti yang pertama, dua siswa yang belakangan ini juga lulus UN.

(by the way, lulus UN sekarang ini sama sekali TIDAK membuktikan apa-apa, percayalah!)

Kenapa kemudian saya ceritakan di sini? Karena status Facebook mereka.

Yang pertama dulu pernah membuat saya yakin akan kekurangannya dalam sosialisasi. Tapi status Facebook yang dia pasang sekarang menyalahi pendapat saya. Anak ini kerap menulis dengan nada gembira tentang hang out bersama teman-teman.

Status lainnya membuat saya mengira dan bertanya-tanya, apakah benar dia bergabung dalam sebuah tim yang mengikuti lomba resmi antar gamers online? Kalau ya, berarti dia sebenarnya tak memiliki masalah dengan sosialisasi. Hanya saja, tidak menemukan 'klik' ketika berteman di sekolah.

Yang kedua adalah siswa perempuan saya. Bertahun-tahun ia mengalami masalah dengan kepercayaan diri, mungkin berhubungan dengan berat badannya. Dulu ia benar-benar lemah dalam semua mata pelajaran. Sekarang dia menulis status dalam bahasa Korea.

Saya jadi teringat film mini seri Friends, yang diproduksi bersama antara Jepang dan Korea, menyambut Piala Dunia 2002 yang diselenggarakan di Jepang-Korea.

Ceritanya tentang Tomoko, seorang gadis Jepang, SPG di sebuah dept. store berkunjung ke Hongkong dan bertemu dengan pemuda Korea, Ji Hoon, seorang pembuat film indie. Tomoko kemudian belajar bahasa Korea, agar dapat membalas e-mail Ji Hoon. Belakangan hubungan mereka tak berjalan lancar, namun ketika ditanya apa akan berhenti belajar bahasa Korea, dia menggeleng. "Soalnya aku SUKA bahasa Korea. Dulu waktu sekolah ga pernah merasa SENANG BELAJAR seperti ini."

Akhirnya Tomoko yang hanya lulus SMA ini mengambil sertifikasi bahasa Korea, melamar di biro travel, lalu bekerja di luar negeri. Maksudnya apa? Saya ingin mengatakan bahwa apapun motivasi awalnya, tapi menemukan kesenangan belajar karena kita memiliki minat pada sesuatu adalah hal yang sangat baik.

Sekarang siswa yang ketiga. Saya menemukan ia mengunggah hasil lukisannya di Facebook. Di atas kanvas dengan cat air. Judulnya, "Relaaax...."

LUKISAN?

O Tuhan, saya menjadi gurunya selama 3 tahun, dan hanya mengenalnya sebagai trouble maker, sama sekali saya tidak tahu bahwa ia memiliki minat pada lukisan. Sekarang saya amat bahagia tiap kali dia mengunggah fotonya di tempat kerja. Ia terlihat bahagia, dengan gaya pakaian khas pekerja kreatif di dunia desain, topi gatsby kotak-kotak dan rompi jeans.

Jadi, saya merasa bersalah. Anak-anak ini diberi sesuatu yang bukan minat mereka, seringkali dalam kondisi yang tidak nyaman, lalu mereka dites dalam hal yang tidak mereka sukai, dan kita menghakimi mereka lewat hasil itu.

Tapi bagaimanapun, saya guru sekolah formal. Ada kurikulum yang mesti diikuti. Bagaimana mungkin sekolah memfasilitasi minat anak pada game online, atau belajar (hanya) bahasa Korea (yang mana bukan bahasa asing pilihan resmi dalam kurikulum Indonesia), atau melukis?

Ah, bagaimana ini sebaiknya?