01 April 2011

SAYA GURU FAVORIT?

Jadi senyum-senyum sendiri kalau ada yang 'menuduh' saya guru favorit siswa-siswa saya. Ayo tebak, bener ga sih?

Sebagai seorang narsis, tentu saja saya sudah mengecek hal ini jauh-jauh hari. Tepatnya empat tahun yang lalu, laporannya ada di sini. Nah, ternyata bukan saya tuh yang jadi favorit mereka. Jadi yah, terima ajaaaa.... T_T.

Mungkin ada beberapa yang tersentuh (jiaaaah, tersentuh ^_^) dengan cara saya mengajar, atau dengan apalah gitu selama pembelajaran (who knows?), tapi sepertinya ga banyak. Belajar dari kenyataan, saya mencoba untuk ga mikirin lagi, apakah saya punya cukup banyak fans atau nggak, gyahahaha.... Lah kan saya kan manusia, mana bisa sempurna?

Saya kasih contohnya.

Di kelas XII, saya menggunakan portofolio untuk evaluasi anak (kenapa cuma kelas XII? f(^_^;)). Karena pakai portofolio, anak-anak jadi bisa tahu apa yang mereka sudah hasilkan. Di sisi lain, karena portofolio juga, saya harus berusaha agar mereka 'menghasilkan', bukan cuma mencatat dan mengerjakan soal (kalo itu mah pake buku biasa ajah).

(Btw, belajar itu katanya untuk dua hal: menghasilkan sesuatu dan/atau memecahkan masalah. Lupa saya baca di mana, pendahuluan kurikulum 2004 kah? Atau 2006 ya? Atau tempat lain?)



Misalnya, kami banyak menggambar; menggambar anggota tubuh, menggambar bagan, bikin comic strip sederhana untuk percakapan, juga melakukan
mind mapping (menggambar juga, kan?).

Kami membuat Nengajou (kartu pos tahun baru) dan 'mengirimkan'nya pada teman sekelas untuk menyegarkan kembali hapalan Hiragana di pertemuan pertama setelah libur tahun baru, sekaligus belajar budaya. Oh ya, saya sampai terkikik melihat alamat yang ditulis anak-anak di atas Nengajou mereka. Misalnya: To: Ade, Di: Japos, naik C04 dari Mencong, atau jalan kaki juga bisa. Atau: Kepada: Dwi, Di: baris ketiga deret pertama dari kanan (ternyata pakai 'alamat' tempat duduk di kelas).

Kami melipat Origami, dan menghapal nama benda yang kami buat Origaminya. Kami menjiplak uang dengan pensil untuk belajar angka dan bilangan (sementara ini pakai rupiah karena belum nemu yen). Kami mengiris penghapus dengan cutter untuk membuat Inkan (stempel nama) untuk menghapal Katakana.



Kami berloncatan menghapal karakter dengan
flashcard, atau berlarian di antara lingkaran nama-nama hari yang ditulis dengan kapur di lapangan basket. Kami naik turun meja untuk belajar lokasi (mae, ushiro, hidari, migi, ue, shita, mannaka).

Kami menggunakan sumpit sungguhan untuk percakapan yang ada kalimat "
Hashi, onegai shimasu." Bagaimana dengan percakapan antara penumpang dan supir taksi? Mobil-mobilan anak saya dibawa ke kelas hari itu.

Kami bernyanyi (meski saya benar-benar ga bisa nyanyi) untuk kompetensi mendengar, dan menonton film agar anak-anak mendapat konteks, bahwa semua yang mereka pelajari itu ada loh di dunia nyata.

Bukankah belajar dengan saya amat menyenangkan?



Ternyata tidak saudara-saudara sekalian. Tidak demikian pendapat anak-anak ini.

Anda harus lihat daftar absen di buku nilai saya. Saya mengajar hari Sabtu, dan selalu bersedih hati melihat daftar absen yang amat jarang penuh. Misalnya siswa yang pernah saya ceritakan ini. Kehadirannya di kelas saya setahun ini bisa dihitung dengan jari.

Malah beberapa anak lain mengaku bahwa hari Selasa lebih penting dari hari-hari lainnya, karena ada guru 'galak' di hari itu.
Selasa loh ya, bukan di hari saya mengajar mereka.

Sampai sekarang pun kadang saya masih tergoda untuk bertanya, tidakkah metode yang saya gunakan bisa memancing anak-anak ini masuk dengan sukarela? Tidak cukup menyenangkankah kelas ini hingga mereka memilih yang lain? Tidak bisakah saya memenangkan pertarungan ini?

Kanapa tidak bisa? Ya tapi kenapa juga merasa harus bisa?

Makanya, saya tak pernah lagi berpikir untuk membuat siapapun terkesan dengan apa yang saya lakukan di kelas, tidak siswa-siswa saya, tidak rekan-rekan sejawat saya, tidak juga anda yang sekarang membaca tulisan ini. Soalnya saya tau, saya akan kecewa kalau berharap pada manusia.

Jadi apa saya guru favorit? Saya tidak tau. Dan sekarang saya insyaf, memang ga perlu mencari tau (seperti dulu itu). Tapi kalau mau mampir ke kelas saya sih, boleh loh....

SAYA GURU TK?

Kata seorang temn, saya ngajar kayak guru TK meski saya ngajar anak SMA. Jangan salah, saya ga tersinggung kok, bener. Soalnya bukan hanya Oji yang bilang, siswa-siswa saya juga bilang begitu kok. Malah ada yang nulis testimoni begitu di buku tahunan, hehehehe....

Sayanya sendiri juga nyadar tentang hal itu, kok. Saya bilang nyadar, karena memang metodenya dipilih secara sadar dengan menyandarkan pendapat pada beberapa buku, utamanya terbitan MLC (bukan m&c! loh ya ^_^) dan Kaifa.



Dibanding saya, suami saya lebih parah lagi sih kayaknya. Soalnya dia ngajar di mahasiswa, tapi pake metode guru TK juga ^_^. Kalo mau ngajar bawa karton warna-warni dan spidol gambar. Ada sesi gunting-tempel juga, pake majalah majalah bekas yang dibawa mahasiswa.

Mereka main uler tangga juga, dan lagi merancang biar bisa pake
role play untuk materi Uang Beredar, termasuk mikirin kostumnya ^_^. Ngadain cerdas cermat berhadiah coklat, atau yang paling baru, dia ngasih komik. Meski komiknya teteup, komik ekonomi, xixixixi....

Apakah yang kami lakukan membawa dampak positif bagi pembelajaran?

Jadi kan gini ya, pembelajaran itu terbagi dua, ada konteks, ada konten. Konteks itu penting diciptakan untuk menunjang pembelajaran. Guru yang asik, pinter cerita, gaul, itu kan konteks. Ruang kelas yang terang dan bersih, warna dinding yang membangkitkan semangat, penggunaan musik dan poster, tanaman, wewangian, hewan peliharaan (misalnya aquarium), menggunakan saung atau ruang terbuka, dll, semua itu konteks.

Kalau kita memperbaiki konteks mengajar, kita seperti membangun jalan raya supaya pembelajaran melaju dengan mulus.




Tapi ada yang namanya konten pembelajaran. Bagaimana agar pelajaran itu bisa dipahami, diserap, dan dimaknai (ditemukan linknya ke dunia nyata). Nah ini yang lebiiiih sulit ketimbang merekayasa konteks di atas.

Metode gimana nih yang harus kita pake biar suasana fun, tapi
tetep ngerti. Gimana caranya nih biar mereka bisa mengonstruksi sendiri segala pengetahuan itu, bukan sekedar hapal mati. Gimana caranya biar proses recallingnya mudah.

Nah, sejujurnya, saya dan suami masih kesulitan di bagian konten ini. Kalau lihat di EDOM (penilaian online atas dosen oleh mahasiswa), suami saya dibilang lack of skill teaching. And what is that? Apakah karena yang dipakainya bukan lecturing melainkan SCL(student centered learning), maka ada mahasiswa yang ngerasa, "Ni dosen main-main aja kerjanya. Kalo ga main-main, mahasiswa disuruh diskusi dan presentasi. Ngajar dong, Pak, Ngajar!"

Di sisi lain, sebagian lagi malah merasa excited dengan metode guru TK ini. Tapi sayang sungguh sayang, sekali lagi, they don't take it seriously. Meski disampaikan lewat permainan, ga berarti mahasiswa ga perlu belajar untuk bisa ikut permainan. Terutama lagi, bukan berarti ga perlu belajar untuk ujian!

Saya mengira bahwa siswa kita kurang banyak diberi pengalaman pembelajaran yang variatif dan bermakna. Bila ada yang pakai cara yang tidak biasa, dianggap tidak bermakna, sehingga dianggap tidak serius, atau tidak perlu diseriusi.

Kesimpulannya, memang ada orang yang gaya belajarnyanya serius, ada juga yang gaya belajarnya santai. Tapi kalau yang diajar banyak, ya susah untuk memuaskan semua. Akhirnya, kita hanya ada di garis standar, dengan hasil standar, karena cara belajar yang standar. Hampir tak ada tempat untuk memperhatikan keunikan pribadi di sini.

*foto: mind mapping kelas publik suami dan judul komik hadiah untuk pemenang kuis

29 March 2011

HADIAH INDAH

Biasanya di akhir tahun, guru mendapat hadiah dari siswanya ya? Saya sebelumnya tidak pernah tau ada budaya seperti itu. Tidak ketika saya sekolah dulu, tidak pula ketika saya jadi guru sekarang. Saya baru tahu tentang budaya menghadiahi guru ketika kenaikan kelas justru ketika anak saya naik dari TK A ke TK B dulu.

Untungnya sebelum itu seorang teman wali murid membisiki, jadi saya tidak menjadi orang yang tidak sopan. Ya gimana juga itu kan budaya sekolah itu. Jadi saya membungkus buku Totto-chan untuk kepala sekolah, dan sekotak flash card untuk kedua ibu guru kelas.

Ketika tiba waktu pengambilan rapor, saya tepok jidat di TKP lihat hadiah yang dibawa wali murid lainnya. Ternyata guru itu wajarnya dikasih barang yang bisa dia gunakan, semacam tas, baju, parsel sembako, setrikaan, seprai, handuk, atau malah beberapa lembar dalam amplop. Bukan malah dikasih alat peraga buat di kelas (itu mah disediain sekolah, kali). Terus, tiap guru dikasih satu, bukan kado borongan kayak saya.

Lah mana saya tau? Di sekolah saya, dulu dan sekarang, ga ada kebiasaan itu.Jadi sampai kemarin, saya belum pernah menerima hadiah dari siswa atau walinya. Sampai kemarin.

Hari Senin 28 Maret adalah hari pertama Ujian Nasional Kewenangan Sekolah di Tangerang (atau di Indonesia ya?) bagi siswa SMA/SMK/MA/SMALB. Saya datang jam 7, tapi memang bel baru berbunyi jam 7.30. Sambil menunggu, saya asyik mengoreksi worksheet anak-anak. Tiba-tiba....

Ina, siswa kelas XII yang tentunya hari ini jadi peserta Ujian Sekolah, mendekati saya. "Ini buat Ibu."

Eh, jadi bengong deh.... Maksudnya, saya ga ulang tahun, ga ada peristiwa penting apa gitu, dan bukan pula waktu kenaikan kelas atau perpisahan. Makanya saya jadi bengong disodori kado, tapi akhirnya saya terima sambil tersenyum dan mengucap terima kasih.

Setelah Ina berlalu, saya membuka kotak kecil yang diberinya. Ada suratnya, di sana tertulis: "Saya ga tau mau nulis apa, cuma mau ngasih aja buat Ibu. Ini saya yang bikin bareng Mamah." Ketika saya tengok di bagian dalam, tampak isinya berkilauan. Wuaaa, sukaaaaa.....



Saya tidak suka gelang, cincin (tapi kalau cincin kawin sih pakai), apalagi kalung. Tapi saya suka bros, malahan mengoleksinya kecil-kecilan. Dan Ina membuatkan saya peniti bros yang cantik, sepuluh buah! Terharu....


Pertama, dia membuatnya dengan tangan sendiri, itu saja sudah istimewa. Kedua, satu bros model ini di pasaran harganya sekitar 10-15 ribu per buah. Memberi 10 buah peniti bros bukan bukan hal yang murah. Selain Surati, Ina adalah salah satu siswa saya yang bekerja part time sebagai pembantu rumah tangga, atau kasarnya, kuli cuci-setrika. Saya tau karena dia bekerja di rumah adik ipar dari tante saya.

Jadi ketika bel berbunyi, saya melepas bros yang saya kenakan, dan menggantinya dengan peniti bros hadiah dari Ina. Barulah setelah itu melangkah menuju ruang ujian. Baru ini cara yang terpikirkan untuk menyampaikan apresiasi saya.

"Kusematkan di dadaku, dekat dengan hatiku. Indah sekali hadiahmu."

12 March 2011

KARTU JIMAT

Hari Sabtu yang menyenangkan.

Kelas XII sudah ngebul kepalanya, selain pelajaran reguler yang jumlahnya 14 mapel yang tengah dipersiapkan untuk Ujian Sekolah, masih harus mengikuti pendalaman materi setiap hari hingga hari Minggu. Bukan semangat yang tumbuh, malah burn out.

Makanya saya cukup tahu diri dengan tidak ikut mengejar target kurikulum. Kan cuma pelajaran bahasa asing tambahan saja, apalagi soal ujian sekolahnya saya buat sendiri. Jadi santai sajalah.

Makanya saya membawa anak-anak ke selasar masjid pagi ini, agar mereka bisa duduk dan bergerak lebih leluasa. Sebenarnya saya selalu memimpikan taman rindang dengan saung, tapi tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada saung, selasar masjid pun jadi ^_^;. AlhamduliLlah...

Apa pelajaran hari ini? Tak ada di kurikulum, tapi ada dalam kehidupan.

Apa yang kami lakukan hari ini asli nyontek metode Bu Guru Lea Kesuma dari Salatiga. Sang empunya ide wajib saya tuliskan namanya di sini, agar kita yang membaca tulisan ini bisa turut berdoa, mudah-mudahan Allah memberi berkah atas ilmu yang dibagikannya ini. Amin...

Beberapa hari sebelumnya, saya membeli 100 lembar kertas tebal yang biasa digunakan untuk sampul depan di tempat fotokopian. Masing-masing dipotong menjadi 12 kartu kecil. Pagi tadi di selasar masjid, tiap anak mendapat kartu sejumlah teman-temannya di kelas. Mereka kemudian menulis nama satu teman sekelas di atas tiap kartu, lalu menuliskan hal positif, hanya yang positif, tentang teman itu.

Setelah selesai, masing-masing anak akan menyerahkan tiap kartu kepada orang yang dituju. Jadi tiap anak akan mendapat puluhan kartu yang semuanya berisi kesan positif teman-teman sekelas tentang dirinya. Kartu-kartu itu dilubangi dengan puncher, lalu diikat dengan pita biru.

Hanya 25.000 rupiah untuk 100 lembar kertas itu, 3000 untuk 4 meter pita, plus sedikit waktu untuk memotong. Tapi anda mesti lihat sendiri bagaimana senyum dan binar mata mereka saat membaca kartu-kartu itu. Pemandangan yang sungguh tak ternilai.



"Ini adalah 'kartu jimat' kalian. Setiap kalian merasa gagal, kesepian, tak berdaya, putus asa, baca kartu-kartu ini, dan kalian akan tahu bahwa kalian semua adalah anak yang baik, anak yang mampu, dan punya teman-teman yang mendukung kalian."



Sungguh hari Sabtu yang indah.



Oh ya, dan tentu saja saya 100% percaya bahwa mereka sedang BELAJAR saat itu.

GREGETAN!

Selain sebagai guru, kebetulan saya adalah kepala perpustakaan di lingkungan yayasan tempat saya bekerja. Perpustakaannya hanya satu, jelas tak cukup melayani semua siswa dari 4 unit berbeda, tapi alhamdulillah, dukungan yang didapat dari yayasan boleh dibilang cukup.



Untuk sementara, diberi ruang dengan AC dan karyawan saja sudah kemewahan. Tahun lalu diberi
in focus, alhamdulillah. Saya kepingin meminta tambahan buku-buku, tiga atau empat komputer dengan akses internet, serta dana pelatihan untuk pengembangan kualitas guru dan siswa. Tapi yah, dananya terbatas (bangeeeet).

Sebenarnya di awal tahun saya sudah mengajukan rencana anggaran belanja unit perpustakaan yang berisi pelatihan dan kegiatan, tapi pas turun persetujuannya, semua jadi hilang, hahaha...

Sepertinya ini terjadi karena saya kurang mempopulerkan pentingnya perpustakaan, maka dukungan yang didapat belum optimal. Mungkin pihak yayasan perlu diberi salinan
klipingnya Mbak Lea yang ditulis oleh Mbak Puti yah.

Alhamdulillah, saya punya teman-teman dengan minat dan semangat yang luar biasa, terutama dalam bidang kepenulisan. Tahun 2010 lalu, unit perpustakaan digandeng FLP Jepang untuk mengadakan pelatihan kepenulisan. Pembicaranya adalah Mbak Nesia, penulis buku Dengan Pujian, Bukan Kemarahan. Pelatihan ini diikuti dengan lomba menulis yang disambut antusias.

Sekarang, unit perpustakaan sedang dalam masa negosiasi dengan salah satu organisasi lain untuk mengadakan pelatihan untuk siswa. Doakan mudah-mudahan berhasil yah.

Satu program lain yang digagas unit perpustakaan adalah kunjungan wajib. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Perpustakaan kan pendukung sekolah. Eh, bukan ding. Perpustakaan justru tanda bahwa suatu sekolah berkualitas, begitu yang saya baca dari kliping Mbak Lea, yang saya kasih linknya di atas itu.

Jadi tiap kelas diberi jadwal kunjungan secara bergilir. tiap guru yang mendapat jadwal harus membawa anak-anak untuk belajar di perpustakaan. Ada in focus, ada TV, ada DVD player, ada buku dan ensiklopedi (meski terbatas), majalah dan koran bekas, semua bisa digunakan untuk pembelajaran yang lebih kaya dibandingkan di kelas.

Apa yang terjadi?

"Bu, tadi gurunya nanya, mau ngapain nih di perpus? Memang ga ada VCD atau apa gitu yang disediakan perpus untuk ditonton anak-anak?" tanya penjaga perpustakaan.

Saya nepok jidat. Ngapain di perpus? Waduh, sosialisasi program ini pas raker yayasan awal tahun lalu ga nyantol rupanya. Bukankah ada banyak sumber belajar tersedia, apa tak terpikir untuk digunakan? Atau paling tidak, bawalah anak-anak ke perpus agar sekali-sekali bisa belajar lesehan sambil ngadem di bawah AC. Yah, sebagai variasilah.

Tapi susah sih, masih banyak guru yang memandang bahwa kalau tidak duduk di bangku dan tidak di kelas tempatnya, maka pembelajaran tidak kondusif. Anak-anak jangan diberi kebebasan banyak-banyak, nanti jadi sulit diatur dan tidak berkonsentrasi. Padahal anak-anak sendiri memberi testimoni soal ini:



Keliatan ga? Maklum, pake kamera hape jadul. Ceritanya saya iseng memasukkan soal tentang 'apa yang kamu suka dan kamu benci' dari pelajaran saya di lembar soal UTS. Salah satu menulis: "Ga sukanya kalau belajar dilakukan di dalam kelas terus."




Yang ini terbaca: "Yang saya tidak suka, belajarnya di kelas. aturan dua/seminggu sekali kita di perpus atau di masjid."


Oh ya. Suatu kali, saya mendapati anak-anak yang mendapat jadwal kunjungan wajib sedang asyik mengobrol, sementara film dokumenter diputar di depan mereka. Kemana gurunya? Ngaso di kantor. Jiaaah....

Geregetaaaan....

Dengarlah tuntutan para guru ketika raker. "Sekolah ini akan naik kualitasnya bila komputer labkom pakai LCD yang tipis, ruangan pakai AC, ada hot spotnya, disediakan perangkat multi media, dukungan audiovisual, de el el es be."

Lha buat apa itu semua kalau ga dipakai? Pemborosan bukan, bila semua cuma demi kenyamanan, atau malah jadi alat pamer, dan tidak menambah nilai apa-apa bagi pembelajaran siswa.

Geregetan jadinya geregetan...

Pokoknya tahun ajaran depan saya mau NGOTOT minta dana untuk pelatihan guru!

11 March 2011

TENTU SAJA, 100%!

Di tengah-tengah pembelajaran, saya bertanya-tanya, ada apa ya di masjid, kok ada yang beres-beres dan ngetes sound. Ga lama, beberapa orang berpakaian seragam batik berdatangan. Waduh, rupanya masjid mau dipakai untuk akad nikah.

Sempat terpikir untuk mengembalikan mereka ke kelas, tapi akhirnya saya berkata, "Hayo, hayo, kita pindah ke lantai dua."

Di lantai dua, saya memulai kembali kegiatan kami dengan pembukaan narsistik ^_~v.

"Ketika saya sekolah dan kemudian kuliah, saya selalu berpikir saya akan lulus, diwisuda, lalu mencari pekerjaan dan berkarir. Setelah itu barulah menikah dan berkeluarga. Tak pernah terbayangkan bahwa ternyata saya menikah di usia 21 tahun, saat masih kuliah.

Beberapa orang mungkin merasa, menikah akan menutup banyak kesempatan, karena harus membagi waktu mengurus keluarga, apalagi kalau langsung memiliki anak. Namun sebaliknya, bagi saya sendiri, menikah justru membuka dunia pada saya."


Saya bercerita bahwa pernikahan justru membawa saya tinggal di luar negeri. Adalah suami saya yang rajin menyindir, "Masa sarjana sastra ga bisa menulis?" Maka setelah menikah, jadilah saya penulis, meski amatir, dimulai dari tulisan rutin pojok fiksi buletin dwimingguan KMII Jepang. Ketika kembali ke tanah air, suami kembali ke kampus, dan saya menjadi guru, maka kawan diskusi paling intens tentang dunia pendidikan saya adalah suami, karena kesamaan profesi kami. Maka menikah muda bisa jadi keren, bisa jadi hebat, tergantung dengan siapa kita menikah.
"Nah, hari pernikahan itu, anak-anak, tidak bisa diulang. Maksud saya bukan 'menikah-dengan-siapa'nya, tapi prosesinya. Bila ada cacat dalam prosesinya, maka hal itu terkenang seumur hidup. Makanya, hari ini kita akan melakukan kegiatan dengan tenang, karena di bawah akan ada akad nikah yang tak boleh dibuat cacat prosesinya oleh kita.
"

Dua jam pelajaran berlalu. Beberapa menit sebelum bel, saya sudah bilang -dengan suara tertahan- kalau kita harus kembali ke kelas. Sudah hampir masuk jam pelajaran berikutnya. Ternyata saya dicuekin. Ada yang masih cekikikan baca kartu. Ada yang lagi ngantri ngebolongin kertas dan masang-masang pita.

Saya telfon ke kantor SMA, "Bu Ida udah nunggu yah?"

Bu Ida ini guru ekonomi, mengisi pelajaran setelah saya. Ternyata Bu Ida izin tidak masuk. Hari Rabu lalu anaknya memang kecelakaan, rupanya belum membaik hingga hari ini. Jadi semua serba kebetulan. Kebetulan kami ada di masjid, kebetulan di masjid ada acara akad nikah, kebetulan dua jam pelajaran setelah saya kosong.

Jadi kami meneruskan pelajaran, pelajaran kehidupan.

Saya biarkan anak-anak yang sudah selesai dengan kartu-kartu mereka nangkring di balkon (?) lantai dua. Dari sana mereka bisa melihat jelas proses akad nikah. Melihat perangkatnya, petugas, dan cara akad berlangsung. Meski bab nikah mungkin sudah dipelajari dalam pelajaran agama, rupanya banyak anak yang belum pernah menghadiri akad nikah secara langsung.

Saya bilang, ini saatnya pengantin wanita minta izin pada orang tua. Si pengantin amat sedih, hingga suaranya tersamar isakan, tapi suasananya sudah cukup tertangkap oleh kami. Anak-anak melihat orang-orang di bawah menghapus air mata, menandakah bahwa ini peristiwa besar.


Lalu pengantin pria menjabat tangan sang ayah. Tibalah klimaks acara, aqdunnikah, saat terjadi pemindahan tanggung jawab pemenuhan segala keperluan dan kepentingan seorang wanita dipindahkan dari ayah ke suaminya sekarang.

Jadi apakah pembelajaran yang disebut bermakna itu? Yaitu ketika apa yang dipelajari mendapat konteks, baik dengan pengalaman masa lalu kita, maupun dengan kejadian di dunia nyata. Sulit sekali menciptakan pembelajaran yang bermakna terus-menerus dalam sistem dan struktur seperti sekolah, namun kesempatan apapun yang ada di sekitar kita, harus diraih saat itu juga. Meski tak sedikitpun nyambung dengan mata pelajaran yang saya ampu ^_^;.

Nangkring di balkon masjid, nonton akad nikah saat jam pelajaran kosong, apa saat itu mereka sedang belajar? Tentu saja, 100%!

01 January 2011

APAPUN MAKANANNYA, MINUMNYA .....

Bukan, ini bukan iklan. Tapi kalimat yang lurus-lurus aja model gini ternyata bisa berakibat cukup parah kalau dijadikan bahan bercandaan. Separah apa? Separah bisa membuat guru keluar dari kelas dan menolak mengajar lagi.

Yah, memang guru juga manusia. Banyak masalah di rumah, jam mengajar yang padat, ditambah kondisi fisik yang tidak fit, amat mungkin membuat dinding kesabaran jebol pas mengajar.



Kejadian sih sudah bertahun-tahun yang lalu. Saya masih di tahun pertama mengajar saat itu. Di kelas XII, seorang guru yang terpancing emosinya akhirnya melontarkan kalimat, "Saya makan ati ngajarin kamu!"


Spontan, seorang siswa menjawab dengan kalimat sakti tersebut, "Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro."

Mendengar celetukan itu, guru tersebut merapikan buku-bukunya, keluar kelas, dan langsung minta berhenti mengajar.

Saya pernah menulis tentang humor sebelumnya. Berkaca dari kejadian di atas, humor jadi elemen sangat penting ketika guru mengajar. O bukan, guru yang memiliki sense of humor bukan guru yang suka bercanda, cerita lucu, atau tertawa. Itu semua hanya penampakan luar dari sense of humor.

HUMOR justru diartikan sebagai suatu kualitas persepsi yang memungkinkan kita mengalami kegembiraan, bahkan ketika kita sedang menghadapi suatu kemalangan atau kesusahan.

Guru yang memiliki sense of humor yang baik tidak akan cepat gusar karena celetukan usil dari siswa atau gangguan lingkungan lainnya. Dia justru dapat menemukan hal-hal yang lucu dan/atau menyenangkan dari segala hal.

Dulu, saya adalah guru yang tidak terlalu ramah. Ah, langsung sajalah, dulu saya guru yang jutek. Salah seorang siswa pernah bilang, "Bu Irma kurang senyum." Okelah, ngapa takut-takut si? Saya sebut saja nama siswanya: Zubait ^^; Kenapa saya jutek? Karena saya mengira, tersenyum, tertawa, bercanda, akan menurunkan wibawa saya di dalam dan di luar kelas.

Jadi kalau ada siswa yang nyeletuk, saya diamkan. Kalau mulai 'ga nyambung' dan bertambah frekuensi nyeletuknya, saya marah. Tapi itu semua sebelum saya melihat Febi menangani siswa di kelasnya.

Ya, saya memang berutang banyak pada rekan-rekan guru Yapera yang mengajarkan saya banyak hal dalam pendidikan, termasuk Febi. Dalam satu kesempatan visitasi ke kelasnya, saya melihat Febi menanggapi semua celetukan, bahkan yang konyol sekalipun. Misalnya semacam ini:

"Di mana habitat buaya?"
"Di sepiteng (maksudnya septic tank) si anu tuh, Bu."

Kelas jadi ramai karena celetukan konyol semacam itu. Kalau saya gurunya, mungkin akan marah, atau setidaknya kesal. Tapi Febi dengan santai menjawab, "Oh, bukaaan... Ga ada buaya tuh di septic tank. Ada yang tau di mana habitat buaya?"

Saya pikir, ketahanan pada celetukan seperti ini sudah menunjukkan sense of humor yang baik, berikut pandangan positif, juga kesabaran. Meski kita semua tau, Febi bukan guru yang sering bercanda.

Saya jadi teringat rapat dengan guru piket di awal tahun, juga diskusi tentang kedisiplinan di pelatihan guru SMK kemarin. Sepertinya semua sependapat, bahwa anak-anak sekolah, wajar saja bila tidak mengikuti peraturan, suka iseng di kelas, dan semacamnya.

Bila tidak mengarah ke kriminal, atau membahayakan atau mengandung unsur bullying, ya santai sajalah. Kalau peraturan mengatakan harus dihukum, ya hukumlah, tapi tidak perlu sampai emosional dan reaktif.



Apa itu reaktif? Reaktif adalah bertindak menuruti feeling, bukan prinsip.

Kalo ada anak nyeletuk iseng, feelingnya kan pengen nampol, padahal prinsip yang benar adalah berpikir bahwa, "Yah... namanya juga anak-anak. Kita ketawain aja bareng-bareng kekonyolannya."

Nah, itu yang namanya sense of humor. Bukan soal bercanda atau cerita lucu.

Saya sendiri (merasa) tidak bisa bercanda, bahkan saya masih kesulitan bersikap ramah. Tadi Pak Saihu masuk ruang guru, ber-say hi pada semua, terus menclok sana menclok sini sambil ngobrol-ngobrol ringan. Sebentar kemudian Bu Nita masuk, melakukan hal yang sama. Keduanya membuat saya iri karena memiliki kepribadian yang enteng, easy going, menurut saya. -> curcol dah tu kan jadinya.

Tapi orang kan berbeda-beda. Saya mungkin tidak terlalu ramah dan sulit memulai pembicaraan, juga tidak pandai bercanda dan melontarkan lelucon, tapi sepertinya saya masih bisa meningkatkan sense of humor saya ketika mengajar.

Mudah-mudahan saja. Amin...

21 December 2010

YOU CAN SHINE

Hari ini adalah hari spesial. Saya bahagia, Alhamdulillah ya Rabb. Kenapa? Penyebabnya adalah acara yang saya hadiri pagi ini, yaitu premiere kelas film di sekolah tempat saya bekerja. Ya, mereka membuat film komedi berjudul 'Kejarlah Daku Kau Kutampar.'



Memang, karya yang dibuat oleh anak-anak yang kita didik pastilah selalu membuat bangga. Semua adalah buah dari kreativitas mereka, kesungguhan, komitmen, dan kerja sama. Tapi kali ini berbeda, bukan hanya sekedar karya dari anak biasa.

Pemeran utama film pendek ini bukan model anak terpintar kelas, bukan model ketua osis, bukan anak yang populer di sekolah. Berkali-kali panggilan orang tua dilayangkan untuk mengatasi hobi membolosnya. Nilainya juga pas-pasan. Memang tak ada masalah ekonomi, tapi orang tuanya bercerai. Sekarang dia tinggal bersama seorang ayah yang sibuk yang bahkan tak sempat membangunkan anaknya agar bisa datang ke sekolah tepat waktu.

Tapi hari ini dia bintangnya, dia yang cemerlang, dan bukan lagi anak baik dan penurut lain yang sering difavoritkan dan diandalkan para guru.

Tapi kebanggaan saya telah dimulai sebelum film di atas diputar. Acara dibuka dengan penampilan kelompok marawis. Saya melihat keseriusan anak-anak ini dalam memainkan alat perkusi mereka, menyelaraskan nada, menyamakan gerak. Ada semangat, ada antusiasme.



Apa istimewanya? Istimewa, karena kelompok marawis ini diisi mayoritas (kalau tidak ingin bilang semuanya) oleh anak bermasalah. Ada anak pindahan dari pesantren. Dia dikeluarkan karena melarikan mobil ayahnya, lalu nyusruk ke air mancur bundaran HI dan diliput televisi. Mobilnya ditahan polisi, untuk menebusnya perlu 35 juta, belum lagi memperbaiki kerusakannya. Ada Riki di gambar itu, dan Zein. Zein anak yang cukup rajin, hanya sesekali bolos, tapi juga hanya sesekali otaknya nyambung pada pelajaran.

Anak-anak ini adalah tipe yang belum apa-apa sudah membuat guru memalingkan wajah barena sebal. Materi susah mereka serap, jarang masuk, kalaupun ada di kelas tapi tak memperhatikan, bayaran rajin menunggak pula. Apa yang kurang?

Ada saja guru yang mungkin saja akan menggerutu, "Kalo soal film, musik, futsal, rajin banget. Pas giliran pelajaran aja, pada tidur...." Tapi bila dilihat dari sisi lain, adalah guru yang membuat anak-anak ini tidur dan membenci sekolah. Mereka belajar tanpa mengerti untuk apa semua ini, dan masih ditambah intimidasi, timbunan rasa tak berdaya, sambil dikejar hantu bernama kurikulum.

Adalah film, adalah musik, adalah olahraga, yang membuat mereka bertahan di sekolah. Dan saya akan mendukung apapun yang bisa membuat anak merasa bahagia di sekolah.

Sebenarya, apa sih arti PENDIDIKAN? Sebagai warga negara Indonesia, sepertinya kita langsung saja melihat UU 20/2003. Di sana dibilang:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Panjaaaaang, memang ^_^;. Tapi sebelum migrain menyerang karena berusaha memahami kalimat majemuk-entah-berapa-tingkat sepanjang itu, paling tidak, kita bisa melihat kata mengembangkan potensi di sana.

Anak tidak perlu-perlu amat lulus dengan nilai tinggi, atau dapat 8 dalam semua pelajaran, atau menghapal nama-nama raja Singosari, atau menulis halus delapan lembar sehari. Anak yang mendapat pendidikan hanya harus berkembang potensinya. Sekali lagi, berkembang potensinya, dan menjadi cemerlang. Yes, everyone can shine!

Jadi, sudahkan lembaga bernama sekolah melakukan apa yang diamanatkan undang-undang padanya?

27 November 2010

SUMPAH SERAPAHMU UNTUKKU

Saya maluuuu sekali ketika ada yang bilang saya guru yang baik. Dan memang hanya karena Allah menutup aib-aib saya, tak ada yang tahu bagaimana cela dan salah yang saya lakukan, termasuk dalam menjalani profesi guru.

Kalaulah saya guru sempurna, mungkin tak ada kejadian kemarin, ketika seorang siswa bersumpah serapah di depan saya.

Saya mencintai tempat saya mengajar, sungguh. Di sana adalah tempat saya menyemai mimpi-mimpi saya tentang pendidikan yang lebih baik untuk semua. Itulah makanya saya tak suka bila ada yang mencoreng nama sekolah, apalagi oleh salah satu komponennya sendiri. Berlaku saja sesukanya, tapi jangan di sekitar sekolah dan jangan menggunakan atribut (fisik maupun non fisik) sekolah.

Karena saya pulang dengan berjalan kaki, sedang guru lain kebanyakan naik angkot atau sepeda motor, maka saya sepertinya lebih sering menemukan anak-anak yang merokok dengan seragam di samping sekolah. Apalagi ketika itu dengan baju batik, yang mencirikan sekolah secara khusus.

Saya bergejolak. Ini sama saja dengan berteriak, "Nih gue anak Yapera, nongkrong sambil ngerokok, pas di samping sekolah. Lu mau apa?" Maka saya minta rokoknya, dan saya matikan di tanah. Salah seorang tak terima, dan kata-kata kasar pun keluar. Saya segera berlalu karena, terus terang saja, cemas. Mereka bukan anak SD atau SMP. Badan mereka lebih besar dari saya. Jumlahnya juga banyak sedang saya sendirian.

Soal rokok dan kata-kata kasar (dan kadang kotor) ini, saya amat malu pada anak saya. Dia melihat, dan bertanya, "Ini muridnya Mama ya? Kok ngerokok? Kok ngomongnya kasar?" Saya benar-benar kehilangan muka, karena pertanyaan tadi sama saja dengan mempertanyakan kemampuan saya mendidik siswa.

Soal sumpah serapah ini, saya mengadukannya pada suami. Dia bilang, mungkin saya harus hati-hati. Dia juga mengingatkan tentang peristiwa beberapa hari yang lalu. Mobil kami memang terparkir di halaman sekolah, dan ketika suami berangkat ke kantor di hari Selasa, bannya kempes. Ternyata kempes itu bukan bekas tertusuk paku, tapi karena sayatan pisau di banyak tempat, masuk hingga ke ban dalam.

Siapakah yang melakukan hal kriminal ini? Apakah seseorang di tempat parkir milik lembaga asing AusAid, apakah mahasiswa Fakultas Ekonomi UI, ataukah siswa-siswa yang ada di sekolah tempat saya mengajar? Kami tak mau berprasangka apalagi menuduh, tapi suami mengingatkan saya agar berhati-hati.

Tapi mari kita beranjak ke belakang. Apa yang salah dari kejadian saya mencabut rokok siswa yang akhirnya berbuntut ke sana ke mari ini?


Yang salah adalah SAYA, tentu saja.

Kenapa? Karena saya menjatuhkan hukuman tanpa ada 'busa pengaman' di bawahnya.

Anak pada kasus di atas tak pernah saya ajar. Komunikasi kami yang pertama langsung menempatkan kami dalam konfrontasi. Kami tidak memiliki hubungan baik (=busa pengaman) yang membuat masalah yang ada tidak 'membal' dan malah 'pecah'. Dia tak mengerti saya cinta sekolah ini. saya juga tak mengerti bahwa dia melakukan itu karena.... ya entahlah, karena saya kan belum mengerti sekarang ini.

Sehabis peristiwa kecil tersebut, saya jadi sadar bahwa penting untuk memiliki hubungan baik dengan siswa dan guru. Penting untuk memiliki tabungan pengertian, kasih sayang dan penghormatan. Di situlah sesungguhnya terbangun sesuatu yang disebut 'wibawa'. Dengan demikian, begitu saya peran dan tanggung jawab menuntut saya bersikap tegas, hubungan kami akan membal, dan tidak pecah.

12 November 2010

NGAJAR BAHASA INGGRIS

Deg... deg.... deg....

Saya grogi banget pekan lalu. Pasalnya, saya sudah harus mulai menggantikan Bu Rum, guru Bahasa Inggris, yang cuti melahirkan hingga awal tahun depan. Wah, sudah lamaaaa sekali ga ngomong bahasa Inggris. Kalau baca sih ada juga sesekali, meskipun malas sekali rasanya. Tapi mengajar kan bukan cuma membca, tapi harus bicara. Lidah udah kaku neyyy...

Contohnya kemarin, saya iseng baca tulisan di label airbag mobil. ".... major risk can occur." Langsung di-cut suami, "Oker (bunyi /e/ seperti pada betul) tuh, bukan okyur!" Nah, nah... makin deg-degan aja. Anak sekarang kan pinter-pinter Bahasa Inggris, apalagi tingkatnya SLTA.

Ternyata nggak juga sih. Masih pinteran saya, hahahaha....

Selesai mengajar, saya keluar membawa beribu (lebay ^^;) pertanyaan. Saya terpana mengetahui anak-anak in ga tau arti kata friendly. Apalagi pengucapan bahasa mereka. Ketika perkenalan, saya minta mereka menyebutkan nama, serta 3 sifat yang mendeskripsikan diri mereka.

Salah satu siswa berkata, "My name is Amir. I'm prinly, see and niece..." Lidat saya berkerut, apa maksudnya? Ga taunya yang dia maksud adalah: My name is Amir and I'm friendly, shy and nice.


Anak-anak ini bukan anak perkotaan, memang. Mereka cuma anak kampung yang dibawa oleh pihak yayasan untuk masuk kelas beasiswa. Ya, kelas yang saya ajar kemarin memang kelas khusus. Isinya adalah anak-anak terseleksi yang berasal dari desa-desa di tiap kabupaten Bogor. Terseleksi, aduh saya jadi miris menulisnya.

Di pelajaran yang biasa saya ampu, Bahasa Jepang, semua anak mulai dari tahap paling awal, paling dasar. Makanya, wajar bila kami mulai pelan-pelan, karena semuanya juga baru belajar, termasuk gurunya ^_^;v.

Saya bisa membayangkan kesulitan yang dihadapi Bu Rum ketika mengajar Bahasa Inggris. Berbeda dengan bahasa asing lain, Bahasa Inggris sudah diperkenalkan sejak TK. Di tingkat SLTA, Bahasa Inggris sudah cukup tinggi tingkat kesulitannya. Bagaimana cara Bu Rum membuat anak-anak ini mengejar ketertinggalan?


Biaya bermilyar-milyar yang dikeluarkan pemerintah untuk sekolah negeri yang dijadikan RSBI (rintisan sekolah berstandar internasional), bukankah sebaiknya diberikan ke sekolah-sekolah kampung untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sana. Jadi pendidikan dinikmati oleh semua, bukan hanya orang kota saja.

Uangnya dikasih ke sekolah-sekolah kota, fasilitas juga, akses juga, Nah, jadi apa yang tersisa buat sekolah di pelosok? Tapi gobloknya ujiannya kok sama! Kesel banget deh saya kalo udah ngomongin ujian nasional.

Dan yang paling konyol dari cerita ini adalah, anak-anak yang menulis kalimat 'Namanya Amir' dengan He name is Amir ini, LULUS ujian nasional semua. Gimana tuh caranya? Coba jelasin ke saya.

Pak Mendiknas aja deh yang jelasih ke saya =_='

08 November 2010

MUDA = NORAK?

"Bbrrrrruuuuummmmm....."
Adik saya menggerutu mendengar suara knalpot mobil yang bikin kuping sakit itu. "Ngapain sih suara knalpot sampe segitu kerasnya. Mending kalo mobilnya bisa ngebut. Ini suaranya doang kenceng, mobilnya sih disitu-situ aja."

Sebagai anak pertama, yang beda usia dengannya berjarak 4 tahun, saya sering merasa lebih dewasa dan melihat adik pertama saya ini 'lebih anak-anak'. Hari ini, mendengar kalimat di atas diucapkan, saya jadi tersadar bahwa jarak kami sudah memendek, dan kini kami secara sosiologis sudah sepantaran. Kenapa demikian? Karena kalimat tersebut menandakan dia sudah tua, sama seperti saya.

Ketika saya menikah (saya menikah di semester 7), dia masih SMA. Nah, motor adik saya ini masih yang model nungging joknya. Apa ya, namanya. Spion dicopot, lampunya juga. Dan ya tentu saja, suara knalpotnya merepet bikin jantungan. Saat itu saya berkata persis sama, "Ngapain sih suara knalpot sampe segitu kerasnya. Mending kalo tu motor bisa ngebut. Ini suaranya doang kenceng, motornya sih disitu-situ aja."

Saat itu, saya dengan sedikit jumawa bisa bilang bahwa saya sudah dewasa dan dia masih anak-anak. Sekarang, adik saya ternyata sudah dewasa juga. Tolok ukurnya adalah udah ga demen sama knalpot berisik, hehehehe...

"Dulu lu juga gitu, Pi," kata saya menanggapi gerutuannya tadi.

"Iya, kok dulu demen sama yang kayak gitu ya. Sekarang jijay ngeliat anak muda begitu."

Kami terbahak, tapi sementara itu memori di otak mulai bermunculan. Teringat betapa konyolnya dulu saya ketika muda. Saya menepuk jidat sampil geleng-geleng dan bertanya, kenapa saya melakukan hal-hal memalukan kayak gitu, ya. Norak, sumpe dah norak abis. Konyol sampe ke ubun-ubun.

Tapi apakah hal-hal tersebut perlu disesali, maksud saya segala kekonyolan-kekonyolan masa muda itu? Apa anak-anak muda di seluruh dunia perlu diberitahu agar tidak melakukan hal-hal 'konyol dan norak'?

Hal ini jadi penting untuk disadari karena sebagai guru, setiap hari saya berurusan dengan anak-anak muda dengan segala 'kekonyolan dan kenorakan' mereka. Kadang saya tak habis pikir bagaimana mereka memandang banyak hal dengan terbalik: abai pada yang penting, sementara hal-hal kecil dibesar-besarkan. Tapi itulah anak muda, melakukan kesalahan adalah ciri mereka, sementara memperbaiki diri adalah tanda bahwa si anak muda ini mulai melangkah menjadi dewasa.

Jadi, don't take it personally kali yah. Ga perlu ngamuk-ngamuk ketika anak-anak muda ini berbuat konyol. Harusnya, dengan memahami bahwa mereka memang sedang belajar, dan karenanya selalu saja bisa kepleset, kita akan mampu menerima 'kekonyolan dan kenorakan' ini.

Kita yang lebih dewasa harus mendampingi prosesnya, menunjukkan alternatif-alternatif,
dan bukan kepingin mereka langsung baik, langsung bertanggung jawab, langsung berpikir panjang, langsung dewasa, secepatnya.

Hmmmm...., kalau saya sendiri, apakah sudah 'dewasa' sekarang ini? Ga tau, ya. Mungkin saja, 20 tahun mendatang, saya dengan rambut putih semua menepuk jidat sambil geleng-geleng dan bertanya, kenapa saya yang sekarang melakukan hal-hal memalukan, padahal udah kepala 3. Aduh, norak banget ga sih, sumpe dah norak abis.

Ah, tapi itupun kalau belum pikun ya....
Atau belum mati....

03 November 2010

GURU YANG BAIK UNTUK ADELIA

Sekolah saya, SMA swasta kecil di Tangerang, adalah sekolah umum. Maksud saya dengan sekolah umum adalah sekolah biasa saja, dan tak pernah menyatakan diri sebagai sekolah inklusif. Meski demikian, sepertinya ada beberapa siswa kami yang bisa dibilang berkebutuhan khusus, meski tidak tergolong berat. Beberapa diantaranya saya pernah tuliskan di sini, tentu saja tanpa membeberkan identitas aslinya.

Karena sekolah biasa, tentu saja kami tak punya shadow teacher, apalagi terapis dan psikolog. Jangankan itu, punya guru bimbingan konseling saja tidak. Biasalah, terkendala biaya v^_^;v. Jadi bila ada masalah yang timbul, kami tangani sebisanya, mengikuti insting saja. Agak berbahaya juga sebenarnya, tapi sementara ini itu yang bisa diperbuat.



Salah satu siswa yang memiliki kebutuhan khusus adalah Adelia. Ia mungil, manis, ramah, dan banyak tersenyum. Semua guru berpendapat sama mengenai Adelia, bahwa dia tidak mungkin diberi ujian tertulis. Kenapa? Kacau. Apa yang ditulisnya amat kacau. Kertas ujiannya dipenuhi kesalahan eja dan kalimat yang tak jelas maksudnya.


Kalau ada yang pernah membaca tentang (mantan) siswa saya yang bernama Bagus, mungkin ingat bahwa Bagus mengidap sindrom Asperger (keterangan lebih lanjut hubungi Mbak Gita Lovusa ya, saya mah ga terlalu ngerti ^^). Bila dilihat secara langsung, semua orang akan tahu bahwa Bagus 'berbeda', namun tulisannya tertata dengan baik, meski isinya khayalan semua. Sedang Adelia, secara fisik normal, senormal-normalnya, hanya bila menulis saja, kita tidak paham apa maksud kalimatnya.

Disleksia? Guru biasa seperti saya tentu saja tak berani memberi diagnosa. Kalau salah kan berabe.

Ketika rapat evaluasi tengah semester lalu, Adelia adalah salah satu siswa yang diperbincangkan. Tapi satu hal menghangatkan hati saya saat itu, bahwa guru-guru, meski tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada Adelia, tapi mereka mau memahami anak ini.

Bu Ida, guru ekonomi berkata, "Memang nilai Adelia jatuh di rapor bayangan, karena kita menggunakan nilai asli. Tapi setiap ulangan tertulis memang Adelia selalu seperti ini. Nanti untuk dia saya ambil nilai secara lisan. Nilai rapornya nanti didominasi nilai harian saja."

Pengambilan nilai secara lisan ini kemarin saya laksanakan untuk Adelia pada mapel yang saya ampu. Bu Ida benar, Adelia paham, dan menjawab dengan lancar. Senyum terkembang di wajahnya setelah berhasil menjawab 3 pertanyaan lisan saya berturut-turut.

Pak Sukron, guru agama, juga menyiasati beberapa kelemahan siswa dengan memikirkan cara lain melakukan tes. Meski dalam kurikulum siswa misalnya dituntut untuk menghapal (misalnya menghapal ayat dalam pelajaran agama), namun untuk siswa tertentu, Pak Sukron akan meminta anak untuk menyalin saja. Memaksakan semua anak harus menghapal akan mendatangkan tekanan bagi beberapa siswa kami.

Bahkan salah satu guru yang dianggap 'killer' di kelas oleh para siswa, adalah guru yang membela beberapa anak yang bermasalah dengan nilai dan kedisiplinan mereka dalam rapat. Andai anak-anak itu tahu ya...



Saya memang banyak menulis yang isinya mengritik guru, tapi kali ini saya juga ingin menunjukkan bahwa guru yang baik itu banyak, insya Allah.

Mungkin ada yang menuding mereka melakukan kesalahan, karena telah menurunkan standar pendidikan. Anak bodoh kok dinaikkan ke kelas selanjutnya. Tapi bagi saya, mereka adalah guru yang mau mengerti.


Mereka mengerti bahwa sekolah ini akan selalu menerima siswa sisa dari sekolah negeri. Itu menyebabkan masalah yang dihadapi di kelas mungkin akan lebih beragam. Ada beberapa anak, yang tidak pernah mungkin bisa naik kelas bila kita memegang teguh permintaan kurikulum. Dan karena guru-guru ini menyadari hal tersebut, maka mereka mencari jalan lain.

Mengetahui bahwa anak-anak seperti Adelia, dan Bagus, dan Bayu, dan Zein, mendapatkan guru yang mau mengerti, bukankah terasa membahagiakan?


keterangan foto:
foto 1: ada adelia di foto kelas memasak ini
foto 2: guru agama ketika kegiatan rohis

21 October 2010

'BELAJAR' ITU APA SIH?

Riki mengacau kali ini. Dia menjadi master of ceremony di upacara senin pagi yang lalu, dan dia mengacaukannya. Bayangkan, di depan seisi sekolah, tiga kepsek dan lima wakasek, seluruh dewan guru, dan semua anak yang masuk pagi dari tiga unit berbeda, dia salah membaca urutan acara. Dan bukan hanya sekali, berkali-kali.
Saya tak dapat menahan senyum, karena pagi itu, kebetulan sayalah guru yang ditunjuk menjadi pembina upacara. Mungkin seharusnya saya malu, karena Riki berasal dari unit saya, unit SMA. Paling tidak, ini membuktikan bahwa unit kami tidak mempersiapkan diri dengan sempurna. Tapi dibanding rasa malu, perasaan saya didominasi rasa kasihan dan cemas.

Karena rasa kasihan –mudah-mudahan kata ini turunan dari kata 'kasih', saya tak menyinggung sedikit pun tentang kesalahan ini ketika saya memberi amanat pembina. Di sekolah tempat saya bekerja, pembina biasanya mengawali amanat pembina upacara dengan mengevaluasi kinerja petugas hari itu. Dan menurut saya, ini bukan hal bagus.

Bayangkan, anak belasan tahun, beberapa di antara mereka baru beberapa saat lulus dari SD, dikritik di depan sekian banyak orang. Kejam sekali, menurut saya. Bagaimana kalau kritik itu meninggalkan bekas di hati, semacam ketakutan untuk tampil di depan umum?

Saya sendiri mempunyai pengalaman yang sama. Suatu kali ketika SMA, saya menjadi MC juga di upacara Senin, sama seperti Riki. Ketika sampai pada amanat pembina upacara yang lama itu, saya yang bengong jadi lupa kalau saya adalah petugas upacara (penyakit lupa saya memang sudah kronis ^^;).

Saya mengobrol dengan petugas kesehatan yang berjaga agak di belakang. Terus.... terus.... sampai tidak sadar kalau seisi sekolah sedang mencari saya karena pembina telah lama selesai menyampaikan amanat. Jelas saja, ketika saya maju kembali ke mikrofon, semua anak menertawai saya.

Saya malu sekali saat itu, dan merasa bersalah. Tapi kesalahan saya tidak diumbar-umbar di depan umum, saya tidak dihukum karena kesalahan saya, bahkan dimarahi pun juga tidak. Selesai upacara, wakasek, Pak Hanif, mendekati saya dan menasihati dengan lembut. Begitulah, kesalahan harus mendapat evaluasi, bukan hukuman.

Sekolah saat ini, semakin menuntut terlalu banyak dari anak. Anak tak boleh salah. Kalau hasil ulangan jelek, anak dihukum. Kalau tidak bisa mengerjakan, mereka diomeli. Kalau mencoba dan salah, yang didapat adalah cemooh.

Memangnya belajar itu apa, sih? Quantum Teaching mendefinisikan BELAJAR sebagai proses yang mengalir, dinamis, penuh resiko, dan menggairahkan. Belum ada 'aku tahu' di sana. Kesalahan, kreatifitas, potensi, dan ketakjuban mengisi tempat itu.


Memang selalu ada resiko gagal dalam belajar. Seperti mengajari anak naik sepeda, kita selalu bilang, “Jatuh ga apa-apa. Semakin sering jatuh semakin cepat bisa!” Nah, di sekolah harusnya sama saja. “Gagal ga apa-apa. Semakin sering gagal semakin cepat bisa.” Lagipula, kalau anak sudah bisa semua, buat apalagi belajar, lalu apa gunanya sekolah?


Maka begitu turun dari podium upacara, saya segera menjajari Pak Lutfi, wakasek SMA. Tadi saya melihatnya sempat disindir oleh salah satu pimpinan, dan saya cemas Riki akan terkena masalah setelahnya.


"Kayaknya Riki nervous," kata saya.


"Memang," jawab Pak Lutfi. "Sampai begini..." Ia menggerakkan tangan mencontohkan betapa gemetarnya Riki.


Riki sendiri adalah tipe siswa yang mudah sekali jadi sasaran kemarahan. Dua kali tidak naik kelas, sering menimbun poin pelanggaran (yang artinya rajin bolos dan telat), dan saya curiga bahwa dialah yang menulis pada saya dalam secarik kertas anonim bertuliskan 'saya sedang bermasalah dengan polisi'.


Saya bersyukur wakasek bisa melihat kalau Riki memang sudah berusaha, lagipula ini kali pertama baginya. Jangan sampai Riki dipermalukan atau domarahi karena memalukan unit SMA. Kesalahan kecil begini akan mudah dilupakan, sedang ingatan buruk tentang dimarahi setelah tampil di depan atau setelah berbuat kesalahan bisa bertahan lama dan mempengaruhi sisa kehidupan Riki.



Ini foto petugas upacara Senin lalu. Riki salah satunya. Yang mana? Rahasiaaaaa...... ^_^v

HARE GENE? CKCKCK....

Saya geleng-geleng tak mengerti ketika ada teman saya mengatakan bahwa rata-rata anaknya 94 dan masih juga belum peringkat pertama di kelasnya. Juga saya tidak mengerti, ketika keponakan saya di status update facebook-nya berkata bahwa hasil UTS menempatkan dia di ranking 18.


Dua anak ini kan masih SD, yang pertama kelas 1 dan yang kedua kelas 6, kenapa justru mereka diranking? Masih SD gitu, loh....


Di rapor sekolah saya, tingkat SLTA, di Tangerang, tidak ada kolom untuk peringkat/ranking. Jadi kami tak mengurutkan nilai anak untuk mengetahui siapa ada di ranking apa. Rapor itu

tidak kami cetak sendiri, melainkan dibeli dari MKKS dan digunakan baik oleh sekolah negeri maupun swasta di kota Tangerang. Jadi kebijakan ‘rapor tanpa kolom peringkat’ bukan cuma ada di sekolah saya, tapi disepakati bersama.


Memang kemudian para wali kelas kami melihat siapa yang nilainya paling besar di lembar ledger. Bukan karena hendak membandingkan peringkat anak, tapi semata-mata untuk mengetahui pada siapa dana beasiswa prestasi akan disalurkan.


Saya sendiri setuju pada pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan bukanlah perlombaan. Kalau ada sebuah kompetisi, dipasang judulnya perlombaan apa, atau pertandingan apa, silakan deh anak kita ikut untuk memperebutkan tahta juara.




Tapi pendidikan bukan seperti itu. Education is a journey, not a race. Pendidikan adalah sebuah perjalanan, bukan balapan. Lagipula anak kita bukan kuda atau sapi, kan?


Kalau jaman dulu, memang kita dipertandingkan dengan teman sekelas. Di samping nilai milik kita di buku rapor, ada nilai rata-rata kelas. Apakah seorang anak cerdas atau tidak ditentukan dengan apakah nilai ia berada di atas atau di bawah nilai tersebut.


Tapi sekarang zamannya sudah beda. Anak-anak ini diberi pendidikan bukan untuk mengungguli rekan-rekan sekelasnya. Mereka belajar setiap hari di sekolah agar bisa 'terbangun', terbangun akalnya, hatinya, jiwanya, badannya. Seperti lagu kebangsaan kita itu loh, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya....”


Seringkali terjadi jurang pemisah di kelas akibat sistem peringkat ini. Ada geng anak pintar, dan anak peringkat buncit semakin percaya kalau dirinya memang sudah terlahir sebagai pecundang.


Dengan sistem peringkat, anak-anak kita juga jadi keranjingan menjatuhkan, bukan terbiasa bekerja sama. Ngapain bagi-bagi ilmu, ngapain ngajarin temen yang ga bisa? Nanti dia ngerti, trus gue tersingkir dari ranking satu dong. Akhirnya, yang merasa kurang pandai mengambil jalan pintas: menyontek. Toh, nilailah yang dihargai, sumber segala privilege di dunia pendidikan yang kejam kayak gini.


Jadi saya sepakat dengan rapor yang dicetak oleh MKKS Kota Tangerang. Tak perlu ada peringkat di rapor. Malah, orang tua tak perlu menjawab pertanyaan orang tua bila mereka bertanya ranking berapa anaknya di kelas.


Kenapa orang tua tak perlu diberi tahu? Karena orang tua kadang dengan cepat bertindak: “Masak sama anak tetangga kamu kalah? Bodoh sekali sih, kamu! Mulai besok ikut les ini les itu les anu.” Nah, akhirnya anaknya lagi yang menjadi korban.


Orang tua harus memandang keberhasilan anak dari apa yang telah dia capai sebelumnya, dan dari potensi apa yang sebenarnya anak punya. Bagaimana dukungan yang dapat diberikan orang tua, dan sisi mana yang bisa mereka ambil, agar sekolah dan orang tua bisa sama-sama menyediakan kondisi yang mendukung anak untuk tumbuh dan mekar.


Iya, untuk tumbuh dan mekar, yang berarti menjadi yang terbaik sesuai potensi dan keunikannya, bukan untuk dibandingkan dengan orang lain.

Sekolah tentu saja harus jadi pihak pertama yang menyadari hal ini. Hapuskan sistem peringkat dari rapor, dan dari keseluruhan sistem pembelajaran. Buat sistem yang mendorong pembelajaran kolaboratif, bukan kompetitif.


Contohnya? Mmmm.... Apa ya? Gini deh, misalnya, jangan cuma siswa dengan nilai akademik tertinggi yang diberi piala atau piagam atau bingkisan. Yang kehadirannya 100% juga harus diberi. Yang membawa harum nama sekolah dalam kegiatan ekstrakurikuler juga harus diberi


Nah, bagaimana kalau sekolah anak kita berdalih bahwa sistem peringkat adalah peraturan dari ‘atas’?


Wah, dalihnya basi tuh. Kurikulum sekolah kebanyakan sudah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), jadi tidak lagi bisa berdalih bahwa ini peraturan dari atas, karena sekolah memiliki otonomi yang luas sekarang ini.




Bagaimana kalau sekolah teteeeeeeup keukeuh menggunakan sistem peringkat? Ya orang tua yang harus maju dan bertanya.


“Saya ga mau anak saya jago menyingkirkan orang. Saya lebih suka anak saya bisa bekerja sama, menyadari bahwa dia dan teman-temannya saling mengisi dengan keunikan mereka. Jadi, kenapa ada peringkat di SD ini?”


Bagaimana kalau sekolahnya dibilangin tapi terus ngeyel? Yah, akhirnya, moms clean the mess, as always. Kita, lagi-lagi kita, yang harus membereskan kekacauan yang diperbuat sekolah. Orang tua yang berkewajiban memberi pengertian pada anak, bahwa peringkat satu bukan jaminan kebahagiaan dan kesuksesan. Ranking itu ga penting!


Yang penting apa, dong? Yang penting punya banyak teman (biarpun bukan orang kaya dan ga punya mainan mahal model terbaru), yang penting menemukan minat diri, yang penting enjoy di sekolah.


Nah lo, jadi bentrok dong sama ajaran sekolahnya? Di sekolah disuruh berlomba jadi peringkat satu, eh di rumah malah dibilang ga penting. Ya begitulah, salah sendiri masukin anak ke situh, hwehehehehe....


Hare gene masing ada ranking-rankingan? Ck ck ck.... Jadul banget ga seeeeh....


20 August 2010

TES MI SEDERHANA

Pengetahuan tentang MI (multiple intelligences/kecerdasan majemuk) adalah salah satu pengetahuan terpenting bagi saya, karena teori ini menjawab satu pertanyaan penting di kepala saya: Benarkah ada anak yang dilahirkan sebagai anak bodoh?

Mungkin saja ada manusia yang diuji dengan kemiskinan atau cacat, tapi bodoh menurut saya bukan ujian, tapi kutukan. Kenapa? Karena bodoh membuat seseorang tidak bisa menghadapi hidup, tak berdaya, dan sulit memperbaiki diri. Bukankah itu artinya Allah tidak sayang pada manusia yang ditakdirkan sebagai orang bodoh?

Begitu saya membaca tentang MI, saya tak lagi bertanya tentang keadilan Allah pada manusia bodoh. Kenapa? Karena memang tidak ada manusia bodoh. Semua manusia cerdas, namun masing-masing memiliki domain kecerdasan yang berbeda, yang tidak bisa diukur semua oleh sistem sekolah.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, MI adalah teori kecerdasan hasil penelitian Howard Gardner dari Harvard University. Teori ini menyatakan bahwa setidaknya ada delapan macam kecerdasan dalam diri manusia, yang bisa disingkat dalam akronim SLIM-N-BIL. Maka sekarang ini pertanyaan, “Seberapa cerdas anda?” sudah ketinggalan zaman, karena pertanyaan yang seharusnya adalah, “Anda cerdas yang bagaimana?”

S = Spasial - Visual (berpikir dalam gambar)

Menggambar, membuat sketsa, corat-coret, visualisasi, citra, grafik. Tabel, desain, seni

rupa, video, film, ilustrasi


L = Linguistik - Verbal (berpikir dalam kata-kata)

Kata-kata, bicara, menulis, bercerita, mendengarkan, buku, dialog, diskusi, puisi, lirik lagu, ejaan, bahasa asing, pidato, esai, makalah


I = Interpersonal (berpikir lewat berkomunikasi)

Memimpin, mengorganisasi, interaksi, berbagi, bicara, sosialisasi, manipulasi, permainan kelompok, lobi, kerja sama, klub, berteman


M = Musikal – Ritmik (berpikir dalam irama)

Bernyanyi, mengetuk-ngetuk, irama, melodi, kecepatam, warna nada, alat musik, rima

N = Naturalis (berpikir dalam acuan alam)

Berjalan-jalan, alam terbuka, interaksi dengan hewan, pengkategorian, melihat bintang, cuaca, simulasi, penemuan

B = Badan – Kinestetik (berpikir lewat gerak fisik)

Menari, berlari, menyentuh, melompat, mencoba, simulasi, merakit, membongkar, bermain drama, games, indera peraba

I = Interpersonal (berpikir secara reflektif)

Berpikir,meditasi, diam, berefleksi, membuat tujuan, membuat diary, merenung, menilai diri, menyendiri, introspeksi, menulis

L = Logis – Matematika (berpikir dengan menalar)

Bereksperimen, bertanya, menghitung, logika deduktif induktif, klasifikasi, fakta, teka-teki

########


Berikut Tes MI yang diambil dari buku Sekolah Para Juara oleh Thomas Amstrong.

Berilah tanda cek (√) pada pernyataan yang cocok.


SPASIAL

(....) dapat melaporkan bayangan benda dengan jelas

(....) lebih mudah membaca peta, diagram dan grafik daripada tulisan

(....) suka melamun

(....) suka kegiatan seni

(....) senang melihat slide, film, atau presentasi visual lain

(....) suka mengerjakan puzzle, labirin, atau game sejenis

(....) dapat membangun konstruksi 3 dimensi yang menarik

(....) lebih mudah belajar dengan gambar daripada tulisan

(....) membuat coret-coret di buku kerja, kertas atau bahan-bahan lain

(....) pandai menggambar

LINGUISTIC


(....) menulis cerita
(....) bercerita panjang lebar atau menyambaikan lelucon dan kisah-kisah

(....) dapat mengingat nama, tempat, tanggal atau hal-hal sepele

(....) suka game permainan kata

(....) suka membaca buku

(....) mengeja kata dengan tepat

(....) menyukai pantun dan permainan kata

(….) dapat mengucapkan kata-kata yang sulit

(....) suka mendengarkan

(....) memiliki kosakata yang baik

(....) berkomunikasi dengan orang lain dengan cara berbicara


INTERPERSONAL


(....) suka bersosialisasi dengan teman sebaya

(....) berbakat menjadi pemimpin

(....) memberi saran kepada teman yang mempunyai masalah

(....) mudah bergaul

(....) menjadi anggota klub atau panitia

(....) senang mengajari anak-anak lain secara informal

(....) suka bermain dengan teman sebaya

(....) mempunyai dua atau lebih teman dekat

(....) memiliki empati yang baik atau perhatian kepada orang lain

(....) banyak disukai teman


MUSICAL


(....) tahu mana nada yang sumbang

(....) dapat mengingat melodi lagu

(....) memiliki suara yang merdu

(....) memainkan alat musik atau menyanyi

(....) memiliki cara bicara atau bergerak yang berirama

(....) bersenandung tanpa sadar

(....) mengetuk-ketuk meja saat sedang bekerja

(....) peka pada bunyi-bunyi di sekitar

(....) bersemangat ketika musik dimainkan

(....) menyanyikan lagu yang dihapal tanpa sengaja


NATURALIST


(....) suka karya wisata di alam, ke kebun binatang atau ke museum purbakala

(....) berbicara banyak tentang binatang kesayangan atau lokasi-lokasi alam favorit

(....) peka pada bentuk-bentuk alam (misalnya gunung, awan, model sepatu, atau
mobil)

(....) senang menyiram dan merawat tanaman

(....) suka bermain di sekitar kandang hewan peliharaan atau akuarium

(....) menunjukkan minat pada ekologi, alam, tanaman dan binatang

(....) suka melakukan proyek-proyek yang berhubungan dengan alam (misalnya mengamati burung, mengumpulkan serangga atau kupu-kupu, mempelajari pohon atau memelihara binatang)

(....) membawa binatang kecil atau serangga, bunga atau benda alam lain untuk ditunjukkan kepada teman

(....) dapat mengerjakan dengan baik tugas atau pekerjaan yang bersinggungan
dengan kehidupan


BODY


(....) menonjol di salah satu atau lebih cabang olahraga

(....) selalu bergerak, tidak bisa duduk diam

(....) pandai meniru gerak isyarat atau tingkah laku orang lain

(....) suka membongkar pasang barang

(....) menyentuh barang-barang yang baru ditemuinya

(....) suka berlari, melompat, atau kegiatan semacam

(....) menunjukkan kemahiran dalam keterampilan, pertukangan, jahit, bengkel dll

(....) mampu mengekspresikan diri secara dramatis

(....) suka bergerak ketika berpikir

(....) suka bekerja dengan melibatkan sentuhan tangan


INTRAPERSONAL


(....) menunjukkan sikap mandiri atau kemauan keras

(....) memahami dengan baik kekurangan dan kelebihan diri

(....) tidak mengalami masalah jika ditinggalkan bermain atau belajar sendirian

(....) memiliki gaya hidup dan gaya belajar dengan irama tersendiri

(....) memiliki minat dan hobi yang jarang dibicarakan dengan orang lain

(....) memiliki perencanaan diri yang baik

(....) lebih memilih bekerja sendiri daripada bekerja sama dengan orang lain

(....) dapat mengekspresikan perasaan

(....) mampu belajar dari kegagalan dan keberasilan yang pernah dialami

(....) menghargai diri sendiri


LOGIC


(....) banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal

(....) suka bekerja atau bermain dengan angka

(....) suka pelajaran matematika, senang berhitung dan melakukan hal yang melibatkan angka

(....) menganggap game matematika dan komputer menarik

(....) suka permainan catur, main dam atau permainan strategi lainnya

(....) suka mengerjakan teka-teki logika atau soal-soal sulit

(....) suka membuat kategori, hirarki, atau pola logis lainnya

(....) senang melakukan eksperimen

(....) menunjukkan minat pada mata pelajaran yang berhubungan dengan sains

(....) dapat mengerjakan tes berpikir logis