21 July 2010

SAKSI KEHIDUPAN

Bu..."

Di tengah-tengah lalu lalang tamu undangan, seseorang tiba-tiba berdiri di hadapan saya, menyapa dan memberi salam. Badannya tinggi hingga saya sampai mendongak mencari wajahnya.

"Eh, Yoga ya?"

"Iya, Bu," katanya sambil nyengir.

Saya terpana, "Bener ini Yoga?"

Yoga ini dulunya murid saya, lulus dua tahunyang lalu. Tak disangka, di resepsi pernikahan seorang teman, saya bertemu lagi dengannya. Dia memakai seragam hitam-hitam bertuliskan 'crew' dan ada kamera besar di bahunya.

Sambil menikmati hidangan, saya mengingat kembali pertama kali saya bertemu Yoga. Saat MBS (masa bimbingan studi) lima tahun yang lalu. Yoga masih berusia 15 tahun, baru saja lulus SMP, dengan rambut klimis dibelah pinggir. Wajahnya masih kekanak-kanakan dan tingginya belum semenjulang sekarang.

Hampir setiap hari bertemu selama tiga tahun dengannya sejak itu, saya jadi tak menyadari bahwa Yoga -seperti juga seluruh temannya- berubah sedikit demi sedikit. Apalagi mereka sudah SMA, makin matang dan mulai menginjak dewasa. Begitu perayaan perpisahan, dan video MBS tiga tahun yang lalu kembali diputar, kami semua baru sadar, anak-anak ini sudah besar sekarang.

Saya makin yakin, bahwa guru adalah profesi yang hebat. Tak banyak profesi, di mana anda bisa menyaksikan dan menemani kehidupan banyak manusia yang tumbuh menjadi besar. Dan sedikit banyak, guru punya pengaruh dalam pertumbuhan itu.

Mungkin banyak anak yang pencapaiannya luar biasa, jauh melebihi Yoga. Misalnya lolos ke universitas negeri atau dapat beasiswa ke negara asing. Memang sejak dulu, Yoga adalah anak yang biasa saja. Dia anak yatim, memang lumayan rajin, tapi bukan anak yang luar biasa pintar dalam bidang akademik.

Yoga kini kuliah dan membiayai kuliahnya dengan menjadi kameramen freelance di sebuah studio video shooting. Kampusnya kampus kelas dua, tempat kerjanya pun hanya usaha kecil. Tapi anehnya, seperti seorang ibu yang menjadi fans setia anaknya, saya kini bangga setengah mati pada Yoga.

14 May 2010

MEREKA ANAK SIAPA?

"Apa kabar anak saya hari ini?"

Saya kira pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang penting untuk kita ajukan setiap hari pada diri sendiri. Bagaimana keadaan anak saya hari ini. Baik-baikkah, apa terlibat masalah, adakah yang perlu saya bantu atau dampingi, adakah yang perlu saya dengarkan, dsb.

Meskipun anak-anak kita sudah besar, makan bisa menyendok sendiri, belajar tak perlu ditemani, sakit sedikit tak perlu ditunggui, bukan berarti pertanyaan di atas tak perlu kita cari jawabannya lagi setiap hari.

Kenapa saya menulis begini?

Karena saya menemukan banyak kasus, di mana orang tua, bahkan ibu, tak lagi menganggap penting keadaan anak-anak mereka. Kecuali, ketika sudah terjerat masalah berat seperti narkoba, hamil di luar nikah, atau mencuri.

Surat pemanggilan dilayangkan pada orang tua. Ayo Pak, Bu, kita duduk bersama, menyelesaikan masalah kedidiplinan anak-anak kita. Karena sekeras apapun kami berusaha, semua kembali mentah bila kondisi rumah tidak mendukung.

Jangankan bahu-membahu menyelesaikan masalah, datang pun tidak.

Empat bulan menunggak bayaran, akhirnya si ibu datang juga setelah berkali-kali dipanggil lewat surat dan telefon. Ibu wali kelas yang menerima kebetulan melek mode, hingga tau sekali bahwa gaya busana si ibu, model kerudungnya, berikut aksesoris dan perhiasannya, adalah keluaran terbaru.

Kenapa tak dia selesaikan dulu SPP anak yang hanya 135.000 per bulannya?


Saya melihat sendiri seorang lelaki muda, menunjuk-nunjuk wajah wakasek -yang juga guru agama, dengan rokok di tangan, protes keras karena keponakannya dikeluarkan. Kenapa baru datang sekarang, Pak? Kemana aja anda dan keluarga lain selama ini?

Kami sudah jumpalitan mengurus anak ini, mencoba memperbaikinya, menggunakan berbagai macam cara yang mungkin terpikirkan, seraya membendung pengaruh yang dibawa bagi anak lain. Selama itu, apa pernah pihak keluarga menjawab surat dan telefon kami?


Setiap kali kegiatan kerohanian dimulai pada awal tahun, kami tak pernah berhenti terheran-heran. Pada tes penempatan halaqah untuk tilawah (1 guru : 8-10 siswa), selalu saja ada anak-anak baru kelas 1 SMA yang tidak bisa membaca satu huruf pun dalam al-Qur'an. Jangan tanya soal bacaan shalat, jika al-Fatihah pun tidak bisa dibaca dengan benar. Tidakkah soal shalat penting di keluarga mereka?

Dan siapakah yang akhirnya meluruskan lagi kekacauan ini?


Sebenarnya, anak-anak ini anak siapa? Siapa yang harusnya bertanggung jawab atas pendidikan mereka? Kalaupun anda menitipkannya pada kami untuk pendidikan formal, itu artinya kita adalah dua pihak yang BERBAGI TANGGUNG JAWAB atas anak-anak ini. Bukan karena anda membayar, lalu seluruhnya dibebankan pada kami.

Hal yang sering dimaki oleh orang tua HS adalah bagaimana sekolah merusak anak-anak mereka. Tapi saya, ketika menempatkan diri sebagai pihak sekolah, sungguh juga melihat banyak kasus, bagaimana orang tua juga merusak anak-anak mereka.

Saya adalah orang tua HS. Tapi tidak, rekans. Sekolah tidak boleh dilenyapkan. Dalam beberapa kondisi, sekolah justru jadi penyelamat bagi banyak anak-anak.

02 May 2010

DUA KEPALA SEKOLAH

Saya tak pernah banyak merasakan diajar oleh kepala sekolah. Dulu sepertinya kepala sekolah tidak mengajar ya, hanya sesekali masuk ke kelas bila guru yang bertugas berhalangan. Baru sekarang saja disyaratkan mengajar minimal 6 jam per minggu untuk keperluan sertifikasi.

Kepala sekolah saya sewaktu SMP bernama Ghufron Dardiri. Orangnya tinggi besar, matanya lebar, berkulit hitam dengan rambut keriting. Saya amat jarang bertemu dengannya, hanya tau saja kalau dia kepala sekolah. Suatu hari ada guru yang tidak masuk, dan Ustadz Ghufron menggantikan (karena SMP saya di pesantren, maka semua guru dipanggil ustadz/ustadzah).

Ingatan saya memang tidak begitu bagus, tapi rasanya, pelajaran Nahwu (sintaksis) waktu itu berjalan lebih menarik dari biasanya. Ustadz Ghufron mengisi materi dengan antusias. Matanya yang lebar terlihat agak melotot jadinya.

Kelas berjalan lebih komunikatif. Dia bahkan menantang kami untuk menerjemahkan kalimat ke dalam Bahasa Arab. Untuk pertanyaan pamungkas, yang bisa menjawab diperkenankan pulang sekarang juga, tidak perlu menunggu bel keluar. Kalimatnya: Empat orang lelaki (ada) di atas empat buah meja. Apa anehnya? Yah, terjemahan lelaki (jamak) dan kaki (jamak) memang agak mudah membuat terpeleset.

Eh, ternyata ada juga yang bisa jawab. Dengan rela dan bersikap fair Ustadz Ghufron memperbolehkan siswi itu keluar. Sayangnya si siswi malah bingung, dan bel ganti pelajaran berbunyi. Saved by the bell ya, Tadz.... ^_^;

Di MA (SLTA), kepala sekolah saya bernama Balya Isa (sedikit mirip dengan nama kepseknya Ikal di novel Sang Pemimpi ^^). Nama keluarganya, Isa, menandakan bahwa Pak Balya adalah generasi berikutnya dari pendiri yayasan di mana sekolah saya bernaung. Nama itu juga mencirikan keluarga kyai di kampung Betawi kami, yang dididik bertahun-tahun di pesantren-pesantren NU, dan memimpin sekolah-sekolah di bawah yayasan.

Tapi Pak Balya adalah anomali. Sementara kakak-kakaknya jago mengkaji kitab-kitab kuning, Pak Balya mengaku mengambil arah lain. Dia jago berbahasa Inggris. IMO, lebih jago dari guru bahasa Inggris manapun yang pernah mengajar saya selama ini. Sungguh.

Bukan cuma tata bahasanya, dia juga berbicara dengan fasih, menulis bahan rapat atau hasil seminar dalam bahasa Inggris, mengetahui banyak lagu klasik dalam pengajaran bahasa Inggris, juga puisi, cerita rakyat, juga anekdot berbahasa Inggris. Dan semua itu membuat pelajaran jadi berbeda ketika dia menggantikan guru aslinya. Jadi lebih kaya, lebih menarik.

Kenapa saya bercerita tentang dua kepala sekolah ini?

Hm..., entahlah. Hanya saja, saya merasa puas ketika mengetahui bahwa seorang kepala sekolah mengajar dengan cara yang lebih baik dari guru-guru yang dia pimpin. Bukankah memang seharusnya begitu?

Dibanding guru, kepala sekolah berkesempatan lebih banyak mengikuti penataran dan pelatihan, berhubungan dengan lingkungan yang lebih luas, dan memiliki waktu lebih banyak untuk mengembangkan diri. Sudah seharusnya mereka memiliki sikap yang lebih terbuka, lebih kaya, dan lebih bijak.


Keterbukaan pikiran, kekayaan pengalaman, dan kebijaksanaan kepala sekolah dalam memandang pendidikan ini yang akan membawa sekolah ke arah yang lebih baik. Dia tau apa yang terjadi dengan siswa-siswanya, bersedia menerima pembaruan, dan bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan berkaitan dengan segala sesuatu di sekolah.

Seperti nahkoda yang memimpin bahtera ke tujuannya.

dosen killer

Sejak masuk kuliah, saya merasa bahwa dosen dan guru itu berbeda. Ketika di kelas, kontrol dosen tak sebanyak ketika di sekolah. Misalnya, kalau terlambat datang sekian menit, paling banter ga boleh isi daftar hadir, alias dianggap absen. Gak bakal disuruh lari keliling lapangan. Kalau ga ngerjain PR, ga pernah disetrap. Dosen ga ngatur seragam mahasiswa. Mahasiswa juga bisa saja bolos beberapa kali tanpa harus dijemur di lapangan pada pertemuan berikutnya.

Semua pelanggaran yang dibuat memang ada konsekuensinya, tapi dosen 'membebaskan' mahasiswa untuk bisa mengatur diri sendiri. Begitu kira-kira.

Yah, setidaknya itu anggapan saya, sampai para senior bilang: "Pak Aliyuddin kembali dari Brunei semester ini."

"Siapa Pak Aliyuddin?"

Eeeeh, ditanya malah pada senyum-senyum aja, "Liat aja nanti, seru deh pokoknya!"

Dan ternyata memang benar-benar seru. Pertama kali muncul di kelas, dia langsung mencanangkan: "Kalian SEMUA akan BISA pelajaran yang saya berikan dalam semester ini!" Dan tekad itu dia jalankan dengan benar-benar serius!

Selanjutnya, kami seperti kembali lagi ke masa SMA. Kalau datang telat, diomeli. Ga buat PR, diomeli. Ga bisa jawab pertanyaan, diomeli. Absen di pertemuan sebelumnya, juga diomeli (padahal yang absen itu hanya mahasiswa sit-in dari jurusan lain ^^;).


Salah satu teman saya adalah lulusan Madrasah Aliyah di kota Padang. Saya yakin benar dia bisa menjawab pertanyaan Pak Ali. Sayang kegugupannya malah bikin dia malah tak bisa bicara, dan seperti biasa, kena omel lagi. Aksi gebrak-gebrak meja, sampai gelas kaca di atasnya berguncang-guncang, gebrak pintu, nunjuk-nunjuk.

Wah, luar biasa deh energinya Pak Ali ini. Kalau mengajar hampir ga pernah duduk, padahal dia sudah sepuh saat itu. Para senior tambah asik ngasih bumbu: "Waktu masih lebih muda, sebelum diangkat jadi kajur sastra Arab di Brunei, galaknya dua kali lipet!" Hah, kayak gimana tuh gambaran 'dua kali lipat dari sekarang' kira-kira.


Setelah marah-marah, dia akan menyeka keringat sambil berkata, "Aduh, kamu ini bikin saya jantungan aja!" Kami cuma bisa nyengir sambil berpandangan.

Saya sendiri tak pernah menganggap apa yang dilakukan Pak Ali sebagai tindakan jahat. Setiap ngomel, dia lebih terlihat gemas daripada marah. Kayak bilang, "Kamu semua tuh lulus UMPTN, yang begini sih harusnya ga sulit!" Dia juga tak pernah ngomel dengan bahasa yang kasar. Tapi mengenai semangat dan antusiasme Pak Ali di depan kelas, saya kita semua mahasiswanya mengakui.


Sekarang ini banyak metode-metode baru dalam mengajar. Ada SCL, ada CTL, ada MI, dan sebagainya. Tapi perlu diakui bahwa cara Pak Ali terbukti membuat mahasiswanya datang tepat waktu, selalu mengerjakan PR, dan BELAJAR. Ya, apalagi yang diharapkan dosen selain tiga hal itu?

Suami saya bilang, "Ya, itu. Jadilah dosen yang menarik, atau killer sekalian (atau dua-duanya ^_^). Jangan jadi yang biasa-biasa." Dosen yang biasa-bisa aja menghasilkan pembelajaran yang biasa-biasa saja, mahasiswa yang belajar dengan dorongan yang biasa-biasa saja, dan menghasilkan kenangan yang biasa-biasa saja.

Sejak lulus tahun 2003, saya tak tau lagi kabar terakhir Pak Ali. Tapi semoga keberkahan selalu menyertainya di dunia dan akhirat. Amin....

28 February 2009

JAWABAN AKAN DATANG, TAPI TIDAK SEKARANG

Kapan anda mulai menyukai diri sendiri? Kalau saya, sepertinya belum begitu lama. Entah dari mana asalnya, dari kecil hingga masa-masa awal kuliah saya rasanya punya banyak kekesalan. Saya tidak pernah benar-benar suka diri sendiri. Kenapa saya pakai kacamata tebal sekali, kenapa saya tidak jago olahraga, kenapa saya masuk sekolah kampung, kenapa saya terlalu 'besar', kenapa saya lulus UMPTN justru di jurusan yang tidak saya minati, kenapa kenapa kenapa seterusnya.

Mungkin ada yang bilang, dasar tak tahu bersyukur. Bagi banyak orang, yang saya jalani tampak amat baik. Tapi kenyataannya begitulah. Saya merasa terus punya banyak pertanyaan.

AlhamduliLlah, di akhir masa kuliah, saya mulai menemukan diri sendiri. Saya mulai bisa meraba bidang where I'm good at. Sampai akhirnya, setelah saya berusia 24 tahun, memiliki satu anak, dan tinggal di negeri orang, titik terangnya muncul. Saat itulah saya baru bisa berkata bahwa inilah titik, di mana semua kemungkinan terbaik yang mungkin ada, tersimpul di satu jalan bernama 'hidup saya'.

Memandang anak-anak di kelas, saya berpikir adakah dari mereka yang merasa sama. Mereka ada di usia SMA, dan pembanding bagi hidup mereka amat banyak. Dari lingkungan yang serba hedonis, juga lewat televisi. Apakah kenapa-kenapa-kenapa juga menghinggapi kepala mereka?

Hm, barangkali ada gunanya jika saya bilang pada mereka, bahwa usia tujuh-delapan belas tahun menjalani hidup belumlah terlalu panjang sebenarnya. Mungkin mereka belum dapat jawaban atas segala sesuatu sekarang ini, tapi nanti akan, insya Allah. Mereka akan ditunjukkan dan paham, bahwa skenario Allah itu luar biasa, dengan segala sebab akibat yang berkelindan menakjubkan.

Saat ini, mereka cukuplah berluas hati atas segala hal-hal yang tak bisa dirubah lagi. Jangan putus asa, jangan marah, jangan menjauh. Jawaban akan datang, tapi mungkin tidak sekarang.

23 February 2009

BIMBEL

Dulu, saya pernah cukup lama menjadi guru bimbingan belajar (bimbel). Sejak mahasiswa hingga akhirnya berhenti dengan alasan kehamilan. Dipikir-pikir, alasan itu sebenarnya bukan alasan yang kuat juga. Yang lebih tepat sepertinya sih, saya tidak merasa cocok mengajar dalam sistem bimbel.

Target yang dicapai bimbel adalah menyelesaikan ujian, yang berarti bahwa guru bimbel tidak perlu repot mencari cara untuk menyampaikan materi yang asyik dan fun, tidak perlu memvariasikan pengalaman belajar, dan juga tidak perlu memikirkan apakah kira-kira anak akan cinta belajar. Yang perlu adalah latihan mengerjakan soal dengan cepat dan tepat.

Jadi, saya tidak puas. Ingin jadi guru sekolah saja.

Pekan lalu di rumah mertua, saya menemukan sebuah brosur dari bimbingan belajar terkenal. Keren juga brosurnya. Di sana dibahas dulu tentang gaya belajar anak (visual-auditorial-kinestetik), lalu cara kerja otak, dan beberapa teknik terkini tentang baca, catat, dan ingat. Barulah masuk ke bagian iklannya.

Tes modalitas akan diberikan di awal masuk. Perbandingan guru-siswa paling besar adalah 1:20. Menggunakan teknik belajar terbaru. Mengadakan ujicoba untuk ujian sekolah/ujian nasional. Konsultasi PR setiap hari. Konsultasi orang tua, baik langsung maupun dengan buku penghubung. Bahkan lembaga itu mengeluarkan buku pelajaran.

Aneh. Kenapa dia tidak sekalian saja bikin sekolah.

Membaca brosur itu, saya melihat dua hal. Pertama, anak dianggap belum cukup belajar bahkan ketika dia sudah sekolah full day. Bimbel yang dianggap melengkapinya.

Kedua, marketing bimbel memposisikan diri sebagai pemberi solusi atas masalah belajar. Nah, jadi siapakah pihak yang memberi masalahnya? Ya tentu saja: sekolah.

Ujian di sekolah susah, bimbel kasih solusi pengerjaan soal. Metode guru sekolah jelek, bimbel memberi teknik belajar terbaru. PR dari sekolah bejibun, bimbel membantu mengerjakan. Siswa sulit menangkap pelajaran, bimbel memberi kelas dengan siswa lebih sedikit, dan menunjukkan gaya belajar yang dimiliki tiap anak.

Bukankah ini bukti, bahwa para orang tua sebenarnya sudah tak percaya pada lembaga sekolah. Yang mereka percaya adalah legalitas ijasahnya, dan bukan pendidikannya. Soal menjadikan anak 'bisa' adalah tugas pihak lain.

Si Sulung baru sekolah TK, tapi perbedaan metode antara saya dan gurunya di sekolah sudah membuat kami sering berselisih paham. Bagaimana kalau guru bimbel masuk pula dalam masalah ini. Tambah runyam kayaknya.

ANAK GURU

Siapa yang anak guru? Pernah gak denger orang bilang, "Kok si anu begitu yah, kelakuannya? Padahal dia anak guru..."

Tapi, saya juga berpendapat sama sih, kalau anak guru seharusnya anak yang baik. Lha orang tuanya kan guru, jadi tahu tentang pendidikan, paham psikologi (secara psikologi jadi mata kuliah wajib calon guru), dan yang lebih penting, berpengalaman bertahun-tahun menghadapi anak-anak.

Kenyataannya, banyak juga anak guru yang berkelakuan buruk. Sebaliknya, banyak juga guru yang tidak memberikan treatment yang benar pada perilaku anak. Kenapa, ya?

Barangkali, ini kesimpulan serampangan a la nengirma saja, barangkali masalahnya pada soal waktu. Sekolahan sekarang banyak yang fullday. Kalaupun tidak, gurunya yang kepingin ngajar full. Sekian puluh jam di sekolah induk, masih terbang-terbangan lagi di sekolah lain. Jadi pulang-pulang sama saja dengan pegawai kantor, malah lebih panjang jamnya, jam 7.00 (kalau Jakarta 06.30) sampai 17.30. Orang kantoran aja masih nine to five.

Tambahan lagi, biasanya sekolah gak mau rugi. Kalau bisa diefisienkan, kenapa harus nambah guru lagi. Jadi satu guru diusahakan ngajar buanyak, semaksimal mungkin. Biar gak usah tambah personalia, kan gak usah nambah gaji dsb. Jadi kadang walaupun gurunya mau ngajar sedikit aja, tetep gak bisa. Gak boleh sama sekolah. Ngajar banyak or gak usah aja.

Jadi, anak guru dan bukan mungkin gak ada bedanya. Waktu untuk anak tetep sama-sama gak tersedia cukup banyak. Tapi lebih miris anak guru sih, yah. Orang tuanya itu keluar bukan untuk sekedar cari duit, tapi untuk mendidik anak orang lain. Anak sendiri? Kasih pendidikannya ke orang lain. Guru di sekolahnya, atau pembantu di rumah. Aneh gak sih?

Eh, saya juga guru loooh... Guru di sekolah kecil saja, dan kecilnya sekolah membuat saya bahagia. Maksimal saya mengajar cuma 3 hari, itupun hanya pagi hari. Saya masih sempet ngurus anak. Masih sempet juga mikirin gimana caranya biar gak jadi guru bookish. Masih sempet nulis-nulis di multiply pula. Masih sempet jalan-jalan di hari kerja. Pekerjaan yang berkualitas, menurut saya.

Kemarin pas lagi rame-rame pendaftaran CPNS guru dari Depdiknas dan Depag, saya malah sama sekali gak tertarik. Kalau ternyata lulus (geer benerrrr...), PNS wajib mengajar sekian puluh jam. Juga akan ditempatkan di sekolah lain, biasanya jauh dari domisili.

Dari pada kebebasan terkurangi, saya gak ikutan ajalah. Biar jadi guru swasta aja, yang tanpa gaji pokok, tanpa tunjangan hari tua, dan kalau ada urusan apa-apa selalu dibelakangin setelah guru negeri.

Yang penting bahagiaaaaaa.... Ya, kan? Ya, kan?

18 February 2009

Kung Fu Panda Mengajari Saya (1)

Kungfu Panda bicara pada saya, lewat kata-kata Po pada Master Shifu, "You're not my teacher. You don't even believe me." Kata-katanya mengingatkan saya pada siswa yang saya ajar, yang mungkin menyatakan hal yang sama, dalam diam mereka. "Bu, jangan ngaku-ngaku guru saya, deh. Ibu percaya sama saya aja, nggak!"

Memperhatikan beberapa guru, termasuk saya sendiri, nampaknya mempercayai siswa memang tidak mudah. Dengan gampangnya beberapa guru berkomentar tentang anak didiknya dengan kalimat seperti, "Emang udah bodo dari sononya sih, jadi mau diapain juga, yah segitu hasilnya."

Sering kali, yang dikeluhkan adalah betapa rendah tingkat kecerdasan kebanyakan siswa, lalu betapa bandelnya mereka, juga betapa miskinnya. Semua yang negatif adalah label yang berhak disandang anak-anak ini. Tak ada kepercayaan, tak ada penghormatan. Apa siswa bukan manusia?

Saya kira, dengan banyaknya sosialisasi sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) sejak tahun 2004, guru harusnya sudah tahu bahwa anak belajar dalam kecepatan yang berbeda, dan dengan gaya yang tak sama. Maka guru harus percaya: tak ada anak bodoh.

Bila ada anak yang terlalu banyak bicara, dia bukan tak sopan, tapi menonjol dalam kecerdasan verbal. Anak yang lari-larian tak bisa diam bukan bandel, tapi punya bakat kinestetik. Bahkan anak yang suka bengong tak boleh dihakimi sebagai siswa lambat, karena biasanya memiliki kecenderungan interpersonal yang baik. Gurunya yang tidak tahu (tidak mau?) melihat kecenderungan-kecenderungan ini, lalu ambil jalan gampang dengan bilang, "Bodoh dari asalnya!"

Dan rasanya memang banyak juga guru yang tertawa mendengar teori kecerdasan majemuk. "Saya tuh sudah mengajar dari sejak 100 tahun sebelum masehi. Saya bahkan bisa membedakan mana siswa pintar mana siswa bodoh cukup dari daftar absen tanpa perlu memeriksa hasil ujiannya. Kok bisa-bisanya anda (berapa tahun anda mengajar? Tiga? Ooh, baru tiga...) mengoreksi metode mengajar saya!"

Sombong, tapi malas...

Ujian tengah semester baru saja terlewati bagi sebagian besar sekolah di Indonesia. Artinya, sudah seperempat tahun ajaran di lewati. Tapi kita masih berada di awal. Belum terlambat untuk memulainya: memulai untuk percaya. Bahwa anak-anak ini membawa keistimewaannya sendiri, bakatnya sendiri.

Seperti Po yang gendut ternyata berhasil menjadi Dragon Warrior, dimulai dari kepercayaan Master Shifu bahwa Po istimewa, dengan caranya sendiri.

13 February 2009

GAGAL vs RASA PERCAYA

Sebagai guru, saya juga seringkali gagal. Persiapan telah dilakukan, mencari cara agar anak-anak senang belajar setiap kali saya masuk kelas, memutar otak agar tak terjebak pada teori yang makin menjauhkan anak dari what so called 'mastery learning', dan menggunakan beberapa hal yang dekat dengan dunia remaja. Tapi tentu saja, tak selalu berhasil.

Di kelas sepuluh kemarin, contohnya. Dua anak izin ke kamar mandi. Saya membiarkan mereka, lagi pula saya sedang sibuk mengambil nilai berbicara. Tapi saya memang pelupa, jadi setelah mengambil nilai, saya teruskan materi hari itu dan tidak memeriksa apa dua anak tadi sudah kembali.

Pintu kelas diketuk ketika saya menulis di papan. Wajah Bu Ida muncul. Dia adalah guru piket hari itu. "Bu, dua anak ini makan di kantin saat jam pelajaran," ujar Bu Ida. Di belakangnya ada dua anak kelas sepuluh, yang tadi izin ke kamar mandi.

Kawan, saya terluka. Kalau orang terluka itu, ada rasa sakit akibat luka, juga marah kenapa ini bisa terjadi, dan menyesal karena harusnya bisa menghindari luka.

Rupanya materi yang saya berikan belum mampu membuat anak bertahan di dalam kelas. Apakah dua anak ini lapar? Saat itu tidak terpikirkan, karena ego saya sebagai guru masih tak rela membiarkan saya diduakan dengan bakwan goreng dan tahu isi. Saya tidak mengizinkan mereka masuk, dan itu menyebabkan tugas yang telah diselesaikan teman-teman di kelas hari itu menjadi utang mereka untuk pekan depan.

Saya teringat hasil ujian semester lalu, di bulan Desember. Saya dan anak-anak ini sudah bikin janji, nanti ujian tidak ada yang boleh nyontek. Mereka tak perlu khawatir nilai, karena saya sudah merekam keseharian mereka. Karena ujian itu tidak sama dengan pembelajaran. Yang dinilai harusnya pembelajarannya, prosesnya, bukan ujian sebagai hasil.

Jadi saya meminta mereka jangan nyontek, khusus di pelajaran saya. Kalaupun anak-anak ini kejedot pintu malamnya, dan mengalami amnesia hingga semua materi hilang dari memori, kembalikan saja kertas jawaban kosong yang hanya berisi nama. Saya cuma minta kejujuran.

Tapi itu tak terjadi. Saya mencermati lembar jawaban, dan merasakan seperti kejadian di atas: terluka, hanya lebih berat.

Ada rasa percaya yang turun setelah kejadian-kejadian seperti ini, yang terasa berat terutama beberapa hari setelahnya. Rasa percaya pada anak-anak ini, juga rasa percaya pada kompetensi diri sebagai guru yang baik, guncang rasanya.

Ini tak boleh dibiarkan, karena menjadi guru berarti menjadi orang yang selalu berpengharapan baik. Quantum Teaching sudah wanti-wanti, agar setiap pertama kali masuk, guru membayangkan ada bintang atau angka seratus di jidat masing-masing anak. "Setiap anak pintar dalam cara mereka masing-masing, dan saya yang akan menunjukkan hal itu pada mereka!"

Di buku itu juga terdapat testimoni seorang murid yang pernah nakal. Ia bilang, yang merubah dirinya adalah kepercayaan. Sepanjang tahun dia dengan sengaja melanggar peraturan. Gurunya berkali-kali menghukum: dikasih tugas, pulang lebih lama dari teman sekelas, dsb. Tapi yang tak pernah hilang dari gurunya ini adalah rasa percaya kalau si murid bisa berubah jadi baik. Dan anak ini pun berubah baik, dengan ikhlas.

Saya ingin seperti itu. Ingin bisa terus percaya.

12 February 2009

SURATI

“Bu, tadi dicari sama Surati,” begitu sapa Ida, kepala tata usaha, begitu saya muncul di pintu ruang guru. Surati? Ada apa ya? pikir saya. Surati adalah siswi kelas sepuluh. Perawakannya kecil dan memakai jilbab. Saya tak menemukan masalah dengannya hingga saat ini di kelas. Dia termasuk anak rajin, seperti kebanyakan anak perempuan di sekolah ini.


Surati, ini nama asli, kembali mencari saya pada jam istirahat. Kami duduk berhadapan.


“Begini, Bu,” katanya pelan. “Sebenernya saya malu…” Surati mulai mengutarakan maksudnya.


Ternyata ia meminta tolong agar saya bisa membantu memasukkannya ke asrama yatim.

Sekolah tempat saya bekerja berada di bawah yayasan yang memiliki asrama bagi yatim tak mampu. Kebanyakan dari mereka berasal dari Parung Panjang dan beberapa desa di Kabupaten Bogor lain. Mereka di bawa ke Tangerang untuk sekolah di siang hari dan belajar agama malamnya tanpa membayar.


“Saya selama ini tinggal di rumah saudara sambil bantu-bantu. Bapak saya petani di Jawa. Terus ada sedikit masalah, jadi saya gak bisa tinggal di sana lagi. Jadi, saya minta tolong agar bisa masuk asrama,” ujar Surati.


Saya memang pernah ikut berkecimpung sebagai pengurus asrama beberapa tahun lampau. Setelah melahirkan anak kedua, saya merasa kekurangan waktu untuk ikut mengontrol anak-anak itu dengan baik. Dengan alasan ingin berkonsentrasi di keluarga dan sekolah, saya melepaskan tanggung jawab di asrama yatim. Namun demikian, hubungan dengan pengurus masih erat.


“Tapi ini asrama yatim, Surati. Sedang kamu bukan yatim. Saya harus konsultasikan dulu apa kamu bisa masuk dalam kriteria untuk masuk asrama atau tidak. Agak ketat memang, karena biaya hidup dan pendidikan nantinya ditanggung yayasan semua,” jawab saya.


“Saya mau bayar kok, Bu. Untuk sekolah saya memang selalu bayar sendiri. Kalau untuk biaya makan di asrama, nanti saya cari. Pulang sekolah saya bisa jadi kuli cuci setrika di sekitar sini. Tapi untuk awal-awal memang belum bisa bayar. Kalau saya sudah kerja lagi, baru saya cicil.”

Duh, apa nggak meleleh hati ini mendengar anak kelas sepuluh (I SMA) bisa bilang begitu? Tapi keputusan bukan ditangan saya. Saya berjanji akan mencoba mengurus permintaannya.


Informasi lebih lengkap saya dapat dari salah satu guru. “Surati memang kerja di rumah saudaranya, Bu,” kata guru itu. “Lulus SMP, orangtuanya gak kuat membiayai sekolah. Jadi dia ke ke sini, bantu-bantu di rumah saudara. Istilahnya sih, ya jadi pembantulah. Masak, nyuci setrika, beres-beres, dan momong anak.”


Saya mengangguk-angguk mengerti. Ternyata masalah muncul ketika Surati ingin sekolah. Dia sekolah pagi, dan baru sampai rumah lewat dari jam satu. Dia buru-buru masak, lalu mencuci, dan beres-beres. Karena itu dia tidak pernah bisa ikut kegiatan ekstra.


Saudaranya jadi kesal karena pekerjaan rumah tidak tertangani sebaik dulu. Surati tak diajak bicara lagi. Kelihatannya surati memang harus memilih, dan dia lebih memilih sekolah. Karena itu dia meminta saya memasukkannya ke asrama, agar setidaknya dia tetap punya tempat untuk tinggal. Uang makan dan lain-lain akan dicarinya nanti.


Berapa gaji seorang kuli cuci setrika? Saya kira tak lebih dari Rp200.000. SPP sekolah saja sudah menghabiskan lebih dari setengahnya. Bari mana dia bisa membayar uang makan? Belum lagi buku-buku dan keperluan sekolah. Dan, dia juga perlu alat kebersihan, deodoran, pembalut, sedikit bedak, juga pakaian baru sesekali.


Ah, saya teringat diri sendiri saat duduk di bangku SMA kelas satu, sama dengan Surati sekarang. Entah apa yang ada dalam pikiran saya saat itu, tapi yang jelas bukan soal semangat belajar dan usaha bertahan hidup. Ringan saja, seperti kapas, melayang ke sana ke mari tak tahu tujuan.


Apakah saya yang lebih beruntung karena melewati masa SMA tanpa halangan berarti, makan cukup, biaya ada, ataukah lebih beruntung Surati, yang telah kaya pengalaman sejak umur amat belia dan punya tekad kuat untuk berjuang?


Dua hari kemudian, saya terima kabarnya. Dengan rekomendasi sekolah, pengurus menyatakan bahwa Surati bisa masuk asrama. Biaya tinggal, biaya makan, dan biaya pendidikan agama digratiskan. Surati cukup bayar SPP sekolah saja.


Alhamdulillah. Mudah-mudahan ini semua cukup membantu. Berjuang terus ya, Surati. Saya gurumu, tapi justru belajar banyak darimu.


Jangan menyerah, Surati. Jangan menyerah….


22 October 2008

Ingin Buru-buru Jadi Guru

Ceritanya, saya baru nonton Laskar Pelangi di bioskop. Rada telat nih, memang. Kesan-kesannya? Wah, kalau review Laskar Pelangi mah, udah di mana-mana, ya. Tapi, memang ada hal-hal dari sana yang terus saja teringat di kepala saya. Begitulah, kadang suatu kisah jadi berkesan, karena terkait dengan kehidupan kita. Karena ada yang mirip entah di bagian mananya. Karena rasanya tidak asing di hati ini.

Di salah satu adegan film itu, Pak Harfan bertanya pada keponakannya, Bu Muslimah, kenapa ia tidak menerima pinangan dari seorang pemuda kaya. Dengan begitu, dia kan bisa jadi istri saudagar nantinya. Bu Muslimah tersenyum dan menjawab, “Pak Cik, saya tidak bermimpi jadi istri saudagar. Saya ingin menjadi guru.”

Hm… Seperti ada yang mengetuk hati. Kata-kata Bu Mus itu terasa tidak asing bagi saya.

Kebetulan saya baru pindah tempat lagi, hehehe… Iyah, yang ketiga kalinya di tahun ini. Tiap pindah rumah, pastilah kita membongkar barang-barang dan merapikan kembali. Nah, kali ini saya menemukan buku harian saat masih gadis. Tertulis bulan pembeliannya di sana, Agustus 2001.

Lagi heboh-hebohnya saya, masih kuliah tingkat tiga. Berangkat jam setengah enam, sampe rumah jam sepuluh malam. Gelantungan di bis kota antara Kebayoran Lama – Depok – Ciputat. Sama sekali gak nyangka kalau dua bulan kemudian ternyata ada yang ngelamar, huihihihi….

Di lembar-lembar pertama diary bersampul hitam polos itu tak ada yang istimewa. Cuma catatan kejadian sehari-hari, beberapa kisah di tempat kerja sambilan, jadual harian, atau daftar belanja. Yah, umumlah.

Lalu saya tiba pada catatan tanggal 6 Juli 2002, yang sepertinya jadi tonggak sebuah mimpi. Walaupun samar, tapi rasanya itu memang sebuah mimpi. Membaca kembali catatan enam tahun yang lalu, kini saya tak dapat mengucapkan apa-apa lagi kecuali syukur. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam…

6 juli 2002

Kenapa kesadaran ini baru datang sekarang? Pertanyaan ini mengundang flashback. Apa gunanya menyesali masa lalu yang tidak kreatif dan berani. Lebih baik mensiasati masa depan, toh?

Jadi guru, ini sarananya. Dengan jadi guru. Please… Aku ingin jadi guru Bahasa Indonesia. Bukan cuma ngajar tentang ejaaan, tapi menulis dengan benar. Bukan ngasih tau macam2 majas, tapi gimana bikin dan makenya. Bukan cuma ngritik karya, tapi juga berkarya.

Mulai dengan laporan harian, lalu bikin sinopsis cerita di TV, lalu masuk ke cerpen, novel, roman. Lomba mengarang cerpen dan puisi, artikel, wawancara dan jurnalisme, pembukuan karya2 siswa dan mengirimkannya ke majalan2 remaja atau Horison. Juga mengaktifkan mading.

Ah, pengen buru-buru jadi guru...

20 October 2008

Kung Fu Panda Mengajari Saya (2)

Ayah dari Po si panda gendut adalah pembuat dan penjual bakmie terkenal. Pelanggan mensesaki warung mereka setiap hari. Meskipun demikian, sang ayah merasa belum saatnya Po mengetahui 'the secret recipe of my secret recipe' bakmie terkenal itu. Sampai suatu hari ketika mereka mengungsi, sang ayah merasa sudah waktunya membuka semuanya: resep rahasia bakmie buatannya.

Po bengong tak mengerti ketika akhirnya si ayah berkata, "No secret!" Ya, resep rahasia bakmie istimewa itu adalah tanpa rahasia. Kenapa begitu? "Because, to make something special, you just have to believe that it is special."

Maka Kungfu Panda kembali bicara pada saya. Saya, yang sebelumnya menganalisa keistimewaan anak dari nilai rapor dan ijasah, dan dari sekolah mana ia berasal; apakah negeri papan atas, negeri baris belakang, swasta kaya, atau swasta kecil miskin murah entah di mana. Kenapa saya, dan mungkin banyak guru lain, menimbang anak dengan cara demikian? Karena mengira bahwa ada special ingredient untuk menciptakan anak spesial: IQ superior, gizi baik, keluarga tanpa masalah, dan fasilitas sudah memadai.

Padahal sungguh Kungfu Panda benar, tak ada resep rahasia tertentu. Cukup anda percaya pada siswa. Itu yang akan membuat mereka jadi istimewa.

"Istimewa gimana? Memangnya percaya aja cukup?"

Bukankah agama pun dilandasi oleh iman, kepercayaan? Iman membuat seseorang bertransformasi: lebih percaya diri, lebih berani, lebih sabar, lebih ikhlas, lebih bahagia. Demikian juga kepercayaan seorang guru pada keistimewaan siswanya.

Bila kita berkesempatan hadir di sebuah acara istimewa, kita akan mempersiapkan diri sejak jauh hari. Memikirkan benar-benar penampilan dari ujung rambut hingga ujung kaki, mengatur ucapan terbaik apa yang bisa dilontarkan, dan menyiapkan bingkisan apa yang sekiranya baik dan terkesan.

Bayangkan energi yang tercipta ketika di pagi hari, sebelum berangkat kerja, seorang guru mengingat bahwa, "Wah, hari ini adalah satu hari istimewa lagi. Saya akan mendidik manusia, bukan sekedar menciptakan robot. Manusia yang oleh Allah dikaruniai kelebihan yang unik. Dan sayalah salah satu orang yang diberi kehormatan untuk menggali potensi mereka yang amat beragam itu. Sebagai bagian dari amal jariyah, sebagai usaha menjadi orang bermanfaat, sebagai cara berbuat ihsan."

Pikiran positif itu akan menyebar, seperti juga pikiran negatif bisa menular.

Karena itu, mari kita awali setiap hari dengan rasa percaya, pada kualitas anak-anak yang kita didik, pada kualitas kegiatan belajar mengajar tahun ini. Dengan demikian, guru bisa memberi anak lebih banyak dari hanya sekedar nilai: harga diri, semangat, rasa hormat, dan kecintaan pada ilmu.

09 October 2008

Tukang Omong

Dengan wajah tertunduk, saya mengakui bahwa saya punya banyak kesalahan dan sering menghadapi kegagalan selama berprofesi sebagai guru. Dan kalau guru salah, ada sekian ratus siswa yang mungkin merasakan akibatnya. Salah satu kesalahan terbanyak yang pernah saya lakukan adalah: kegagalan menahan diri dari menilai siswa lewat kesan pertama, memberi stereotip tertentu dengan melihat sesuatu yang hanya ada di permukaan. Keadaan itu diperparah dengan dua kondisi: sempitnya ilmu dan dangkalnya pemahaman.

Saya tak bisa ingat lagi semua siswa yang telah saya perlakukan tak adil seperti di atas, namun ada satu nama yang masih melekat: Arief Soebarna.

Di tempat saya mengajar, sekolah mengadakan evaluasi keseluruhan setiap tiga bulan, yang membahas semua komponen sekolah, termasuk kedisiplinan siswa. Tahun lalu, nama Arief Soebarna dari kelas sepuluh selalu masuk pembahasan. Hampir semua guru mengeluhkan kelakuannya yang membuat suasana belajar jadi tidak ‘kondusif’ (saya letakkan kondusif dalam petik karena maknanya berbeda bagi tiap orang).

Hobi Arief adalah nyeletuk di tengah-tengan pelajaran, saat guru menerangkan di dalam kelas. Kalau tidak berkomentar yang tidak perlu, ia akan menggunakan kata-kata guru untuk meledek salah satu teman. Yang lain riuh menanggapi, sehingga guru harus berusaha keras membuat anak kembali memperhatikan ucapannya.

Berbagai jurus dikeluarkan menghadapi Arief. Guru sains mempersilakan Arief mempertanggungjawabkan kata-katanya di depan kelas, sementara guru lain membawa air comberan dalam gelas plastik untuk mengancam Arief agar tak buka mulut. Begitulah, saya menerima Arief sebagai si tukang omong di kelas sepuluh sebagai sebuah kebenaran, tanpa mencari pembuktian.

Di tengah semester dua, berhari-hari saya tidak menemui Arief di kelas. Tak ada kabar, sampai wali kelas memberitakan bahwa Arief telah mengundurkan diri dari sekolah karena alasan biaya. Alasan ini lumrah di sekolah kecil seperti kami. "Kelas sepuluh lebih damai," demikian komentar banyak guru, seakan mensyukuri perginya Arief.

Lalu suatu hari, saya menemukan ruang guru yang kosong, menyisakan hanya 1 orang tenaga administrasi. Tak ada guru lain, bahkan guru piket pun tak ada. Takdir menentukan bahwa hari ini hampir semua orang izin bersamaan. Untungnya kelas XII sudah tidak aktif belajar setelah UN. Maka saya menangani sendiri dua kelas untuk belajar materi yang saya kuasai, tentu, Bahasa Indonesia. Yang terpikirkan saat itu adalah berbalas pantun.

Saya pernah mencoba metode berbalas pantun di kelas X sebelumya, saat kami tiba pada materi puisi lama. Hasilnya amat memuaskan. Semua excited, bahkan siswa yang termasuk pendiam pun berani berdiri dan melontarkan pantun untuk memuji diri sendiri atau membalas godaan orang lain. Kelas penuh tawa hingga dua jam pelajaran terasa berlalu sangat cepat. Tak ada tekanan teori, atau ceramah sampai lidah kering dan anak mengantuk.

Nah, saya ingin mencobanya sekarang. Berbalas pantun, siswa kelas X melawan siswa kelas XI, berharap keceriaan yang sama akan tercipta lagi. Tapi kelas X tampaknya merasa agak khawatir berhadapan dengan kakak kelasnya. “Arief udah gak ada sih, Bu.”

Dan mata saya terbuka. Ternyata suksesnya acara berbalas pantun tempo hari sebagian besar adalah campur tangan siswa tukang omong bernama Arief Soebarna. Dia yang menjawab sebagian besar pantun yang dilemparkan pada kelompoknya dengan cepat, tanpa konsep di atas kertas, dan isinya bikin kami sakit perut karena tertawa. Begitu kelompok lain merasa Arief terlalu sering membalas, dia memasok pantun pada teman-temannya, bukan lewat tulisan, tapi lewat bisikan.

“Dia cerdas!” putus saya dengan hati sedih. Sedih karena saya baru melihat bahwa Arief adalah anak dengan kemampuan verbal yang menonjol, justru setelah orangnya sudah tidak ada di sekolah. Tak heran dulu dia begitu banyak bicara, karena itulah yang jadi kelebihannya. Kelebihan yang dianggap sebagai kekurangan oleh kami, para guru, yang mengaku berpendidikan.

Ah, anak ini tentu mengalami banyak sekali tekanan sejak dulu. Tak banyak guru yang mau disela, dan banyak orang dewasa yang tak rela mendengar omongan anak-anak. Semua menyuruhnya, “Diam! Dengarkan! Catat!” Tak ada yang membiarkan dia bicara, bercerita, diskusi, bakan mungkin sekedar bertanya. Seperti kelinci yang dipaksa berenang, tak ada yang membiarkan Arief menjadi diri sendiri.

Saya tidak tahu di mana Arief sekarang. Biar pekan depan, saat sekolah masuk kembali, saya akan tanyakan pada mantan teman-teman sekelasnya. Saya merasa harus mencari Arief. Untuk minta maaf padanya. Untuk menunjukkan bahwa ia akan cocok jadi penyiar radio, tenaga pemasaran, public relation, pendongeng, juru kampanye, pelobi bisnis, atau orator. Untuk meyakinkan, bahwa sungguh, Arief Soebarna juga istimewa.

23 September 2008

Janji Untuk Bagus

“AAAAAAAAAA...!!!”

Terdengar suara ribut-ribut di luar. Bu Ida, guru piket hari Rabu, bergegas mencari sumber suara. Saya dan beberapa orang di kantor sekolah melongok ke luar. Tapi kami sudah tahu ada apa. Itu suara Bagus. Lagi-lagi Bagus.

Bu Ida adalah guru yang tegas, tapi Bagus bukan anak kecil lagi. Dia remaja SMA, laki-laki. Bu Ida tak lagi bisa menyentuhnya. Sayangnya, di hari Rabu tak banyak guru laki-laki hadir. Maka bantuan satpam akan diperlukan setiap kali Bagus mengamuk di hari Rabu.

Saya tak suka bila satpam ikut campur. Mereka cenderung kasar, menarik tangan Bagus dan menyeretnya ke kantor sambil mengancam. Duh, saya bisa hampir merasakan badan Bagus yang sakit saat menggelosor di tanah sementara tangannya ditarik paksa. Bagaimana pula dengan hatinya? Sementara bertarung dengan rasa frustasi, pada saat yang sama ia dipermalukan oleh tatapan anak-anak lain lewat jendela-jendela sepanjang koridor sekolah.

Ada apa dengan Bagus? Saya tidak tahu. Saya tak pernah belajar psikologi atau psikiatri. Sejauh pengamatan saya sebagai guru Bahasa Indonesia, ia cukup cakap berbahasa, karena berbahasa dianggap ukuran kecerdasan tingkat tinggi. Ia bisa menyusun kata dalam kalimat lengkap, baik verbal maupun dalam tulisan yang rapi kecil-kecil. Bagus menguasai tata bahasa yang bahkan lebih baik dari beberapa siswa lain yang ‘normal’. Hapalannya juga bagus. Hanya saja, setiap mengarang dalam tema apapun, hanya dua hal yang ditulisnya: sekolah Bahasa Inggris di Los Angeles dan kemudian bertemu gadis bernama Stephanie, atau perjalanannya sebagai pilot pesawat luar angkasa.

“AAAAAAA!!!... GUBRAKKK!!!”

Itu Bagus di hari Senin. Dia berteriak, tangannya menutup telinga, sambil menggeleng-gelengkan kepala ketika Pak Muchlis menerangkan Geografi, lalu meninju meja dengan keras. Tiba-tiba saja, bahkan Pak Guru pun tak mengerti apa penyebabnya. Kelas berubah riuh, dan itu memperparah kondisi Bagus. Seperti yang sudah-sudah, ia kembali diseret ke luar kelas untuk menenangkan diri di kantor kalau ia mau, atau dibiarkan bicara sendiri dalam Bahasa Inggris di lapangan asal tak mengganggu kelas yang berlangsung.

Yang tadi itu sebenarnya masih lumayan, karena di saat lain, Bagus bisa merusak pintu kelas dan membuat tong sampah terjungkal semua. Lihat saja tangannya yang penuh goresan dan luka sundutan rokok. Semua dilakukannya pada diri sendiri di rumah, saat emosinya yang memang tidak stabil itu terguncang.

“Bagus harus dikeluarkan! Kita sudah cukup direpotkan oleh target kurikulum dan kebandelan anak-anak lain!” Seorang guru berpendapat keras dalam rapat.

“Tapi Bagus lebih baik dibanding siswa lain yang normal tapi malasnya minta ampun. Dia rajin dan bisa sangat perhatian pada pelajaran!” bela guru yang lain.

“Kenapa orang tuanya tidak mengkonsultasikan Bagus ke seorang profesional. Biar hasil observasinya bisa kita gunakan untuk mengatasinya di sekolah,” begitu tanya yang lain.

Lalu wali kelasnya menjawab, “Bahkan orang tuanya tidak mau menerima kalau anaknya butuh sekolah khusus. Mereka berani bayar berapa saja untuk sekolah di sini, sekolah umum.”

Saya selalu menarik nafas berat di saat seperti sekarang. Setiap kali rapat guru, nama Bagus selalu jadi perdebatan. Sebagian bilang, “Keluarkan!” Sebagian lain berpendapat, “Jangan!” Saya sendiri mendukung pendapat kedua. Semata-mata atas dasar kasihan. Bagus bukan penyandang cacat mental berat, dan karenanya ia akan mengerti bila dikeluarkan. Pasti hancur hatinya, akan runtuh dunianya. Entah apa yang akan dia lakukan menghadapi dunia yang menolak keberadaannya.

Maka biasanya rapat mengalami deadlock, hingga kami semua menyerah dan beralih ke masalah lain. Lagi-lagi masalah Bagus dibiarkan menggantung.

Lalu saya membaca The Phenomenon, sebuah buku tentang fenomena Laskar Pelangi. Sampai pada halaman 77 dan seterusnya, posisi duduk saya berubah dari bermalas-malasan menjadi tegak. Kenapa? Karena salah satu bab dalam buku itu seperti menjitak kepala saya dan berkata, “Ingat tokoh Harun dalam Laskar Pelangi?”

Ya, salah satu tokoh dalam Laskar Pelangi bernama Harun. Dia anak cacat mental, namun belajar bersama sembilan anak lain, beberapa di antaranya jenius, dalam kelas yang sama. Inilah kelas yang mempraktekkan apa yang disebut dengan PENDIDIKAN INKLUSIF. Anak-anak cacat seharusnya tidak dipisahkan dari anak normal. Bagi anak cacat, ini memberikan rasa hormat dan kebanggaan pada diri sendiri, dan bagi anak normal, pendidikan inklusif mengajarkan mereka bersyukur dan menerima perbedaan.

Semangat saya untuk Bagus terasa di-charge kembali setelah membaca. Pendidikan inklusif, itulah alasan kenapa Bagus akan tetap bersekolah di sekolah umum. Untuk kehormatan dirinya, untuk rasa kebanggaan sebagai manusia yang dilahirkan ke muka bumi. Tentu akan ada modifikasi dalam metode pembelajaran, tapi itu bukan masalah besar. Seperti ujaran Bu Muslimah, bahwa insya Allah mendidik anak istimewa akan memberi berkah pada gaji guru.

Bu Muslimah, guru Laskar Pelangi, tak pernah membeda-bedakan muridnya. Ia memberikan pertanyaan yang sama pada Harun, yang hampir selalu dijawab ngaco oleh muridnya itu, tapi dengan wajah antusias dan serius. Lalu sang guru akan sepenuh hati memberikan pujian pada Harun, untuk segala usahanya, untuk segala beban yang dia tanggung, untuk segala hikmah yang ia berikan ke sekitar. Hingga lulus, Harun tidak pernah bisa membaca, tapi yang dia butuhkan tampaknya bukan ijasah, tapi dukungan dan penghargaan.

Dan itulah, itulah, yang akan saya berikan untuk Bagus. Saya berjanji.

02 September 2008

Lentera Jiwa

Banyak orang yang bercita-cita jadi guru. Makanya, ada institusi khusus yang dibangun untuk orang-orang yang ingin menjadi guru. Saya mengagumi orang yang menggeluti ilmu kependidikan karena panggilan jiwa seperti itu.

Di sisi lain, banyak juga lulusan universitas non kependidikan yang ternyata memilih guru sebagai profesi (misalnya saya :D). Mereka-mereka ini sampai rela mengambil kuliah ilmu keguruan satu tahun lagi yang sering disebut akta IV (kalau yang ini saya belum ;p). Saya tentu saja menghormati pilihan mereka.


Selain dua jenis orang di atas, ada lagi yang lain, yaitu yang menjadi guru, karena tampaknya peluang pekerjaan di dunia profesional jauh untuk dicapai. Yah, sarjana hukum yang gak bisa jadi pengacara atau notaris, jadilah guru kewarganegaraan. Lumayan... Atau sarjana sastra Inggris yang gagal jadi intrepeter, bolehlah ngajar bahasa Inggris. Apa susahnya. Sekolah bejibun ini. Jadi guru kadang adalah cara gampang untuk menghindarkan diri dari nganggur.

Memang kenapa kalau begitu? Salah?

Hm... gimana ya? Kembali lagi ke masalah lentera jiwa. Saya kira kita bisa bedakan mana guru yang mengajar karena panggilan jiwa dan mana yang bukan. Maka bila anda berprofesi sebagai guru, yuk kita berusaha jujur, apakah mengajar adalah panggilan jiwa anda.

Kenapa? Karena kita, guru, bekerja untuk mendidik manusia, bukan membuat sepatu atau toples di pabrik. Bila mengajar adalah lentera jiwa, anda akan merasakan semangat, gairah, antusiasme. Metode baru, pendekatan berbeda, hubungan dengan siswa, inovasi, hingga akhirnya kepuasan, semua akan lahir dari guru yang cinta mengajar.

"Memang kenapa kalau profesi guru ini bukan panggilan hidup saya?"

Berbahaya! Benar, menurut saya itu membahayakan. Saya juga orang tua, dan saya tidak akan mau menyerahkan anak kepada guru yang tidak memiliki passion dalam mengajar, yang menganggap mengajar bukanlah panggilan jiwanya, tapi sekedar cara menghasilkan uang.

Saya tidak rela anak saya mati rasa pada ilmu dan benci sekolah, karena diajar seadanya olehguru pengecut yang tidak mengakui bahwa dia sebenarnya ingin memilih jalan lain, kalau bisa. Sungguh, anak menyerap lebih banyak dari yang kita duga.

Karena itu, bagi guru yang sekarang merasa 'lives someone's life', mungkin saatnya anda mencari kembali lentera jiwa anda yang mungkin semakin meredup dimakan waktu dan digerus rutinitas. Cari, temukan, raih, lalu berbahagialah...

"Oke, oke... Tapi kalo nggak ngajar, saya ngapain, dong?"

Idih, itu sih bukan urusan saya! (baca: temukan sendiri dong lentera jiwa anda.)

10 August 2008

Our Legacy

Hari Kamis lalu, pintu saya diketuk orang. Agak kaget juga, karena tak biasanya saya kedatangan tamu. Setelah dibuka, muncullah 2 wajah berjilbab, memakai atasan batik biru dan rok lebar putih. Saya tahu, mereka berdua adalah siswi SMP di bawah yayasan yang sama dengan SMA tempat saya mengajar.

"Mau mewawancarai Ibu, untuk tugas Bahasa Indonesia" kata salah satunya malu-malu. Wah, wawancara? Hari Kamis saya memang tidak ada jadual mengajar, jadi seharian dihabiskan membereskan rumah. Aneh sekali diwawancarai dengan pakaian kucel berbau asap dapur.

Pertanyaan dimulai dengan "Siapa nama Ibu?" Saya hampir tertawa mendengarnya, kalau saja saya tidak ingat bahwa yang menanyai saya masih SMP. Pertanyaan itu tentu saya jawab sejujurnya. Lalu pertanyaan tentang tanggal lahir, jumlah anak dan sebagainya yang biasa ada pada biodata. Saya mulai bertanya-tanya kapan pertanyaan intinya akan dimulai.

Ternyata tema wawancaranya adalah pengalaman saya sebagai guru, yang secara formal baru 3 tahun saja. Tapi kemudian, dua siswi ini mengajukan pertanyaan yang membuat saya berpikir dulu sebelum bicara.

"Apa yang Ibu harapkan dari siswa-siswa Ibu?"

Tak mudah, memang tak mudah. Pertanyaan ini sesungguhnya menyentuh inti kenapa sekarang saya memilih jadi guru. Apa yang saya sebenarnya inginkan untuk dicapai oleh siswa-siswa?
Saya bisa saja memilih jawaban mudah tapi basi seperti: "Saya harap anak-anak dapat berguna bagi agama, nusa dan bangsa." Itu memang jawaban yang sama sekali tak salah, hanya saja terlalu samar bagi saya. Jauh, utopis. Saya ingin yang sederhana saja sekarang.

Sederhana, karena tanpa dibebani macam-macam harapan pun, apa yang dirasakan siswa sekarang sudah kompleks. Mereka berhadapan dengan kondisi ekonomi yang menjepit, gizi yang kurang, beban pelajaran yang banyak, ujian nasional yang meresahkan, kesempatan kerja yang sedikit, juga pergaulan yang kian meracuni. Makanya, tak usah jauh-jauh dulu berpikir tentang 'berguna bagi agama, nusa dan bangsa'.

Maka jawaban untuk dua siswi tersebut adalah, saya ingin anak-anak yang saya ajar cinta belajar, suka belajar, dan jangan sampai benci belajar. Kalau sudah cinta belajar, tidak masalah bila tidak bisa meneruskan sekolah karena kehabisan biaya. Tidak masalah kalau belum bisa menebus ijasah di sekolah sebelumnya. Karena suka belajar membuat siswa tak pernah berhenti belajar, dari mana saja, dari apa saja, dan dengan itulah ia akan selalu punya arti bagi orang-orang di sekitarnya.

Masalahnya, apa kita bisa dibuat percaya bahwa mereka bisa cinta belajar? Beberapa guru mungkin akan skeptis, melihat kenyataan yang mereka temui sehari-hari di kelas. Siswa lebih-lebih lagi, tampaknya.

Bagaimanapun, tentu mereka bisa. Caranya? Ya seperti penyebab rasa suka kita pada seseorang, belajar harus juga menarik dan menyenangkan. Belajar juga memiliki makna, yakni terhubung dengan kehidupan. Dan menciptakan kondisi seperti itu banyak caranya, bertumpuk bukunya, asal mau dicari dan diterapkan.

Saya jadi tertohok lagi. Mari menilai diri sendiri. Bagaimana mungkin mengajarkan anak cinta ilmu kalau gurunya saja tidak? Karena rumus diferensial mungkin akan dilupakan, bagaimana menghitung rugi laba perusahaan mungkin akan dilupakan, sistem pemerintahan akan dilupakan, sejarah runtuhnya Demak mungkin akan dilupakan. Lalu apa yang akan saya, dan rekan guru lain tinggalkan?

Cinta belajar.

19 March 2008

Berbalas Pantun

Memang ada baiknya juga mendokumentasikan beberapa pengalaman saya ketika mengajar di kelas. Paling tidak bisa jadi referensi bagi diri sendiri, syukur kalau juga bermanfaat buat orang lain. Soalnya, kadang ide mampet pas mencari cara apa yang asyik buat menyampaikan materi. Enak kan kalau ada metode praktis yang bisa dicontek.

Karena jarang ada buku pintar soal bagaimana menyampaikan materi di kelas, saya memang jadi nyomot dan nyontek sana-sini. Biasanya dari buku-buku Kaifa-nya Mizan, terus buku-buku MLC, beberapa juga dari ingatan tentang sekolah di masa lalu. Kali ini, saya mengambilnya dari buku Dunia Tanpa Sekolah.

Ketika sampai pada materi Puisi Lama, saya hanya sedikit menjelaskan perbedaan antara mantra, syair, pantun dan gurindam. Sisanya kami semua, saya dan murid-murid, membuat pantun. Setiap siswa akan membacakan pantun yang telah dibuatnya. Semua hampir persis seperti cerita si pengarang dari buku di atas.

Seperti reaksi yang saya baca di buku tersebut, suasana di kelas saya juga segera berubah hangat dan penuh tawa. Semua membuat pantun yang berbeda, beberapa di antaranya memang ditujukan pada seseorang di kelas. Yang cukup membaut saya bangga, banyak yang bisa membalas pantun yang ditujukan pada mereka, dalam selang waktu beberapa detik saja. Sungguh, saya menyesal pernah meragukan potensi kebahasaan anak-anak ini.

Saya tahu banyak dari pantun itu yang bukan karya orisinal. Yang lain tidak seragam suku katanya. Sampiran yang dibuat juga banyak yang aneh dan gak nyambung. Beberapa malah membuat gurindam, padahal saya meminta pantun. Tapi siapa peduli? Saya kira kami semua, termasuk saya, menikmati materi ini dan tak ada yang merasa tertekan dengan teori, rumus, aturan, atau definisi. Saya memang tak begitu paham tentang banyak kriteria, yang penting sasaran pelajaran ini adalah keterampilan berbahasa.

Di antara padatnya beban kurikulum, target nilai yang harus dicapai, honor yang kecil, tunggakan SPP siswa berbulan-bulan, dan berbagai kesemrawutan lain, ada semburat keindahan di sana sini yang selalu membuat saya tak bisa meninggalkan pekerjaan ini.

31 December 2007

Standing Applause

Ya, saya harus menyampaikan banyak terima kasih kepada Pak Ismail Marahimin, dosen Penulisan Populer di FSUI (sekarang FIB UI). Metode dan materi kuliahnya memang saya contek habis untuk mengajar materi Ragam Paragraf dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas X SMA. Kelas Pak Ismail adalah kelas menulis satu-satunya yang saya ikuti selama ini. Mungkin juga karena itu saya jadi nyontek abis metode beliau, karena gak ada referensi lain, hehehe…


Urusan nyontek metode itu juga termasuk ketika kami mulai masuk materi Narasi. Yang saya ingat, di kelas Pak Ismail, kami memulai penulisan narasi dari menulis kenangan, lalu mengganti akhir cerita rakyat, membuat cerita cinta, sampai akhirnya menulis cerpen bebas. Semua bertahap, dari yang paling dekat dengan kita, melatih bagian demi bagian, hingga satu cerita utuh. Itu juga yang saya lakukan di kelas.


Karena sekolah tempat saya mengajar tidak memiliki halaman yang rindang, saya membawa anak-anak ke selasar masjid pada hari Rabu. Selama 2 jam, mereka boleh menulis di mana saja, asal masih di lingkungan masjid, sambil bersandar, selonjoran, atau tiduran. Iya dong, otak kan harus dalam keadaan flow ketika belajar, apalagi belajar mengarang yang perlu banyak menggunakan imajinasi.


Saya membagikan 3 cerita kepada mereka: Roro Jonggang, Timun Mas dan Jaka Tarub. Semua cerita itu hanya sampai pada konflik. Anak-anak itu yang harus membebaskan imajinasi mereka dan menyelesaikan akhir ceritanya se’gila’ mungkin. Dan mereka melakukannya.


Saya tertawa-tawa melihat hasil tugas kali ini. Bagaimana kalau teryata Nawang Wulan yang kembali ke kahyangan justru didorong jatuh lagi ke bumi oleh saudara-saudaranya karena mereka iri pada Nawang Wulan yang menikah? Atau juga bagaimana jika Nawang Wulan meskipun menemukan selendang namun tidak berminat kembali ke kahyangan dan justru menjadi pengusaha yang sukses menjual selendang ke tukang jamu gendong?


Atau Bandung Bandawasa yang marah di pagi itu menemukan Roro Jonggrang sedang minum kopi, lalu mengutuknya, bukan jadi candi Prambanan, tapi jadi kue tart? Kok kue tart? Iya, soalnya menurut Bandung, gak sip kalau minum kopi gak pake kue tart! Huahahahaha… Ada-ada saja anak-anak ini!


Di pertemuan selanjutnya, saya meminta anak-anak berdiri dan bertepuk tangan. Standing applause! Mereka melakukannya, walaupun bingung, untuk apa dan untuk siapa tepuk tangan ini. Saya kemudian menjelaskan bahwa setidaknya ada 3 hal yang membuat saya bangga hari itu.


Pertama, saya membolehkan gaya belajar yang santai, tapi mereka tak ada yang mangkir dari tugas, termasuk beberapa anak-anak yang sulit. Mereka membuktikan bahwa mereka bisa bertanggung jawab. Kedua, tak ada satupun cerita yang sama, dan ini membuktikan mereka memakai otak sendiri. Tidak ada acara mencontek hari itu. Ketiga, akhir cerita yang mereka buat begitu beragam, dari romantis sampai konyol, membuktikan bahwa mereka memang kreatif. Hebat!


Mendengar penjelasan saya, serentak kelas itu mengulangi standing applause, tanpa dikomando. Saya mengerti, anak-anak ini sekarang tahu kalau mereka telah melakukan hal yang baik. Tepukan mereka adalah tanda penghargaan bagi diri sendiri, satu hal yang kadang sulit mereka dapatkan.


Ah, saya memang suka jadi guru.

19 November 2007

Hari Pertama

Coba ingat-ingat, apa yang terjadi di hari pertama sekolah kita masing-masing? Menyenangkan? Kalau saya, ketika masuk SMP, tiga hari pertama diisi ceramah umum dari direktur ma'had. Bagus, tentu saja, tapi tidak bisa dibilang menarik. Waktu SMA, tiga hari pertama ada penataran P4. Hasilnya, saya tidak pernah paham tentang wawasan wiyatamandala dan teman-teman sebangsanya. Terakhir, waktu kuliah, tiga hari pertama saya dibentak-bentak senior, bawa tas karung terigu berisi singkong rebus, dan pakai kalung dari gula merah.


Nah, hari pertama sekolah itu traumatis kan, jadinya.


Kenapa saya jadi mengingat-ingat masa lalu? Itu karena beberapa teman di Jepang bercerita tentang nyuugakushiki (mudah2an gak salah nulis) anak-anak mereka di TK atau SD. Nyuugakushiki adalah upacara masuk ke sekolah baru. Diceritakan bahwa pada acara tersebut, semua berpakaian formal, dengan jas dan gaun resmi atau kimono. Ada pejabat lokal, ada penyambutan, ada kamera. Semua acara orang tua dibatalkan untuk menghadiri penyambutan anak mereka yang masuk SD, atau bahkan TK.


Wah, wah. Begitukah awal hubungan antara arang tua dan pihak sekolah? Hm, coba saya ingat-ingat tentang hubungan orang tua dan pihak sekolah yang terjadi di tempat saya mengajar. Kapan orang tua datang ke sekolah? Ketika pengambilan rapor, saat dipaparkan pada mereka tentang nilai-bilai anak mereka yang merah terbakar. Kapan lagi? Hm, saat ujian semesteran sudah dekat dan tunggakan SPP sudah 4 bulan belum terbayar. Kapan lagi? Tentu saja saat anak benar-benar sulit ditangani dan terpaksa dibuatkan surat perjanjian atas tingkah-tingkah keterlaluannya. Wah, menakutkan sekali. Tak ada awal yang baik seperti nyuugakushiki di atas.


Bagaimana dengan hari pertama bagi siswanya? Pengalaman saya, ya di atas tadi. Sampai sekarang, acara orientasi seperti Masa Bimbingan Studi masih saja menyisakan bau-bau perpeloncoan. Banyak anak yang masih merasa bahwa acara MBS menambah beban mereka yang masih digelayuti kekhawatiran tentang proses adaptasi di tempat baru.


Dibandingkan dengan MBS, nyuugakushiki terlihat lebih menghormati dan menganggap anak penting di hari pertama sekolah. Mereka tidak memakai topi konyol atau dandanan aneh, tapi mengenakan busana terbaik mereka didampingin orang tua yang sama rapihnya. Atau bila kita lihat malam pertama di Hogwart, sekolah berasrama tempat Harry Potter belajar, suasananya amat berbeda. Kepala sekolahnya bicara sepatah dua patah kata, lalu… makan malam lezat untuk semua. Awal yang menyenangkan.


Ini Indonesia, tentu saja, bukan Jepang. Hogwart pun juga tidak nyata. Tapi ide tentang awal yang baik dan menggembirakan di sekolah adalah nyata, dan bisa diwujudkan.

04 November 2007

Hari Ini, Gunakan Otak Kanan Dulu

Bangun tidur, kamar masih gelap, belum melakukan apa-apa, sementara pikiran melayang pada jadual hari ini. Seprai sudah saatnya dicuci. Si kecil perlu buah untuk bekal sekolah besok, sekalian mampir beli sabun cuci piring. Cucian kering sudah segera harus disetrika. Kursus habis zuhur. Sempatkan baca buku yang sudah tertunda dua minggu.

Apakah anda punya rutinitas seperti di atas, bangun pagi dan segera terbayang daftar pekerjaan yang harus diselesaikan? Kalau iya, berarti anda mirip saya. Kalau kemudian daftar panjang itu dikomentari sendiri dengan keluh: "Haaah, hari yang berat, neeeh....," maka itu tanda anda bukan hanya mirip, tapi mirip banget dengan saya.

Sebenarnya saya baru sadar memiliki rutinitas seperti itu, rutinitas yang katanya 'mendahulukan otak kiri.' Seperti yang sudah kita tahu, otak kiri adalah tempat bagi logika, keteraturan, urutan, rencana, aturan dan semacamnya. Itu semua membuat apa yang kita lakukan terorganisasi dengan rapi. Sayangnya, tak ada kegembiraan di sana. Kalau tidak ada kegembiraan, tak ada semangat. Kalau tak ada semangat, jadilah rutinitas harian sebagai ibu rumah tangga sebagai sumber stres.

"Gunakan otak kanan dulu!" begitu nasihat Hernowo dalam bukunya yang sekarang sedang saya baca (blum slesai sih, hehehe...). Otak kanan adalah tempat yang acak, tapi ia menggerakkan emosi, semangat, keingintahuan, imajinasi, kebebasan dan gairah. Dengan memulai dari sini, kita bisa merubah jadual harian menjadi sesuatu yang lebih 'fun.'

Bagaimana caranya?

Ingat-ingat, kegiatan apa yang membuat kita gembira hari ini? Oke, kita nantikan kedatangannya dengan bersemangat. Kegiatan apa yang bisa membebaskan diri dari masalah? Wah, bukankah itu amat baik dilakukan? Ayo lakukan! Lalu, apakah kegiatan hari ini menambah kekayaan batin saya? Kalau ya, berarti menjalani hari ini memang berkah-Nya. Apakah ada hal baru yang akan saya temui hari ini? Wah, apa ya, kira-kira? Jadi gak sabar nih...

Bukankah indah mengawali hari dengan antusiasme seperti di atas?

Anak saya, sering mengeluh karena lama sekali waktu yang harus dilewati agar sampai pada jadual nonton tv jam satu siang. Dulu saya hanya menjelaskan kalau dia harus mandi dulu, sarapan, berangkat sekolah, pulang, mengerjakan tugas kalau ada, makan siang, tidur siang, baru nonton tv.

Mungkin besok saya akan terangkan kalau dia akan lebih dulu main air di bak bersama adik, makan makaroni keju, lalu bermain dan bernyanyi dengan bu guru dan teman-teman, dijemput mama, menghabiskan lauk kesukaan, mengistirahatkan badan agar segar, lalu nonton serial favoritnya. Hm..., rasanya memang lebih menimbulkan antusiasme.

Setelah itu, setelah antusiasme muncul dan bergelora, pakai otak kiri agar jadual hari ini tidak acak-aduk. Otak kiri membantu kita mengatur apa yang harus didahulukan, apa yang harus diingat, apa yang harus ditambahkan, berapa lama kita harus melakukan suatu kegiatan, bagaimana langkah paling efektif dan efisien yang harus diambil, dan seterusnya, dan seterusnya.

Otak di kepala ini nikmat yang tak ternilai, bukan? SubhanaLlah, alhamduliLlah.

Jadi, hari ini, pakai otak kanan dulu, lalu sempurnakan dengan yang kiri. Selamat menjalankan hari yang indah ini!

Konstruktivisme dan SAVI

Saya memang tidak tahu banyak soal ilmu kependidikan. Itulah mengapa saya baru tahu tentang apa yang disebut konstruktivisme. Ternyata, susunan kata yang ribet itu membuat saya terpesona. Ini karena ia merupakan aliran dalam ilmu kependidikan yang menyatakan bahwa ilmu tak dapat dipindah seperti kita menuang air dalam gelas. Ilmu hanya bisa dipindahkan bila si pembelajar itu mengkonstruksi pengetahuan yang didapat dalam dirinya sendiri.

Bayangkan air yang dituang dalam gelas. Apa yang terjadi padanya? Hampir tak ada. Diam, pasif, walaupun cepat penuh. Sekarang, bayangkan jika air dituang ke benih pohon. Benih itu menyerapnya, mungkin lebih pelan dibanding mengisi air ke gelas. Air diubah menjadi berbagai zat, dibawa ke semua bagian, dan membuat pohon itu tumbuh, besar, mungkin juga berbunga, dan berbuah. Itulah tamsil bagi konstruktivisme.

Berapa lama, ya, saya menjadi anak sekolahan? Tentu bila dihitung, ratusan buku sudah saya pelajari selama belasan tahun. Kenapa saya merasa kalau sedikit sekali yang saya ingat? Jangan-jangan saya ini 'gelas' juga, yang terus diisi, tapi luber kemana-mana. Akhirnya, ya segitu-segitu juga isinya.

Jadi, bagaimana dong mengonstruksi pengetahuan yang kita dapat? Secara teori, caranya bisa macam-macam. Misalnya, kita bisa langsung mengerjakannya, dengan tubuh dan indera kita (Somatis). Di mana-mana, yang namanya praktek dan terjun langsung selalu membuat kita lebih paham.

Bila bertemu kata sulit atau kalimat yang perlu diingat, ucapkanlah keras-keras. Ulangi dengan berirama, ucapkan seolah kita mengajar di depan kelas, atau minta orang lain mengucapkannya. Biarkan diri kita mendengarnya (Auditori).

Siklus air, rantai makanan, atau bahan resep kue akan lebih 'nyantol' bila kita menggambarnya. Kalau merasa sama sekali tak berbakat, paling tidak kita bisa membayangkannya dalam pikiran. Mencatatlah dengan menambah gambar yang berwarna-warni, karena otak lebih sensitif pada gambar dan warna (Visual).

Bila membaca, usahakan memegang catatan dan alat tulis. Mencatat kembali dengan bahasa sendiri mengharuskan kita mengonstruksi pengetahuan yang kita dapat (Intelektual). Membaca dengan mencatat ini yang disebut dengan 'mengikat makna,' karena apa yang kita baca akan meninggalkan sesuatu.

Keempat cara diatas dikenal dengan SAVI, somatis, auditori, visual, intelektual.

O ya, ngomong-ngomong tentang mengikat makna, sebenarnya itulah yang saya lakukan saat ini. Saya menuliskan kembali apa yang bisa saya tangkap dari sebuah buku yang sedang saya baca. Siapa tahu bermanfaat juga bagi anda, yang baca.

Bukan Saya Favorit Mereka

Suatu kali, saya meminta siswa di kelas membuat karangan eksposisi dengan judul PALING SUKA. Di sana, mereka akan memaparkan apa yang paling mereka suka, dari makanan, hari, pakaian, diri sendiri, sampai pelajaran.

Saya memang selalu menikmati saat mengoreksi tugas mengarang. Bangga juga melihat hasil tulisan anak-anak ini. Ternyata, mereka kebanyakan mampu menulis satu sampai dua halaman di buku tulis besar. Kuncinya, beri mereka judul atau tema yang menarik, seperti tema 'paling suka' tadi.

Saya tersenyum-senyum, mengetahui apa yang paling siswa-siswa sukai dan alasannya. Ada yang suka nasi uduk di Rawabelong, yang jauh sekali dari sekolah kami. Ada yang suka hari Kamis, karena katanya hal baik sering terjadi padanya di hari itu. Ada yang suka rambut yang menurutnya keren, atau suara yang katanya indah.

Yang saya perhatikan sebenarnya ketika sampai pada paragraf yang menjelaskan tentang pelajaran favorit mereka. Saya menanti-nanti, hingga buku terakhir selesai dikoreksi. Menanti apa? Tentu saja menanti berapa orang yang memilih Bahasa Indonesia, pelajaran yang saya ajar, sebagai pelajaran yang mereka paling suka.

Berapa anak yang ternyata memilih demikian? 3 orang!

Suami saya tertawa ketika saya mengadukan jumlah itu padanya. Apa yang salah, ya? Rasanya saya sudah mencoba membuat suasana se'fun' mungkin. Saya memilih judul yang menarik untuk mengarang, memakai spidol berwarna di papan tulis, menggunakan mind map saat mencatat, membiarkan mereka bermain dengan kertas origami dan spidol warna sesering mungkin, memamerkan karya di mading, dan sebagainya. Mendengar alasan-alasan itu, suami saya tambah terbahak-bahak.

Akhirnya saya juga ikut tertawa. Ah, nggak lah. Bukan untuk jadi guru favorit saya mengajar. Penghargaan kan bukan dari manusia. Kalau ternyata bukan pelajaran saya yang mereka paling suka, apa lalu saya jadi kehilangan antusiasme mengajar? Saya berusaha memberikan yang terbaik, karena Allah saja yang diharapkan ridhaNya. Amin.

Mmm... Ngomong-ngomong, judul apa ya, yang akan saya berikan untuk mengarang pekan depan? Bagaimana kalau... 'Belajar Bahasa Indonesia bersama Bu Irma,' hehehe... Suami saya kayaknya bakal bilang sambil setengah meledek, "Udahlah, Neng. terima aja kalau Bahasa Indonesia bukan favorit mereka..."

Bahagia Jadi Guru

Ketika kami, saya dan keluarga, keluar dari Padasuka menuju Suci, dua nama jalan di Bandung, saya melihat spanduk dari sebuah lembaga amil zakat. Bunyinya begini: Cinta guru dengan zakat, atau semacam itulah.

Terus terang saya terkejut. Ada dua hal yang menyebabkannya. Yang pertama, ada sebuah profesi yang katanya begitu mulia, menjadi awal dari semua profesi yang ada, membutuhkan tingkat keterampilan yang tinggi, namun para penyandangnya justru menjadi mustahiq zakat. Yang kedua, sampai ketika membaca spanduk itu, saya baru dihadapkan pada pihak yang berani menyatakan bahwa guru termasuk mustahiq, yang artinya tak jauh dari lingkaran fakir miskin.

Sementara itu, kurikulum lewat sekolah, menghendaki guru membuat program tahunan, program semester, Distribusi tiap kompetensi dasar, rencana pembelajaran harian, portofolio, soal ujian, pengoreksian jawaban, nilai ulangan blok, nilai praktek, sampai absensi siswa. Selain itu kehadiran, ketepatan waktu, potongan-potongan gaji dan seterusnya ikut memenuhi kepala para guru.

Bagaimana dengan sertifikasi guru yang sekarang sedang ramai-ramainya? Bukankah sertifikasi dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru? Ah, mengajar 30 tahunpun, yah, 30 tahun, belum jaminan seorang guru bisa mendapatkan poin cukup untuk disertifikasi.

Kondisi ini menerbitkan pertanyaan di hati:
Ketika kondisi ekonomi sedemikian sulit, di mana harus diletakkan idealisme dan antusiasme mengajar seorang guru?
Bila memilih profesi guru berarti memilih hidup sederhana, bagaimana cara menjadi guru yang bahagia?