25 February 2012

REVOLUSI KEBAIKAN

"Buat apa sih?"

Pertanyaan itu sering mengganggu saya ketika membuka silabus kurikulum. "Materi sampai sebanyak ini, untuk apa sih dipelajari?" Kalau 20% saja dari semua hal yang kita hapalkan mati-matian untuk ujian selama sekolah masih tersisa di kepala, itu saja sudah amat beruntung.

Bukan bermaksud sombong, tapi rasanya saya sudah cukup bahagia dan bersyukur dengan hidup saya sekarang. Menjalankan peran saya sebagai istri dan ibu, bahkan menjalankan profesi sebagai guru pun, saya sama sekali tak menggunakan silsilah raja-raja Singosari, atau logaritma, atau rantai karbon, atau grafik supply-demand, atau butir-butir Pancasila. Tidak.

Jadi semua beban yang membuat anak-anak kita jadi bungkuk ini, untuk apa sih?

Untuk mempersiapkan masa depan, tapi entah mempersiapkan diri menghadapi apa. Untruk mempelajari minat dan bakat diri, tapi bagaimana mungkin bisa tau minat diri kalau nantinya semua nilai mata pelajaran di rapor harus di atas tujuh semua (lihat kriteria kelulusan UN yang baru).

Saya kemudian menemukan satu kalimat indah di situs milik Ines Setiawan, guru dan aktivis pendidikan. Katanya: "Me as Teacher: Creating just 1% scientist and 99% happy, fulfilled, content and loving human being."

Benar, kita harus tentukan apa yang penting dalam pendidikan, dan selalu, selalu saja manusia yang lebih penting. Ketika harus memilih, mengejar kurikulum atau membangun jiwa dan akal budi anak-anak ini, kita tahu apa yang kita harus dahulukan.

Beberapa hari yang lalu, saya membuka kelas dengan evaluasi diri. Saya meminta anak kelas XI untuk mengevaluasi dirinya di tengah tahun ini, berefleksi tentang apa yang terjadi pada mereka selama 6 bulan duduk di kelas 2 SMA. Mereka tidak boleh membiarkan masa-masa berharga ini lewat begitu saja lalu menghilang tanpa jejak, tanpa kesadaran atas perubahan dalam diri dan lingkungan.

Beberapa kertas masih menyisakan pesimisme dan menyatakan tak ada yang berubah, masih sama 'menyedihkan' seperti sebelumnya ^^;, tapi yang lain terlihat menemukan secercah cahaya. Dan inilah beberapa kertas yang membuat saya terharu:



"Setelah enam bulan saya merasa ada perubahan. Sebelumnya saya males, boros dan pendiam. Semuanya berubah meskipun perubahannya tidak total. Dan saya banyak sekali mendapatkan motivasi-motivasi dari orang lain. Semoga dengan motivasi-motivasi itu saya bisa menjadi lebih baik lagi."




"Selama ini saya memang biasa-biasa saja, tetapi saya ingin lebih-lebih baik. Selalu beri kesehatan untuk saya dan kedua orang tua saya, amiiin... Mudah-mudahan apa-apa yang diajarkan guru-guru selalu bermanfaat untuk saya, amin..."




"Di kelas dua ini saya banyak berubah, terutama di absensi saya. Saya mau seperti ini sampai lulus. Dan di kelas 2 ini saya senang bermain film yang karakternya hampir sama dengan saya. Yang penting saya mau belajar menghargai orang lain."




"Saya berubah banget... lebih menyadari diri sendiri dan ada kemauan hidup penuh dengan arti... semakin berpikiran panjang dan positif..... REVOLUSI KEBAIKAN."


Mengapa saya mengajar? Mengapa mereka belajar? Untuk mendapat nilaikah? Untuk lulus Ujian Nasional? Untuk menghasilkan selembar ijasah? Terserahlah, terserah apa yang dituntut sistem ini dari kita. Terseraaaah.... Tapi selamanya, mendorong, membantu, dan mendampingi anak-anak ini menapaki jalan dan mencari arah menuju kebaikan, itulah alasan kenapa kita ada di sini.


Status Nengirma: "Alhamdulillah, bahagiaaa...."

MEMBERI INSPIRASI



Jantung saya berdebar memandang gerbangnya. Ribuan ingatan mendesak di kepala, berebut ingin lebih dulu diingat, tentang tiga tahun berisi romansa masa muda.


Beberapa langkah dari sana, beberapa siswa berbaju batik sedang berwudhu. Rupanya sekarang wajib shalat berjamaah yah. Saya tersenyum melihat motif batik yang saya kenal, merasa pernah mengenakan seraham itu juga, kira-kira mulai enam belas tahun yang lalu sampai tiga tahun setelah itu.

Waw, sekarang ada pos satpam.... Beberapa bagian fisik sekolah ini telah berubah, tapi banyak hal masih di tempatnya. Agak aneh membayangkan bahwa ribuan orang pernah belajar, lalu lulus, bertambah tua dan menyebar melanglang dunia. Tapi tempat ini tetap di sini, setia.


"Ada memori di tiap ubinnya, juga butir debu-debunya...."

Seorang siswa mengantar saya ke ruang guru. Banyak wajah yang asing, tentu saja. Tapi yang kemudian datang tak salah lagi: Ibu Ida Idris.

"Eh, Norma, ya?"



Saya tertawa, Bu Ida menyebut nama ibu saya, sebelum akhirnya beliau mengingat nama salah satu muridnya ini.

Kami mengobrol panjang, membuka halaman-halaman foto masa sekolah yang saya bawa, dan menggali kenangan-kenangan.


Kepala sekolah sudah berganti, ada guru yang sudah dipanggilNya, beberapa hal berubah, tapi Bang Manih masih di sana ^_^;

Setelah belasan tahun, akhirnya saya datang lagi. Untuk melapor pada Bu Ida:

"Saya sudah jadi guru, Bu. Dan kata-kata Ibu benar, menjadi guru itu luar biasa. Saya bangga dan bahagia jadi guru. Dari hati paling dalam, terima kasih."


Salah satu siswa saya sekarang menjadi guru. Kenyataan bahwa saya mendapat inspirasi dari para guru saya, membuat hal ini jadi terpikirkan: saya juga mungkin bisa menginspirasi seseorang.

Dan profesi ini jadi terasa semakin berarti.

24 February 2012

Children Learn What They Live

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.

If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.

If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.

If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.

If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.


By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

Selalu antara Engkau dan Tuhan

Orang kerap kali tak bernalar, tak logis dan egois
... Biar begitu, ma'afkanlah mereka

Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois
... Biar begitu, tetaplah bersikap baik

Bila engkau jujur dan berterus terang, orang akan menipumu
...B iar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang

Bila engkau sukses, engkau akan mendapati teman-teman palsu dan dan teman-teman sejati
... Biar begitu, tetaplah meraih sukses

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam
... Biar begitu, tetaplah membangun

Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki
... Biar begitu, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya
... Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan

Kau telah beri pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup
... Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik

Ketahuilah, pada akhirnya
Sesungguhnya ini semua adalah antara engkau dan Tuhan
Tidak pernah antara engkau dan mereka


(Bunda Theresa)

18 February 2012

SURAT UNTUK GURU ANAKKU

Guru yang terhormat,

Anakku akan belajar, tentu saja,
bahwa tak semua orang itu adil, tak semua orang benar.
Tapi ajarkanlah padanya,
bahwa meski bajingan memang ada, tapi pahlawan juga nyata,
meski politisi yang egois memang ada, tapi pemimpin yang berdedikasi juga nyata,
Ajarkan padanya, bahwa meski musuh memang ada, tapi kawan juga nyata.
Biarkan dia segera belajar,
bahwa penindas adalah orang yang paling gampang di'jilat'.

Ajari dia, wahai Guru, keajaiban buku-buku,
tapi berikan juga waktu padanya
merenungi misteri abadi tentang burung di langit,
lebah melintasi matahari, dan bebungaan di lereng bukit.

Di sekolah ini, ajarkan pada anakku,
bahwa gagal jauh lebih terhormat dibanding curang.
Ajarkan dia untuk percaya pada ide-idenya sendiri,
meski semua orang berkata bahwa dia salah.
Ajarkan dia untuk berlaku lembut pada mereka yang lembut,
tapi tegas pada mereka yang keras.

Cobalah berikan pada anakku,
kekuatan untuk tidak ikut-ikutan,
ketika semua orang naik 'kendaraan' yang sama.
Ajari dia untuk mendengarkan semua orang,
tapi didik dia supaya memfilter semua yang dia dengar
dengan 'saringan kebenaran',
hingga hanya yang baik yang akan dia pilih.

Ajari anakku, wahai Guru,
cara tertawa ketika sedang sedih.
Ajari dia bahwa airmata bukan sesuatu yang memalukan.
Ajari dia untuk menjauhi kesinisan,
dan berhati-hati pada mulut yang terlalu manis.

Ajari dia agar menjual otot dan otaknya
hanya pada penawar tertinggi,
tapi didik dia agar jangan pernah
meletakkan bandrol harga pada hati dan jiwanya.

Ajari dia untuk menutup kuping pada teriakan orang-orang,
dan berdiri melawan jika dia berpendapat benar.
Perlakukan dia dengan lembut, tapi jangan manjakan dia.
karena hanya api yang bisa membuat baja jadi berkualitas.

Biarkan anakku memiliki keberanian untuk jadi 'tidak sabaran'.
Biarkan dia punya kesabaran untuk bisa 'berani'.
Ajarkan dia untuk selalu memiliki iman yang agung dalam dirinya,
karena dengan demikian dia akan memiliki keyakinan luhur pada kemanusiaan.

Ini permintaan besar, o Guru, aku tahu.
Tapi kita lihat saja apa yang bisa dilakukan.
Karena dia bocah kecil
yang sungguh baik,
anakku.


-Abraham Lincoln-



http://www.youtube.com/watch?v=z-yuQKi-bdo&feature=player_embedded

15 February 2012

YUK, LOMPAT SAMA-SAMA!

Berikut hasil PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2006-2007 yang diadakan OECD.

KOMPETENSI MATEMATIKA

Skor Tertinggi
1. Hongkong-Cina
2. Finlandia
3. Korea Selatan
4. Belanda
5. Liechtenstein

Skor Terendah
1. Brazil
2. Tunisia
3. Indonesia
4. Meksiko
5. Thailand

KOMPETENSI MEMBACA

Skor Tertinggi
1. Finlandia
2. Korea Selatan
3. Kanada
4. Australia
5. Liechtenstein

Skor Terendah
1. Tunisia
2. Indonesia
3. Meksiko
4. Brazil
5. Serbia

KOMPETENSI SAINS

Skor Tertinggi
1. Finlandia
2. Jepang
3. Hongkong-Cina
4. Korea Selatan
5. Liechtenstein

Skor Terendah
1. Tunisia
2. Brazil
3. Indonesia
4. Meksiko
5. Thailand

KOMPETENSI PROBLEM SOLVING

Skor Tertinggi
1. Korea Selatan
2. Hongkong-Cina
3. Finlandis
4. Jepang
5. Selandia Baru

Skor Terendah
1. Tunisia
2. Indonesia
3. Brazil
4. Meksiko
5. Turki

SKOR TOTAL:
Negara dengan kualitas pendidikan terbaik: FINLANDIA.

INDONESIA? Keempat dari bawah ^_^;
Cukup menarik karena kalau kita lihat jumlah pelajaran Matematika di Indonesia rata-rata mencapai 70 menit seminggu, sedang Hongkokng-Cina rata-rata hanya 41 menit, Belanda hanya 45 menit, dan Jepang hanya 50 menit.

Salah di mana, hayoooooo?

Biarlah masalah kebijakan dan sistem diurusi pemerintah. Saya sendiri sudah cape ngomel ngeluh mengutuk sistem. Sekarang ayo kita lihat apa yang bisa kita perbuat.

Saya sebagai guru merasa bisa berbuat sesuatu dengan mengikuti pelatihan dan terus belajar, agar kualitas mengajar saya lebih baik. Meski ga mungkin ngaruh pada hasil PISA, tapi barangkali ngaruh pada hidup beberapa orang.

Saya sebagai ibu ingin mengusahakan agar anak-anak saya tidak hanya menghapal, tapi paham konsep, bisa mengaplikasikan, memecahkan masalah, dan membuat produk bermanfaat. Bukan nilai atau gengsi yang dikejar, bukan selembar ijasah atau gelar semu yang dituju.

Anak Indonesia banyak banget, saya ga sanggup ngurus semuanya. Tapi anak sendiri insya Allah akan berusaha sampai titik darah penghabisan.

YUK, KITA LOMPAT SAMA-SAMA.
Semangaaaaaat!!! \ ^ o ^ /

12 February 2012

GURUNYA LAGI MALES?

Ceritanya saya upload salah satu foto kelas saya di Facebook, dengan komentar: "Ini bukan jam kosong (yaealah, ini gurunya lagi moto2)."

Terus salah satu kontak komen, "Gurunya lagi bete."

Saya membantah, "Nggak kok, gurunya lagi hepi."

Et dah dia masih keukeuh, "Lagi malez..."

Memang kadang hal ini terjadi di kelas. Saya memang ditinggal sendirian di depan, iseng juga karena ga bawa buku, jadi kadang foto-fotoin anak-anak yang lagi seliweran. Tapi saya tidak sedang bete, tidak juga sedang males. Kalau guru sudah sibuk (= mempersiapkan aktivitas mandiri untuk siswa), maka seringkali dia kelihatan santai di kelas.

Hehehehe, bukannya sewot sih atas komentar my dear friend di FB itu, tapi memang ga asik kalo kita mudah menilai dari luar (sedang mengingatkan diri sendiri). Kelas saya biasanya berisik, anak-anak seliweran, tapi bukan berarti kami sedang tidak belajar.

Tapi gaya saya ini biasanya belum dipahami oleh anak kelas X, kelas paling muda. Bila saya keluar pakem sedikit saja, mereka sudah menganggapnya "Kita boleh main, Bu Irma ga ngasih pelajaran hari ini!" Alhasil, kelas jadi ribut sekali. Beberapa malah pernah nongkrong di koridor, sampai saya harus menjelaskan, bahwa apapun yang saya lakukan, makan comro atau menggunting-lipat-gaya-anak-tk, semuanya termasuk belajar, punya tujuan, dan berlandaskan teori.

Biasanya, anak kelas XI sudah terbiasa hingga kelas berjalan lancar. Di kelas XII apalagi, karena mereka belajar dengan portofolio, bukan buku catatan biasa, maka belajar-gaya-anak-tk dan belajar-sambil-makan sepertinya sudah jadi kebiasaan.

29 January 2012

KOWAWA! ^o^

Ga ada hubungannya dengan apa yang lagi ngetrend di twitter atau kaskus, karena saya kepingin cerita tentang pertemuan dengan salah satu alumni yang pernah saya ajar.

Tadi siang anak-anak minta main di playground CBD Ciledug. kami berangkat tanpa suami karena sedang dinas ke luar kota. Pulangnya lapar, tapi saya malas masak, seperti biasa ^_^;. Jadi kami mapir ke restoran siap saji A&W.

Salah seorang waiter menyapa, yang ternyata adalah alumni yang pernah saya ajar. Tentu saja saya hapal padanya, syukurlah saya mengajar di sekolah kecil. Jadi semua alumni saya kenal, insya Allah. Kami ngobrol sebentar, eh pulangnya dibekeli waffle dan es krim. Alhamdulillah.... Tapi saya rada sungkan nih makan di sini lagi, khawatir dibekelin, hihihihi...

Lulusan sekolah kami memang hanya 3-4 orang yang melanjutkan kuliah. Yang lain bekerja, dan paling banyak menjadi SPG/waiter. Yah, meski ada juga yang jadi cabin crew, tapi kan sebenernya waiter juga, cuma di airlines ^_^.

Tapi saya bangga pada mereka. Harapan saya pada mereka bukanlah kuliah, tapi mandiri. Kenapa mandiri yang paling awal? Karena saya tau sekali kondisi ekonomi keluarga mereka. Jadi kalau ada yang dapat pekerjaan sebagai kuli cuci-setrika atau office boy, saya sarankan untuk diambil.

Setelah itu barulah mengembangkan diri. Ya siapa sih yang mau jadi pesuruh selamanya. Cara mengembangkan diri ini banyak, kuliah, kursus, atau otodidak, yang penting tak berhenti meningkatkan kualitas diri, a.k.a belajar.

Tapi memang harapan ini meninggalkan rasa sedih dan penyesalan di hati. Pasalnya, saya merasa anak-anak ini tak cukup dibekali ketika di sekolah. Dijejali pelajaran segitu banyaknya, tapi hampir tidak mendapat bekal untuk mandiri dan tidak diarahkan jadi pecinta belajar.

Ketika saya ceritakan pertemuan ini dengan beberapa teman, mereka mendokan, "Semoga jadi manager."

Saya mengaminkan sepenuh hati, sambil merasa cemas, apakah dia sudah punya kemampuan mengembangkan diri hingga level manager. Ah, mudah-mudahan saja.

Yang pasti saya sendiri ikut dengan beberapa teman lain yang ikut menyemangati, "Kowawaaaa!!!" (^o^)/

25 January 2012

GOOD TEACHING

GOOD TEACHING: THE TOP TEN REQUIREMENTS
By Richard Leblanc, York University, Ontario
This article appeared in The Teaching Professor after Professor Leblanc won a Seymous Schulich Award for Teaching Excellence including a $10,000 cash award. Reprinted here with permission of Professor Leblanc, October 8, 1998.

One. Good teaching is as much about passion as it is about reason. It's about not only motivating students to learn, but teaching them how to learn, and doing so in a manner that is relevant, meaningful, and memorable. It's about caring for your craft, having a passion for it, and conveying that passion to everyone, most importantly to your students.

Two. Good teaching is about substance and treating students as consumers of knowledge. It's about doing your best to keep on top of your field, reading sources, inside and outside of your areas of expertise, and being at the leading edge as often as possible. But knowledge is not confined to scholarly journals. Good teaching is also about bridging the gap between theory and practice. It's about leaving the ivory tower and immersing oneself in the field, talking to, consulting with, and assisting practitioners, and liaisoning with their communities.

Three. Good teaching is about listening, questioning, being responsive, and remembering that each student and class is different. It's about eliciting responses and developing the oral communication skills of the quiet students. It's about pushing students to excel; at the same time, it's about being human, respecting others, and being professional at all times.

Four. Good teaching is about not always having a fixed agenda and being rigid, but being flexible, fluid, experimenting, and having the confidence to react and adjust to changing circumstances. It's about getting only 10 percent of what you wanted to do in a class done and still feeling good. It's about deviating from the course syllabus or lecture schedule easily when there is more and better learning elsewhere. Good teaching is about the creative balance between being an authoritarian dictator on the one hand and a pushover on the other.

Five. Good teaching is also about style. Should good teaching be entertaining? You bet! Does this mean that it lacks in substance? Not a chance! Effective teaching is not about being locked with both hands glued to a podium or having your eyes fixated on a slide projector while you drone on. Good teachers work the room and every student in it. They realize that they are the conductors and the class is the orchestra. All students play different instruments and at varying proficiencies.

Six. This is very important -- good teaching is about humor. It's about being self-deprecating and not taking yourself too seriously. It's often about making innocuous jokes, mostly at your own expense, so that the ice breaks and students learn in a more relaxed atmosphere where you, like them, are human with your own share of faults and shortcomings.

Seven. Good teaching is about caring, nurturing, and developing minds and talents. It's about devoting time, often invisible, to every student. It's also about the thankless hours of grading, designing or redesigning courses, and preparing materials to still further enhance instruction.

Eight. Good teaching is supported by strong and visionary leadership, and very tangible institutional support -- resources, personnel, and funds. Good teaching is continually reinforced by an overarching vision that transcends the entire organization -- from full professors to part-time instructors -- and is reflected in what is said, but more importantly by what is done.

Nine. Good teaching is about mentoring between senior and junior faculty, teamwork, and being recognized and promoted by one's peers. Effective teaching should also be rewarded, and poor teaching needs to be remediated through training and development programs.

Ten. At the end of the day, good teaching is about having fun, experiencing pleasure and intrinsic rewards ... like locking eyes with a student in the back row and seeing the synapses and neurons connecting, thoughts being formed, the person becoming better, and a smile cracking across a face as learning all of a sudden happens. Good teachers practice their craft not for the money or because they have to, but because they truly enjoy it and because they want to. Good teachers couldn't imagine doing anything else.


http://www2.honolulu.hawaii.edu/facdev/guidebk/teachtip/topten.htm

10 January 2012

JANGAN MATRE!

Sekarang ini, sekolah mahal mah di mana-mana, ga negeri ga swasta. Kenapa mahal? Hayooooo, kenapa coba?

Saya setuju kalau biaya sekolah mahal karena kita harus mengurangi jumlah anak dalam satu kelas. Saya setuju jika sekolah mahal karena harus membayar tenaga lebih banyak guru, atau menaikkan gaji guru agar lebih fokus mengajar. Saya setuju kalau biaya mahal jika kualitas pendidikan memang jempolan, karena untuk itu pasti perlu biaya besar..

Tapi apakah yang disebut jempolan itu?

Apakah kalau ada in focus dan sound system di setiap ruangan berarti kualitasnya jempolan? Apakah kalau fieldtrip ke luar negeri berarti kualitasnya jempolan? Apakah karena ruang ber-AC, ada CCTV, anak pakai laptop, terus artinya jempolan? Bahkan, jikapun perpustakaannya digital, koleksi bukunya ratusan ribu, ada pohon Baobab boleh impor dari Afrika (kayaknya pernah denger kasusnya di manaaaaa gitu ^_~v), apa kualitasnya jadi jempolan?

Karena kualitas sekolah dilihat dari bagaimanan PROSES PEMBELAJARAN, bukan fasilitas yang tersedia.

Tempo hari saya mewakili ibu mengambilkan rapor adik yang sekarang kelas 1 SMP. Di tembok ada tempelan-tempelan tugas siswa, dibuat dari karton berwarna. Isinya ringkasan pelajaran yang dibuat kelompok.


Sebelumnya saya mau istighfar dulu, karena bukan maksud saya untuk tidak menghargai usaha guru yang memberikan tugas ini. Mudah-mudahan ini bisa jadi bahan diskusi kita saja, karena segala hal tentu perlu evaluasi.

Begini maksud saya. Karton berwarna yang ditempel di dinding itu adalah fasilitasnya. Tapi mari kita cermati proses pembelajarannya. Ringkasan ditulis dengan huruf kecil-kecil yang hampir tidak terbaca, hingga penempatannya di dinding kelas sama sekali tidak berpengaruh pada pembelajaran. Perhatikan jjuga bagaimana cara informasi tersebut dituliskan, amat bookish dan tidak melatih keterampilan berpikir anak. Meski tentu saja kita akui, bahwa mungkin ada unsur kerja sama yang hadir di sini.

Ketika datang ke sebuah SMAN di Tangerang, saya dibuat terpesona oleh layar lebar nan tipis sebuah LCD TV yang terpampang di depan ruang guru. Kenapa terpesona? Karena fungsinya hanya menampilkan jadwal pelajaran tiap kelas bergantian. Sayang sekali, IMHO, karena kalau hanya menampilkan jadwal, pakai mading juga bisa.

LCD TV itu berapa ya, harganya? Kalau dijual terus dijadikan biaya pelatihan guru, mungkin akan lebih nyata hasilnya dengan kualitas pembelajaran. Ah, tapi mungkin saja TV itu bantuan pemerintah yah, jadi ga bisa dijual ^_^;.

Jadi begitu kira-kira contoh kecilnya. Meskipun fasilitas sekolah lengkap dan mewah, ada kalanya hal itu tidak memiliki arti yang signifikan bagi pendidikan anak-anak kita. Karena bagaimana fasilitas itu digunakanlah yang akan menentukan mutu pendidikan yang ditawarkan sekolah.

Apalagi, apalagi nih ya.... Orang tua siswalah yang harus MEMBAYAR segala fasilitas yang belum tentu signifikan itu!

Seorang ibu pernah bercita-cita agar anaknya masuk SMPN percontohan di wilayah Jakarta Selatan. Sekolah ini sistemnya berbasis internet. Nilai dipublish lewat internet, orang tua bisa melihat tunggakan spp atau kegiatan anak lewat internet, tugas disubmit lewat internet, ada hotspot di sekolah, dll.

Ketika itu saya berpikir, mudah-mudahan si ibu juga melihat bagaimana cara guru di sekolah itu memanfaatkan internet itu untuk pembelajaran, dan bukan sekedar 'kerennya doang'.

Banyak sekolah sekarang sudah menyediakan peralatan multimedia di kelas. Apakah kualitas pembelajaran jadi meningkat? Di berbagai forum guru banyak ditemukan keluhan bahwa guru sekarang mengajar dengan power point, tapi sebenernya di kelas cuma mengklik tetikus membacakan isi slide. Selebihnya sama saja: kerjakan soal, koreksi bersama, sudah.

Yang parah, kalo siswanya berani nyombong kalo sekolahnya keren karena tiap kelas ada AC dan in focus.

Bagaimana dengan meningkatkan kemampuan menganalisis, memecahkan masalah, mencari solusi, menemukan hubungan, mengkritiisi, berpendapat, kolaborasi, atau paling tidak, BERGEMBIRA ketika belajar?

Jadi, mari jangan matre. Materialistis, alias gandrung pada benda. Baik guru, siswa, orang tua, semua JANGAN MATRE!

08 January 2012

CERITA TIGA SISWA SAYA

Ini cerita tentang tiga mantan siswa saya.

Yang pertama adalah siswa yang pernah saya ceritakan di sini. Waktu sekolah, semua menyerah menanganinya, meski akhirnya dia ikut UN dan lulus. Yang kedua siswa perempuan, lemah dalam semua mata pelajaran. Yang ketiga siswa tukang rusuh, poin pelanggarannya mengular di buku laporan. Tapi seperti yang pertama, dua siswa yang belakangan ini juga lulus UN.

(by the way, lulus UN sekarang ini sama sekali TIDAK membuktikan apa-apa, percayalah!)

Kenapa kemudian saya ceritakan di sini? Karena status Facebook mereka.

Yang pertama dulu pernah membuat saya yakin akan kekurangannya dalam sosialisasi. Tapi status Facebook yang dia pasang sekarang menyalahi pendapat saya. Anak ini kerap menulis dengan nada gembira tentang hang out bersama teman-teman.

Status lainnya membuat saya mengira dan bertanya-tanya, apakah benar dia bergabung dalam sebuah tim yang mengikuti lomba resmi antar gamers online? Kalau ya, berarti dia sebenarnya tak memiliki masalah dengan sosialisasi. Hanya saja, tidak menemukan 'klik' ketika berteman di sekolah.

Yang kedua adalah siswa perempuan saya. Bertahun-tahun ia mengalami masalah dengan kepercayaan diri, mungkin berhubungan dengan berat badannya. Dulu ia benar-benar lemah dalam semua mata pelajaran. Sekarang dia menulis status dalam bahasa Korea.

Saya jadi teringat film mini seri Friends, yang diproduksi bersama antara Jepang dan Korea, menyambut Piala Dunia 2002 yang diselenggarakan di Jepang-Korea.

Ceritanya tentang Tomoko, seorang gadis Jepang, SPG di sebuah dept. store berkunjung ke Hongkong dan bertemu dengan pemuda Korea, Ji Hoon, seorang pembuat film indie. Tomoko kemudian belajar bahasa Korea, agar dapat membalas e-mail Ji Hoon. Belakangan hubungan mereka tak berjalan lancar, namun ketika ditanya apa akan berhenti belajar bahasa Korea, dia menggeleng. "Soalnya aku SUKA bahasa Korea. Dulu waktu sekolah ga pernah merasa SENANG BELAJAR seperti ini."

Akhirnya Tomoko yang hanya lulus SMA ini mengambil sertifikasi bahasa Korea, melamar di biro travel, lalu bekerja di luar negeri. Maksudnya apa? Saya ingin mengatakan bahwa apapun motivasi awalnya, tapi menemukan kesenangan belajar karena kita memiliki minat pada sesuatu adalah hal yang sangat baik.

Sekarang siswa yang ketiga. Saya menemukan ia mengunggah hasil lukisannya di Facebook. Di atas kanvas dengan cat air. Judulnya, "Relaaax...."

LUKISAN?

O Tuhan, saya menjadi gurunya selama 3 tahun, dan hanya mengenalnya sebagai trouble maker, sama sekali saya tidak tahu bahwa ia memiliki minat pada lukisan. Sekarang saya amat bahagia tiap kali dia mengunggah fotonya di tempat kerja. Ia terlihat bahagia, dengan gaya pakaian khas pekerja kreatif di dunia desain, topi gatsby kotak-kotak dan rompi jeans.

Jadi, saya merasa bersalah. Anak-anak ini diberi sesuatu yang bukan minat mereka, seringkali dalam kondisi yang tidak nyaman, lalu mereka dites dalam hal yang tidak mereka sukai, dan kita menghakimi mereka lewat hasil itu.

Tapi bagaimanapun, saya guru sekolah formal. Ada kurikulum yang mesti diikuti. Bagaimana mungkin sekolah memfasilitasi minat anak pada game online, atau belajar (hanya) bahasa Korea (yang mana bukan bahasa asing pilihan resmi dalam kurikulum Indonesia), atau melukis?

Ah, bagaimana ini sebaiknya?

16 December 2011

SEMBURAT SEMANGAT

Pagi ini suami ada di rumah, jadi saya tenang meninggalkan anak-anak untuk rapat evaluasi di sekolah. Saya memilih sepatu 12 senti, agar jalan saya tegak (karena ga bisa pakai high heels dengan badan bungkuk, percayalah ^_^;), siapa tau semangat bisa ikut membumbung.

Ternyata baik juga liburan barang sebentar itu. Waktu ternyata obat yang mujarab untuk banyak masalah (kecuali masalah usia ^_^). Setelah Sabtu tarik urat dengan bapak kepala sekolah negeri anu, dan hari Selasa tarik urat lagi sama rekan kerja sekantor by phone, hari ini semua alhamdulillah membaik. FB juga mulai adem...

Dalam waktu satu jam, manajemen berhasil mengumpulkan lebih dari 20 masalah pokok beserta para anak-cucunya. O ini amat bagus, karena berarti kita bisa melakukan sesuatu mulai sekarang. Satu persatu dibahas, dicarikan solusi atau alternatif, untuk kemudian dicobakan.

Dan di saat memperhatikan rekan-rekan kerja yang tengah berbicara itulah, semangat saya tumbuh. Bukan karena high heels ^_^;.

Mereka masih muda, dan bau idealisme masih menguar. Kadang memang terbentur dinding, terjebak dalam kubangan lumpur, dan harus menyerah pada kondisi. Kami bukan orang-orang yang bersih 100%, tapi tetap berusaha di celah yang tersisa, dan tak pernah mengambil keuntungan di luar apa yang ditetapkan oleh yayasan dan pemerintah. Biarlah Allah menilai sisanya.

Pulang sempat buka Facebook dan menemukan status dari salah seorang siswa saya, Arief, kelas XII SMA (maafkan atas ke-alay-an yang mungkin terjadi ^_~v):



sbnr'a bwt ap si bljar MTK paling yg d'pakai cmn tambah, kali, kurng dan bagi dlm kehidupan sehari"

tapi stlah w dpt tugas d'suruh nyari manfaat tntng manfaat MTK dlm k'hidupan w br'fikir manfaat utama'a yaitu agar manusia belajar dan terus ber'fikir d'dalam proses ber'fikir itu kita akan mendapatkan manfaat" yg sebenarnya sangat penting untuk kehidupan kita. Membuat kita lebih cerdas, lebih tanggap, lebih kreatif dlm menyelesaikan masalah dan juga dgn bljr MTK kita mendapatkan pljrn tntng bgaimna caranya mnyelesaikan mslah dengn mnggunakan logika kita, trus-menerus mncoba/pantang menyerah yang mungkin saja dapat kita alami karena semakin banyak belajar maka semakin banyak ilmu sekaligus pengetahuan yg kita dapat


trnyata selama ini w salah mnilai mnfaat MTK tp berkat tugas dr bu Ikhda Sarkilah w jd mmpunyai pemikiran yg br'beda thanks bu atas tugasnya


Mba Gita Lovusa komentar: "Guru keren ketemu murid keren!" Dan saya setuju, karena bahagia berteman dengan Bu Ikhda dan punya murid seperti Arif.

Sekolah kami ga punya banyak uang. Kalau punya kepingin, biasanya mentok sana sini karena kurang uang kurang orang kurang barang. Tapi dibanding dengan dana yang melimpah, saya lebih memilih rekan-rekan kerja yang sevisi dan mau berjuang.

Yuk, kita mulai jalan lagi.
\ ( ^ o ^ ) /

17 November 2011

SEKOLAH ITU BAIK, KALAU....

Sekolah itu baik, ...

... kalau jadwal kegiatan hariannya tidak kaku (45 menit untuk ini, 45 menit untuk itu, dst), tapi tergantung dengan apa yang siswa lakukan. Jika satu kegiatan membutuhkan waktu 20 menit saja, mengapa harus diperpanjang? Jika kegiatan lain membutuhkan waktu satu jam dan 20 menit, mengapa harus dihentikan sebelum selesai?

Sekolah itu baik, ...

... kalau
siswa tidak hanya boleh menggunakan waktunya untuk pelajaran yang telah ditentukan, seolah-olah mereka menjalani hukuman penjara. Di sebuah sekolah yang buruk, ada kecenderungan siswa 'mengambil' pelajaran, seperti pelajaran Bahasa Inggris 6, pelajaran IPS kelas 8 dan pelajaran Sains kelas 7. Sekolah yang baik lebih peduli dengan pencapaian kompetensi. Jadi, di sekolah yang baik, pertanyaannya bukannya, "Kamu sudah ambil mata pelajaran ....," Tetapi, "Apa kamu sudah belajar tentang ...."

Sekolah itu baik, ...

... kalau
kegiatannya melibatkan banyak siswa dari beragam latar belakang dan kemampuan. Faktanya, tidak ada bukti bahwa anak-anak 'pintar' akan belajar lebih sedikit ketika mereka digabung dengan anak-anak 'lambat', dibandingkan jika mereka digabung dengan anak-anak 'pintar' lainnya. Bahkan, ada bukti yang menyatakan bahwa ketika anak-anak diberi label 'lambat', mereka cenderung tumbuh dengan kepercayaan diri yang buruk, yang kadang tidak bisa disembuhkan.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
sudah meninggalkan hafalan dan mulai menggunakan metode bertanya, pemecahan masalah, dan penelitian.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
sudah meninggalkan prosedur proses layaknya pabrik, dan menggunakan penilaian humanistik lebih individual. Di sekolah-sekolah terbaik, ini berarti sistem penilaiannya relatif tidak menggunakan hukuman dalam jenis apapun, tidak ada pengelompokan bagi siswa yang dianggap 'sama', dan tidak ada pelabelan (murid yang 'baik', siswa yang 'lambat', dll).

Sekolah itu baik, ...

... kala
u prioritas diutamakan dibanding hirarki yang sempit. Sebagai contoh, di banyak sekolah siswa dapat dinilai lambat semata-mata atas dasar kemampuan membaca dan matematika. Padahal siswa tersebut bisa saja seorang musisi, aktor yang baik, atau bahkan pemimpin kelompok, tetapi mereka menerima pengakuan formal yang sangat sedikit untuk keterampilan ini. Hal ini jelas sebuah kekonyolan, dan di sebuah sekolah yang baik, sistem evaluasi telah disesuaikan untuk menangani masalah ini.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
ukuran sekolah itu cukup kecil sehingga pengawasan (dan hal-hal lain juga) bisa dilaksanakan secara personal, secara manusiawi, bukan dari sudut pandang 'logistik' semata. Tidak mungkin hubungan kolaboratif dan bermakna bisa terjadi dalam sebuah gedung berisi 5.000 siswa, atau 3.000 siswa. Tidak ada yang benar-benar tahu apa ukuran sekolah yang dianggap manusiawi, tetapi dalam berbagai penelitian, mungkin angkanya kira-kira sekitar 250 siswa.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
guru melepaskan peran mereka sebagai tokoh otoritas tunggal. Guru mulai melihat diri mereka sebagai pelajar, dan mencoba untuk mengembangkan sebuah komunitas belajar, di mana guru lebih berfungsi sebagai koordinator atau fasilitator kegiatan daripada sebagai diktator.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
siswa-siswanya tidak ditempatkan dalam suasana kompetitif terus-menerus, tetapi justru memiliki hubungan kolaboratif. Idealnya, sekolah yang baik berusaha untuk mencapai perasaan sebagai 'satu keluarga', di mana setiap anggota dibantu untuk tumbuh dengan caranya sendiri, tanpa harus mengorbankan orang lain.

Sekolah itu baik, ...

... kalau
sekolah itu menjauhi birokrasi dan mulai menuju peningkatan partisipasi masyarakat. Artinya, ada wadah yang dibentuk agar orang tua dapat mengungkapkan keluhan mereka terhadap sekolah dan juga membantu sekolah menjalankan fungsinya.

31 October 2011

KARENA MEREKA MASIH BELIA

"Anak sekarang pada males, susah diatur, sering ambil jalan pintas. Mau nilai bagus tapi nyontek, dipersiapkan untuk masa depan tapi kerjanya bolos melulu.""

Jujur saja, saya sendiri sering memandang siswa dengan gregetan, sambil berpikir semacam di atas. Kalimat yang sama juga sering saya dengar dari pendidik, baik guru maupun ortu. Bukan kalimat yang baik, memang, dan membuktikan bahwa ada cara pandang yang salah di otak kita. Sayangnya, kadang pikiran jelek ini terlontar juga. Ternyata ada saat ketika teori kependidikan dan parenting tak cukup mengekang rasa kesal.

Pagi ini saya berdiri di depan barisan anak-anak yang mengikuti upacara Senin. Seperti kita dulu, mungkin, anak-anak yang berusia belasan tahun ini merasa telah cukup 'gede'. Namun bila diukur dari usia saya, mereka masih belia. masih panjang jalannya.

Dan saya bersykur, "Alhamdulillah ya Allah, mereka masih begitu belia."

Sebab apapun kenakalan, kekonyolan, keusilan, kemalasan, dan segala macam pelanggaran yang mereka lalukan sekarang, hari ini -insya Allah- bukanlah waktu ketika penilaian akhir bagi mereka diberikan. Insya Allah, masih ada besok, dan besok lagi, dan tahun depan, dan sepuluh dua puluh tahun ke depan, untuk mereka tumbuh, berkembang, dan menjadi lebih baik. Amin.

Mungkin mereka ada yang bandel dan malas, tapi itu kan hari ini. Besok, mereka akan selalu BISA jadi LEBIH BAIK.

Sekali lagi, amin ya Rabbal 'alamin .


23 October 2011

BELAJAR ITU 'ENAAAAK'....

Ketika membuka akun Facebook, ada notifikasi bahwa Mba Lea Kesuma nge-tag saya di komentarnya. Ternyata Mba Lea memandu saya ke cerita seorang guru di sebuah forum.



Guru ini bilang dia sudah kehabisan akal mengatur siswanya. Susah diatur, tidak mengormati guru, dan sebagainya. Akhirnya dia menggunakan penggaris kayu untuk menertibkan siswa. Berkonsultasi dengan guru lain, mereka juga menghadapi hal yang sama. Curhat sama kepsek, eh kepseknya malah marah (idiiiih....). Jadi harus gimana?

Saya sendiri merasa bahwa curhat ibu guru di forum itu membuat saya harus banyak bersyukur. Saya tidak mengajar anak-anak kaya dengan otak superior, fasilitas pun sering kali harus cari jalan sendiri. Tapi murid-murid saya masih terhitung sopan dan mau diajak kerja sama.

Kembali lagi ke cerita si ibu guru di atas. Teman-teman guru di sana banyak berkomentar, menyarankan berbagai macam hal. Tentu saja saya sangat sepakat, bahwa diperlukan kesabaran, pendekatan, ketulusan, untuk mendekati siswa-siswanya. Tapi saya sendiri, bila diberi saran seperti itu, sepertinya masih tetap akan bingung.

Yang dibutuhkan si ibu guru tampaknya adalah cara praktis untuk memutus lingkaran permasalahannya ini. Bukan teori, tapi praktek konkritnya.

Saya sendiri masih amat sedikit pengalaman, tapi barangkali apa yang saya tuliskan ini bisa juga jadi 'pembuka jalan'.

Bayangkan kondisi berikut:
Seorang guru masuk, dan memulai pelajaran dengan berkata, "Anak-anak, hari ini kita membahas tentang kerangka karangan."

Ada yang salah?

Ya tidak ada, tapi bila kita merujuk pada metode terbaru, ini bukanlah awal yang baik untuk memulai pelajaran. Kering, kaku, tanpa gairah. Padahal otak kita bekerja ketika panca indera dirangsang dan minat ditumbuhkan.

Sekarang bayangkan yang ini:
Seorang guru masuk, membawa kotak misterius, sambil bertanya, "Kotak apa ini?" Siswa tak menjawab, tapi semua diam karena penasaran. Guru tersebut kemudian membuka kotak, dan aroma martabak terang bulan menguar ke seantero kelas.

Nah, bagaimana? Terasa banget kan bedanya? Efeknya juga berbeda pada otak.



Banyak sekali cara-cara baru dalam pembelajaran, tapi setiap kali saya membawa makanan ke kelas, suasana langsung meriah. Tidak perlu yang mahal-mahal, saya biasa bawa permen loli, kacang atom, atau sesekali makanan khas bila ada kelebihan rezeki.

Kadang ada makanan yang di bawa untuk hadiah kuis atau games, tapi banyak juga yang bisa jadi bagian dalam pembelajaran. Makanan yang berbentuk lingkaran bisa digunakan untuk belajar pecahan, yang butiran bisa untuk belajar himpunan, dsb. Untuk belajar sains, wah lebih banyak lagi, dari mulai kerang rebus, yoghurt, tempe, sampai es krim (yang dibuat manual).

Intinya satu: alat peraganya BISA DIMAKAN! \(^o^)/

Dalam konteks mata pelajaran yang saya ampu, makanan digunakan untuk belajar kosa kata, percakapan, dan budaya. Misalnya, dengan membawa susu UHT 1 liter ke kelas. Untuk apa? untuk belajar penambahan tenten dan ya-yu-yo kecil pada hiragana.

Kami membahas bagaimana menulis hiragana untuk gyuu -sapi- dan nyuu -susu- (menulis-tata bahasa), melafalkannya bersama (membaca), berlatih bagaimana memintanya di sebuah toko (percakapan). Terakhir, susunya dibagikan dalam cup kecil-kecil dan diminum sama-sama. Belajar itu memang 'enak'!

Saya juga membawa kacang atom ke kelas, bersama dengan hashi (sumpit), beli di toko plastik Rp6000/20 pasang. Kebetulan, di buku ada percakapan yang berbunyi, "Hashi, onegaishimasu (tolong ambilkan sumpitnya)."



Kami membaca percakapan (membaca), mempraktekkan dengan hashi beneran (percakapan), belajar memegang sumpit dengan benar (budaya), dan mencoba menggunakan sumpit untuk makan kacang atom. Terakhir, lomba makan kacang atom dengan sumpit! Wah, seru sekali waktu itu.

Pernah seorang rekan guru bertanya, bagaimana agar siswa tidak gampang lupa dengan pelajaran. Waktu itu saya ikut sumbang saran, bahwa kita perlu memberikan 'cantolan memori' pada mata pelajaran, karena otak akan menyimpan sesuatu yang berkesan secara emosi, baik senang maupun sedih. Nah, salah satu cara memberi cantolan memori itu adalah dengan makanan.

Jadi kalau saya ditanya bagaimana cara mengambil hati anak-anak ini? Mungkin salah satu cara yang bisa dicoba adalah lewat makanan. Bukan untuk menyogok mereka agar mau bergerak, tapi sebagai media belajar yang menyenangkan.

Sekali lagi, belajar itu bisa sungguhan ENAK!


Salam,
Irma
*suka makan tapi ga (terlalu) suka masak*

21 October 2011

GURU JUGA WAJIB BELAJAR

Sependek pengalaman saya, ada satu kenyataan yang aneh, bahwa terkadang kita lebih bisa berharap agar fasilitas fisik dilengkapi daripada kualitas personalia ditingkatkan. Sssttt, ini gosipnya: ada sekolah yang bisa menganggarkan 80 juta untuk promosi, tapi NOL untuk pelatihan guru. Ini sekolah swasta bergelar SSN (Sekolah Standar Nasional) loh...

Jika sudah mengajar belasan bahkan puluhan tahun, apakah guru bisa lantas jadi berkualitas? Jika diceramahi, "Bu, Pak, jadi guru itu harus kreatif, ngajar dengan menyenangkan," lalu mereka lantas jadi kreatif dan bisa ngajar dengan menyenangkan?

Guru itu perlu dilatih, dibuat sistem penjamin mutunya, dibuat sistem pengawasannya, atau secara singkat: DIPAKSA untuk jadi baik.

Makanya, jadi guru adalah profesi di mana menuntut ilmu sepanjang hayat menjadi WAJIB dilakukan.

Saya pernah bertemu dengan kepala sekolah, bukan satu tapi DUA orang, untuk mengusulkan pertemuan forum guru. Kita mulai dengan shalat Dhuha, belajar tilawah (ga yakin juga guru-guru lancar semua), lalu kultum. Setelah rehat barang 15 menit, mulailah pelatihannya. Jangan yang bentuknya ceramah-ceramah-ceramah, tapi langsung praktek.

Misalnya, gimana biin RPP yang baik. Suruh gurunya bikin saat itu juga, lalu dikoreksi oleh tutor. Atau gimana menerapkan metode T.A.N.D.U.R di kelas. Atau bagaimana cara mencatat (dan menghapal) dengan Mind Map. Atau teknik-teknik yang memadukan hapalan dengan gaya belajar kinestetik. Semuanya BUKAN CERAMAH, tapi praktek langsung.

Terus dijawab apa?

SULIT DILAKSANAKAN.

Dananya besar, guru-guru harus diberi transport dan makan siang, guru-guru harus meninggalkan jam mengajar di sekolah lain, ga boleh memakai hari efektif sekolah karena anak jadi terbengkalai, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya.

Ah, sudahlah.

Karena mentok, apa lalu jadi putus asa? NO WAY! Kalo yang di atas-atas itu ga mau, biarin aja. Kita ajak aja yang mau. Dan hari Kamis kemarin, sekitar sepuluh orang berkumpul di ruang audio visual perpustakaan. Kami belajar bersama tentang membuat Mind Map.



Mencatat adalah masalah klasik di sekolah kami. Tak ada buku paket, kami hanya meggunakan LKS. Mutu LKS rendah? Ya, benar, tapi kalau anda mengenal siswa-siswa di sekolah kami, beneran ga tegaaaaa menyuruh siswa beli buku paket sampe jutaan setahunnya. Akhirnya LKS jadi pilihan yang diambil.

Lalu masalah lainnya timbul. LKS tidak cukup dijadikan sumber belajar, jadi guru harus memberi catatan. Nah, inilah titik kritisnya. Saya terganggu sekali bila ada siswa yang mengisi status Facebook semacam, "Gila, nyatet sampe 3 lembar bolak-balik."

Inilah dasar kenapa kami berlatih mencatat menggunakan Mind Map yang lebih enteng, kreatif, menyenangkan, dan mudah dihapal.



Guru-guru ini datang padahal ada yang tak ada jam mengajar hari itu, mereka tidak diberi transport dan konsumsi khusus pelatihan, dan tanpa setifikat. Alat yang diperlukan hanya kertas kosong dan spidol warna yang digunakan bersama-sama. Meski menginginkan pembicara sekaliber Hernowo, tapi kami mencukupkan diri dengan pemateri gratisan, yaitu saya, hehehe.... Tinggal menambahkan beberapa piring gorengan sebagai penghangat suasana.

Jadi omong kosong kalau pelatihan guru itu ribet dan mahal!



Sepuluh orang yang hadir, tapi saya melihat semua menikmati sekali. Bu Muiyah (pakai jilbab hitam - batik PGRI) nyeletuk, "Nanti saya mau ajarin ke anak saya ah...." Wah, bagus sekali.

Kebetulan yang sudah selesai selain saya adalah Fahru, guru Geografi. Meskipun materi yang dibuat Mind Map-nya sama sekali asing untuk dia (karena materi mapel Bahasa Jepang ^_^;), saya coba tes isi materinya di depan rekan-rekan guru, ternyata langsung berhasil diingat tanpa menghapal, akibat penggunaan warna, gambar dan kode ketika membuat Mind Map.



Katika jam 11.30 tiba, saya mengingatkan bahwa kita harus menghentikan pelatihan. Tentu saja kami tak bisa meninggalkan jam mengajar seharian penuh, dan ruang peprpustakaan juga akan digunakan oleh siswa yang keluar zuhur. Apa tanggapan para guru?

"Yaaaaa, padahal lagi enak!"

Tuh kan, masih ga percaya kalau belajar juga bisa menyenangkan?

HASEEEEEK....

Hadeeeeh....

Bikin soal mah enak. Diapain nih biar ngerjainnya seru ya.... Di tambah gambar apa ya.... Gimana caranya biar anak-anak tetep mikir meskipun ujiannya boleh open book ya.... Pokoknya asiklah.

Pas ngoreksinya, huwaaaaa.... Mana essay semua. Mana anak-anak nulisnya kadang geje alias ga kebaca. Mana ada 5 kelas dikali sekian anak.

Eh guru di sebelah saya langsung interupsi, "Lha saya 11 kelas!" Ish, merusak suasana ajah =_=', orang lagi enak-enak mengeluh seakan diri ini guru paling menderita sedunia.

Tapi ada aja sih yang menghibur hati di kala meneliti keritingnya hiragana satu per satu. Misalnya, ya ampuuuun, ga tega banget kan ngasih angka 16 di atas kertas ujian (padahal ujiannya open book!). Atau ada juga yang di kelas 'ga keliatan' taunya dapet lebih bagus dari yang banyak omong.

Tiba-tiba.... Waks, apaan nih?



Huhuhuhu.... ada anak kelas X yang menjawab pertanyaan PAKE KANJI (please ya, bukan nama tepung).

Masalah pertama, saya belum ngajarin. Yang kedua, dan ini paling parah, SAYA GA BISA KANJI! Ng... ini bacanya... Kyou wa? Asa wa? Ima wa? Apa ya.... @~@

Apa saya salahin aja, secara ga sesuai dengan materi yang saya beri. Tapi kayaknya ga boleh deh kayak gitu. Itu namanya ga menghargai usaha murid. Lagian, mana boleh saya sok tau di luar my area of experties *tsaaah...*.

Oh ya, kalau sedang iseng, saya suka ngasih pertanyaan tambahan, yang ga masuk penilaian. Jadi cuma buat seru-seruan aja. Kali ini saya masukkan di soal kelas XI, bunyinya: "Hal apa yang paling menyebalkan dari pelajaran Bahasa Jepang?"

Senang sekali mendapati jawaban jujur mereka: Susah menghapal hiragana, ga suka disuruh maju buat ambil nilai percakapan, kadang suka bosen, ribet kalo suruh menyalin teks ke hiragana, dll.



Tapi yang satu ini bikin saya ketawa:

"Biasa-biasa bae. Tapi kalo lama kaga belajar Bahasa Jepang jadi lupa."

Hahahaha, haseeeek....

(bagi yang belum tau, logat tersebut dipakai oleh masyarakat Betawi di Ciledug dan sekitarnya, yang berbeda sekali dengan yang dipakai di kampung saya di Kebayoran Lama, padahal hanya berjarak 30 menit naik angkot)

JANJI UNTUK FERI

Ada beberapa siswa saya yang mungkin mengalami masalah psikologis, meski kami adalah sekolah umum biasa. Setelah beberapa kali mengalami, tampaknya kami mulai terbiasa. Kami tidak memaksa mereka mengikuti standar, dan mencari cara lain agar mereka tetap bisa berpartisipasi dan bisa dievaluasi dengan standar khusus.

Tapi dengan Feri, beda kasusnya.

Sebelumnya, saya tidak menyadari ada masalah dengan Feri (nama disamarkan). Maklum, untuk pertemuan awal, biasanya kami tidak banyak bergerak, paling hanya berkenalan dan mendengarkan saya ngoceh tentang mata pelajaran yang saya ampu.

Begitu kelas menulis dimulai, barulah saya menemukan bahwa Feri berjalan dengan goyah dibantu dengan tongkat. Unit kami ada di lantai dua, dan cara Feri berjalan naik-turun belasan tangga cukup mengkhawatirkan saya. Bila bahunya tersenggol, kemungkinan dia akan jatuh. Teman-teman sekelasnya harus membantu jika ia harus melewati selokan yang hanya selebar 20 senti saja.

"Kamu dapat kecelakaan?" tanya saya.
Dia bilang, "Saya kena demam tinggi karena diare, sampai kejang-kejang. Sekarang sedang dalam masa pemulihan."



Barulah saya mengerti kenapa tempo hari menemukan guratan aneh di salah satu lembar kerja anak. Kalau tulisan latin digaya-gayain, itu wajar. Tapi saya tidak pernah menemukan garis-garis hiragana yang ditulis dengan bergelombang.

Rupanya itu lembar kerja Feri. Dia tidak melakukannya -menulis romaji dan hiragana dengan bergelombang- dengan sengaja.

Kejang yang dialami mempengaruhi seluruh syaraf motorik baik kasar maupun halus. Badannya bergetar bila berjalan, tangannya bergetar bila menulis, bahkan bicaranya jadi tak jelas karena getaran pada otot wajahnya.

Sementara banyak anak sehat yang mangkir datang ke sekolah, Feri tak kendur semangatnya. Selama tiga bulan ini, kesehatannya tampak membaik. Dia bisa berjalan pelan tanpa tongkat, tapi getaran itu masih ada di seluruh tubuhnya.

Tadi pagi ketika upacara bendera Senin, saya melihatnya di barisan paling depan (fotonya kejauhan, tapi Feri ada di tengah-tengah gambar).



Feri hanya terganggu motoriknya, tapi kecerdasannya sama sekali normal. Dia mengerti materi yang diberikan, menjawab pertanyaan dengan lancar, dan menghapal percakapan dengan baik. Kekurangannya hanya di sisi motorik, yaitu menulis dan melafalkan.

Mulanya saya ragu, apakah harus memperlakukannya secara istimewa. Di pelajaran saya, beberapa materi mengharuskan anak bergerak cukup banyak, dan itu tentu akan menyulitkan Feri. Tapi.... ah, tidak. Memperlakukannya secara istimewa -dengan membedakan tugas/evaluasi yang diberikan- sepertinya akan melecehkan semangatnya.

Jadi hingga saat ini, Feri mendapat tugas yang sama dengan semua rekan sekelasnya. Dia akan maju pelan-pelan, dengan badan yang bergetar, tersenyum (dia sering sekali tersenyum), dan membuktikan bahwa ia sama hebat dengan teman-teman sekelasnya.

Dari semua hal yang saya bisa lakukan untuk Feri, barangkali yang terbaik adalah memberinya peluang untuk merasa setara dan mampu bersaing.

17 October 2011



Saya ini tidak belajar ilmu kependidikan secara formal, jadi hanya baca-baca saja buku tentang otak kiri dan otak kanan. Katanya, pembelajaran yang paling tepat adalah ketika kedua otak 'jalan' barengan. Kekurangan pendidikan kita katanya karena terlalu berfokus pada otak kiri. Makanya banyak yang pinter tapi ga kreatif.



Ngomong-ngomong soal kreatif ini, kayaknya SEMUA sekolah nyelipin kata 'kreatif' ini di visi-misi-tujuan-motto what so ever. Tapi kan bukan dipajangnya yang penting, tapi penerapannya.

Motif cat tembok, susunan bangku, pengaturan kelas, bikin anak kreatif ga?
Cara gurunya ngajar bikin anak kreatif ga?
Kegiatan dan eskulnya bikin anak kreatif ga?
Tugas-tugasnya bikin anak kreatif ga?

Kalo bilang kepingin menghasilkan anak yang kreatif, ya harus diusahakan. Bukan cuma dipajang di banner dan brosur.

Waduh, kok jadi sewot ginih ^_^:

Jadi seperti kata si Akang, semua orang punya constraint masing-masing. Constraint saya adalah model sekolah konvensional yang rada 'berbahaya' kalo terlalu dibikin berbeda. 'Berbahaya' maksudnya mengganggu stabilitas lingkungan, secara ada 4 unit berbeda di satu lokasi, kelasnya dipakai pagi siang, and so un and so un (hadeh, maklum ngeblog jam 2 malem).

Jadi, dengan constraint yang ada, kita optimalkan aja apa yang ada, ya toh. Misalnya, materi jikoshoukai, atau perkenalan di bawah ini.

Tata bahasa itu ada di otak kiri, sedang gambar dan warna ada di otak kanan. Untuk nyambungin keduanya, beginilah RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) yang saya siapkan. RPP itu wajib dibikin setiap guru/dosen di seluruh dunia ^_^.




Daaaaan, ini contoh yang saya berikan di papan tulis:



hajimemashite.
watashi wa iruma desu.
douzo yoroshiku.

(tulisan 'iruma' masih pakai hiragana, karena belum belajar katakana ^^;)

Bawahnya ada pas foto diri, hahahaha.... Bawahnya lagi comicstrip bergambar 2 stickman lagi ngobrol, nanyain o kuni wa (asal negara)? o shigoto wa (pekerjaan)?

Dan anak-anak mengerjakan dengan kreatifitas sendiri-sendiri. Modalnya murah kok, hanya kertas kosong dan spidol warna. Ga pake multimedia, ga pake efek suara. Bukan ga mau sih, tapi emang ga ada, hehehehe....



Jadi begitulah, maunya sih belajar dengan mengaktifkan dua bagian otak bersamaan. Mudah-mudahan bisa nyenggol juga dikit-dikit.

26 September 2011

BHAKTI NUGRAHA

Seperti hari Sabtu pagi lainnya di semester ini, saya mengajar di unit SMK Bhakti Nugraha. Ini sekolah istimewa, dan akan saya jelaskan mengapa.



Sambil menunggu anak-anak selesai mengisi tabel latihan hiragana, saya memperhatikan anak-anak kelas X SMK yang biasa dipanggil dengan BN ini. Di tahun pertama, biasanya baju anak-anak akan terlihat bersih cemerlang karena mereka membeli pakaian baru. Badan sudah makin besar, dan yah, ini kan sekolah baru.

Tapi tidak dengan anak-anak BN. Baju mereka tidak baru, mungkin melanjutkan seragam SMP. Terlihat warna coklat membayang di beberapa pakaian. SMK BN berada di bawah yayasan yang sama dengan unit induk saya, yaitu SMA Yapera, tapi ada beberapa perbedaannya.

Yang pertama, 100% siswanya gratis spp, uang makan, asrama, seragam, dan kegiatan pondok.

Seorang rekan guru pernah menulis status di FB, “Andrea Hirata punya laskar pelangi, saya punya BN.” Anak-anak ini berasal dari kabupaten Bogor dan sekitarnya. Bahkan ada yang harus menempuh tambahan sekian jam perjalanan dari kota Bogor, entah di mana kampung mereka berada. Jadi bila tidak ‘diambil ‘oleh BN, mereka tidak bisa sekolah sama sekali.

Anak-anak BN hanya dua minggu belajar administrasi perkantoran di Tangerang. Ke mana mereka dua minggu berikitnya? Ada di desa Tenjolaya, kabupaten Bogor. Mereka mengaji di malam hari, dan mencangkul kebun serta beternak ikan, bebek, dan ayam di pagi hari.

Bayangkan, mempelajari manajemen personalia, stenografi, mail handling, menggunakan komputer dan mesin faksimil selama 2 minggu, lalu memegang cangkul dan membersihkan kandang selama dua minggu berikutnya. Dan jangan lupa kitab kuningnya. Luar biasa bukan?

Saya memandang kembali wajah anak-anak ini. Di bawa oleh yayasan kami dari pelosok, saya mendapat ciri-ciri umum dari mereka pada tahun pertama: ragu-ragu, khawatir, tidak percaya diri, gelagapan, bingung, berhati-hati namun mencoba mengerti dan menyesuaikan diri. Lingkungan, gaya hidup, cara belajar, semua baru. Tentu saja saya bisa mengerti mengapa mereka tampak terlalu cemas.



Saya mengalihkan pandangan ke tembok, dan tiba-iba saya sudah mengangkat ponsel untuk mengambil foto dinding kelas mereka. Ah, anak-anak ini punya bakat, mereka punya kreatifitas, mereka punya potensi. Dan terutama lagi, mereka kuat dan punya keberanian.

Beberapa dari mereka memilih ikut kelas menulis di mana kebetulan saya adalah mentornya. Seorang siswa menulis, “Saya kepingin jadi dokter. Tapi jadi dokter harus dari SMA jurusan IPA, sedang saya tidak bisa belajar di tempat lain selain di SMK BN. Lagipula tidak ada biaya juga untuk kuliah.”

Yang lain mendekati saya di sebuah pagi, “Ibu, anak BN lagi ngirit Bu, jadi ga bisa ke warnet mengerjakan tugas.”

Saya merasa bersalah, tidak menyangka bahwa 3000 rupiah untuk satu jam di warnet bisa jadi masalah untuk mereka. Akhirnya dengan wewenang kepala perpustakaan, anak BN bisa menggunakan komputer milik pustakawan (perpustakaan kami tidak memiliki komputer untuk umum). Mudah-mudahan ini bentuk layanan, bukan penyalahgunaan wewenang.

Ketika raker yayasan kemarin, kepala SMK BN mengakhiri laporannya dengan mengutip surat Al-Maun, yang mengguncang hati:



Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?


Itulah orang yang menghardik anak yatim

Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

18 September 2011

SEKAI NI HITOTSU DAKE NO HANA



Kadang suka bertanya-tanya, saya ini berniat sombong ga sih? Kalo posting tentang aktifitas kelas, atau perkembangan menggembirakan dari homeschoolingnya anak-anak, niatnya untuk mendokumentasikan, atau mau pamer?

Ya sudahlah..... Kita lanjut sajah....



Kemarin saya sampai ke materi bilangan. Ichi ni san shi go, satu-dua-tiga-empat-lima, begitu. Sambungannya adalah satuan bilangan. Misalnya, 'kesatu' adalah ichi-ban, 'dua jam' adalah ni-jikan, 'tiga orang' adalah san-nin. Jadi satuannya ditambahkan di belakang bilangan, persis Bahasa Indonesia.

Kalau yang berbentuk bulat kan 'butir' (jadi bilangan di+ko belakangnya), yang bentuknya tipis kan disebut 'lembar' (+mai), yang berbentuk panjang disebut 'batang' (+hon), dst.

Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan.

Hari itu saya membawa laptop dan sound system ke kelas. Setelah belajar teori bilangan, saatnya mencarikan konteks bagi teori tersebut. Konteksnya saya coba diambil dari lagu lama SMAP, Sekai ni Hitotsu Dake no Hana. Kenapa lagu itu yang dipilih, semata-mata karena ada kata bilangan di sana.

Yang mau denger lagunya, silakan buka di sini: http://www.youtube.com/watch?v=d8uFwfvsf3Q&feature=related

Berikut teksnya:


NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one!

Tidak perlu untuk menjadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya!

Hanaya no misesaki ni naranda
Ironna hana o miteita
Hito sorezore konomi wa aru kedo
Doremo minna kirei da ne

Di depan toko bunga
Seseorang melihat banyak bunga berjajar
Setiap orang memang memiliki bunga favorit
Tetapi semua bunga tetap indah, bukan?

Kono naka de dare ga ichiban da nante
Arasou koto mo shinai de
Baketsu no naka hokorashige ni
Chanto mune o hatteiru

Persaingan untuk melihat mana yang terbaik
Bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan
Menunjukkan diri di dalam keranjang
Bunga-bunga itu berdiri tegak dengan bangga

Sore na noni bokura ningen wa
Doushite kou mo kurabeta garu?
Hitori hitori chigau noni sono naka de
Ichiban ni naritagaru?

Jadi kenapa kemudian kita manusia
Harus membandingkan diri satu sama lain?
Masing-masing orang tentu berbeda,
Mengapa harus selalu jadi yang nomor satu?

Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii

Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik

Komatta youni warai nagara
Zutto mayotteru hito ga iru
Ganbatte saita hana wa dore mo
Kirei dakara shikata nai ne

Ada orang yang selalu resah,
Meski tertawa tetap kelihatan susah.
Padahal bunga manapun yang berjuang untuk mekar
Pasti terlihat indah, bukan?

Yatto mise kara dete kita
Sono hito ga kakaete ita
Iro toridori no hanataba to
Ureshii souna yokogao

Ketika akhirnya orang itu keluar dari toko,
Ia menggenggam di tangannya
Bunga-bunga yang berwarna-warni
Bunga-bunga yang terlihat amat bahagia

Namae mo shira nakatta keredo
Ano hi boku ni egao o kureta
Dare mo kizukanai youna basho de
Saiteta hana no youni

Aku tidak pernah tahu nama orang itu
Tetapi hari itu ia memberiku senyuman
Seolah di suatu tempat yang orang lain tak tahu
Ada setangkai bunga tengah mekar

Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii

Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik

Chiisai hana ya ooki na hana
Hitotsu toshite onaji mono wa nai kara
NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one

Ada bunga yang kecil, ada bunga yang besar
Tidak ada yang sama dengan satu sama lain
Tidak perlu jadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya.

(Mohon maaf pada senseitachi jika ada kesalahan arti. Ini asli saya ambil dari internet, hehehe....)

Yang kami dapatkan hari ini ternyata lebih dari sekedar konteks bagi teori bilangan dan satuan bilangan dalam Bahasa Jepang. Sebelum kami menyanyikan kembali lagu di atas dan menutup pertemuan hari itu, saya bilang pada anak-anak:

"Sekarang kalian memang memakai seragam yang sama, belajar hal yang sama, mengikuti jadwal sekolah yang sama. Sekitar setengah tahun lagi, begitu kalian lulus, berpakaianlah sesuai ciri khas masing-masing, belajarlah apa yang kalian sukai, temukan jalan yang ditunjukkan hati nurani, jadilah diri sendiri untuk mekar jadi indah.
"

Nyanyi yuk, gampang kok!

17 September 2011

UPACARA BIAR CINTA NEGARA?





Siapa suka upacara?

Saya ga suka. Eh, pernah deh saya antusias ikut upacara. Waktu di SMA, upacara Sabtu pagi (sekolahnya Sabtu sampe Kamis ^_^) lumayan ditunggu. Soalnya upacaranya digabung antara siswi lelaki dan perempuan. Selain upacara, semua dilakukan terpisah, mulai dari belajar, kegiatan, apalagi asrama. Jadi pas upacara itu bisa lirik-lirik dikit ke sebelah kanan. Hahaha, kebayang ya noraknya saya waktu itu.

Waktu SMA, ada juga masa-masa di mana upacara jadi hal yang ditunggu. Kapan itu? Pas saya jadi paskibra di sekolah. Kenapa antusias? Pastinya bukan karena mengaggap upacara penting, tapi karena saya mau tampil.

Makanya saya bertanya-tanya, apakah gunanya upacara, apa pula gunanya eskul paskibra. Bener ga sih dua hal itu bertujuan untuk menanamkan nasionalisme?

Saya bertanya-tanya gini karena pekan lalu ada undangan lomba menulis untuk guru dari sebuah LSM. Salah satu temanya tentang peran guru dalam membangun nasionalisme. Lihat hadiahnya, wooooow.... Juara pertama dapet 8 jeti bo! Ngileeeerrr....

Tapi tunggu dulu deh. LSM apakah ini? Nanya-nanya Mbah Google, ah kayaknya kok kurang sreg yah sama visi misinya. Bukannya salah sih, cuma berhati-hati aja. Masih mikir-mikirlah gitu untuk ikutan.

Kembali lagi ke upacara.



Senin kemarin, ada yang istimewa sekolah tempat saya bekerja. Ceritanya Kapolsek datang dan jadi pembina upacara. Ini fotonya, keliatan ga Pak Kapolseknya?

Melihat dia bawa map, kita udah nyangka kalo amanat pembina bakalan lama nih. Sambil bosen, saya update status Facebook. Idih, bandel emang. Tapi isi statusnyanya beneran dari dalam hati:

"Orang bisa ga sih jadi baik kalo diceramahin panjang-panjang tiap hari senin kayak gini?"

Ini pertanyaan ya, bukan sinisme.

03 September 2011

DO MORE, EXPECT LESS



Hmmm...., jadi senyum-senyum sendiri lihat butir evaluasinya:

Nilai tertinggi alias A: lebih dari 90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Wah jelas ga mungkin, kan.

Berikutnya yang B: lebih dari 75% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Ini nggak juga.

Lalu yang C: lebih dari 50% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Yah, nggak juga.

Ah, jadi males lihat pilihan selanjutnya. Kayaknya sih dapet 0 poin deh di butir ini ^_^;

Memang yah, gimana juga, sekolah 'bagus' alias terkreditasi A menurut standar resmi Indonesia bukan hanya harus pinter-pinter orangnya, tapi juga harus ada duitnya. Ya pinter dan tajir sekolahnya, juga gurunya, juga siswanya.

Misalnya salah satu butir evaluasi di atas itu, ya ga mungkinlah sekolah tempat saya bekerja ini bisa memenuhinya. Perguruan tinggi terakreditasi? Yang melanjutkan ke bangku kuliah aja bisa dihitung dengan sebelah jari tiap angkatannya, apalagi perguruan tinggi terakreditasi.



Tapi sudahlah, kita lupakan saja butir evaluasi di atas. Itukan yang buat BAN (Badan Akreditasi Nasional), tahu apa sih mereka tentang anak-anak yang saya temui setiap hari.

Ayo kita buat sendiri saja standarnya.

Nilai tertinggi: 90% lulusan menjadi manusia bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Hmmm...., gimana?

Standarnya susah banget loh ini. Tapi dibanding standar lulusan buatan BAN, yang ini lebih mungkin kami capai. Kalau pakai standar '90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi', hwidiiiih dari mana duit untuk masuknya. Beasiswa, untuk 90% lulusan? Ah, becanda ajah....



Bila manusia bermanfaat yang dituju, saya percaya kami BISA mempersiapkannya. Perubahan paradigma, penggalian minat dan bakat, pembekalan keterampilan hidup, memupuk tumbuhnya motivasi, pembiasaan untuk disiplin. Yah, semua itu tak mudah, tapi bisa dilakukan, dan terutama, biayanya jauh lebih kecil dibanding uang pangkal untuk satu anak di perguruan tinggi top.


Jadi teringat komentar siswa-siswa saya di notes Facebook, beberapa melaporkan dengan bangga bahwa mereka sudah bekerja sekarang. Alhamdulillah, saya sudah cukup bangga bangga dan bersyukur. Standar pertama telah terlewat, menjadi mandiri, artinya bisa bermanfaat untuk diri sendiri, mudah-mudahan juga untuk keluarga.

Apa standar saya terlalu rendah? Masa' sih merasa cukup bahagia lihat anak-anak itu sekedar jadi SPG/SPB di mal?

Hmmmm...., begini sja: DO MORE, EXPECT LESS.