17 October 2011



Saya ini tidak belajar ilmu kependidikan secara formal, jadi hanya baca-baca saja buku tentang otak kiri dan otak kanan. Katanya, pembelajaran yang paling tepat adalah ketika kedua otak 'jalan' barengan. Kekurangan pendidikan kita katanya karena terlalu berfokus pada otak kiri. Makanya banyak yang pinter tapi ga kreatif.



Ngomong-ngomong soal kreatif ini, kayaknya SEMUA sekolah nyelipin kata 'kreatif' ini di visi-misi-tujuan-motto what so ever. Tapi kan bukan dipajangnya yang penting, tapi penerapannya.

Motif cat tembok, susunan bangku, pengaturan kelas, bikin anak kreatif ga?
Cara gurunya ngajar bikin anak kreatif ga?
Kegiatan dan eskulnya bikin anak kreatif ga?
Tugas-tugasnya bikin anak kreatif ga?

Kalo bilang kepingin menghasilkan anak yang kreatif, ya harus diusahakan. Bukan cuma dipajang di banner dan brosur.

Waduh, kok jadi sewot ginih ^_^:

Jadi seperti kata si Akang, semua orang punya constraint masing-masing. Constraint saya adalah model sekolah konvensional yang rada 'berbahaya' kalo terlalu dibikin berbeda. 'Berbahaya' maksudnya mengganggu stabilitas lingkungan, secara ada 4 unit berbeda di satu lokasi, kelasnya dipakai pagi siang, and so un and so un (hadeh, maklum ngeblog jam 2 malem).

Jadi, dengan constraint yang ada, kita optimalkan aja apa yang ada, ya toh. Misalnya, materi jikoshoukai, atau perkenalan di bawah ini.

Tata bahasa itu ada di otak kiri, sedang gambar dan warna ada di otak kanan. Untuk nyambungin keduanya, beginilah RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) yang saya siapkan. RPP itu wajib dibikin setiap guru/dosen di seluruh dunia ^_^.




Daaaaan, ini contoh yang saya berikan di papan tulis:



hajimemashite.
watashi wa iruma desu.
douzo yoroshiku.

(tulisan 'iruma' masih pakai hiragana, karena belum belajar katakana ^^;)

Bawahnya ada pas foto diri, hahahaha.... Bawahnya lagi comicstrip bergambar 2 stickman lagi ngobrol, nanyain o kuni wa (asal negara)? o shigoto wa (pekerjaan)?

Dan anak-anak mengerjakan dengan kreatifitas sendiri-sendiri. Modalnya murah kok, hanya kertas kosong dan spidol warna. Ga pake multimedia, ga pake efek suara. Bukan ga mau sih, tapi emang ga ada, hehehehe....



Jadi begitulah, maunya sih belajar dengan mengaktifkan dua bagian otak bersamaan. Mudah-mudahan bisa nyenggol juga dikit-dikit.

26 September 2011

BHAKTI NUGRAHA

Seperti hari Sabtu pagi lainnya di semester ini, saya mengajar di unit SMK Bhakti Nugraha. Ini sekolah istimewa, dan akan saya jelaskan mengapa.



Sambil menunggu anak-anak selesai mengisi tabel latihan hiragana, saya memperhatikan anak-anak kelas X SMK yang biasa dipanggil dengan BN ini. Di tahun pertama, biasanya baju anak-anak akan terlihat bersih cemerlang karena mereka membeli pakaian baru. Badan sudah makin besar, dan yah, ini kan sekolah baru.

Tapi tidak dengan anak-anak BN. Baju mereka tidak baru, mungkin melanjutkan seragam SMP. Terlihat warna coklat membayang di beberapa pakaian. SMK BN berada di bawah yayasan yang sama dengan unit induk saya, yaitu SMA Yapera, tapi ada beberapa perbedaannya.

Yang pertama, 100% siswanya gratis spp, uang makan, asrama, seragam, dan kegiatan pondok.

Seorang rekan guru pernah menulis status di FB, “Andrea Hirata punya laskar pelangi, saya punya BN.” Anak-anak ini berasal dari kabupaten Bogor dan sekitarnya. Bahkan ada yang harus menempuh tambahan sekian jam perjalanan dari kota Bogor, entah di mana kampung mereka berada. Jadi bila tidak ‘diambil ‘oleh BN, mereka tidak bisa sekolah sama sekali.

Anak-anak BN hanya dua minggu belajar administrasi perkantoran di Tangerang. Ke mana mereka dua minggu berikitnya? Ada di desa Tenjolaya, kabupaten Bogor. Mereka mengaji di malam hari, dan mencangkul kebun serta beternak ikan, bebek, dan ayam di pagi hari.

Bayangkan, mempelajari manajemen personalia, stenografi, mail handling, menggunakan komputer dan mesin faksimil selama 2 minggu, lalu memegang cangkul dan membersihkan kandang selama dua minggu berikutnya. Dan jangan lupa kitab kuningnya. Luar biasa bukan?

Saya memandang kembali wajah anak-anak ini. Di bawa oleh yayasan kami dari pelosok, saya mendapat ciri-ciri umum dari mereka pada tahun pertama: ragu-ragu, khawatir, tidak percaya diri, gelagapan, bingung, berhati-hati namun mencoba mengerti dan menyesuaikan diri. Lingkungan, gaya hidup, cara belajar, semua baru. Tentu saja saya bisa mengerti mengapa mereka tampak terlalu cemas.



Saya mengalihkan pandangan ke tembok, dan tiba-iba saya sudah mengangkat ponsel untuk mengambil foto dinding kelas mereka. Ah, anak-anak ini punya bakat, mereka punya kreatifitas, mereka punya potensi. Dan terutama lagi, mereka kuat dan punya keberanian.

Beberapa dari mereka memilih ikut kelas menulis di mana kebetulan saya adalah mentornya. Seorang siswa menulis, “Saya kepingin jadi dokter. Tapi jadi dokter harus dari SMA jurusan IPA, sedang saya tidak bisa belajar di tempat lain selain di SMK BN. Lagipula tidak ada biaya juga untuk kuliah.”

Yang lain mendekati saya di sebuah pagi, “Ibu, anak BN lagi ngirit Bu, jadi ga bisa ke warnet mengerjakan tugas.”

Saya merasa bersalah, tidak menyangka bahwa 3000 rupiah untuk satu jam di warnet bisa jadi masalah untuk mereka. Akhirnya dengan wewenang kepala perpustakaan, anak BN bisa menggunakan komputer milik pustakawan (perpustakaan kami tidak memiliki komputer untuk umum). Mudah-mudahan ini bentuk layanan, bukan penyalahgunaan wewenang.

Ketika raker yayasan kemarin, kepala SMK BN mengakhiri laporannya dengan mengutip surat Al-Maun, yang mengguncang hati:



Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?


Itulah orang yang menghardik anak yatim

Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

18 September 2011

SEKAI NI HITOTSU DAKE NO HANA



Kadang suka bertanya-tanya, saya ini berniat sombong ga sih? Kalo posting tentang aktifitas kelas, atau perkembangan menggembirakan dari homeschoolingnya anak-anak, niatnya untuk mendokumentasikan, atau mau pamer?

Ya sudahlah..... Kita lanjut sajah....



Kemarin saya sampai ke materi bilangan. Ichi ni san shi go, satu-dua-tiga-empat-lima, begitu. Sambungannya adalah satuan bilangan. Misalnya, 'kesatu' adalah ichi-ban, 'dua jam' adalah ni-jikan, 'tiga orang' adalah san-nin. Jadi satuannya ditambahkan di belakang bilangan, persis Bahasa Indonesia.

Kalau yang berbentuk bulat kan 'butir' (jadi bilangan di+ko belakangnya), yang bentuknya tipis kan disebut 'lembar' (+mai), yang berbentuk panjang disebut 'batang' (+hon), dst.

Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan.

Hari itu saya membawa laptop dan sound system ke kelas. Setelah belajar teori bilangan, saatnya mencarikan konteks bagi teori tersebut. Konteksnya saya coba diambil dari lagu lama SMAP, Sekai ni Hitotsu Dake no Hana. Kenapa lagu itu yang dipilih, semata-mata karena ada kata bilangan di sana.

Yang mau denger lagunya, silakan buka di sini: http://www.youtube.com/watch?v=d8uFwfvsf3Q&feature=related

Berikut teksnya:


NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one!

Tidak perlu untuk menjadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya!

Hanaya no misesaki ni naranda
Ironna hana o miteita
Hito sorezore konomi wa aru kedo
Doremo minna kirei da ne

Di depan toko bunga
Seseorang melihat banyak bunga berjajar
Setiap orang memang memiliki bunga favorit
Tetapi semua bunga tetap indah, bukan?

Kono naka de dare ga ichiban da nante
Arasou koto mo shinai de
Baketsu no naka hokorashige ni
Chanto mune o hatteiru

Persaingan untuk melihat mana yang terbaik
Bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan
Menunjukkan diri di dalam keranjang
Bunga-bunga itu berdiri tegak dengan bangga

Sore na noni bokura ningen wa
Doushite kou mo kurabeta garu?
Hitori hitori chigau noni sono naka de
Ichiban ni naritagaru?

Jadi kenapa kemudian kita manusia
Harus membandingkan diri satu sama lain?
Masing-masing orang tentu berbeda,
Mengapa harus selalu jadi yang nomor satu?

Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii

Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik

Komatta youni warai nagara
Zutto mayotteru hito ga iru
Ganbatte saita hana wa dore mo
Kirei dakara shikata nai ne

Ada orang yang selalu resah,
Meski tertawa tetap kelihatan susah.
Padahal bunga manapun yang berjuang untuk mekar
Pasti terlihat indah, bukan?

Yatto mise kara dete kita
Sono hito ga kakaete ita
Iro toridori no hanataba to
Ureshii souna yokogao

Ketika akhirnya orang itu keluar dari toko,
Ia menggenggam di tangannya
Bunga-bunga yang berwarna-warni
Bunga-bunga yang terlihat amat bahagia

Namae mo shira nakatta keredo
Ano hi boku ni egao o kureta
Dare mo kizukanai youna basho de
Saiteta hana no youni

Aku tidak pernah tahu nama orang itu
Tetapi hari itu ia memberiku senyuman
Seolah di suatu tempat yang orang lain tak tahu
Ada setangkai bunga tengah mekar

Sousa bokura wa
Sekai ni hitotsu dake no hana
Hitori hitori chigau tane o motsu
Sono hana o sakaseru koto dake ni
Isshou kenmei ni nareba ii

Ya, karena kita semua
Bunga yang hanya satu-satunya di dunia
Setiap kita membawa benih yang berbeda
Untuk membuat bunga itu mekar
Kita harus berupaya yang terbaik

Chiisai hana ya ooki na hana
Hitotsu toshite onaji mono wa nai kara
NO.1 ni nara nakutemo ii
Moto moto tokubetsu na
Only one

Ada bunga yang kecil, ada bunga yang besar
Tidak ada yang sama dengan satu sama lain
Tidak perlu jadi Nomor 1
Kamu selalu jadi yang teristimewa
Satu-satunya.

(Mohon maaf pada senseitachi jika ada kesalahan arti. Ini asli saya ambil dari internet, hehehe....)

Yang kami dapatkan hari ini ternyata lebih dari sekedar konteks bagi teori bilangan dan satuan bilangan dalam Bahasa Jepang. Sebelum kami menyanyikan kembali lagu di atas dan menutup pertemuan hari itu, saya bilang pada anak-anak:

"Sekarang kalian memang memakai seragam yang sama, belajar hal yang sama, mengikuti jadwal sekolah yang sama. Sekitar setengah tahun lagi, begitu kalian lulus, berpakaianlah sesuai ciri khas masing-masing, belajarlah apa yang kalian sukai, temukan jalan yang ditunjukkan hati nurani, jadilah diri sendiri untuk mekar jadi indah.
"

Nyanyi yuk, gampang kok!

17 September 2011

UPACARA BIAR CINTA NEGARA?





Siapa suka upacara?

Saya ga suka. Eh, pernah deh saya antusias ikut upacara. Waktu di SMA, upacara Sabtu pagi (sekolahnya Sabtu sampe Kamis ^_^) lumayan ditunggu. Soalnya upacaranya digabung antara siswi lelaki dan perempuan. Selain upacara, semua dilakukan terpisah, mulai dari belajar, kegiatan, apalagi asrama. Jadi pas upacara itu bisa lirik-lirik dikit ke sebelah kanan. Hahaha, kebayang ya noraknya saya waktu itu.

Waktu SMA, ada juga masa-masa di mana upacara jadi hal yang ditunggu. Kapan itu? Pas saya jadi paskibra di sekolah. Kenapa antusias? Pastinya bukan karena mengaggap upacara penting, tapi karena saya mau tampil.

Makanya saya bertanya-tanya, apakah gunanya upacara, apa pula gunanya eskul paskibra. Bener ga sih dua hal itu bertujuan untuk menanamkan nasionalisme?

Saya bertanya-tanya gini karena pekan lalu ada undangan lomba menulis untuk guru dari sebuah LSM. Salah satu temanya tentang peran guru dalam membangun nasionalisme. Lihat hadiahnya, wooooow.... Juara pertama dapet 8 jeti bo! Ngileeeerrr....

Tapi tunggu dulu deh. LSM apakah ini? Nanya-nanya Mbah Google, ah kayaknya kok kurang sreg yah sama visi misinya. Bukannya salah sih, cuma berhati-hati aja. Masih mikir-mikirlah gitu untuk ikutan.

Kembali lagi ke upacara.



Senin kemarin, ada yang istimewa sekolah tempat saya bekerja. Ceritanya Kapolsek datang dan jadi pembina upacara. Ini fotonya, keliatan ga Pak Kapolseknya?

Melihat dia bawa map, kita udah nyangka kalo amanat pembina bakalan lama nih. Sambil bosen, saya update status Facebook. Idih, bandel emang. Tapi isi statusnyanya beneran dari dalam hati:

"Orang bisa ga sih jadi baik kalo diceramahin panjang-panjang tiap hari senin kayak gini?"

Ini pertanyaan ya, bukan sinisme.

03 September 2011

DO MORE, EXPECT LESS



Hmmm...., jadi senyum-senyum sendiri lihat butir evaluasinya:

Nilai tertinggi alias A: lebih dari 90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Wah jelas ga mungkin, kan.

Berikutnya yang B: lebih dari 75% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Ini nggak juga.

Lalu yang C: lebih dari 50% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi.
=> Yah, nggak juga.

Ah, jadi males lihat pilihan selanjutnya. Kayaknya sih dapet 0 poin deh di butir ini ^_^;

Memang yah, gimana juga, sekolah 'bagus' alias terkreditasi A menurut standar resmi Indonesia bukan hanya harus pinter-pinter orangnya, tapi juga harus ada duitnya. Ya pinter dan tajir sekolahnya, juga gurunya, juga siswanya.

Misalnya salah satu butir evaluasi di atas itu, ya ga mungkinlah sekolah tempat saya bekerja ini bisa memenuhinya. Perguruan tinggi terakreditasi? Yang melanjutkan ke bangku kuliah aja bisa dihitung dengan sebelah jari tiap angkatannya, apalagi perguruan tinggi terakreditasi.



Tapi sudahlah, kita lupakan saja butir evaluasi di atas. Itukan yang buat BAN (Badan Akreditasi Nasional), tahu apa sih mereka tentang anak-anak yang saya temui setiap hari.

Ayo kita buat sendiri saja standarnya.

Nilai tertinggi: 90% lulusan menjadi manusia bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Hmmm...., gimana?

Standarnya susah banget loh ini. Tapi dibanding standar lulusan buatan BAN, yang ini lebih mungkin kami capai. Kalau pakai standar '90% lulusan diterima di perguruan tinggi terakreditasi', hwidiiiih dari mana duit untuk masuknya. Beasiswa, untuk 90% lulusan? Ah, becanda ajah....



Bila manusia bermanfaat yang dituju, saya percaya kami BISA mempersiapkannya. Perubahan paradigma, penggalian minat dan bakat, pembekalan keterampilan hidup, memupuk tumbuhnya motivasi, pembiasaan untuk disiplin. Yah, semua itu tak mudah, tapi bisa dilakukan, dan terutama, biayanya jauh lebih kecil dibanding uang pangkal untuk satu anak di perguruan tinggi top.


Jadi teringat komentar siswa-siswa saya di notes Facebook, beberapa melaporkan dengan bangga bahwa mereka sudah bekerja sekarang. Alhamdulillah, saya sudah cukup bangga bangga dan bersyukur. Standar pertama telah terlewat, menjadi mandiri, artinya bisa bermanfaat untuk diri sendiri, mudah-mudahan juga untuk keluarga.

Apa standar saya terlalu rendah? Masa' sih merasa cukup bahagia lihat anak-anak itu sekedar jadi SPG/SPB di mal?

Hmmmm...., begini sja: DO MORE, EXPECT LESS.

19 August 2011

NAKAL ITU BOLEH

Karena kesel, juga males terus berurusan dengan masalah yang sama, akhirnya saya panggil satpam untuk mengusir mereka. Lagian mikir dong, bulan puasa gini malah ngerokok, siang bolong, dengan seragam, di samping sekolah pula.

Menggerutu panjang pendek, saya bilang pada suami, "Masa sih nahan lapar aja ga bisa? Di rumah juga ibunya ga masak kan (maksud saya ga ada makan siang). Buat apa sih sampe ngebatalin gitu? Demi sebatang rokok?"

Terus si Akang bilang, "Anak muda itu banyak yang merasa malu kalo keliatan terlalu taat aturan."

Ha? Tepok jidat deh, emang jadi muda tuh perlu bandel juga dikit-dikit. Nah, kayaknya saya terlalu baik nih waktu muda (wakakakakak....), makanya saya sering ga ngerti alasan bandelnya siswa-siswa saya.

Kata-kata si Akang dapat konfirmasi lagi dari adik saya, yang memang tiga-tiganya lelaki. "Pemberontakan itu dianggap keren. Jadi ada kebanggaaan tersendiri, soalnya dianggap berani. Padahal kalo lagi sendirian sih tetep puasa."

Hahahah....

Oke, sekarang pertanyaannya adalah: anak muda boleh ga sih nakal?



Toh, banyak orang yang dulunya dianggap termasuk golongan 'madesu' alias 'masa depan suram', eh gedenya kok bisa hidup dengan baik. Ya ga sampe jadi ustadz sih, tapi menjalankan ajaran agama, bertanggung jawab pada keluarga, dan punya penghidupan yang layak.


Maksudnya, bukankah baik bila seseorang punya pengalaman hidup yang lebih kaya?

Pikir-pikir, barangkali juga gapapa ya. Anak muda silakan saja berbuat semaunya. Asal dia pastikan ga mati duluan sebelum tobat.


*foto diambil dari internet (bukan siswa saya, sumpah! ^_^;v).

23 July 2011

GA WORTH IT!



Wah, keren banget, pikir saya ketika membaca komentar seorang siswa di status FB seorang teman guru. Dia bilang, "Pelajaran Bahasa Jepang itu ga worth it banget dipelajari."

Kenapa keren, soalnya saya jarang menemukan ada siswa yang mikir, terus berani menggugat: "Saya ga melihat ini ada gunanya untuk masa depan saya." Kebanyakan sih nelen aja meskipun setengah mati ga suka dan ga ngerti, semua materi itu untuk apa.

Apa bener Bahasa Jepang adalah pelajaran ga guna? Kata saya, iya juga sih, hahahaha....



Gini. Bahasa Jepang, dan empat macam bahasa lain yang bisa dipilih dalam kurikulum Indonesia sebagai bahasa asing kedua (temennya: Arab, Cina, Perancis, Jerman), diajarkan memang mengawang-ngawang. Ngapain coba menghapal huruf dan karakter keriting plus gramatika, bahkan percakapan sekalipun. Lha konteksnya juga ga ada.

Yang saya maksud dengan konteks adalah, ini semua mau dipake di mana, sih? Buat apa? Mana belajarnya seminggu sekali, terus bukunya nyeremin banget (kalimat-kalimat percakapan panjang gitu, padahal baru beberapa lembar yang lalu belajar tabel hiragana). Yah, kayaknya jaraaaaang banget yang bisa pera-pera setelah 3 tahun.

Kalau Bahasa Inggris, beda. Kita dikelilingi Bahasa Inggris sejak tv sampai lagu sampai manual instruction barang elektronik. Kalo Bahasa Jepang (atau Jerman dan Prancis) kan ga begitu.

Gimana kalo gini aja. Pelajaran bahasa asing kedua jadi semacam pemantik semangat para siswa aja. Nah, kalo ini saya setuju. Siswa diberi wawasan bahwa, "Dunia itu luas, Nak. Jangan batasi diri, kemungkinan itu terbuka kalau kamu mau mencari."

Kalau begini alasannya, jangan banyak-banyak belajar bahasanya. Masukkan lebih banyak tradisi dan budaya.

Nah, ini kan jelas tugas gurunya. Ga heran kalo siswa bilang belajar Bahasa Jepang itu ga worth it, karena mungkin gurunya ga ngasih tau, apa manfaat kamu belajar bahasa jepang, apa yang bakal dia dapat setelah belajar Bahasa Jepang.

Tentu sudah pernah dengar tentang T.A.N.D.U.R, bukan?



T.A.N.D.U.R adalah salah satu metode penyampaian materi di kelas a la Quantum Teaching. Huruf T dan A ini adalah waktu kita memberikan konteks.

T adalah ingkatan dari Tumbuhkan minat. Apa manfaatnya bagi siswa, apa asyiknya belajar ini. Setelah itu melangkah ke A, atau Alami. Biarkan siswa menghubungkan pengalamannya dengan materi. Kalau pelajarannya tentang katakana, misalnya, kita tunjukkan beberapa katakana yang terselip di
banner iklan dan bilboard atau label makanan. Ini membuat mereka ngeh, "Oh iya. Katakana itu ada loh dalam kehidupan saya."

Segala definisi dan teori diberikan setelah siswa tumbuh minatnya, dan dapat menghuugkan materi dengan kedhidupan pribadi mereka. Itulah yang disebut konteks belajar, dan harus diberikan di awal segalanya di kelas.

11 July 2011

JADI AKRAB



Hampir jam 11 malam. Saya sudah janji ga mau begadang lagi, tapi begitu selesai menyiapkan bahan raker, sebuah pesan masuk ke inbox FB yang saya buka di window sebelah. Dari mantan murid saya.

Tadi pagi, dia mengirim request pada saya untuk dilisting sebagai mother di profil FBnya. Malam ini, kami bertukar cerita tentang kabar masing-masing, pekerjaan, ditutup dengan permintaan agar jangan sampai lupa mengundangnya bila ada reuni atau buka puasa alumni di sekolah.

Apa anda menduga bahwa sebelumnya saya dekat dengan anak ini?

Tidak sama sekali. kami tak pernah bicara selain dalam kelas, yang mana itu jaraaaang sekali terjadi. Berkali-kali saya kesal karena dia sulit sekali menyerap materi. Dia juga kemungkinan besar kesal pada kecerewetan saya. Kalau tidak, mana mungkin dulu dia jarang masuk dan sering lupa bawa worksheet. Bahkan, ingatan saya menyatakan bahwa dia adalah siswa yang paling sulit diangkat antusiasmenya, meski saya sudah mencoba dengan berbagai cara.

Kalau anda dekat dengan guru dulu, kemungkinannya adalah anda termasuk anak yang pintar, atauaktif di kegiatan, atau anda/gurunya adalah orang yang pandai bergaul. Saya dan anak ini tidak berada dalam salah satu kondisi di atas. Jadi kalau sekarang jadi akrab, saya bertanya-tanya mengapa.

Jangan-jangan, hubungan guru-murid sulit bisa akrab karena banyak tekanan di sekelilingnya. Tekanan nilai, kurikulum, peraturan. Semua tekanan itu membuat saya mudah sekali mutung pada beberapa anak. Ketika itu semua dilepaskan, anak-anak ini jadi anak yang menyenangkan.

Maka saya sedang berpikir, bagaimana kedekatan ini bisa dibangun di tengah berbagai tekanan ini. Terutama, karena saya bukan orang yang 'hangat'.

Ah, tapi bagaimanapun, senang rasanya liat alumni yang melanjutkan hidup mereka dengan baik. Tulisan anak ini masih saja kacau tanda baca, seperti saat saya mengajarnya dulu. Tapi kenyataan bahwa dia sudah bisa mandiri dengan bekerja di perusahaan ponsel terkemuka, sudah cukup membuat saya bahagia.

03 July 2011

RULES



Berikut adalah beberapa peraturan untuk SAYA ketika bergaul dengan siswa di Facebook. Sengaja dicaps kata 'saya'nya karena mungkin orang lain berbeda pandangan ketika menyikapi status/foto di FB. Tapi saya terbuka pada segala masukan demi perbaikan.



1. Hanya menerima siswa yang sedang/pernah saya ajar.

Memperhatikan (diam-diam) siswa sendiri aja udah kebanyakan. Biar sedikit asal berarti, ceileh...


2. Menyeleksi siapa saja yang bisa melihat status/notes/link tertentu yang saya buat

Hohow... masa' gurunya sama aja naifnya dengan siswa. Rada bijak dikit gitulah, hehehe, gaya.


3. Hanya berkomentar di status/foto yang tidak provokatif.

Padahal banyak banget status yang provokatif. Ada yang nyumpahin orang lain sebagai cewe murahan, ada yang bilang tuhan sudah mati, ada yang nulis status: kesel banget denger orang jum'atan, ada yang cinta-cintaan sampe malu saya bacanya, wah macem-macem deh.

Kalo kata-kata semacam anjing, babi, tai, dan sejenisnya mah udah biasa. Ada yang lepas jilbab kalo di rumah (padahal sekolah juga ga ngewajibin). Foto yang 'nyeremin' juga ada, meski ga banyak.



4. Kalau ada status/foto yang bikin saya gatel kepingin komentar, maka itu berarti sebaiknya saya TIDAK berkomentar

Kaya' bahasanya anak jaman sekarang: cukup tau aja. Meskipun statusnya kadang bikin guru/orang tua mengurut dada prihatin.


5. Tidak mengungkit apa yang dilihat di Facebook ketika berada di sekolah

Terutama jangan sampai membawa nama atau kasus secara spesifik. Wewenang saya hanya sampai pagar sekolah.


6. Berkoordinasi dengan wakasek bidang kesiswaan, wali kelas, dan pembina osis untuk melakukan follow-up lewat program kerohanian, kelas seni & keterampilan, kelas pengembangan diri, dan konseling berkelanjutan.

Ga perlu ribut-ribut, ga perlu menyalahkan siswa karena toh mereka hasil didikan kita. Jadi lompati aja hal-hal yang ga ada gunanya, dan langsung mengusahakan solusi pembinaannya. Hop.

31 May 2011

WAJIB KULIAH?



Status itu berbunyi: "Orang tua suruh kuliah hati mau kerja tapi g blh kerja bingumg w."

Membacanya di wall fb, saya jadi teringat terus pada penulisnya. Dia siswa saya, baru saja lulus Ujian Nasional dan sedang menunggu ijasah. Pertanyaan kemudian muncul di benak ini: apa benar seseorang wajib kuliah bila mampu? Jadi nyaingin naik haji kayaknya ^^;

Menangani anak ini beberapa tahun, saya tahu kemampuan akademisnya. In my humble opinion, bangku kuliah bukanlah pilihan yang tepat. Lagi-lagi dia akan kembali menemukan kesulitan, baik secara akademis maupun sosial, lalu frustasi, lalu membenci diri sendiri.

Harusnya anak-anak seperti ini punya lebih banyak pilihan. Masalahnya, apa pilihan yang dia ketahui sekarang? Apa bakatnya, di mana minatnya? Sayang sekali, sekolah tak bisa menunjukkan jawaban kemarin itu karena sibuk mengejar kurikulum dan drilling soal Ujian Nasional. Yah, paling tidak kan kita punya kambing hitam.

Banyak sudah kita dengar tentang seseorang yang sukses tanpa kuliah. Bill Gates yang drop out, Joichi Ito, atau si James Marcus Bach itu. Tapi sepertinya mereka punya kemampuan akademik yang lumayan, dan sudah menemukan panggilan hidup di usia muda.

Sedang beberapa siswa saya, ah entahlah, saya tak bermaksud merendahkan mereka, tapi banyak di antara mereka tidak tergali pada domain kecerdasannya sendiri, juga belum menemukan 'panggilan' itu. Lalu ke mana mereka akan pergi setelah ini?

Di sisi lain, orang tua kepingin anaknya sarjana. Jaman begini bukan sarjana, apa kata dunia? Ambil ekonomi aja, atau komputer aja, kan bisa kepake di mana-mana. Emangnya, kepake di mana? Pas kuliah ga betah, susah-susah lulus ujungnya jadi sales juga kok. Atau yah, mungkin jadi guru.

Yayaya, saya memang agak skeptis jadinya. Oke, tak ada salahnya jadi sales, dan jadi guru tentu saja pekerjaan mulia. Tapi untuk apa kalau semua langkah-langkah itu semakin membuat seseorang tersesat, dan makin jauh dari kenikmatan bekerja di bidang yang dicintai.

ZOMBIE....


Setiap saya menulis tentang penanganan siswa di sekolah, seing kali saya harus meniadakan peran orang tua. Soalnya bila bicara faktor orang tua, bikin putus asa jadinya. Ada banyak orang tua yang bisa diajak kerja sama, tapi orang tua yang anaknya bermasalah biasanya adalah orang tua yang paling tidak peduli.

Kenapa anak disekolahkan, lalu setelah itu lepas tangan? Karena sudah bebas dari kewajiban mendidik anak. Kan sudah disekolahkan. Kenapa anak dikuliahkan padahal tidak berminat? Supaya orang tua tidak kehilangan muka di depan kerabat dan teman-teman. Tenyata enak juga ya jadi orang tua.

Loh kok malah jadi ngomel-ngomel begini ^^;v

Jadi sebelum menyuruh anak kuliah, lebih baik mengenali bakat dan minat anak, membantu mereka menggalinya, lalu berdialog secara terbuka.

Oh iya, kan sekarang ada cara instan yah. Tidak perlu repot memperhatikan, tidak perlu bingung mendampingi, cukup discan ujung tangannya, atau dihipnosis saja, bisa juga diotak-atik otak bagian mananyaaaa gitu, beres urusan. Lagi-lagi, memang enak ya jadi orang tua (jaman sekarang).

KOMPENSASI

Jika telah membaca buku La Tahzan for Teachers yang saya tulis bersama Gita Lovusa, mungkin anda mengira bahwa saya mengajar di sekolah hampir rubuh semacam Laskar Pelangi. Tidak, di sekolah saya ada 3 gedung, masing-masing berlantai 3 dan 4 dengan halaman luas. Tapi coba dengar cerita ini.

Pada rapat kenaikan kelas tahun ini, seorang guru bertanya, "Ada apa dengan Toni?"

Saya terkejut, dan baru sadar kalau Toni, siswa kelas XI, memang berubah. Dia datang ke sekolah dengan lusuh, tidak bisa diam di kelas, dan makin susah diatur saja. Saya memperbolehkan anak-anak mengobrol jika saya sedang diam (sebaliknya mereka harus diam jika saya bicara), tapi celetukan Toni sudah termasuk luar biasa, mengingatkan saya pada Arif. Apa saja dikomentari dengan suara membahana ke seluruh kelas. Meski demikian, dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Saya tidak paham kalau sebenarnya, di bawah sadar, dia mencoba mengkomunikasikan sesuatu.

Dari wali kelas, informasi diperoleh: keluarga tidak harmonis, ayah yang keras, dan kasus-kasus KDRT yang tidak dilaporkan.

Bu Ida bercerita bahwa suatu kali dia menemukan Toni sampai ke sekolah dengan pakaian yang kusut sekali. Ketika ditanya kenapa, dia jawab, "Ini abis dicuci ga disetrika, Bu. Saya nginep di rumah temen. Soalnya bapak saya songong banget orangnya."

Apa arti 85.000 rupiah bagi anda? Satu pan pizza ukuran medium untuk cemilan sore hari? Toni membutuhkan uang sebanyak itu untuk fieldtrip sekolah ke Musium Sains ITB dan Saung Angklung Udjo. Ayahnya tak mungkin diharapkan, jadi ia bekerja menjadi kuli bangunan agar bisa ikut fieldtrip.

Jadi segala celetukan dan banyolan konyol yang kadang garing itu, lalu tawa terbahak-bahaknya yang seringkali sendirian menertawakan hal tak lucu, hanyalah sebuah kompensasi atas kelelahan membawa beban yang berat untuk anak seusia dia.


Ketika masalah berat menerpa siswa di rumah, saya jadi khawatir. Biasanya mereka mulai bermasalah dengan kedisiplinan, sulit berkonsentrasi, dan sering kali bolos. Saya takut sekali mereka terjerumus ke pergaulan yang tidak baik.

Pada anak-anak seperti Toni, siswa-siswa saya yang jadi kuli cuci-setrika dan kuli bangunan, saya kepingin sekali membantu biaya pendidikan mereka. Setidaknya untuk memberi mereka pertanda, bahwa jangan berputus asa. Tapi akhirnya saya harus insyaf, saya tak bisa melakukan itu, karena jumlah siswa dengan kasus yang mirip jumlahnya banyak sekali.

Dengan menakar kondisi pribadi, saya berusaha menggratiskan biaya fotokopi satu dua lembar teks, atau membawa kertas-kertas dan spidol warna sendiri (biaya fotokopi dan peralatan habis pakai memang tidak dicover sekolah). Kadang juga mentraktir mereka gorengan kantin, jika ada rejeki lebih.

Dan itu pula yang menjadikan saya terus bersemangat mengisi materi dengan metode non ceramah. Setelah melewati hari-hari yang berat di rumah, mereka tidak perlu ditambah bebannya dengan pelajaran membosankan dan guru yang galak.

15 May 2011

MAU KE MANA?

"Ibuuuu, aku kepingin sekolah lagi...."

Itu adalah kalimat standar yang banyak sekali diucapkan para alumni ketika bertemu lagi dengan saya. Kebanyakan merasa kepingin kembali ke masa lalu, karena ternyata lebih enak jadi anak sekolahan, meskipun waktu sekolah dulu nampak tertekan banget oleh kewajiban sekolah dan kepingin segera lulus ^^;.

Saya tidak heran mendengarnya. anak-anak ini memang seakan tersesat begitu memasuki dunia nyata. Mereka tidak tahu mau ke mana, mau melakukan apa, sementara itu tuntutan untuk mandiri sudah besar. Akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah bekerja di bidang yang umum saja: SPG/SPB di mal dan supermarket. Itu pun sudah termasuk beruntung.

Di sekolah tempat saya mengajar, jarang sekali siswa yang melanjutkan ke bangku kuliah begitu mereka lulus. Barangkali tak lebih dari 10-20% saja. Yang mampu kuliah mungkin lebih beruntung, mereka masih bisa menunda selama 3-4 tahun untuk menjawab: "Mau ke mana setelah ini?" Tapi bagi yang harus segera bekerja, pertanyaan itu langsung memburu.

Sebelum lulus, apa yang mereka lakukan jelas: duduk di kelas, mendengarkan, mencatat, kerjakan PR, tes. Tujuan mereka pun jelas: lulus sekolah, dapat ijasah. Itu saja. Jaraaaaang sekali yang menemukan minatnya atas bimbingan dari sekolah, hingga begitu lulus bisa berkata: "Ini yang mau gue lakukan, ini mimpi yang akan gue kejar."

Apakah pemikiran seperti itu terlalu muluk untuk anak usia 18 tahun?

Beberapa orang pernah bilang pada saya, jangan terlalu idealis. Anak umur segitu ya biasalah kalau masih mencari jati diri. Perlahan seiring berjalan waktu, mereka akan menemukan juga kok apa yang dimau. Saya sendiri saja baru mulai menemukan titik terang ketika usia 24, sudah punya anak satu. Jadi wajar sajalah, sabar sajalah.

Begini. Beberapa orang mungkin bisa menunda pertanyaan "Sebenernya mau ke mana sih?" karena mereka punya modal untuk mengambil jalan lain ketika jalan yang mereka inginkan itu mulai ditemukan. Bagi sebagian orang yang lain, termasuk diantaranya beberapa siswa-siswa saya, kondisinya tidak selalu semudah itu.

Hal ini mengganggu pikiran saya, karena setelah melihat 5 angkatan lulus dan meninggalkan sekolah, ada rasa tidak ikhlas yang tertinggal. Mereka akan pergi padahal tugas saya sebagai guru belum selesai. Menyelesaikan kurikulum adalah perkara mudah, tapi menyiapkan karakter dan melatih soft skills agar mereka bisa menjalani hidup dengan baik di dunia nyata, itu sulit sekali. Saya selalu merasa, mereka belum siap.

Saya teringat kembali peristiwa beberapa hari yang lalu. Saat itu saya bersama si Tengah baru selesai membayar belanjaan di sebuah minimarket besar. Sebelum keluar, tepat di balik pintu kaca, saya terhenyak dan berhenti melangkah. Di halaman mini market itu seorang tukang parkir sedang memandu kendaraan yang akan keluar. Tukang parkir itu pernah saya ajar, dan saya saksikan kelulusannya dari SMA.

Kenapa jadi tukang parkir? Saya tahu sekali dia bukan anak bodoh. Kenapa ijasah SMA tidak memberi nilai tambah apapun padanya? Bagaimana bisa lulusan SMA tak memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding lulusan SD?

Please, jangan bilang, "Itu kan tergantung orangnya."

Saya gurunya. Adalah kewajiban saya mendidiknya untuk memiliki sikap yang baik terhadap ilmu yang sudah diajarkan. Anehnya, kata-kata 'tergantung orangnya' ini banyak keluar dari mulut guru, seperti orang yang melempar batu sembunyi tangan.

Ketika bertemu dengan kelas XI di kelas pengembangan diri yang lalu, saya mengingatkan mereka, "Kamu hanya tinggal 1 bulan lagi di kelas XI. Setelah itu kamu akan ada di tahun terakhir. Apa kamu sudah tau bakal ngapain pas lulus, jalan mana yang mau dipilih? Pergunakan satu tahun ini, untuk mengerti apa yang kamu suka dan apa yang kamu butuhkan. SUKA dan PERLU, dua itu saja. Dengan dua hal itu, kamu akan bisa memutuskan."

Kebetulan, mata pelajaran yang saya ampu tidak diUNkan. Saya berencana menggunakan waktu-waktu di kelas untuk mengeksplorasi anak-anak ini dengan berbagai macam kemungkinan profesi di masa depan. Di antara segala kebingungan mencari jalan yang baik dan benar untuk berbuat ihsan dalam pekerjaan, mudah-mudahan ini bisa jadi ikhtiar saya.

01 April 2011

SAYA GURU FAVORIT?

Jadi senyum-senyum sendiri kalau ada yang 'menuduh' saya guru favorit siswa-siswa saya. Ayo tebak, bener ga sih?

Sebagai seorang narsis, tentu saja saya sudah mengecek hal ini jauh-jauh hari. Tepatnya empat tahun yang lalu, laporannya ada di sini. Nah, ternyata bukan saya tuh yang jadi favorit mereka. Jadi yah, terima ajaaaa.... T_T.

Mungkin ada beberapa yang tersentuh (jiaaaah, tersentuh ^_^) dengan cara saya mengajar, atau dengan apalah gitu selama pembelajaran (who knows?), tapi sepertinya ga banyak. Belajar dari kenyataan, saya mencoba untuk ga mikirin lagi, apakah saya punya cukup banyak fans atau nggak, gyahahaha.... Lah kan saya kan manusia, mana bisa sempurna?

Saya kasih contohnya.

Di kelas XII, saya menggunakan portofolio untuk evaluasi anak (kenapa cuma kelas XII? f(^_^;)). Karena pakai portofolio, anak-anak jadi bisa tahu apa yang mereka sudah hasilkan. Di sisi lain, karena portofolio juga, saya harus berusaha agar mereka 'menghasilkan', bukan cuma mencatat dan mengerjakan soal (kalo itu mah pake buku biasa ajah).

(Btw, belajar itu katanya untuk dua hal: menghasilkan sesuatu dan/atau memecahkan masalah. Lupa saya baca di mana, pendahuluan kurikulum 2004 kah? Atau 2006 ya? Atau tempat lain?)



Misalnya, kami banyak menggambar; menggambar anggota tubuh, menggambar bagan, bikin comic strip sederhana untuk percakapan, juga melakukan
mind mapping (menggambar juga, kan?).

Kami membuat Nengajou (kartu pos tahun baru) dan 'mengirimkan'nya pada teman sekelas untuk menyegarkan kembali hapalan Hiragana di pertemuan pertama setelah libur tahun baru, sekaligus belajar budaya. Oh ya, saya sampai terkikik melihat alamat yang ditulis anak-anak di atas Nengajou mereka. Misalnya: To: Ade, Di: Japos, naik C04 dari Mencong, atau jalan kaki juga bisa. Atau: Kepada: Dwi, Di: baris ketiga deret pertama dari kanan (ternyata pakai 'alamat' tempat duduk di kelas).

Kami melipat Origami, dan menghapal nama benda yang kami buat Origaminya. Kami menjiplak uang dengan pensil untuk belajar angka dan bilangan (sementara ini pakai rupiah karena belum nemu yen). Kami mengiris penghapus dengan cutter untuk membuat Inkan (stempel nama) untuk menghapal Katakana.



Kami berloncatan menghapal karakter dengan
flashcard, atau berlarian di antara lingkaran nama-nama hari yang ditulis dengan kapur di lapangan basket. Kami naik turun meja untuk belajar lokasi (mae, ushiro, hidari, migi, ue, shita, mannaka).

Kami menggunakan sumpit sungguhan untuk percakapan yang ada kalimat "
Hashi, onegai shimasu." Bagaimana dengan percakapan antara penumpang dan supir taksi? Mobil-mobilan anak saya dibawa ke kelas hari itu.

Kami bernyanyi (meski saya benar-benar ga bisa nyanyi) untuk kompetensi mendengar, dan menonton film agar anak-anak mendapat konteks, bahwa semua yang mereka pelajari itu ada loh di dunia nyata.

Bukankah belajar dengan saya amat menyenangkan?



Ternyata tidak saudara-saudara sekalian. Tidak demikian pendapat anak-anak ini.

Anda harus lihat daftar absen di buku nilai saya. Saya mengajar hari Sabtu, dan selalu bersedih hati melihat daftar absen yang amat jarang penuh. Misalnya siswa yang pernah saya ceritakan ini. Kehadirannya di kelas saya setahun ini bisa dihitung dengan jari.

Malah beberapa anak lain mengaku bahwa hari Selasa lebih penting dari hari-hari lainnya, karena ada guru 'galak' di hari itu.
Selasa loh ya, bukan di hari saya mengajar mereka.

Sampai sekarang pun kadang saya masih tergoda untuk bertanya, tidakkah metode yang saya gunakan bisa memancing anak-anak ini masuk dengan sukarela? Tidak cukup menyenangkankah kelas ini hingga mereka memilih yang lain? Tidak bisakah saya memenangkan pertarungan ini?

Kanapa tidak bisa? Ya tapi kenapa juga merasa harus bisa?

Makanya, saya tak pernah lagi berpikir untuk membuat siapapun terkesan dengan apa yang saya lakukan di kelas, tidak siswa-siswa saya, tidak rekan-rekan sejawat saya, tidak juga anda yang sekarang membaca tulisan ini. Soalnya saya tau, saya akan kecewa kalau berharap pada manusia.

Jadi apa saya guru favorit? Saya tidak tau. Dan sekarang saya insyaf, memang ga perlu mencari tau (seperti dulu itu). Tapi kalau mau mampir ke kelas saya sih, boleh loh....

SAYA GURU TK?

Kata seorang temn, saya ngajar kayak guru TK meski saya ngajar anak SMA. Jangan salah, saya ga tersinggung kok, bener. Soalnya bukan hanya Oji yang bilang, siswa-siswa saya juga bilang begitu kok. Malah ada yang nulis testimoni begitu di buku tahunan, hehehehe....

Sayanya sendiri juga nyadar tentang hal itu, kok. Saya bilang nyadar, karena memang metodenya dipilih secara sadar dengan menyandarkan pendapat pada beberapa buku, utamanya terbitan MLC (bukan m&c! loh ya ^_^) dan Kaifa.



Dibanding saya, suami saya lebih parah lagi sih kayaknya. Soalnya dia ngajar di mahasiswa, tapi pake metode guru TK juga ^_^. Kalo mau ngajar bawa karton warna-warni dan spidol gambar. Ada sesi gunting-tempel juga, pake majalah majalah bekas yang dibawa mahasiswa.

Mereka main uler tangga juga, dan lagi merancang biar bisa pake
role play untuk materi Uang Beredar, termasuk mikirin kostumnya ^_^. Ngadain cerdas cermat berhadiah coklat, atau yang paling baru, dia ngasih komik. Meski komiknya teteup, komik ekonomi, xixixixi....

Apakah yang kami lakukan membawa dampak positif bagi pembelajaran?

Jadi kan gini ya, pembelajaran itu terbagi dua, ada konteks, ada konten. Konteks itu penting diciptakan untuk menunjang pembelajaran. Guru yang asik, pinter cerita, gaul, itu kan konteks. Ruang kelas yang terang dan bersih, warna dinding yang membangkitkan semangat, penggunaan musik dan poster, tanaman, wewangian, hewan peliharaan (misalnya aquarium), menggunakan saung atau ruang terbuka, dll, semua itu konteks.

Kalau kita memperbaiki konteks mengajar, kita seperti membangun jalan raya supaya pembelajaran melaju dengan mulus.




Tapi ada yang namanya konten pembelajaran. Bagaimana agar pelajaran itu bisa dipahami, diserap, dan dimaknai (ditemukan linknya ke dunia nyata). Nah ini yang lebiiiih sulit ketimbang merekayasa konteks di atas.

Metode gimana nih yang harus kita pake biar suasana fun, tapi
tetep ngerti. Gimana caranya nih biar mereka bisa mengonstruksi sendiri segala pengetahuan itu, bukan sekedar hapal mati. Gimana caranya biar proses recallingnya mudah.

Nah, sejujurnya, saya dan suami masih kesulitan di bagian konten ini. Kalau lihat di EDOM (penilaian online atas dosen oleh mahasiswa), suami saya dibilang lack of skill teaching. And what is that? Apakah karena yang dipakainya bukan lecturing melainkan SCL(student centered learning), maka ada mahasiswa yang ngerasa, "Ni dosen main-main aja kerjanya. Kalo ga main-main, mahasiswa disuruh diskusi dan presentasi. Ngajar dong, Pak, Ngajar!"

Di sisi lain, sebagian lagi malah merasa excited dengan metode guru TK ini. Tapi sayang sungguh sayang, sekali lagi, they don't take it seriously. Meski disampaikan lewat permainan, ga berarti mahasiswa ga perlu belajar untuk bisa ikut permainan. Terutama lagi, bukan berarti ga perlu belajar untuk ujian!

Saya mengira bahwa siswa kita kurang banyak diberi pengalaman pembelajaran yang variatif dan bermakna. Bila ada yang pakai cara yang tidak biasa, dianggap tidak bermakna, sehingga dianggap tidak serius, atau tidak perlu diseriusi.

Kesimpulannya, memang ada orang yang gaya belajarnyanya serius, ada juga yang gaya belajarnya santai. Tapi kalau yang diajar banyak, ya susah untuk memuaskan semua. Akhirnya, kita hanya ada di garis standar, dengan hasil standar, karena cara belajar yang standar. Hampir tak ada tempat untuk memperhatikan keunikan pribadi di sini.

*foto: mind mapping kelas publik suami dan judul komik hadiah untuk pemenang kuis

29 March 2011

HADIAH INDAH

Biasanya di akhir tahun, guru mendapat hadiah dari siswanya ya? Saya sebelumnya tidak pernah tau ada budaya seperti itu. Tidak ketika saya sekolah dulu, tidak pula ketika saya jadi guru sekarang. Saya baru tahu tentang budaya menghadiahi guru ketika kenaikan kelas justru ketika anak saya naik dari TK A ke TK B dulu.

Untungnya sebelum itu seorang teman wali murid membisiki, jadi saya tidak menjadi orang yang tidak sopan. Ya gimana juga itu kan budaya sekolah itu. Jadi saya membungkus buku Totto-chan untuk kepala sekolah, dan sekotak flash card untuk kedua ibu guru kelas.

Ketika tiba waktu pengambilan rapor, saya tepok jidat di TKP lihat hadiah yang dibawa wali murid lainnya. Ternyata guru itu wajarnya dikasih barang yang bisa dia gunakan, semacam tas, baju, parsel sembako, setrikaan, seprai, handuk, atau malah beberapa lembar dalam amplop. Bukan malah dikasih alat peraga buat di kelas (itu mah disediain sekolah, kali). Terus, tiap guru dikasih satu, bukan kado borongan kayak saya.

Lah mana saya tau? Di sekolah saya, dulu dan sekarang, ga ada kebiasaan itu.Jadi sampai kemarin, saya belum pernah menerima hadiah dari siswa atau walinya. Sampai kemarin.

Hari Senin 28 Maret adalah hari pertama Ujian Nasional Kewenangan Sekolah di Tangerang (atau di Indonesia ya?) bagi siswa SMA/SMK/MA/SMALB. Saya datang jam 7, tapi memang bel baru berbunyi jam 7.30. Sambil menunggu, saya asyik mengoreksi worksheet anak-anak. Tiba-tiba....

Ina, siswa kelas XII yang tentunya hari ini jadi peserta Ujian Sekolah, mendekati saya. "Ini buat Ibu."

Eh, jadi bengong deh.... Maksudnya, saya ga ulang tahun, ga ada peristiwa penting apa gitu, dan bukan pula waktu kenaikan kelas atau perpisahan. Makanya saya jadi bengong disodori kado, tapi akhirnya saya terima sambil tersenyum dan mengucap terima kasih.

Setelah Ina berlalu, saya membuka kotak kecil yang diberinya. Ada suratnya, di sana tertulis: "Saya ga tau mau nulis apa, cuma mau ngasih aja buat Ibu. Ini saya yang bikin bareng Mamah." Ketika saya tengok di bagian dalam, tampak isinya berkilauan. Wuaaa, sukaaaaa.....



Saya tidak suka gelang, cincin (tapi kalau cincin kawin sih pakai), apalagi kalung. Tapi saya suka bros, malahan mengoleksinya kecil-kecilan. Dan Ina membuatkan saya peniti bros yang cantik, sepuluh buah! Terharu....


Pertama, dia membuatnya dengan tangan sendiri, itu saja sudah istimewa. Kedua, satu bros model ini di pasaran harganya sekitar 10-15 ribu per buah. Memberi 10 buah peniti bros bukan bukan hal yang murah. Selain Surati, Ina adalah salah satu siswa saya yang bekerja part time sebagai pembantu rumah tangga, atau kasarnya, kuli cuci-setrika. Saya tau karena dia bekerja di rumah adik ipar dari tante saya.

Jadi ketika bel berbunyi, saya melepas bros yang saya kenakan, dan menggantinya dengan peniti bros hadiah dari Ina. Barulah setelah itu melangkah menuju ruang ujian. Baru ini cara yang terpikirkan untuk menyampaikan apresiasi saya.

"Kusematkan di dadaku, dekat dengan hatiku. Indah sekali hadiahmu."

12 March 2011

KARTU JIMAT

Hari Sabtu yang menyenangkan.

Kelas XII sudah ngebul kepalanya, selain pelajaran reguler yang jumlahnya 14 mapel yang tengah dipersiapkan untuk Ujian Sekolah, masih harus mengikuti pendalaman materi setiap hari hingga hari Minggu. Bukan semangat yang tumbuh, malah burn out.

Makanya saya cukup tahu diri dengan tidak ikut mengejar target kurikulum. Kan cuma pelajaran bahasa asing tambahan saja, apalagi soal ujian sekolahnya saya buat sendiri. Jadi santai sajalah.

Makanya saya membawa anak-anak ke selasar masjid pagi ini, agar mereka bisa duduk dan bergerak lebih leluasa. Sebenarnya saya selalu memimpikan taman rindang dengan saung, tapi tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada saung, selasar masjid pun jadi ^_^;. AlhamduliLlah...

Apa pelajaran hari ini? Tak ada di kurikulum, tapi ada dalam kehidupan.

Apa yang kami lakukan hari ini asli nyontek metode Bu Guru Lea Kesuma dari Salatiga. Sang empunya ide wajib saya tuliskan namanya di sini, agar kita yang membaca tulisan ini bisa turut berdoa, mudah-mudahan Allah memberi berkah atas ilmu yang dibagikannya ini. Amin...

Beberapa hari sebelumnya, saya membeli 100 lembar kertas tebal yang biasa digunakan untuk sampul depan di tempat fotokopian. Masing-masing dipotong menjadi 12 kartu kecil. Pagi tadi di selasar masjid, tiap anak mendapat kartu sejumlah teman-temannya di kelas. Mereka kemudian menulis nama satu teman sekelas di atas tiap kartu, lalu menuliskan hal positif, hanya yang positif, tentang teman itu.

Setelah selesai, masing-masing anak akan menyerahkan tiap kartu kepada orang yang dituju. Jadi tiap anak akan mendapat puluhan kartu yang semuanya berisi kesan positif teman-teman sekelas tentang dirinya. Kartu-kartu itu dilubangi dengan puncher, lalu diikat dengan pita biru.

Hanya 25.000 rupiah untuk 100 lembar kertas itu, 3000 untuk 4 meter pita, plus sedikit waktu untuk memotong. Tapi anda mesti lihat sendiri bagaimana senyum dan binar mata mereka saat membaca kartu-kartu itu. Pemandangan yang sungguh tak ternilai.



"Ini adalah 'kartu jimat' kalian. Setiap kalian merasa gagal, kesepian, tak berdaya, putus asa, baca kartu-kartu ini, dan kalian akan tahu bahwa kalian semua adalah anak yang baik, anak yang mampu, dan punya teman-teman yang mendukung kalian."



Sungguh hari Sabtu yang indah.



Oh ya, dan tentu saja saya 100% percaya bahwa mereka sedang BELAJAR saat itu.

GREGETAN!

Selain sebagai guru, kebetulan saya adalah kepala perpustakaan di lingkungan yayasan tempat saya bekerja. Perpustakaannya hanya satu, jelas tak cukup melayani semua siswa dari 4 unit berbeda, tapi alhamdulillah, dukungan yang didapat dari yayasan boleh dibilang cukup.



Untuk sementara, diberi ruang dengan AC dan karyawan saja sudah kemewahan. Tahun lalu diberi
in focus, alhamdulillah. Saya kepingin meminta tambahan buku-buku, tiga atau empat komputer dengan akses internet, serta dana pelatihan untuk pengembangan kualitas guru dan siswa. Tapi yah, dananya terbatas (bangeeeet).

Sebenarnya di awal tahun saya sudah mengajukan rencana anggaran belanja unit perpustakaan yang berisi pelatihan dan kegiatan, tapi pas turun persetujuannya, semua jadi hilang, hahaha...

Sepertinya ini terjadi karena saya kurang mempopulerkan pentingnya perpustakaan, maka dukungan yang didapat belum optimal. Mungkin pihak yayasan perlu diberi salinan
klipingnya Mbak Lea yang ditulis oleh Mbak Puti yah.

Alhamdulillah, saya punya teman-teman dengan minat dan semangat yang luar biasa, terutama dalam bidang kepenulisan. Tahun 2010 lalu, unit perpustakaan digandeng FLP Jepang untuk mengadakan pelatihan kepenulisan. Pembicaranya adalah Mbak Nesia, penulis buku Dengan Pujian, Bukan Kemarahan. Pelatihan ini diikuti dengan lomba menulis yang disambut antusias.

Sekarang, unit perpustakaan sedang dalam masa negosiasi dengan salah satu organisasi lain untuk mengadakan pelatihan untuk siswa. Doakan mudah-mudahan berhasil yah.

Satu program lain yang digagas unit perpustakaan adalah kunjungan wajib. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Perpustakaan kan pendukung sekolah. Eh, bukan ding. Perpustakaan justru tanda bahwa suatu sekolah berkualitas, begitu yang saya baca dari kliping Mbak Lea, yang saya kasih linknya di atas itu.

Jadi tiap kelas diberi jadwal kunjungan secara bergilir. tiap guru yang mendapat jadwal harus membawa anak-anak untuk belajar di perpustakaan. Ada in focus, ada TV, ada DVD player, ada buku dan ensiklopedi (meski terbatas), majalah dan koran bekas, semua bisa digunakan untuk pembelajaran yang lebih kaya dibandingkan di kelas.

Apa yang terjadi?

"Bu, tadi gurunya nanya, mau ngapain nih di perpus? Memang ga ada VCD atau apa gitu yang disediakan perpus untuk ditonton anak-anak?" tanya penjaga perpustakaan.

Saya nepok jidat. Ngapain di perpus? Waduh, sosialisasi program ini pas raker yayasan awal tahun lalu ga nyantol rupanya. Bukankah ada banyak sumber belajar tersedia, apa tak terpikir untuk digunakan? Atau paling tidak, bawalah anak-anak ke perpus agar sekali-sekali bisa belajar lesehan sambil ngadem di bawah AC. Yah, sebagai variasilah.

Tapi susah sih, masih banyak guru yang memandang bahwa kalau tidak duduk di bangku dan tidak di kelas tempatnya, maka pembelajaran tidak kondusif. Anak-anak jangan diberi kebebasan banyak-banyak, nanti jadi sulit diatur dan tidak berkonsentrasi. Padahal anak-anak sendiri memberi testimoni soal ini:



Keliatan ga? Maklum, pake kamera hape jadul. Ceritanya saya iseng memasukkan soal tentang 'apa yang kamu suka dan kamu benci' dari pelajaran saya di lembar soal UTS. Salah satu menulis: "Ga sukanya kalau belajar dilakukan di dalam kelas terus."




Yang ini terbaca: "Yang saya tidak suka, belajarnya di kelas. aturan dua/seminggu sekali kita di perpus atau di masjid."


Oh ya. Suatu kali, saya mendapati anak-anak yang mendapat jadwal kunjungan wajib sedang asyik mengobrol, sementara film dokumenter diputar di depan mereka. Kemana gurunya? Ngaso di kantor. Jiaaah....

Geregetaaaan....

Dengarlah tuntutan para guru ketika raker. "Sekolah ini akan naik kualitasnya bila komputer labkom pakai LCD yang tipis, ruangan pakai AC, ada hot spotnya, disediakan perangkat multi media, dukungan audiovisual, de el el es be."

Lha buat apa itu semua kalau ga dipakai? Pemborosan bukan, bila semua cuma demi kenyamanan, atau malah jadi alat pamer, dan tidak menambah nilai apa-apa bagi pembelajaran siswa.

Geregetan jadinya geregetan...

Pokoknya tahun ajaran depan saya mau NGOTOT minta dana untuk pelatihan guru!

11 March 2011

TENTU SAJA, 100%!

Di tengah-tengah pembelajaran, saya bertanya-tanya, ada apa ya di masjid, kok ada yang beres-beres dan ngetes sound. Ga lama, beberapa orang berpakaian seragam batik berdatangan. Waduh, rupanya masjid mau dipakai untuk akad nikah.

Sempat terpikir untuk mengembalikan mereka ke kelas, tapi akhirnya saya berkata, "Hayo, hayo, kita pindah ke lantai dua."

Di lantai dua, saya memulai kembali kegiatan kami dengan pembukaan narsistik ^_~v.

"Ketika saya sekolah dan kemudian kuliah, saya selalu berpikir saya akan lulus, diwisuda, lalu mencari pekerjaan dan berkarir. Setelah itu barulah menikah dan berkeluarga. Tak pernah terbayangkan bahwa ternyata saya menikah di usia 21 tahun, saat masih kuliah.

Beberapa orang mungkin merasa, menikah akan menutup banyak kesempatan, karena harus membagi waktu mengurus keluarga, apalagi kalau langsung memiliki anak. Namun sebaliknya, bagi saya sendiri, menikah justru membuka dunia pada saya."


Saya bercerita bahwa pernikahan justru membawa saya tinggal di luar negeri. Adalah suami saya yang rajin menyindir, "Masa sarjana sastra ga bisa menulis?" Maka setelah menikah, jadilah saya penulis, meski amatir, dimulai dari tulisan rutin pojok fiksi buletin dwimingguan KMII Jepang. Ketika kembali ke tanah air, suami kembali ke kampus, dan saya menjadi guru, maka kawan diskusi paling intens tentang dunia pendidikan saya adalah suami, karena kesamaan profesi kami. Maka menikah muda bisa jadi keren, bisa jadi hebat, tergantung dengan siapa kita menikah.
"Nah, hari pernikahan itu, anak-anak, tidak bisa diulang. Maksud saya bukan 'menikah-dengan-siapa'nya, tapi prosesinya. Bila ada cacat dalam prosesinya, maka hal itu terkenang seumur hidup. Makanya, hari ini kita akan melakukan kegiatan dengan tenang, karena di bawah akan ada akad nikah yang tak boleh dibuat cacat prosesinya oleh kita.
"

Dua jam pelajaran berlalu. Beberapa menit sebelum bel, saya sudah bilang -dengan suara tertahan- kalau kita harus kembali ke kelas. Sudah hampir masuk jam pelajaran berikutnya. Ternyata saya dicuekin. Ada yang masih cekikikan baca kartu. Ada yang lagi ngantri ngebolongin kertas dan masang-masang pita.

Saya telfon ke kantor SMA, "Bu Ida udah nunggu yah?"

Bu Ida ini guru ekonomi, mengisi pelajaran setelah saya. Ternyata Bu Ida izin tidak masuk. Hari Rabu lalu anaknya memang kecelakaan, rupanya belum membaik hingga hari ini. Jadi semua serba kebetulan. Kebetulan kami ada di masjid, kebetulan di masjid ada acara akad nikah, kebetulan dua jam pelajaran setelah saya kosong.

Jadi kami meneruskan pelajaran, pelajaran kehidupan.

Saya biarkan anak-anak yang sudah selesai dengan kartu-kartu mereka nangkring di balkon (?) lantai dua. Dari sana mereka bisa melihat jelas proses akad nikah. Melihat perangkatnya, petugas, dan cara akad berlangsung. Meski bab nikah mungkin sudah dipelajari dalam pelajaran agama, rupanya banyak anak yang belum pernah menghadiri akad nikah secara langsung.

Saya bilang, ini saatnya pengantin wanita minta izin pada orang tua. Si pengantin amat sedih, hingga suaranya tersamar isakan, tapi suasananya sudah cukup tertangkap oleh kami. Anak-anak melihat orang-orang di bawah menghapus air mata, menandakah bahwa ini peristiwa besar.


Lalu pengantin pria menjabat tangan sang ayah. Tibalah klimaks acara, aqdunnikah, saat terjadi pemindahan tanggung jawab pemenuhan segala keperluan dan kepentingan seorang wanita dipindahkan dari ayah ke suaminya sekarang.

Jadi apakah pembelajaran yang disebut bermakna itu? Yaitu ketika apa yang dipelajari mendapat konteks, baik dengan pengalaman masa lalu kita, maupun dengan kejadian di dunia nyata. Sulit sekali menciptakan pembelajaran yang bermakna terus-menerus dalam sistem dan struktur seperti sekolah, namun kesempatan apapun yang ada di sekitar kita, harus diraih saat itu juga. Meski tak sedikitpun nyambung dengan mata pelajaran yang saya ampu ^_^;.

Nangkring di balkon masjid, nonton akad nikah saat jam pelajaran kosong, apa saat itu mereka sedang belajar? Tentu saja, 100%!