21 July 2012

KAMIS TAARUF

Seperti biasa, hari Kamis pertama di awal tahun ajaran adalah hari taaruf (perkenalan) di sekolah kami. Senin-Rabu pertama adalah masa orientasi siswa baru, sedang Kamis adalah pertemuan pertama siswa baru dengan seluruh keluarga besar sekolah. Sekolah kami isinya tak lebih dari dua-ratus orang, termasuk guru dan pegawai, jadi tak sulit bertemu dengan semua orang dalam sekali waktu.

Siswa yang saya ceritakan di jurnal beberapa waktu yang lalu juga hadir. And it breaks my heart to see him there. Karena rapat dewan guru akhirnya memutuskan dia tidak naik kelas.

Keputusan yg kejam kelihatannya, tapi anda harus melihat apa yang terjadi di ruang rapat saat itu. Guru perempuan menangis, guru lelaki menghela nafas. Jumlah siswa kami yang sedikit membuat kami punya waktu untuk sedikit lebih mendalami masalah anak. Kami tahu, bahwa masalah yang dihadapi anak bisa begitu berat, hingga kesulitan yang terjadi tidak sepenuhnya salah siswa. Dan tidak menaikkan siswa dengan kondisi seperti itu adalah keputusan yang membuat hati jeri.

Jadi keputusannya tetap hadir di sekolah, mesti tak naik kelas, adalah sebuah keberanian yang harus diapresiasi.

Di sisi lain, siswa tak tahu guru-guru mereka menangis di ruang rapat, tapi Allah tentu melihat. Mereka bukan guru sempurna, kedisiplinan masih perlu di evaluasi, metode mengajar masih model lama, tak berapa melek teknologi juga, tapi mereka guru yang baik. Saya mendoakan keberkahan langkah dan kebahagiaan dunia akhirat bagi mereka.

Satu hal lagi yang  penting saat Kamis Taaruf adalah penghargaan bagi guru dan siswa. Siapa yang diberi penghargaan, siswa dengan rata2 rapor tertinggi? Bukan. Sekolah memberi penghargaan pada siswa yang memiliki NOL poin pelanggaran. Ada 13 anak dengan disiplin terbaik tahun ini.

Hati ini bergetar melihat Ani, maju ke depan sebagai salah satu siswa terdisiplin tahun ini. Artinya, dia tidak melakukan satu pun pelanggaran sepanjang tahun lalu.

Ani adalah siswa yang paling lemah di angkatannya, dalam bidang akademik. Beberapa kali saya memanggil dia ke meja guru, agar saya bisa menerangkan pelajaran khusus untuk dirinya, tapi tidak tiap pertemuan, karena tak ada cukup waktu (as always). Dia kemudian akan membeo semua perkataan saya tanpa paham maknanya. Dalam olahraga atau eskul pun tak menonjol. Karena kepercayaan diri yang kurang, dia biasa membuntuti beberapa siswa seperti anak kucing yang takut tersesat.

Pernahkah dia menerima penghargaan sebelum ini? Entah, tapi yang penting hari ini dia maju ke depan, menerima penghargaan sebagai siswa dengan disiplin terbaik, dan berfoto bersama wali kelas dan kepala sekolah. Ani bersinar hari ini.

03 May 2012

DUA AKUN FACEBOOK?

Bikin dua akun Facebook?

Satu untuk Irma yang 'bu guru' (status-statusnya harus jaim, karena dibaca siswa dan rekan sejawat), satu lagi Irma yang 'manusia' (status-statusnya bebas merdeka suka suka hip hip hura hura).

Sayangnya hanya ada satu Nengirma. What you see is what you get.

Tema ini masuk dari obrolan para guru tentang larangan guru berteman online dengan siswa yang dikeluarkan negara bagian Missouri, AS. Beberapa guru di Indonesia menyarankan agar guru membuat 2 akun, satu aku sebagai guru, satu lagi akun sebagai pribadi.

Saya sendiri ga setuju kalo profesi guru tidak inheren dengan kepribadiannya. Apa yang tidak boleh dilakukan ketika di sekolah, harusnya juga tidak dilakukan di luar sekolah. Foto atau ucapan yang tidak pantas ditampilkan di depan siswa, berarti bukan perbuatan yang sesuai dilakukan oleh seorang guru.

Lagian, kalo punya dua akun, i'll mess it up, for sure ^_^;.

Jadi bikin 2 akun untuk memisahkan 'aku yang guru' dan 'aku yang manusia biasa' kayaknya bukan ide yang cocok untuk saya.

MEMASTIKAN KEKOKOHAN


“Aku berhenti pakai guru les buat anak-anak. Ga kuat bayarnya.”

Guru privat memang mahal, makanya wajar kalau teman lama saya itu mengeluh begitu. Kami bertemu di lorong sebuah mini market secara tidak sengaja. Anaknya kelas 3 SD, setingkat dengan anak saya kalau dia sekolah.

“Memangnya si Tengah ada masalah di pelajaran matematika?” Tanya saya.

“Nggak sih, tapi dulu kakaknya kelihatan baik-baik, ternyata pas kelas 5 SD baru ketahuan kalau dasar matematikanya lemah.”

Benar, itulah masalahnya. Kebanyakan anak tidak mencapai kompetensi di kelas-kelas sebelumnya, hingga jadi masalah begitu naik kelas. Dasarnya lemah, tapi tak sempat diperkuat. Tak ada waktu menunggu semua anak kompeten. Jadi kalau sudah kelihatan bisa, ya udah aja deh, dianggap bisa.

Bayangkan saja, dasarnya goyah, terus ditumpuk lagi sama materi, ditumpuk lagi, ditumpuk lagi, pantas saja ada anak SMA di Tangerang tidak paham bagaimana menulis kata ‘siapa’ atau tak bisa menjumlahkan pecahan sederhana dengan benar.

Sebagai guru, saya juga bingung bagaimana menyiasatinya. Materinya banyak, beneran deh, dan waktunya ngepas. Mestinya kan tiap evaluasi (misalnya latihan atau ulangan), yang tidak dimengerti harus langsung diremedial. Bukan diuji ulang, tapi dibahas ulang. Tapi ga sempet, hiks hiks hiks…

Dan 40 anak sekelas, yang berarti 40 variasi kemampuan, 40 variasi kecerdasan, dan 40 variasi gaya belajar. Kepingin nangis aja rasanya.

Jadi guru jujur berbakti memang makan hati (Iwan Fals).

Ah, akhirnya, mom cleans the mess, as always. Mudah-mudahan anak-anak Indonesia punya ibu-ibu yang peduli yah. Bukan peduli nilai, tapi peduli tentang kompetensi minimal yang harus dikuasai anak-anak mereka.

Cobalah datang ke wali kelas, Tanya apa anak kita siap menerima pelajaran di kelas berikutnya. Bukan, bukan masalah nilai, tapi pemahaman yang cukup kokoh dari si anak. Ya, benar. Siap di sini adalah siap untuk sekian belas mata pelajaran.

Mudah-mudahan saja wali kelas anak-anak kita bisa menjawabnya.


26 April 2012

NYELIP

Tempo hari, saya ada keperluan dengan salah seorang rekan sejawat dari SMA negeri dekat rumah. Jadi saya datang ke sana. Melangkah menuju ruang guru, saya menangkap sosok yang saya kenal di kejauhan. Ah, itu guru saya dulu. Dia memulai karir di sekolah swasta, lalu diangkat jadi pegawai negeri di sekolah ini.

Tampaknya dia bersiap masuk kelas. Di tangannya terlihat buku-buku pelajaran dan administrasi guru. Di depan ruang guru kami berpapasan.

"Apa kabar, Guru...." Saya memberi salam.
"Baik, Irma." Dia menjawab sambil tersenyum lebar.

Dan senyum lebarnya membuat saya terpana.

Haduh, guruku.... Cik Gu mau ngajar kan yah, tapi itu.... itu....

Potongan sayuran warna hijau menyelip di sela-sela giginya. Mungkin habis sarapan tadi sebelum ini. Gimana bilangnya? Sungguh saya tidak tega, karena anak-anak pasti akan melihat. Ah, tau sendiri anak-anak jaman sekarang.

Saya berjanji, akan sering bercermin sebagai guru, baik secara denotasi maupun konotasi ^_^;



GEMESSSS...

Ketika mengambil rapor bayangan adik yang SMP, saya terkejut juga ketika melihat rapornya. Hadeeeeh, banyak yang ga nyampe KKM euy. Jaman dulu bilangnya 'angka merah' ^_^. Tapi dia tetep peringkat 8, dan total nilai dengan rangking satu hanya belasan saja. Artinya? Ya memang jarang anak yang melewati semua KKM mata pelajaran.

FYI, sekolah adik saya ini full-day, pulang setelah shalat ashar. Karena jamnya panjang, jadi durasi tiap mata pelajaran jadi banyak. Jadi, SMA pelajarannya 17, satu hari ada 7 sesi. SMK mata pelajarannya 20an, setiap hari ada 7 sesi juga. Nah, SMP mata pelajarannya 13, sehari ada 9 sesi.

Apa kalau anak belajar lebih lama, dia akan mencapai hasil lebih baik? Kalau di sekolah adik saya, tampaknya itu tidak terbukti. Yang mereka butuhkan bukan jam belajar yang lebih panjang, tapi cara belajar yang lebih baik.

Saya sudah bicarakan dua kali pada wali kelas adik saya ini, tapi ya susah karena ga punya power. Pada kenyataannya, saya bahkan bukan orang tua murid, hanya menggantikan orang tua yang tidak bisa hadir. Paling oke memang kalau mendekati kepala sekolah.

Jadi mikir deh, pelatihan kepala sekolah yang diadakan dinas pendidikan selama ini untuk apa sebenarnya? Paradigmanya toh tidak berubah juga. Jadi yang namanya PAIKEM GEMBROT EEK (pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan - gembira dan berbobot - elaborasi, eksplorasi, konklusi) itu mah cuma lipstik aja.


Apa? Namanya jelek banget? Hehehehe.... iya tuh emang.

Mungkin saya harus ikutan pelatihan untuk kepala sekolah juga sesekali (9 hari meninggalkan anak? Ga mauuuuu..... ^o^;). Pengen tau juga apa aja yang 'dilatih' di sana.

Huffff...... Dengan siswa sebanyak itu. Dengan sumber daya sebesar itu. Ih, gemeeesssss....

DUA AKUN?

Bikin dua akun Facebook?

Satu untuk Irma yang 'bu guru' (status-statusnya harus jaim, karena dibaca siswa dan rekan sejawat), satu lagi Irma yang 'manusia' (status-statusnya bebas merdeka suka suka hip hip hura hura).

Sayangnya hanya ada satu Nengirma. What you see is what you get.

Tema ini masuk dari obrolan para guru tentang larangan guru berteman online dengan siswa yang dikeluarkan negara bagian Missouri, AS. Beberapa guru di Indonesia menyarankan agar guru membuat 2 akun, satu aku sebagai guru, satu lagi akun sebagai pribadi.

Saya sendiri ga setuju kalo profesi guru tidak inheren dengan kepribadiannya. Apa yang tidak boleh dilakukan ketika di sekolah, harusnya juga tidak dilakukan di luar sekolah. Foto atau ucapan yang tidak pantas ditampilkan di depan siswa, berarti bukan perbuatan yang sesuai dilakukan oleh seorang guru.

Lagian, kalo punya dua akun, i'll mess it up, for sure ^_^;.

Jadi bikin 2 akun untuk memisahkan 'aku yang guru' dan 'aku yang manusia biasa' kayaknya bukan ide yang cocok untuk saya.

06 April 2012

SAYA BUKAN ERIN GRUWELL


Sudah nonton drama-drama semacam Great Teacher Onizuka atau Dream High? Yah, memang itu rekaan semata, bisa saja bila ada yang bilang bahwa guru semacam itu terasa too good to be true. Meskipun begitu, guru yang bener-bener mengurusi murid-muridnya, dari masalah akademik hingga masalah pribadi bukan rekaan, mereka benar-benar nyata.

Yang terkenal mungkin Erin Gruwell, karena difilmkan oleh Hollywood, atau Torey Hayden yang jurnal hariannya selama menangani anak berkebutuhan khusus dijadikan banyak judul buku. Di Indonesia misalnya Yuli Badawi yang kisahnya dibukukan dalam Rumah Seribu Malaikat. Tapi sesungguhnya yang tidak terkenal tersebar di sekeliling kita. Saya mengenal salah satunya.

Senja menjelang malam kemarin, saya duduk mengobrol dengan suami di teras rumah orang lain (kami tidak punya teras ^_^;). Saya bertanya, berapa jauh kita para guru seharusnya mengurusi anak-anak didik.

Seorang rekan guru SMP negeri papan atas dekat rumah, bercerita suatu kali, tentang siswi beliau yang sudah melakukan hubungan seksual dengan pacaranya yang mahasiswa. Guru muda ini tidak mengerti harus bagaimana, jadi dia berkonsultasi pada seorang guru senior. Apa jawaban yang dia terima?

"Makanya, Bu, jangan terlalu dekat dengan siswa. Kita bisa terbebani dengan terlalu banyak masalah kalau terlalu dekat dengan siswa."

Melihat dari kacamata ideal, harusnya guru tidak boleh berkata begini. Bagaimana bisa dia tak peduli dengan anak (didik) sendiri. Tapi ketika berkaca, ternyata saya ini sedikit banyak sama dengan si guru senior di atas. Entah bagaimana, saya merasa membatasi diri dalam berhubungan dengan siswa agar tidak terlalu 'dekat'.


Jadi saya galau: saya merasa bersalah karena tidak bisa jadi guru ideal. Tapi untuk jadi guru semacam Erin Gruwell, saya pun sangsi apakah siap. Erin Gruwell sendiri mengambil 2 pekerjaan tambahan untuk membiayai impiannya sebagai seorang guru, dan pernikahannya berantakan.

Kemudian suami saya mengeluarkan pendapatnya soal ini, yang bisa disingkat dalam frase berikut: sesuai kemampuan masing-masing.

Bila kita mampu menanyakan kenapa salah seorang anak didik tidak masuk lewat sms, maka lakukanlah. Bila ada pertimbangan lain yang menghalangi, maka tidak perlu merasa berdosa kalau tidak melakukannya.

Bila punya keluangan untuk ikut menjadi mediator untuk pertengkaran anak dan orang tua, lakukanlah. Bila kondisi hanya memungkinkan untuk memeri nasihat lewat e-mail, tak ada yang bisa menghakimi bahwa kita tidak peduli.

Selain itu, seorang wali kelas akan berbeda pendekatannya dengan kepala sekolah, juga berbeda pendekatannya dengan seorang ketua yayasan. Guru akan menangani masalah anak didik lebih detail dan personal, tentu saja. Tapi salahkah kepala sekolah jika dia tidak melakukan home visit? Tidak, tapi dia salah ketika membiarkan sekolah tanpa program pembinaan akhlak dan karakter yang serius. Sedang ketua yayasan akan bergerak di tataran yang lebih luas dan umum.

Kenyataan ini menunjukan pada saya bahwa kekuasaan memang penting, karena banyak idealisme yang bisa dipaksakan oleh pemimpin, dibanding bila hanya jadi anak buah. Sebagai guru, yang bisa dilakukan hanyalah melakukan sendiri, mungkin menginspirasi, dan kalau bisa mempengaruhi. Tapi kalau ada kesempatan memegang kekuasaan, seperti pimpinan sekolah, itu kesempatan bagus untuk berbuat lebih banyak.

Kembali ke pertanyaan, sejauh mana kita harus mengurusi anak-anak didik. Yah, memang selalu saja ada hal-hal yang tak bisa dipukul rata, tak bisa disamakan. Saya, misalnya, harus lebih hati-hati lagi berpikir dan mengeluh tentang kenapa guru-guru tidak peduli. Karena sebenarnya saya tidak tau, apa benar mereka tidak peduli? Yang harus dijaga selalu adalah ketetapan hati ini untuk berbuat sesuatu, bukan menyibukkan pikiran dengan apa yang orang lain lakukan, karena hal itu memang sama sekali bukan urusan kita.

Minder? Hm…. Saya ingin menjadikan guru-guru hebat sebagai inspirasi saya, bukan pembading apalagi kompetitor. Semangat!

BERBAGI GALAU

Siap-siaaaap..... kalau lagi labil jangan baca, hehehehe....

Ceritanya hari Senin kemarin suami hp suami off. Pagi ngajar, pas istirahat ada di ruang 'bawah tanah', siangnya rapat. Pas bisa ditelfon ternyata lagi ditengah-tengah hujan deras yang bikin jalanan pada muaceeeet. Sampe rumah tepar. Jadi saya bimbang mau menyampaikan kabar. Akhirnya pagi-pagi baru ngomong.

"Pak, aku mau ikut seminar."
"Kapan?"
"Sekarang."
"Jam berapa?"
"Jam 8."
"Sekarang jam berapa?"
"Setengah 8."
"Di mana?"
"Kemayoran."
"Hah?"

Kemayoran memang 'rada' jauh dari Tangerang. Karena kemarin hujan deras, saya enggan diantar suami. Jadi minta diantar karyawan sekolah pakai sepeda motor sampai Permata Hijau, yang maceeeeeet ampun-ampunan. Ga bakalan sampe kalo pakai mobil. Setelah itu lanjut pakai taksi, kena 70ribu + tol 6ribu, hanya 20 menit.

Ketika saya sampai, waktu menunjukkan jam 10.00 kurang. Semua sedang coffeebreak. Alhamdulillah hanya terlewat satu sesi.

Begitu seminar di mulai, Muriel Summers, pembicara, berkata, "Dalam hitungan 3, mari sama-sama kita menyebut satu guru terbaik yang pernah masing-masing miliki." Dia dan peserta sama-sama menghitung sampai 3, dan menyebut guru favorit sepanjang masa mereka. Saya terdiam, siapa guru favorit saya, ya? Kok saya tidak bisa memutuskannya langsung?

"Guru yang baik adalah guru yang bisa diingat siswanya dalan sekali 'klik'," Muriel Summers menjentikkan jari.


Dari situ, mulailah saya duduk di sana, mendengarkan bagaimana cara membentuk 'The Leader in Me' School, yaitu sekolah dengan penerapan 7 Habits-nya Covey.

Tentu saja bagus, prinsipnya, hasil yang telah terbukti di sekolah-sekolah, juga pengaruhnya pada kehidupan siswa, guru dan keluarga. Tapi yang terpikir terus menerus di kepala adalah "Mahal ga? Mahal ga? Mahal ga?"

Saya tanyakan masalah ini kepada Muriel Summers -dengan Bahasa Indonesia, karena tidak mau mempermalukan diri sendiri ^_^;. Dia berkata, "Tak ada yang terlalu mahal untuk menyelamatkan hidup anak-anak kita. You even can't afford not doing this." (atau begitulah yang tertanggap kuping kampung saya ini, hehehehe...).

Di belakang saya, seseorang berkomentar, "Mahal atau murah mah relatif!"

Iyeeee, tau, tau. Saya paham mahal-murah itu relatif. Tapi dengan jumlah siswa yang hanya 110 orang, dengan SPP yang hanya Rp165.000 bersih, tanpa uang praktek atau eskul, dan kadang ditunggak hingga 10 bulan, program ini MAHAL GAAAAAA....? #banting-banting kursi#

Setelah makan siang, ada presentasi Best Pactice 'The Leader in Me' (TLIM) School dari beberapa sekolah di Indonesia. PSKD Mandiri (Menteng), St. Laurensia (BSD), An-Nisaa' (Bintaro), ITB (Bandung).

Hadeeeeeh, sekolah-sekolah mihil semua niy. Sekolah kecil-kampung-miskin-entah di mana kayak saya kok ga ada?

Saya membuka hand-out yang diberikan dan.... langsung puyeng. Teacher's starter kits untuk 1 tahun adalah 7 juta! Hanya bisa dipakai untuk 25 siswa. Tapi untuk memakainya di kelas, guru harus pelatihan 7 Habits dulu, 2,5 juta perorang. Bila ingin diterapkan di sekolah, ada program 3 tahun. Saya ga berani nanya harganya.

Ini seperti mimpi untuk menerapkan Multiple Intelligences System (MIS) di sekolah. Kalau TLIM fokusnya pada karakter, MIS lebih pada pembelajaran. Tapi sama saja. Ga ada duitnyaaaaaah.....

AKU GALAAAAAUUUU!

Oh ya, ketika istirahat, saya mendengar panitia menjelaskan pada beberapa peserta. "Ini jatuhnya ga mahal! Karena...." Ah terserahlah!

Btw, ada versi bajakannya ga yah? Cari ah....

Ya Allah, jadikan aku orang kaya.


13 March 2012

SAYA DI MATA SISWA

Kalau saya bercerita tentang siswa-siswa saya, bagaimana bayangan anda tentang saya: model guru kayak gimana sih si Irma ini.

Kemarin saya mendapat banyak kartu dari siswa kelas XII. Beginilah saya di kelas:


PENDIAM, JARANG SENYUM, KADANG-KADANG JUTEK.


TERLIHAT DINGIN. Kewl, huh? Xixixixixi.....

08 March 2012

HAIK, 100%.

Saya suka iseng memasukkan pertanyaan-pertanyaan yang ga ada nilainya di lembar ujian anak-anak. Setelah mata juling karena meneliti hiragana satu persatu, soal seperti ini bikin senyum-senyum dan manggut-manggut.

Tadi malam saya selesai mengoreksi lembar jawaban UTS, dan menemukan beberapa hal menarik di lembar jawaban siswa. Saya share yah....



Yang ini ada penunjuk arahnya. Jadi dari baris kedua, saya harus ke baris paling bawah, dilanjutkan ke samping yang tulisannya vertikal, lalu lanjut ke baris ketiga yang mendatar. Fyuh, ini anak ga bawa penghapus kali yak? Untung aja jawabannya bener.....




Pertanyaan: Tuliskan hal yang kamu sukai dan kamu benci ketika belajar Bahasa Jepang!

Jawabnya: Paling ga suka dari pelajaran Bahasa Jepang adalah mendengarkan. Saya benci itu. Semuanya suka tapi itu saya ga suka. MENDENGARKAN.

Lha, belajar bahasa memang ada membaca, menulis, mendengar, dan bicara. Mau gimana lagi, sabar aja dah yak ^_^;



Pertanyaan: Tuliskan hal yang kamu sukai dan kamu benci ketika belajar Bahasa Jepang!

Jawabnya: Yang saya tidak suka jika ibu guru langsung masuk ke kelas tidak mengucap salam. Maaf ya, Bu.... ^_^

Iya, saya maafkan.... (loh? hihihihi.....)



Pertanyaan: Apakah kamu mengerjakan UTS Bahasa Jepang kali ini dengan kemampuan sendiri?

Jawabnya: Iyaa!!! (Tapi hanya 90%).

Dasar anak-anak ^_^;. Terima kasih atas kejujurannya.



Pertanyaan: Apakah kamu mengerjakan UTS Bahasa Jepang kali ini dengan kemampuan sendiri?

Jawabnya: Haik, 100%.

Alhamdulillah....


Catatan:
Dalam Bahasa Jepang, YA adalah HA-I. Tapi karena sering ketukar dengan HAI untuk hello, jadi ditulis HAIK, padahal ga ada bunyi K dalam aksara Jepang, yang ada ka-ki-ku-ke-ko.

26 February 2012

PEKERJAAN YANG BAIK

Jam tujuh pagi. Seorang guru, datang ke sekolah dengan dasi atau blazer bergaris tegas, bersepatu pantofel, menenteng setumpuk buku. Bersamaan dengan itu, seorang ibu kantin, berkaus, sandal jepit, menenteng kardus snack dan termos air. Manakah pekerjaan yang lebih baik?


Jam sembilan pagi. Seorang pegawai, datang ke kantor, rapi wangi, duduk di depan komputer sambil merasakan hembusan AC dingin di kulit. Di waktu yang sama, seorang montir, mendorong rolling door bengkelnya, membereskan alat yang segera membuat tangan bernoda hitam, bersiap menanti pelanggan. Manakah pekerjaan yang lebih baik?

Pertanyaan ini muncul karena saya teringat anak-anak didik saya yang telah lulus. Saya bertemu dengannya di sebuah pusat perdagangan dan ia mundur sambil menunduk, malu dengan pekerjaannya sebagai trolleyboy. Saya bertemu dengan yang lainnya di tepi jalan, dan ia menghindar karena masih juga menganggur. Saya bertemu dengan yang lainnya lagi, dan ia sibuk mencari nama lain untuk menyamarkan pekerjaannya sebagai waitress.

Kenapa demikian? Perkiraan saya, adalah karena adanya pandangan tentang sesuatu yang disebut ‘pekerjaan yang sesungguhnya’.

Saya juga mengerti sulitnya mencari pekerjaan yang dianggap layak bagi lulusan SMA. Ditambah lagi, mereka biasanya belum menemukan hal yang menjadi minat mereka, dan tidak terbiasa melihat alternatif lain selain menjadi pegawai.

Tapi, apakah pekerjaan yang baik itu? Apakah yang berhadapan dengan komputer? Berkantor di gedung bertingkat? Berpakaian fashionable? Saya kira kita sepakat bahwa tidak demikian. Pekerjaan yang baik dalah pekerjaan yang bernilai ibadah, tapi juga haruslah pekerjaan yang kita sukai, yang memenuhi kebutuhan rohani kita, yang membuat kita bahagia ketika mengerjakannya.

Dan saya teringat novel Sang Pemimpi.

Ikal, tokoh utama novel ini, bekerja sebagai juru sortir di kantor pos. Selain senang dengan baju seragamnnya, ia menemukan kebahagiaan ketika bisa membantu orang yang kesulitan mencairkan wesel. “Maka dengan sebuah cap karet berukiran nama dan nomor induk pegawaiku, aku memberi otorisasi di belakang wesel itu: DIKENAL PRIBADI. Bangga minta ampun aku dengan privilege sebagai pegawai pos itu, selain senang dapat memberi bantuan kecil untuk rekan sekampung.”

Ada lagi, film Janji Joni.


Joni adalah pengantar film, dan dia dengan tegas berkata dia bahagia dengan pekerjaannya. “Pekerjaan menyampaikan sesuatu adalah pekerjaan mulia. Bahkan itulah ini tugas para nabi.”

Inilah yang saya impikan dari para lulusan di sekolah saya. Menemukan pekerjaan yang mereka sukai. Tidak harus berpakaian licin dan berjalan di atas ubin mengilap. Bisa saja berpeluh, bercoreng cat, berkotor-kotor, asal membuat hati bahagia. Lagipula, pada banyak kasus, pekerjaan seperti penjual sate ayam, kadang berpenghasilan sama, atau bahkan lebih, daripada pegawai bank.

Jadi, apa yang akan saya jawab bila anak-anak didik bertanya, “Jadi saya harus bagaimana?”

Tentu saja, jangan bosan bila saya mengatakan temukan minatmu, lalu bangun mimpi-mimpimu. Jangan biarkan pandanganmu tertipu dengan tampilan luar yang mentereng, karena hatimulah yang lebih penting.

Kalaupun akan lama hingga mimpi itu bisa terwujud, tak apa. Kerjakan apa yang ada, ambil kesempatan yang tersedia, walaupun sebagai cleaning service atau bahkan pembantu rumah tangga. Tapi jangan biarkan impianmu mati. Jangan. Walaupun jalannya akan berkelok-kelok, kadang terpaksa berhenti sejenak, tapi tetaplah mengarah ke sana, ke mimpimu.

SEKOLAH YANG MENGANCAM


“Lari lima putaran! Jemur satu jam! Jalan jongkok sampai pagar!
Pernah menerima perintah-perintah seperti di atas ketika sekolah dulu? Apa sekarang anak-anak anda masih menerima hukuman yang sama di sekolahnya? Di sekolah tempat saya mengajar, ya, masih.
Primitif memang, mengganjar kesalahan seperti terlambat, tidak memakai atribut lengkap, absen, atau kabur melompati pagar sekolah dengan hukuman fisik. Jaman berlalu, dan sistem yang sama masih berlaku. Pertanyaannya: apakah ini penerapan disiplin, atau kekerasan dalam pendidikan?
Jangan kira kami tak melakukan usaha perbaikan. Sudah beberapa tahun belakangan, sistem poin diterapkan. Surat-surat peringatan dikeluarkan pada batas jumlah poin tertentu, dan ada batas maksimal poin pelanggaran bagi setiap siswa. Inginnya adalah sebuah sistem yang lebih beradab, yang bisa mendorong siswa untuk berprilaku baik tanpa mengandalkan kekerasan. Bagaimana hasilnya?
Kami mengevaluasi tingkat pelanggaran. Ternyata, anak-anak ini merasa tidak ‘terhukum’ oleh catatan poin, dan jumlah kasus semakin banyak terjadi. Baru semua ribut-ribut pada saat dapat surat peringatan dan pemanggilan orang tua. Tiap semester, wali kelas vs bagian kedisiplinan bersitegang membahas apakah siswa A atau siswi B dipertahankan atau tidak. Semakin banyak jumlah siswa yang masuk dalam daftar pembahasan, ketegangannya semakin bertambah.
Mungkin kami tak cukup sabar menunggu, karena di mana pun sistem baru memang perlu waktu. Sayangnya kami tak punya yang namanya waktu. Daripada kedisiplinan berjalan amburadul dan mempengaruhi iklim belajar, sistem hukuman primitif pun kembali dilakukan: kami mengancam dengan hukuman fisik.
Beberapa guru mencoba mencari jalan lain untuk mengganti ancaman hukuman fisik. Ada guru yang mewajibkan anaknya melafalkan wirid tiga kali balik. Ada guru yang mewajibkan menulis istighfar 300 kali, ada guru yang mewajibkan menulis tiga lembar rumus matematika sebelum anak masuk kelas.
Lalu pertanyaan berikutnya: apakah nantinya hukuman identik dengan zikir, istigfar dan rumus pelajaran? Kalau iya, bagaimana bila anak trauma pada hal-hal baik tersebut nantinya, hingga sampai seterusnya akan menghindari zikir, istighfar dan rumus?
Tapi ancaman di sekolah memang bukan cuma fisik saja. Sering kita temui ancaman verbal, juga mental yang dilakukan atas nama ‘menjaga kedisiplinan dan efektifitas belajar’. Satu lagi, nilai. Kerjakan ini, kamu dapat nilai. Jangan coba-coba mangkir, merah nilaimu, tak naik kelas kamu.
Suami saya adalah termasuk orang-orang pertama yang ditugasi pihak fakultas untuk menerapkan SCL pada matakuliah yang diampunya. SCL, atau student centered learning, menghendaki dosen berlaku sebagai fasilitator. Dia harus berupaya membangkitkan motivasi terhadap mata kuliah tersebut, sehingga tak perlu ada ancaman untuk membuat anak-anak ini belajar.
Berhasilkah? Tidak selalu. Berkali-kali suami saya mengaku hampir putus asa. Merasa sudah berusaha maksimal berimprovisasi seraya menjauhi negative encouragement, tapi ternyata anak-anak yang kuliah di perguruan tinggi negeri favorit ini tak merasa harus bergerak bila tak diancam akan gagal bila tugas tak diserahkan atau absen kosong melompong.
Manusia, katanya, adalah pembelajar alami. Semua yang diketahui anak hingga usia 4 tahun adalah hasil belajarnya yang alami, penuh semangat dan antusiasme. Di sekolah, ke mana antusiasme itu? Kenapa kita harus mengancam agar anak mau belajar?
Mungkin memang baiknya hukuman dikaitkan dengan hilangnya kesenangan. Bila anda melanggar, kesenangan yang anda dapat di sekolah akan hilang. Kelihatannya cukup adil, bukan? Sayangnya saya belum menemukan, kesenangan apa kira-kira yang masih ada di sekolah sekarang ini.

ASIKNYA SEKOLAH

Suatu kali saya dan si Akang membahas tentang hal-hal menyenangkan di sekolah. Kami tampaknya menjalani kehidupan sekolah dengan cukup mulus. Punya teman, nilai tak bermasalah, SPP terbayar tepat waktu. Hal-hal di atas seharusnya bisa menambah panjang daftar 'Asyiknya Sekolah' milik kami.

Sementara yang kami dapatkan adalah:
#ngumpul bareng temen
#becanda, ngobrol, dan curhat
#jalan bareng sepulang sekolah
#ngecengin temen cakep
#main basket di lapangan yang luas (khusus untuk si Akang)
hm..., apalagi yah?

Kami bukan siswa yang suka 'ngegencet' adik kelas, jadi 'ngerjain orang' tidak masuk daftar. Walaupun saya cukup aktif di osis, saya belum yakin ikut osis masuk ke kategori asyik. 'Pakai seragam' juga agak aneh, kalau tidak bisa dibilang konyol, untuk diletakkan dalam daftar. Apakah 'bisa nyombongin sekolah sendiri ke orang-orang' juga bisa dijadikan hal asyik di sekolah? Mungkin tidak. Bagaimana dengan mengerjakan PR, membaca, diskusi? Becanda, kali... Jadi sementara itu dulu isi daftarnya.

Ngomong-ngomong, daftar di atas itu kok sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan tugas kami di sekolah: BELAJAR. Tampaknya kami sedikit sekali punya kenangan asyik soal proses belajar mengajar yang dijalani. Maksudnya, amat sedikit sekali guru yang menginspirasi dan tak banyak peristiwa yang membangkitkan keingintahuan lebih dalam tentang satu materi pelajaran.



Barangkali benar juga bila ada orang yang bilang, kalau tidak sekolah, anak akan kesulitan sosialisasi. Semua anak pergi ke sekolah, jadi kalau mau berteman, ya memang harus pergi ke sekolah. Itu tampaknya jadi bisa menjelaskan keheranan saya pada anak-anak didik saya.

Pada hari efektif, mereka seperti harus diseret masuk sekolah. Sampai diancam akan dijemur agar mau tepat waktu mengikuti jam pelajaran. Tapi begitu tidak diwajibkan sekolah, malah datang ke sekolah. Hari Minggu nongkrong di halaman sekolah. Liburan panjang janjian di sekolah. Kalau ada rapat guru dan mereka disuruh pulang cepat, malah kumpul-kumpul di bawah pohon, enggan pulang. Ya itulah, mungkin karena asyiknya sekolah ada di bagian 'berteman'nya.

Nah, kalau begitu, kita ubah saja tujuan sekolah, bukan untuk belajar tapi untuk sosialisasi. Guru tak pusing mengejar kurikulum, siswa tak berat memahami tumpukan pelajaran. Tapi kalau hanya sosialisasi, barangkali kita dirikan saja taman bermain.

Proses 'memikirkan pendidikan' (halah, bahasanya) ini rupanya belum juga sampai ujung.

TERIMA KASIH

sEORANG SAHABAT bilang kalo dalam budaya kita, amat jarang orang tua bilang terima kasih sama anaknya. Saya langsung keingetan kalo dalam dunia pendidikan, guru juga amat jarang bilang terima kasih pada murid-muridnya.

Kenapa nggak? Ya, kenapa nggak. Saya bahkan belum lama jadi guru, tapi ternyata anak-anak ini justru ngasih banyak pada saya, mungkin lebih banyak dari yang saya beri pada mereka.

(lalu pas lagi berpikir begini, si akang nyalain windows media player. ini jodoh namanya, karena ternyata yang diputar adalah harmoni dari padi)

aku mengenal dikau
telah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima



Karena anak-anak ini, saya ngerti tentang what so called 'mencintai pekerjaan'. Bahasa kerennya: saya mengenali lentera jiwa saya. Selalu aja sempet kepikiran, apa tahun ajaran depan akan membosankan? Kayaknya semua dah 'diabisin' tahun ini. Tapi nggak, kok. Sudah 4 tahun ajaran berlalu, dan alhamduliLlah antusiasme ini belum pudar.

Ngeliat pas anak-anak ini ketawa, pas mereka muram, pas mereka nyontek, pas kening mereka kelipet-lipet, membuat saya menulis banyak catatan di blog ini. Padahal saya bukan penulis. Iya, anak-anak ini memang ilham.

Saya jadi sadar banyak hal, nyoba-nyoba mengevaluasi masa lalu, sambil berupaya mencari yang terbaik untuk anak-anak saya di rumah, dengan berkaca pada murid-murid di sekolah.

kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni

Dari dulu saya selalu ngerasa kalo saya tuh orang yang biasa-biasa saja. Gak cakep-cakep amat, gak berbakat banget, bukan yang tipe gaul abis, bukan yang super jenius, gak ruarrr biasa lah. Tapi anak-anak ini bilang kalo cara saya ngajar lumayan, dan kadang-kadang juga bisa asik.

Saya suka perasaan ketika saya disukai, karena saya merasa... oh, barangkali saya berbakat juga, barangkali saya bisa sedikit kreatif juga, barangkali saya bisa jadi hebat juga.
Dan saya jadi nyoba untuk jadi begitu.

segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah

Belum lagi anak-anak ini gak pernah ngebiarin saya jadi 'tua', atau brenti puter otak. Mereka tau, mereka gak butuh kelas penuh ketegangan dengan guru yang gak rela mingser sesenti pun dari buku paket.

Jadi?

Jadi, terima kasih ya Allah, atas kesempatan jadi guru dan bertemu anak-anak ini. Mungkin saya gak selamanya jadi guru. Yah, siapa tahu. Tapi yang pasti saya gak akan pernah, gak akan pernah, nyesel atas empat tahun (dan tahun-tahun berikutnya) yang berharga ini.

Terima kasih ya, murid-muridku.

GILIRAN MENDONGENG

Senin (10/8) kemarin saya kebagian giliran tugas. Bukan, bukan ronda, tapi jadi pembina upacara. Inget deh pas pertama kali jadi pembina, sempat salah loh. Kan MC bilang, "Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara." Dengan pede, saya naik ke atas podium. Padahal pemimpin upacara itu kan siswa yang di tengah lapangan, bukan saya. Ya udah, turun lagi deh saya dari podium, hehehe. Maluuu, tapi biarlah, sudah berlalu ini.



Nah, kali ini sudah lebih santai. Minimal gak sakit perut lagi. Apalagi buku Satu Tiket ke Surga, boleh pinjem dari Mbak Gita, masih fresh di otak. Loh, apa hubungannya?

Begini. Sejak pertama kali dapat giliran, saya sudah janji gak mau ngasih nasehat basi: rajin-rajinlah belajar, dan jangan lupa SPP dibayar. Saya bahkan gak inget apalagi isi amanat upacara selain dua hal itu.

Ada juga pembina yang mengisi amanat dengan 'evaluasi petugas upacara'. Yang bener aja, masa' anak 12 tahunan dikritik di depan seribu anak dan puluhan guru, hanya gara-gara keliru mengucap nomor ketika memimpin janji siswa.

Jadi biasanya amanat saya isi dengan cerita. Biasanya pakai tamsil, atau bahasa sononya: cerita asosiatif. Nah, dibuku yang saya sebut di atas, banyak banget cerita asosiatif yang buagus.



Karena cerita model itu ada tokohnya, ada dialognya, maka hasilnya adalah amanat upacara yang tidak serius. Gimana, ide bagus, gak tuh?


Kalo gaya ini adalah ide brilian, pasti yang lain bakal ikut, dong. Tapi nggak tuh. Rupanya seperti bagaimana cara berjalan ke tengah lapangan telah ada pakemnya, demikian pula dengan amanat. Ya biar sajalah. Kan juga saya gak sering jadi pembina, tiga kali setahun aja udah keitung kebanyakan. Yah, itung-itung variasi, begitu.

Nah, hari Selasa ada rekan guru yang bilang, lewat fb, "Bu, ajarin dong," katanya, "biar bisa menyampaikan sesuatu gak to the point kayak di upacara kemaren."

Lha, sayanya yang jadi bingung. Ajarin gimana? Atau... O, ow... Jangan-jangan dia menyangka bahwa sayalah yang mengarang semua tamsil yang saya ceritakan di upacara.

Saya memang gak bilang ngambil cerita dari mana. Saya bahkan gak tau kalo kita harus menyebutkan sumber sebelum mendongeng. Wah, jadi merasa bersalah nih...

TENTANG UJIAN

Seorang sahabat mengeluhkan buruknya kualitas soal-soal yang diberikan pada anak-anaknya di sekolah (Indonesia). Sebenarnya, saya juga mengalami kasus yang sama. Bedanya, posisi saya saat itu bukan sebagai orang tua, tapi sebagai guru.

Di sekolah kami, soal ujian semester didistribusikan dari UPDT Rayon 3 Ciledug. Koreksi tetap diserahkan ke guru sekolah masing-masih. Pernah, suatu kali, saya membonuskan 22 soal Bahasa Indonesia untuk kelas sepuluh, dari 45 soal yang ada di lembar soal.



Karena putus asa, saya sampe nanya ke suami, "Kang, nih baca deh, soalnya. Soalnya yang kacau, apa akunya sih yang goblok?"

Ada soal yang gak jelas logikanya. Ada yang salah tanda baca (kebangetan, ini kan soal Bahasa Indonesia). Ada yang gak ada jawabannya. Ada yang jawabannya lebih dari satu. Ada yang pilihan jawabannya aneh (keabisan ide, kali). Karena belum pernah separah ini, saya memang benar-benar jadi curiga: jangan-jangan soalnya baik-baik saja, dan sayalah yang bodoh.

Sebenarnya, tes adalah salah satu teknik evaluasi. Anak-anak kita diberi soal agar kita tahu sejauh mana mereka menyerap pelajaran. Namun sebagaimana umumnya sekolah di manapun, demi efisiensi, digunakanlah sistem evaluasi massal. Instrumennya adalah ujian dengan menjawab soal pilihan ganda.

Ah, saya jadi kepingin punya sekolah sendiri. Biar isi sekolah bisa ngatur semaunya, tidak usah mengikuti peraturan pemerintah, ataupun maunya yayasan. Tapi untuk punya sekolah seperti itu, harus punya banyak uang, bukan?



Nanti di sekolah itu, anak-anak boleh pilih kelas apa yang mau di masuki, atau kalau tidak mau, baca saja di perpustakaan. Mereka akan ikut fieldtrip yang banyak, lalu magang di mana-mana.

Tentu saja, harus ada evaluasi, untuk memastikan mereka belajar sesuatu. Setiap habis aktifitas, harus ada recalling pengetahuan yang diserap. Tapi, bentuknya tentu saja bukan soal-soal.



Yang mau bikin puisi tentang atom, bikinlah. Yang mau bikin lagu t
entang euclidian theory, silakan. Yang mau memvisualisasikan puisi Sapardi Djoko Damono lewat gerakan, boleh. Yang maunya ujian dengan bikin benda, prakarya, masakan, lukisan, foto, cerpen, pertunjukan, semua boleh. Semua boleh.

(saya bener-benar kepingin jadi orang kaya)

GURU HARUS LAPANG DADA

Saya sudah coba apa yang terpikirkan di benak. Segala yang memungkinkan untuk membuat pembelajaran berlangsung menyenangkan. Bahkan jikapun harus berkhianat pada kurikulum. Tapi memang, tak selalu berhasil.

Maka saya tulis di judul: guru harus lapang dada.

Sabtu kemarin kami mempelajari kosa kata lewat sebuah lagu. Sayangnya gedung sekolah sedang mati lampu, maka saya membawa anak-anak ke perpustakaan yang listriknya ternyata menyala.



Ketika semua sudah duduk (perpustakaan kami lesehan), saya teringat seorang rekan guru di Salatiga. Ia memberi kebebasan bagi yang sedang tidak ingin mengikuti pelajaran, asal mereka ada di dalam kelas. saya juga ingin mencoba.

Maka saya umumkan agar anak yang ingin belajar agar mendekat pada saya, dan anak yang tidak ingin agar mencari tempat di mana saja, asal tetap dalam ruangan.


"Nilai saya gak bakal turun kan, Bu?" beberapa anak mencoba memastikan. Saya tersenyum, tentu saja tidak.

Pelajaran berlangsung. Dalam kisah guru di Salatiga itu, anak-anak yang tidak mau belajar akhirnya nimbrung juga, tertarik juga. Sayangnya dalam cerita saya, hal itu tidak terjadi.

Mereka tetap di sana, tidur-tiduran, mendengar musik dari ponsel, membaca komik.

Oke, tentu saja saya tak boleh marah. Saya bahkan mencoba mengerti. Hari itu hari sabtu, dan anak-anak itu tentu sudah lelah belajar segalanya selama seminggu. Mungkin otak mereka hampir overload. Mungkin ini kesempatan untuk bersantai sejenak.

Kalau saya menyuruh mereka mengikuti pelajaran, saya tau mereka akan menurut. Selama ini, belum ada siswa yang menolak bila saya meminta mereka melakukan sesuatu. Tapi kali ini mereka diberi kebebasan, dan saya senang bereka tidak takut memilih di depan saya.

Hanya saja, yah, hanya saja, saya pikir pelajaran yang saya bawakan lumayan variatif, dan bisa menarik minat. Tapi memang pada akhirnya, walaupun telah berusaha, guru harus lapang dada.

Saya jadi teringat pertanyaan seorang rekan guru lain pada seorang siswa ketika keduanya online di facebook, "Kenapa tadi gak masuk?"

Coba apa jawaban si siswa? "Cucian numpuk, Bu. Bantuin Mami nyuci."

Bagi guru yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak-anak, boleh jadi jawaban ini bisa menyakitkan hati. Sudah menempuh satu setengah jam perjalanan, menyiapkan worksheet, berpikir bagaimana cara agar anak-anak belajar semudah mungkin, sambil memperhatikan dan mencoba menyelesaikan masalah-masalah pribadi mereka juga lewat konseling, dan semua itu dikalahkan oleh cucian.

Tapi lagi-lagi, guru harus lapang dada. Belajar di sekolah tidak selalu menjadi pusat kehidupan para siswa. Dan memang tidak harus begitu.

Karena itulah, mengajar seharusnya bukanlah untuk sencari senyum manusia. Degan demikian, tak ada yang sia-sia kan, rekan Guru?


Lalu setelah mengalami -dan menyadari- beberapa hal tadi, apa saya jadi kapok memberi pilihan pada siswa seperti yang saya lakukan di perpustakaan?

Hm, anehnya tidak. Saya akan lakukan lagi kapan-kapan.

SAYA DAN FACEBOOK

Saya mengerti, beberapa sahabat memilih untuk tidak membuka account di Facebook, karena berbagai alasan. Bila saya kemudian tetap membuka account di sana, tentu saja bukan tidak setuju dengan para sahabat saya tersebut, namun karena satu alasan, yakni agar saya bisa terhubung dengan beberapa orang penting: murid-murid dan mantan murid saya.

Bila pada keluarga dan teman-teman, sayalah yang meng-add mereka untuk jadi teman, sedang pada murid, saya memilih menunggu. Tentu tak semua murid nyaman bila ada guru yang memasuki zona pertemanan mereka.

Mereka yang meng-add saya tentu adalah mereka yang percaya dan membuka diri pada saya. Maka, giliran saya yang harus menahan diri dari kebiasaan guru di sekolah: kepingin tahu dan sok menasihati.

Suatu hari, saya terkejut membaca relationship seorang mantan siswa. Ia menulis di sana: married to... Saya cek nama yang tertera, dan ia memang istrinya, dengan satu anak balita. Loh, dia kan baru lulus dua angkatan lalu, bagaimana mungkin sekarang sudak memiliki istri dan anak, kecuali bila ia menikah langsung setelah lulus.

Lalu ia mengirim profile picture seorang perempuan dengan tulisan: my wife. Saya sudah penasaran setengah mati ingin tahu ceritanya, tapi akhirnya dengan susah payah bisa menahan diri dan hanya berkomentar: "Cantik!"

Alhamdulillah, saya bersyukur telah menahan diri untuk tidak melontarkan pertanyaan yang menyelidik. Mantan murid saya itu kelihatannya amat senang dengat satu kata yang saya ketik itu. Ia bilang terima kasih, dan berjanji akan menyampaikan pada orangnya.

Mungkin tidak kepingin tahu memang lebih baik kali ini.

Beberapa waktu berselang, seorang mantan murid membuka kotak chat pada saya. Ia bukan alumni, karena drop out saat hampir ujian nasional tahun lalu. Walaupun perbaikan sudah dicoba lewat konseling, sampai diancam dengan hukuman, kadang dunia luar memang lebih kuat dari sekolah.

Lagi-lagi saya kepingin tahu, apa dia melanjutkan di sekolah lain? Apa dia punya ijasan SMA? Akhirnya saya mempersingkatnya dengan pertanyaan: "Sekarang sibuk apa?"


Dia menjawab: "Saya tidak akan melupakan Yapera, Bu. Sekarang saya lagi nunggu, insya Allah besok udah mulai kerja."

Saya menangkapnya sebagai: saya tidak lulus SMA, dan memilih bekerja. Akhirnya saya menuliskan, "Sukses, ya!"


Dia mengetik: "Terima kasih ya, Bu. Baru ibu yang mendukung saya."

Saya terkejut. Ya Allah, saya sekedar bilang, 'sukses ya!' dan menurutnya saya adalah orang pertama yang mendukungnya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan orang2 lain di sekitarnya selama ini, mengingat ia tidak lulus SMA.

Saya bersyukur karena tadi masih bisa menahan diri, tidak sok tahu dan sok mensehati, walaupun kepala saya sudah penuh dengan petuah-petuah klise tentang masa depan cerah dan cara menggapainya.

Yah begitulah, saya ada di Facebook, demi berhubungan dengan beberapa orang penting seperti dua di atas ini.

HATI-HATI BUAT SOAL

Saya dan si Akang sama-sama sedang mengoreksi ujian pekan ini. Bedanya, si Akang ngajar mahasiswa, saya ngajar siswa ^^. Sambil mengoreksi, kami ngobrolin soal pembuatan soal ujian semester gasal.

Si Akang mengeluhkan soal yang dibuat bersama oleh tim. Apa sulit? Bukan sulit, tapi 'sulit'. Menurutnya, rumus-rumus yang digunakan mudah, tapi angka yang diberikan sangat berbelit-belit. Tidak mungkin mengerjakannya tanpa scientific calculator, padahal tidak ada pemberitahuan agar membawanya.

Pertanyaannya: kenapa banyak dosen suka memperumit soal dengan hal-hal yang tidak prinsip, sih?

Bukannya memastikan mahasiswa paham modelnya, malah membuat mereka ribet dengan angkanya. Bagaimana dengan ketelitian? "Mereka anak IE, bukan Akuntansi," kata si Akang. Penekanannya bukan pada ketelitiannya, walaupun tentu saja perlu, tapi pada pemahaman konsepnya.


Kebetulan, hal yang agak mirip terjadi juga di sekolah. Ketika rapat, beberapa guru mengeluhkan bahwa soal yang didistribusikan dari rayon menyimpang dari materi di buku.

Seorang guru bilang, setelah mencari-cari berbagai sumber, di buku keempat barulah dia temukan materi seperti di soal. Jadi soal yang diberikan adalah materi yang diambil hanya dari salah satu buku yang tidak ditemukan di buku lain (siapa sih nih yang bikin? nyusahin orang aje....).

Guru kedua bilang, soalnya mudah, tapi bahasanya dibuat tidak mudah. Kalau kasus si Akang di atas, angkanya yang dibuat ribet, kali ini soalnya yang dibuat panjang-panjang dengan bahasa yang terlalu ilmiah.


Mendengar beberapa kasus di atas, saya jadi teringat sebuah tulisan tentang rasa gagal dan hubungannya dengan keberhasilan belajar.

Sering kali, anak-anak ini sebenarnya mampu, tapi dalam evaluasi yang diberikan guru, mereka kalah sebelum berperang. Kalah oleh apa? Oleh hantu bernama 'rasa gagal'.

Dari mana rasa gagal itu didapatkan? Salah satunya adalah, menurut saya, dari soal yang dibuat ribet (bukan sulit).


Ketika anak putus asa mengerjakan soal, bukan akibat tidak belajar, tapi akibat soal yang ribet, mereka akan merasa: "Saya bodoh, ternyata. Udah belajar tetep ga bisa. Geografi pelajaran yang susah ternyata. Saya ga suka geografi."

Inginnya membuat anak teliti, hasilnya anak jadi frustasi.

Mungkin ada baiknya orang tua meluangkan sedikit waktu, untuk sesekali melihat soal yang diberikan sebelum memarahi anak ketika nilai mereka jelek. Mungkin saja yang 'bodoh' bukan anaknya, tapi soalnya ^^;.

Buat para guru, yuk kita kembali berbenah diri.

SAKIT HATI

Adakah yang bisa memberi saya tips, bagaimana agar anak-anak yang kita didik di sekolah tidak menyontek?

Saya selalu malas bila sudah waktunya mengoreksi ujian, baik UTS maupun UAS. sebabnya jelas: ada saja anak-anak yang menyontek. Saya memang tidak mengawasi ujiannya, tapi hasil yang ada di kertas memang mengecewakan. Jawaban yang sama, sampai ke huruf-hurufnya (saya tidak pernah memberi soal pilihan ganda). Bahkan ada jenis tulisan yang berbeda dalam satu lembar jawaban, tanda kalau kertas itu dipindah-pindahkan selama ujian.



Sebelum ujian (aduh, saya jadi emosional sekali sekarang ini), saya sudah menjelaskan berkali-kali, bahwa anak-anak ini tak perlu memiliki nilai bagus dalam ujian. Tak semua anak menyukai mata pelajaran yang saya ampu. Saya pun tak mau memaksa. Dan tak semua orang berbakat di bidang bahasa.


Lalu darimana nilai didapat? Dari kuis harian, yang saya ambil setiap kali saya masuk. Tapi nilai selalu diambil di hadapan saya, tak pernah ada ulangan massal. Saya tahu pasti performa mereka dalam pelajaran ini.

Bila ada anak yang tidak lengkap nilainya, saya kejar sampai penuh sebelum ujian. Begitu pula yang nilainya belum cukup, saya tagih remedial sampai nilainya baik. Nilai saya jamin!


Untuk apa? Agar mereka menghargai usaha dan kerja keras. Agar mereka tak melakukan kebohongan hanya demi angka. Agar mereka mengetahui kemampuan mereka sendiri. Agar mereka tahu rasanya 'hasil setelah mandi keringat', dan mampu menghargai diri sendiri karena hal itu.

Tapi mereka memilih menyontek daripada menjaga hubungan baik dengan saya. Mereka memilih nilai daripada rasa percaya. Ya, saya sakit hati melihat lembar jawaban ujian, sekaligus sedih karena tak berhasil mendapatkan kepercayaan anak-anak ini.

[sigh...]

Pengawas ujiannya yang harus disalahkan? Saya tidak terlalu suka memilih jalan mudah seperti itu. Sekolah sudah terlalu penuh dengan kesadaran yang artifisial. Berlaku baik karena peraturan, bukan berasal dari dalam hati. Jadi lupakanlah soal pengawas ujian.



Bagaimana bila ujian dihapuskan saja? Saya bahkan pernah bilang, mata pelajaran yang saya ampu tidak perlu ujian. Saya punya cara sendiri mengevaluasi anak. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ini urusan dapur sekolah, dan sebaiknya hanya diketahui kalangan terbatas. Tapi intinya, kemungkinan itu akan menimbulkan masalah lain, sehingga tidak mungkin ada satu mata pelajaran yang tidak diujikan.


Atau ada yang salah dengan cara saya?

Satu-satunya jalan adalah kembali berusaha. Kembali mencari cara sampai saya dan para siswa berada pada pemahaman bersama. Ah, betapa mudah meluluskan anak, tapi tak demikian halnya dengan mendidik mereka.