15 August 2007

Kepalaku Kosong!

Kepala ini kosong! Begitulah rasanya bila saya selesai menyiapkan presentasi, baik itu pelajaran di kelas, maupun yang sifatnya insidental semacam materi untuk masa bimbingan untuk anak baru atau latihan kepemimpinan OSIS. Misalnya, di semester gasal saya telah membawa anak-anak SMA ini menulis sambil berjemur di lapangan, menonton berita di tv, menggambar rumah impian, memajang puisi di mading, sampai bermain pasel. Nah, apa lagi yang saya harus lakukan pada semester berikutnya? Kepala saya terasa kosong! Tapi, akan membosankan sekali bila di semester depan tak ada lagi kejutan menyenangkan selama pembelajaran.

Contoh lain adalah ketika saya menyampaikan materi cara belajar efektif untuk siswa baru. Semua yang pernah saya baca, dan juga yang pernah saya rasakan sebagai pembelajar, saya tuangkan dalam slide. Eeee... ternyata hasilnya hanya beberapa slide. Tidak berimbang dengan waktu yang diberikan. Lha, itu pun sudah membuat otak saya kosong. Kalau ada yang bertanya, "Ada apa lagi tentang cara belajar?," saya akan mengangkat bahu berkata, "That's all I have."

Bandingkan dengan para tokoh di sepanjang sejarah yang menulis puluhan bahkan ratusan buku. Coba bayangkan, berapa banyak isi kepala mereka? Saya membayangkan semua ilmu itu berkecamuk di kepala mereka, saling berkelindan dan menemukan kaitan satu sama lain. Riuh! Tentu saja mereka harus menuliskan ilmu-ilmu itu agar kepala mereka bisa sedikit tenang, bukan?

Kembali pada kesulitan saya mengisi kembali kepala yang kosong ini. Tentu saja saya bisa ambil cara gampang. Ikuti saja terus apa yang ditulis dalam buku. Aman! Begitukah kelihatannya? Wah, resikonya justru lebih besar, berbahaya, dan laten. Saya akan menjadi sosok yang saya takuti: guru yang menyampaikan hal yang sama selama belasan tahun, tanpa revisi, tanpa inovasi. Dan di setiap tahun yang berlalu, antusiasme akan hilang pergi bersama waktu. Mengerikan!

Benar yang dikatakan orang. Mengajar akan memaksa kita belajar, karena ya tadi itu, mengajar akan membuat kepala kita kosong. Mungkin ilmu yang diajarkan sama, tapi metode dan cara penyampaian selalu bisa divariasikan. Tapi ini cuma kalau kita mau menjadi pengajar yang baik, ya. Sebaliknya, kalau mau mempelajari sesuatu dengan baik, ajarkanlah pada orang lain. Sesuatu yang rasanya kita sudah kuasai, akan terlihat rumpangnya jika kita mengajarkannya pada orang lain. Ini juga dengan syarat bahwa kita mengajarkannya dengan sepenuh hati.

In teaching we learn, in learning we teach.

15 May 2007

Jurusan Bergengsi?

Saya pikir, 'bergengsi' atau tidaknya sebuah jurusan di perguruan tinggi (yang berimbas pada pemilihan jurusan di sekolah), juga dipengaruhi berapa banyak lulusannya yang dibutuhkan dunia kerja. Fakultas ekonomi, misalnya, biasanya merupakan fakultas yang jumlah mahasiswanya bengkak. Alasannya? Yah, lebih mudah mencari pekerjaan, atau dibayar lebih tinggi, cmiiw. Saya yang mengambil jurusan bahasa di SMA, dan melanjutkan ke fakultas sastra, sudah bosan dengar pertanyaan, yang malu-malu atau tanpa tedeng aling2, tentang, "Apa sih, gunanya belajar sastra? Bisa kerja di mana kalau sudah lulus? Berapa gaji yang di dapat nanti?" Ih, cape deeeeh...

Saya mengerti lah, kalau kursi di fakultas tertentu diperebutkan oleh lebih banyak orang. Yang saya kurang sreg sebenernya tentang passing grade (masih dipake gak tuh?). Seolah-olah, mahasiswa di fakultas tertentu lebih bodoh dari fakultas yang lain. Waktu kuliah, terus terang saya juga punya perasaan seperti itu. Setelah saya menikah dan bergaul intens (iyalah, serumah!) dengan seseorang yang sehari-hari berkutat dengan model matematika, kepercayaan diri saya justru meningkat. Sekarang saya tidak ragu kalau kecerdasan saya tidak di bawah atau kurang dibanding suami. Yang berbeda hanya di wilayah mana kecerdasan masing-masing lebih dominan.

Untuk Howard Gardner, makasih ya. Mengabaikan segala pro-kontra yang muncul, multiple intellegencies Pak Gardner membuat saya bisa lebih menghargai diri sendiri, juga menghargai orang lain sebagai pribadi yang unik dan memiliki kecerdasan masing-masing. Ah, ini yang harusnya menjadi spirit pendidikan di sekolah, yah. Penataran guru soal kecerdasan majemuk udah banyak, lho. Bener! Tapi internalisasinya belum. Kemana sih hilangnya semangat dan idealisme para guru? Halah, ini omongan bakal panjang lagi.

23 April 2007

Eskul Film Menang!

Apa saya sudah cerita kalau di sekolah saya mengajar ada ekstrakurikuler Film? Ya, ada. Hihihi, gaya juga yah, macam sekolah orang kaya saja. Pembimbingnya mahasiswa, yang masih idealis hingga mau datang tanpa dibayar. Pesertanya 20% dari jumlah seluruh siswa dan sangat antusias (saya tahu karena hampir semua peserta menyinggung eskul ini ketika saya beri tugas mengarang berjudul ‘Sekolahku’). Setiap pekan mereka berkumpul di ruang sisa yang sempit, nun jauh di pojok lantai tiga sana.

Kemarin sore, saya mendapat sms dari pembina OSIS. Isinya, “Bu, alhmdlh kt jd film tbaik di cinema fever.” Wah, kabar mengejutkan sekaligus menggembirakan. Ceritanya, salah satu film karya mereka diikutkan dalam festival film antar SMA se-Jakarta Selatan. Dan mereka menang! Ada 3 penghargaan diraih: pencahayaan terbaik, kameramen terbaik dan film terbaik. Selain piala dan piagam, kabarnya ada uang satu juta rupiah.

Saya bertemu mereka keesokan harinya di rumah Bu Aroh, sedang syuting untuk film selanjutnya. Wah, orang sekampung pada ngerubungin katanya, serasa lagi bikin sinetron jadinya. Wajah mereka terlihat sumringah, dan menurut pembimbing eskul, itu piala bergilir menginap di rumah-rumah kru. Oalah….

Bagi saya, penghargaan yang anak-anak itu dapat menandakan bahwa yang mereka lakukan ‘berharga.’ Bila sesuatu dianggap berharga, maka ia harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Bukan begitu bukaaaan?

Lalu, ada beda antara izzah dan kibr. Izzah adalah perasaan bangga dan menganggap diri memiliki arti dan nilai. Bagi remaja, ini hal yang sangat penting, yang bisa meneguhkan eksistensi yang biasanya sedang mereka cari. Mudah-mudahan, kemenangan yang mereka dapatkan bisa menghadirkan izzah di hati mereka.

Kibr, kesombongan, adalah satu hal yang berbeda. Apa sih sombong itu? Rasul bilang, sombong itu merendahkan orang lain dan menolak kebenaran (siapa yang bisa nolong kasih tahu periwayatnya? Plisss…). Nah, kemenangan yang didapat boleh menimbulkan izzah, tapi jangan menumbuhkan kibr. Kemenangan tidak boleh membuat anak-anak ini merendahkan orang lain, apalagi membuat mereka menolak kebenaran.

Terakhir, pada pembimbing eskul, saya wanti-wanti tentang standar moral dalam kegiatan siswa. Bersama dalam suatu kegiatan dengan frekuensi yang tinggi dan rentang waktu yang lama seperti pembuatan film bisa saja menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Awas kalo sampai ada apa-apa! Jadi pertama, pembimbing eskulnya dulu yang harus bener, ya kan? Dia bilang, “Tenang, aja. Gue sekarang rajin sholat kok!” Apppaaaa? Sekarang? Lha, berarti dulu…..?

13 April 2007

Mau kenal saya?

Kisah Sedih di Hari Kamis

Wakil kepala di sekolah tempat saya mengajar berkata bahwa ada seorang lagi siswa kelas XI yang kemungkinan akan keluar. Ia baru saja mengadakan konseling pada siswa tersebut dan tampaknya masih belum ada jalan keluar. Begini ceritanya.

Si siswa yang dibicarakan ini bukan anak yang cemerlang. Saya mengajarnya di kelas satu dan tahu bahwa ia memang biasa saja, dari segala segi. Belakangan, hampir dua minggu ia tak tampak di kelas. Begitu ia masuk dan diadakan konseling, jawaban yang diberikan adalah, “Saya mau berhenti sekolah.”

Ternyata orang tuanya sudah bercerai. Si ayah menikah lagi, disusul oleh si ibu. Kedua orang tuanya sudah memiliki keluarga baru lagi sekarang. Tapi dia tidak. Anak ini kehilangan rumah, tempat pulang dan berlindung. Parahnya lagi, setelah sibuk dengan keluarga baru, tidak si ayah, maupun si ibu, yang bersedia menanggung biaya pendidikannya.

Setelah merasa asing di kedua rumah orang tuanya, ia memilih tinggal bersama neneknya di Kebayoran Lama. Neneknya yang miskin tak mampu membiayainya sekolah. Maka, ia memutuskan berhenti.

Jeri rasanya.

O, saya tidak terlalu fanatik pada pendidikan formal. Ilmu bisa didapat di mana saja, tapi tidak begini caranya. Orang dewasa tidak selalu paham apa yang mereka korbankan ketika mengambil keputusan. Juga kadang ditambah abai dengan tanggung jawab yang terus mereka punyai setelah itu.

Ah, satu kisah sedih lagi hari ini.

27 February 2007

Melangkah dengan Bismillah

Hari ini saya membeli sebuah buku untuk hadiah ulang tahun seorang sepupu yang berusia sepuluh tahun. Dengan terburu-buru (lagi sakit perut#__#;), saya mencomot Melangkah dengan Bismillah karya Wikan Satriati. Terus terang, yang membuat saya tertarik memang ilustrasinya yang ‘cewek’ dan manis. Lalu judulnya tampak islami, hehe…. Setiba di rumah, sebelum membungkusnya, saya mencoba mencuri baca sedikit-sedikit. Ternyata keterusan hingga akhir.

Sungguh buku yang indah. Sederhana dan bening, hingga kedalamannya terlihat jelas. Apa anak-anak bisa memahaminya? Saya kira iya, mereka mampu memahami lebih banyak dari yang kita kira. Mungkin lebih banyak dari kita orang dewasa. Saya sungguh tergoda membelinya untuk diri sendiri.

Hal terakhir yang menggetarkan saya ada di halaman paling akhir. Kata-kata yang ada di sana membuat saya menyalakan komputer di tengah malam dan menggerakkan (dua) jari di atas kibor. Begini tulisannya:

Kalimat Thayyibah, kata-kata yang baik itu seperti pohon yang indah, akarnya kokoh menghunjam ke dalam bumi dan dahannya menjulang ke angkasa. Pohon-pohon itu selalu berbuah sepanjang musim. (QS Ibrahim: 24-26)

Tidakkah kita juga ingin menanam pohon itu?

30 December 2006

Akreditasi selesai!

Akhirnya pulang juga tim asesor (ini nulisnya gimana: assesor, asessor, assessor, asesor?) setelah empat jam lebih memeriksa segala sesuatu di sekolah. Mulai dari puter-puter periksa sarana dan lingkungan, periksa berkas administrasi (sila bayangkan delapan meja belajar yang penuh sesak dengan gunungan kertas), sampai wawancara ke staf dan guru. Sekarang tinggal menunggu hasilnya. Lalu? Ya, lalu saatnya kita memujiNya, atas segala kemudahan yang Ia berikan.

Prosesnya berjalan dengan lancar. Cerita beberapa kolega tentang proses akreditasi yang menakutkan tidak banyak kami rasakan. Tim asesor dari Badan Akreditasi Daerah (Basda) yang datang berlatar belakang pengawas SMA dan akademisi IAIN. Mereka tak minta macam-macam dan tidak mengintimidasi. Pertanyaan yang diajukan juga tidak mengada-ada. Normal!

Apa kira-kira hasilnya nanti? Entah, tapi ternyata eh ternyata, bukan hasil akreditasi yang lebih dulu membuat saya bersyukur dan bangga. Lebih dari itu, yang paling berharga adalah prosesnya. Jelas, dengan adanya akreditasi, semua jadi rapi tersusun, terdata dan terencana. Walaupun pendidikan sama sekali berbeda dengan administrasi pendidikan, tapi bukankah ketertiban ini merupakan hal yang baik dalam menunjang proses pembelajaran?

Tadi baru yang pertama. Selanjutnya, akreditasi membuat saya lebih mengenal banyak orang. Siapa yang berdedikasi, siapa yang perlu terus dimotivasi, siapa yang bersahabat, siapa yang rela berkorban, siapa yang kurang berkerja sama. Mungkin tanpa kerja berat seperti persiapan akreditasi, saya tidak pernah tahu semua ini.

Ada lagi. Ketika di hari-hari akhir persiapan visitasi, ada banyak orang di kantor SMA. Bukan hanya staf SMA, tapi juga dari SMP dan SMK. Mereka membantu perispan, bahkan ikut sibuk pada hari H: Mencetak beberapa file yang dibutuhkan agar staf SMA tidak terpecah konsentrasinya ketika sedang menghadapi asesor, sampai menyiapkan makan siang di kelas sebelah. Saya memahami semua ini sebagai makna dari satu kata: ukhuwwah.

Yah, akreditasi telah selesai. Hasilnya belum keluar, tumpukan kertas masih menggunung di meja-meja, dan tugas berikutnya untuk persiapan kenaikan kelas dan ujian nasional tak kalah beratnya. Tapi sekarang, mari kita ucapkan hamdalah sepenuh hati, alhamduliLlah, dan…. Mari nikmati liburan akhir tahun ini!

C’ya next year!!!

05 December 2006

katesiape?

Sudah awal pekan lagi nih, rekans. Semoga rencana awal pekan ini bisa terlaksana dengan lancar, ya.

Mungkin dah banyak yang pada tau, ya, kalau pendidikan dasar dan menengah umum di tanah air kita sedang diusahakan untuk sinambung. Jadi SD kelas I-VI, SMP kelas VII-IX, SMA (kembali ke SMA lagi) kelas X-XII. Penjurusan dimulai di kelas XI.

Kurikulum terbaru sekarang namanya KTSP, yang merupakan singkatan dari KaTeSiaPe. Hehehe, bukan, bukan. Maksudnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Ringkasnya, ini adalah kurikulum yang dibuat sekolah dan disahkan Dinas Pendidikan. Jadi sekolah bisa mendesain kurikulum yang sesuai dengan visi misinya, dengan input yang ada, juga dengan kebutuhan masyarakat lingkungan sekolah.

Ujian nasional kabarnya tidak akan dihapus, malah standarnya dinaikkan. Mengingat kekacauan ujian nasional tahun lalu, kita masih menunggu keputusan mendiknas soal sistem dan mekanisme ujian nasional tahun ini.

Itu sekilas info. Yang jelas, ada banyak hal yang harus diperbincangkan tentang sistem baru ini. Apalagi dalam penerapannya. Mudah-mudahan saja bisa memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Dalam sebuah buku, Hernowo pernah bilang yang kira-kira isinya adalah bahwa kita tidak mungkin merubah sistem. Kita akan putus asa bila ingin merubah sistem. Yang paling penting untuk diubah adalah diri kita. Saya yang bekerja di sekolah setuju dengan pendapat ini. Sistem Pendidikan Nasional, wah, kata-kata itu terlalu tinggi bagi saya. Saya tidak mengerti, belum sampai sana. Yang saya lakukan sekarang adalah berazam untuk berbuat yang terbaik utnuk satuan pendidikan yang terdekat dengan saya, apapun sistem yang diterapkan pemerintah. Begitu.

Sukses ya, semuaaa....

11 November 2006

STANDAR! STANDAR?

“Kita semua harus memiliki standar moral yang ketat!”

Itu yang saya katakan dalam rapat staf. Saat itu sedang dibahas tentang penggunaan ruang serbaguna yang merangkap ruang OSIS dan siapa yang akan memegang kuncinya. Saya tidak ingin ruang itu menjadi salah satu celah masuknya hal-hal negatif di sekolah.

Standar, kata itu yang kemudian terngiang-ngiang malam tadi. Standar. Untuk menetapkan standar bagi pihak lain, jelas kita harus punya standar untuk diri sendiri. Apakah sesuatu sudah berlebihan ataukah masih kurang, atau manakah ukuran yang tepat, semuanya mengenai standar.

Standar di sebuah sekolah tampaknya banyak. Standar bagi moral dan perilaku, standar bagi kualitas pendidikan, standar kedisiplinan, standar nilai kekeluargaan. Standar ini berbeda ketika kita bicara tentang keluarga, atau tentang urusan santri. Standar apa yang saya punya untuk menyikapi semua masalah? Lalu, apakah saya sendiri mencapai standar yang seharusnya?

Menyelesaikan "Menemukan Sekolah yang Membebaskan"

Saya sudah menyelesaikan Menemukan Sekolah yang Membebaskan yang ditulis oleh Komunitas Sekolah Alam. Berkali-kali ketika membaca buku itu, mata saya jadi basah. Basah karena rindu. Ya, ada mimpi di hati ini untuk mewujudkan sekolah ‘yang membebaskan’ di tempat saya mengajar. Sekolah yang membuat anak selalu ingin datang. Sekolah yang tidak memebebani anak dengan bayaran yang mahal atau sumbangan ini itu. Sekolah yang menerima anak seutuhnya, menghargai keunikan mereka dan tidak menggolongkan anak kepada ‘anak pintar’ dan ‘anak bodoh,’ atau ‘anak populer’ dan ‘anak pinggiran.’ Sekolah yang mampu menyalurkan semua ekspresi anak didiknya ke arah yang positif. Sekolah yang membumi, bukan menara gading.

Tapi warna kelabunya bukan hanya karena rindu, tapi juga iri. Pendiri Sekolah Alam bukan cuma punya mimpi dan idealisme, tapi juga punya teman-teman yang sevisi. Orang-orang ini rela mandi keringat, mengorbankan waktu, dan digaji sekedarnya untuk mewujudkan sekolah impian mereka. Dan karena itu saya merasa sendiri. Adakah orang yang bisa saya bagi dengannya tentang mimpi ini di sekitar saya? Orang yang masih rapat terbungkus idealisme dan semangat? Saya belum melihat itu. Memiliki mimpi begini di tengah situasi ini, rasanya sepi.

Rabb, mimpi ini sungguh buncah. Keinginan di hati membanjir. Tapi kami hanyalah hambamu yang dhaif. Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Kau beri nikmat, bukan jalan orang dimurkai dan sesat.

06 November 2006

Panggilan Palsu

“Tuuuuut…..,” ponsel saya berbunyi. Dari siapa ya? Lagi sibuk gendong anak nih. Si kecil memang lagi rewel. Dengan malas saya meraihnya dengan sebelah tangan. Di layar tertulis: sekolah. Duh.

“Halo….”

“Bu, ini Ida,” suara salah seorang TU terdengar di seberang.

“Iya, ada apa, Da?”

“Ada tamu dari dinas.”

“Kan ada guru piket?”

“Lagi keluar.”

Haaaaah….. Keluar ke mana sih? Jadi saya deh yang harus menerima. Mentang-mentang paling dekat dari sekolah.

“Iya, sebentar lagi saya ke sana.”

Saya menoleh ke jam dinding. Sudah masuk waktu ashar. Dengan malas saya bersiap, memakai pakaian dan jilbab yang paling mudah dan cepat dikenakan, membawa apa yang diperlukan, serta menitipkan dua anak yang sedang flu ke orang rumah.

Sudah masuk waktu istirahat ketika saya sampai di gerbang. Lapangan ramai. Keran-keran air di depan masjid diantri oleh para siswa. Sudah sore, mau apa sih orang Dinas (Dinas Pendidikan Kota) datang? Mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya jadi malas kalau ditugasi menerima tamu dari sana. Banyak basa-basi, dan ujung-ujungnya…. Yah, biasalah. Mudah-mudahan kali ini tidak lama.

Begitu sampai di kantor SMA di lantai dua, saya langsung membuka pintu. Dan…. Jreeeeeng! Kantor yang kecil itu penuh! Ada guru-guru, petugas-petugas TU, penjaga perpus, sampai petugas kebersihan. Tak lama sebuah black forest datang. Lhoooo, jadi mana orang dinasnya niiiih? Ternyata panggilannya palsu!

Lalu doa dipanjatkan sama-sama, dipimpin oleh Pak Sukron, guru agama. “Haajaatunaa ilaika katsiir, rabbi yassir kulla ‘asiir…” Kalimat itu masuk sekali ke dalam hati saya. Sungguh memang banyak sekali yang masih saya cita-citakan, untuk diri, keluarga, juga pekerjaan saya. Belum terwujudnya keinginan itu, membuat sadar bahwa kita hanyalah hamba yang lemah. Hanya kepadaNya kita menyembah dan kepadaNya kita minta pertolongan.

“Ayo, Bu, tiup lilinnya!”

Lho, ada lilin segala?

“Saya lagi flu. Kalau pake lilin, nanti kumannya kena kue. Ketularan lho!”

Jadi kuenya saja segera dipotong. Maka dengan pisau dapur yang besarnya agak mengerikan (apa mungkin punya Mpok Mela, yang jualan es kelapa?), kuenya saya potong. Potongan pertama diberi ke Pak Hilal. Dia wakil kepala sekolah sekaligus adik ibu saya paling bontot. Memang agak nepotisme sedikit nih.

O ya, ayo foto-foto! Tapi tak ada yang bawa kamera. Yah, pakai ponsel saja. Satu mengambil gambar saya depan kue, belasan lainnya menjepret para staf yang kebanyakan masih muda. Lho?

Acaranya cuma berlangsung setengah jam. Tak lama, tapi kesannya amat membekas. Ini kali pertama ulang tahun saya dirayakan sejak umur saya enam atau tujuh tahun. Ini kali pertama juga saya mendapat kejutan seperti itu. Kejutannya bertambah waktu saya tahu kalau kuenya dibuat sendiri oleh TU. Sepanjang jalan kembali ke rumah, bibir saya terus melebar, tak mau dirapatkan.

“AlhamduliLlah, terima kasih ya Allah, atas keluarga lain yang kau berikan di sebuah tempat di mana kuletakkan sebagian mimpiku….”

05 November 2006

Nama Saya Irmayanti

Nama saya Irmayanti. Hanya Irmayanti, seperti yang tertulis di akte kelahiran. Tapi ayah saya suka ngambek kalau namanya tidak ikut tercantum. Jadilah nama saya Irmayanti Nugraha. Saya lahir di Jakarta dari ibu asli Betawi dan Ayah asli Sunda. Saya sendiri selalu mengaku orang Betawi, karena itulah budaya yang melingkupi saya sejak kecil. Pan malu kalo ngaku orang Sunda tapi kagak bisa ngomong Sunda. Orang-orang seringkali menyangka saya anak bontot, padahal saya sulung dari tiga orang adik yang kesemuanya laki-laki. Adik saya yang terakhir lahir ketika saya berusia 19 tahun. Kelahirannya memberi kesempatan training mengurus anak pada saya.

Pengumuman UMPTN yang memberi kabar bahwa saya di terima di Sastra Arab UI tidak saya terima terlalu antusias. Bukannya tidak bersyukur, tapi saya sudah belajar Bahasa Arab sejak kelas satu SD sampai kelas tiga Aliyah. Juga bukan sombong, hanya saja bosan. Dan seperti yang saya duga, mata kuliah Kemahiran Bahasa sebagian besar hanya mengulang apa yang saya telah pelajari. Berangkat dari kejenuhan, saya memutuskan untuk mengambil kuliah dobel di malam hari. Pilihan saya jatuh pada Prodip Akuntansi Syariah di Shariah Economics and Banking Institute (SEBI), Ciputat.

Ketika IP semester pertama di SEBI saya terima, saya cukup terkejut melihat nilai Ekonomi Mikro yang hanya mendapat B. Bagaimanapun, sedikit su'udzan pada dosen yang mengajar mata kuliah tersebut terlanjur muncul tanpa bisa dicegah. Hal ini saya ceritakan pada seorang teman, yang ternyata menyampaikannya pada dosen yang bersangkutan. Dosen tersebut, Ledi Trialdi, sekarang menjadi ayah dari Dhiya Fissilmie dan Dhiya Alannafs.

Dhiya Fissilmie lahir di Jakarta tahun 2003, tidak lama setelah saya diwisuda. Ayahnya, yang sejak dia berusia dua bulan dalam kandungan sudah berangkat mengambil S2 di Jepang, alhamduliLlah dapat hadir mengazankannya. Tiga bulan berselang, Dhifie, begitu ia dipanggil, bersama saya menempuh perjalanan udara 10 jam menyusul ayahnya, dan tinggal di Jepang hingga usianya setahun dua bulan. Dhiya Alannafs lahir tiga tahun setelahnya. Kami sudah pulang ke Indonesia dan tinggal di Ciledug, Tangerang. Saat ini saya menyambi pekerjaan rumah tangga dengan mengajar di sebuah SMA swasta dekat rumah.

Hidup memang penuh kejutan. Pada satu titik, saya menyadari bahwa semua yang terjadi adalah skenario Allah. Sekarang saya malah bersyukur diterima di Sastra Arab UI. Syukur yang akhirnya menghapus penyesalan-penyesalan lainnya di belakang. Kalaupun ada jalan lain yang bisa saya tempuh, saya tetap percaya bahwa jalan ini yang terbaik. Jalan di mana semua potensi yang ada termaksimalkan dalam membentuk sebuah harmoni bernama: hidup saya. Sekarang saya bahagia.