15 February 2012
YUK, LOMPAT SAMA-SAMA!
KOMPETENSI MATEMATIKA
Skor Tertinggi
1. Hongkong-Cina
2. Finlandia
3. Korea Selatan
4. Belanda
5. Liechtenstein
Skor Terendah
1. Brazil
2. Tunisia
3. Indonesia
4. Meksiko
5. Thailand
KOMPETENSI MEMBACA
Skor Tertinggi
1. Finlandia
2. Korea Selatan
3. Kanada
4. Australia
5. Liechtenstein
Skor Terendah
1. Tunisia
2. Indonesia
3. Meksiko
4. Brazil
5. Serbia
KOMPETENSI SAINS
Skor Tertinggi
1. Finlandia
2. Jepang
3. Hongkong-Cina
4. Korea Selatan
5. Liechtenstein
Skor Terendah
1. Tunisia
2. Brazil
3. Indonesia
4. Meksiko
5. Thailand
KOMPETENSI PROBLEM SOLVING
Skor Tertinggi
1. Korea Selatan
2. Hongkong-Cina
3. Finlandis
4. Jepang
5. Selandia Baru
Skor Terendah
1. Tunisia
2. Indonesia
3. Brazil
4. Meksiko
5. Turki
SKOR TOTAL:
Negara dengan kualitas pendidikan terbaik: FINLANDIA.
INDONESIA? Keempat dari bawah ^_^;
Cukup menarik karena kalau kita lihat jumlah pelajaran Matematika di Indonesia rata-rata mencapai 70 menit seminggu, sedang Hongkokng-Cina rata-rata hanya 41 menit, Belanda hanya 45 menit, dan Jepang hanya 50 menit.
Salah di mana, hayoooooo?
Biarlah masalah kebijakan dan sistem diurusi pemerintah. Saya sendiri sudah cape ngomel ngeluh mengutuk sistem. Sekarang ayo kita lihat apa yang bisa kita perbuat.
Saya sebagai guru merasa bisa berbuat sesuatu dengan mengikuti pelatihan dan terus belajar, agar kualitas mengajar saya lebih baik. Meski ga mungkin ngaruh pada hasil PISA, tapi barangkali ngaruh pada hidup beberapa orang.
Saya sebagai ibu ingin mengusahakan agar anak-anak saya tidak hanya menghapal, tapi paham konsep, bisa mengaplikasikan, memecahkan masalah, dan membuat produk bermanfaat. Bukan nilai atau gengsi yang dikejar, bukan selembar ijasah atau gelar semu yang dituju.
Anak Indonesia banyak banget, saya ga sanggup ngurus semuanya. Tapi anak sendiri insya Allah akan berusaha sampai titik darah penghabisan.
YUK, KITA LOMPAT SAMA-SAMA.
Semangaaaaaat!!! \ ^ o ^ /
12 February 2012
GURUNYA LAGI MALES?
Terus salah satu kontak komen, "Gurunya lagi bete."
Saya membantah, "Nggak kok, gurunya lagi hepi."
Et dah dia masih keukeuh, "Lagi malez..."
Memang kadang hal ini terjadi di kelas. Saya memang ditinggal sendirian di depan, iseng juga karena ga bawa buku, jadi kadang foto-fotoin anak-anak yang lagi seliweran. Tapi saya tidak sedang bete, tidak juga sedang males. Kalau guru sudah sibuk (= mempersiapkan aktivitas mandiri untuk siswa), maka seringkali dia kelihatan santai di kelas.
Hehehehe, bukannya sewot sih atas komentar my dear friend di FB itu, tapi memang ga asik kalo kita mudah menilai dari luar (sedang mengingatkan diri sendiri). Kelas saya biasanya berisik, anak-anak seliweran, tapi bukan berarti kami sedang tidak belajar.
Tapi gaya saya ini biasanya belum dipahami oleh anak kelas X, kelas paling muda. Bila saya keluar pakem sedikit saja, mereka sudah menganggapnya "Kita boleh main, Bu Irma ga ngasih pelajaran hari ini!" Alhasil, kelas jadi ribut sekali. Beberapa malah pernah nongkrong di koridor, sampai saya harus menjelaskan, bahwa apapun yang saya lakukan, makan comro atau menggunting-lipat-gaya-anak-tk, semuanya termasuk belajar, punya tujuan, dan berlandaskan teori.
Biasanya, anak kelas XI sudah terbiasa hingga kelas berjalan lancar. Di kelas XII apalagi, karena mereka belajar dengan portofolio, bukan buku catatan biasa, maka belajar-gaya-anak-tk dan belajar-sambil-makan sepertinya sudah jadi kebiasaan.
29 January 2012
KOWAWA! ^o^
Tadi siang anak-anak minta main di playground CBD Ciledug. kami berangkat tanpa suami karena sedang dinas ke luar kota. Pulangnya lapar, tapi saya malas masak, seperti biasa ^_^;. Jadi kami mapir ke restoran siap saji A&W.
Salah seorang waiter menyapa, yang ternyata adalah alumni yang pernah saya ajar. Tentu saja saya hapal padanya, syukurlah saya mengajar di sekolah kecil. Jadi semua alumni saya kenal, insya Allah. Kami ngobrol sebentar, eh pulangnya dibekeli waffle dan es krim. Alhamdulillah.... Tapi saya rada sungkan nih makan di sini lagi, khawatir dibekelin, hihihihi...
Lulusan sekolah kami memang hanya 3-4 orang yang melanjutkan kuliah. Yang lain bekerja, dan paling banyak menjadi SPG/waiter. Yah, meski ada juga yang jadi cabin crew, tapi kan sebenernya waiter juga, cuma di airlines ^_^.
Tapi saya bangga pada mereka. Harapan saya pada mereka bukanlah kuliah, tapi mandiri. Kenapa mandiri yang paling awal? Karena saya tau sekali kondisi ekonomi keluarga mereka. Jadi kalau ada yang dapat pekerjaan sebagai kuli cuci-setrika atau office boy, saya sarankan untuk diambil.
Setelah itu barulah mengembangkan diri. Ya siapa sih yang mau jadi pesuruh selamanya. Cara mengembangkan diri ini banyak, kuliah, kursus, atau otodidak, yang penting tak berhenti meningkatkan kualitas diri, a.k.a belajar.
Tapi memang harapan ini meninggalkan rasa sedih dan penyesalan di hati. Pasalnya, saya merasa anak-anak ini tak cukup dibekali ketika di sekolah. Dijejali pelajaran segitu banyaknya, tapi hampir tidak mendapat bekal untuk mandiri dan tidak diarahkan jadi pecinta belajar.
Ketika saya ceritakan pertemuan ini dengan beberapa teman, mereka mendokan, "Semoga jadi manager."
Saya mengaminkan sepenuh hati, sambil merasa cemas, apakah dia sudah punya kemampuan mengembangkan diri hingga level manager. Ah, mudah-mudahan saja.
Yang pasti saya sendiri ikut dengan beberapa teman lain yang ikut menyemangati, "Kowawaaaa!!!" (^o^)/
25 January 2012
GOOD TEACHING
By Richard Leblanc, York University, Ontario This article appeared in The Teaching Professor after Professor Leblanc won a Seymous Schulich Award for Teaching Excellence including a $10,000 cash award. Reprinted here with permission of Professor Leblanc, October 8, 1998.
One. Good teaching is as much about passion as it is about reason. It's about not only motivating students to learn, but teaching them how to learn, and doing so in a manner that is relevant, meaningful, and memorable. It's about caring for your craft, having a passion for it, and conveying that passion to everyone, most importantly to your students.
Two. Good teaching is about substance and treating students as consumers of knowledge. It's about doing your best to keep on top of your field, reading sources, inside and outside of your areas of expertise, and being at the leading edge as often as possible. But knowledge is not confined to scholarly journals. Good teaching is also about bridging the gap between theory and practice. It's about leaving the ivory tower and immersing oneself in the field, talking to, consulting with, and assisting practitioners, and liaisoning with their communities.
Three. Good teaching is about listening, questioning, being responsive, and remembering that each student and class is different. It's about eliciting responses and developing the oral communication skills of the quiet students. It's about pushing students to excel; at the same time, it's about being human, respecting others, and being professional at all times.
Four. Good teaching is about not always having a fixed agenda and being rigid, but being flexible, fluid, experimenting, and having the confidence to react and adjust to changing circumstances. It's about getting only 10 percent of what you wanted to do in a class done and still feeling good. It's about deviating from the course syllabus or lecture schedule easily when there is more and better learning elsewhere. Good teaching is about the creative balance between being an authoritarian dictator on the one hand and a pushover on the other.
Five. Good teaching is also about style. Should good teaching be entertaining? You bet! Does this mean that it lacks in substance? Not a chance! Effective teaching is not about being locked with both hands glued to a podium or having your eyes fixated on a slide projector while you drone on. Good teachers work the room and every student in it. They realize that they are the conductors and the class is the orchestra. All students play different instruments and at varying proficiencies.
Six. This is very important -- good teaching is about humor. It's about being self-deprecating and not taking yourself too seriously. It's often about making innocuous jokes, mostly at your own expense, so that the ice breaks and students learn in a more relaxed atmosphere where you, like them, are human with your own share of faults and shortcomings.
Seven. Good teaching is about caring, nurturing, and developing minds and talents. It's about devoting time, often invisible, to every student. It's also about the thankless hours of grading, designing or redesigning courses, and preparing materials to still further enhance instruction.
Eight. Good teaching is supported by strong and visionary leadership, and very tangible institutional support -- resources, personnel, and funds. Good teaching is continually reinforced by an overarching vision that transcends the entire organization -- from full professors to part-time instructors -- and is reflected in what is said, but more importantly by what is done.
Nine. Good teaching is about mentoring between senior and junior faculty, teamwork, and being recognized and promoted by one's peers. Effective teaching should also be rewarded, and poor teaching needs to be remediated through training and development programs.
Ten. At the end of the day, good teaching is about having fun, experiencing pleasure and intrinsic rewards ... like locking eyes with a student in the back row and seeing the synapses and neurons connecting, thoughts being formed, the person becoming better, and a smile cracking across a face as learning all of a sudden happens. Good teachers practice their craft not for the money or because they have to, but because they truly enjoy it and because they want to. Good teachers couldn't imagine doing anything else.
http://www2.honolulu.hawaii.edu/facdev/guidebk/teachtip/topten.htm10 January 2012
JANGAN MATRE!
Saya setuju kalau biaya sekolah mahal karena kita harus mengurangi jumlah anak dalam satu kelas. Saya setuju jika sekolah mahal karena harus membayar tenaga lebih banyak guru, atau menaikkan gaji guru agar lebih fokus mengajar. Saya setuju kalau biaya mahal jika kualitas pendidikan memang jempolan, karena untuk itu pasti perlu biaya besar..
Tapi apakah yang disebut jempolan itu?
Apakah kalau ada in focus dan sound system di setiap ruangan berarti kualitasnya jempolan? Apakah kalau fieldtrip ke luar negeri berarti kualitasnya jempolan? Apakah karena ruang ber-AC, ada CCTV, anak pakai laptop, terus artinya jempolan? Bahkan, jikapun perpustakaannya digital, koleksi bukunya ratusan ribu, ada pohon Baobab boleh impor dari Afrika (kayaknya pernah denger kasusnya di manaaaaa gitu ^_~v), apa kualitasnya jadi jempolan?
Karena kualitas sekolah dilihat dari bagaimanan PROSES PEMBELAJARAN, bukan fasilitas yang tersedia.
Tempo hari saya mewakili ibu mengambilkan rapor adik yang sekarang kelas 1 SMP. Di tembok ada tempelan-tempelan tugas siswa, dibuat dari karton berwarna. Isinya ringkasan pelajaran yang dibuat kelompok.
Sebelumnya saya mau istighfar dulu, karena bukan maksud saya untuk tidak menghargai usaha guru yang memberikan tugas ini. Mudah-mudahan ini bisa jadi bahan diskusi kita saja, karena segala hal tentu perlu evaluasi.
Begini maksud saya. Karton berwarna yang ditempel di dinding itu adalah fasilitasnya. Tapi mari kita cermati proses pembelajarannya. Ringkasan ditulis dengan huruf kecil-kecil yang hampir tidak terbaca, hingga penempatannya di dinding kelas sama sekali tidak berpengaruh pada pembelajaran. Perhatikan jjuga bagaimana cara informasi tersebut dituliskan, amat bookish dan tidak melatih keterampilan berpikir anak. Meski tentu saja kita akui, bahwa mungkin ada unsur kerja sama yang hadir di sini.
Ketika datang ke sebuah SMAN di Tangerang, saya dibuat terpesona oleh layar lebar nan tipis sebuah LCD TV yang terpampang di depan ruang guru. Kenapa terpesona? Karena fungsinya hanya menampilkan jadwal pelajaran tiap kelas bergantian. Sayang sekali, IMHO, karena kalau hanya menampilkan jadwal, pakai mading juga bisa.
LCD TV itu berapa ya, harganya? Kalau dijual terus dijadikan biaya pelatihan guru, mungkin akan lebih nyata hasilnya dengan kualitas pembelajaran. Ah, tapi mungkin saja TV itu bantuan pemerintah yah, jadi ga bisa dijual ^_^;.
Jadi begitu kira-kira contoh kecilnya. Meskipun fasilitas sekolah lengkap dan mewah, ada kalanya hal itu tidak memiliki arti yang signifikan bagi pendidikan anak-anak kita. Karena bagaimana fasilitas itu digunakanlah yang akan menentukan mutu pendidikan yang ditawarkan sekolah.
Apalagi, apalagi nih ya.... Orang tua siswalah yang harus MEMBAYAR segala fasilitas yang belum tentu signifikan itu!
Seorang ibu pernah bercita-cita agar anaknya masuk SMPN percontohan di wilayah Jakarta Selatan. Sekolah ini sistemnya berbasis internet. Nilai dipublish lewat internet, orang tua bisa melihat tunggakan spp atau kegiatan anak lewat internet, tugas disubmit lewat internet, ada hotspot di sekolah, dll.
Ketika itu saya berpikir, mudah-mudahan si ibu juga melihat bagaimana cara guru di sekolah itu memanfaatkan internet itu untuk pembelajaran, dan bukan sekedar 'kerennya doang'.
Banyak sekolah sekarang sudah menyediakan peralatan multimedia di kelas. Apakah kualitas pembelajaran jadi meningkat? Di berbagai forum guru banyak ditemukan keluhan bahwa guru sekarang mengajar dengan power point, tapi sebenernya di kelas cuma mengklik tetikus membacakan isi slide. Selebihnya sama saja: kerjakan soal, koreksi bersama, sudah.
Yang parah, kalo siswanya berani nyombong kalo sekolahnya keren karena tiap kelas ada AC dan in focus.
Bagaimana dengan meningkatkan kemampuan menganalisis, memecahkan masalah, mencari solusi, menemukan hubungan, mengkritiisi, berpendapat, kolaborasi, atau paling tidak, BERGEMBIRA ketika belajar?
Jadi, mari jangan matre. Materialistis, alias gandrung pada benda. Baik guru, siswa, orang tua, semua JANGAN MATRE!
08 January 2012
CERITA TIGA SISWA SAYA
Yang pertama adalah siswa yang pernah saya ceritakan di sini. Waktu sekolah, semua menyerah menanganinya, meski akhirnya dia ikut UN dan lulus. Yang kedua siswa perempuan, lemah dalam semua mata pelajaran. Yang ketiga siswa tukang rusuh, poin pelanggarannya mengular di buku laporan. Tapi seperti yang pertama, dua siswa yang belakangan ini juga lulus UN.
(by the way, lulus UN sekarang ini sama sekali TIDAK membuktikan apa-apa, percayalah!)
Kenapa kemudian saya ceritakan di sini? Karena status Facebook mereka.
Yang pertama dulu pernah membuat saya yakin akan kekurangannya dalam sosialisasi. Tapi status Facebook yang dia pasang sekarang menyalahi pendapat saya. Anak ini kerap menulis dengan nada gembira tentang hang out bersama teman-teman.
Status lainnya membuat saya mengira dan bertanya-tanya, apakah benar dia bergabung dalam sebuah tim yang mengikuti lomba resmi antar gamers online? Kalau ya, berarti dia sebenarnya tak memiliki masalah dengan sosialisasi. Hanya saja, tidak menemukan 'klik' ketika berteman di sekolah.
Yang kedua adalah siswa perempuan saya. Bertahun-tahun ia mengalami masalah dengan kepercayaan diri, mungkin berhubungan dengan berat badannya. Dulu ia benar-benar lemah dalam semua mata pelajaran. Sekarang dia menulis status dalam bahasa Korea.
Saya jadi teringat film mini seri Friends, yang diproduksi bersama antara Jepang dan Korea, menyambut Piala Dunia 2002 yang diselenggarakan di Jepang-Korea.
Ceritanya tentang Tomoko, seorang gadis Jepang, SPG di sebuah dept. store berkunjung ke Hongkong dan bertemu dengan pemuda Korea, Ji Hoon, seorang pembuat film indie. Tomoko kemudian belajar bahasa Korea, agar dapat membalas e-mail Ji Hoon. Belakangan hubungan mereka tak berjalan lancar, namun ketika ditanya apa akan berhenti belajar bahasa Korea, dia menggeleng. "Soalnya aku SUKA bahasa Korea. Dulu waktu sekolah ga pernah merasa SENANG BELAJAR seperti ini."
Akhirnya Tomoko yang hanya lulus SMA ini mengambil sertifikasi bahasa Korea, melamar di biro travel, lalu bekerja di luar negeri. Maksudnya apa? Saya ingin mengatakan bahwa apapun motivasi awalnya, tapi menemukan kesenangan belajar karena kita memiliki minat pada sesuatu adalah hal yang sangat baik.
Sekarang siswa yang ketiga. Saya menemukan ia mengunggah hasil lukisannya di Facebook. Di atas kanvas dengan cat air. Judulnya, "Relaaax...."
LUKISAN?
O Tuhan, saya menjadi gurunya selama 3 tahun, dan hanya mengenalnya sebagai trouble maker, sama sekali saya tidak tahu bahwa ia memiliki minat pada lukisan. Sekarang saya amat bahagia tiap kali dia mengunggah fotonya di tempat kerja. Ia terlihat bahagia, dengan gaya pakaian khas pekerja kreatif di dunia desain, topi gatsby kotak-kotak dan rompi jeans.
Jadi, saya merasa bersalah. Anak-anak ini diberi sesuatu yang bukan minat mereka, seringkali dalam kondisi yang tidak nyaman, lalu mereka dites dalam hal yang tidak mereka sukai, dan kita menghakimi mereka lewat hasil itu.
Tapi bagaimanapun, saya guru sekolah formal. Ada kurikulum yang mesti diikuti. Bagaimana mungkin sekolah memfasilitasi minat anak pada game online, atau belajar (hanya) bahasa Korea (yang mana bukan bahasa asing pilihan resmi dalam kurikulum Indonesia), atau melukis?
Ah, bagaimana ini sebaiknya?
16 December 2011
SEMBURAT SEMANGAT
Ternyata baik juga liburan barang sebentar itu. Waktu ternyata obat yang mujarab untuk banyak masalah (kecuali masalah usia ^_^). Setelah Sabtu tarik urat dengan bapak kepala sekolah negeri anu, dan hari Selasa tarik urat lagi sama rekan kerja sekantor by phone, hari ini semua alhamdulillah membaik. FB juga mulai adem...
Dalam waktu satu jam, manajemen berhasil mengumpulkan lebih dari 20 masalah pokok beserta para anak-cucunya. O ini amat bagus, karena berarti kita bisa melakukan sesuatu mulai sekarang. Satu persatu dibahas, dicarikan solusi atau alternatif, untuk kemudian dicobakan.
Dan di saat memperhatikan rekan-rekan kerja yang tengah berbicara itulah, semangat saya tumbuh. Bukan karena high heels ^_^;.
Mereka masih muda, dan bau idealisme masih menguar. Kadang memang terbentur dinding, terjebak dalam kubangan lumpur, dan harus menyerah pada kondisi. Kami bukan orang-orang yang bersih 100%, tapi tetap berusaha di celah yang tersisa, dan tak pernah mengambil keuntungan di luar apa yang ditetapkan oleh yayasan dan pemerintah. Biarlah Allah menilai sisanya.
Pulang sempat buka Facebook dan menemukan status dari salah seorang siswa saya, Arief, kelas XII SMA (maafkan atas ke-alay-an yang mungkin terjadi ^_~v):
sbnr'a bwt ap si bljar MTK paling yg d'pakai cmn tambah, kali, kurng dan bagi dlm kehidupan sehari"
tapi stlah w dpt tugas d'suruh nyari manfaat tntng manfaat MTK dlm k'hidupan w br'fikir manfaat utama'a yaitu agar manusia belajar dan terus ber'fikir d'dalam proses ber'fikir itu kita akan mendapatkan manfaat" yg sebenarnya sangat penting untuk kehidupan kita. Membuat kita lebih cerdas, lebih tanggap, lebih kreatif dlm menyelesaikan masalah dan juga dgn bljr MTK kita mendapatkan pljrn tntng bgaimna caranya mnyelesaikan mslah dengn mnggunakan logika kita, trus-menerus mncoba/pantang menyerah yang mungkin saja dapat kita alami karena semakin banyak belajar maka semakin banyak ilmu sekaligus pengetahuan yg kita dapat
trnyata selama ini w salah mnilai mnfaat MTK tp berkat tugas dr bu Ikhda Sarkilah w jd mmpunyai pemikiran yg br'beda thanks bu atas tugasnya
Mba Gita Lovusa komentar: "Guru keren ketemu murid keren!" Dan saya setuju, karena bahagia berteman dengan Bu Ikhda dan punya murid seperti Arif.
Sekolah kami ga punya banyak uang. Kalau punya kepingin, biasanya mentok sana sini karena kurang uang kurang orang kurang barang. Tapi dibanding dengan dana yang melimpah, saya lebih memilih rekan-rekan kerja yang sevisi dan mau berjuang.
Yuk, kita mulai jalan lagi.
\ ( ^ o ^ ) /
17 November 2011
SEKOLAH ITU BAIK, KALAU....
Sekolah itu baik, ...
... kalau jadwal kegiatan hariannya tidak kaku (45 menit untuk ini, 45 menit untuk itu, dst), tapi tergantung dengan apa yang siswa lakukan. Jika satu kegiatan membutuhkan waktu 20 menit saja, mengapa harus diperpanjang? Jika kegiatan lain membutuhkan waktu satu jam dan 20 menit, mengapa harus dihentikan sebelum selesai?
Sekolah itu baik, ...
... kalau siswa tidak hanya boleh menggunakan waktunya untuk pelajaran yang telah ditentukan, seolah-olah mereka menjalani hukuman penjara. Di sebuah sekolah yang buruk, ada kecenderungan siswa 'mengambil' pelajaran, seperti pelajaran Bahasa Inggris 6, pelajaran IPS kelas 8 dan pelajaran Sains kelas 7. Sekolah yang baik lebih peduli dengan pencapaian kompetensi. Jadi, di sekolah yang baik, pertanyaannya bukannya, "Kamu sudah ambil mata pelajaran ....," Tetapi, "Apa kamu sudah belajar tentang ...."
Sekolah itu baik, ...
... kalau kegiatannya melibatkan banyak siswa dari beragam latar belakang dan kemampuan. Faktanya, tidak ada bukti bahwa anak-anak 'pintar' akan belajar lebih sedikit ketika mereka digabung dengan anak-anak 'lambat', dibandingkan jika mereka digabung dengan anak-anak 'pintar' lainnya. Bahkan, ada bukti yang menyatakan bahwa ketika anak-anak diberi label 'lambat', mereka cenderung tumbuh dengan kepercayaan diri yang buruk, yang kadang tidak bisa disembuhkan.
Sekolah itu baik, ...
... kalau sudah meninggalkan hafalan dan mulai menggunakan metode bertanya, pemecahan masalah, dan penelitian.
Sekolah itu baik, ...
... kalau sudah meninggalkan prosedur proses layaknya pabrik, dan menggunakan penilaian humanistik lebih individual. Di sekolah-sekolah terbaik, ini berarti sistem penilaiannya relatif tidak menggunakan hukuman dalam jenis apapun, tidak ada pengelompokan bagi siswa yang dianggap 'sama', dan tidak ada pelabelan (murid yang 'baik', siswa yang 'lambat', dll).
Sekolah itu baik, ...
... kalau prioritas diutamakan dibanding hirarki yang sempit. Sebagai contoh, di banyak sekolah siswa dapat dinilai lambat semata-mata atas dasar kemampuan membaca dan matematika. Padahal siswa tersebut bisa saja seorang musisi, aktor yang baik, atau bahkan pemimpin kelompok, tetapi mereka menerima pengakuan formal yang sangat sedikit untuk keterampilan ini. Hal ini jelas sebuah kekonyolan, dan di sebuah sekolah yang baik, sistem evaluasi telah disesuaikan untuk menangani masalah ini.
Sekolah itu baik, ...
... kalau ukuran sekolah itu cukup kecil sehingga pengawasan (dan hal-hal lain juga) bisa dilaksanakan secara personal, secara manusiawi, bukan dari sudut pandang 'logistik' semata. Tidak mungkin hubungan kolaboratif dan bermakna bisa terjadi dalam sebuah gedung berisi 5.000 siswa, atau 3.000 siswa. Tidak ada yang benar-benar tahu apa ukuran sekolah yang dianggap manusiawi, tetapi dalam berbagai penelitian, mungkin angkanya kira-kira sekitar 250 siswa.
Sekolah itu baik, ...
... kalau guru melepaskan peran mereka sebagai tokoh otoritas tunggal. Guru mulai melihat diri mereka sebagai pelajar, dan mencoba untuk mengembangkan sebuah komunitas belajar, di mana guru lebih berfungsi sebagai koordinator atau fasilitator kegiatan daripada sebagai diktator.
Sekolah itu baik, ...
... kalau siswa-siswanya tidak ditempatkan dalam suasana kompetitif terus-menerus, tetapi justru memiliki hubungan kolaboratif. Idealnya, sekolah yang baik berusaha untuk mencapai perasaan sebagai 'satu keluarga', di mana setiap anggota dibantu untuk tumbuh dengan caranya sendiri, tanpa harus mengorbankan orang lain.
Sekolah itu baik, ...
... kalau sekolah itu menjauhi birokrasi dan mulai menuju peningkatan partisipasi masyarakat. Artinya, ada wadah yang dibentuk agar orang tua dapat mengungkapkan keluhan mereka terhadap sekolah dan juga membantu sekolah menjalankan fungsinya.
31 October 2011
KARENA MEREKA MASIH BELIA
Jujur saja, saya sendiri sering memandang siswa dengan gregetan, sambil berpikir semacam di atas. Kalimat yang sama juga sering saya dengar dari pendidik, baik guru maupun ortu. Bukan kalimat yang baik, memang, dan membuktikan bahwa ada cara pandang yang salah di otak kita. Sayangnya, kadang pikiran jelek ini terlontar juga. Ternyata ada saat ketika teori kependidikan dan parenting tak cukup mengekang rasa kesal.
Pagi ini saya berdiri di depan barisan anak-anak yang mengikuti upacara Senin. Seperti kita dulu, mungkin, anak-anak yang berusia belasan tahun ini merasa telah cukup 'gede'. Namun bila diukur dari usia saya, mereka masih belia. masih panjang jalannya.
Dan saya bersykur, "Alhamdulillah ya Allah, mereka masih begitu belia."
Sebab apapun kenakalan, kekonyolan, keusilan, kemalasan, dan segala macam pelanggaran yang mereka lalukan sekarang, hari ini -insya Allah- bukanlah waktu ketika penilaian akhir bagi mereka diberikan. Insya Allah, masih ada besok, dan besok lagi, dan tahun depan, dan sepuluh dua puluh tahun ke depan, untuk mereka tumbuh, berkembang, dan menjadi lebih baik. Amin.
Mungkin mereka ada yang bandel dan malas, tapi itu kan hari ini. Besok, mereka akan selalu BISA jadi LEBIH BAIK.
Sekali lagi, amin ya Rabbal 'alamin .
23 October 2011
BELAJAR ITU 'ENAAAAK'....
Guru ini bilang dia sudah kehabisan akal mengatur siswanya. Susah diatur, tidak mengormati guru, dan sebagainya. Akhirnya dia menggunakan penggaris kayu untuk menertibkan siswa. Berkonsultasi dengan guru lain, mereka juga menghadapi hal yang sama. Curhat sama kepsek, eh kepseknya malah marah (idiiiih....). Jadi harus gimana?
Saya sendiri merasa bahwa curhat ibu guru di forum itu membuat saya harus banyak bersyukur. Saya tidak mengajar anak-anak kaya dengan otak superior, fasilitas pun sering kali harus cari jalan sendiri. Tapi murid-murid saya masih terhitung sopan dan mau diajak kerja sama.
Kembali lagi ke cerita si ibu guru di atas. Teman-teman guru di sana banyak berkomentar, menyarankan berbagai macam hal. Tentu saja saya sangat sepakat, bahwa diperlukan kesabaran, pendekatan, ketulusan, untuk mendekati siswa-siswanya. Tapi saya sendiri, bila diberi saran seperti itu, sepertinya masih tetap akan bingung.
Yang dibutuhkan si ibu guru tampaknya adalah cara praktis untuk memutus lingkaran permasalahannya ini. Bukan teori, tapi praktek konkritnya.
Saya sendiri masih amat sedikit pengalaman, tapi barangkali apa yang saya tuliskan ini bisa juga jadi 'pembuka jalan'.
Bayangkan kondisi berikut:
Seorang guru masuk, dan memulai pelajaran dengan berkata, "Anak-anak, hari ini kita membahas tentang kerangka karangan."
Ada yang salah?
Ya tidak ada, tapi bila kita merujuk pada metode terbaru, ini bukanlah awal yang baik untuk memulai pelajaran. Kering, kaku, tanpa gairah. Padahal otak kita bekerja ketika panca indera dirangsang dan minat ditumbuhkan.
Sekarang bayangkan yang ini:
Seorang guru masuk, membawa kotak misterius, sambil bertanya, "Kotak apa ini?" Siswa tak menjawab, tapi semua diam karena penasaran. Guru tersebut kemudian membuka kotak, dan aroma martabak terang bulan menguar ke seantero kelas.
Nah, bagaimana? Terasa banget kan bedanya? Efeknya juga berbeda pada otak.
Banyak sekali cara-cara baru dalam pembelajaran, tapi setiap kali saya membawa makanan ke kelas, suasana langsung meriah. Tidak perlu yang mahal-mahal, saya biasa bawa permen loli, kacang atom, atau sesekali makanan khas bila ada kelebihan rezeki.
Kadang ada makanan yang di bawa untuk hadiah kuis atau games, tapi banyak juga yang bisa jadi bagian dalam pembelajaran. Makanan yang berbentuk lingkaran bisa digunakan untuk belajar pecahan, yang butiran bisa untuk belajar himpunan, dsb. Untuk belajar sains, wah lebih banyak lagi, dari mulai kerang rebus, yoghurt, tempe, sampai es krim (yang dibuat manual).
Intinya satu: alat peraganya BISA DIMAKAN! \(^o^)/
Dalam konteks mata pelajaran yang saya ampu, makanan digunakan untuk belajar kosa kata, percakapan, dan budaya. Misalnya, dengan membawa susu UHT 1 liter ke kelas. Untuk apa? untuk belajar penambahan tenten dan ya-yu-yo kecil pada hiragana.
Kami membahas bagaimana menulis hiragana untuk gyuu -sapi- dan nyuu -susu- (menulis-tata bahasa), melafalkannya bersama (membaca), berlatih bagaimana memintanya di sebuah toko (percakapan). Terakhir, susunya dibagikan dalam cup kecil-kecil dan diminum sama-sama. Belajar itu memang 'enak'!
Saya juga membawa kacang atom ke kelas, bersama dengan hashi (sumpit), beli di toko plastik Rp6000/20 pasang. Kebetulan, di buku ada percakapan yang berbunyi, "Hashi, onegaishimasu (tolong ambilkan sumpitnya)."
Kami membaca percakapan (membaca), mempraktekkan dengan hashi beneran (percakapan), belajar memegang sumpit dengan benar (budaya), dan mencoba menggunakan sumpit untuk makan kacang atom. Terakhir, lomba makan kacang atom dengan sumpit! Wah, seru sekali waktu itu.
Pernah seorang rekan guru bertanya, bagaimana agar siswa tidak gampang lupa dengan pelajaran. Waktu itu saya ikut sumbang saran, bahwa kita perlu memberikan 'cantolan memori' pada mata pelajaran, karena otak akan menyimpan sesuatu yang berkesan secara emosi, baik senang maupun sedih. Nah, salah satu cara memberi cantolan memori itu adalah dengan makanan.
Jadi kalau saya ditanya bagaimana cara mengambil hati anak-anak ini? Mungkin salah satu cara yang bisa dicoba adalah lewat makanan. Bukan untuk menyogok mereka agar mau bergerak, tapi sebagai media belajar yang menyenangkan.
Sekali lagi, belajar itu bisa sungguhan ENAK!
Salam,
Irma
*suka makan tapi ga (terlalu) suka masak*
21 October 2011
GURU JUGA WAJIB BELAJAR
Jika sudah mengajar belasan bahkan puluhan tahun, apakah guru bisa lantas jadi berkualitas? Jika diceramahi, "Bu, Pak, jadi guru itu harus kreatif, ngajar dengan menyenangkan," lalu mereka lantas jadi kreatif dan bisa ngajar dengan menyenangkan?
Guru itu perlu dilatih, dibuat sistem penjamin mutunya, dibuat sistem pengawasannya, atau secara singkat: DIPAKSA untuk jadi baik.
Makanya, jadi guru adalah profesi di mana menuntut ilmu sepanjang hayat menjadi WAJIB dilakukan.
Saya pernah bertemu dengan kepala sekolah, bukan satu tapi DUA orang, untuk mengusulkan pertemuan forum guru. Kita mulai dengan shalat Dhuha, belajar tilawah (ga yakin juga guru-guru lancar semua), lalu kultum. Setelah rehat barang 15 menit, mulailah pelatihannya. Jangan yang bentuknya ceramah-ceramah-ceramah, tapi langsung praktek.
Misalnya, gimana biin RPP yang baik. Suruh gurunya bikin saat itu juga, lalu dikoreksi oleh tutor. Atau gimana menerapkan metode T.A.N.D.U.R di kelas. Atau bagaimana cara mencatat (dan menghapal) dengan Mind Map. Atau teknik-teknik yang memadukan hapalan dengan gaya belajar kinestetik. Semuanya BUKAN CERAMAH, tapi praktek langsung.
Terus dijawab apa?
SULIT DILAKSANAKAN.
Dananya besar, guru-guru harus diberi transport dan makan siang, guru-guru harus meninggalkan jam mengajar di sekolah lain, ga boleh memakai hari efektif sekolah karena anak jadi terbengkalai, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya.
Ah, sudahlah.
Karena mentok, apa lalu jadi putus asa? NO WAY! Kalo yang di atas-atas itu ga mau, biarin aja. Kita ajak aja yang mau. Dan hari Kamis kemarin, sekitar sepuluh orang berkumpul di ruang audio visual perpustakaan. Kami belajar bersama tentang membuat Mind Map.
Mencatat adalah masalah klasik di sekolah kami. Tak ada buku paket, kami hanya meggunakan LKS. Mutu LKS rendah? Ya, benar, tapi kalau anda mengenal siswa-siswa di sekolah kami, beneran ga tegaaaaa menyuruh siswa beli buku paket sampe jutaan setahunnya. Akhirnya LKS jadi pilihan yang diambil.
Lalu masalah lainnya timbul. LKS tidak cukup dijadikan sumber belajar, jadi guru harus memberi catatan. Nah, inilah titik kritisnya. Saya terganggu sekali bila ada siswa yang mengisi status Facebook semacam, "Gila, nyatet sampe 3 lembar bolak-balik."
Inilah dasar kenapa kami berlatih mencatat menggunakan Mind Map yang lebih enteng, kreatif, menyenangkan, dan mudah dihapal.
Guru-guru ini datang padahal ada yang tak ada jam mengajar hari itu, mereka tidak diberi transport dan konsumsi khusus pelatihan, dan tanpa setifikat. Alat yang diperlukan hanya kertas kosong dan spidol warna yang digunakan bersama-sama. Meski menginginkan pembicara sekaliber Hernowo, tapi kami mencukupkan diri dengan pemateri gratisan, yaitu saya, hehehe.... Tinggal menambahkan beberapa piring gorengan sebagai penghangat suasana.
Jadi omong kosong kalau pelatihan guru itu ribet dan mahal!
Sepuluh orang yang hadir, tapi saya melihat semua menikmati sekali. Bu Muiyah (pakai jilbab hitam - batik PGRI) nyeletuk, "Nanti saya mau ajarin ke anak saya ah...." Wah, bagus sekali.
Kebetulan yang sudah selesai selain saya adalah Fahru, guru Geografi. Meskipun materi yang dibuat Mind Map-nya sama sekali asing untuk dia (karena materi mapel Bahasa Jepang ^_^;), saya coba tes isi materinya di depan rekan-rekan guru, ternyata langsung berhasil diingat tanpa menghapal, akibat penggunaan warna, gambar dan kode ketika membuat Mind Map.
Katika jam 11.30 tiba, saya mengingatkan bahwa kita harus menghentikan pelatihan. Tentu saja kami tak bisa meninggalkan jam mengajar seharian penuh, dan ruang peprpustakaan juga akan digunakan oleh siswa yang keluar zuhur. Apa tanggapan para guru?
"Yaaaaa, padahal lagi enak!"
Tuh kan, masih ga percaya kalau belajar juga bisa menyenangkan?
HASEEEEEK....
Bikin soal mah enak. Diapain nih biar ngerjainnya seru ya.... Di tambah gambar apa ya.... Gimana caranya biar anak-anak tetep mikir meskipun ujiannya boleh open book ya.... Pokoknya asiklah.
Pas ngoreksinya, huwaaaaa.... Mana essay semua. Mana anak-anak nulisnya kadang geje alias ga kebaca. Mana ada 5 kelas dikali sekian anak.
Eh guru di sebelah saya langsung interupsi, "Lha saya 11 kelas!" Ish, merusak suasana ajah =_=', orang lagi enak-enak mengeluh seakan diri ini guru paling menderita sedunia.
Tapi ada aja sih yang menghibur hati di kala meneliti keritingnya hiragana satu per satu. Misalnya, ya ampuuuun, ga tega banget kan ngasih angka 16 di atas kertas ujian (padahal ujiannya open book!). Atau ada juga yang di kelas 'ga keliatan' taunya dapet lebih bagus dari yang banyak omong.
Tiba-tiba.... Waks, apaan nih?
Huhuhuhu.... ada anak kelas X yang menjawab pertanyaan PAKE KANJI (please ya, bukan nama tepung).
Masalah pertama, saya belum ngajarin. Yang kedua, dan ini paling parah, SAYA GA BISA KANJI! Ng... ini bacanya... Kyou wa? Asa wa? Ima wa? Apa ya.... @~@
Apa saya salahin aja, secara ga sesuai dengan materi yang saya beri. Tapi kayaknya ga boleh deh kayak gitu. Itu namanya ga menghargai usaha murid. Lagian, mana boleh saya sok tau di luar my area of experties *tsaaah...*.
Oh ya, kalau sedang iseng, saya suka ngasih pertanyaan tambahan, yang ga masuk penilaian. Jadi cuma buat seru-seruan aja. Kali ini saya masukkan di soal kelas XI, bunyinya: "Hal apa yang paling menyebalkan dari pelajaran Bahasa Jepang?"
Senang sekali mendapati jawaban jujur mereka: Susah menghapal hiragana, ga suka disuruh maju buat ambil nilai percakapan, kadang suka bosen, ribet kalo suruh menyalin teks ke hiragana, dll.
Tapi yang satu ini bikin saya ketawa:
"Biasa-biasa bae. Tapi kalo lama kaga belajar Bahasa Jepang jadi lupa."
Hahahaha, haseeeek....
(bagi yang belum tau, logat tersebut dipakai oleh masyarakat Betawi di Ciledug dan sekitarnya, yang berbeda sekali dengan yang dipakai di kampung saya di Kebayoran Lama, padahal hanya berjarak 30 menit naik angkot)
JANJI UNTUK FERI
Tapi dengan Feri, beda kasusnya.
Sebelumnya, saya tidak menyadari ada masalah dengan Feri (nama disamarkan). Maklum, untuk pertemuan awal, biasanya kami tidak banyak bergerak, paling hanya berkenalan dan mendengarkan saya ngoceh tentang mata pelajaran yang saya ampu.
Begitu kelas menulis dimulai, barulah saya menemukan bahwa Feri berjalan dengan goyah dibantu dengan tongkat. Unit kami ada di lantai dua, dan cara Feri berjalan naik-turun belasan tangga cukup mengkhawatirkan saya. Bila bahunya tersenggol, kemungkinan dia akan jatuh. Teman-teman sekelasnya harus membantu jika ia harus melewati selokan yang hanya selebar 20 senti saja.
"Kamu dapat kecelakaan?" tanya saya.
Dia bilang, "Saya kena demam tinggi karena diare, sampai kejang-kejang. Sekarang sedang dalam masa pemulihan."
Barulah saya mengerti kenapa tempo hari menemukan guratan aneh di salah satu lembar kerja anak. Kalau tulisan latin digaya-gayain, itu wajar. Tapi saya tidak pernah menemukan garis-garis hiragana yang ditulis dengan bergelombang.
Rupanya itu lembar kerja Feri. Dia tidak melakukannya -menulis romaji dan hiragana dengan bergelombang- dengan sengaja.
Kejang yang dialami mempengaruhi seluruh syaraf motorik baik kasar maupun halus. Badannya bergetar bila berjalan, tangannya bergetar bila menulis, bahkan bicaranya jadi tak jelas karena getaran pada otot wajahnya.
Sementara banyak anak sehat yang mangkir datang ke sekolah, Feri tak kendur semangatnya. Selama tiga bulan ini, kesehatannya tampak membaik. Dia bisa berjalan pelan tanpa tongkat, tapi getaran itu masih ada di seluruh tubuhnya.
Tadi pagi ketika upacara bendera Senin, saya melihatnya di barisan paling depan (fotonya kejauhan, tapi Feri ada di tengah-tengah gambar).
Feri hanya terganggu motoriknya, tapi kecerdasannya sama sekali normal. Dia mengerti materi yang diberikan, menjawab pertanyaan dengan lancar, dan menghapal percakapan dengan baik. Kekurangannya hanya di sisi motorik, yaitu menulis dan melafalkan.
Mulanya saya ragu, apakah harus memperlakukannya secara istimewa. Di pelajaran saya, beberapa materi mengharuskan anak bergerak cukup banyak, dan itu tentu akan menyulitkan Feri. Tapi.... ah, tidak. Memperlakukannya secara istimewa -dengan membedakan tugas/evaluasi yang diberikan- sepertinya akan melecehkan semangatnya.
Jadi hingga saat ini, Feri mendapat tugas yang sama dengan semua rekan sekelasnya. Dia akan maju pelan-pelan, dengan badan yang bergetar, tersenyum (dia sering sekali tersenyum), dan membuktikan bahwa ia sama hebat dengan teman-teman sekelasnya.
Dari semua hal yang saya bisa lakukan untuk Feri, barangkali yang terbaik adalah memberinya peluang untuk merasa setara dan mampu bersaing.
17 October 2011
Ngomong-ngomong soal kreatif ini, kayaknya SEMUA sekolah nyelipin kata 'kreatif' ini di visi-misi-tujuan-motto what so ever. Tapi kan bukan dipajangnya yang penting, tapi penerapannya.
Motif cat tembok, susunan bangku, pengaturan kelas, bikin anak kreatif ga?
Cara gurunya ngajar bikin anak kreatif ga?
Kegiatan dan eskulnya bikin anak kreatif ga?
Tugas-tugasnya bikin anak kreatif ga?
Kalo bilang kepingin menghasilkan anak yang kreatif, ya harus diusahakan. Bukan cuma dipajang di banner dan brosur.
Waduh, kok jadi sewot ginih ^_^:
Jadi seperti kata si Akang, semua orang punya constraint masing-masing. Constraint saya adalah model sekolah konvensional yang rada 'berbahaya' kalo terlalu dibikin berbeda. 'Berbahaya' maksudnya mengganggu stabilitas lingkungan, secara ada 4 unit berbeda di satu lokasi, kelasnya dipakai pagi siang, and so un and so un (hadeh, maklum ngeblog jam 2 malem).
Jadi, dengan constraint yang ada, kita optimalkan aja apa yang ada, ya toh. Misalnya, materi jikoshoukai, atau perkenalan di bawah ini.
Tata bahasa itu ada di otak kiri, sedang gambar dan warna ada di otak kanan. Untuk nyambungin keduanya, beginilah RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) yang saya siapkan. RPP itu wajib dibikin setiap guru/dosen di seluruh dunia ^_^.
Daaaaan, ini contoh yang saya berikan di papan tulis:
hajimemashite.
watashi wa iruma desu.
douzo yoroshiku.
(tulisan 'iruma' masih pakai hiragana, karena belum belajar katakana ^^;)
Bawahnya ada pas foto diri, hahahaha.... Bawahnya lagi comicstrip bergambar 2 stickman lagi ngobrol, nanyain o kuni wa (asal negara)? o shigoto wa (pekerjaan)?
Dan anak-anak mengerjakan dengan kreatifitas sendiri-sendiri. Modalnya murah kok, hanya kertas kosong dan spidol warna. Ga pake multimedia, ga pake efek suara. Bukan ga mau sih, tapi emang ga ada, hehehehe....
Jadi begitulah, maunya sih belajar dengan mengaktifkan dua bagian otak bersamaan. Mudah-mudahan bisa nyenggol juga dikit-dikit.
26 September 2011
BHAKTI NUGRAHA
Sambil menunggu anak-anak selesai mengisi tabel latihan hiragana, saya memperhatikan anak-anak kelas X SMK yang biasa dipanggil dengan BN ini. Di tahun pertama, biasanya baju anak-anak akan terlihat bersih cemerlang karena mereka membeli pakaian baru. Badan sudah makin besar, dan yah, ini kan sekolah baru.
Tapi tidak dengan anak-anak BN. Baju mereka tidak baru, mungkin melanjutkan seragam SMP. Terlihat warna coklat membayang di beberapa pakaian. SMK BN berada di bawah yayasan yang sama dengan unit induk saya, yaitu SMA Yapera, tapi ada beberapa perbedaannya.
Yang pertama, 100% siswanya gratis spp, uang makan, asrama, seragam, dan kegiatan pondok.
Seorang rekan guru pernah menulis status di FB, “Andrea Hirata punya laskar pelangi, saya punya BN.” Anak-anak ini berasal dari kabupaten Bogor dan sekitarnya. Bahkan ada yang harus menempuh tambahan sekian jam perjalanan dari kota Bogor, entah di mana kampung mereka berada. Jadi bila tidak ‘diambil ‘oleh BN, mereka tidak bisa sekolah sama sekali.
Anak-anak BN hanya dua minggu belajar administrasi perkantoran di Tangerang. Ke mana mereka dua minggu berikitnya? Ada di desa Tenjolaya, kabupaten Bogor. Mereka mengaji di malam hari, dan mencangkul kebun serta beternak ikan, bebek, dan ayam di pagi hari.
Bayangkan, mempelajari manajemen personalia, stenografi, mail handling, menggunakan komputer dan mesin faksimil selama 2 minggu, lalu memegang cangkul dan membersihkan kandang selama dua minggu berikutnya. Dan jangan lupa kitab kuningnya. Luar biasa bukan?
Saya memandang kembali wajah anak-anak ini. Di bawa oleh yayasan kami dari pelosok, saya mendapat ciri-ciri umum dari mereka pada tahun pertama: ragu-ragu, khawatir, tidak percaya diri, gelagapan, bingung, berhati-hati namun mencoba mengerti dan menyesuaikan diri. Lingkungan, gaya hidup, cara belajar, semua baru. Tentu saja saya bisa mengerti mengapa mereka tampak terlalu cemas.
Saya mengalihkan pandangan ke tembok, dan tiba-iba saya sudah mengangkat ponsel untuk mengambil foto dinding kelas mereka. Ah, anak-anak ini punya bakat, mereka punya kreatifitas, mereka punya potensi. Dan terutama lagi, mereka kuat dan punya keberanian.
Beberapa dari mereka memilih ikut kelas menulis di mana kebetulan saya adalah mentornya. Seorang siswa menulis, “Saya kepingin jadi dokter. Tapi jadi dokter harus dari SMA jurusan IPA, sedang saya tidak bisa belajar di tempat lain selain di SMK BN. Lagipula tidak ada biaya juga untuk kuliah.”
Yang lain mendekati saya di sebuah pagi, “Ibu, anak BN lagi ngirit Bu, jadi ga bisa ke warnet mengerjakan tugas.”
Saya merasa bersalah, tidak menyangka bahwa 3000 rupiah untuk satu jam di warnet bisa jadi masalah untuk mereka. Akhirnya dengan wewenang kepala perpustakaan, anak BN bisa menggunakan komputer milik pustakawan (perpustakaan kami tidak memiliki komputer untuk umum). Mudah-mudahan ini bentuk layanan, bukan penyalahgunaan wewenang.
Ketika raker yayasan kemarin, kepala SMK BN mengakhiri laporannya dengan mengutip surat Al-Maun, yang mengguncang hati:
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim
Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
18 September 2011
SEKAI NI HITOTSU DAKE NO HANA
Ya sudahlah..... Kita lanjut sajah....
Kemarin saya sampai ke materi bilangan. Ichi ni san shi go, satu-dua-tiga-empat-lima, begitu. Sambungannya adalah satuan bilangan. Misalnya, 'kesatu' adalah ichi-ban, 'dua jam' adalah ni-jikan, 'tiga orang' adalah san-nin. Jadi satuannya ditambahkan di belakang bilangan, persis Bahasa Indonesia.
Kalau yang berbentuk bulat kan 'butir' (jadi bilangan di+ko belakangnya), yang bentuknya tipis kan disebut 'lembar' (+mai), yang berbentuk panjang disebut 'batang' (+hon), dst.
Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan.
Hari itu saya membawa laptop dan sound system ke kelas. Setelah belajar teori bilangan, saatnya mencarikan konteks bagi teori tersebut. Konteksnya saya coba diambil dari lagu lama SMAP, Sekai ni Hitotsu Dake no Hana. Kenapa lagu itu yang dipilih, semata-mata karena ada kata bilangan di sana.
Yang mau denger lagunya, silakan buka di sini: http://www.youtube.com/watch?v=d8uFwfvsf3Q&feature=related
Berikut teksnya:
NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one!
Tidak perlu untuk menjadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya!
Hanaya no misesaki ni naranda
Ironna hana o miteita
Hito sorezore konomi wa aru kedo
Doremo minna kirei da ne
Di depan toko bunga
Seseorang melihat banyak bunga berjajar
Setiap orang memang memiliki bunga favorit
Tetapi semua bunga tetap indah, bukan?
Kono naka de dare ga ichiban da nante
Arasou koto mo shinai de
Baketsu no naka hokorashige ni
Chanto mune o hatteiru
Persaingan untuk melihat mana yang terbaik
Bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan
Menunjukkan diri di dalam keranjang
Bunga-bunga itu berdiri tegak dengan bangga
Sore na noni bokura ningen wa
Doushite kou mo kurabeta garu?
Hitori hitori chigau noni sono naka de
Ichiban ni naritagaru?
Jadi kenapa kemudian kita manusia
Harus membandingkan diri satu sama lain?
Masing-masing orang tentu berbeda,
Mengapa harus selalu jadi yang nomor satu?
Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii
Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik
Komatta youni warai nagara
Zutto mayotteru hito ga iru
Ganbatte saita hana wa dore mo
Kirei dakara shikata nai ne
Ada orang yang selalu resah,
Meski tertawa tetap kelihatan susah.
Padahal bunga manapun yang berjuang untuk mekar
Pasti terlihat indah, bukan?
Yatto mise kara dete kita
Sono hito ga kakaete ita
Iro toridori no hanataba to
Ureshii souna yokogao
Ketika akhirnya orang itu keluar dari toko,
Ia menggenggam di tangannya
Bunga-bunga yang berwarna-warni
Bunga-bunga yang terlihat amat bahagia
Namae mo shira nakatta keredo
Ano hi boku ni egao o kureta
Dare mo kizukanai youna basho de
Saiteta hana no youni
Aku tidak pernah tahu nama orang itu
Tetapi hari itu ia memberiku senyuman
Seolah di suatu tempat yang orang lain tak tahu
Ada setangkai bunga tengah mekar
Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii
Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik
Chiisai hana ya ooki na hana
Hitotsu toshite onaji mono wa nai kara
NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one
Ada bunga yang kecil, ada bunga yang besar
Tidak ada yang sama dengan satu sama lain
Tidak perlu jadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya.
(Mohon maaf pada senseitachi jika ada kesalahan arti. Ini asli saya ambil dari internet, hehehe....)
Yang kami dapatkan hari ini ternyata lebih dari sekedar konteks bagi teori bilangan dan satuan bilangan dalam Bahasa Jepang. Sebelum kami menyanyikan kembali lagu di atas dan menutup pertemuan hari itu, saya bilang pada anak-anak:
"Sekarang kalian memang memakai seragam yang sama, belajar hal yang sama, mengikuti jadwal sekolah yang sama. Sekitar setengah tahun lagi, begitu kalian lulus, berpakaianlah sesuai ciri khas masing-masing, belajarlah apa yang kalian sukai, temukan jalan yang ditunjukkan hati nurani, jadilah diri sendiri untuk mekar jadi indah."
Nyanyi yuk, gampang kok!
17 September 2011
UPACARA BIAR CINTA NEGARA?
Siapa suka upacara?
Saya ga suka. Eh, pernah deh saya antusias ikut upacara. Waktu di SMA, upacara Sabtu pagi (sekolahnya Sabtu sampe Kamis ^_^) lumayan ditunggu. Soalnya upacaranya digabung antara siswi lelaki dan perempuan. Selain upacara, semua dilakukan terpisah, mulai dari belajar, kegiatan, apalagi asrama. Jadi pas upacara itu bisa lirik-lirik dikit ke sebelah kanan. Hahaha, kebayang ya noraknya saya waktu itu.
Waktu SMA, ada juga masa-masa di mana upacara jadi hal yang ditunggu. Kapan itu? Pas saya jadi paskibra di sekolah. Kenapa antusias? Pastinya bukan karena mengaggap upacara penting, tapi karena saya mau tampil.
Makanya saya bertanya-tanya, apakah gunanya upacara, apa pula gunanya eskul paskibra. Bener ga sih dua hal itu bertujuan untuk menanamkan nasionalisme?
Saya bertanya-tanya gini karena pekan lalu ada undangan lomba menulis untuk guru dari sebuah LSM. Salah satu temanya tentang peran guru dalam membangun nasionalisme. Lihat hadiahnya, wooooow.... Juara pertama dapet 8 jeti bo! Ngileeeerrr....
Tapi tunggu dulu deh. LSM apakah ini? Nanya-nanya Mbah Google, ah kayaknya kok kurang sreg yah sama visi misinya. Bukannya salah sih, cuma berhati-hati aja. Masih mikir-mikirlah gitu untuk ikutan.
Kembali lagi ke upacara.
Senin kemarin, ada yang istimewa sekolah tempat saya bekerja. Ceritanya Kapolsek datang dan jadi pembina upacara. Ini fotonya, keliatan ga Pak Kapolseknya?
Melihat dia bawa map, kita udah nyangka kalo amanat pembina bakalan lama nih. Sambil bosen, saya update status Facebook. Idih, bandel emang. Tapi isi statusnyanya beneran dari dalam hati:
"Orang bisa ga sih jadi baik kalo diceramahin panjang-panjang tiap hari senin kayak gini?"
Ini pertanyaan ya, bukan sinisme.
03 September 2011
DO MORE, EXPECT LESS
Nilai tertinggi alias A: lebih dari 90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Wah jelas ga mungkin, kan.
Berikutnya yang B: lebih dari 75% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Ini nggak juga.
Lalu yang C: lebih dari 50% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Yah, nggak juga.
Ah, jadi males lihat pilihan selanjutnya. Kayaknya sih dapet 0 poin deh di butir ini ^_^;
Memang yah, gimana juga, sekolah 'bagus' alias terkreditasi A menurut standar resmi Indonesia bukan hanya harus pinter-pinter orangnya, tapi juga harus ada duitnya. Ya pinter dan tajir sekolahnya, juga gurunya, juga siswanya.
Misalnya salah satu butir evaluasi di atas itu, ya ga mungkinlah sekolah tempat saya bekerja ini bisa memenuhinya. Perguruan tinggi terakreditasi? Yang melanjutkan ke bangku kuliah aja bisa dihitung dengan sebelah jari tiap angkatannya, apalagi perguruan tinggi terakreditasi.
Tapi sudahlah, kita lupakan saja butir evaluasi di atas. Itukan yang buat BAN (Badan Akreditasi Nasional), tahu apa sih mereka tentang anak-anak yang saya temui setiap hari.
Ayo kita buat sendiri saja standarnya.
Nilai tertinggi: 90% lulusan menjadi manusia bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.
Hmmm...., gimana?
Standarnya susah banget loh ini. Tapi dibanding standar lulusan buatan BAN, yang ini lebih mungkin kami capai. Kalau pakai standar '90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi', hwidiiiih dari mana duit untuk masuknya. Beasiswa, untuk 90% lulusan? Ah, becanda ajah....
Bila manusia bermanfaat yang dituju, saya percaya kami BISA mempersiapkannya. Perubahan paradigma, penggalian minat dan bakat, pembekalan keterampilan hidup, memupuk tumbuhnya motivasi, pembiasaan untuk disiplin. Yah, semua itu tak mudah, tapi bisa dilakukan, dan terutama, biayanya jauh lebih kecil dibanding uang pangkal untuk satu anak di perguruan tinggi top.
Jadi teringat komentar siswa-siswa saya di notes Facebook, beberapa melaporkan dengan bangga bahwa mereka sudah bekerja sekarang. Alhamdulillah, saya sudah cukup bangga bangga dan bersyukur. Standar pertama telah terlewat, menjadi mandiri, artinya bisa bermanfaat untuk diri sendiri, mudah-mudahan juga untuk keluarga.
Apa standar saya terlalu rendah? Masa' sih merasa cukup bahagia lihat anak-anak itu sekedar jadi SPG/SPB di mal?
Hmmmm...., begini sja: DO MORE, EXPECT LESS.
19 August 2011
NAKAL ITU BOLEH
Menggerutu panjang pendek, saya bilang pada suami, "Masa sih nahan lapar aja ga bisa? Di rumah juga ibunya ga masak kan (maksud saya ga ada makan siang). Buat apa sih sampe ngebatalin gitu? Demi sebatang rokok?"
Terus si Akang bilang, "Anak muda itu banyak yang merasa malu kalo keliatan terlalu taat aturan."
Ha? Tepok jidat deh, emang jadi muda tuh perlu bandel juga dikit-dikit. Nah, kayaknya saya terlalu baik nih waktu muda (wakakakakak....), makanya saya sering ga ngerti alasan bandelnya siswa-siswa saya.
Kata-kata si Akang dapat konfirmasi lagi dari adik saya, yang memang tiga-tiganya lelaki. "Pemberontakan itu dianggap keren. Jadi ada kebanggaaan tersendiri, soalnya dianggap berani. Padahal kalo lagi sendirian sih tetep puasa."
Hahahah....
Oke, sekarang pertanyaannya adalah: anak muda boleh ga sih nakal?
Toh, banyak orang yang dulunya dianggap termasuk golongan 'madesu' alias 'masa depan suram', eh gedenya kok bisa hidup dengan baik. Ya ga sampe jadi ustadz sih, tapi menjalankan ajaran agama, bertanggung jawab pada keluarga, dan punya penghidupan yang layak.
Maksudnya, bukankah baik bila seseorang punya pengalaman hidup yang lebih kaya?
Pikir-pikir, barangkali juga gapapa ya. Anak muda silakan saja berbuat semaunya. Asal dia pastikan ga mati duluan sebelum tobat.
*foto diambil dari internet (bukan siswa saya, sumpah! ^_^;v).
23 July 2011
GA WORTH IT!
Kenapa keren, soalnya saya jarang menemukan ada siswa yang mikir, terus berani menggugat: "Saya ga melihat ini ada gunanya untuk masa depan saya." Kebanyakan sih nelen aja meskipun setengah mati ga suka dan ga ngerti, semua materi itu untuk apa.
Apa bener Bahasa Jepang adalah pelajaran ga guna? Kata saya, iya juga sih, hahahaha....
Gini. Bahasa Jepang, dan empat macam bahasa lain yang bisa dipilih dalam kurikulum Indonesia sebagai bahasa asing kedua (temennya: Arab, Cina, Perancis, Jerman), diajarkan memang mengawang-ngawang. Ngapain coba menghapal huruf dan karakter keriting plus gramatika, bahkan percakapan sekalipun. Lha konteksnya juga ga ada.
Yang saya maksud dengan konteks adalah, ini semua mau dipake di mana, sih? Buat apa? Mana belajarnya seminggu sekali, terus bukunya nyeremin banget (kalimat-kalimat percakapan panjang gitu, padahal baru beberapa lembar yang lalu belajar tabel hiragana). Yah, kayaknya jaraaaaang banget yang bisa pera-pera setelah 3 tahun.
Kalau Bahasa Inggris, beda. Kita dikelilingi Bahasa Inggris sejak tv sampai lagu sampai manual instruction barang elektronik. Kalo Bahasa Jepang (atau Jerman dan Prancis) kan ga begitu.
Gimana kalo gini aja. Pelajaran bahasa asing kedua jadi semacam pemantik semangat para siswa aja. Nah, kalo ini saya setuju. Siswa diberi wawasan bahwa, "Dunia itu luas, Nak. Jangan batasi diri, kemungkinan itu terbuka kalau kamu mau mencari."
Kalau begini alasannya, jangan banyak-banyak belajar bahasanya. Masukkan lebih banyak tradisi dan budaya.
Nah, ini kan jelas tugas gurunya. Ga heran kalo siswa bilang belajar Bahasa Jepang itu ga worth it, karena mungkin gurunya ga ngasih tau, apa manfaat kamu belajar bahasa jepang, apa yang bakal dia dapat setelah belajar Bahasa Jepang.
Tentu sudah pernah dengar tentang T.A.N.D.U.R, bukan?
T.A.N.D.U.R adalah salah satu metode penyampaian materi di kelas a la Quantum Teaching. Huruf T dan A ini adalah waktu kita memberikan konteks.
T adalah ingkatan dari Tumbuhkan minat. Apa manfaatnya bagi siswa, apa asyiknya belajar ini. Setelah itu melangkah ke A, atau Alami. Biarkan siswa menghubungkan pengalamannya dengan materi. Kalau pelajarannya tentang katakana, misalnya, kita tunjukkan beberapa katakana yang terselip di banner iklan dan bilboard atau label makanan. Ini membuat mereka ngeh, "Oh iya. Katakana itu ada loh dalam kehidupan saya."
Segala definisi dan teori diberikan setelah siswa tumbuh minatnya, dan dapat menghuugkan materi dengan kedhidupan pribadi mereka. Itulah yang disebut konteks belajar, dan harus diberikan di awal segalanya di kelas.
11 July 2011
JADI AKRAB
Tadi pagi, dia mengirim request pada saya untuk dilisting sebagai mother di profil FBnya. Malam ini, kami bertukar cerita tentang kabar masing-masing, pekerjaan, ditutup dengan permintaan agar jangan sampai lupa mengundangnya bila ada reuni atau buka puasa alumni di sekolah.
Apa anda menduga bahwa sebelumnya saya dekat dengan anak ini?
Tidak sama sekali. kami tak pernah bicara selain dalam kelas, yang mana itu jaraaaang sekali terjadi. Berkali-kali saya kesal karena dia sulit sekali menyerap materi. Dia juga kemungkinan besar kesal pada kecerewetan saya. Kalau tidak, mana mungkin dulu dia jarang masuk dan sering lupa bawa worksheet. Bahkan, ingatan saya menyatakan bahwa dia adalah siswa yang paling sulit diangkat antusiasmenya, meski saya sudah mencoba dengan berbagai cara.
Kalau anda dekat dengan guru dulu, kemungkinannya adalah anda termasuk anak yang pintar, atauaktif di kegiatan, atau anda/gurunya adalah orang yang pandai bergaul. Saya dan anak ini tidak berada dalam salah satu kondisi di atas. Jadi kalau sekarang jadi akrab, saya bertanya-tanya mengapa.
Jangan-jangan, hubungan guru-murid sulit bisa akrab karena banyak tekanan di sekelilingnya. Tekanan nilai, kurikulum, peraturan. Semua tekanan itu membuat saya mudah sekali mutung pada beberapa anak. Ketika itu semua dilepaskan, anak-anak ini jadi anak yang menyenangkan.
Maka saya sedang berpikir, bagaimana kedekatan ini bisa dibangun di tengah berbagai tekanan ini. Terutama, karena saya bukan orang yang 'hangat'.
Ah, tapi bagaimanapun, senang rasanya liat alumni yang melanjutkan hidup mereka dengan baik. Tulisan anak ini masih saja kacau tanda baca, seperti saat saya mengajarnya dulu. Tapi kenyataan bahwa dia sudah bisa mandiri dengan bekerja di perusahaan ponsel terkemuka, sudah cukup membuat saya bahagia.
03 July 2011
RULES
1. Hanya menerima siswa yang sedang/pernah saya ajar.
Memperhatikan (diam-diam) siswa sendiri aja udah kebanyakan. Biar sedikit asal berarti, ceileh...
2. Menyeleksi siapa saja yang bisa melihat status/notes/link tertentu yang saya buat
Hohow... masa' gurunya sama aja naifnya dengan siswa. Rada bijak dikit gitulah, hehehe, gaya.
3. Hanya berkomentar di status/foto yang tidak provokatif.
Padahal banyak banget status yang provokatif. Ada yang nyumpahin orang lain sebagai cewe murahan, ada yang bilang tuhan sudah mati, ada yang nulis status: kesel banget denger orang jum'atan, ada yang cinta-cintaan sampe malu saya bacanya, wah macem-macem deh.
Kalo kata-kata semacam anjing, babi, tai, dan sejenisnya mah udah biasa. Ada yang lepas jilbab kalo di rumah (padahal sekolah juga ga ngewajibin). Foto yang 'nyeremin' juga ada, meski ga banyak.
4. Kalau ada status/foto yang bikin saya gatel kepingin komentar, maka itu berarti sebaiknya saya TIDAK berkomentar
Kaya' bahasanya anak jaman sekarang: cukup tau aja. Meskipun statusnya kadang bikin guru/orang tua mengurut dada prihatin.
5. Tidak mengungkit apa yang dilihat di Facebook ketika berada di sekolah
Terutama jangan sampai membawa nama atau kasus secara spesifik. Wewenang saya hanya sampai pagar sekolah.
6. Berkoordinasi dengan wakasek bidang kesiswaan, wali kelas, dan pembina osis untuk melakukan follow-up lewat program kerohanian, kelas seni & keterampilan, kelas pengembangan diri, dan konseling berkelanjutan.
Ga perlu ribut-ribut, ga perlu menyalahkan siswa karena toh mereka hasil didikan kita. Jadi lompati aja hal-hal yang ga ada gunanya, dan langsung mengusahakan solusi pembinaannya. Hop.